December 24, 2008

Di Bawah Bayang Intelijen

Filed under: PEMIKIRAN, SIYASAH

UMAT ISLAM DIBAWAH BAYANG-BAYANG INTELIJEN


Selama manusia memiliki kepentingan terhadap dunia ini, maka selama itu pula dinas-dinas intelijen terus melakukan operasi intelijennya. Sebagaimana jenis pekerjaan lainnya yang terus beroperasi untuk mencari penghidupan dan sesuap nasi, para agen intelijen juga terus bekerja untuk mendapatkan apa saja yang dapat membuat mereka bertahan hidup. Agen intelijen juga ‘karyawan’, maka sudah barang tentu terus bekerja selama belum di PHK boss-nya.

Organisasi apapun tidak dapat selamanya aman dari incaran operasi intelijen. Terlebih organisasi Islam yang hingga detik ini masih menjadi common enemy masyarakat dunia yang berkiblat kepada imperialisme Barat. Dan ketika dinas-dinas intelijen negara lebih tunduk dan mengekor kepada kekuatan global (yang saat ini sangat islamophobia), maka organisasi-organisasi Islam akan semakin sulit mendapatkan jaminan keamanan dari upaya intrik dan makar intelijen tersebut. Logikanya sangat sederhana, jika organisasi Islam menjadikan aktivitas dakwah sebagai tuntutan kontinyuitas amalnya, maka agen-agen intelijen menjadikan operasi-operasinya sebagai tuntutan kontinyuitas pekerjaannya. Apalagi ketika umat Islam yang jumlahnya mayoritas ini tidak menjadi tuan di rumahnya sendiri.

(more…)

December 15, 2008

Rindu sang Murabbi

Filed under: PEMIKIRAN, DARI HATI

Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu
Dengan semua nama yang jadi milik-Mu
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala yang ghaib
Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
Sebagai musim bunga hati kami, Cahaya hati kami
Pelipur sedih dan duka kami, Pencerah mata kami

(Syeikhut Tarbiyah KH. Rahmat Abdullah) 

(more…)

December 5, 2008

Secangkir Ghibah Aktivis

Filed under: PEMIKIRAN

SECANGKIR GHIBAH ‘AKTIVIS’ DAKWAH


Penulis hanyalah seorang kader baru dan karbitan dalam barisan dakwah ini, sebuah jamaah besar yang menaungi nusantara dengan kasih sayangnya. Karena itu, tak layak kiranya menyebut apa yang sudah penulis berikan dan lakukan untuk dakwah ini, mengingat begitu banyak orang-orang yang tak tersebut namanya mengorbankan harta, jiwa dan raganya demi membesarkan bangunan hingga besar seperti saat sekarang. Tak terhitung peluh mereka yang menetes, tak terhitung air mata mereka yang bercucuran, dan tak terhitung pula waktu dan periuk yang mereka korbankan demi dakwah ini. Karenanya tak pantas seorang karbitan seperti penulis ini mengaku-ngaku berjasa bagi Partai Dakwah ini.

Namun, rasa sadar diri ini tidak lantas membuat penulis adem ayem dan tak terusik dengan apa yang sekarang berkembang. Sebuah gelombang ghibah yang nampaknya semakin lezat dinikmati oleh orang-orang yang menikmati. FKP dengan PKS Watch-nya bagai sebuah komunitas ‘pengangguran’ yang merasa paling berjasa terhadap membesarnya jamaah ini, sehingga mereka merasa berhak untuk mengumbar ruang-ruang privasi jamaah dakwah ini ke ranah publik.

(more…)

May 13, 2008

Tanda Mata Untuk PKS

Filed under: PEMIKIRAN

‘ CINDERAMATA ‘ DARI HTI UNTUK PKS


Mencermati sikap dakwah HTI terhadap PKS memang cukup menarik. Bukan karena adanya musyarokah diantara keduanya, namun menjadi menarik karena opini yang keluar dari DPP HTI hampir selalu bernada negatif terhadap PKS, sementara DPP PKS justru sebaliknya memperlakukan HTI benar-benar sebagai seorang saudara seiman dalam perjuangan. Setidaknya hal ini terekam dari kunjungan silaturrahim beberapa pejabat tinggi PKS ke kantor DPP HTI pada tanggal 30 Juli tahun lalu.

Dimana dalam pertemuan ini Presiden PKS, Ir. Tifatul Sembiring, sebagai orang nomor 1 yang dibelakangnya berhimpun tak kurang dari 8 juta suara masyarakat Indonesia, dengan merendahkan hati berkunjung ke DPP HTI yang menurut Metro Realitas Metro-TV beberapa waktu lalu HTI hanyalah sebuah kelompok kecil saja di Indonesia.

Sikap lapang dada dan tidak ‘memusuhi’ siapa saja demi ukhuwah dan kemaslahatan umat Islam ini dikuatkan oleh pernyataan Mahfudz Shiddiq yang saat ini berposisi sebagai Ketua Fraksi PKS DPR RI. "PKS sejak kelahirannya tidak pernah meniatkan diri untuk menjadi ancaman siapapun, oleh karena itu kami tidak pernah mempersepsi siapapun sebagai ancaman," tegas Mahfudz (15/08/2007).

Sementara berbeda dengan sikap ‘istiqomah’ yang ditunjukkan DPP HTI terhadap PKS hingga detik ini. PKS justru sebaliknya berupaya merajut persaudaraan dan merendahkan diri. Meski sebaliknya HTI terbaca terus berupaya mendongkel citra Islam dari tubuh PKS. Buletin HTI Al-Islam edisi 400 yang mengusung judul ‘Berharap Kepada Partai Islam?’ Jika di telaah secara mendalam arahnya demikian jelas dan terang benderang, kemana maksud dan tujuannya. Demikian pula dengan Al-Islam edisi 356-nya yang memfitnah PKS menerima dana DKP. Walaupun sampai detik ini, setelah hampir setahun lamanya, mereka masih merasa nyaman dan ‘ogah’ meminta maaf. Alih-alih menyampaikan permohonan maaf, mereka malah bilang tuduhan atau fitnah yang berdalilkan qola ICW itu, mesti diposisikan sebagai ‘nasehat’ bagi PKS.

Membaca Sikap Kader HTI di Akar-Rumput

Setali tiga uang dengan pemimpinnya, sikap dan opini kader-kader HTI ditataran akar rumput juga tak jauh dari induknya. Seperti saudara ‘Bejo’ yang hingga hampir satu tahun ini tak punya nyali memunculkan jati dirinya. Orang umum mungkin bilang ia ‘berhasil’ menjadi sosok misterius, tapi bagi penulis si Bejo ini hanyalah kader HTI pengecut dan pecundang. Entah tulisan sendiri entah mencatut dari sumber resmi lain di HTI, tulisan-tulisan berjudul ‘Parpol Islam’ dan ‘Sulitnya Istiqomah’ yang muncul ketika isu PKS menjadi Partai Terbuka usai Mukernas 1-3 Februari 2008 silam, begitu gencar disebarluaskan via email-email yang berhasil ia bajak.

Demikian pula dengan kader HTI yang bernama Hanif Al-Falimbani. Beberapa hari setelah Mukernas PKS di Bali awal Februari lalu, di blognya ia mengetengahkan sebuah tulisan berjudul ‘Partai Keadilan Sejahtera Riwayatmu Kini … ‘. tak tanggung-tanggung di salah satu bagiannya ia menuliskan sebagai berikut “Tetapi ada satu hal yang semakin terang benderang dari sikap PKS ini, yang membuat pendapat sementara kalangan lebih meyakinkan untuk dibenarkan, yakni bahwa PKS memang tidak sungguh-sungguh memperjuangkan Syariat Islam dan Khilafah. Ada benarnya juga pendapat Jefrie Geofannie, PKS saat ini justru tidak ada bedanya dengan partai-partai nasionalis-sekuler lainnya.”

Seperti ‘qola ICW’ diatas, Sdr. Hanif ini juga merujuk kepada pernyataan Jefri Geofannie yang dalam dialog di MetroTV pada 5 Februari 2008 lalu jelas-jelas analisanya terhadap PKS sangat dangkal. Penulis menyaksikan sendiri acara tersebut. Sayangnya dalam tulisan yang cukup panjang lebar menciderai PKS dengan persangkaan kosong itu di balutnya dengan kedok atas nama ‘kasih sayang’.

Padahal saat masuk ke webblog penulis ini (http://rhisy.blogsome.com) apa kata-kata yang pertama kali muncul dari Sdr. Hanif ini “Wah.. ternyata di sini tho pembuat sampah-sampah busuk itu..”(09/01/08). Kelihatan gagah dan ‘pemberani’. Ia mengaku dirinya bukan orang HTI (agar terlihat orang netral), sayang sekali kebohongannya terbongkar dan di komentari beberapa orang (bahwa ia sungguh-sungguh HTI tulen luar dalam). Pada komentar berikutnya (terakhir) tertulis sebagai berikut, “Maaf Mas Aris.. saya bukan siapa-siapa, lebih baik antum menasehati saya secara pribadi saja ya.. Maaf..” Kasihan sekali pelaku kebohongan ini.

Disamping itu, kader-kader HTI juga rajin mengkoleksi berita-berita yang terkemas miring tentang PKS dari media-media umum dan nasional untuk dijadikan bahan perdebatan menyudutkan terhadap PKS. Seperti biasa, mereka beralasan sebagai nasehat dan masukan untuk PKS. Niatnya sih kelihatannya baik, namun apakah demikian kenyataanya?

Tak Semanis Bahasa ‘Mulut’

Ternyata tidak demikian faktanya. Fakta dilapangan tak ’semanis’ bualannya. Bersamaan ketika tulisan yang menanggapi buletin resmi HTI Al-Islam edisi 361 ramai dinikmati berbagai kalangan pada sekitar pertengahan tahun lalu, salah seorang kader PKS yang menjadi khotib Jum’at diberhentikan ‘tanpa hormat’ oleh kader-kader HTI yang merasa ‘berkuasa’ atas kebijakan DKM di sebuah masjid perusahaan di Kota Tangerang. Bukan karena ceramahnya menyimpang dari Islam, namun hanya lantaran isi ceramah kader PKS tersebut mementahkan opini tindakan fitnah yang dilakukan oleh ’sebuah gerakan Islam’ terhadap pejuang HAMAS di Palestina.

Khotib yang juga salah seorang ustadz PKS Kota Tangerang itu menjungkirkan tuduhan yang sebelumnya dikupas oleh khatib kader HTI yang mengisi khutbah pada Jum’at satu pekan sebelumnya dengan melontarkan fitnah kepada HAMAS sesuai dengan ‘rekomendasi’ dari DPP HTI lewat Al-Islam edisi 361-nya. Al-hasil sejak Jum’at itu ia tak lagi mendapat jadwal mengisi khutbah di masjid perusahaan tersebut.

Jika dicermati gayanya mirip perilaku Soeharto yang gemar memberangus siapa saja yang dianggap mengancam dan menelanjangi ‘kekuasaan’nya. Usai sholat Jum’at tersebut, khatib yang dikenal sebagai kader PKS itu langsung ‘dikeroyok’ dan dikerubungi kader-kader HTI yang bercokol di DKM. Intimidasi gaya lama.

Bukan hanya itu, ditahun 2002 sampai 2005-an juga ada fakta lain yang tak bisa ditutup-tutupi bagaimana sejatinya sikap hati mereka terhadap kader-kader PKS. Ketika sebuah LDK di sebuah kampus di Kota Tangerang tersusupi HTI dan dengan kelicikannya setelah beberapa waktu akhirnya LDK tersebut dikuasai oleh kader-kader HTI, maka apa yang terjadi? Kegiatan kajian lain selain yang ber-’merk’ HTI atas nama kebijakan organisasi ‘100%’ dihalang-halangi dan dipersulit alias dilarang. Bahkan uang yang merupakan hasil penggalangan dana oleh ‘kader-kader PKS’ dari kegiatan mahasiswa diluar kajian ber-merk HTI, dirampas untuk kepentingan kegiatan-kegiatan beraroma HT tanpa pertanggungjawaban. Penulis menjadi saksi langsung dan bahkan masih mengantongi nama kader HTI tersebut.

Namun, alhamdulillah perjalanan waktu menjadi jawaban yang sangat adil. kuartal pertama tahun 2005 kepengurusan HTI itu terjungkal dan hengkang lantaran kedzalimannya. Dan mohon maaf harus penulis sampaikan disini, otak utama dibalik penjungkalan dominasi kader HTI yang dzalim itu adalah penulis sendiri. Tak butuh waktu lama, hanya selama kurang-lebih 6 bulan penulis mendampingi para mahasiswa berdakwah ‘dibawah tanah’, LDK tersebut telah berhasil diselamatkan kembali dari orang yang dzalim. Kini, kondisinya telah berubah membaik. Saat amanah LDK dipegang kader-kader PKS, aktivis dakwah lain pun masih leluasa melakukan kegiatannya di kampus. Tanpa dihalang-halangi apalagi di kebiri.

Melihat fakta-fakta diatas memang menjadi miris. Belum menjadi ‘khalifah’ saja sudah dzalim, apalagi kalau betul-betul jadi khalifah versi mereka, bukan tidak mungkin akan jauuuuh lebih dzalim terhadap aktivis dakwah dari gerakan dakwah lain. Boleh saja mereka berbangga dan menyombongkan diri karena ‘mampu’ berkoar soal khilafah. Namun, jika khilafah yang dimaksud adalah khalifah yang dzalim seperti gambaran kader HTI yang bercokol di DKM dan LDK tersebut, umat Islam jelas tidak butuh.

Kenyataan ini memang tidak mengherankan jika merujuk pada sejarah HT mengenai sikap pendirinya, Syeikh Taqqiyudin An-Nabhani yang meminta ‘kekuasaan’ atas Ikhwan Yordania kepada As-Syahid Sayid Qutub rahimahullah (tahun 50-an). Padahal ketika itu Ikhwan mengajak Syaikh Taqiyudin An-Nabhani untuk memadukan perjuangan, namun justru yang terfikir olehnya adalah ingin mengambil alih kekuasaan atas Ikhwan di Yordania yang harus terpisah koordinasi dengan ikhwan di Mesir sebagai pusat gerakannya.

Barang kali beberapa nukilan fakta diatas cukup mewakili gambaran ‘tanda mata’ HTI untuk PKS. Sebuah tanda mata yang hingga hari ini terus mengalir laksana air dari hulu menuju hilir. Meski terus saja PKS didzalimi, nampaknya ia terus melaju dengan kerendah hati-annya. Terus berjuang wahai kafilah dakwah! Mudah-mudahan ulasan ini bermanfaat bagi umat yang rindu kepada kebenaran dan kebaikan.

March 13, 2008

Film & Peradaban (1)

Filed under: PEMIKIRAN

FILM & PERTARUNGAN PERADABAN


Film Ayat-Ayat Cinta garapan tangan sutradara ternama Hanung Bramantyo demikian booming sejak peluncuran perdananya pertengahan Februari 2008 silam. Tercatat pada pekan pertama peluncurannya, 1,3 juta orang Indonesia berjubel memenuhi bioskop-bioskop di seantero nusantara. Angka tersebut dipastikan akan terus merangkak naik mengingat besarnya animo dari masyarakat Indonesia.

Satu hal yang sangat menarik adalah, bahwa film layar lebar yang diangkat dari novel besutan Habiburrahman Elsirazy ini tidak hanya menyedot kalangan masyarakat muslim yang memiliki kecondongan terhadap kehidupan religi saja, namun Ayat-Ayat Cinta juga menjadi buah bibir baru para ABG dari mulai yang alim sampai ABG yang masih menjadi korban mode dan budaya Barat. Bahkan yang lebih spektakuler lagi film ini juga digemari oleh kalangan non-muslim. Mereka tidak hanya melewatkan tontonan bermutu ini, namun juga memberikan komentar dan apresiasi luar biasa atas nilai-nilai yang terkandung dalam film tersebut.

Apa yang bisa dicerna dari sketsa singkat di atas? Pesan yang ingin penulis angkat dari sketsa singkat diatas bukanlah pada bombastisnya Ayat-Ayat Cinta, namun lebih kepada menggugah kesadaran setiap orang bahwa sungguh sebuah film mampu memiliki ‘daya sihir’ yang luar biasa untuk ‘menghipnotis’ suatu masyarakat dengan lintas batas. Jika tulisan bisa mengguncang dunia, gambar-gambar mampu memuntahkan jutaan manusia turun ke jalan, dan berita bisa menghitam putihkan fakta, maka apa yang ditimbulkan oleh film lebih dahsyat lagi. Bukan hanya keguncangan, bukan cuma aksi turun ke jalan, dan bukan pula rekayasa fakta, namun tayangan film dan sejenisnya dapat memberikan imbas yang jauh lebih hebat dari itu semua. Yaitu film mampu membuat berubahnya sebuah paradigma, pola pikir, cita rasa, budaya, gaya hidup, maupun persepsi tentang kebenaran, tanpa penentangan psikologis dari para ‘korban’nya.

Film mampu mempengaruhi pemikiran manusia secara halus, lebih halus dari lembutnya sutera. Pengaruhnya mampu mengalir bersama aliran darah tanpa disadari. Bahkan mampu membuat seseorang bertindak mengikuti apa yang disaksikannya. Dalam konteks yang seimbang, tentu pengaruh tersebut bisa berupa pengaruh baik maupun pengaruh buruk.

Masih kuat dalam ingatan bagaimana tayangan WWF yang sempat booming beberapa tahun lalu telah merenggut beberapa jiwa. Demikian pula dengan film Naruto yang menjadi inspirasi jalan kematian salah seorang anak di negeri ini beberapa bulan silam. Belum lagi budaya permisif yang saat ini mewabah bagaikan virus.

Tahun 80-an film-film yang menyuguhkan kisah percintaan senantiasa menampilkan para pemain yang secara usia telah cukup dewasa. Minimal adalah mereka yang telah bebas dari seragam sekolah alias telah memasuki dunia kampus. Tidak heran jika di masyarakat pada zaman orang-orang tua saat itu masih terjaga ‘ketabuan’ mengumbar kisah cinta kepada orang lain. Rasa malu dan menghargai keberadaan lingkungan disekitarnya masih sangat kuat. Ditambah sentuhan religi dibanyak jenis film-film seperti film sunan-sunan, film para pendekar, maupun film percintaan ala Rhoma Irama, sedikit banyak turut menjaga realitas tema yang sama dilapangan.

Tahun 90-an, dunia entertainment dibanjiri dengan film percintaan yang menampilkan muda-mudi berseragam putih abu-abu. Disusul awal tahun 2000-an film dengan thema yang sama menampilkan remaja berseragam putih biru mulai ramai menjejali tayangan ditelevisi. Bahkan tanpa malu-malu lagi sekitar tahun 2005 kisah tersebut ditampilkan dengan para pemainnya yang masih berseragam putih merah.

Lantas bagaimana realitas di masyarakat ketika tayangan-tayangan film di media menampilkan hal yang demikian, ternyata kenyataan di masyarakat kini semakin parah dan memprihatinkan. Tak heran keadaan ini megkhawatirkan banyak orang tua yang anak-anaknya mulai menginjak awal usia remaja. Bahkan tak bisa dipungkiri bahwa secara biologis usia pematangan organ seksual anak-anak masa kini datang lebih awal dibandingkan dengan zaman orang tua-orang tua mereka dahulu. Usia menstruasi anak-anak perempuan masa kini rata-rata telah mulai datang di usia 9 tahun. Berbeda dengan zaman orang tua mereka yang umumnya baru mengalami datang bulan pertamanya di umur 13 tahun. Demikian pula dengan anak laki-laki, Kenapa? Karena imbas tayangan film memang merasuki manusia hingga ke dalam aliran darah yang menjalar sampai ke otak.

Uraian diatas hanya sebuah kilasan sederhana dari sebuah imbas ‘daya sihir’ film diulas dari sudut masalah yang sangat umum. Lantas bagaimana pengaruh film mampu menjadi ‘nuklir’ dalam pertarungan peradaban? Nantikan ulasan berikutnya!

(bersambung ..)

Note: Tulisan ini dalam rangka memenuhi permintaan dari mas Dany Wicaksono,

dan dipersembahkan sepenuhnya untuk semua pembaca.

February 22, 2008

Antara PKS dan Ghaza

Filed under: PEMIKIRAN

ANTARA PKS DAN GHAZA


Membicarakan Palestina memang bak air bah yang mengalir, deras dan tiada habis-habisnya. Sejarah perjuangan yang pelik dan panjangnya menjadikan setiap pena yang menuliskan kisahnya tak pernah berhenti menari merangkai kata demi kata. Bisa jadi seandainya seluruh tinta emas yang ada dimuka bumi ini dipakai menuliskan kisah-kisah terbaiknya, maka lembaran demi lembaran akan berbicara tentang kisah negeri yang diwariskan itu. Kisah tentang ketegaran, kisah tentang perjuangan, kisah tentang pengorbanan, kisah tentang kekuatan iman, kisah tentang izzah, kisah tentang kehormatan, kisah tentang ribuan Khansa, kisah tentang bocah-bocah syurga, kisah tentang pemuda-pemuda syuhada, kisah tentang kecintaan bangsa terhadap para pejuangnya, maupun kisah tentang para pemimpinnya yang kokoh berpijak pada jalan jihad.

Ya, semuanya ada di negeri Al-Quds itu. Sehingga tidak heran jika seorang ulama terkenal yang disegani, Syeikh Dr. Yusuf Qardhawi,  menjadikan persoalan Palestina sebagai central problematika dunia Islam. Central pembuktian siapa yang benar keimanannya dan siapa yang takluk dihadapan kaum penjajah. Karenanya, dari centrum Palestina dunia Islam menjelaskan keterbelahan dirinya sendiri. Di salah satu sisi, mereka adalah para kelompok yang acuh terhadap derita saudaranya. Dan disisi yang lain adalah mereka yang berdiri sebagai kelompok yang secara istiqomah membela negeri yang terjajah itu.

Kelompok pertama dimayoritasi oleh kalangan pemimpin pemerintahan yang takluk dan takut di bawah titah sang agresor dengan kekuatan AS  sebagai backing utamanya. Para pemimpin pemerintahan negeri Islam yang lebih senang menumpuk-numpuk kekayaan diri, keluarga, dan kelompoknya dibandingkan turut mensedekahkan solusi bagi saudara seimannya yang kelaparan dan ketakutan di Palestina. Mereka diliputi sindrom dan penyakit ‘al-wahn’ alias cinta dunia dan takut mati. Takut kekuasaannya dijatuhkan oleh AS dan sekutunya, takut keselamatannya diincar agen-agen intelijen Asing, takut aset-aset di luar negerinya di bekukan. Takut tidak bisa jalan-jalan berlibur keluar negeri. Takut dan takut. Bahkan ketakutannya kepada thaghut melebihi ketakutan mereka terhadap ancaman dan peringatan Allah serta Rasul-Nya. Padahal jelas-jelas mereka akan dimintai pertanggungjawabannya sebagai pemegang amanah kepemimpinan di negeri-negeri Islam.

Kelompok pertama juga diisi oleh kalangan masyarakat Islam yang sudah disibukkan oleh urusan dunianya masing-masing. Mereka asyik bergelut dengan kesenangan yang menyilaukan, keluarga yang membuatnya lupa dengan tanggung jawab seorang muslim terhadap sesamanya. Mereka juga sibuk mengumpulkan harta benda sehingga tidak lagi sempat untuk mengenal dunia Islamnya yang terluka dan tercabik diberbagai belahan dunia. Dari kalangan ini sebagiannya juga mencibir pihak-pihak yang secara konsisten peduli kepada derita bangsa Palestina dengan aksi demonstrasi maupun penggalangan dana. Mereka menganggap bahwa pihak yang tak sesuai dengan pemikirannya itu terlalu membesar-besarkan derita bangsa lain sementara banyak warga Indonesia yang perlu juga untuk dibantu dan diperhatikan.

Disamping itu ada dalam kelompok ini juga termasuk orang-orang yang sudah teracuni dengan budaya dan pengaruh Barat baik dalam tataran pemikiran maupun gaya hidupnya. Tidak sedikit dari kalangan ini. Bahkan tidak sekedar mereka tak acuh, sebagian yang punya jalur politis dan ekonomi serta finansial justru mencoba bermesraan dengan Israel dan Zionisme dengan mengangkangi umat Islam yang berurai air mata atas kekejian Yahudi. Kejadian kunjungan beberapa pemuda ’sinting’ yang mengatasnamakan Indonesia beberapa bulan lalu ke Israel adalah salah satu contoh kasusnya.

Kelompok ini juga dihuni kelompok atau gerakan Islam yang lebih mengentalkan ashobiyahnya dibandingkan dengan semangat persaudaraan Islam sesama muslim. Selama tidak ada sangkut pautnya dengan kelompok atau jamaahnya secara langsung, maka mereka ini lebih konsen dengan kepentingan internalnya. Penderitaan saudara-saudara seiman yang setiap hari meronta dengan duka lara tidak menjadi satu agendapun yang diwacanakan dalam garis perjuangan mereka. Adapula kelompok yang merasa bahwa perjuangan jargon-jargonnya lebih utama ketimbang menyelamatkan satu nyawa umat Islam dari kekejian peluru dan mortir Israel. Dengan penuh kebanggaan mereka memasang spanduk-spanduk bertuliskan "Dengan khilafah kita memerangi, bukan diperangi".

Sayangnya, sangking asyiknya menyebarkan jargon-jargon tersebut mereka menjadi sangat malas untuk pergi berjihad memanggul senjata. Mereka lebih senang duduk berdiskusi bagaimana caranya masyarakat Islam masuk dalam kelompoknya. Mereka lebih senang minum kopi di dalam ruang ber-AC, sementara diluar sana para mujahid Palestina berpeluh debu dan keringat serta bercipratan darah disana-sini karena pertempuran melawan Israel. Dan yang lebih dari itu, sangat besar kemungkinannya mereka ini takut mati demi Al-Islam yang mulia.

Tak pelak mereka ini tak berbuat apa-apa untuk umat Islam Palestina yang hari demi harinya diwarnai puluhan nyawa meninggal dunia. Bahkan tangis bayi-bayi yang mengejang dirumah-rumah sakit karena kurang gizi dan obat-obatan tak membuat ‘khalifah’ mau turun tangan, sebab ‘khalifah’ sedang sibuk berdiskusi. Padahal Umar bin Khattab pernah mengatakan "seandainya seekor himar terperosok di Irak, maka umarlah yang bertanggungjwab kenapa tidak dibuatkan jalan untuknya". Memang mungkin harus dimaklumi karena ‘khalifah’ yang ini sekedar khalifah-khalifahan yang tidak mencontoh para khulafaur Rasyidin yang Allah muliakan.

Karenanya tak perlu heran jika ungkapan-ungkapan yang keluar dari mulut para kadernya sekedar "Tunggulah wahai Palestina, pasukan khalifah pasti akan datang!". Atau hanya "Solusi Palestina adalah dengan adanya khilafah". Tidak lebih dari itu atau NATO (No Action Talk Only). Sementara syeikh-syeikh mereka sibuk menuduh para mujahid HAMAS yang berjihad mengusir Israel dari jengkal tanah air Islam Palestina sebagai pembunuh wanita dan anak-anak (silahkan baca kembali Al-Islam edisi 361). Buta sekali mereka.

Demikianlah gambaran kelompok pertama yang acuh dan tak peduli terhadap penderitaan bangsa Palestina. Hatta, ketika rakyat Ghaza diisolasidari bahan makanan dan obat-obatan oleh Israel dengan Barat dibelakangnya beserta negara-negara Islam yang penakut. Sampai dengan diblokadenya pasokan listrik dan bahan bakar yang menyebabkan ribuan nyawa meninggal dunia di rumah sakit, mereka kelompok pertama ini tetap tak berbuat apapun. Pepatah ‘diam itu emas’ mungkin menjadi pegangan utama.

Sekarang kita coba menilik kelompok kedua yang berseberangan dengan kelompok pertama yang telah dibahas di atas. Mereka ini adalah kebanyakan para pemuda Islam yang bangkit dari kelemahan imannya, sadar dengan kewajiban Islam dan persaudaraannya. Mereka bukan pemuda yang matang karena jargon-jargonnya, tapi mereka adalah para pemuda yang lahir dari kematangan aqidah dan amal-amal jihadnya yang nyata. Mereka bukan kaum hartawan, namun harta yang mereka miliki sebagiannya mereka semaikan untuk dakwah dan dunia Islam. Penghasilan setiap bulannya sekian persennya pasti disisihkan untuk geliat dunia Islam dan Palestina. Mereka yang berdiri dalam posisi ini adalah mereka yang memahami dengan dalam bahwa salah satu kunci persoalan dunia Islam ada di negeri yang memiliki kiblat pertama untuk umat Islam ini. 

Dalam konteks ke-Indonesia-an, kelompok kedua ini direpresentasikan oleh Partai Keadilan Sejahtera. Meski tidak menafikan kesertaan kalangan lain dan tokoh-tokoh nasional, namun harus diakui bahwa PKS lah yang menjadi motor utama menggerakkan kepedulian bangsan Indonesia kepada Palestina.Tidak sedikit tokoh-tokoh dan ulama-ulama PKS yang menjadi aktor utama diberbagai lembaga kemanusiaan independen yang konsentrasi membantu penderitaan dan perjuangan Palestina sebagai sebuah bangsa. Sebut saja COMES, KISPA, KNRP, Mer-C, serta lembaga-lembaga kemanusiaan lain yang sangat konsisten mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada mereka. Lembaga-lembaga ini memang bukan underbow PKS, hanya secara independen masing-masing tokoh PKS memiliki inisiatif tinggi menggalang potensi umat untuk kepentingan rakyat Palestina lewat berbagai lembaga kemanusiaan yang dikelola dengan amanah dan profesional. Bahkan kader-kader terbaik dari partai ini yang mendapatkan amanah di panggung parlemen meranggul berbagai tokoh lintas partai membentuk kaukus parlemen untuk membantu perjuangan bangsa Palestina.

Di tataran akar rumput, partai Islam ini juga menampilkan konsistensinya menggaungkan kepedulian kepada bangsa yang terjajah itu. Baik melalui forum-forum pertemuan, seminar, kajian, tabligh akbar, bahkan demonstrasi besar-besaran untuk menyuarakan pembelaan terhadap Palestina dan para pejuangnya. Bukan itu saja, dalam lingkaran central, kader-kader PKS juga secara reguler menginfakkan sekian persen dari penghasilan setiap bulannya untuk membantu bencana kemanusiaan di negeri yang di wariskan khalifah Umar bin Khathab. Tidak sekedar ‘One Man One Dollar to Save Palestina’ yang menjadi icon aksi-aksi demonstrasi partai dakwah ini untuk menyeru keterlibatan masyarakat Indonesia secara umum.

Termasuk ketika tragedi boikot warga Ghaza yang ditimpakan oleh jaringan Yahudi internasional melalui negara-negara di Barat yang diamini para pemimpin negeri-negeri Islam. PKS pun bergerak untuk mengingatkan kepada bangsa Indonesia dan dunia, bahwa saudara-saudara muslim di Ghaza sana sedang dianiaya dan didzalimi dengan penganiayaan dan pendzaliman yang luar biasa dahsyat. Ketika ratusan bahkan ribuan nyawa terancam melayang ditangan kebengisan yahudi la’natullah PKS bergerak mengingatkan kepada muslim Indonesia yang kabarnya mayoritas di seluruh dunia, untuk menyisihkan sebagian rizkinya dengan thema ‘One man One Dollar to Save Palestina’.

Oleh karena itu, sangat aneh dengan apa yang diprasangkakan oleh salah seorang wartawan senior Eramuslim, Rizky Ridyasmara yang disebarkannya dalam sebuah artikelnya yang berjudul "Antara Bali dan Ghaza". Dangkal sekali pemikirannya dalam memandang PKS. Ternyata wartawan yang sebetulnya patut diacungi jempol dalam memonitor gerakan zionisme internasional ini, tidak mengerti banyak tentang PKS. Alangkah patut dirinya lebih mengevaluasi diri sendiri, sudah berapa besarkah ia berkontribusi untuk bangsa Palestina. Jangan-jangan hanya ‘one dollar’ saat ikutan aksi di Monas 27 Januari 2008 yang lalu.

Serahkan segalanya hanya kepada Allah semata. Dan Allah yang Maha Tahu setiap amal-amal hambanya, dan Dialah yang berhak menilai siapa yang lebih mulia di sisi-Nya. Wallahua’lam. 

February 18, 2008

Sidney pun Mengadu (2)

Filed under: PEMIKIRAN

SEPUCUK SURAT DARI AUSTRALIA: SYDNEY PUN MENGADU


Salah seorang mahasiswa postgraduate dari University of Sydney mengirimkan email kepada saya yang isinya kurang lebih seperti ini; “saya disini cukup disedihkan dengan diramaikannya sebuah milis lembaga dakwah Islam untuk masyarakat muslim Indonesia di Sydney oleh kader-kader Hizbut Tahrir yang selalu menghujat PKS dalam segala kesempatan, berita-berita kecil lalu dibesar-besarkan dan dicaci-maki sekehendaknya, bagaimana meluruskan hal ini?”

Saya mencoba memberi sedikit jawaban atas pertanyaan seorang saudara seiman di Australia yang menulis email ini kepada saya. Saya menangkap hatinya yang resah, semoga usulan dangkal saya ini bisa sedikit mengobati kegundahannya.

Bagaimana Menghadang Fitnah

Ulasan pada bagian pertama lebih menunjukkan bahwa taujih rabbaniyah tak akan berguna dalam logika Hizbut Tahrir. Dari beberapa tulisan yang pernah saya tulis dan saya kirimkan ke email DPP HTI ternyata memang sama sekali tidak ada respons. Padahal sebagiannya sudah saya selipkan beberapa nasehat qur’ani dan al-Hadits. Bahkan tulisan saya yang ‘menantang’ pembuktian tuduhan Amir HT terhadap PM. Turki Recep Tayyip Erdogan juga sama sekali tidak direspons. Kesimpulannya, tak banyak yang bisa diharapkan dari kelompok pecundang. Alih-alih sadar atas kesalahannya mereka justru semakin asyik membuat lontaran-lontaran fitnah yang semakin menggelikan.

Lantas, bagaimana seharusnya kita meluruskan? Pendekatan yang perlu untuk mengingatkan kelompok HT ini memang dari sisi pembongkaran millah mereka. Namun tetap, kita tidak berharap mereka yang akan segera sadar dan meminta maaf kepada umat ini atas pembodohan-pembodohan yang dilakukannya. Akan tetapi lebih kepada membangun kesadaran, pengetahuan, dan wawasan internal tentang bagaimana menghadapi ‘politics war’ kelompok pemfitnah ini. Minimal ada dua langkah pendekatan yang harus ditempuh. Yaitu pendekatan perang fakta dan pendekatan tsaqofah.

1. Pendekatan Perang Fakta

Selama ini, Hizbut Tahrir memang cukup rajin dan konsen memanfaatkan issu-issu miring gerakan dakwah lain untuk dijadikan bahan kajian dan analisis. Padahal belum tentu issu-issu tersebut berupa fakta, malah kebanyakan hanya sebuah praduga dan dzan yang sengaja dipelintir untuk kepentingan black campaign oleh mereka. Hasilnya kemudian diberitakan secara beruntun di berbagai media yang dimilikinya, baik media maya maupun media cetak.

Hasil-hasil analisa itu diteruskan dengan taklid oleh para kadernya dan dimanfaatkan untuk menyebarkan syak wasangka di tengah masyarakat menggunakan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui khatib-khatib yang dipersiapkan struktur HT di berbagai wilayah. Sehingga tidak heran jika dilapangan banyak kader HT yang gelagapan ketika ditanya mendetil tentang berita-berita yang dikeluarkan oleh pusat. Akibatnya ketika sudah mentok, mereka bilang "sebaiknya langsung menghubungi Jubir HTI saja untuk memperjelas masalah ini. Oooo, berarti memang benar bahwa lontaran-lontaran fitnah yang berasal dari HT ini atas kebijakan petinggi-petinggi HT di pusat.

Acara-acara tatsqif yang mereka adakan dengan meminjam masjid-masjid masyarakat juga dimanfaatkan secara licik oleh kader-kader HT di tingkat lapangan. Meski tidak jarang banyak pihak yang merasa dilangkahi dan ditipu karena umumnya mereka lebih suka main klaim bahwa kehadiran mereka di suatu masjid telah didukung si fulan dan si fulanah. Padahal izin awalnya hanya untuk meminjam tempat.

Terkait hal ini, maka sudah sepatutnya para aktivis dakwah yang merasa terganggu dan terusik dengan pola-pola licik HT, tiba saatnya untuk mengambil peran sebagai subject perang fakta. Bukan lagi menjadi object yang selalu dijadikan bulan-bulanan opini HT yang hampir selalu menyudutkan dan bernada fitnah. Menjadi subject opini memang lebih strategis ketimbang sebagai object. Sebab, sekenceng-kencengnya ia membuat penangkalan opini, tetap saja manjadi object. Hasilnya capek tetapi tidak mengungguli opini dasar.

Dengan menjadi subject, atmosfer yang tercipta bisa semau si pembuat opini. Kapan, bagaimana, dan seperti apa opini yang bergulir terserah si creator awal. Terserah public mau menangkap opini ini atau tidak. Yang jelas sebuah opini baru telah digulirkan, dan masyarakat umum yang akan menikmati manfaatnya.

Saya sepakat bahwa alangkah baiknya sebuah gerakan dakwah Islam tidak perlu ambil pusing dengan berbagai serangan fitnah yang dilancarkan gerakan dakwah lain. Yang terpenting adalah berbuat sebaik-baiknya untuk maslahat umat dan seiring waktu umat pasti akan mengetahui siapa yang benar dan mana yang pura-pura. Akan tetapi menurut saya, lebih baik lagi apabila diantara kader-kader yang mampu dan memiliki kesempatan untuk mengambil peran menjadi barisan perisai. Sebuah barisan yang akan menangkal fitnah-fitnah keji yang dilancarkan oleh gerakan dakwah lain (HT) secara jahat.

Mengapa? Hal ini penting sebab dunia saat ini adalah sebuah zaman dimana informasi menjadi ‘penguasa’ yang menentukan hitam-putihnya sesuatu hal. Sebuah kebenaran akan bisa disamarkan dengan berita perancuan yang dilancarkan secara massif dan kontinyu. Dan sebaliknya, sesuatu yang tidak benar bisa menjadi seolah-olah benar ketika disuguhkan dari berbagai penjuru dengan pemutar-balikkan fakta. Dan masyarakatlah yang menjadi korban informasi itu. Akibatnya dakwah ini menghadapi hambatan dan fitnah yang luar biasa.

Menjadi subject dalam perang fakta ini maksudnya adalah, saatnya para kader untuk mulai membuka mata, membuka wawasan, dan mulailah mempelajari kekuatan dan senjata kelompok penuduh dan pencaci maki. Mulailah membuka dan memperhatikan tulisan-tulisan mereka, opini-opini mereka, buku-buku mereka, perilaku tokoh-tokoh mereka, media mereka, keseharian mereka dan lain sebaginya. Saya menjamin, bahwa semakin banyak mengenal mereka maka akan semakin tahu banyak kelemahan-kelemahannya. Hizbut Tahrir hanya nampak digdaya bagi orang-orang yang awam mengenalnya.

Dan satu hal lagi, waspada terhadap operasi ‘intelijen’ mereka yang cukup terstruktur dan terlatih. Jangan sampai lembaga-lembaga yang Anda bangun dengan susah payah tahu-tahu diambil alih mereka. Akibatnya tanpa malu-malu mereka mendepak orang-orang di luar mereka seperti yang terjadi di sebuah lembaga ZIS nasional di Indonesia. Ko’ bisa? Ya, mereka menyusup seperti menyusupnya intelijen dalam gerakan-gerakan Islam. Dan HT sudah punya kader-kader yang terlatih dalam dunia susup-menyusup ini.

Dengan pengetahuan itu, maka mulailah untuk menjadi para penganalisa dan pemerhati sepak terjang HT. Apa gunanya? Yaitu untuk menjadi perisai dan penyeimbang ketika Hizbut Tahrir mencoba melontarkan fitnah dan tuduhan-tuduhan tak mendasar terhadap bangunan dakwah ini. Lebih baik lagi jika secara aktif mampu memberikan opini-opini kontemporer kepada masyarakat. Tentunya analisa-analisa tersebut mesti menjabarkan sebagai sebuah fakta-fakta penyimpangan yang sangat mudah ditemui di Hizbut Tahrir. Jangan sampai terjebak dengan cara licik seperti yang banyak mereka lakukan. Bisa-bisa tidak ada bedanya antara kita dengan HT.

2. Pendekatan Tsaqofah

Saat ini banyak yang malu-malu dan kurang berani untuk melakukan studi komparasi gerakan Islam secara terbuka. Akhirnya simpang siur yang kurang jelas ujungnya membuat sebagian para penggiat dakwah pemula justru terjebak dalam jerat Hizbut Tahrir.

Oleh karena itu, saya berfikir bahwa sudah bukan zamannya lagi untuk tabu mengadakan forum kajian terbuka. Sebuah forum seperti seminar atau kajian umum yang mengulas sepak terjang gerakan HT dengan mengkombinasi ulasan antara manhaj mereka dengan gaya kekinian mereka saat ini. Tentu hal ini sangat bermanfaat jika hanya dibandingkan masyarakat mengenal HT di kulitnya saja. Kulit sering kali terlihat mulus, padahal dalamnya penuh borok dan muslihat. Tidak perlu jadi agenda prioritas, tetapi anggap saja sebagai kegiatan iseng.

Kajian ini harus diadakan secara reguler dengan tempo disesuaikan dengan kebutuhan. Seminar dengan judul “Membongkar Raport Merah Hizbut Tahrir” mungkin cocok untuk coba diselenggarakan. Atau “Menangkal Fitnah-Fitnah Hizbut Tahrir” juga tema yang menarik untuk dibahas. Atau yang lebih menggigit, “Hizbut Tahrir dan Dunia Intelijen” tentu tidak kalah menarik. Narasumber yang diundang sebaiknya tokoh-tokoh yang secara khusus mengetahui sepak terjang dari HT ini. Lebih bagus lagi mereka yang berasal dari saksi sejarah pihak-pihak yang secara langsung pernah ‘tersayat’ oleh ‘kejahatan’ cara dakwahnya.

Pengetahuan inilah yang akan menjadi kekuatan penyeimbang serta penangkal opini-opini miring yang dihembuskan mereka melalui berbagai pintu. Pendalaman tsaqofah secara langsung jauh lebih efektif ketimbang lewat media online. Sebab, pembahasan lewat media maya cenderung tidak tuntas. Dengan adanya kajian terbuka secara berkesinambungan ini akan memiliki efek domino yang luar biasa, sebab masing-masing aktivis dakwah bisa menjelaskan kepada masyarakat dan tunas-tunas muda secara lebih detil dan gamblang siapa sesungguhnya si penebar fitnah ini.

Mudah-mudahan dua gagasan ini bisa sedikit membantu mengobati kegundahan seorang saudara seiman di negeri kanguru yang jauh di seberang sana. Juga semoga menjadi inspirasi yang lain diberbagai belahan bumi dalam menangkal makar-makar keji yang menghalang-halangi dakwah Islam sesungguhnya.

(selesai)

Sidney pun Mengadu (1)

Filed under: PEMIKIRAN

SEPUCUK SURAT DARI AUSTRALIA: SIDNEY PUN MENGADU


Salah seorang mahasiswa postgraduate dari University of Sydney mengirimkan email kepada saya yang isinya kurang lebih seperti ini;

saya disini cukup disedihkan dengan diramaikannya sebuah milis lembaga dakwah Islam untuk masyarakat muslim Indonesia di Sydney oleh kader-kader Hizbut Tahrir yang selalu menghujat PKS dalam segala kesempatan, berita-berita kecil lalu dibesar-besarkan dan dicaci-maki sekehendaknya, bagaimana meluruskan hal ini?”

Antara senang dan prihatin menerima email tersebut di atas. Senang karena tulisan-tulisan saya sudah bisa dinikmati oleh saudara-saudara seiman di Australia. Prihatin karena ternyata apa yang dialami ikhwah di sana tidak jauh berbeda dengan yang dialami di Indonesia, Palestina maupun Turki, serta di berbagai belahan dunia lainnya. Mereka dihujat, dicacimaki dan disudutkan. Bahkan mereka difitnah.

Sebetulnya, baru kemarin saya sedikit konsen terhadap ‘politics war’ yang dilancarkan Hizbut Tahrir terhadap ikhwah di seluruh dunia. Belum cukup memadai ilmu yang saya miliki. Namun, sepak terjang HT di Indonesia yang secara kontinyu mengusik PKS dan tarbiyahnya, serta gerakan dakwah lainnya, sedikit demi sedikit mulai terkuak dan semakin terang untuk dibaca dan analisa.

Dari berbagai data dan informasi yang coba saya runut dan kumpulkan, ada satu kesimpulan pahit yang terpaksa harus saya rumuskan. Yaitu bahwa Hizbut Tahrir memang memiliki grand-design untuk melakukan ‘carracter assasination’ terhadap para aktivis dakwah di luar kelompoknya. Lebih-lebih mereka para pejuang dakwah yang menjadikan pemikiran-pemikiran Asy-Syahid Hasan Al-Banna sebagai sumber rujukannya. Saya jadi teringat ketika peristiwa terbunuhnya Imam Hasan Al-Bana yang dirayakan secara besar-besaran di berbagai negara Barat dengan pesta pora dan minum minuman keras. Mereka orang-orang kuffar Barat demikian bergembira dengan kematian Asy-Syahid.

Tak Akan Mempan Nasehat Rabbani

Dalam meluruskan black campaign yang di gulirkan HT, sepertinya sudah tidak mempan dengan bahasa dalil syari’ah. Mereka sudah bebal, apalagi mereka mungkin merasa diri mereka kelompok yang paling menguasai ilmu syari’ah. Ditambah dengan ghil atau dengki mereka terhadap para ikhwah, maka semakin matanglah visi mereka untuk mencabik para pengusung dakwah dari luar kelompoknya. Hal ini tercermin mulai dari pendirinya, Taqiyudin An-Nabhani, ketika di nasehati seorang pemuda ikhwan pada sebuah forum diskusi di Al-Quds 50-an tahun silam dengan ayat Al-Qur’an. Bukannya berterima kasih, Taqiyudin An-Nabhani malah murka, marah, dan menghasut peserta forum diskusi untuk menjauhi dan memusuhi pemuda yang mengingatkan dirinya dengan kalam Allah itu.

Sangat berbeda sekali dengan para khalifah Rasyidin ra. yang bercucuran air mata dan segera kembali kepada hukum Allah dengan nasehat-nasehat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah. Meski nasehat atau pelurusan kembali itu datang dari rakyatnya yang jelata. Bagaimana kisah Abu Bakar dengan penghunus pedang, bagaimana kisah Umar dengan wanita ‘penentang’ aturan mahar yang hendak diperbarui khalifahnya. Bagaimana kisah Ali dengan pencuri baju perang, serta kisah-kisah menyejarah lainnya. Kesemuanya adalah sekelumit kisah agung yang menenteramkan hati orang-orang beriman.

Dibandingkan dengan lukisan sejarah kemuliaan Khulafaur Rasyidin, maka kelompok Hizbut Tahrir yang di Indonesia dikomandoi oleh Ismail Yusanto dan Al-Khaththath ini sungguh sangat jauh berbeda. Meski jargon dan kampanye mereka adalah untuk memperjuangkan syari’at dan khilafah, namun kenyataannya perilaku mereka justru seperti perilaku kuffar Yahudi dan si Paman Sam. Suka memfitnah, menuduh tanpa bukti, dan tak mau dinasehati. Sepertinya telinga mereka sudah budeg dan tak pernah dibersihkan. Sementara mulutnya licin berbusa menuduh dan mencaci maki para pejuang Islam diluar kelompoknya. Dan satu lagi, mereka adalah para pecundang kelas kakap yang tak berani mengakui kesalahannya padahal borok-borok yang mereka usung terbongkar dengan nyata dan memalukan. Mereka berlaku seolah-olah fine-fine saja dan tak ada yang perlu dirisaukan. Kenapa demikian? Sebab mereka melihat seolah-olah hanya diri mereka sendirilah yang paling benar dan layak memberikan ‘nasehat’, meski sebetulnya lebih tepat tulisan-tulisan nasehatnya disebut sebagai cacian dan fitnah.

Memang kontras sekali dengan kehidupan dan kepribadian para khilafah Islam yang menorehkan tinta emas dalam sejarah Islam. Mereka begitu mudah luluh dengan ayat-ayat Allah yang mengguyur relung hati mereka walaupun keluar dari mulut seorang wanita tua perebus batu.

Mata mereka, kelompok Hizbut Tahrir, pun buta dengan mutiara berkilauan yang dimiliki para mujahid Islam di luar kelompoknya. Sementara mereka takjub dengan batu kali yang dimiliki kelompoknya sendiri. Lihat saja dengan apa yang dikemukakan oleh Amir Hizbut Tahrir Internasional, Syeikh Ata’ Abu Rashta, dalam pernyataannya (24/08/07) saat mengomentari pelaksanaan ‘Tabligh Akbar’ Hizbut Tahrir di Gelora Bung Karno 12 Agustus tahun lalu. Dalam tulisannya dia menyebutkan;

Saya pun sungguh sangat terharu, karena laporan yang saya baca, tentang ukhti mukminah yang mati syahid di jalan raya setelah dia melaksanakan tugas-tugas terkait konferensi. .. Sungguh ukhti itu termasuk orang yang mati syahid akhirat, dengan izin Allah."

Kemudian ia juga mengatakan, “Saya juga merasa terharu tentang akhi yang patah kakinya saat dia cepat-cepat turun dari kereta api yang harus dinaikinya di antara keramaian manusia untuk menuju konferensi,.. . Saya pun terharu dengan ikhwan dan akhwat yang terpaksa menjual berbagai perhiasan dan perabotan di rumah dan mengorbankan sebagian kebutuhan-kebutuhan rumah tangga mereka, agar dapat membayar iuran yang wajib dibayar terkait konferensi,”

Dan selanjutnya ia berkata, “Sungguh amal dan pengorbanan Anda itu mengingatkan saya akan para sahabat dan shahabiyat yang mulia dalam pengorbanan dan infak mereka di jalan Allah meski mereka sendiri sebenarnya masih membutuhkan. Sungguh Anda telah membuat suatu teladan dalam kebaikan yang pantas diikuti dan suatu contoh yang pantas diikuti oleh orang-orang yang mencari akhirat jauh di atas upaya mereka mencari dunia…”

Coba bandingkan dengan sekedar tiga peristiwa berikut ini; Seorang muslimah bercadar yang menyebut dirinya Puteri Da’wah menyerahkan sejumlah perhiasan emas dan sepucuk surat kepada Pemerintah Palestina dari HAMAS saat menghadapi berbagai tekanan dan pengucilan dunia internasional (17/04/06). Dalam suratnya ia menulis “…aku demi Allah sangat merasakan kebanggaan dan penghormatan saat melihat dan mendengar kalian. Aku begitu gembira dan bangga ketika melihat kekokohan kalian menghadapi tekanan demi tekanan yang mendera. .. Kami insya Allah tidak akan menjadi sebab kalian menyerah, dalam hal apapun. …Aku berharap kalian menerima pemberian kecil ini. Inilah yang mampu aku berikan. Demi Allah aku berharap bila aku memiliki semua harta di dunia ini akan aku berikan juga kepada kalian. Tapi inilah yang aku punya…”

Peristiwa lain adalah terbunuhnya salah seorang komandan militer penting Hizbullah oleh makar Israel baru-baru ini. "Dengan penuh bangga kami melepaskan pimpinan besar perlawanan Islam di Libanon dalam rombongan syuhada. Hidup sang komandan penuh dengan jihad, pengorbanan dan capaian-capaian. Saudara kami Haji Emad Moghoneah gugur di tangan zionis Israel," demikian pernyataan Hizbullah.

Demikian juga dengan berita jihad fii sabilillah yang disampaikan oleh Brigade Izzudin Al-Qassam Ahad lalu (17/02/08). Sumber di Al-Qossam menyebutkan, pihaknya telah bertempur habis-habisan dengan pasukan Israel yang berusaha menyusup ke wilayah Gaza yang dijaga pasukan perlawanan. Akibatnya 1 orang syahid dan 15 personel Hamas dan Brigade al-Quds, sayap militer Jihad Islam dikabarkan terluka. (www.infopalestina.com). Belum lagi syahidnya sosok terbaik Syeikh Ahmad Yasin dan Dr. Abdul Aziz Ar-Rantisi di ujung rudal Israel.

Dua fakta berbeda diatas sebetulnya menceritakan satu peristiwa yang sama, yaitu tentang kematian, infaq fi sabilillah, dan perjuangan membela Islam. Namun terang sekali perbedaannya, bagaimana para kader HT mati ’syahid’ (mudah-mudahan bukan mati konyol), dibanding syahidnya pejuang Islam sesungguhnya. Bagaimana sang ‘tauladan HT’ patah kaki disebabkan turun terburu-buru dari kereta, dibandingkan luka-lukanya puluhan bahkan ribuan pejuang Islam yang sebenarnya di medan jihad. Serta bagaimana pengorbanan para ‘ikhwan dan akhwat HT’ untuk ‘nonton’ konferensi, dibandingkan para muslimah yang menginfaqkan seluruh hartanya demi kehormatan Islam.

Perbedaan lainnya adalah, apresiasi yang dibesar-besarkan seorang Amir Hizbut Tahrir bagi peristiwa-peristiwa kecil yang barang kali terlalu latah untuk dikategorikan bagian dari perjuangan untuk Islam. Dan sebaliknya, sejarah bercerita bagaimana seharusnya pejuang-pejuang Islam sesungguhnya berkorban untuk Islam.

(bersambung..) 

February 1, 2008

Agen Intelijen?? (bagian 3)

Filed under: PEMIKIRAN

ISMAIL YUSANTO SEORANG AGEN INTELIJEN (???)

 
Pada bagian ke-2, telas diulas alasan pertama kenapa judul di atas adalah ‘Ismail Yusanto Seorang Agen Intelijen (???). Pada bagian terakhir ini, dijelaskan 2 hal lain yang menjadi latar belakang kenapa kata ‘agen intelijen’ itu muncul. Disamping itu, bagian ini juga akan menjadi pengantar tulisan berupa beberapa fakta sejarah yang patut menjadi bahan renungan semua pihak bagaimana sepak terjang operasi intelijen yang merugikan umat Islam Indonesia (akan ditulis pada artikel terpisah). Berikut adalah lanjutan ulasan terhadap ‘3 hal’ yang telah diawali di bagian sebelumnya.

Kedua, Kepergoknya Kader HTI di Sarang Intelijen

Medio 2007 lalu, salah seorang tokoh sekaligus petinggi sebuah Partai Islam di Indonesia yang di undang BIN untuk dimintai keterangan terkait ‘next plan’ seandainya Partai Islam tersebut berhasil memimpin negara Indonesia, memergoki salah seorang yang ia kenal betul sebagai aktivis dan kader HTI. Dengan kalimat lugas, petinggi Partai Islam itu menyapa "Antum di sini?" Dengan rada gugup orang tersebut merespon dengan basa-basi. Secara jujur penulis tidak cukup banyak data dan informasi akan detil dari berita ini, namun sumber yang terpercaya keamanahannya cukup menjadi jaminan bahwa kejadian itu benar adanya.

Mari kita coba mengkalkulasi kenapa seorang kader HTI itu bisa berada di sarang intelijen. Ada kepentingan apa dirinya berkeliaran di sana. Alangkah baiknya penulis mencoba mereka-reka dan membuka wacana, dan kemudian biarlah pihak HTI yang menyampaikan tabayun dan penjelasan atas ‘analisa krece’ tulisan ini. Penulis sangat berlapang dada jika ada pelurusan-pelurusan oleh pihak HTI dari ‘analisa bodoh’ yang penulis kemukakan.

Dunia intelijen merupakan dunia yang sangat confidential dan sangat sulit tersentuh kalangan sipil. Begitulah tabiat dunia intelijen baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Oleh karena itu, orang-orang yang bekerja di sana baik sebagai staff instansi ataupun keadministrasian harus melalui proses yang sangat selektif sekali. Kebanyakan masyarakat awam tidak begitu paham apa dan bagaimana menjadi pegawai di kantor BIN ini. Kondisi ini adalah kenyataan untuk meragukan bahwa kader HTI tersebut disana bekerja hanya sebagai pegawai biasa, bukan seorang agen. Akan tetapi semoga ia benar-benar hanya sebagai pegawai biasa di markas BIN tersebut.

Soalnya jika ia di sana bukan sebagai pegawai biasa, lantas apa yang ia lakukan sehingga ‘berkeliaran’ di sarang macan? Seorang petinggi Partai Islam saja datang ke situ untuk dimintai keterangan (bahasa lainnya di interogasi), terus apa yang dilakukannya kalau bukan ‘ngantor’ disitu? Kalo pun hanya sekedar singgah, kenapa harus di markas intelijen? Jika memata-matai intelijen jelas suatu hal yang tidak mungkin. Masa’ intel dimata-matai sipil, tidak kebalik tuh? Tapi jika dalam rangka ‘bersahabat’ maka hal itu adalah hal yang sangat mungkin.

Persoalan berikutnya, apabila ternyata kondisi yang sebenarnya adalah bahwa kader HTI tersebut adalah seorang agen intelijen, maka masih menyisakan sebuah pertanyaan. Pertanyaannya adalah, apakah keberadaan kader HTI yang berkeliaran di sarang intelijen itu diketahui oleh petinggi HTI dalam hal ini Jubir dan strukturnya? Jika tidak, maka informasi ini cukup positif untuk dijadikan warning agar jajarannya lebih berhati-hati dan mawas diri. Kondisi ini merupakan subuah ancaman yang dapat memecah belah jalan di masa yang akan datang. Bahkan jika keberadaan penyusup ini tak terdeteksi maka lambat laun gerakan HTI akan terperangkap sesuai dengan design dan aksi sang agen intelijen. 

Namun jika jawabannya "Ya", maka bisa diterka bahwa ada interaksi simbiosis mutualisme antara kedua belah pihak, HTI dengan BIN. Terlalu jauh menyimpulkan bahwa HTI adalah bentukan intelijen, namun bukan hal yang mustahil jika telah terjadi deal-deal tertentu yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Apa keuntungan bagi HTI? Yaitu ‘jaminan keamanan’ dalam menyampaikan syi’ar da’wahnya ’sekeras’ apapun merivali ideologi yang dianut negara ini. Sementara keuntungan bagi intelijen, adalah jaminan terpantaunya bahwa gerakan HT di Indonesia tak akan merongrong ideologi yang menjadi pijakan negara Indonesia. Ditambah bahwa keberadaanya akan menjadi senjata untuk mengkonter kekuatan ideolagis lain yang pamornya semakin sulit dibendung dalam kancah perpolitikan nasional. Di beberapa tempat dan kesempatan, kekuatan ideologis ini banyak dikaji kelompok-kelompok nasionalis yang merasa masa depannya terancam dengan keberadaannya. Bahkan kalangan partai-partai besar orde baru yang mengaku nasionalis sudah menjadikannya common enemy demi mengganjal dan menghancurkan arus besar ideologis tersebut.

Hal ini bukan isapan jempol, mengingat berbagai fakta di lapangan gaya da’wah HTI terus saja ‘menyerang’ para aktivis da’wah yang berjuang di mimbar parlemen. Bahkan hampir di berbagai kesempatan shalat Jum’at para khatib yang berasal dari HTI acap kali ‘menyerang’ dan melontarkan wacana bahwa upaya aktivis da’wah yang berjibaku di panggung parlemen ‘terbukti’ sia-sia dan jauh dari rel Islam. Penulis menjadi saksi sendiri hal ini terjadi di berbagai kesempatan sholat Jum’at di beberapa masjid di Jakarta dan Banten. Fakta lain adalah, dalam pengkaderannya di berbagai perguruan tinggi di Indonesia tak bisa dipungkiri HTI membidik mereka yang menjadi simpatisan dan berafiliasi kepada Partai Islam berideologi kuat ini. Bahkan tak jarang dengan cara kotor mereka menjegal para kader dan simpatisan yang baru datang dari daerah dengan berpura-pura menjadi bagian dari Partai Islam tersebut. Memuji-muji tokohnya, mengajak mengkaji buku dan materi yang menjadi referensi. Kemudian pada masa yang sudah tertentu mereka (para aktivis HTI) menyatakan dirinya sebagai aktivis Hizbut Tahrir dan berbalik memojokkan Partai Islam itu sendiri serta mengaku-ngaku bahwa tokoh-tokoh yang pemikirannya banyak di adopsi oleh Partai Islam tersebut adalah tokoh Hizbut Tahrir. Lucu memang, tapi itulah kelicikan yang menjadi fakta. Kejadian ini di alami beberapa rekan dari penulis saat mereka kuliah di perguruan tinggi di Surabaya dan Bandung.

Dengan kata lain, langsung ataupun tidak langsung, penggerogotan ini cukup menguntungkan banyak kalangan terutama mereka kalangan yang ngaku-ngaku orang nasionalis yang haus akan kekuasaan nasional. Kalangan ini takut tergusur oleh gelombang ideologis yang cukup mengurat syaraf di masyarakat Indonesia secara umum. dan phobia serta tidak memahami Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan begitu sejalan dengan kerja BIN yang memang didominasi kalangan yang tak memiliki afiliasi dengan Islam. Bahkan sebaliknya.

Ketiga, Pelatihan Intelijen Aktivis HTI

Situs HTI www.khilafah1924H tertanggal 30 November 2005 menyebutkan bahwa Hizbut Tahrir menyelenggarakan Pelatihan Dasar-Dasar Intelijen bagi para aktivisnya di ’sebuah tempat di Indonesia’. Dalam kesempatan itu menghadirkan mantan Kapala BAKIN Letjend. ZA. Maulani (alm) sebagai narasumbernya. Dalam sisi positif, HTI bisa dibilang selangkah lebih maju dalam menyikapi eksistensi dunia intelijen. Jika kelompok atau gerakan Islam lain masih menjadi bidikan dan sasaran bulan-bulanan rekayasa operasi intelijen, HTI justru malah mengadakan pelatihan dasar-dasar intelijen bagi para aktivisnya. Patut di apresiasi.

Apalagi pelatihan tersebut dinarasumberi oleh mantan orang no.1di BAKIN pada masa pemerintahan BJ. Habibie. Alm Letjend ZA. maulani memang dikenal dekat dengan kalangan Islam. Bahkan orang kepercayaan mantan presiden jenius ini adalah salah seorang yang cukup serius melawan issu Jamaah Islamiyah yang dihembuskan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Dan pembelaanya terhadap Amir Majelis Mujahidin, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, yang disudutkan dan dipenjarakan atas pesanan negeri Paman Sam itu tak perlu diragukan lagi. Bahkan keberpihakannya terhadap umat Islam ditunjukkan dengan penterjemahan bukuStranger Then Fiction: Independent Investigation of 9-11 and War on Terrorism karya Dr. Albert D. Pastore, PhD. yang kemudian diberi judul "Fitnah Itu Akhirnya Terungkap".

Akan tetapi dunia intelijen tetaplah dunia intelijen. Dunia yang yang sulit dijangkau dan dipahami masyarakat sipil. Sebuah dunia yang dalam catatan sejarah sangat tidak bersahabat dengan umat Islam. Tidak dalam rangka menyangsikan keseriusan ZA. Maulani dalam membela Islam, namun biar bagaimanapun selama masa tugasnya sebagai Kepala BAKIN tercatat beliau juga bekerja untuk kepentingan penguasa pada waktu itu.

Bulan Juli-Agustus tahun 1999 sebagai Kepala BAKIN beliau memimpin operasi di Jawa Timur untuk kepentingan menggolkan kembali BJ. Habibie sebagai presiden RI. Seperti yang diungkap SiaR, beberapa pesantren besar seperti Ponpes Langitan (Tuban), Ponpes Sichona Cholil (Bangkalan), dan Ponpes Lirboyo didatangi ZA. Maulani. KH. Hasyim Muzadi yang pada saat itu masih menjabat sebagai ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur membenarkan operasi itu. Beliau mengatakan bahwa  pada bulan-bulan Juni-Juli tahun itu ZA. Maulani rajin mendatangi pesantren-pesantren NU untuk menggembosi suara PKB dan Gus Dur yang akan berpasangan dengan Megawati. "Bahkan setiap pamitan Maulani selalu memberi uang pada para kiai dengan alasan untuk transport," ujar Hasyim Muzadi.    

Sementara itu Ketua Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren Madura KH. Nurudin A. Rachman juga membenarkan operasi Za. Maulani di Jawa Timur, "Benar memang, sekitar Juni lalu pak Maulani rajin datang ke pesantren-pesantren. Dan setiap kali kunjungannya selalu didampingi pengurus Golkar Jatim." ujarnya. Operasi tersebut tergolong sukses. Bahkan menurut Ketua DPW Jatim pada waktu itu, Chairul Anam, operasi yang dilakukan Maulani sudah dilakukan jauh-jauh hari. "Buktinya suara PKB kacau dikantong-kantong NU, tegas Anam. Sampai karena kegeramannya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua PBNU mengusulkan agar mengganti orang-orang BAKIN pada pemerintahan berikutnya. Dan terbukti, ketika Gus Dur menjabat sebagai presiden, ZA. Maulani disingkirkan.

Sekali lagi, uraian di atas bukan dalam rangka meragukan kedekatan dan keberpihakan ZA. Maulani kepada umat Islam. Penulis juga tidak dalam rangka mempermasalahkan isi pelatihan di atas dan berpositif thingking saja karena saat itu kampanye global perang terhadap terorisme yang digalang AS mencengkeram negara-negara berkembang layaknya Indonesia. Satu hal mengganjal yang patut menjadi pertanyaan adalah, apa kaitannya pelatihan di tahun 2005 itu dengan kejadian di sarang intelijen pertengahan tahun 2007 kemarin? Apakah setelah wafatnya ZA. Maulani dengan segala kelebihan dan kekurangannya (dan mungkin beliau tidak ada sangkut pautnya dalam masalah ini), para alumni pelatihan mengalami perkembangan kreativitas secara ‘mandiri’ sehingga dengan cepat bisa menerobos pintu istana intelijen?

Penulis sangat senang sekali jika ada pihak-pihak yang menyampaikan penjelasan dan klarifikasi terkait kegundahan ini. Kenapa? Karena hingga saat ini Badan Intelijen Negara tidak pernah berhenti menggelar operasi-operasinya, baik operasi strategis maupun operasi taktis. Kasus meninggalnya aktivis HAM Munir, dan penyusupan intelijen di Majelis Mujahidin Indonesia beberapa masa lalu adalah bukti bahwa intelijen tidak pernah pensiun, dan terus bekerja dari satu operasi ke operasi intelijen berikutnya. Dan sejarah perjalanan umat Islam Indonesia sejak pasca kemerdekaan memiliki catatan sangat merah terhadap intelijen.

Ketiga hal inilah yang melandasi kenapa penulis menyandangkan kata agen intelijen pada judul di atas. Alasan ke-2 dan ke-3 hanyalah sebuah logika penambah yang perlu disingkap untuk lebih membuka mata, bagaimana seharusnya sang Amir Hizbut Tahrir melontarkan analisanya. Jangan asal menuduh aktivis di luar gerakannya dengan sebutan-sebutan yang buruk. Dengan kedua paparan di atas saja, penulis tidak terlalu tertarik untuk secara gegabah mengatakan bahwa Ismail Yusanto adalah seorang agen intelijen. Dalam konteks ini penulis lebih senang untuk berbaik sangka bahwa Ismail Yusanto adalah seorang yang baik. Dengan jalan ini penulis bermaksud menyadarkan kepada Syeikh Ata’ Abu Rashta agar tidak dzolim mengecap orang lain dengan tuduhan yang buruk.

(selesai)

January 24, 2008

Agen Intelijen?? (bagian 2)

Filed under: PEMIKIRAN

ISMAIL YUSANTO SEORANG AGEN INTELIJEN (???)

 
Se-provokatif apapun, itu hanyalah sebuah judul. Akan tetapi pemilihan judul di atas bukanlah sembarang memilih tanpa ada alasan yang jelas. Meski seorang Shakespiere pernah melontarkan "Apalah arti sebuah nama?", akan tetapi sebuah nama tetaplah memiliki makna. Demikian pula dengan judul diatas yang sekilas nampak ‘memerahkan telinga’ atau mungkin sekedar membersitkan tanda tanya. Setelah pada tulisan bagian pertama diulas hal-hal yang sangat memungkinkan menjadi latar belakang ‘pujian bijak’ Syeikh Ata Abu Rashta kepada Erdogan dan Ghul, maka pada bagian kedua akan diketengahkan sebuah wacana awal yang menjadi alasan kenapa muncul sebutan ’seorang agen intelijen?’.

Setidaknya ada 3 hal yang kemudian menjadi pertimbangan kenapa kata tersebut menjadi pilihan yang tepat untuk menjadi bahan muhasabah setiap orang, yaitu:

Pertama, tuduhan Amir Hizbut Tahrir yang menyebut Erdogan dan Ghul sebagai ‘Agen’ AS.

Berbicara soal siapa menjadi agen siapa sesungguhnya sedang membicarakan sebuah ‘lingkaran setan’ yang sangat kompleks. Apalagi yang dituduhnya sosok yang menjadi ikon dan orang yang leading atau memimpin sebuah negara. Jika keberhasilan seorang Erdogan menjadi seorang Perdana Menteri di Turki adalah buah tangan dari Amerika Serikat, maka dapat dipastikan manufernya tak akan lepas dari rekayasa dan grand design para agen intelijen yang disebar oleh AS di negeri pewaris khilafah ini. Kenapa? Karena secara kenegaraan para penguasa politik di Amerika tak akan pernah campur tangan secara langsung dan terbuka untuk mengubah peta politik di negara lain. Akan sangat membahayakan tatanan dunia internasional, dan AS tak akan mengambil resiko dengan ‘perang terbuka’ ini.

Lantas siapa yang bekerja di lapangan untuk memuluskan, apa yang dikatakan oleh Amir Hizbut Tahrir dengan sebutan Agen AS, agar berjalan sukses menaiki tangga kepemimpinan sebuah negara. Jawaban  yang pasti adalah mereka para agen intelijen yang disusupkan. Para agen intelijen inilah yang kemudian melakukan operasi intelijen atas action design yang ditetapkan oleh penguasa politik AS. Sedangkan cara yang dilakukan sangat beragam dari mulai yang paling halus sampai dengan yang paling kasar demi mencapai target dan tujuan, sekalipun harus dengan jalan perang dan pertumpahan darah.

Contohnya sangat mudah, beberapa aksi operasi intelijen yang pernah digelar oleh Amerika Serikat diantaranya adalah upaya penggulingan presiden Soekarno ditahun 1950-an dengan cara mempersenjatai kaum pemberontak. Kemudian operasi intelijen Playa Giron yang juga dikenal dengan Invasi Teluk Babi. Operasi ini dilancarkan oleh Agen AS untuk menggulingkan pemerintahan Fidel Castro di Kuba pada tahun 1961. Siapa pelaksana lapangannya? Mereka adalah orang-orang Kuba di pembuangan yang dibina langsung oleh CIA menjadi para agen intelijen. Akibat kegagalan misi operasi intelijen tersebut, Direktur CIA Allen Dulles dan Wakil Direktur CIA Charles Cabell, keduanya dipaksa mengundurkan diri.

Pada tahun sebelumnya, AS juga menggelar operasi intelijen menggulingkan Perdana Menteri Mohammed Mossadegh (1953) di Iran dan Jacobo Arbenz Gusman (1954) di Guatemala. Sedangkan operasi intelijen yang terbaru adalah operasi yang menimpa Irak dan Saddam Husein di tahun 2003.

Kenyataan lain dari dunia ke-agen-an sebenarnya harus membuat kita berhati-hati melontarkan tuduhan tanpa bukti kepada orang-orang yang nyata dengan kesholihannya, dan nyata dalam pelayanannya kepada umat. Sementara catatan sejarahnya menunjukkan mereka adalah orang-orang yang lurus dan hidup dan besar di lingkungan yang ikhlas menegakkan kalimatullah.

Sah-sah saja jika menyebut Yuri Vladimirovich Andriprov yang memimpin Rusia tahun 1982-1984 adalah seorang agen intelijen. Sebab dia pernah menjabat sebagai Direktur KGB. Atau menyebut Presiden Rusia saat ini, Vladimir Putin, sebagai agen intelijen, karena pernah menjadi agen intelijen KGB di Jerman Timur. Bahkan kemudian pernah menjabat sebagai ketua Dinas Rahasia Rusia FSB atau Federal Security Bureau  pada  Maret 1999 sampai November 1999. Tapi apakah dengan biografinya yang penuh dengan catatan dunia ke-agen-an lantas secara otomatis saat ini dia bekerja untuk KGB. Jika jawabannya belum tentu, maka apalagi sosok pemimpin negara yang track recordnya bersih dari dunia ke-intelijen-an?

Dengan demikian, jika memang Erdogan dan Ghul benar seorang Agen AS, maka rekayasa peta politik di Turki akan anyir dengan aktivitas operasi strategis yang gencar dilakukan oleh agen intelijen yang bekerja untuk Erdogan dan AS. Dan dengan ‘head to head’ berhadapan dengan ‘pejuang’ sekulerisme Turki yang di back-up
penuh kalangan militer. Maka proses pergantian kepemimpinan Turki dipastikan harus berdarah-darah. Sayangnya, fakta itu tak pernah terjadi. Bahkan seharusnya intelijen Barat akan lebih menguatkan posisi sekuler Kemalis yang telah sekian dasawarsa lamanya mengekang dan mendiskreditkan mayoritas muslim Turki, bukan sebaliknya berada dibalik para aktivis Islam yang sebentar lagi akan menggolkan pencabutan Undang-Undang yang melarang Pemakain Jilbab di Kampus-kampus Turki. Bukankah muka Barat saat ini sungguh terang-terangan memusuhi Islam? Dan AS akan bergandengan dengan siapapun yang bisa menikam Islam meski dari belakang. Baik dari kalangan non-Islam maupun kalangan Islam sendiri, termasuk dengan berbagi kelompok yang mengaku-ngaku sebagai gerakan Islam.

Karenanya, secara pribadi penulis menantang Amir Hizbut Tahrir, Syeikh Ata Abu Rashta, dan para juru bicara Hizbut Tahrir di seluruh dunia (termasuk Ismail Yusanto di Indonesia) untuk membuktikannya bahwa duo Erdogan-Ghul adalah agen AS.

Dengan begitu, jika Syeikh Ata Abu Rashta menuduh bahwa Erdogan dan Ghul adalah para Agen AS, maka beliau harus menunjukkan bukti siapa-siapa saja (para agen intelijen) yang bekerja di lapangan untuk memuluskan Erdogan-Ghul ke tampuk kursi kepemimpinan Turki. Atau setidaknya menunjukkan bukti track record
keduanya bekerja melayani AS sebagai agen intelijen. Jika tidak mampu membuktikan, maka suka atau tidak suka, malu atau tidak malu, dan mau ataupun tidak mau, pada dirinya sendiri bersama dengan orang-orang yang menyebarkan berita bohong dari artikel panjangnya yang membidik Erdogan-Ghul, melekat padanya dosa sebagai seorang Agen AS. Menyedihkan memang.

(bersambung…)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer