December 23, 2008

Surat Cinta untuk Ibu

Filed under: DARI HATI

BAIT CINTA UNTUK IBU

 
Pagi ini, aku bahagia mendengar suaramu meski hanya di ujung telepon. Dari getar-getar suaramu, dapat kurasakan betapa besarnya kasihmu padaku. Tak pernah luntur. Tak pernah berkurang, meski aku belum mampu memberimu kebahagiaan.

Ibu, di Hari Ibu kemarin, ingin rasanya aku memberikan kado spesial untukmu. Dan aku juga ingin menghubungimu malam itu setelah seharian disibukkan urusan pekerjaan. Meski hanya sekedar untuk mengucapkan ’selamat Hari Ibu’ dan sebait ungkapan terima kasih karena sudah melahirkanku, merawatku, dan membesarkanku dengan kesabaran dan perjuangan yang tidak sedikit.

(more…)

December 15, 2008

Rindu sang Murabbi

Filed under: PEMIKIRAN, DARI HATI

Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu
Dengan semua nama yang jadi milik-Mu
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala yang ghaib
Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
Sebagai musim bunga hati kami, Cahaya hati kami
Pelipur sedih dan duka kami, Pencerah mata kami

(Syeikhut Tarbiyah KH. Rahmat Abdullah) 

(more…)

May 2, 2008

Untukmu Guru

Filed under: THULABI, DARI HATI
SEBAIT DOA UNTUKMU GURU
 
 
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Setiap waktu teringat lagu tentangmu membuat hati ini bergolak rindu. Ingin meraih jemarimu dan menciumnya dengan segenap penghormatan dan rasa terima kasih. Karena tanpa ketulusannya, mungkin hari ini kita semua tak kan menjadi seperti ini. Tanpa kesabarannya mungkin banyak diantara kita yang tersesat kehilangan jalan. Ya.. karena dulu berpuluh tahun lalu aku, kami dan kita hanyalah bocah-bocah desa lugu yang tak tahu tentang dunia.

Berhentilah sejenak untuk mengenang para guru tercinta yang telah mengabdikan sebagaian usianya demi mencetak generasi bangsa ini. Orang tua ‘kedua’ yang kadang lebih peduli terhadap masa depan kita dibandingkan para orang tua kandung di kampung halaman saat itu. Mereka sabar dengan ketidaktahuan kita, mereka sabar dengan kenakalan kita, dan mereka pun sabar dengan gejolak masa remaja kita yang kadang kala meledak-ledak. Termasuk barangkalali kita yang saat ini telah sampai di salah satu titik pemberhentian dari titik-titik pemberhentian yang lain menuju cita-cita meraih mimpi dan asa.

Kawan-kawan, sekali lagi sejenak kita kenang mereka, betapa mereka semua telah mengalirkan ilmu berharga dalam sanubari kita, sehingga saat ini kita mampu tegak mandiri. Mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain tanpa rasa malu dan rendah diri. Sampai-sampai hari ini puluhan bahkan ratusan ribu di antara kita telah berdiam di berbagai negara lain di seluruh dunia.

Kita pun bagai anak-anak ayam yang kini terlatih mengais rezeki sendiri lantaran kesabaran sang induk mengajarkan anak-anaknya mencari makan. Bukan mereka memang yang memberi nasib bagi kita, namun sebab merekalah kini kita mampu bertahan hidup dengan bekal ilmu dan keahlian yang pernah mereka ajarkan kepada kita. Bahkan bisa jadi saat ini sebagian di antara kita telah melesat jauh meraih kesuksesan, mencapai keberhasilan, dan menikmati limpahan materi maupun popularitas. Lebih jauh dari apa yang mereka ‘para guru kita’ mampu nikmati pada hari ini.

Namun, semoga kita tak melupakan mereka yang detik ini tak lagi muda. Yang kulit-kulit mereka tak sekokoh dulu. Rambut-rambut mereka tak selegam saat itu. Dan wajah-wajah mereka pun tak secerah waktu itu. Kini tanpa kita sadari, kulit mereka telah mulai berkerut di sana-sini, rambut mereka juga telah dihiasi helai-helai putih yang semakin menyeruak. Dan wajah mereka terlihat sayu menatap hidup ini yang tak semakin bersahabat.

Bisa jadi periuk mereka hari-ini tak se-mengepul kepulan periuk di dapur kita. Bisa jadi sisa gaji mereka hari ini sudah sekarat untuk sampai lagi ditanggal 1 bulan depan. Dan bisa jadi putra-putri mereka meregang nafas untuk tetap bertahan menikmati pendidikan-pendidikan mereka. Tak sedikit diantara mereka yang hari ini masih setia menaiki sepeda ontel tuanya dikala ratusan bahkan ribuan ‘mantan’ anak didiknya menaiki mobil-mobil mewah yang nyaman.

Sahabat, mari basahi bibir kita untuk mendoakan mereka agar tetap ikhlas menjalani tugas muliannya menjadi guru peradaban. Agar dengan keikhlasan itu pahala dari-Nya mengalir deras sampai akhir masa. Agar rizki mereka berkah dan berkecukupan. Hingga di masa tuanya mereka bangga dan bersyukur telah mencetak puluhan juta tunas-tunas baru yang memakmurkan dan mengharumkan negeri ini.

Do’a ini kami persembahkan untukmu, wahai Ibu - Bapak Guru.

March 3, 2008

Selamat Jalan Akhi..

Filed under: DARI HATI
SELAMAT JALAN WAHAI ORANG YANG MUSLIKH
 
 
Saya masing ingat dengan jelas dan tak pernah akan terlupakan. Waktu itu, beberapa hari menjelang masa orientasi mahasiswa baru, saya datang dari kampung sebagai orang baru di Tangerang. Dengan membawa tas carrier tinggi saya berjalan cukup jauh. Saya nekat jalan dari terminal Cimone ke Asrama. Bukan karena dompetnya kecopetan, namun darah petualang sebagai seorang anak pecinta alam SMU yang suka naik gunung dan jalan jauh mendorong saya melakukan ‘long march‘ itu. Sekalian ingin tahu suasana kanan kiri ‘jalan setapak’ menuju asrama secara lebih detil. Maklum pendatang baru.

Hari itu cukup terik, tak heran peluh keringat saya bercucuran, mungkin bisa dikatakan sebesar ‘jagung’. Lumayan juga jalan sejauh 7 km di siang hari dengan tas carrier yang tinggi dan berat. Sampai mendekati ‘warteg’ dan ‘warsun’ dekat asrama kampus suasana memang sudah seperti mau perang. Senior-senior pada nongkrong di tempat-tempat strategis. Tampang senior banyak yang ditekuk dan cuek (maaf, ini sekedar cerita kenangan yang sangat indah), bahkan tidak sedikit yang sudah pada mulai rajin nyuruh push-up para calon mahasiswa baru.

Terus terang punggung saya sudah pegal-pegal dan kaki sudah terasa mau ‘copot’. Ternyata Cimone-asrama bukan jarak yang bersahabat buat jalan kaki di siang hari. Setelah melewati dengan aman para senior yang bikin jantung deg-deg-an, saya mendekati gerbang asrama. Sedikit berbeda dengan kondisi di jalan tadi, di asrama tampak lebih sunyi. Mungkin karena di luar masih lumayan panas, jadi banyak penghuni asrama yang lebih memilih beraktivitas didalam asrama.

Langkah saya sudah gontai. Saya sangat lelah dan kaos yang saya kenakan juga sudah basah kuyup dengan keringat yang terus mengucur. Saca baca bismillah ketika satu kaki mulai menginjak halaman asrama yang memang masih asing. Tiba-tiba, dari sebelah kanan melintas seorang laki-laki menyapaku. Saya tahu dia pasti salah seorang senior.

Wajahnya teduh, dan menyunggingkan senyum yang terasa oleh saya sangat tulus dan dalam. Jelas sangat berbeda dengan wajah para senior yang saya telah berpapasan sebelumnya. Kalau senior yang di luar asrama, saya yang harus berusaha menyunggingkan senyum dan menyapa (itupun belum tentu di balas), tapi senior yang satu ini justru sebaliknya. Ia yang terlebih dahulu tersenyum padaku dan menyapaku "baru datang ya, Dik?", demikian ucapnya. Saya pun menjawab singkat dengan perasaan lega dan ‘aman’.

Setelah semakin dekat, tiba-tiba ia menyodorkan tangannya menjabat tangan saya, "Muslikhin’, katanya menyebut namanya. saya pun menjawab singkat dengan menyebut namaku. Tak sampai di situ, setelah sedikit bercengkerama ia pun kemudian membantu dan mengantar saya melakukan registrasi untuk mendapatkan jatah kamar di asrama itu.

* * *

Iya, itu sepenggal kisah yang sangat berkesan di dalam hati. Sebuah kisah yang terjadi hampir 9 tahun yang lalu. Namun, sungguh saya masih ingat setiap terlintas segala sesuatu yang ber’bau’ kampus dulu. Dan kisah ini pun yang saya ceritakan kepada mas Muslikhin ketika bersama istri saya menjenguknya di RS Al-Qadr 24 Maret 2008 yang lalu.

Sore itu Istrinya menyambut saya dan istri saya dengan tatapan mata yang tegar namun berat. Saya cukup terperanjat melihat kondisi fisiknya yang sangat kurus. Bahkan saya hampir tak mengenalinya. Mata ini berkaca-kaca namun saya menahannya. Wajah yang dulu teduh menyapa dengan senyum yang kuat nuansa keikhlasannya, kini tak mampu mengenali saya. Kangker hati yang menyerangnya sejak beberapa bulan lalu sungguh-sungguh merubahnya dari sosok yang gesit dalam kebaikan menjadi sosok yang lemah tak berdaya. Allah SWT pasti telah menggariskan takdirnya dengan jalan yang paling sempurna.

Usai sholat maghrib, istrinya yang begitu tabah meminta saya menuntun sosok yang terbaring itu untuk menunaikan sholat maghrib. Saya pun duduk disamping pembaringan setelah ia ditayamumkan istrinya. Perlahan saya memulai membacakan bacaan-bacaan sholat dengan memegang punggung tangannya yang tinggal tulang berbalut kulit. Bibir saya bergetar membaca setiap ayat-ayat Al-Qur’an dan bacaan sholat. Mata ini tak kuasa menahan lelehan air mata dengan iringan hati yang bergemuruh memohon mukjizat dari sang Penggengam Jiwa. Allahumma, rabbigh firli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fu’anni.

Ia tampak tak bergeming dari posisinya. Setelah sholat dan saya tuntun berdoa, saya sejenak mengajaknya berbincang untuk menghiburnya. Entah ia mendengar atau tidak, tetapi mulut saya terus berbicara. Sambil mengusap keningnya dan mengipasinya, saya pun bercerita padanya tentang kisah sebagaimana yang telah saya ceritakan diatas. Dalam suasana yang tenang itu saya menutup cerita dengan sebuah doa dan harapan, "Mas Muslikhin, insyaAllah, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kita. Adalah mudah bagi Allah untuk menurunkan mukjizatnya. Dan Allah lah yang paling mengetahui apa yang terbaik buat kita."

* * *

Jum’at, 29 Februari 2008, HP saya berdering tanda SMS masuk, "innalillahi wainnailahi raaji’un, telah wafat akh Muslikhin, 29 th, hari ini jam 17.15 WIB. Mohon doa dan maafnya". Ternyata Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang lebih menyayanginya dengan jalan mengambil dirinya kembali dalam rengkuhan-Nya. Mengistirahatkan dirinya dari penat kehidupan yang fana ini.

Selamat jalan wahai seorang yang muslikh, kami menjadi bukti atas ketulusanmu, keikhlasanmu, kebaikanmu, dan perjuanganmu dalam membela dakwah Islam yang mulia ini. Dan Allah yang Maha Perkasa yang paling mengetahui kebajikanmu. Selamat jalan saudaraku. Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan dikembalikan. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.

 

February 12, 2008

Rahasia Keajaiban Sedekah

Filed under: NASEHAT, DARI HATI

RAHASIA KEAJAIBAN SEDEKAH


Hari ini saya membuka friendster. Salah seorang sahabat mengirimkan sebuah nasehat yang membuat hati tertegun dan mata ini berkaca-kaca. Ia mengirimkan sebuah ’surat cinta’ dari Rasulullah saw. Isi suratnya sebagai berikut;

Rasulullah SAW pernah berkata, bahwa setiap masuk pagi, ada dua malaikat mengajukan permohonan mereka kepada Allah SWT. Malaikat pertama berdoa:”Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya”. Yang kedua berdoa:” Ya Allah jadikanlah semakin tidak punya orang yang pelit terhadap hartanya.”

Berbicara mengenai balasan dari Allah atas sedekah ataupun infaq yang telah kita keluarkan, sungguh kita butuh keyakinan yang sempurna, bahwa Allah akan mengganti dengan berlipat-lipat dari arah yang tak pernah kita sangka-sangka sebelumnya. Bukankah Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya? Berikut ini adalah sekelumit pengalaman yang mudah-mudahan bermanfaat buat ikhwah sekalian.

Alhamdulillah, saya sekeluarga sejak beberapa bulan lalu belajar menguatkan keyakinan itu, bahwa Allah akan memberikan ganti yang lebih baik bagi orang-orang yang menginfakkan hartanya. Dan dengan pengharapan yang besar kepada Allah bahwa Dia pasti akan memenuhi janjinya tanpa menunggu waktu yang lama. Saya dan istri juga mulai belajar merutinkan sedekah baik dikala lapang dan sempit. Dengan nilai besar ataupun kecil, dengan jalan menghadiahi orang tua atau saudara. Meski tidak seberapa namun kami belajar untuk mengasah keikhlasan semata karena Allah. Dan dengan jalan menyisihkan infaq untuk fii sabilillah. SubhanAllah, keyakinan itu semakin kuat. Dan janji Allah demikian nampak jelas. Salah satunya adalah pada aksi solidaritas Palestina untuk warga Ghaza yang lalu.

Saya dan istri memang orang yang berpenghasilan utama dari gaji yang kami terima setiap akhir bulan. Beberapa penghasilan dari usaha lain (memang sudah menjadi komitmen) sementara tidak kami masukkan dalam penghasilan keluarga. Praktis kami menghidupi diri dengan gaji bulanan tersebut. Maka, kejadian uang habis sebelum jatuh tanggal menjadi hal yang lumrah dan biasa. Tapi kami tak berputus asa, bahkan kami makin semangat untuk berinfaq sekaligus menguatkan keyakinan terhadap janji-janji Allah.

Saat aksi Palestina 27 Januari lalu, kondisi kantong keluarga memang sedang kurang bersahabat. Baru 3 hari terima gaji, cuma tersisa beberapa rupiah saja. Bukan karena dibelanjakan konsumtif, karena kebetulan bulan Januari itu saya mengembangkan usaha yang terpaksa harus mengambil sebagian besar penghasilan bulanan yang biasanya saya terima. Sebagian sisanya sudah pasti dibelanjakan untuk mujahidah kecil kami, Safiya Salwa Syahidah, yang saat ini menginjak usia 10 bulan. Namun, atas dasar cinta dan empati kepada saudara seiman di Ghaza, kami sekeluarga berangkat ke Monas dengan semua bekal maal yang masih tersisa. Ada beberapa lembar uang kertas yang tersumpal dikantong celana. Sayangnya hanya 2 lembar yang signifikan nilainya. Beberapa yang lain hanya cukup untuk membeli makanan sederhana dan air minum untuk kami saat aksi siang harinya, termasuk buat Salwa. Itu pun mungkin tidak cukup.

Namun, saya sudah meniatkan untuk menginfaqkan 1 lembar dari 2 lembar yang cukup berharga itu, (jika tak layak disebut SANGAT berharga). Istri awalnya sedikit agak ragu, mengingat penghasilannya yang beberapa hari lagi keluar sudah ter-pos-pos sedemikian rupa. Sementara untuk melewati satu bulan kedepan masih sangat panjang. Sehingga sepeser dari uang yang tersisa menjadi sangat berarti. Sampai saat aksi solidaritas untuk Palestina itu lewat separuh jalan, istri masih berat hati. Namun bayang wajah duka lara saudara-saudara di Ghaza membuat menitik air mata ini. Saya coba terus meyakinkan istri, bahwa Allah pasti akan mengganti dengan yang jauh lebih banyak. Apalagi mengeluarkan sedekah karena Allah di kala sempit. Allah pasti tak akan membiarkan begitu saja hamba-Nya yang punya ar-rajaa’ dan al-hub kepada saudaranya seiman.

Aksi itu sudah sampai dipenghujungnya, kami pun bersiap melangkah pulang seraya menunggu bus umum yang menuju ke Kota Tangerang. Saya merogoh saku celana dan seketika terhenyak, ternyata kami belum berinfak. Saya genggam beberapa lembar uang kertas di tangan. Dan kutatap wajah istri untuk meminta persetujuannya mengambil satu diantara 2 lembar uang yang sangat berharga itu, sebagaimana yang dari awal sudah diniatkan. Sementara 1 lembar lagi kami pakai untuk ongkos naik bus. Akhirnya, istripun mengangguk tanda setuju.

Saya pun bersyukur. Karena ‘pasukan pengumpul’ infaq dari panitia aksi sudah sangat jauh dari posisi kami, maka sembari meraih Salwa saya mendekati beberapa panitia petugas medis Aksi yang kebetulan sedang berhenti beberapa puluh meter di dekat kami. Setelah sejenak kami beri penjelasan bahwa kami terlupa belum infaq, maka petugas medis bersedia menerima titipan tersebut dari kami. Salwa yang menggenggam uang itu, dan itu pertama kali baginya berlatih untuk berinfaq. Dalam hati, ucapan ‘bismillah’ saya kuatkan saat jemari mungil Salwa melepaskan satu lembar uang berharga itu. Dan akhirnya kami pulang dengan hati yang tentram, penuh syukur, dan berserah diri kepada Allah. Semoga sedikit dari rizki yang kami infaqkan bisa memberi manfaat untuk anak-anak Ghaza yang teraniaya dan tak mampu membeli susu.

Janji Allah itu tak pernah meleset dan ingkar. Allah memenuhi janji-Nya dengan cara-caranya sendiri. Belum genap 24 jam semenjak aksi itu, dari arah yang tak disangka-sangka, lewat tangan istri, Allah SWT memberikan ganti sejumlah uang sama persis dengan nilai uang yang kami infaqkan sehari sebelumnya. Saat istri menyampaikan kabar itu, mata saya berkaca-kaca. “Subhanallah, Engkau Maha menepati janji ya Allah”. Hati saya bergemuruh, bukan karena uang yang kami terima itu. Namun karena untuk yang kesekian kalinya bagi kami, Allah memenuhi janji-Nya secepat kilat.

Tidak sampai disitu, dari uang itu kami pun sepakat untuk menyedekahkan sebagiannya. Subhanallah, 10 hari kemudian lewat tangan istri kembali, lewat jalan yang tak disangka-sangka Allah menggantinya 7 kali lipat dari sebagian yang kami infaqkan. Dengannya kami pun menyedekahkan sebagian lagi dari yang 7 kali lipat itu, dan 2 hari berikutnya Allah yang Maha Kaya menggantinya 10 kali lipat dari yang kami sedekahkan. Padahal biasanya kami hanya menerima penghasilan dari gaji tetap bulanan saja yang tak ‘mungkin’ bertambah di tengah jalan.

Memang Allah benar-benar mengganti sedekah hamba-Nya dengan berlipat-lipat keberkahan. Bahkan di pagi ini, saya mendapatkan kabar gembira lewat telepon dari seorang ikhwah yang bekerjasama mengelola sebuah usaha baru yang saya jalankan. Bahwa usaha yang dibuka hari pertama dihari kemarin menunjukkan optimisme keuntungan yang sangat menjanjikan. Alhamdulillah.

Terima kasih yaa Rabbana, mudah-mudahan Engkau anugerahkan kepada kami dan saudara-saudara kami rezeki yang melimpah lagi berkah. Agar kami bisa kembali bersedekah (dengan lebih banyak) untuk saudara-saudara kami lainnya yang Engkau uji dengan kekurangan harta dan ketakutan. Ya Allah, sayangi dan kasihilah saudara-saudara kami di Ghaza dengan kuasa-Mu. Lindungi dan selamatkan mereka dari orang-orang yang dzalim lagi aniaya.

Ya Allah Dzat yang Maha Perkasa, kami beriman atas janji-janji-Mu. Dan semakin kuat atas keyakinan kami, bahwa iman, ukhuwah, dan rezeki di tangan hamba-Mu tak pernah Engkau sia-siakan. Engkau pasti bersama kami dengan keimanan kami, dan Engkau pasti menjadi Penolong kami dengan persaudaraan kami. Tak ada nilai yang kecil di sisi Engkau, ketika sedekah ini dibalut dengan keikhlasan dan cinta atas nama-Mu.

December 4, 2007

Putriku, Cepat Sembuh ya..

Filed under: DARI HATI

Sudah 2 hari ini badan Salwa hangat. Parasnya yang lucu dan nggemesin tampak lesu dan kurang ceria. Pipinya yang biasanya mudah merekah karena senyumnya, sudah dua hari ini terasa sangat ‘mahal’. Dia sedang pelit senyum. Bahkan Ahad pagi kemarin, saat bersamaku jalan2 disekitar perumahan, reaksinya ‘very very cool’ meski salah seorang tantenya (tetangga rumah) mencoba menggodanya dengan berbagai gaya.

Perasaannya pun sangat sensitif, sedikit-sedikit nangis, bahkan tak jarang tangisnya melengking. Acara makan2 di Gokana Terriyaki yang sudah ayah-bundanya rencanakan jauh2 hari urung dilakukan. Soalnya Salwa ngga mungkin kena angin sementara kesehatannya lagi kurang bagus. Jadilah siang itu aku belanja bahan mentah di Mall Plaza Shinta yang letaknya kebetulan hanya beberapa meter dari pintu rumah.

Siang ini ayah Salwa masak spesial, mie goreng sozziz sapi dan nugget goreng sambal cocol, sedikit mirip menu di Gokkana. Cuma kurang steak daging sapi dan capcay (maklum bundanya ngga bisa ninggalin Salwa). Biar amatir, rasanya juga ngga kalah ko’, apalagi perut lagi kelaparan, hehehe.

Salwa masih makan bubur seduh Promina, belom bisa makan nuget apalagi tongseng. Ya sudahlah dia bareng makan dengan menu yang berbeda. Wajahnya sedikit berbinar dan ceria. Usai makan Salwa minum obat penurun panas, sayang dikeluarkannya kembali. Dia ngga suka minum obat, biar dicampur susu botol juga, tetep nggak mau. Itu susu yang tercampur obat dijamin bakal nggak akan diminum.

Sebenernya suhu tubuhnya belum begitu panas, baru kerasa hangat. So, baru ku kompres saja sesering mungkin. Menurutku belum mendesak dibawa ke dokter. Ku kompres pake tissue yang kubasahi air minum dari kulkas. Dia suka, soalnya dingin. Salwa sudah terbiasa pegang buah dingin yang baru keluar dari kulkas. Jemarinya yang mungil dan lentik biasanya pelan dan malu-malu menyentuhnya. Lama-lama dia suka dan tak takut lagi memainkan buah apel yang dingin itu.

Malam senin lalu bobo’nya juga sebentar-sebentar bangun. Jelas terlihat tidak nyenyak. Matanya lelah dan sembab. Panas badannya sedikit bertambah, mungkin karena tak nyenyak tidur. Pagi harinya, Salwa bangun dengan suasana sedikit berbeda. Matanya jeli melihat sekeliling. Sesekali ia menggeliat, dan kemudian tangisnya melengking. "aem..aem..aemm" begitu ucapnya disela-sela tangis yang melengking dipagi hari. Rupanya dia lapar dan haus. Padahal kalo lagi sehat, Salwa bangun dengan senyum, menggeliat kesana-kemari, dan tangan mungilnya meraba wajahku yang mendekatinya dan mengajaknya berdoa. "Alhamdulillah..". Sambil menunggu Bundanya menyiapkan susu formula, kusetel VCD kesukaan Salwa untuk meredakan rengekannya, "bismillah.. bismillah, dengan nama Allah, bismillah." demikian lirik lagunya. Wajah Salwa menyemburat senang.

Senin pagi Salwa di bawa ke dokter sama neneknya. Dan Alhamdulillah panasnya perlahan menurun sejak sore hari. Meski rewelnya belum ikut ilang. Semalam Tangerang diguyur hujan deras, sehingga Salwa terpaksa menginap di rumah nenek bersama bundanya. Sementara aku harus balik ke rumah untuk mencuci baju-baju Salwa yang sudah mulai menumpuk di keranjang baju. Pagi ini, aku menengoknya dan dia sudah bisa tertawa-tawa menyambutku.

………..

Nanda sayang, kita harus percaya dan yakin. Bahwa semua yang menimpa kita adalah yang terbaik buat kita. Ayah yakin, kamu paham (karena kamu pintar dan sholihah), bahwa sakit yang kita alami adalah sarana agar kelak kamu dan kita pandai bersyukur dengan nikmat sehat. Dan agar kelak kamu menjadi muslimah yang kuat, dan tak mudah menyerah dengan cobaan-cobaan dan kesulitan hidup. Aamiiin.

July 9, 2007

Selamat Jalan Mujahidah

Filed under: DARI HATI

SELAMAT JALAN MUJAHIDAH: ALLAH TELAH MEMILIH KALIAN

Turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas syahidnya ukhti Mia Eka Putri dan ukhti Evi Alvia yang telah kembali ke sisi Allah SWT dalam musibah kecelakaan 8 Juli 2007 yang menimpa ikhwan & akhwat pada acara Dauroh Pelajar DP2 Kota Tangerang.

Semoga Allah menerima segala amal sholih keduanya, mengampuni semua salah dan khilafnya, serta menempatkan keduanya di tempat terbaik di syurga-Nya yang penuh nikmat dan suka cita. Untuk keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan, ketegaran, dan keikhlasan atas kepergian mereka berdua. Insya Allah ridhonya kita akan menjadi jalan kemudahan bagi keduanya sampai di taman yang diimpikan setiap orang beriman.

Bagi ikhwan dan akhwat korban musibah yang Allah selamatkan, semoga diberikan kekuatan iman, kesejukan hati, keikhlasan, dan kesabaran. Mudah-mudahan Allah segera menyembuhakan sakit dan luka kalian. Dan yakinlah bahwa ".. segores luka dijalan Allah, kan menjadi saksi pengorbanan" dihadapan Allah yang Maha Penyayang. Untuk kalian para mujahid da’wah yang tsabat, petikkan nasyid cinta ini dipersembahkan:

Mengarungi samudera kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa tuk berpangku tangan

Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka di jalan Allah
kan menjadi saksi pengorbanan

Allahu ghoyyatuna, Ar-rosul qudwatuna
Al-qur’an dusturuna, Al-jihadu sabiluna
Al-mautu fii sabilillah asma amanina

Allah adalah tujuan kami, Rosulullah tauladan kami
Al-qur’an pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi

(nasyid shoutul harokah: "Bingkai Kehidupan")

Musibah ini adalah takdir Allah yang telah digariskan. Semoga kita semua sabar dan dapat mengambil pelajaran berharga darinya. Namun, jangan pernah berhenti untuk terus melangkah, apalagi hanya karena musibah kematian ini. Sebab, seandainya kita bersembunyi di lubang semut pun, jika telah tiba masanya, maka kematian pasti akan datang menjemput.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan (Al-Ankabut: 57)

Kematian hanya peringatan bagi setiap yang bernyawa, bahwa umur yang Allah berikan buat kita sedemikian sempit. Karenanya, teruslah bekerja dan beramal dengan sungguh-sungguh untuk bekal menuju sang Pencipta. Sebab kita lebih cinta mati di jalan Allah, ketimbang meregang nyawa di atas ranjang yang mewah. "Selamat jalan mujahidah.., sungguh Allah telah memilih kalian.." Semoga kelak Allah mengumpulkan kita semua di syurga-Nya. Amiin.

 

October 17, 2006

Perjalanan Penuh Arti

Filed under: DARI HATI

Aku dilahirkan 26 tahun lalu, tepatnya 29 September 1980, di kota kecil yang terkenal dengan makanan khas ‘Nasi Grombyang’. Kota yang dipagari Gunung Slamet di bagian selatan dan pantai Laut Jawa di sebelah utara, yang merupakan bagian dari Propinsi Jawa Tengah. Kicau burung dan bentangan sawah yang luas begitu kental mewarnai setiap sudut-sudut kota dan pedesaaan. Subhanallah, aku jadi selalu merindukan kampung halamanku.

Puji syukur hanya untuk Allah yang berkenan memberiku sebagaian nikmat kecerdasan, hingga di masa perjalanan mengenyam jenjang pendidikan dasar, prestasi ranking 1 tidak pernah lepas dari genggaman. Bapak dan Ibu guru, kalian adalah para pahlawan yang telah membimbingku penuh kesabaran. Serta kawan-kawan masa kecilku, kalian adalah orang-orang yang banyak memberi pelajaran persahabatan dalam mengarungi perjalanan hidup ini. Aku tak mungkin melupakan kalian.

Kenangan Bersama Ayah

Tidak bisa kupungkiri, waktu itu adalah masa-masa sulitku menghadapi takdir kehidupan. Ketika Juni 1989 Allah SWT. berkenan memanggil ayahanda ke haribaan-Nya. Usiaku belum genap 9 tahun. Dan raport kenaikan kelasku belum sempat ayah tanda tangani.

Ayah, engkau adalah guru terbaikku. Yang mengajarkan tentang cinta dan kasih sayang, tentang kesabaran dan kelembutan, tentang kesederhanaan dan kepedulian, tentang tanggung jawab dan keberanian, tentang ketegaran dan pengorbanan. Ayah, engkau telah membimbingku mempelajari tentang hidup dan kehidupan.

Betapa aku masih ingat, saat di suatu malam engkau mengajakku bersama kakak bermalam ditengah-tengah persawahan yang begitu gelap. Di sebuah gubuk kecil, ditemani suara jangkrik dan radio kecil, aku dan kakak menyertaimu menjaga tumpukan kedelai hasil panen kita tadi siang. Kulihat dilangit sana berhiaskan taburan kerlip bintang yang begitu indah. Ayah, aku merasakan kedamaian.  

Dan aku pun ingat, detik-detik terakhir saat perpisahan denganmu. Kulihat jasadmu terbujur kaku, tak menyapaku. Sayangnya, waktu itu aku masih terlalu kecil untuk memahami apa arti kematian. Aku hanya mampu merenung kosong tanpa pemahaman. Terbersit dalam benakku, satu saat nanti… Ayah pasti kembali lagi.

Hari pun berlalu satu demi satu, dan akhirnya harus ku pahami bahwa ayah tak mungkin kembali lagi. Ayah, selamat jalan ayah. Semoga Allah SWT menerimamu dalam naungan ampunan dan kasih sayang-Nya, sebagaimana ketulusan cinta dan kasihmu pada Ibu, kakak, dan aku.

Wanita yang Tegar

Aku memahami adaptasi yang tidak begitu mudah bagimu, Ibu. Karena dulu, ketika ayah masih ada di antara kita, engkau hanyalah seorang ibu rumah tangga. Tapi sejak saat itu, dirimu harus menjadi seorang ibu sekaligus kepala rumah tangga. Mencari nafkah untuk bertahan hidup.

Sejak kepergian ayah, dirimu adalah orang yang paling dekat denganku.  Apalagi kakak kemudian tinggal bersama saudara agar bisa tetap melanjutkan sekolah. Ibu, engkau adalah wanita tegar yang pantang putus asa, meski sedih dan berat. Aku bisa merasakan ketika butir air mata sering membasahi kelopak matamu. Dan aku pun merasakan ketika kulitmu kian berkerut dan lapuk terbakar sinar matahari. Aku sangat merasakan spirit yang terus bergelora dalam dirimu, untuk tidak menyerah melewati masa-masa sulit.

Ibu, aku senang dan aku bangga. Kala tubuh mungilku waktu itu bisa membantumu mencari penghasilan. Ketika pagi-pagi buta aku mesti menyertaimu merawat dan menyiangi tanaman sayur-mayur kita.  Menyirami dan menaburinya pupuk, menjaganya dan memeliharanya. Setiap pagi dan sore hari kaki kecilku mengayuh sepeda tua untuk menemani atau menyusulmu menyambangi lahan-lahan sayuran.

Hingga masa petik tiba, aku pun bersamamu membantu mengumpulkan ikatan-ikatan sayuran. Membersihkan dan mengemasnya. Tidak jarang aku juga turut mengangkutnya ke pasar untuk segera dijual dalam keadaan segar.

Ibu, aku bangga dan bahagia bisa membantumu meski waktu belajar dan bermainku jadi tidak banyak, toh aku juga masih bisa sempat bermain. Tapi insya Allah aku ikhlas. Ibu, engkau adalah orang yang paling aku cintai melebihi segalanya.

Ibu, aku juga masih ingat. Ketika akhirnya, ibu harus menentukan pilihan untuk merantau ke Ibukota Negara. Engkau memelukku erat dengan deraian air mata. Sedih rasanya, keluarga yang hanya 3 nyawa tidak pernah tinggal serumah sejak kepergian ayah.

Tekadmu yang kuat agar aku dan kakak tetap sekolah, meski harus tinggal terpisah jarak yang jauh, membuat dirimu tak lagi memperdulikan kulitmu yang mulai berkerut dan tenagamu yang kian melemah. Semoga Allah meridhoi ikhtiar dan perjuanganmu.

Dan do’a-do’a panjangmu di sepertiga malam terakhir adalah penguat kesabaran, energi harapan, dan sebab-sebab kehendak Allah memberikan kita ‘kemenangan’. Dan kini Allah telah mengabulkan diantara do’a-do’a kita.

Ibu, kini aku menyadari hikmah besar dari peristiwa-peristiwa yang Allah ujikan kepada kita. Cita-cita dan misi hidup yang kuat telah mengantarkan kita kepada keberhasilan melewati masa-masa sulit itu.

Bunda… terima kasih.

Semoga Allah Yang Maha Penyayang tiada henti membimbing dan menaungi kita. Amiin.

September 1, 2006

Empati dari Langit

Filed under: DARI HATI

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

DARI ANAK LANGIT UNTUK MAHASISWA PGT


ASSALAMU’ALAIKUM-MERDEKA?!

APA YANG BISA KAMI BANTU? WASS.

;ANAK LANGIT; KOMUNITAS MUSIK SERDADOE; INSTITUT KOLONG JEMBATAN

@SUPPORT YOUR MOVEMENT.”

Demikian isi pesan singkat (SMS) yang diterima Rona, Ketua Dewan Mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal yang juga vokalis Tim Nasyid Shoutus Shilmi, 31 Agustus lalu. Jika dilihat isinya, mungkin terasa sangat sederhana, tapi maknanya sungguh LUAR BIASA.

SMS tersebut dilatar belakangi selebaran yang disebar oleh mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal terkait musibah yang menimpa mereka sejak 3 bulan yang lalu, arogansi institusi kampus dan perusahaan Gajah Tunggal yang men-DO massal 140 mahasiswanya secara semena-mena. Selebaran berisi permohonan bantuan masyarakat Kota Tangerang untuk berpartisipasi mengirimkan SMS ke Nomor Pengaduan untuk Presiden SBY, 9949, disebar sejak Selasa 29 Agustus 2006.

Kader di Kota Tangerang tentu tidak asing dengan Komunitas Anak Langit, kita mengenal mereka seperti kita mengenal sahabat dekat. Bahkan kemunculannya pada event-event besar yang diselenggarakan oleh DPD PKS Kota Tangerang selalu mengingatkan kita untuk terus peduli pada sesama. Benar, kita begitu mengenal mereka dan memahami siapa mereka.

Memang, mereka hanya sekumpulan Anak Jalanan yang tinggal dibilangan belakang pasar Cikokol, dibawah atap yang begitu memprihatinkan. Mereka kepanasan oleh terik matahari siang, menggigil oleh dinginnya malam. Jika hujan turun wajah-wajah tegar dan pekerja keras mereka pun terguyur rintikan air hujan. Yang menjelang tidurnya, mungkin hanya mampu merajut mimpi dan cita-cita. Impian yang tinggal impian, dan cita-cita yang begitu berat untuk meraihnya.

Mereka anak jalanan yang untuk makan sehari-hari saja susah. Harus me-ngamen dari pagi hingga sore, bahkan tidak jarang malam hari mereka baru sampai dirumah. Dan mereka harus rela belajar ‘baca tulis’ disatu ruangan yang juga jadi tempat hidup mereka karena tidak mampu bayar untuk sekolah.

Tentang SMS itu, bisa jadi pulsa yang mereka miliki tidaklah seberapa. Dan HP yang mereka pakai untuk menyampaikan empatinya kepada mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal pun bukan lah HP ‘mewah’ seperti yang dimiliki sebagian besar kader da’wah. Milik mereka cuma HP yang untuk menulis SMS saja cukup sulit mengganti huruf kapital dengan huruf biasa.

Tapi justru dari mereka, satu-satunya pesan empati yang datang ke mahasiswa Poltek GT di antara ribuan HP dengan pulsa melimpah yang dimiliki para kader da’wah di Kota Tangerang. Bahkan mereka tidak peduli, siapa yang ingin mereka bantu. Mereka Cuma kumpulan anak-anak kecil usia SD-SMP, akan tetapi hati mereka terlalu peka untuk sekedar dihalangi label ‘mahasiswa’. Pun mungkin dalam benak mereka juga tak pernah terlintas sama sekali untuk bisa menjadi seorang mahasiswa. Kader mungkin bisa berkilah, kalau mereka juga sudah turut mengirim SMS ke 9949. Tapi apakah kita tidak berfikir Komunitas Anak Langit juga telah melakukan hal yang sama?

Seandainya kita boleh berkata jujur, “Apa sih yang bisa dilakukan Anak Langit untuk membantu rekan-rekan mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal?” Maka jawabannya adalah “Tidak ada yang bisa dilakukan Anak Langit, kecuali do’a”. Karena mereka tidak punya apa-apa, mereka bukan Birokrat, professional dalam bidang hukum, mereka bukan aleg, mereka bukan pengurus PKS yang punya akses luas, mereka bukan orang yang punya kelebihan harta, mereka ‘bukan’ kader da’wah ini, dan mereka juga bukan bagian dari keluarga mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal. Justru sebaliknya, mereka lah yang seharusnya banyak kita bantu.

Tetapi, sesaat setelah mereka menerima selebaran itu segera yang mereka lakukan adalah menghubungi rekan-rekan mahasiswa Poltek GT dengan menawarkan apa saja yang bisa mereka lakukan untuk membantu, “APA YANG BISA KAMI BANTU?” Sepertinya ini ungkapan pertama (dan paling mengharukan) yang datang ke kader mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal sejak perjalanan aksinya 3 bulan yang lalu melawan tirani dan arogansi Gajah Tunggal Group.

Kondisi sebaliknya malah penulis dapatkan ketika berinteraksi dengan kalangan kader, baik dari level aleg, pengurus struktural DPD, sampai kader di tataran umum, termasuk kalangan kader kampus yang mestinya lebih peka dan cepat tanggap. Ini mungkin tidak bisa digeneralisasi, tetapi realitas dilapangan belum ada bukti yang mampu membantah simpulan penulis. Respon yang paling sering ditemukan hanya sekedar pertanyaan basa-basi, “Gimana perkembangan temen-temen Poltek?”, “Kok bisa begitu ya?”, “Kasian ya..”. Tidak lebih dari itu. Tidak ada satu pun dari kalangan kader yang pasang badan dengan mengatakan “Apa yang bias Ana bantu?”

Jangankan untuk menyokong dalam bentuk tenaga dan materi, untuk ikut serta memikirkan jalan keluar saja saling melempar tanggung jawab dengan alasan bukan bidangnya, bukan ahlinya, bukan tanggung jawabnya, atau sekedar dengan alasan sibuk. Sedih memang mendengarnya, tapi itulah kenyataannya. Apakah memang sebagian kader Partai Da’wah yang Bersih dan PEDULI ini sudah miskin ke-PEDULI-an??

Padahal semua kader da’wah ini sepakat 100%, bahwa kader tarbiyah adalah aset yang paling mahal harganya. Yang tidak bisa digantikan dengan harta benda sebanyak apa pun. Bahkan dengan jabatan! Dan mayoritas mahasiswa yang di-DO massal adalah para kader tarbiyah yang turut menjadi penguat bangunan da’wah ini. Lalu mengapa kita masih saja tidak peduli kepada mereka??

Saatnya meng-evaluasi diri, baik secara pribadi atau pun ‘struktur’. Jangan sampai alasan kesibukan tugas da’wah dan PILKADA menjustifikasi ketidak-PEDULI-an kita kepada kader yang sedang dirundung musibah. Apakah mereka harus mengadu dan mencari bantuan ke ‘tempat’ lain?

Semoga saja tidak hanya mereka, Anak-Anak Langit, yang dengan derita hidupnya cepat merasakan derita dan kesedihan mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal. Tetapi kita, yang belum Allah SWT uji dengan kelaparan, kekurangan harta, ketakutan, dan penganiayaan, moga mampu memelihara rasa empati dan tanggung jawab kepada sesama kader da’wah.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah : 155)

Barangkali ini merupakan pengingat dari Allah SWT., lewat SMS Anak-Anak ‘Syurga’ yang polos dan tulus. Agar kita menjadi bangunan da’wah yang benar-benar berhias ke-PEDULI-an.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer