June 26, 2008

Daya Juang Turki

Filed under: NASEHAT

BELAJAR DARI ‘FIGHTING SPIRIT’ TURKI


Tim besutan Fatih Terim mampu menampilkan icon baru di Uero 2008 ini. Mereka dikenal sebagai Tim yang memiliki semangat dan daya juang tinggi meski akhirnya harus kandas di semifinal menghadapi Jerman (26/06/08). Sebab, dimanapun pertandingan memang yang terpenting adalah menang, bukan sedikit atau banyak selisih gol yang diciptakan. Namun seringkali sikap mental positif yang menonjol dalam sebuah pertempuran jauh lebih berarti ketimbang kemenangan itu sendiri. Seperti ajang Motor GP beberapa pekan lalu, dimana Stonner jauh melaju sampai finish meninggalkan pembalap-pembalap lainnya, termasuk Rossi yang masuk finish diurutan kedua dibalakang Stoner. Namun, sepanjang beberapa lap terakhir kamera lebih sering menyorot upaya Rossi yang sedikit-demi sedikit menyalip lawan-lawannya dari posisi awal yang hanya start di posisi ke-7. Sementara sejak start Stoner memang sudah diposisi pertama. Stoner memang memenangi kejuaraan, namun Rossi memenangi pertempuran. Stoner win the game, but Rossi win the war. Sama halnya dengan Timnas Turki di Uero 2008 ini.

Dunia akhirnya harus mengakui meski Jerman win the game, but Turki win the war. Mengapa? sebab debut Turki sejak pertarungannya di kualifikasi group telah menunjukkan semangat pantang menyerahnya yang sungguh sangat luar biasa, bahkan mampu menumbangkan mimpi klub-klub besar Eropa sekelas Swiss, Ceko, dan Kroasia. Mereka disebut sebagai The Comeback King sekaligus Penghancur Mimpi yang memiliki fighting spirit atau daya juang yang tinggi.

Dari Underdog menjadi ‘King’

Turki datang ke Uero 2008 sebagai sebuah tim underdog yang sama sekali tak diperhitungkan. Penggila sepak bola bisa jadi menanggap keberadaan Turki di group A sebagai tim ‘bonus’ untuk asah kaki para pemain klub besar Eropa lainnya merumput di Swiss & Austria ini. Namun sejarah baru telah membuktikan bahwa Turki mampu lolos sampai ke semifinal menumbangkan tim-tim besar di Group A dan perempat final. Gol-gol yang dilesakkan ke gawang lawan di detik-detik terakhir menjelang pertandingan usai membuat gelar tim dengan semangat juang tinggi disandangkan kepadanya.

Ya, podium semifinal yang mereka pijaki menjadi bukti bagaimana semangat juang mereka yang tak kenal lelah. Meski pada pertandingan pertamanya kalah ditekuk Portugal 0-2, namun pada putaran berikutnya Turki mampu mempecundangi tuan rumah Swiss dengan skor 2-1. Padahal saat itu Turki tertinggal lebih dulu dan akhirnya membalik keadaan pada menit terakhir.

Demikian pula pada putaran ketiganya melawan Ceko. Keunggulan Ceko 2-0 sampai menit ke-75 secepat kilat di-putarbalik-kan Semith Senturk cs menjadi 2-3. Hanya dalam 15 menit gol demi gol di sarangkan Turki ke gawang Ceko. Tak pelak pertandingan tragis ini membuat syok Petr Cech dan kawan-kawan.

Pertarungan paling tragis adalah saat Turki berhadapan dengan Kroasia di perempatfinal. Laga rumput hijau yang berlangsung alot harus berjalan tanpa gol hingga menit ke 90. Perpanjangan waktu 30 menit pun pada akhirnya menjadi sejarah pilu bagi tim unggulan Kroasia. Bagaimana tidak, gol ‘emas’ yang dilesakkan Ivan Klasnic di menit 119 dilumerkan secara mengejutkan oleh tendangan ‘maut’ Semith Senturk tepat di menit 120. Adu pinalti atas kedudukan 1 sama menjadikan Kroasia tersungkur di kaki Turki dengan skor 1-3. Benar-benar tragis bagi Croasia.

Pertandingan di Stadion St. Jakob-Park, Basel, semalam, bisa dikatakan pertandingan yang sangat menegangkan. Setidaknya hal itu terlukis dari pernyataan Kanselir Jerman, Angela Merkel, yang dengan setia mengikuti pertandingan Jerman melawan Turki sejak awal hingga akhir pertandingan. "Saya harus bilang kalau saya sering menahan nafas", ujarnya.

Laga Kamis dini hari ini juga sekaligus mengukuhkan Timnas Turki sebagai kuda hitam yang lahir di Uero 2008. Meski merumput di semifinal dengan hanya 15 pemain siap tanding. Minus beberapa pemain utama yang terpaksa duduk di kursi penonton lantaran cidera dan akumulasi kartu kuning, namun Turki mampu melayani dengan sangat ajaib tim raksasa Jerman yang turun dengan kekuatan penuh. Bahkan Jerman dibuat tercengan karena jala gawangnya lebih dulu bergetar akibat sepakan Ugur Boral di menit ke-22.

Menghadapi gempuran The Comeback King (julukan yang diberikan kepada Turki karena gol-golnya dimenit terakhir) membuat Ballack cs mati kutu hampir sepanjang pertandingan melawan kegigihan tim asuhan Terim ini. Hal ini diakui oleh penentu kemenangan Jerman, Philipp Lahm. Ia mengatakan "Kami bermain tidak begitu baik, dan Turki menguasai hampir di seluruh bagian pertandingan dan itu membuat kami sangat kesulitan."

Meski akhirnya Turki harus kalah, namun pelatih yang pernah ‘mengecat’ Galatasarray, Ac-Milan dan Fiorentina ini, merasa sangat bangga dengan kesuksesan tim asuhannya. Ia mengatakan "Bertahun-tahun ke depan, ketika publik bicara soal Uero 2008, maka mereka akan mengingat Turki. Mengingat kesuksesan kami".

Daya Juang yang Tinggi

Laga Turki di Uero 2008 ini patut diajungi dua jempol. Tak hanya karena mampu menembus babak semifinal melibas klub-klub unggulan Eropa, namun kebanggaan itu lebih disebabkan nilai performance yang berhasil mereka bekaskan kepada miliaran pasang mata diseluruh penjuru dunia bagaimana seharusnya setiap kita memiliki daya juang atau Fighting Spirit. Setidaknya ada 3 macam daya juang Turki yang bisa kita ambil hikmahnya, yaitu:

Pertama, daya juang di tengah banyak kelemahan. Ketika sebagian besar pemain utama mereka harus absen, namun sedikitpun mereka tak gentar mengadapi klub besar Jerman yang turun dengan kekuatan pemain utama 100%. "Jerman memang tim hebat, tapi kami tidak takut. Dan kami akan menang", demikian tukas salah seorang fan Timnas Turki.

Pernyataan seorang fan tersebut memang bukan isapan jempol belaka. Hal ini dibuktikan ‘Ay-Yildizhar’ sejak menit pertama peluit dibunyikan. Tim Turki terus merangsek dan mampu mengimbangi permainan Jerman yang full-team utama. Bahkan mampu mengawali penjebolan gawang Jerman yang dikenal disiplin dan ketat penjagaannya. Jaring Jens Lehmann pun bergetar.

Kedua adalah daya juang dari pressure atau tekanan. Bisa dibayangkan, selama pertandingan sejak di kelas Group, Turki harus melewati pertandingan selalu dengan ketertinggalan skor terlebih dahulu. Ketika melawan Swiss, Turki tertinggal 0-1. Namun pada detik-detik terakhir mereka bisa merubah angka tersebut dengan angka 2-1. Melawan Ceko lebih fantastik lagi, hanya dalam tempo di 15 menit terakhir, Turki mampu melesakkan 3 gol sekaligus dari sebelumnya tertinggal 2-0 sampai menit ke-75. Kedudukan pun berubah menjadi 2-3 untuk kemenangan Turki. Sama halnya saat melawan Kroasia, Turki mampu menyamakan kedudukan di menit 120 perpanjangan waktu yang mengantarkan tim tersebut menang 1-3 lewat adu pinalti. Tak heran jika mereka mendapat gelar "The Comeback King".

Nilai lebih lain yang ditunjukkan Ay-Yildizhar ini adalah konsistennya berlaku fair meski bermain under-pressure. Karenanya wajar jika Colin Kazim-Richards, gelandang Turki, menyampaikan kritikan keras atas gol kemenangan Jerman. Ia mengatakan, "beberapa kali kami membuang bola (karena ada pemain yang jatuh cedera) sepanjang turnamen ini, dan akan sangat baik jika mereka (Jerman) juga melakukan hal yang sama. Itu sedikit mengecewakan karena saya sedang terjatuh. Saya bukan tipe pemain yang terjatuh jika bukan benar-benar cedera. Buktinya saya kemudian langsung diganti", tegasnya.

Ketiga, daya juang dari stigma Inferioritas. Tidak bisa dipungkiri bahwa tim asuhan Fatih Terim ini adalah satu-satunya perwakilan ‘timnas muslim’ yang berlaga di pertandingan bergengsi Piala Eropa ini. Trackrecord dan pamornya yang bisa dibilang kalah jauh dari Timnas negara-negara besar Eropa lainnya seperti Italia, Spanyol, Portugal, Perancis, Jerman, Swiss, Croasia, maupun Ceko, tak membuat tim asal negara Erdogan ini sekedar sebagai penggembira saja.

Meski awal kehadirannya dipandang sebelah mata sebagai underdog, Turki mampu bangkit dari persepsi sebelah mata kebanyakan penikmat dan pengamat bola dunia. Kekalahannya bertarung pada pertandingan perdana melawan Portugal terbukti sekedar menjadi pelajaran untuk terus melaju ditengah-tengah arus opini yang menjagokan timnas negara-negara Eropa umumnya. Dengan prestasinya kini, maka Eropa harus mengakui negeri muslim Turki (khususnya) telah sejajar dengan negara-negara besar di Eropa.

Mengapa mereka bisa melalui berbagai kesulitan dan tekanan luar biasa yang dihadapi? Baik dari mulai sinisme, minimnya ketersediaan SDM, maupun ketertinggalan serta peluang kekalahan. Jawabannya adalah karena dalam setiap perjuangan selalu ada peluang untuk meraih kemenangan. Harapan Itu masih ada, dan selalu ada. Lantas, bisakah kita bangsa Indonesia yang seringkali merasa telah terjerembab dalam berbagai kesulitan, kesusahan, kemiskinan, kebodohan, dan kelemahan, mau mengambil pelajaran dari perjuangan Turki?

Sebab sesulit apapun jalan yang harus ditempuh, harapan itu akan selalu ada. Yang pasti itu semua harus dilakukan dengan langkah nyata. Bukan hanya sekedar bicara. Bangkitlah Negeriku, Harapan itu Masih Ada.

 

March 17, 2008

Rizki dan Ghaza

Filed under: NASEHAT

MENGHITUNG BELANJA RIZKI RIDYASMARA
DI TENGAH DERITA WARGA GHAZA


Dalam tulisannya "Antara Bali dan Ghaza" yang berseliweran di dunia maya sejak Februari 2008 lalu, sdr. Rizki Ridyasmara mengawali ulasannya dengan sebuah kata kunci, yaitu ‘empati’. Sebuah kata yang ia kaitkan antara kondisi rakyat Ghaza di Palestina, dengan hajatan PKS yang menyelenggarakan acara Mukernas di Pulau Bali awal Februari silam. Secara keseluruhan, dari tulisannya dapat ditangkap bahwa artikel tersebut mempersoalkan keputusan PKS yang dengan penyelenggaraan Mukernasnya di Bali telah menciderai penderitaan bangsa Palestina di Ghaza. Meski sejauh ini harus diakui bahwa PKS adalah satu-satunya lembaga politik Indonesia yang konsisten dan totalitas dalam mendukung dan membela perjuangan bangsa Palestina dengan segala macam bentuk dan aksinya. Demikiankah sudut pandangnya?

Berbicara mengenai apa itu empati, menurut Thomas F. Mader & Diane C. Mader dalam bukunya ‘Understanding One Another’ (1990), ia mendefinisikan bahwa empati adalah "kemampuan seseorang untuk ’share-feeling’ yang dilandasi kepedulian. Dan kepedulian ini ada tingkatan-tingkatannya". Tingkatan paling rendah adalah ketika seseorang baru bisa memahami ungkapan verbal, entah itu perasaan atau pikiran. Sedangkan tingkatan kepedulian yang paling tinggi adalah memahami lalu tergerak untuk memberikan bantuan nyata yang dibutuhkan berdasarkan keadaannya.

Secara lebih spesifik, Vincent Liong, seorang psikolog pendiri ilmu Kompatiologi mendefinisikan bahwa empati adalah memahami perasaan atau kondisi pihak lain tanpa terbawa untuk mengikuti kepentingan pihak lain dan mengabaikan kepentingan diri sendiri. Ia sebut hal ini sebagai sesuatu yang bersifat objective. Berangkat dari pengertian di atas ini lah tulisan ini dimulai.

Tak adil rasanya jika persepsi yang dibangun dalam artikel diatas (Antara Bali dan Gaza) tidak dibarengi dengan sedikit ulasan anggaran yang dikeluarkan seorang Rizki Ridyasmara dalam pengeluaran bulanannya. Kenapa? Sebab dalam ‘elegi akhir Januari 2008′ yang ia tulis, demikian jelas dirinya membandingkan one man one dollar aksi solidaritas yang digelar PKS beberapa hari sebelumnya dengan dollar yang menggelontor untuk acara Mukernas PKS. Bahkan tidak hanya itu, jurnalis yang menulis buku ‘Singapura Basis Israel Asia Tenggara’ (2005) ini seolah menempatkan bahwa dana PKS akan turut mengalir ke Israel melalui resort-resort yang melakukan promosinya ke sana. Memang terlalu dipaksakan pra-sangkanya ini.

Sebagai seorang jurnalis senior yang telah berhasil menelorkan beberapa buku, ditambah dengan berbagai tulisannya yang banyak dimuat di berbagai media cetak Islam, tidaklah mustahil bahwa sdr. Rizki ini termasuk seorang yang berpenghasilan lebih dari cukup. Dan penulis khusnudzon kalaupun dirinya turut berpanas ria dalam aksi Solidaritas untuk Ghaza 27 Januari silam ia tak hanya mengeluarkan one man one dollar, namun pasti lebih banyak dari itu (mudah-mudahan).

Sebab, walaupun jargon yang di usung one man one dollar to save Palestina namun banyak orang lain yang jauh lebih kurang beruntung rezekinya juga menginfaqkan berpuluh-puluh dollar untuk rakyat Ghaza di silang Monas siang hari itu. Meski di kantong celananya tersisa sejumlah uang yang sangat mungkin tak sebanyak dengan yang telah di infaqkannya. Juga termasuk periuk nasi yang belum tentu akan mengepul hingga Allah memberikan rezekinya kembali di kemudian hari. Termasuk bayi-bayi mereka yang belum tentu masih memiliki ketersediaan susu di lemarinya. Penulis merasa menjadi bagian dari satu di antara kategori mereka yang berangkat hanya dengan dorongan gejolak iman serta ukhuwah dan sedikit uang di tangan. Buka karena kikir, tapi karena memang cuma itu saja yang ada di tangan. Catatan ini tertuang dalam tulisan ‘Rahasia Keajaiban Sedekah‘.

Sungguh tidak ada yang salah jika banyak peserta yang datang menggunakan mobilnya yang mewah. Pula tak ada yang salah ketika mereka datang dengan menenteng HP ber-camera-nya yang ber-pixel tinggi. Dan tak ada yang salah apabila mereka datang dengan berbagai pakaiannya yang bersih dan berkualitas baik. Sebab itu adalah wasilah mereka untuk bisa hadir bersama saudara lainnya membangunkan umat yang tertidur lewat aksi ditengah terik matahari Ahad itu.

Namun subhanallah, sepertinya tak satupun dari mereka (orang-orang yang hanya memiliki sedikit uang dalam genggaman) yang iri melihat peserta lainnya menghabiskan sekian ratus ribu hanya untuk sekedar membeli bensin atau pulsa. Dan merekapun tak bersu’udzon dengan peserta lain yang mampu berkomunikasi lama-lama dengan telepon genggamnya. Sebab mereka yakin benar, belum tentu nilai pahala mereka lebih kecil dibandingkan orang lain yang menginfaqkan harta berpuluh-puluh kali lipat darinya. Karena mereka juga sama-sama meng-imani Allah dan Rasulnya,

Rasulullah saw bersabda, "Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham." Para sahabat bertanya, "Bagaimana itu?" Nabi Saw menjawab, "Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersodaqoh dengannya, dan seorang lagi memiliki harta-benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disodaqohkannya. (HR. An-Nasaa’i)

Makanya, terlalu mengada-ada dengan tulisannya "Ketika saat berteriak-teriak selamatkan Muslim Ghaza kita hanya menyumbangkan One Man One Dollar. Tapi ke Bali…?" Kecuali jika orang dengan berpenghasilan lebih dari cukup seperti sdr. Rizki ini hanya mengeluarkan 1 dollar saja.

Jika seandainya boleh berhitung berapa belanja yang telah sdr. Rizki ini keluarkan ditengah-tengah kondisi rakyat Ghaza yang lapar dan ketakutan, apakah dirinya telah menginfaqkan 1 dari 2 dirham yang dimilikinya? Mohon maaf, kalau ada yang mengatakan demikian maka itu hanyalah omong kosong belaka. Mari berhitung, apabila ia belanja ditempat yang berbadan hukum, jelas ia telah mengeluarkan 10% uangnya untuk PPN. Jika ia mendapatkan gaji dari perusahaan yang berbadan hukum, ia pun sudah terpotong gajinya sebesar 10% sebagai pajak penghasilan. Lalu jika ia menghabiskan sekian juta per bulannya untuk mengisi bensin, maka 10%-nya sudah jelas masuk ke kantong pemerintah. Persis 10 % dari pulsa bulananya juga secara cuma-cuma masuk ke kas pemerintah, sisanya masuk ke konglomerat pemilik jaringan komunikasi. Belum lagi biaya listrik dan telepon rumahnya. Belum pula jajan anak-anak dan belanja untuk makan bergizi keluarganya. Juga biaya dan bayaran sekolah anak-anak yang sangat mungkin tidak kecil jumlahnya. Juga acara ‘berlibur’ keluarga di akhir pekan setiap bulannya. Berapa yang telah ia dikeluarkan?

Apabila yang dimaksudkan dengan empati terhadap bangsa Palestina yang saat ini menderita akibat tidak memiliki makanan, tidak memiliki obat-obatan, yang rumahnya hancur, yang tidak mampu membeli bensin, yang kegelapan karena ketiadaan pasokan listrik, yang tak memiliki pesawat handphone, yang tak memiliki laptop, yang anak-anaknya tak mampu bersekolah, adalah seseorang haruslah menempatkan pada kondisi yang sama dan sepadan, mengapa sdr. Rizki ini masih merasa nyaman dan cuek dengan berpuluh-puluh persen uangnya yang secara cuma-cuma masuk ke kantong pemerintah dan para pengusaha (yang bukan hal mustahil punya keterkaitan dengan Yahudi)?

Kenapa rumah sang jurnalis ini tidak dirobohkan saja sebagaimana rumah-rumah di Ghaza yang roboh, kenapa tidak jalan kaki saja ke tempat kerja, kenapa HP dan Laptopnya tak dijualnya saja untuk diinfaqkan. Kenapa makan sehari-harinya tidak diganti dengan cukup memakan nasi dan garam saja? Lantas kenapa ia juga harus ikut-ikutan terbang ke Konferensi Al-Quds di Turki 14-17 November 2007 lalu. Memangnya ada yang bisa ia lakukan untuk langsung memerdekakan Palestina dari Israel la’natullah? Bukankah ribuan dollar pasti ia keluarkan untuk itu?

Kalau sdr. Rizki mencari pembenaran bahwa itu semua adalah sebuah konsekuensi dan kewajibannya sebagai orang Indonesia yang harus mengeluarkan pajak, dan berargumentasi bahwa belanja sehari-harinya sebagai kebutuhan dan sarana untuk melangsungkan hidup. Serta terbangnya ke Istanbul sebagai tuntutan pekerjaan, dan hal itu ia anggap sebagai sesuatu yang sah di tengah derita dan sengsaranya warga Ghaza. Lantas adakah sesuatu yang tak pantas dilakukan PKS untuk menggelar salah satu hajat partainya di salah satu bumi yang Allah ciptakan?

Mudah-mudahan di sini tidak perlu mengajari sdr. Rizki bahwa denyut kepartaian diwujudkan dalam siklus fase yang sudah menjadi kebutuhan pokok. Munas, Rapimnas. Mukernas, Musyawarah Majelis Syuro, yang menjadi siklus dalam PKS adalah kebutuhan pokok yang juga wajib dalam sebuah aktivitas lembaga dakwah yang terorganisir. Bukankah setiap mukmin tahu, bahwa kebaikan yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir. Maka untuk memenangkan kebenaran wajib terorganisir dengan baik dan solid.

Kalaupun sdr. Rizki ini mempersoalkan biaya besar yang dikeluarkan partai dakwah ini untuk Mukernas diatas, anggap saja menghabiskan Rp. 5 miliyar, silahkan bagi dengan peserta yang tidak kurang dari 1.500 orang. maka setiap orang kira-kira hanya menghabiskan dana sebesar 3,3 juta. Akan tetapi jika biayanya lebih kecil dari nilai tersebut (misal 1 M), maka jumlah rata-rata yang dihabiskan akan jauh lebih sedikit. Apalagi jika hanya misal 100-200 juta. Dan Mukernas dilangsungkan hanya sekali dalam setahun. Bandingkan dengan belanja bulanan sdr. Rizki Ridyasmara yang penulis yakini jauh lebih besar dari angka itu.

Jika PKS ‘terpaksa’ harus menghabiskan dana ‘besar’ untuk kepentingan dakwah Islam dan kemaslahatan umat, lantas bagaimana dengan anggaran bulanan penulis buku ‘Gerilya Salib di Serambi Makkah’ ini yang tidak kalah besar hanya untuk sekedar melangsungkan hidup? Bandingkan pula berapa dana yang secara rutin di himpun kader-kader PKS diseluruh dunia untuk membantu bangsa Palestina setiap bulannya. PKS tentu berempati terhadap Palestina dalam beragam bentuk aksi, namun PKS sebagai sebuah rumah besar juga harus tetap eksis menanungi isi rumahnya, sebagaimana sdr. Rizki merasa berhak membelanjakan sebesar apapun untuk melangsungkan hidup keluarganya.

Dari uraian ini semestinya bisa membedah, siapa sesungguhnya yang lebih berempati terhadap bangsa Palestina dan rakyat Ghaza, seorang Rizky Ridyasmara atau ratusan ribu kader Partai Keadilan Sejahtera?

Karenanya sangat tidak pantas ketika ia melontarkan dzon kepada para qiyadah PKS dengan ungkapan "Saya tidak sampai hati bersenang-senang, bermalam di kamar ber-AC, menikmati breakfast, lunch, dan dinner di hotel yang berkecukupan, pergi ke pantai di antara jejeran tubuh bugil para turis bule, sedangkan saudara-saudara saya di Gaza, Falujah, dan di belahan bumi lainnya masih hidup bagaikan di neraka jahanam. Saya tidak tega.” Padahal sdr. Rizki ini nebeng rombongan KNRP dan Dr. Hidayat Nurwahid saat digelarnya konferensi Al-Quds di Istanbul Turki silam. Semoga ia sadar bahwa apa yang dituliskannya (Antara Bali dan Gaza) lebih kepada mendatangkan fitnah dan menguliti kekeliruan dirinya sendiri.

Ia lupa bahwa PKS dalam kontrak politiknya dengan SBY 2004 lalu secara tegas mencantumkan persyaratan dukungan untuk Palestina merdeka. Dalam perjalanannya partai Islam ini juga konsisten memonitor implementasi kontrak politik tersebut. Ia juga lupa bahwa kader-kader PKS di parlemen menjadi motor terbentuknya Kaukus Palestina yang secara terus menerus memberikan support politis kepada perkembangan di Palestina. Ia juga lupa bahwa 15 Agustus 2006 silam, rombongan KNRP yang di komandoi Suripto (aleg PKS DPR RI) berangkat ke Libanon dan Palestina di bawah bayang-bayang desingan peluru Israel untuk menyampaikan dana tak kurang dari Rp. 5 milyar hasil penggalangan dari para kader PKS di Indonesia. Sayangnya pada moment itu memang bukan sdr. Rizki yang meliput untuk eramuslim.com.

Ia lupa bahwa selain aksi 27 Januari 2008 lalu, telah didahului ratusan bahkan ribuan aksi penggalangan dana dan kemanusiaan yang digelar PKS untuk solidaritas Palestina. Entah lupa atau pura-pura tidak tahu, bahwa hingga detik ini puluhan LSM yang digalang kader-kader PKS pun telah memberikan aksi yang nyata dengan istiqomah. Bahkan ia pun menafikan bahwa COMES yang terus istiqomah mengkampanyekan galang bantuan untuk solidaritas palestina di gerakkan oleh banyak kader terbaik dari Partai Islam ini.

Ia pun lupa, bahwa ratusan bahkan ribuan syair tentang Palestina telah di ‘ciptakan’ oleh kader-kader Partai Dakwah ini hingga jutaan rakyat Indonesia melek penderitaan saudara mereka, bahkan mencintai mereka sebagaimana mereka mencintai dirinya sendiri. Dadanya bergemuruh dan mulutnya tak henti melafaskan do’a untuk kebaikan, kemuliaan, dan kemerdekaan rakyat Palestina. Ia juga lupa bahwa ratusan bahkan ribuan film dokumenter tentang Palestina telah diproduksi para kader PKS, yang membuat orang-orang terperangah dan kemudian sadar terhadap fakta-fakta kebiadaban Yahudi atas saudara seiman mereka di tanah yang diwariskan itu.

Rasanya tak akan pernah habis menyebut satu per satu apa yang telah dan akan terus diperjuangkan oleh partai dakwah ini untuk membela bangsa Palestina. Dan amatlah malu menyebutkan amal perjuangan yang selama ini telah dilakukan. Namun semoga ini semua menjadi bukti yang akan menghinakan setiap fitnah dan prasangka. Cukuplah Allah dan Rasul-nya, dan orang-orang beriman yang menjadi saksi.

Sdr. Rizki Ridyasmara (yang semoga dirahmati Allah), jika Anda dengan tulisan pemberitaan dan artikel-artikel Anda tentang Palestina membuat Anda merasa paling banyak berbuat untuk Palestina, jika buku dan analisis yang pernah Anda tulis bercerita tentang Palestina, dan hal-hal sejenisnya tentang Palestina, itu semua membuat Anda merasa sebagai orang yang paling berjasa untuk Palestina, maka Anda salah besar. Dan Allah yang Maha Tahu siapa-siapa yang baik amalnya.

Telah berhasil membuat sekian buku dan disebut sebagai jurnalis Islam senior tidaklah cukup untuk menyematkan gelar bahwa Anda sumber kebenaran. Mudah-mudahan Anda menyadari kekeliruan ini. Sayangnya kecerobohan Anda telah dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk merongrong izzah partai dakwah yang berjuang untuk Islam ini. Namun, selalu ada kesempatan untuk meminta maaf bagi orang-orang yang benar keimanannya.

 

February 14, 2008

Wajah Seram VD

Filed under: NASEHAT

WAJAH SERAM VALENTINE’S DAY


Valentine’s Day atau dikenal hari kasih sayang tiba-tiba dianggap sebagai acara paling penting bagi kalangan muda-mudi. Berbagai prosesi pesta pora dan hura-hura selalu mewarnai secara kuat hajatan satu tahunan ini. Bahkan di Inggris 14 Februari dicanangkan sebagai The National Impotence Day atau hari impoten nasional yang bertujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman impotensi 2 juta pria Inggris. Sementara di AS lebih parah lagi. tanggal 14 Februari ditkukuhkan sebagai The National Condom Week alias ‘pekan kondom nasional’ sebagai aksi nyata kampanye nasional penggunaan kondom untuk mencegah mewabahnya HIV/AIDS yang pertumbuhannya di AS semakin sulit dibendung akibat budaya free-sex di negeri Paman Sam itu.

Baru-baru ini hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh sebuah universitas di Thailand sangat menggemparkan dunia. Berdasarkan jaring pendapat yang melibatkan 2.400 remaja Bangkok terkait perayaan hari valentine menunjukkan bahwa 27% dari mereka akan merayakan hari ‘kasih sayang’ itu dengan melakukan hubungan intim dengan pasangannya. Artinya, tidak kurang 1 dari 4 ramaja Thailand sudah bersiap-siap melakukan pesta seks di hari yang sangat familiar bagi kalangan remaja itu.

Bahkan setahun sebelumnya di negara yang sama, 1 dari 3 gadis remaja negeri gajah Putih itu menganggap bahwa Hari Valentine sebagai waktu yang tepat untuk bercinta serta melepaskan keperawanan mereka, Demikian pula dengan jajak pendapat yang dilakukan oleh Assumption University yang mengguncang berbagai kalangan di Thailand quartal pertama 2007 lalu. Hasil jajak pendapat terhadap 1.578 gadis usia belasan tahun itu menyatakan bahwa sepertiga dari mereka berencana melakukan hubungan seks di Hari Valentine bila pacar mereka memintanya.

Tidak jauh berbeda dengan hasil jajak pendapat Assumption University, survey lain yang dilakukan Universitas Thai terhadap 1.222 gadis remaja menyebutkan bahwa 11 persen dari mereka berencana menyerahkan keperawanannya bertepatan dengan malam Valentine.

Lantas bagaimana dengan di Indonesia?? Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia ini nampaknya memang para peniru budaya Barat yang fanatik. Hingga saking fanatiknya banyak dari kalangan generasi penerusnya berpola pikir pragmatis dalam menyerap budaya asing, yeng jelas-jelas tidak mencerminkan tata nilai keislaman dan budaya ketimuran yang kental dengan nilai kesopanan. Kalangan remaja mengadopsi budaya Barat yang mengangungkan syahwat tanpa berupaya melakukan filter atau screening. Akibatnya, budaya yang nampak ‘wah’ seperti perayaan VD ini di telan mentah-mentah meski menerjang pagar-pagar keimanan seorang muslim. Dengan dukungan kampanye industri media yang sangat gencar, perayaan VD di negara tercinta ini semakin parah dan memprihatinkan. Hasilnya bisa disaksikan dari data-data penelitian yang sungguh sangat menyedihkan.

Fenomena sex on valentine dibenarkan oleh dr. Andik Wijaya SMSH, seorang Seksolog dari Surabaya. Ia menuturkan bahwa sekitar tahun 1999, pernah diundang oleh sebuah hotel berbintang di Surabaya untuk menghadiri pesta Valentine’s. Bonusnya adalah para undangan boleh check-in selama sehari bersama pasangan dengan jaminan tak akan di-cek identitas pasangannya (suami istri atau bukan).

Salah seorang penulis, Samsul Ma’arif, pernah melakukan survei terhadap remaja pinggiran Kota Bandung seperti Cimahi, Batujajar, Padalarang, dan Lembang menjelang Valentine’s Day di tahun 2004, Dengan dibantu Lembaga Telaah Agama dan Masyarakat (eL-TAM) sebanyak 500 angket disebarkan ke siswa-siswi tingkat SMA di daerah tersebut. Hasilnya sungguh sangat mengejutkan!

Dari 413 responden yang menjawab angket secara "sah", sebanyak 26,4% mengaku lebih suka merayakan Valentine bersama pacar atau kekasih mereka dengan jalan-jalan, makan-makan, lalu berciuman yang berujung kepada kegiatan seks bebas. Fakta ini diperkuat oleh hasil riset sebuah lembaga sosial di Kota Bandung yang melakukan riset dan survei terhadap perilaku seks di kalangan remaja Kota Bandung serta beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Menurut lembaga Family Health International (FHI) itu, hasil survei menunjukkan bahwa 54% remaja Kota Bandung pernah berhubungan seks. Di susul kemudian berturut-turut Medan (52%), Jakarta (51%), dan Surabaya (47%). Hasil survei yang menggemparkan ini pernah dimuat di harian Kompas, 25 Januari 2006.

Begitulah potret perayaan VD di negeri ini. Tidak kalah mengerikan bukan? Jika di tahun-tahun ‘baheula’ saja sudah seperti itu wajahnya? Bagaimana dengan perayaan VD di tahun 2008 ini? Sedih membayangkannya. Semoga malam ini Allah tidak menurunkan azab dan kemurkaannya akibat ulah ratusan juta pasang manusia di seluruh dunia yang melakukan pesta seks dan kemungkaran. Dan patutlah Dunia Islam bersedih dan semakin terhenyak ketika menyaksikan remaja-remaja muslim kini kian hari semakin buta dengan turut men-skaral-kan perayaan ini dengan mengumbar syahwat dan seks bebas secara lebih berani dan vulgar.

Nyatalah hasil dari misi besar yang pernah dikemukakan Samuel Zweimer dalam konferensi gereja di Quds (1935) yang mengatakan : “Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim. Sebagai seorang kristen tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas yang hanya mengejar kepuasan hawa nafsu”.

Lantas apa yang akan kalian lakukan wahai para penyeru dakwah dengan fakta yang mengerikan ini?? Bukankah kalian adalah pelita yang menerangi umat? Pemimpin bagi diri dan kaumnya yang menanti dan membutuhkan cahaya dan hidayah? Mungkin kita belum maksimal mengerahkan pengorbanan untuk menuntun mereka sehingga mereka malah memilih jauh dengan Islam dan mengikuti millah orang-orang yang sesat.

Ayo singsingkan lengan baju untuk membimbing umat ini kembali dalam kasih sayang Allah, Dzat yang jauh lebih layak dicintai dengan cinta sejati. Bukankah kita ingin umat ini mengetahui, bahwa mereka lebih kita cintai melebihi kecintaan kita pada diri sendiri??


February 12, 2008

Rahasia Keajaiban Sedekah

Filed under: NASEHAT, DARI HATI

RAHASIA KEAJAIBAN SEDEKAH


Hari ini saya membuka friendster. Salah seorang sahabat mengirimkan sebuah nasehat yang membuat hati tertegun dan mata ini berkaca-kaca. Ia mengirimkan sebuah ’surat cinta’ dari Rasulullah saw. Isi suratnya sebagai berikut;

Rasulullah SAW pernah berkata, bahwa setiap masuk pagi, ada dua malaikat mengajukan permohonan mereka kepada Allah SWT. Malaikat pertama berdoa:”Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya”. Yang kedua berdoa:” Ya Allah jadikanlah semakin tidak punya orang yang pelit terhadap hartanya.”

Berbicara mengenai balasan dari Allah atas sedekah ataupun infaq yang telah kita keluarkan, sungguh kita butuh keyakinan yang sempurna, bahwa Allah akan mengganti dengan berlipat-lipat dari arah yang tak pernah kita sangka-sangka sebelumnya. Bukankah Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya? Berikut ini adalah sekelumit pengalaman yang mudah-mudahan bermanfaat buat ikhwah sekalian.

Alhamdulillah, saya sekeluarga sejak beberapa bulan lalu belajar menguatkan keyakinan itu, bahwa Allah akan memberikan ganti yang lebih baik bagi orang-orang yang menginfakkan hartanya. Dan dengan pengharapan yang besar kepada Allah bahwa Dia pasti akan memenuhi janjinya tanpa menunggu waktu yang lama. Saya dan istri juga mulai belajar merutinkan sedekah baik dikala lapang dan sempit. Dengan nilai besar ataupun kecil, dengan jalan menghadiahi orang tua atau saudara. Meski tidak seberapa namun kami belajar untuk mengasah keikhlasan semata karena Allah. Dan dengan jalan menyisihkan infaq untuk fii sabilillah. SubhanAllah, keyakinan itu semakin kuat. Dan janji Allah demikian nampak jelas. Salah satunya adalah pada aksi solidaritas Palestina untuk warga Ghaza yang lalu.

Saya dan istri memang orang yang berpenghasilan utama dari gaji yang kami terima setiap akhir bulan. Beberapa penghasilan dari usaha lain (memang sudah menjadi komitmen) sementara tidak kami masukkan dalam penghasilan keluarga. Praktis kami menghidupi diri dengan gaji bulanan tersebut. Maka, kejadian uang habis sebelum jatuh tanggal menjadi hal yang lumrah dan biasa. Tapi kami tak berputus asa, bahkan kami makin semangat untuk berinfaq sekaligus menguatkan keyakinan terhadap janji-janji Allah.

Saat aksi Palestina 27 Januari lalu, kondisi kantong keluarga memang sedang kurang bersahabat. Baru 3 hari terima gaji, cuma tersisa beberapa rupiah saja. Bukan karena dibelanjakan konsumtif, karena kebetulan bulan Januari itu saya mengembangkan usaha yang terpaksa harus mengambil sebagian besar penghasilan bulanan yang biasanya saya terima. Sebagian sisanya sudah pasti dibelanjakan untuk mujahidah kecil kami, Safiya Salwa Syahidah, yang saat ini menginjak usia 10 bulan. Namun, atas dasar cinta dan empati kepada saudara seiman di Ghaza, kami sekeluarga berangkat ke Monas dengan semua bekal maal yang masih tersisa. Ada beberapa lembar uang kertas yang tersumpal dikantong celana. Sayangnya hanya 2 lembar yang signifikan nilainya. Beberapa yang lain hanya cukup untuk membeli makanan sederhana dan air minum untuk kami saat aksi siang harinya, termasuk buat Salwa. Itu pun mungkin tidak cukup.

Namun, saya sudah meniatkan untuk menginfaqkan 1 lembar dari 2 lembar yang cukup berharga itu, (jika tak layak disebut SANGAT berharga). Istri awalnya sedikit agak ragu, mengingat penghasilannya yang beberapa hari lagi keluar sudah ter-pos-pos sedemikian rupa. Sementara untuk melewati satu bulan kedepan masih sangat panjang. Sehingga sepeser dari uang yang tersisa menjadi sangat berarti. Sampai saat aksi solidaritas untuk Palestina itu lewat separuh jalan, istri masih berat hati. Namun bayang wajah duka lara saudara-saudara di Ghaza membuat menitik air mata ini. Saya coba terus meyakinkan istri, bahwa Allah pasti akan mengganti dengan yang jauh lebih banyak. Apalagi mengeluarkan sedekah karena Allah di kala sempit. Allah pasti tak akan membiarkan begitu saja hamba-Nya yang punya ar-rajaa’ dan al-hub kepada saudaranya seiman.

Aksi itu sudah sampai dipenghujungnya, kami pun bersiap melangkah pulang seraya menunggu bus umum yang menuju ke Kota Tangerang. Saya merogoh saku celana dan seketika terhenyak, ternyata kami belum berinfak. Saya genggam beberapa lembar uang kertas di tangan. Dan kutatap wajah istri untuk meminta persetujuannya mengambil satu diantara 2 lembar uang yang sangat berharga itu, sebagaimana yang dari awal sudah diniatkan. Sementara 1 lembar lagi kami pakai untuk ongkos naik bus. Akhirnya, istripun mengangguk tanda setuju.

Saya pun bersyukur. Karena ‘pasukan pengumpul’ infaq dari panitia aksi sudah sangat jauh dari posisi kami, maka sembari meraih Salwa saya mendekati beberapa panitia petugas medis Aksi yang kebetulan sedang berhenti beberapa puluh meter di dekat kami. Setelah sejenak kami beri penjelasan bahwa kami terlupa belum infaq, maka petugas medis bersedia menerima titipan tersebut dari kami. Salwa yang menggenggam uang itu, dan itu pertama kali baginya berlatih untuk berinfaq. Dalam hati, ucapan ‘bismillah’ saya kuatkan saat jemari mungil Salwa melepaskan satu lembar uang berharga itu. Dan akhirnya kami pulang dengan hati yang tentram, penuh syukur, dan berserah diri kepada Allah. Semoga sedikit dari rizki yang kami infaqkan bisa memberi manfaat untuk anak-anak Ghaza yang teraniaya dan tak mampu membeli susu.

Janji Allah itu tak pernah meleset dan ingkar. Allah memenuhi janji-Nya dengan cara-caranya sendiri. Belum genap 24 jam semenjak aksi itu, dari arah yang tak disangka-sangka, lewat tangan istri, Allah SWT memberikan ganti sejumlah uang sama persis dengan nilai uang yang kami infaqkan sehari sebelumnya. Saat istri menyampaikan kabar itu, mata saya berkaca-kaca. “Subhanallah, Engkau Maha menepati janji ya Allah”. Hati saya bergemuruh, bukan karena uang yang kami terima itu. Namun karena untuk yang kesekian kalinya bagi kami, Allah memenuhi janji-Nya secepat kilat.

Tidak sampai disitu, dari uang itu kami pun sepakat untuk menyedekahkan sebagiannya. Subhanallah, 10 hari kemudian lewat tangan istri kembali, lewat jalan yang tak disangka-sangka Allah menggantinya 7 kali lipat dari sebagian yang kami infaqkan. Dengannya kami pun menyedekahkan sebagian lagi dari yang 7 kali lipat itu, dan 2 hari berikutnya Allah yang Maha Kaya menggantinya 10 kali lipat dari yang kami sedekahkan. Padahal biasanya kami hanya menerima penghasilan dari gaji tetap bulanan saja yang tak ‘mungkin’ bertambah di tengah jalan.

Memang Allah benar-benar mengganti sedekah hamba-Nya dengan berlipat-lipat keberkahan. Bahkan di pagi ini, saya mendapatkan kabar gembira lewat telepon dari seorang ikhwah yang bekerjasama mengelola sebuah usaha baru yang saya jalankan. Bahwa usaha yang dibuka hari pertama dihari kemarin menunjukkan optimisme keuntungan yang sangat menjanjikan. Alhamdulillah.

Terima kasih yaa Rabbana, mudah-mudahan Engkau anugerahkan kepada kami dan saudara-saudara kami rezeki yang melimpah lagi berkah. Agar kami bisa kembali bersedekah (dengan lebih banyak) untuk saudara-saudara kami lainnya yang Engkau uji dengan kekurangan harta dan ketakutan. Ya Allah, sayangi dan kasihilah saudara-saudara kami di Ghaza dengan kuasa-Mu. Lindungi dan selamatkan mereka dari orang-orang yang dzalim lagi aniaya.

Ya Allah Dzat yang Maha Perkasa, kami beriman atas janji-janji-Mu. Dan semakin kuat atas keyakinan kami, bahwa iman, ukhuwah, dan rezeki di tangan hamba-Mu tak pernah Engkau sia-siakan. Engkau pasti bersama kami dengan keimanan kami, dan Engkau pasti menjadi Penolong kami dengan persaudaraan kami. Tak ada nilai yang kecil di sisi Engkau, ketika sedekah ini dibalut dengan keikhlasan dan cinta atas nama-Mu.

July 13, 2007

Memaknai Kemerdekaan

Filed under: NASEHAT

MERDEKA DARI PENGHAMBAAN KEPADA THAGHUT

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain." (Al-Ma’idah: 20)

Kemerdekaan adalah karunia dan nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, nikmat kemerdekaan harus terus disyukuri dan dimaknai lebih dalam dari hanya sekedar peringatan ceremonial belaka. Bukan lantaran ia dicapai dengan pengorbanan harta, jiwa dan raga saja, namun karena kesadaran kita juga bahwa kemerdekaan itu tak akan mungkin tercapai tanpa campur tangan dan karunia Allah Dzat yang Maha Kuasa.

Hal ini dipahami benar oleh paru guru dan pahlawan pendahulu kita hingga kesadaran iman itu pun termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi ” ..atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa…”. Sebuah warisan kejujuran yang harus direnungi secara mendalam oleh generasi penerus di masa kini dan masa yang akan datang. Bahkan sebagaimana ayat 29 surat Al-Ma’idah di atas, Allah benar-benar mempertegas dalam firman-Nya bahwa kemerdekaan adalah pemberian-Nya. Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam Indonesia harus mensyukurinya dengan penuh tawadhu dan rendah hati.

Apabila pada masa-masa jahiliyah dan zaman kolonialisme wujud penjajahan yang menimpa umat adalah berupa penindasan fisik dan ancaman senjata, maka pada era kemerdekaan ini ‘musuh’ umat Islam menjelma dalam bentuk lain yang lebih ‘laten’ dan tidak kalah berbahaya. Peperangan yang mencuat adalah peperangan aqidah kaum muslimin dengan musuh-musuh yang beragam dan selalu memperbaharui diri.

Harta, kekuasaan, jabatan, uang, kesenangan, kemewahan, fasilitas hidup, mode, mistik, jimat, perdukunan, ramalan bintang, perjudian online, narkoba, seks bebas, dan tayangan-tayangan media yang menyesatkan dewasa ini sudah menjadi sosok-sosok monster yang merongrong aqidah kaum muslimin. Taghut tidaklah semata-mata dipahami sebagai sesosok berhala dan patung yang disembah dan dikeramatkan sebagimana dikenal pada masa-masa awal turunnya Islam. Namun pada hakikatnya, thaghut dapat berbentuk apa saja yang membuat hati dan pikiran manusia merasa condong dan memuliakannya, bahkan mencintainya melebihi cintanya kepada Allah SWT.

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cintanya kepada Allah…” (Al Baqarah : 165)

Persoalan ini tentu tidak bisa dianggap enteng, sebab perkara-perkara tersebut diatas bukanlah fakta yang dibuat-buat. Namun sebuah realitas masyarakat yang sungguh sangat memprihatinkan. Apalagi serangan aqidah itu sudah secara langsung memasuki rumah-rumah melalui media televisi kita tanpa ada sedikitpun benteng yang mampu menahannya.

Kita bisa melihat bagaimana sesungguhnya pertelevisian kita sudah tidak lagi berpihak kepada umat dalam membentengi aqidahnya. Kekuasaan dan harta dijadikan komoditas yang memicu perseteruan, kemewahan di ‘dewa’ kan, ramalan di perdagangkan dengan vulgar dan tanpa malu-malu. Kemaksiatan dipertontonkan dengan kebanggaan. Dan banyak hal lain yang kesemuanya semakin hari semakin mengikis aqidah dan iman kaum muslimin.

Itu semua lantaran manusia telah menjadikan karunia dan pemberian-pemberian Allah sebagai sosok taghut yang mereka ’sembah’ dan bangga-banggakan. Oleh karena itu, kaum muslimin harus sadar dan segera bangun dari keterpurukan aqidah. Jangan sampai kita terjerembab dalam kedangkalan iman dan kedustaan aqidah, sebagaimana Allah peringatkan didalam firman-Nya:

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (An-Nahl: 36)

Persoalan aqidah umat ini sudah memasuki kondisi kritis dan merisaukan. Dan harus ada tindakan konkrit untuk menyelamatkan masyarakat dari bahaya laten yang menggerogoti keimanan kaum muslimin. Generasi muda Islam harus menjadi garda terdepan dalam membentengi umat dari keruntuhan iman.
 

July 4, 2007

Ayo Mukhoyyam

Filed under: NASEHAT

NGGA’ IKUT MUKHOYYAM KO’ BANGGA..?

 
Mukhoyyam adalah bagian yang tak terpisahkan dari kewajiban dan tuntutan tarbawi setiap kader dakwah. Tidak perduli tua atau muda, senior atau pun pemula. Dan mukhoyyam pun harus ditunaikan baik dalam kondisi lapang maupun sempit, dalam kondisi rizki melimpah ataupun seret. Sebab, mestinya setiap kader dakwah sudah jauh-jauh hari menyiapkan waktu dan maal untuk menyongsong event serius ini.

Urgensi mukhoyyam tidak lebih longgar dari kehadiran kader dalam TRP pekanan. Juga tidak lebih ringan dari menjalankan amanah struktural. Karena ia adalah bagian dari manhaj tarbiyah yang kita yakini kemuliaannya.Tantangan berat yang semakin beragam didepan mata, seharusnya mendorong para aktivis da’wah untuk memanfaatkan sarana mukhoyyam sebagai kesempatan emas untuk menge-charge kembali spirit dan kebugaran fikroh yang lambat laun mengendur seiring perjalanan waktu. Dengan sedikit kesulitan dan ujian dalam kegiatan mukhoyyam diharapkan agar setiap kader bisa menapak tilasi, merenungi dan bertafakur bahwa perjalanan da’wah dalam tataran implementasi jauh lebih sulit dan kompleks. Karenanya dibutuhkan kader-kader yang kuat secara fisik dan mental, kader yang cerdas dan mampu bertahan dalam kondisi sesulit apapun, dan kader yang mampu memikul beban amanah untuk memenangkan da’wah ini. Sehingga agama semata-mata hanya milik Allah SWT.

Ada beberapa hal yang harus dipahami setiap kader dakwah bahwa kewajiban mukhoyyam memiliki makna penting dalam amal jama’i, yaitu:

Membangun Kekuatan Ukhuwwah (Qowwiyul ukhuwwah)

Mukhoyyam akan menguatkan ukhuwah, karena disini para kader da’wah akan menjalani proses pengenalan (taaruf) dalam wujud yang lebih nyata. Saling bisa mengenali kelebihan dan kekurangan saudaranya untuk kemudian muncul perasaan saling memahami (tafahum) dan berlapang dada. Sehingga dengan itu setiap kader semakin menyadari pentingnya amal jama’i, saling melengkapi, dan ber-takaful (saling menanggung) dalam amal-amal da’wah.

Membangun Kekuatan Keberanian (Qowwiyul Saja’ah)

Tantangan da’wah hari ini memiliki jenis yang jauh lebih kompleks dan beragam daripada masa-masa sebelumnya. Tidak hanya ancaman dan rongrongan dalam bentuk pemikiran saja, namun juga berupa opini, teror, ancaman fisik dan lain-lain. Perlu kesiapan memadai untuk bisa menanggulangi dan mencari jalan keluar.

Performance kader dalam rutinitas TRP sangat tidak mampu menunjukkan kebutuhan ini. Apalagi dalam perkembangannya tidak sedikit TRP yang mengalami pasang surut dalam frekuensi kuantitas dan kualitasnya. Sehingga potensi keberanian yang dimiliki setiap kader kurang terasah dan terlatih untuk merespon tantangan dan ancaman terhadap da’wah ini. Meskipun keberanian tidak hanya terukur dari hitungan pengendalian emosi dan fisik semata. Mukhoyyam adalah media yang cukup tepat untuk ‘menajamkan’ potensi yang satu ini.

Membangun Kekuatan Kedisiplinan (Qowiyyul Dzawabit)

Maraknya bangku kosong di awal acara yang sering mewarnai program-program da’wah yang selama ini diselenggarakan akan terus menjadi ‘budaya’ yang mengakar jika kedisiplinan kader semakin lama semakin tidak teruji. Apabila untuk sekedar hadir saja tidak bisa disiplin dan tepat waktu, lalu bagaimana jika seorang kader diberikan kepercayaan untuk mengelola amanah? Analogi yang fair. Jika urusan sepele saja tidak mampu, maka untuk tanggung jawab yang jauh lebih besar pasti akan berantakan dan jauh dari sukses dan keberkahan. Da’wah ini akan sangsi untuk memikulkan amanah kepada kader-kadernya yang lemah disiplin. Padahal kita-kita juga sebagai kader-kader da’wah yang menjadi batu bata penopang bangunan ini. Jika kita tidak layak memikul amanah karena lemahnya disiplin kita, lantas apakah da’wah ini harus memberikan kepada orang lain?

Membangun Kekuatan Daya Responsibilitas

Tidak bisa dipungkiri bahwa terbengkalainya kerja-kerja da’wah di berbagai tempat banyak disebabkan semakin payahnya daya responsibilitas kader. Luntur oleh karunia dan kemudahan yang pada hari ini semakin gampang digenggam tangan. Sungguh keliru jika ‘gaya amal’ kita terus menerus seperti ini. Apalagi jika semakin parah?

Tentu kita sering mendapatkan informasi jika saat-saat ini tidak sedikit aktivis da’wah yang urung menunaikan tugas gara-gara terhalang gerimis dan rengekan anak. Atau karena sedikit kemalaman dan ‘jauh’. Padahal sarana kehidupan yang dimiliki kader semakin lengkap mengingat latar belakang mata pencaharian dan ekonomi rata-rata kader cukup baik dan mapan. Tidak kurang kader yang memiliki alat transportasi, motor bahkan mobil. Dan berapa banyak kader yang tidak punya HP dan telepon, sangat sedikit. Namun sayangnya, anugerah dan kesempatan lebih yang Allah berikan kurang dimanfaatkan untuk mendongkraknya dalam amal-amal da’wah.

Bukan perkara siapa yang salah. Namun yang paling jelas bisa dipahami adalah bahwa lemahnya daya responsibilitas kita dalam menyambut seruan kerja da’wah sejauh ini disebabkan semakin luntur dan pudarnya imtimam kita terhadap manhaj. Oleh karena itu, untuk mewujudkan mimpi-mimpi besar kita dalam da’wah, yaitu kemenangan dan kemuliaan di sisi Allah SWT, harus senantiasa dijaga dan dipelihara kualitas ketaatan dan loyalitas kita terhadap manhaj dan jalan dawah. Atau jika diperlukan, harus ada ‘renovasi’ serius untuk mengembalikan fikroh dan kesadaran kader kepada manhaj yang mulia. Karenanya, mukhoyyam menduduki posisi yang strategis untuk memelihara orisinalitas fikroh kader dan terjaminnya keberlangsungan pembenahan umat. Sehingga meninggalkannya bagaikan melepas salah satu pilar bangunan da’wah ini.

Dibagian akhir tulisan ini, penulis menghimbau kepada seluruh kader* Kota Tangerang yang belum mengikuti mukhoyyam sebelumnya di DP masing-masing, agar segera bersiap diri untuk bersama kader lainnya mengikuti Mukhoyyam Dasar II yang akan diselenggarakan pada hari Jum’at - Ahad, 6 - 8 Juli 2007 di Gunung Bunder, Bogor. Dan bagi para muwajih, alangkah indahnya jika Antum memahami dengan lebih baik urgensitas mukoyyam ini, dan mendorong dengan serius para binaannya untuk mengikuti mukoyyam ‘wada’ 2007 ini. Jazakumullah.
 

May 10, 2007

Membangun Akhlak

Filed under: NASEHAT

JALAN MENUJU AKHLAKUL KARIMAH


Berbicara tentang implementasi akhlakul karimah tentu tidak luput dari proses pembinaan yang tidak kenal lelah. Karena akhlakul karimah tidaklah cukup hanya berupa visi di atas kertas. Dan akhlakul karimah dalam bentuk sebuah tatanan moral masyarakat juga tidak mungkin dapat terwujud hanya melalui sarana dan media fisik yang mensosialisasikannya.

Oleh karena itu, harus dipahami bersama bahwa terwujudnya tatanan masyarakat yang berpijak pada nilai-nilai akhlak yang baik, mesti dicapai dengan usaha keras semua lapisan masyarakat yang menyadari urgensitas tujuan mulia ini. Dan upaya-upaya yang dilakukan tentunya tidak hanya berwujud fisik belaka, tetapi harus ditekankan kepada proses pembinaan (tarbiyah) moral dan akhlak masyarakat secara komprehensif dan terus menerus.

Sebagai pemuda Islam, kita tentu menyadari dengan baik tentang peran yang harus diemban untuk turut berpartisipasi dalam perjuangan bersama membangun masyarakat yang berakhlak mulia. Meski tidak mudah, namun cita-cita mulia tersebut bukanlah impian yang mustahil untuk diwujudkan. Lebih mendasar lagi, karena upaya mewujudkannya merupakan sebuah misi kenabian, ibadah dan jihad yang sangat tinggi kedudukannya di hadapan Allah SWT.

Demikian pentingnya kedudukan akhlak di mata Islam. Sehingga disamping untuk mengentaskan manusia dari kehidupan jahiliyah kepada cahaya Islam, dan memurnikan penghambaan manusia hanya kepada Allah semata, Rasulullah perlu menegaskan satu diantara tujuan ke-rasulan-nya adalah untuk penyempurnaan akhlak. Sebagaimana yang tersirat dalam sabda Rasulullah s.a.w, “Tidaklah aku diutus untuk manusia kecuali untuk menyempurnakan akhlak“.

Optimisme dan kerja keras mutlak diperlukan untuk memperjuangkan terwujudnya masyarakat yang berakhlakul karimah. Mengapa? Karena sekali lagi bahwa proses yang harus dilalui tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, melainkan harus dengan pengorbanan yang sempurna dan tak kenal waktu. Sehingga ketika segala upaya sudah dilaksanakan dengan maksimal dan ikhlas, niscaya Allah SWT. akan segera memenuhi janjinya.

Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” (QS. Shaad: 46)
 

July 28, 2006

Kematian itu ..

Filed under: NASEHAT

KEMATIAN ITU DARI ALLAH

 
Kematian adalah pemberhentian yang pasti akan kita singgahi. Ibarat kehidupan ini adalah suatu perjalanan dan kita penumpang kereta kehidupan ini, maka pasti akan tiba waktunya kita sampai di stasiun tujuan. Itulah kematian yang mesti berulang-ulang kita sadari dan renungi, bahwa ternyata hiruk pikuk, gemerlap dan warna-warni kehidupan ini akan segera terhenti kita nikmati hanya dengan satu kata yang sederhana, ‘mati’.

Setiap kita sudah mendapatkan waktu yang tepat untuk tiba distasiun kehidupan, tidak bisa dimajukan ataupun ditunda barang sebentar. Dan setiap makhluk yang bernyawa, khususnya manusia, semuanya sedang bersama-sama menaiki kereta kehidupan ini. Diantaranya ada yang sedang duduk santai, karena mengira stasiun yang ditujunya masih jauh. Ada yang sedang berdegub kencang hatinya, karena stasiun tujuannya sudah didepan mata.

Tetapi yang lebih pasti adalah, bahwa ratusan, ribuan, jutaan, bahkan ratusan juta manusia sudah banyak yang turun dari kereta ini, mereka sudah sampai di tempat pemberhentian mereka, stasiun yang memisahkan antara kehidupan dan kematian.

Sebagaimana banyak Allah nyatakan didalam firman-Nya:

"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?" (Al - Anbiya : 34)

"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[234]. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Al - Imron : 144)

"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Al - Imron : 145)

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (Al - Imron : 185)

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." (Al - Ankabut : 57)

"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Luqman : 34)

"..(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun’alaikum[823], masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan." (An - Nahl : 32)

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun," (Al - Mulk : 2)

Semoga kabar-kabar kematian dari Sang Maha Hidup ini mampu menjadikan setiap kita orang-orang yang senantiasa mempersiapkan diri. Agar saat tiba di stasiun tujuan, kita membawa bekal yang cukup dan memadai untuk episode ‘kehidupan’ yang selanjutnya.























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer