January 20, 2009

Obama, Harapan atau Petaka? (1)

Filed under: OPINI NASIONAL

OBAMA, HARAPAN ATAU MALAPETAKA??? (bagian 1)

 
"CHANGE, WE BELIEVE IT…" 

Demikian jargon yang ditawarkan Senator Barack Obama ketika masa kampanye pemilu presiden AS beberapa bulan lalu. Dan hari ini, 20 Januari 2009, Barack Obama bakal dilantik sebagai Presiden AS ke-44, sekaligus sebagai presiden AS pertama dari kulit hitam.

Sebagaimana diketahui bersama, jargonnya yang sederhana namun mendalam itu mampu membius mayoritas rakyat Amerika yang dibuktikan dengan perolehan suara Obama jauh meninggalkan suara McCain, rivalnya, pada USA Election 4 November 2008 silam. Daya pikat Obama bahkan mampu melampaui batas-batas teritorial negeri Uncle Sam itu. Dari Kenya di Afrika, sampai ke Jakarta di Indonesia semuanya ‘demam’ perubahan yang ditawarkan Barack Obama. 


Demam Obama dan kemenangannya memang sangat wajar. Mengingat bersamaan dengan pencalonan dirinya menuju kursi AS-1, terdapat berbagai hal dan peristiwa penting dan strategis di dunia yang terkait erat dengan Amerika Serikat;

Pertama, Soal Diskriminasi Ras

Meskipun AS meproklamirkan diri sebagai negara paling demokratis di seluruh dunia, pada hakikatnya dunia pun mengetahui dengan jelas bahwa sejatinya bangsa Amerika adalah negara dan bangsa yang sangat diskriminatif dan rasialis. Diskriminasi ras antara kulit putih dan berwarna (hitam) telah berabad-abad lamanya terjadi di negara mr. Bush. Ras Negro adalah bulan-bulanan kebijakan diskriminasi yang diterapkan pemerintah AS. Karenanya penduduk miskin dan termarjinalkan di negara adidaya tersebut didominasi oleh warga kulit hitam. Fakta sejarah rasisme di Amerika juga bukan hal yang dapat diremehkan.Thomas Shapiro, profesor hukum dan kebijakan sosial di Brandeis University, mengatakan "kesenjangan rasial adalah sebuah warisan sejarah AS".

Sistem segregasi, atau pemisahan ras, sering ditegakkan dengan kekerasan. Situs www.bbc.co.uk melansir bahwa ribuan warga kulit hitam Amerika telah tewas akibat lynching dari tahun 1880-an sampai 1960-an. Lynching adalah penganiayaan, penggantungan, penembakan atau penikaman oleh massa, dimana pelaku kejahatan-kejahatan seperti ini tidak dihukum. Pelaku kejahatan lynching adalah para ekstrimis kulit putih yang sangat tidak menginginkan kehadiran warga kulit hitam dalam kehidupan masyarakat AS.

Biro Sensus AS di Washington (14/11/08), menyebutkan bahwa pendapatan rumah tangga warga kulit putih dua pertiga lebih besar dari rumah tangga kulit hitam. Kesenjangan rasial soal kepemilikan rumah di AS malah mencapai 25 persen dalam 25 tahun terakhir. Tingkat kepemilikan rumah oleh warga kulit putih meningkat di antara keluarga kelas menengah di AS sejak Perang Dunia II. Hal itu disebabkan akses terhadap kredit perumahan dan program pemerintah lebih mudah didapat warga kulit putih. Sementara bagi keluarga kulit hitam masih sulit menjangkaunya karena adanya diskriminasi.

Bahkan dalam hal pendidikan juga ditemukan fakta diskriminasi. Hingga tahun 1965-an, beberapa negara bagian tetap tidak memberikan kepada warga kulit hitam akses ke tempat umum, warga kulit hitam mendapat pendidikan di sekolah-sekolah yang kurang baik, dan sangat sulit bagi mereka untuk memberikan suara dalam pemilihan. Saat ini, disrkiminasi tersebut masih tetap ada, terbukti dengan ditemukannya fakta bahwa remaja kulit putih yang meraih gelar sarjana lebih besar daripada warga yang berasal dari kulit hitam (caninews.com).

Kedua, Badai Krisis Ekonomi AS

Awal tahun 2009 lalu, AS diterpa badai krisis yang dahsyat. Perusahaan pembiayaan raksasa Lehman Brothers tumbang menandai awal krisis ekonomi tersebut. Lehman Brothers hanyalah satu diantara sekian perusahaan-perusahaan raksasa Amerika yang telah bertumbangan sejak medio tahun 2007. 

Krisis ini berawal dari macetnya kredit perumahan di Amerika akibat para pemilik rumah ‘KPR’ tidak lagi mampu membayar cicilan kredit. Bank-bank yang melayani jasa berupa pemberian kredit, penjaminan kredit, dan asuransi kredit perumahan subprime mortgag, akhirnya kelabakan, bahkan sejumlah bank terkemuka Amerika mengumumkan angka kerugian. Akibatnya, terjadilah apa yang disebut ‘classic bank run’, yaitu kepanikan nasabah yang diikuti dengan penarikan deposito atau simpanannya sehingga menimbulkan kemacetan likuiditas bank.

Akibat kemacetan likuiditas bank-bank tersebut, Lehman Brothers Holding sebagai lembaga keuangan global yang bergerak di bidang bank investasi, perdagangan saham dan obligasi, riset pasar, manajemen investasi, ekuitas pribadi, dan layanan perbankan personal, mengalamai hantaman finansial yang luar biasa hebat. Apalagi Lehman Brothers adalah pialang utama dalam pasar sekuritas perbendaharaan negara Amerika Serikat. Runtuhnya perusahaan raksasa keuangan ini merontokkan basis finansial AS.

Pada klimaksnya, krisis ini menyebabkan turunnya harga rumahsampai 16%, angka pengangguran meningkat bersama dengan meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK), penjualan bisnis properti macet, yang pada gilirannya mengakibatkan krisis massif dan meluas di negara adidaya tersebut. Bahkan danpaknya telah sampai ke berbagai negara.

Ketiga, adalah persoalan perang Afganistan dan Irak

Bush telah menebar teror dan ketakutan luar biasa kepada masyarakat di dunia Islam. Perang atas nama terorisme 1 bulan pasca peristiwa 11 September 2001 telah merenggut nyawa ratusan ribu umat Islam. Afganistan adalah tumbal pertama semenjak Bush Junior memegang tampuk kepemimpinan AS. Sebanyak 4.000 nyawa yang dikabarkan menjadi korban aksi dramatis runtuhnya Menara Kembar WTC di Washington DC, digunakan ‘kuda tunggangan’ mr. Bush untuk membantai rakyat Afganistan. Padahal hingga detik ini dalang dibalik tragedi 9/11 masih gelap.

Seolah menjadi pihak yang paling berhak melakukan balas dendam, Bush membawa sentimen negatif Barat kepada umat Islam dengan menebarkan ajakan perang dan teror. Rakyat Amerika yang baru saja dirundung duka atas hilangnya keluarga-keluarga mereka menyambut seruan Bush untuk memerangi kaum muslimin. Mereka pun membagi ‘tugas’, Bush dan pasukan militernya membombardir negara kaya minyak Afganistan dengan alasan memburu Osama bin Laden yang dituding sebagai dalang tragedi 9/11. Sedangkan rakyatnya membakar masjid dan rumah-rumah, mengucilkan, menganiaya keluarga-keluarga muslim, bahkan membunuh orang-orang Islam di negerinya sendiri. Sementara birokrasi pemerintahannya secara sistemik berupaya mengisolasir, mencekal, dan mengucilkan ruang gerak umat Islam, meskipun mereka adalah berkewarganegaraan AS.

Negeri Afganistan hingga kini semakin terpuruk sejak agresi AS Oktober 2001 itu. Stabilitas negerinya kacau balau dan rakyatnya semakin miskin dan menderita. Di sisi yang lain militer Amerika belum berniat hengkang dari negeri para mullah itu. Dan setelah miliaran dollar kas negara mengucur untuk membiayai lawatan perang George ‘WAR’ Bush ini, Osama bin Laden yang menjadi alasan dasar AS memerangi Afganistan belum pula berhasil ditangkap. Padahal kerugian nyawa, material dan immaterial rakyat Afganistan sudah demikian besar.

Lebih menyakitkan lagi, peristiwa 9/11 disinyalir adalah rekayasa kotor antara kepentingan barbar Bush beserta kroninya berkolaborasi dengan jaringan Zionis Yahudi internasional. Beberapa fakta dilapangan memperkuat indikasi ini, dimana pada hari naas peristiwa 9/11, ribuan pekerja Yahudi yang setiap harinya ngantor di WTC 100% absen alias tidak masuk kerja. Sebuah keanehan yang sistematis.

Analisis lain yang memperkuat dugaan tersebut adalah teknik kelompok teroris yang menabrakkan pesawatnya tepat dititik hancur yang dahsyat. Sebuah titik ledak yang mampu meruntuhkan bangunan kekar pancakar langit itu. Dan bukan karena kebetulan, menara kembar itupun rata dengan tanah hanya dalam hitungan menit. Kemampuan analisis langka yang hanya mampu dilakukan oleh agen terlatih seperti Mossad. Kecurigaan berikutnya adalah soal tayangnya adegan dramatis 9/11 secara live jaringan TV internasional. Sehingga dengan jelas, detik per detik semenjak pesawat terbang mengarah ke WTC hingga ledakan dan keruntuhan menara kembar tersebut. Sudut pengambilan gambar yang demikian tepat memunculkan kecurigaan bahwa peristiwa itu bukan hanya soal pembajakan pesawat oleh ‘teroris’ amatir, namun peristiwa tersebut sudah diskenariokan dengan matang di atas kertas oleh kolaborasi jahat yang hendak mendiskreditkan kaum muslimin dengan cara sangat kotor. Wajar jika Zionis Yahudi dan Bush dituding berada dibalik tragedi ini.

Belum puas dengan kebohongan perang melawan ‘terorisme’nya di Afganistan, berikutnya Amerika meng-ekspansi negara kaya minyak Irak. Dengan alasan memerangi kediktatoran Saddam Husein yang bekerjasama dengan Al-Qaeda dan senjata pemusnah masal Irak, Bush kembali menebarkan perang dan teror di negeri 1001 malam itu.

Dengan sangat ambisiusnya Bush The Big Satan memburu Saddam dengan alasan ingin menyelamatkan demokrasi di Irak, membebaskan rakyat Irak dari tangan diktaktor, dan melindungi minoritas (Suku Kurdi) untuk dapat sejajar dengan rakyat Irak lainnya. Alasan konyol Bush ini memang tak perlu membuat kita merasa heran, sebab watak ‘monkey king’ ini benar-benar sudah barbar. Betapa memalukannya negara yang mengaku paling demokratis ‘bermaksud’ menegakkan demokrasi dengan jalan perang dan pembantaian. Dasar Bush sakit jiwa!

Irak pun terbakar, Irak membara, Irak bersimbah darah oleh mesiu Amerika dibawah komando Bush. Baghdad, Karbala, Fallujah berubah menjadi kota mati. Dan menjadi saksi bisu kebiadaban yang dilakukan militer AS. Puluhan ribu nyawa dibantai, puluhan masjid dihancurkan dan dilecehkan. Anak-anak kehilangan orang tuanya, orang tua kehilangan anak-anaknya. Seorang suami kehilangan istrinya, dan istri kehilangan suaminya. Bahkan tak sedikit perkampungan- perkampungan yang di-bumi-hangus-kan militer AS terlaknat. Lagi-lagi kaum muslimin menjadi tumbal pemimpin-pemimpin negara yang sakit jiwa. Hingga detik ini, tak kurang 1 juta nyawa rakyat Irak melayang semenjak Agresi AS 20 Maret 2003 silam.

Kebusukan Bush atas perang Irak satu persatu terbongkar. Laporan CIA soal senjata pemusnah massal yang dijadikan sebagai landasan agresi Bush ke Irak terbukti palsu dan bohong. Laporan tersebut dibuat oleh agen CIA Valerie Palmer, untuk menjadi alat pembenaran Bush menyerbu Irak dan agar perang tersebut mendapat dukungan parlemen dan simpati publik AS. Kebohongan tersebut diungkap oleh dua wartawan AS, Judith Miller (The New York Times) dan Matthew Cooper (Time) berdasarkan sumber utama yang sangat kuat, yaitu Karl Rove yang merupakan salah seorang penasehat politik utama Bush. Dengan tuduhan membocorkan rahasia negara, Judith Miller harus rela mendekam di penjara dan Rove pun dipecat dari posisinya.

Kebohongan berikutnya juga terbongkar. Awal januari 2008, situs Center for Public Integrity melansir temuan Fund for Independence in Journalism yang mengungkapkan bahwa pemerintah AS telah mengeluarkan 935 pernyataan palsu selama dua tahun menjelang dan saat memerangi Irak. Lembaga independen tersebut juga menemukan 532 pidato kebohongan pemerintahan Bush, pengarahan singkat, wawancara dan peristiwa lainnya tentang senjata pemusnah massal Iraq dan hubungan Saddam dengan al Qaida atau kedua-duanya. “Pemerintahan Bush telah secara efektif membentuk pendapat umum agar menyetujui kampanye mereka untuk menyerang Iraq dengan alasan-alasan palsu,” simpul mereka.

Orang-orang yang turut bertanggung jawab atas kebohongan tersebut adalah Wakil Presiden Dick Cheney, Penasehat Keamanan Nasional Condoleezza Rice, Menteri Pertahanan Donald H. Rumsfeld, Sekretaris Negara Colin Powel, Wakil Menteri Pertahanan Paul Wolfowitz, serta Juru Bicara Gedung Putih Ari Fleischer dan Scott McClellan.

Belakangan, McClellan sendiri akhirnya keluar dari Gedung Putih dan membukukan pengalaman pahitnya selama menjadi kaki tangan Bush. Dalam bukunya ia menuliskan, "Perang Iraq merupakan kesalahan strategi besar dan serius. Sejak awal, keputusan Bush itu memang salah. Dia juga tidak memiliki rencana jelas untuk menjalankan perang tersebut dan bagaimana menyelesaikannya". Bukunya "What Happened: Inside the Bush White House and Washington’s Culture of Deception (Apa yang Terjadi: Di Dalam Gedung Putih (selama pemerintahan) Bush dan Budaya Tipu Muslihat Washington)" semakin menambah deret panjang bukti kebohongan mr. Bush.

Masih ada lagi, Ron Suskind turut membongkar kebohongan terbaru Amerika terkait perang di Iraq yang dituangkan dalam buku terbarunya "The Way of the World". Dalam bukunya, disebutkan bahwa Gedung Putih terbukti memalsukan surat Tahir Jalil Al-Habbush, Kepala Badan Intelijen Iraq, yang menyebutkan bahwa rezim Baats Iraq punya hubungan dengan Mohammed Atta, salah seorang penyandera pesawat dalam peristiwa 11 September. Surat palsu tersebut digunakan Bush untuk menjustifikasi agresi ke Irak, bahkan Gedung Putih sengaja menyerahkan surat palsu itu kepada media untuk dicetak.

Sebuah perang kebohongan yang merenggut lebih dari sejuta nyawa rakyat Irak dan puluhan ribu bangunan rata dengan tanah. Perang kebohongan yang sampai mengantarkan pemimpin Irak, Saddam Husein, harus mati di tiang gantungan, tepat saat ‘Idhul Adha 3 tahun lalu, 30 Desember 2006. Sementara aktor agresor pembohong masih berkeliaran dengan bebas dan menikmati kemewahannya.

Keempat, Kolonialisme Israel di Tanah Palestina 

Palestina seolah menjadi sentra pembuktian loyalitas ideologi pemimpin-pemimpin negara. Israel sebagai aktor utama kolonialisnme Yahudi di tanah Islam Palestina, membelah dunia manjadi 3 kubu. Kubu pertama adalah kubu yang acuh dan tak peduli dengan penjajahan yang telah terjadi di Palestina sekian puluh tahun, kubu kedua adalah kubu yang care terhadap perjuangan bangsa Palestina, dan kubu ketiga adalah kubu yang secara membabi-buta menyokong penjajah Israel yang telah merampas tanah Palestina dan mengusir penduduknya.

Selama kepemimpinan Bush, dukungan AS terhadap Israel terlaknat demikian terang-terangan. dari mulai dukungan finansial, politis, opini, sampai dengan dukungan diplomasi dalam forum internasional seperti PBB. Sikap brutal dan sadis yang dipertontonkan Israel kepada dunia sedikitpun tak membuat bergesernya keputusan Bush untuk tidak lagi membantu Israel. Justru semakin menjadi-jadi. Ketika 2006 HAMMAS memenangkan Pemilu Palestina, atas permintaan Israel, AS menggalang opini dan berupaya mempengaruhi negara-negara di dunia untuk mengucilkan dan mengisolasi HAMMAS, padahal HAMMAS telah memenangkan pemilu yang dianggap paling demokratis dan bersih di Palestina.

Karenanya Bush pun mengamini kampanye blokade Israel terhadap semenjak 2006 lalu. Tak terhitung berapa nyawa melayang akibat kelaparan dan kurangnya obat-obatan. Ditambah kesadisan Israel yang tidak pernah reda menganiaya penduduk Palestina, baik orang tua, wanita, bahkan anak-anak sekalipun. Penembakan rudal yang dilakukan sewaktu-waktu oleh peralatan militer Israel ke wilayah-wilayah Palestina juga telah mengakibatkan penderitaan yang sangat luar biasa. Kerusakan fisik yang sangat parah dan kematian yang tidak sedikit.

Dukungan semena-mena AS terhadap kebiadaban Israel kepada bangsa Palestina sangat memuakkan banyak pihak. Terutama bagi umat Islam diberbagai penjuru dunia. Lebih memuakkan lagi, pengaruh dukungan AS kepada Israel telah ‘memaksa’ banyak pemimpin Arab yang lemah ikut-ikutan bersikap seperti AS terhadap Israel. Sementara saudara seimannya sendiri, penduduk dan pejuang Palestina, dibiarkan meregang nyawa dalam kondisi serba sulit dan penuh penderitaan.

Kemudian terungkap bahwa moyang George ‘WAR’ Bush adalah Yahudi tulen yang sangat membenci Islam. Pantas saja jika politik Bush di Timur Tengah sangat merugikan umat Islam. Sebagaimana diungkap oleh Shalom Goldman, seorang Profesor Madya dalam kajian Ibrani dan Timur Tengah University Emory, yang mengatakan bahwa George Washington Bush merupakan moyang dari George Walker Bush. Siapa George Washington Bush?

Dalam buku “Jerusalem Baru: Kuasa Zionis di Amerika” Karya Michael Collins Piper, seorang kolomnis independen Amerika dan salah seorang pengecam gerakan Zionismem, disebutkan bahwa “George Washington Bush yang dilahirkan pada 12 Juni 1796 dan meninggal dunia pada 19 September 1859 merupakan seorang profesor dan penulis buku ‘The Life of Muhammad’, sebuah pertama terbitan Amerika yang menyerang Islam”. Ditegaskan bahwa Profesor Bush merupakan pelopor atau perintis lahirnya kelompok Zionis-Kristen Amerika yang sekarang menguasai Gedung Putih dan Pentagon. Dikatakan bahwa “Profesor Bush sangat akif mendukung Zionisme di Amerika dan berperan penting di dalam mengirimkan orang-orang Yahudi Diaspora ke Tanah Palestina"

* * * 

Keempat hal di atas ini lah yang menurut penulis menjadi faktor mendasar besarnya harapan rakyat Amerika dan warga dunia pada umumnya kepada Barack Obama. Dan kemudian memuluskan langkah kakinya menuju Gedung Putih. Rakyat Amerika sebagian besar telah muak dengan persoalan rasis yang senantiasa bergaung di negara tersebut. Ketimpangan sosial, diskriminasi kesempatan publik, kejahatan dan kriminalitas yang disebabkan oleh hitam dan putihnya orang Amerika yang selama ini terjadi, secara sadar harus ’segera’ diakhiri oleh diri mereka sendiri. Jika tidak, maka issu soal rasisme ini akan menjadi bom waktu yang dapat menghancurkan kebesaran Amerika. Dan kemunculan Obama yang berasal dari kulit hitam menjadi simbol perjuangan mereka merealisasikan harapan tersebut.

Krisis ekonomi yang melanda Amerika dan mengakibatkan ambruknya perekonomian, tingginya pengangguran, maraknya PHK oleh sistem yang dibangun Presiden dari Republik membuat rakyat Amerika memutuskan ‘punishment’nya. Kehadiran Obama dengan tim ekonominya yang menawarkan perbaikan ekonomi secara menyeluruh, menarik simpati mayoritas rakyat Amerika yang terancam bangkrut dan gonjang-ganjing. Konsep ekonomi yang ditawarkan Obama dianggap lebih menarik dan realistis ketimbang konsep kubu McCain.

Publik Amerika dan masyarakat dunia juga terkejut dan muak dengan kebohongan perang yang telah dilakukan Bush dan punggawanya. Apalagi orang-orang dekat Bush satu-per-satu mengungkap kebohongan, kepalsuan, dan kebusukannya kepada publik soal perang Irak. Karenanya opini global menyambut kehadiran Obama seperti ‘pangeran penyelamat’ yang akan membawa dunia kepada kehidupan yang damai saling bedampingan.

Dan sikap yang tidak vulgar Obama terkait soal Israel dan Palestina memunculkan sebagaian harapan bagi dunia, akan sikap adil dan bersahabat Obama kepada negeri-negeri Islam. Sosoknya yang muda dan terkesah bersahabat itu, menyedot rasa harap banyak kalangan bahwa kebijakan politik luar negeri AS akan berubah. Lebih bersahabat dan adil kepada bangsa lain, terutama kepada Timur Tengah.

Hari ini Obama di lantik. Lantas benarkah Barack Obama layak untuk menjadi harapan kita, terutama umat Islam di seluruh dunia, bahwa di tangan seorang Obama, AS akan menjadi sahabat yang baik untuk umat Islam??? Jawabnya…. BELUM TENTU.

 

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://rhisy.blogsome.com/2009/01/20/obama-harapan-atau-petaka/trackback/

  1. Obama?? Ya Petaka

    Comment by Gus Yehia — January 24, 2009 @ 3:44 pm

  2. Obama versus Osama….kebetulan ataukah Takdir??

    Presidennya ganti baru,tapi Organisasi Gelap dibelakangnya masih “AMAN”berkeliaran…..

    Comment by one fox — April 19, 2009 @ 4:57 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer