June 12, 2008

Kampus Wisata

Filed under: THULABI

MEMBANGUN KAMPUS BERWAWASAN WISATA NASIONAL

 
Biaya pendidikan saat ini semakin gila dengan model kebijakan BHMN yang sekarang ini diterapkan di 4 kampus besar ternama. Instutut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Gajah Mada (UGM). Atas dasar kebijakan pemerintah tentang status BHMN ini, ke-empet kampus diatas pun berlomba-lomba memasang tarif mahal untuk jalur khusus yang mereka tawarkan. Jalur khusus ini di’jual’ kepada calon mahasiswa kaya meski secara akademik tidak masuk kualifikasi. Tak tanggung-tanggung, angkanya dapat mencapai ratusan juta rupiah. Akibatnya masyarakat yang kebanyakan sebagai masyarakat menengah kebawah harus gigit jari lantaran tak mampu membayar mahal.

Saya menilai bahwa implementasi kebijakan ini sangat premature diterapakan oleh pihak institusi kampus. Implikasi yang terjadi terpersepsi hanya bagaimana caranya mengeruk uang dari masyarakat lantaran kampus diberi wewenang kebijakan untuk mencari biaya operasional ini. Alasan mereka karena pemerintah sudah tak lagi mengucurkan subsidi pendidikan.

Jalan pikiran seperti ini memang mirip kebijakan Pemerintah ketika harga minyak dunia melambung tinggi. Alih-alih menyiapkan berbagai ’senjata’ untuk menangkalnya, pemerintah malah cuma siap menaikkan harga BBM yang notabene berimbas kuat bagi 61 juta warga miskin di Indonesia (data World Bank).

Soal minyak ini Indonesia jauh kalah dengan sistem pemerintahan di Norwegia. Meski beberapa puluh tahun lalu mereka kalah jauh dengan Indonesia dalam eksplorasi hasil bumi (minyak dan gas), namun kini mereka sudah jauh melampaui Indonesia. Justru saat ini mereka termasuk negara yang menikmati keuntungan imbas kenaikan harga minyak dunia.

Berbeda jauh dengan Indonesia. Sejak dulu hingga kini Indonesia cuma bisa menghasilkan minyak mentahnya saja tanpa memiliki teknologi yang dapat ‘menyulapnya’ menjadi BBM. Alhasil, negara yang katanya kaya kandungan minyak ini malah buntung ketika harga inyak dunia melonjak naik.

Kenapa Norwegia bisa melesat melampaui Indonesia? Karena Norwegia memiliki kebijakan yang tegas tentang alih teknologi. Termasuk dalam perminyakan. Saat ini kilang-kilang minyak di Norwegia sangat sepi dari tenaga-tenaga asing. jauh berbda 20 atau 30 tahun lalu yang masih didominasi orang Barat sebagai main engineer dan pengambil kebijakan oparasonal. Norwegia memang cerdas, sehingga mereka tak hanya mau menanam teknologi yang sekedar mengeksplorasi saja, namun mereka juga berupaya keras membangun industri yang mampu mengolah minyak mentah menjadi BBM. Meski biaya yang harus digelontorkan mahal pada tahap awalnya.

Kini masyarakat Norwegia dapat tersenyum dan menikmati ketika harga minyak dunia melambung tinggi. Sedangkan Indonesia.. rakyatnya semakin tercekik dan menjerit. Sebuah langkah ekonomi yang kurang cerdas untuk Indonesia.

Kembali ke soal BHMN, kebijakan pendidikan tinggi kita ini menurut saya memang salah kaprah. Persepsi yang dibangun memang lebih kepada basis materialis. Para pengelola pendidikan tinggi sepertinya memang sadar atau tak sadar telah membangun menara gading bahwa pendidikan yang berkualitas harus dibayar dengan biaya yang tinggi dan mahal. Tidak ada jalan lain.

Makanya, dengan persepsi seperti ini, banyak masyarakat yang tak mampu mengenyam pendidikan yang layak.. Padahal potensi mereka jika dibina dengan benar tak kan kalah bersaing dengan dunia luar. Sebut saja Profesor termuda yang baru-baru ini di nobatkan AS adalah berasal dan berwarga negara Indonesia (WNI).

Prof. Nelson Tansu, lahir di di Medan , 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang (sumber: milist).

Sayang sekali orang-orang yang berkesempatan seperti Prof. Tansu ini sangat sedikit. Jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang 220 juta jiwa tentu sangat miris. Persepsi pendidikan ini pula yang telah menjadikan fakta bahwa dunia pendidikan kita jauh terlampaui oleh negeri tetangga Malaysia. Padahal dahulu Malaysia ‘mengemis’ ke Indonesia dalam masalah ini. Banyak guru-guru dari Indonesia yang di’impor’ negeri Jiran itu untuk mengajari mereka ‘membaca dan menulis’. Tapi sekarang??? Banyak orang pintar Indonesia yang mengais makanan di negeri tetangga itu.

Beberapa tahun lalu saya pernah membaca sebuah artikel Industri di Eropa. Saya lupa dimajalah apa. Salah satu negara yang diulas adalah Jerman. Dalam tulisan itu disebutkan tentang Dunia Baru Pembangunan Industri di negaranya Klinsman. Dimana dalam tataran tertentu, Jerman sedang mengembangkan pembangunan pabrik-pabrik yang berwawasan wisata. Maksudnya, model industri yang selama ini terkesan full-dangerous dan not friendly bagi masyarakat umum akan di rubah menjadi tempat yang justru menarik untuk dikunjungi. Karenanya, mereka (termasuk beberapa negara eropa lainnya) berlomba untuk mendesign pabrik dengan bentuk yang se-estetik mungkin, ramah lingkungan, dan friendly bagi masyarakat luar. Tentu tanpa harus membahayakan rahasia produk mereka sendiri.

Nah, ide ini sangat realistis diadopsi untuk dibangun oleh kampus-kampus berstatus BHMN di Indonesia yang namanya sudah beken dan go internasional. Dengan konsep seperti ini, tentu dapat menghasilkan celah untuk mengalirkan income bagi Kampus itu sendiri. Tinggal kerjasama dengan dinas Pariwisata setempat untuk mengelolanya. Apalagi diketahui bahwa 4 kampus yang berstatus BHMN ini memang memiliki area dan lahan yang sangat luas yang sangat mungkin untuk mengimplementasikan konsep ini.

Selain itu, dengan semakin padatnya pembangunan di kota-kota besar dan semakin meningkatnya awareness masyarakat akan dunia pendidikan, belakangan ini banyak kampus yang melakukan ekspansi ke daerah pinggiran atau pedesaan dengan ‘mencaplok’ lahan yang sangat luas. Maka penerapan konsep ini akan lebih mudah dan realistis. Jika Petronas sudah memiliki 2 menara kembarnya yang mencakar langit Malaysia, bagaimana dengan kampus-kampus bonafit di Indonesia????

Ayo.. kampus mana yang berani menjadi pionir sebagai kampus berwawasan wisata nasional. Kita tunggu aksinya!

May 2, 2008

Untukmu Guru

Filed under: THULABI, DARI HATI
SEBAIT DOA UNTUKMU GURU
 
 
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Setiap waktu teringat lagu tentangmu membuat hati ini bergolak rindu. Ingin meraih jemarimu dan menciumnya dengan segenap penghormatan dan rasa terima kasih. Karena tanpa ketulusannya, mungkin hari ini kita semua tak kan menjadi seperti ini. Tanpa kesabarannya mungkin banyak diantara kita yang tersesat kehilangan jalan. Ya.. karena dulu berpuluh tahun lalu aku, kami dan kita hanyalah bocah-bocah desa lugu yang tak tahu tentang dunia.

Berhentilah sejenak untuk mengenang para guru tercinta yang telah mengabdikan sebagaian usianya demi mencetak generasi bangsa ini. Orang tua ‘kedua’ yang kadang lebih peduli terhadap masa depan kita dibandingkan para orang tua kandung di kampung halaman saat itu. Mereka sabar dengan ketidaktahuan kita, mereka sabar dengan kenakalan kita, dan mereka pun sabar dengan gejolak masa remaja kita yang kadang kala meledak-ledak. Termasuk barangkalali kita yang saat ini telah sampai di salah satu titik pemberhentian dari titik-titik pemberhentian yang lain menuju cita-cita meraih mimpi dan asa.

Kawan-kawan, sekali lagi sejenak kita kenang mereka, betapa mereka semua telah mengalirkan ilmu berharga dalam sanubari kita, sehingga saat ini kita mampu tegak mandiri. Mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain tanpa rasa malu dan rendah diri. Sampai-sampai hari ini puluhan bahkan ratusan ribu di antara kita telah berdiam di berbagai negara lain di seluruh dunia.

Kita pun bagai anak-anak ayam yang kini terlatih mengais rezeki sendiri lantaran kesabaran sang induk mengajarkan anak-anaknya mencari makan. Bukan mereka memang yang memberi nasib bagi kita, namun sebab merekalah kini kita mampu bertahan hidup dengan bekal ilmu dan keahlian yang pernah mereka ajarkan kepada kita. Bahkan bisa jadi saat ini sebagian di antara kita telah melesat jauh meraih kesuksesan, mencapai keberhasilan, dan menikmati limpahan materi maupun popularitas. Lebih jauh dari apa yang mereka ‘para guru kita’ mampu nikmati pada hari ini.

Namun, semoga kita tak melupakan mereka yang detik ini tak lagi muda. Yang kulit-kulit mereka tak sekokoh dulu. Rambut-rambut mereka tak selegam saat itu. Dan wajah-wajah mereka pun tak secerah waktu itu. Kini tanpa kita sadari, kulit mereka telah mulai berkerut di sana-sini, rambut mereka juga telah dihiasi helai-helai putih yang semakin menyeruak. Dan wajah mereka terlihat sayu menatap hidup ini yang tak semakin bersahabat.

Bisa jadi periuk mereka hari-ini tak se-mengepul kepulan periuk di dapur kita. Bisa jadi sisa gaji mereka hari ini sudah sekarat untuk sampai lagi ditanggal 1 bulan depan. Dan bisa jadi putra-putri mereka meregang nafas untuk tetap bertahan menikmati pendidikan-pendidikan mereka. Tak sedikit diantara mereka yang hari ini masih setia menaiki sepeda ontel tuanya dikala ratusan bahkan ribuan ‘mantan’ anak didiknya menaiki mobil-mobil mewah yang nyaman.

Sahabat, mari basahi bibir kita untuk mendoakan mereka agar tetap ikhlas menjalani tugas muliannya menjadi guru peradaban. Agar dengan keikhlasan itu pahala dari-Nya mengalir deras sampai akhir masa. Agar rizki mereka berkah dan berkecukupan. Hingga di masa tuanya mereka bangga dan bersyukur telah mencetak puluhan juta tunas-tunas baru yang memakmurkan dan mengharumkan negeri ini.

Do’a ini kami persembahkan untukmu, wahai Ibu - Bapak Guru.

December 17, 2007

Deklarasi Kebangkitan

Filed under: THULABI

D E K L A R A S I
KEBANGKITAN TARBIYAH THULLABIYAH
KOTA TANGERANG

bismillahirrahmaanirrahiim
 
Dunia ini tak pernah sepi dari para pahlawannya di setiap zaman. Dan sejarah telah menorehkan, bahwa pengawal peradaban dan agen perubahan di setiap tempat dan masa telah dipelopori dan diusung para generasi mudanya. Generasi muda yang berasal dari kalangan terdidik, baik pelajar maupun mahasiswa, mereka telah menjadi aktor utama di setiap perjuangan menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Demikian pula dengan da’wah ini. Peran mereka tak mungkin dienyahkan dari pandangan mata.
 
Hari ini, ketika tantangan dakwah semakin komplek dan rumit, saat lahan dakwah semakin meluas, dan di saat yang sama tuntutan percepatan atas kebutuhantandzimy dan amal khidamy tak mungkin ditunda-tunda lagi. Maka kalangan thulabiyah adalah salah satu segmen yang paling urgen dan strategis untuk menjawab setiap tantangan-tantangan di atas.
 
Meraka adalah kelompok yang secara pokok memiliki dua fungsi, yaitu sebagai anashiruttaghyir atau agen perubahan (dimana citra ini akan melekat selamanya). Sedangkan fungsi pokok yang kedua adalah sebagai iron-stock. Yang mau tidak mau, suka atau tidak suka akan menggantikan generasi sebelumnya saat masanya tiba.
 
Oleh karena itu, kita semua menyadari bahwa kita tak akan mungkin membiarkan mereka takluk dan tergilas oleh keganasan zaman. Kita tak mungkin rela izzah dan iman mereka tergerus oleh tipu muslihat dunia. Hanya karena kelemahan mereka yang disebabkan kelalaian dan lengahnya kita pada saat ini. Allah SWT. pun telah memperingatkan kita:
 
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan mereka). Oleh karena itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (QS. An Nisa: 9)
 
Maka sebaliknya, saat ini maupun di masa yang akan datang, kita membutuhkan generasi yang kuat jasadnya, kaya ilmunya, dan cerdas fikriyahnya untuk mengemban amanah da’wah yang tidak semakin ringan. Kita memerlukan generasi yang cinta kepada umatnya, empati pada derita rakyatnya, dan rela menginfakkan hidupnya untuk dakwah dan tarbiyah ini. Yang akan mampu membimbing masyarakatnya untuk bersimpuh dan kembali taat kapada -Nya.
 
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”(QS. Al Hasyr: 18).
 
Oleh karena itu, atas dasar pemikiran tersebut dan dengan berlandaskan tekad yang kuat, amal da’wah yang berkelanjutan, serta niat yang ikhlas karena Allah semata, maka kami seluruh kader da’wah Kota Tangerang menancapkan komitmen secara mendalam untuk:
  1. Bertekad menyuburkan kembali, menggairahkan kembali, dan membangkitkan kembali da’wah dan tarbiyah thullabiyah demi mencetak generasi pengganti yang kuat keimanannya, jasadiyahnya, dan fikriyahnya untuk menerima tongkat estafet da’wah di masa yang akan datang.
  2. Menggalang segenap potensi, menyumbangkan sekecil apapun kontribusi, dan menginfakkan pengorbanan apapun yang sesuai, demi menjamin meluasnya, pulihnya, terjaganya, dan berkesinambungannya da’wah dan tarbiyah thullabiyah.
  3. Berupaya mewujudkan mimpi dan cita-cita lahirnya generasi sholih dari rahim da’wah ini, yang siap menjadi pengawal peradaban rabbaniyah serta mampu menjadi pemimpin umat dan masyarakatnya.
  4. Menjadikan Kota Tangerang sebagai ladang sekaligus lumbung bagi tumbuh dan lahirnya kader-kader berkualitas yang memiliki ketokohan intelaktualitas dan tarbawiyah.
  5. Menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah SWT, atas ikhtiar yang telah dilakukan dan atas amal da’wah yang sungguh-sungguh, denganar-rajaa’ dan do’a yang tiada putus-putusnya.

Semoga Allah yang Maha Perkasa dan Pengampun serta Dzat yang mengusai jagat raya ini senantiasa meridhoi, membimbing, dan memudahkan langkah mulia ini. Amiin.

Kota Tangerang, 16 Desember 2007

December 5, 2007

Bicara Sospol

Filed under: THULABI

DA’WAH ADK DI MIMBAR SOSPOL


Seorang teman bertanya kepada saya, "mau ngapain kita di wajihah ammah? Kenapa kita juga harus berda’wah lewat wajihah ammah? Apakah beda seorang aktivis da’wah dengan selainnya di wajihah ini? Bagaimana agar ide dan pemikiran kita bisa diterima dengan baik?" Demikian beberapa pertanyaannya. 

Sejauh pemahaman saya, Bidang Sospol di kampus secara otomatis terkait erat dengan segala bentuk kepentingan yang ber’bau’ sosial dan politik. Sesuai dengan namanya. Tentu dalam pengertian sosial-politik internal dan sosial-politik eksternal kampus. Dan bidang ini yang menurut saya saat sekarang sangat strategis dan urgent untuk dipertajam.

Sosial-Politik Internal Kampus

Kondisi sosial dan dunia politik di lingkungan internal kampus cukup luas dan beragam. Meski tidak sekompleks jika dibandingkan di kehidupan masyarakat sesungguhnya. Diantaranya bisa terkait dengan issu-issu kepuasan mahasiswa terhadap fasilitas kampus. Hal ini sebagai akibat dan konsekuensi terkait dengan uang reguler yang mereka bayarkan kepada pihak institusi, seperti uang semesteran, uang sidang, uang SKS, uang bimbingan skripsi, dan lain-lain. Karenanya sangat penting bagi seseorang yang diamanahi memegang kendali bidang sosial dan politik kampus menguasai informasi lalu-lintas pungutan keuangan dan fasilitas yang disodorkan pihak pengelola pendidikan. Karena hal ini terkait dengan sesuatu yang sangat mendasar, yaitu ‘hak dan kewajiban’ para mahasiswa.

Demikian pula bidang ini memiliki peran untuk melakukan pengkajian terhadap berbagai kebijakan-kebijakan kampus. Laiknya masyarakat umum, kehidupan kampus juga tidak sepi dari munculnya kebijakan-kebijakan aneh yang tak menguntungkan mahasiswa. Dari mulai rendahnya kualitas pelayanan pendidikan, cepatnya kenaikan biaya pendidikan, sampai dengan manajemen yang tertutup dan tidak transparan. Bidang ini harus leading dalam merespon kemunculan kebijakan yang tak berpihak kepada mahasiswa. Mengolahnya menjadi issu bersama dan menjadikannya spirit untuk mengeluarkan sikap sebagai sikap mahasiswa secara menyeluruh. Merancang strategi negosiasi, melakukan telaah data, dan mendesign tribulasi gerak mahasiswa diinternal kampus. Bahkan sampai ketika harus dalam bentuk mimbar bebas, demonstrasi. Tentu yang dimaksud adalah demonstrasi yang cerdas dan jauh dari anarki.

Tanggal 6 Agustus 2004, ratusan mahasiswa UNS berunjuk rasa menentang kenaikan SPP dan pungutan biaya pendidikan yang dikenakan kepada mahasiswa baru yang ditetapkan oleh rektorat.  Demikian pula yang terjadi sebelumnya di Unsyiah Banda Aceh Februari 2005 lalu. Sekitar 500 mahasiwa menggelar demo menuntut mundur rektor Unsyiah, Prof. Dr. Ir. Abdi A. Wahab, karena dinilai tidak sensitif dan tidak peduli terhadap kesulitan para mahasiswanya akibat musibah Tsunami yang melanda Aceh akhir tahun 2004.

Di IAIN Imam Bonjol mahasiswa berunjuk rasa gara-gara interfensi pemerintah, dalam hal ini Menteri Agama Maftuh Basyuni, yang meminta proses ulang pemilihan rektor. Kejadiannya di bulan Agustus 2006. Hal yang sama juga terjadi di Universitas Padjadjaran Bandung, April 2007. Ratusan mahasiswa menggelar demo usai pelantikan rektor baru yang mencoba mengesampingkan peran mahasiswa. Melalui BEM kampus mereka menuntut pelibatan mahasiswa dalam merancang rencana dan strategi kampus UNPAD. Mahasiswa juga menyodorkan 10 agenda reformasi yang harus dijalankan oleh rektor baru terpilih. Isi dari 10 agenda reformasi tersebut ialah; tidak menaikkan biaya pendidikan, tingkatkan kesejahteraan dosen dan karyawan, tolak komersialisasi pendidikan, tingkatkan kualitas dosen, realisasi dana kemahasiswaan, wujudkan demokratisasi kampus, birokrasi yang efektif dan efesien serta terbuka, transparansi pendidikan, dan peningkatan fasilitas dan pelayanan.

Jadi aksi demo di lingkungan internal kampus bukanlah sesuatu yang tabu, bahkan lazim dilakukan ketika media dialog sudah menemui jalan buntu sementara kebijakan-kebijakan institusi semakin merugikan dan tak berpihak kepada mahasiwa.  

Peran dari bidang sospol yang lain adalah mengkondisikan situasi kampus berjalan sesuai dengan nilai-nilai positif dan hati nurani. Karenanya, seseorang yang mengelola bidang ini harus juga mewaspadai dan mengawasi bahaya laten gerakan ideologi mahasiswa yang menyimpang dan menyesatkan. Tak perlu ragu untuk ‘fight’ jika ada gerakan ’sesat’ yang merongrong dan mengusik eksistensi da’wah dan nilai-nilai kebaikan. Namun, apabila mereka tidak bergerak mengganggu dan cenderung diam, maka harus ditangkal dengan cara-cara yang baik.

Selain itu, Bidang Sospol juga harus mewaspadai mahasiswa yang menjadi spion dari pihak institusi yang kecenderungannya hampir selalu mengakibatkan kerugian di pihak mahasiswa. Mereka adalah mata-mata sekaligus penjilat yang sudah tak tersentuh kelurusan hati nurani. Logika berfikirnya hanya sebatas apa yang bisa menguntungkan dirinya secara pribadi, orang lain masa bodoh. Tak jarang orang-orang seperti ini di design dan dipelihara institusi (yang tak bertanggung jawab) menjadi orang-oarng yang menduduki peran penting secara perlahan-lahan. Hingga pada saat yang tepat, mereka akan menjadi pembela mati-matian rektorat meski kebijakannya tidak berpihak kepada hati nurani mahasiswa secara umum. Aksi para penjilat dan pengkhianat hati nurani ini pernah terjadi di kampus ITS Surabaya saat proses pemilihan rektor ITS Maret 2005 lalu.

Kejadian serupa juga terjadi di salah satu perguruan tinggi kedinasan di Kota Tangerang. Hingga akibat ulah sekelompok mahasiswa penjilat itu, 137 mahasiswa di DO massal saat melakukan aksi solidaritas rekannya yang di DO dengan tuduhan fitnah. Dengan ‘kesepakatan khianat’ mereka saat ini menikmati manisnya kuliah gratis di perguruan tinggi bonafit di Jakarta. Sementara mahasiwa-mahasiswa ter-DO yang komit dengan nuraninya harus berjibaku untuk kuliah lagi di tempat lain dengan biaya sendiri. Sebagiannya bahkan ada yang pulang kampung karena belum merasa siap memasuki dunia baru.

Keberadaan para penjilat ini memang samar dan sulit di deteksi. Namun, jika tidak diwaspadai sejak dini, maka suatu saat akan menimbulkan musibah dan sangat membahayakan gerak perjuangan mahasiswa. Saya hampir meyakini bahwa mayoritas perguruan tinggi di negara ini memiliki mahasiswa penjilat yang dipelihara institusi untuk melakukan spionase.

Sosial Politik Eksternal Kampus

Institusi mahasiswa kampus, sadar ataupun tidak sadar, mestinya ia adalah lembaga yang memiliki wibawa di tengah masyarakat. Lembaga yang suaranya didengar, dipercaya dan dijadikan patokan opini. Sebab masyarakat hingga saat ini masih percaya dan yakin, bahwa suara mahasiswa yang lurus adalah suara yang bersih dari kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan. Karenanya penting bagi bidang Sosial dan Politik kampus untuk mengikuti perkembangan kehidupan sosial-politik di tingkat daerah maupun Nasional.
 
Upaya untuk memperjuangkan masyarakat ‘tertindas’ di sekitar kampus juga menjadi segmen penting dari kerja sebuah bidang Sospol. Tidak perlu harus gencar mengadakan bakti sosial, namun lebih penting lagi mengadvokasi mereka lewat opini di media massa maupun secara langsung membantunya untuk diperjuangkan melalui proposal-proposal perbaikan kepada pemerintah daerah dan nasional. Karenanya kemampuan untuk menulis dan membuat opini politik moral dan sosial mutlak dibutuhkan. Sehingga diperlukan pelatihan jurnalistik khusus. Kerjasama dengan pihak media tentu menjadi hal yang sangat urgen.
 
Penyelenggaraan event ‘pameran photo’ bernuansa sosial juga sangat tepat untuk menggugah dan ‘menjewer’ ketidak-pedulian pemerintah setempat. Analisa dan peluncuran kritik sosial harus menjadi menu wajib untuk bisa menjadi sebuah bidang yang berkualitas dan mumpuni. Tak boleh diam dan jalan di tempat. Kreatif dalam menyampaikan gagasan perubahan sosial masyarakat sangat dituntut dalam hal ini.
 
Bidang Sospol juga harus menjadi garda terdepan untuk merespon kebijakan publik pemerintah daerah ataupun nasional. Pengkajian terhadap issu-issu terbaru yang tidak memihak kepada rakyat sangat baik untuk dikupas secara lebih mendalam. Kenaikan BBM, kenaikan TDL, kenaikan harga beras, kenaikan harga minyak, kenikan tarif telepon, kerusakan moral, perjudian, pelacuran, adalah banyak hal yang patut diperhatikan oleh bidang ini. Mengingat akan sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat Indonesia. Salah satu contoh terhangat adalah munculnya program pemerintah lewat BNN dengan menggulirkan ‘Pekan Kondom Nasional’, ini wajib direspon dan dikritisi, serta wajib ditentang. karenanya mimbar bebas dan aksi turun ke jalan adalah hal yang niscaya dan menjadi agenda pematangan tarbawi dan leadership bagi kader mahasiswa baru yang berpotensi.
 
Dari pemamaran tersebut, bisa ditarik kesimpulan dan jawaban dari beberapa pertanyaan seorang kawan di atas, yaitu:
1. Wajihah ammah adalah sarana pengabdian dan pelayanan kita kepada masyarakat, baik masyarakat kampus maupun masyarakat luar di sekitar kampus. Sebab, di antara karakteristik fungsi dakwah kampus adalah memiliki fungsi pelayanan dan pengayaan keilmuan. Karenanya, wajihah ammah penting untuk mengamalkan fungsi pelayanan dimaksud. Dan pengayaan keilmuan diwujudkan dalam bentuk wujud nyata mengadvokasi kesulitan dan penderitaan hidup masyarakat.

2. Silaturrahim dan komunikasi adalah sarana yang mutlak harus dijalani. Untuk issu yang general, apalagi wilayah sosial-politik, sebetulnya tidak banyak potensi benturannya selama keduanya masih murni gerakan nurani. Asalkan cerdik mengemas issu dan kepentingan. Kecuali jika kelompok diluar sudah ditunggangi kepentingan politis penguasa setempat. Dan tidak ada halangan untuk berinteraksi dengan kelompok diluar yang memiliki beragam ideologi, bukankah era reformasi sudah cukup menjadi bukti bahwa sudah seharusnya para aktivis bisa berbaur dengan berbagai kelompok dan bersahabat dengan berbagai ideologi pergerakan? Selama yang diperjuangkan adalah kebaikan dan maslahat maka melangkahlah dengan tenang dan hati-hati. Yang terpenting kita sudah pahami koridor dan batasan-batasannya.

OK, selamat berjuang..!

June 21, 2007

Inferiority ADK

Filed under: THULABI

MEMUTUS RANTAI ‘INFERIORITY’ DAKWAH KAMPUS


Sejak beberapa waktu lamanya penulis merasakan kuatnya benih-benih ‘inferiority’ atau keminderan para Aktivis Da’wah Kampus (ADK) di Kota Tangerang. Minder untuk melakukan langkah besar dan ragu untuk membuat prestasi besar. Selama ini penulis sangsi untuk mencoba mengungkap persoalan ini ke tengah-tengah komunitas da’wah ini, khawatir bahwa ‘temuan’ itu hanya sebatas perasaan penulis saja. Namun, ketika salah seorang narasumber pada sebuah acara Tasqif Mahasiswa mengungkap analisa serupa, penulis memberanikan diri untuk menyimpulkan bahwa inferioritas ADK di Kota Tangerang memang benar adanya.

Beberapa bulan yang lalu, penulis pernah melontarkan sebuah ide baru tentang pola sinergi antara Da’wah Kampus dan Da’wah sekolah dalam sebuah forum yang dihadiri oleh kader-kader senior (baca-ustadz). Dimana untuk mencover tingginya kebutuhan SDM mentor dan supervisor di Da’wah Sekolah yang jumlahnya ratusan dengan pelajar puluhan ribu, penulis mengemukakan tentang methode Kampus Satelit. Kampus Satelit ini berfungsi sebagai gudang SDM mentor, pemonitor dinamika, dan sekaligus pembimbing serta pengevaluasi sekolah-sekolah terdekat yang berada di sekitarnya. Sederhananya, optimalisasi SDM kampus untuk mem-back-up da’wah sekolah yang selalu saja kekurangan SDM.

Dengan nada yang serius, salah seorang kader senior tersebut menanggapi usulan penulis tentang Kampus Satelit. Disampaikannya bahwa prediksi tingkat keberhasilan metode tersebut akan sangat disangsikan, karena dianggap bahwa kader dengan background perguruan tinggi dari kampus-kampus yang ada di Kota Tangerang kurang ‘menjual’ dan dianggap tidak cukup ‘capable’. Tidak se’gagah’ kalau kader yang berasal dari mahasiswa atau alumni UI, ITB, UGM, ITS, UNDIP, UNILA, dan seterusnya. Sehingga ‘turba’nya SDM mahasiswa dari kampus-kampus Kampung Cisadane ini tidak akan memberi pengaruh signifikan dalam membangun interesting para pelajar terhadap tarbiyah. Terlebih di sekolah-sekolah negeri dan swasta elit di Kota Tangerang.

Jauh sebelum penulis memasuki lingkaran da’wah di tingkat daerah, sekitar 3,5 tahun yang lalu, tanpa sadar penulis juga pernah memiliki mindset yang sama dengan kader senior diatas, meski dalam kasus yang berbeda. Ketika itu penulis menyodorkan ‘proposal’ kepada murobbi untuk proses penyempurnaan separuh agama, tanpa tendensi yang negatif penulis mengemukakan salah satu syarat ’sekunder’ yang diajukan adalah "Ustadz, kalo bisa akhwat dari kampus Jakarta. Bandung atau Lampung juga tidak apa-apa." Walaupun penulis sendiri berasal dari salah satu kampus lokal kedinasan, dan pada akhirnya penulis mendapatkan seorang bidadari sholihah mahasiswi dari salah satu kampus di Kota Tangerang, alhamdulillah.

Alasan yang menjadi latar belakang munculnya ’syarat tambahan’ tersebut pada waktu itu adalah adanya kesan dalam benak penulis bahwa kader jebolan kampus ‘lokal’ pada umumnya kurang teruji dan kurang haroki, baik dari sisi skill menelurkan gagasan dan program, dari sisi menyikapi issu-issu sosial dan politik, ataupun dari sisi skill survival ketika menghadapi tekanan-tekanan fisik dan mental dari tribulasi dan ujian da’wah kampus. Simpulan ini muncul dalam benak penulis berangkat dari kesan diam dan ‘adem-ayem’nya kampus-kampus di Kota Tangerang dalam aktivitas da’wah sosial dan tarbawi. Apalagi pada saat yang sama, penulis memiliki sebuah amanah lintas kampus kedinasan yang mengharuskannya sering mondar-mandir di banyak kampus ‘besar’ di Jakarta. Sehingga, dari dekat bisa merasakan jauh bedanya geliat da’wah antara Jakarta dan Tangerang. Dan penulis berasumsi bahwa output di lapangan mencerminkan apa yang ada di dalamnya.

Kisah nyata penulis dan komentar spontan kader senior diatas bukan untuk menjustifikasi bahwa ADK-ADK di Kota Tangerang sungguh-sungguh pada fase keterpurukan dan jauh dari kematangan. Namun, untuk menyadarkan bagi semua pihak (termasuk penulis) bahwa ada ‘bahaya laten’ yang harus diwaspadai dan segera ditemukan jalan keluarnya. Karena sedikit pun tidak akan ada imbas kebaikan dalam da’wah ini, jika para pelaku dakwah dan komunitas besar di Kota Tangerang ini masih termakan monster inferioritas, padahal mereka semua sedang mengusung sebuah tata nilai yang unggul lagi mulia.

Langkah pertama untuk mencoba memutus mata rantai ini adalah hendaknya semua pihak jujur terhadap diri sendiri, bahwa selama ini (meski sedikit) banyak diantara kader yang memandang ’sebelah mata’ terhadap kemampuan dan kapabilitas para ADK di Kota Tangerang. Kita mesti mengakui bahwa kader-kader jebolan kampus-kampus besar (mohon maaf) merasa ‘lebih capable dan teruji’ dibandingkan ADK-ADK lokal. Dan ADK-ADK di Kota Tangerang ini harus menyadari bahwa prestasi dan langkah besar tidak hanya monopoli dan milik kampus-kampus besar di luar sana.

Penulis yakin bahwa kejujuran ini mutlak diperlukan untuk mulai merenovasi ‘mindset’ kita tentang brangkas potensi (ADK dan da’wah kampusnya) yang jika diposisikan dengan baik dan benar akan mampu menggebrak dunia dengan prestasi-prestasi besar.
 

September 9, 2006

KMM Kota

Filed under: THULABI
Kongres Mahasiswa Muslim Kota Tangerang
ANTARA HARAPAN DAN SEBUAH KEHARUSAN

Jika tidak ada aral melintang, Kongres Mahasiswa Muslim (KMM) Kota Tangerang akan diselenggarakan 10 – 12 November 2006 mendatang. Momen istimewa yang pelaksanaannya bertepatan dengan Hari Pahlawan ini memiliki alasan khusus, yaitu agar semangat juang para pahlawan untuk menegakkan panji-panji Islam melekat kuat di sanubari para aktivis dakwah kampus (ADK) Kota Tangerang. Ada 3 tujuan besar dari pelaksanaan kongres mahasiswa muslim yang akan diadakan 15 hari pasca Idhul Fitri 1427 H ini, yaitu:

1. Mengkonsolidasikan dan Menguatkan Aktivitas Dakwah Kampus

Pertumbuhan kader dakwah kampus di Kota Tangerang masih terbilang rendah. Sangat sulit mengukur statistik pertumbuhan kader dari waktu ke waktu. Euforia dan system yang terbangun dalam dakwah kampus juga masih banyak yang harus ditingkatkan.

Kegiatan syi’ar dakwah kampus terasa kembang-kempis. Belum ada satu pun kampus di Kota Tangerang yang bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan dakwah kampus. Kegiatan yang diadakan di kampus-kampus masih sporadis meski dirangkum dalam program-program dakwah reguler. Belum terbentuk kampus yang bisa dijadikan sentra da’wah ke-Islam-an yang mampu memotori aktivitas dakwah kemahasiswaan. Belum muncul kampus dakwah yang menjadi kebanggaan bagi ADK sebagaimana ITB di Bandung, UI di Jakarta, ataupun UGM di Yogyakarta. Ini mungkin mimpi yang berat, tetapi bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.

Dalam hal kaderisasi juga dapat dibilang lemah. Cukup mengkhawatirkan kondisinya jika melihat fakta lapangan ketika hampir semua kampus di Kota Tangerang mengalami masalah regenerasi kepengurusan. ADK datang dan pergi, masuk dan lulus, tanpa membekaskan dan meninggalkan struktur dan SDM yang kuat untuk memegang tongkat estafet dakwah kampus berikutnya. Sehingga tidak jarang posisi-posisi strategis dalam organisasi kampus seperti Ketua BEM, Ketua Himpunan Mahasiswa, Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) terlucuti satu per satu.

Belum lagi masih terdapat cukup banyak kampus-kampus yang belum terakses oleh dakwah hingga saat ini. Dari sekitar 20-an kampus yang terdaftar di DIKTI baru 7 kampus saja yang telah terakses. Artinya sekitar 60 % kampus di Kota Tangerang memerlukan perhatian khusus untuk mendorong munculnya aktivitas dakwah ke-Islam-an.

2. Membangun Sinergi Kekuatan Berbagai Potensi Dakwah Kampus

Kondisi kampus di Kota Tangerang memang belum sebanyak dan se-bonafide di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, atau minimal Lampung, Kab. Tangerang, atau pun Kab. Serang. Bahkan belum satu pun diantaranya yang berstatus Negeri, semuanya swasta dengan status akreditasi dan popularitas masih kalah jauh dibanding perguruan tinggi di kota besar lainnya. Dampaknya secara umum kader-kader berprestasi lulusan SMU maupun mereka yang pernah aktif dalam kegiatan ke-Islam-an lebih memilih kuliah di Jakarta, Bandung, atau Lampung ketimbang memilih perguruan tinggi di kotanya. Sehingga yang mengisi kampus di Kota Tangerang adalah mayoritas pelajar tanpa background aktivis. Butuh proses panjang untuk membentuk dan membina mereka agar turut menjadi kader dakwah yang membangkitkan dakwah Islam dikampus-kampus pilihan mereka. Kalaupun ada mahasiswa yang berlatar belakang kader, kebanyakan diantara mereka adalah mahasiswa duo-status, mahasiswa dan karyawan. Mereka para pekerja yang waktu sehari-harinya banyak tersedot di perusahaan tempat mereka bekerja. Sehingga untuk manjadi penggerak dakwah kampus mereka banyak menemui kendala waktu dan kesempatan.

Akan tetapi bukan berarti jumlah SDM ADK juga tidak banyak. Ada tiga golongan kader mahasiswa yang terkait dengan tanggung jawab dakwah di Kota Tangerang. Pertama, adalah para ADK yang tinggal dan kuliah di Kota Tangerang. Mereka adalah kekuatan utamanya. Kedua, mahasiswa yang meski tinggal di luar kota, tetapi mereka kuliah di kampus yang berada di Kota Tangerang. Sehingga banyak aktivitas dan waktunya mereka gunakan di daerah yang terkenal dengan daerah seribu industri ini. Ketiga, Banyak ADK yang tetap tinggal di Kota Tangerang meski kuliah di Jakarta, Kab. Tangerang maupun Kab. Serang. Atau mahasiswa yang tetap sering singgah di Kota Tangerang walaupun kuliah di daerah lain yang lebih jauh seperti Lampung, Bandung, bahkan Yogyakarta.

Tiga elemen penting ini harus dibangun interaksinya, dikuatkan visi dakwahnya, dioptimalkan sinerginya dan difasilitasi untuk melakukan berbagai agenda-agenda besar dakwah kampus. Apa lagi jika di break-down lebih jauh, dengan mengkategorikan mahasiswa sesuai jenjang pendidikannya sejak dari D1-D4, Sarjana (S1) dan Pasca Sarjana, maka Kota Tangerang sesungguhnya memiliki kuantitas SDM kader yang tidak sedikit. Bahkan sangat mencukupi untuk melakukan berbagai peran dakwah dan perubahan-perubahan besar baik di kampus maupun luar kampus.

Eksistensi sarana dakwah ekstra kampus yang kondisinya seperti antara ‘ada dan tiada’ menjadi perhatian serius. Keberadaan KAMMI Daerah dan FSLDK belumlah memberikan andil berarti untuk mem-back-up dakwah kampus di Kota Tangerang.

Potensi-potensi tersebut mesti dicerahkan dan ‘dihidupkan’ kembali, dibangun diatas keyakinan dan optimisme, serta harus di-sinergikan untuk menguatkan bangunan dakwah Islam. Atau jika kurang memungkinkan, pembentukan wajihah baru yang mampu mewadahi dan mengeksplorasi potensi ketiga elemen mahasiswa diatas adalah satu keniscayaan. Jika salah satu parpol orde baru bias membidani kelahiran Himpunan Mahasiswa Tangerang (Himata) yang bergerak di dalam dan di luar Kota Tangerang, mengapa ADK tidak?

3. Membangun Eksistensi Kader Da’wah dalam Issu-issu Kedaerahan.

Berkenaan dengan berbagai masalah yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat seperti masalah pendidikan, iptek, moralitas maupun sosial kemasyarakatan, keberadaan kader dakwah mestinya bisa memberi peran positif. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi mahasiswa di Kota Tangerang keberadaanya masih dipandang sebelah mata oleh para pembuat kebijakan di eksekutif. Mahasiswa, terlebih mahasiswa muslim para aktivis dakwah kampus, belum masuk dalam daftar pihak-pihak yang dibutuhkan partisipasinya dalam membangun Kota Tangerang yang bervisi ‘akhlakul karimah’. Padahal mahasiswa memiliki kapasitas untuk peran itu, minimal untuk kontributor ide yang berpihak kepada pembangunan moral dan peningkatan kualitas pendidikan daerah.

Suara lantang mahasiswa sangat dibutuhkan untuk menyikapi berbagai masalah dan penyimpangan yang terjadi dimasyarakat. Jangan sampai ADK menjadi mahasiswa yang sibuk mengurusi diri sendiri saja. Tidak peduli kejadian disekitarnya yang membutuhkan uluran bantuan.

Musibah yang menimpa mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal (Poltek GT) bisa menjadi pelajaran berharga. Dimana mahasiswa Kota Tangerang, dalam hal ini ADK, tidak mampu berbuat apa-apa untuk membantu 140 mahasiswa yang di-DO massal sejak akhir Juni 2006 lalu. Kampus ditutup dan Dosen serta Staff kampusnya dipaksa mengundurkan diri. Tidak ada pernyataan simpati, apalagi aksi solidaritas massif untuk menekan kekuatan-kekuatan arogan yang masih bercokol di institusi pendidikan di Kota Tangerang. Atau bahkan sebaliknya, mungkin masih banyak yang tidak tau sama sekali tentang kejadian ini. Sementara disisi yang lain, di salah satu propinsi di luar Jawa, belum lama ini ratusan mahasiswa melakukan konvoi aksi solidaritas hanya gara-gara salah seorang mahasiswa ditilang polisi.

Faktor yang melatar-belakanginya memang beragam, baik karena faktor internal maupun eksternal. Secara internal, harus diakui bahwa perhatian para aktivis dakwah kampus tentang visi pembangunan daerah masih sangat lemah. Jangankan dalam sektor ekonomi, dalam hal pembangunan yang terkait dengan moralitas dan pendidikan tinggi saja bisa jadi sangat banyak mahasiswa ADK yang belum nge-klik. Mahasiswa cenderung pasif dan pemikirannya lebih terbatas hanya untuk diri sendiri saja, bagaimana caranya dirinya bisa cepat lulus kuliah. Faktor lainnya adalah masalah waktu. Mengenai waktu dan kesempatan yang dimiliki para kader da’wah yang mayoritas juga karyawan cukup sulit berbagi waktu untuk memikirkan agenda-agenda ke-ummat-an, masih menjadi alasan klasik yang terus saja belum terpecahkan. Sedangkan secara eksternal, terlihat bahwa pemerintah daerah, legislative daerah, maupun publik, belum memiliki kepercayaan terhadap mahasiswa Kota Tangerang. Baik dari segi pemikiran, akademik, kualitas, maupun gerakan sosial politiknya.


Ini adalah berbagai kondisi yang mesti ditindaklanjuti dengan cermat untuk perbaikan ke depan. Harus ada solusi. Dan yakinlah selalu ada jalan keluar untuk setiap problematika dakwah. Tinggal pilihannya berada di tangan para kader dakwah itu sendiri. Apakah ingin bersantai dan menonton saja akan situasi dan kondisi yang ada. Atau menjadi barisan kader yang bersedia bekerja keras dan rela berkorban untuk kemenangan dakwah ini?
 

August 30, 2006

Inspirasi Kebangkitan

Filed under: THULABI

PERGERAKAN MAHASISWA MUSLIM, INSPIRASI UNTUK BANGKIT

Pergerakan mahasiswa muslim di Indonesia memiliki peran yang sangat penting. Berbeda dengan mahasiswa pada umumnya, pergerakan mahasiswa muslim disamping di latarbelakangi rasa tanggung jawab kepada nasib dan kesulitan hidup yang dialami oleh rakyat, mereka dalam pergerakannya dimotivasi oleh tanggung jawab ideologi ke-Islam-an yang kuat. Meski tidak sepenuhnya semua gerakan mahasiswa muslim berpijak erat-erat diatas tata nilai keislaman, akan tetapi paling tidak mereka berjuang diatas motivasi untuk membuktikan bahwa Islam adalah solusi berbagai tantangan dan problematika kebangsaan.

Mahasiswa merupakan salah satu kekuatan pelopor di setiap perubahan. Dan mahasiswa telah berhasil mengambil peran yang signifikan dengan terus menggelorakan energi “perlawanan” dan bersikap kritis membela kebenaran dan keadilan.

Dalam perjalanan sejarah Indonesia terdapat beberapa organisasi mahasiswa ekstra kampus yang cukup menonjol, yaitu HMI Dipo (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), HMI MPO (Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi) dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia).

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan salah satu organisasi mahasiswa tertua di Indonesia yag lahir pada 5 Februari 1947 di kota Yogyakarta. Didirikan oleh Lafran Pane dan kawan-kawan ditengah kondisi bangsa yang masih bergejolak di awal-awal kemerdekaan.

Langkah-langkah strategis untuk mengambil peranan dalam melakukan perbaikan diberbagai aspek kehidupan pun diupayakan. Format awal gerakan HMI selain memberikan pembinaan agama Islam kepada mahasiswa dan masyarakat untuk mengantisipasi pengaruh sekulerisme Barat, juga mengerahkan milisi mahasiswa untuk berjuang secara fisik dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dalam perkembangannya, HMI telah banyak melahirkan kader-kader pemimpin bangsa. Dalam pemerintahan Orde Baru, hampir selalu ada mantan kader HMI yang duduk di kabinet. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran signifikan HMI dalam keikutsertannya menumbangkan Orde Lama serta menegakkan Orde Baru.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Kelahiran Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dibidani oleh kaum muda Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia pada tanggal 17 April 1960 di Surabaya. Pada perkembangannya, dengan dicetuskannya Deklarasi Murnajati 14 Juli 1972, PMII secara struktural menyatakan diri sebagai organisasi independen, terlepas dari ormas apa pun, termasuk dari NU.

Menjelang peristiwa jatuhnya Soeharto, PMII bergabung dengan elemen gerakan mahasiswa lainnya menumbangkan rezim Soeharto.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

Beberapa tokoh angkatan muda Muhammadiyah seperti Muhammad Djaman Alkirdi, Rosyad Soleh, Amin Rais dan kawan-kawan memelopori berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Yogyakarta pada tanggal 14 Maret 1964.

Dalam periode pergolakan ini, IMM harus berhadapan dengan situasi dan kondisi sosial, politik, ekonomi, budaya di tengah kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama yang sangat rawan dan kritis. IMM pada saat itu langsung berhadapan dengan kebijakan Manipol Usdek Bung Karno, Nasakom, dan ancaman PKI. Sehingga kegiatan-kegiatan IMM lebih banyak diarahkan kepada pembinaan personil, penguatan organisasi, pembentukan dan pengembangan IMM di kota-kota maupun perguruan tinggi

Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO)

Mulanya MPO merupakan nama sekelompok aktivis kritis HMI yang prihatin melihat HMI begitu terkooptasi oleh rezim orde baru yang mewajibkan HMI mengubah azasnya yang semula Islam menjadi pancasila. Bagi aktivis MPO, perubahan azas ini merupakan simbol kemenangan penguasa terhadap gerakan mahasiswa yang akan berdampak pada termatikannya demokrasi di Indonesia.

Setelah Pengurus Besar HMI melalui jumpa pers mengumumkan tentang penerimaannya asas Pancasila oleh HMI, muncullah perlawanan yang kemudian melahirkan HMI MPO pada 15 Maret 1986 di Jakarta, sebagaimana tercantum dalam buku Berkas Putih yang terbit 10 Agustus 1986.

HMI-MPO hadir sebagai sosok pendekar yang berani berteriak lantang menentang kekuasaan. HMI-MPO-lah satu-satunya organisasi Islam yang pertama kali menuntut turunnya Suharto dari kursi kepresidenan. Maka tak heran jika selama kekuasaan orde baru, HMI-MPO menjadi organisasi ‘bawah tanah’ yang berjuang melawan rezim dengan segala resikonya.

Ketika terjadi gerakan reformasi 98, kesatuan-kesatuan aksi buatan HMI-MPO seperti LMMY, FKMIJ, FKSMJ, dan FKMIJ memainkan peran strategis dalam menggalang kekuatan elemen gerakan mahasiswa. Melalui poros Jakarta-Yogyakarta-Makassar, yang secara tidak langsung terbentuk sebagai sentra gerakan HMI-MPO, isu-isu gerakan dikomunikasikan ke seluruh Indonesia.

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)

KAMMI lahir para ahad tanggal 29 April 1998 bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H yang dituangkan dalam naskah Deklarasi Malang. KAMMI awal kali muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif Mahasiswa yang berbasis aktivis dakwah kampus pada pelaksanaan Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X se-Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang.

Ada beberapa alasan mengapa KAMMI harus lahir. Pertama, adanya indikasi upaya rezim pemerintah mematikan potensi bangsa sehingga mendorong segera didengungkannya tuntutan reformasi. Kedua, suara umat Islam mulai terabaikan, sehingga penting untuk segera berbuat. Ketiga, sebagai ekspresi keprihatian mendalam dan tanggung jawab moral atas krisis dan penderitaan rakyat yang melanda Indonesia. Keempat, untuk membangun kekuatan yang dapat berfungsi sebagai peace power untuk melakukan tekanan moral kepada pemerintah.

Dalam perjuangan reformasi tahun 98, bersama elemen pergerakan mahasiswa lainnya KAMMI melakukan tekanan terhadap pemerintahan Orde Baru melalui gerakan massa. Rezim Suharto dengan segala macam kebobrokannya, akhirnya tumbang pada 21 Mei 1998.

Namun bagi KAMMI, paska keruntuhan Suharto proses reformasi di Indonesia belumlah usai, masih membutuhkan proses yang panjang. Lewat Muktamar Nasional KAMMI yang pertama, 1-4 Oktober 1998, KAMMI memutuskan diri berubah dari organ gerakan aksi menjadi ormas mahasiswa Islam. Peran utamanya adalah untuk menjadi pelopor, pemercepat dan perekat gerakan pro-reformasi.

Menjadi Inspirasi untuk Segera Bangkit

Adalah satu bukti sejarah bahwa pergerakan mahasiswa muslim tidak bisa dipandang remeh dalam mengawal perjalanan bangsa ini. Bahkan, dapat dikatakan mahasiswa muslim menjadi energi yang konsisten dalam tribulasi pergerakan mahasiswa di Indonesia. Dari waktu ke waktu, dalam berbagai wadahnya, gerakan mahasiswa muslim menjadi pagar betis yang berdiri dibarisan terdepan dalam mengawal perubahan demi perubahan.

Mahasiswa muslim Kota Tangerang adalah bagian tak terpisahkan dari komunitas mahasiswa muslim di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Yang padanya melekat semangat juang yang tinggi untuk bangkit dari keterpurukan, memiliki sensitifitas yang tajam terhadap penderitaan ummat, juga memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk mendidik dan men-tarbiyah bangsa ini.

Oleh karena itu, sejarah emas perjuangan mahasiswa muslim diatas mestinya dapat menjadi inspirasi mendasar bagi mahasiswa muslim di Kota Tangerang untuk segera bangkit dari ketidak-berdayaan, bangkit dari ketidak-produktifan, bangkit dari rasa pesimis, bangkit dari rasa tidak percaya diri, dan bangkit dari kemalasan. Jangan sampai menyerah sebelum berjuang!

August 16, 2006

Derita Mahasiswa Poltek GT

Filed under: THULABI
MESTINYA SETIAP KITA SEGERA MEMBANTU

 
Kota Tangerang - Jika pihak yang berkecimpung dalam bidang pendidikan tidak paham cara, metode dan aturan main dalam dunia pendidikan, maka yang muncul adalah arogansi, otoriterianisme, dan bahkan premanisme pendidikan.

Hal ini terlihat jelas dengan kasus yang menimpa ratusan mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal. Setelah penetapan Drop Out dua mahasiswa terbaiknya, Indar Dwi Basuki dan Untung Kasirin, yang lolos maju sampai Grand Final Kontes Robot Indonesia 2006, di Balairung Universitas Indonesia 3-4 Juni lalu, pihak Direktur Politeknik Gajah Tunggal men-DO massal 137 mahasiswa yang melakukan aksi solidaritas menentang SK DO 2 rekan mahasiswa sebelumnya.

Tidak hanya sampai disitu, managemen pusat Gajah Tunggal Group (PT. Gajah Tunggal) yang menaungi Politeknik Gajah Tunggal, juga memaksa 40-an dosen tetap dan staff kampus untuk mengundurkan diri. Per Awal Juli ini kampus nyaris kosong dan tidak ada aktivitas perkuliahan sedikit pun.

Tindakan premanisme sampai pada keputusan perusahaan yang menyetop uang saku bulanan mahasiswa mulai awal Juli ini. Hal ini sangat disayangkan dan merugikan pihak mahasiswa. Meskipun secara de facto mahasiswa bisa saja dianggap sudah ter-DO massal, mengingat dosen dan staff kampus juga sudah di PHK sehingga tidak mungkin melanjutkan aktivitas perkuliahan lagi dalam waktu dekat. Tetapi secara de jure, pihak institusi Politeknik Gajah Tunggal belum mengeluarkan SK resmi DO massal terhadap mahasiswa.

Artinya adalah, bahwa pihak perusahaan PT. Gajah Tunggal masih berkewajiban membayarkan uang saku bulanan kepada mahasiswa sesuai dengan surat perjanjian yang telah ditandatangani kedua belah pihak diawal para mahasiswa masuk di Politeknik Gajah Tunggal. Tetapi yang terjadi perusahaan menghentikan pembayaran uang saku kepada mahasiswa. Sudah jelas mahasiswa sangat dirugikan.

Bahkan tindakan premanisme juga hampir melibatkan pihak Pemda Kota Tangerang sebagai pemilik Asrama Tinggal Mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal. Entah ada desakan dari mana, tiba-tiba awal Juli lalu pihak Pemda Kota Tangerang lewat Dinas yang terkait dengan masalah asrama mengeluarkan peringatan kepada ratusan mahasiswa yang tinggal di Asrama, bahwa batas akhir pembayaran asrama adalah hari Minggu, 9 Juli 2006. Jika tidak mampu bayar maka mahasiswa harus angkat kaki dari asrama. Padahal, pada bulan-bulan sebelumnya pihak pengurus asrama secara kolektif membayarkan biaya sewa tinggal kepada pihak Pemda paling cepat setiap tanggal 10. Untungnya hal itu bisa dikomunikasikan pengurus Asrama dengan pihak Pemda yang akhirnya bisa memahami kesulitan yang sedang dihadapi mahasiswa.

Fakta di atas sudah jelas membuktikan wajah asli dari pihak perusahaan pembuat ban itu. Bahwa penyelenggaraan pendidikan tinggi yang dilakukannya tidaklah murni sebagai bentuk perannya kepada masyarakat untuk membantu negara dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Tetapi lebih kepada kepentingan bisnis yang berorientasi kepada profit. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa dengan penyelenggaraan institusi pendidikan ‘gratis’, ada discount pajak yang diterima perusahaan Gajah Tunggal dari pemerintah. Karena dianggap telah melakukan peran sosial yang cukup strategis.

Orientasi profit ini juga terbukti dari perbedaan yang cukup signifikan dalam hal salary lulusan Politeknik Gajah Tunggal jika dibandingkan dengan lulusan Perguruan Tinggi lain yang bekerja di perusahaan Gajah Tunggal Group. Bukan rahasia umum lagi bahwa tingkat salary alumni Politeknik Gajah Tunggal yang bekerja di perusahaan-perusahaan Gajah Tunggal Group lebih kecil jika dibandingkan dengan pekerja yang berasal dari perguruan tinggi lain untuk jenjang latar belakang pendidikan yang sama. Dalam bahasa perusahaan, selisih salary itu merupakan penggantian biaya kuliah selama 3 tahun yang harus dikeluarkan alumni Politeknik Gajah Tunggal. Apalagi besar total biaya yang harus ‘dikembalikan’ cukup besar, berkisar 25 - 30 juta rupiah. Artinya, sesungguhnya mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal bukanlah kuliah gratis melainkan membayar setelah bekerja.

Sikap arogansi terlihat dari statemen Ismail, public relations PT. Gajah Tunggal, sebagaimana di muat di koran tempo tanggal 18 Juli 2006, halaman A13. Ismail mengatakan, "Sekolah ini milik intern perusahaan dan semua biaya perkuliahan ditanggung perusahaan. Siapa pun tidak berhak ikut campur kebijakan kami."

Tampak dari statemennya betapa Gajah Tunggal tidak memahami etika dunia pendidikan. Semestinya mereka mengerti bahwa setiap institusi pendidikan yang sudah terdaftar di DIKTI tidak boleh tidak harus tunduk dan patuh pada tata aturan pendidikan tinggi. Disamping itu, setiap institusi ‘bisnis’ yang bersinggungan dengan kepentingan public tidaklah boleh semaunya sendiri membuat aturan main. Harus didasarkan kepada aturan-aturan standar yang berlaku di negeri ini. Maka salah besar jika Ismail sang public relation PT. Gajah Tunggal mengatakan ’siapapun tidak berhak ikut campur kebijakan kami’.

Yang jelas, akibat ulah arogan dan otoriter pihak Gajah Tunggal, ratusan mahasiswa dan ribuan keluarga mahasiswa dirugikan secara materi dan immaterial.

August 1, 2006

Jalan Aksi Mahasiswa Poltek

Filed under: THULABI

PERCEPAT PROSES ADVOKASI MAHASISWA POLTEK GT

 
KOTA TANGERANG - Masa perjuangan menuntut kebenaran dan keadilan para mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal sudah memasuki hari ke-42. Upaya-upaya yang telah diupayakan belum juga membuahkan hasil yang berpihak kepada mahasiswa.

Mulai dari upaya negosiasi penyelesaian internal yang dilakukan oleh tim mahasiswa yang didampingi DEMA (Dewan Mahasiswa) tanggal 15 Juni lalu, sampai dengan pengaduannya ke fraksi PKS DPR RI tanggal 18 Juli kemarin, belum ada titik terang, kapan proses perjuangan menuntut keadilan ini akan segera tuntas. Runutan langkah yang terekam dalam perjalanan aksi mahasiswa bisa dilihat sebagai berikut:

13 Juni 2006 : Keluar SK Pemecatan (DO) 2 mahasiswa berprestasi, Indar Dwi Basuki dan Untung kasirin. Keputusan arogan ini mengusik hati nurani mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal. Gaya kepemimpinan direktur Politeknik Gajah Tunggal, Budiman Ivino, yang selama ini sangat diktator dan otoriter menyulut mahasiswa untuk sampai kepada kesatuan kata dan tekad: aksi menentang arogansi, ke-diktator-an, dan ke-otoriter-an.

14 Juni 2006 : Mahasiswa Tk. II (semester 4) dan mahasiswa Tk. I (semester 2), berjumlah 137 mahasiswa, melakukan aksi solidaritas mogok belajar. Pada hari ini dilakukan negosiasi untuk menuntut pencabutan SK Pemecatan diatas. Karena sikap pengecut direktur Politeknik Gajah Tunggal, yang tidak berani mempertanggungjawabkan tindakannya berhadapan dengan mahasiswa, negosiasi dilakukan di Gajah Tunggal Grup Tangerang.

Budiman Ivino bersembunyi dibelakang management Gajah Tunggal dengan menebar opini dan isu yang menyesatkan, bahwa 2 mahasiswa (Indar & Untung) telah melakukan korupsi dan merugikan secara material Politeknik Gajah Tunggal. Benny Gozali, pimpinan Perusahaan Gajah Tunggal Tangerang, bukan menjadi penengah atau peredam masalah, secara membabi buta menyalahkan mahasiswa dan mendukung penuh keputusan direktur Politeknik Gajah Tunggal.

Karena negosiasi tak seimbang itu menemui jalan buntu, sore harinya seorang perwakilan mahasiswa dan 2 mahasiswa yang di DO mengadukan kasusnya ke fraksi PKS DPRD Kota Tangerang. Sementara aksi mogok belajar masih berlangsung dihalaman kampus Politeknik Gajah Tunggal hingga jam 18.00 WIB.

15 Juni 2006 : Mahasiswa kembali melakukan aksi solidaritas dengan mogok kuliah di halaman kampus. Koran Satelit News memuat berita ‘aksi solidaritas’ mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal, tetapi kontennya justru menyudutkan mahasiswa. Mengambil informasi dari Ismail, Public Relations PT. Gajah Tunggal, dikatakan pada koran itu bahwa 2 mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal di DO karena nilainya kurang (padahal proses DO berdasarkan nilai hanya bisa dilakukan setelah hasil UAS keluar, sementara sesuai jadwal akademik Politeknik Gajah Tunggal baru akan melaksakan UAS tanggal 10 Juli 2006). Jadi, Ismail, PR PT. Gajah Tunggal telah memberikan keterangan palsu, berbohong kepada publik Kota Tangerang dan warga Banten pada umumnya.

16 Juni 2006 : Harian Seputar Indonesia (Sindo), Koran Tempo, dan Tribun Banten, memuat aksi solidaritas mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal. Diharian Tribun Banten memuat berita foto dengan isi teks yang kurang lebih muatannya sama dengan pemberitaan Satelit News sehari sebelumnya, bahwa mahasiswa melakukan aksi solidaritas untuk rekannya yang di DO karena nilainya rendah. Lagi-lagi narasumbernya adalah Ismail, PR PT. Gajah Tunggal.

Harian Sindo lebih objektif, diberitakan didalamnya bahwa aksi mahasiswa politeknik gajah tunggal adalah dalam rangka solidaritas 2 rekannya yang di DO secara sepihak oleh Budiman Ivino per 12 Juni 2006. Dalam keterangannya Ismail tidak bisa berdusta lagi, karena pihak redaksi SINDO sudah menerima dokumen dan kronologis dari mahasiswa yang dibagikan untuk kalangan pers dan umum sehari sebelumnya. Ismail mengatakan bahwa 2 mahasiswa tersebut (Indar & Untung) di DO karena point-point tuduhan yang tercantum dalam SK DO direktur Politeknik Gajah Tunggal. Hanya saja SINDO tidak mengkritisi kebijakan Budiman Ivino yang otoriter.

Koran Tempo, memuat berita yang cukup baik. Disamping bersifat objektif, pesan yang terkandung didalamnya adalah menyayangkan sikap Direktur Politeknik Gajah Tunggal yang sewenang-wenang.

Fraksi PKS mem-follow-up pengaduan mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal, dan membawanya ke Komisi B DPRD Kota Tangerang, yang membidangi masalah pendidikan. Hari itu perwakilan mahasiswa melakukan hearing dengan komisi B. Hasilnya, komisi B berjanji akan memanggil Direktur Politeknik Gajah Tunggal, Budiman Ivino, pada hari Senin 17 Juli 2006, untuk melakukan klarifikasi dan langkah penyelesaian masalah.

Mahasiswa juga mengirim perwakilannya untuk menemui HRD Gajah Tunggal Grup Pusat, di Wisma Hayam Wuruk Jakarta. Dari perbincangan dengan Pimpinan HRD Pusat, Ope Mustofa, ditarik kesimpulan bahwa SK bermasalah yang dikeluarkan oleh Budiman Ivino sangatlah sulit dianulir, akar masalahnya adalah terbentur soal prestise corporasi Gajah Tunggal Group yang tidak mau gentle mengakui kesalahannya kepada mahasiswa dan publik. Sehingga bukan lagi masalah siapa yang benar akan dibela, atau yang salah akan dihukum, tetapi lebih kepada ketidakamuan menelan resiko rasa malu yang harus ditanggung Gajah Tunggal Grup jika ‘ditaklukkan’ oleh mahasiswa yang dibiayainya.

17 Juni 2006 : Pihak PT. Gajah Tunggal melakukan upaya intimidasi kepada para mahasiswa untuk menghentikan aksi dengan cara memberikan ancaman-ancaman tertentu kepada beberapa karyawannya yang memiliki hubungan kekerabatan dengan mahasiswa di Politeknik Gajah Tunggal.

19 Juni 2006 : Budiman Ivino datang menghadiri panggilan Komisi B DPRD Kota Tangerang, sementara mahasiswa sudah dicekal pihak Gajah Tunggal melalui security. Mereka tidak boleh memasuki wilayah kampus, kecuali menandatangani formulir pernyataan penghentian aksi. Akhirnya mahasiswa terkonsentrasi di asrama, yang berlokasi sekitar 2 km dari kampus. Siang harinya mereka mendatangi gedung DPRD Kota Tangerang bersamaan dengan waktu pemanggilan Budiman Ivino oleh Komisi B.

Puluhan mahasiswa yang mewakili Komunitas BEM Tangerang (KOMBET), sudah lebih awal melakukan aksi diteras gedung DPRD untuk memberikan dukungan moral kepada para mahasiswa Poltek Gajah Tunggal, sekaligus pressure kepada Komisi B agar tidak segan2 melakukan tindakan tegas kepada Direktur Politeknik Gajah Tunggal yang telah bertindak sewenang-wenang.

Kedatangan Budiman Ivino ke gedung DPRD Kota Tangerang dikawal puluhan ‘alumni sukses’ yang memang sudah cukup akrab dengan Budiman lewat rutinitas acara kebhaktian di perusahaan. Sekali lagi, membuktikan bahwa dirinya sangat pengecut: dia yang membakar lumbung, orang lain yang ngga tahu-menahu diajak memadamkannya.

Budiman dipanggil secara tertutup untuk melakukan klarifikasi berkenaan dengan pengaduan mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal, sementara diluar gedung aksi mahasiswa berlangsung dari jam 12.30 dsampai dengan jam 15.00 WIB. Setelah sekitar 1,5 jam pertemuan tertutup, PO Abas Sunarya selaku ketua Komisi DPRD Kota Tangerang bersama anggota legislatif lainnya, dan pihak rombongan Budiman Ivino keluar menemui mahasiswa untuk menyampaikan hasil pertemuan.

Hasil pemanggilan Komisi B terhadap Direktur Politeknik Gajah Tunggal memang jauh dari harapan mahasiswa. Abas hanya mengungkapkan bahwa dewan hanya berfungsi sebagai mediator, dan kedua belah pihak mesti bersikap mencari solusi. Disampaikannya bahwa Budiman Ivino meminta waktu tangguh selama 1 pekan untuk mengeluarkan putusan lebih lanjut. Sedangkan mahasiswa dinyatakan diliburkan untuk sementara waktu selama satu pekan.

26 Juni 2006 : Jeda waktu satu pekan yang dijanjikan Budiman Ivino tiba. Tetapi niat baik dari pihak Direktur Politeknik Gajah Tunggal itu tidak tampak terlihat. Hal ini ditunjukkan dengan sikapnya yang menutup komunikasi dengan pihak DPRD dan mahasiswa. Bahkan dirinya menebar opini dikalangan management PT. Gajah Tunggal tbk. bahwa kasus DO 2 mahasiswa sudah ditunggangi kepentingan politik, sehingga dirinya berlepas tangan dan menyerahkan kasus ini kepada pemilik pusat Politeknik Gajah Tunggal, Icih Nursalim (adalah istri Syamsul Nursalim, terdakwa kasus BLBI yang lari ke Singapura).

Masalah menjadi berkembang, karena pusat memutuskan pembekuan aktivitas perkuliahan secara total. Mahasiswa statusnya dibuat mengambang, diliburkan sampai batas waktu yang ditentukan kemudian. Sementara dosen tetap dan para staff kampus dipaksa mengajukan surat pengunduran diri. Kontan, kampus Politeknik tidak mungkin lagi mengadakan aktivitas perkuliahan lagi, minimal dalam waktu dekat. Bahkan kabar yang berkembang, Politeknik akan di tutup minimal untuk jangka waktu 3 tahun.

Gelap matanya pimpinan pusat gajah tunggal, yang diawali kecerobohan dan arogansi direktur politeknik gajah tunggal mengancam dan sangat merugikan masa depan para mahasiswa. Untuk itu, mulai 2 Juli 2006 perjuangan mahasiswa didampingi kuasa hukum Muhammad Luthfi, SH. dari LBH Bela Bangsa. Langkah2 perlawanan terlihat semakin membaik dengan penyebaran opini yang cukup intensif dimedia massa baik lokal maupun nasional. Termasuk langkah pengaduan ke DPR RI komisi X yang menangani masalah pendidikan.

Semoga langkah perjuangan dari rekan2 mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal menemukan titik terang. Kemudian Allah SWT. memenangkan kebenaran, dan menghinakan kedzoliman. Amiin.

Nafas saudara2 kita mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal sangat terbatas, maka kesigapan dan kecepatan kita membantunya adalah cara terbaik untuk mengadvokasi mereka. Semoga Allah memuliakan antum yang meringankan beban saudaranya. Amiin.

June 20, 2006

Tragedi Pembuat Robot

Filed under: THULABI
EMPATI UNTUK MAHASISWA POLTEK GT
 
KOTA TANGERANG - Ada keprihatinan mendalam ketika melihat adik-adik mahasiswa Poltek GT harus dihadapkan kepada ancaman ketidakpastian masa depan mereka. Mereka harus menerima kepahitan, sesaat setelah mereka mengharumkan nama baik Politeknik Gajah Tunggal di kancah nasional dengan modal niat baik dan kantong mereka sendiri.

Mungkin ini adalah peristiwa pilu yang sangat-sangat mencabik sejarah dunia pendidikan. Jika mahasiswa dikampus lain dengan prestasi dan karyanya pulang mendapatkan medali, hadiah dan penghargaan yang sepantasnya, atau minimal ucapan selamat dan kebanggaan, lain halnya dengan 2 mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal, Indar Dwi Basuki dan Untung Kasirin. Keduanya justru diganjar dengan Drop Out oleh Budiman Ivino, direktur Polyteknik Gajah Tunggal dengan alasan yang sungguh sangat mengherankan.

Mereka dituduh menggelapkan uang hadiah yang diberikan panitia penyelenggara kepada team robotnya, mereka juga dituduh memberikan keterangan palsu, dituduh menyalahgunakan wewenang institusi, dan dituduh merugikan Politeknik Gajah Tunggal secara material maupun immaterial. Sungguh mengherankan tuduhan-tuduhan itu jika dilihat akar masalahnya adalah uang kecil senilai 4 juta rupiah, yang memang disiapkan Panitia Penyelenggara Kontes Robot Indonesia bagi setiap peserta yang lolos uji visitasi, bukan untuk institusi kampus.

Sekali lagi, uang 4 juta itu bukan untuk institusi kampus melainkan untuk operasional team Robot menjelang tahap Grand Final tanggal 3-4 Juni 2006 di Balairung Universitas Indonesia. Hal ini dibuktikan ketika Direktur Politeknik Gajah Tunggal mengutus Kholidun Pane (salah seorang dosen), untuk meminta uang 4 juta tersebut ditolak mentah-mentah oleh Panitia Penyelenggara. Dan pihak panitia menegaskan bahwa uang itu adalah untuk operasional setiap Team Robbot menuju Grand Final.

Dan kenyataanya memang 1,15 juta dari uang yang 4 juta itu dipakai untuk mengganti beberapa onderdil robot yang rusak. Selebihnya digunakan oleh mahasiswa team robot untuk mengembalikan uang pinjaman dari mantan dosen pembimbingnya, karena dari awalnya memang mereka tidak mendapatkan sepeser rupiah pun dari pihak institusi Politeknik. Meraka berangkat ikut kompetisi hanya bermodalkan izin dari pimpinan Politeknik, tidak beserta dana pendukungnya. Hingga uang dikantong-kantong mereka juga ludes untuk mewujudkan robot karyanya.

Ibarat ‘air susu dibalas dengan air tuba’. Mereka mewakili Politeknik Gajah Tunggal, bahkan versi Panitia mereka dianggap mewakili Kota Tangerang, sebagaimana team-team lain mewakili daerah asalnya, tetapi prestasinya yang mengharumkan dan membawa nama baik kampus dan daerahnya dibalas dengan fitnah dan tuduhan keji.

Mengherankan memang, maka pantaslah kemudian muncul pertanyaan; ‘Sebenarnya dibangun diatas landasan apakan institusi Politeknik Gajah Tunggal ini? Dibangun diatas itikad baik, empati sosial, dan dedikasi yang tinggi.. ataukah dibangun diatas arogansi, otorianisme, kebencian,dan kesewenang-wenangan?’ Ini PR besar bagi siapa saja yang merasa punya tanggung jawab moral terhadap kampus kedinasan yang ada di Kota Tangerang ini. Yang jelas di era perbaikan ini (reformasi), tidak ada lagi tempat bagi arogansi, otorianisme dan kesewenang-wenangan, di dunia pendidikan khususnya dan negeri tercinta ini pada umumnya.

Itulah yang kemudian mendorong ratusan mahasiswanya melakukan negosiasi dan aksi solidaritas untuk membela rekannya demi mendapatkan keadilan. Akan tetapi, upaya-upaya yang mereka tempuh justru berbuntut kepada ‘pembekuan’ institusi Politeknik Gajah Tunggal. Dimana saat ini dosen-dosen tetap sudah hampir seratus persen dipaksa mengundurkan diri dan diberhentikan. Sementara mahasiswa dibiarkan begitu saja, diliburkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Ini bukanlah logika dan cara bertindak pihak-pihak yang memiliki dedikasi tinggi, tetapi sebaliknya, kembali ke jaman penjajahan yang setiap orang merdeka sangat membencinya. Sungguh sangat disayangkan.

Sungguh mahal harga kebenaran dan keadilan. Lalu, dimana hati nurani kita???






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer