10 Hari Bersama GAZA
10 HARI BERSAMA GAZA
Hingga 10 hari terakhir bombardment pesawat-pesawat tempur penjajah Israel atas wilayah Gaza masih terus berlangsuing. Korban nyawa pun terus bergelimpangan. Tidak kurang 650 nyawa warga Palestina di Gaza itu melayang di ujung rudal-rudal Yahudi la’natullah. Lebih dari 2500 orang luka-luka berat dan ringan. Anak-anak pun tak luput menjadi korban kebiadaban tentara haus darah Israel. Bahkan sekolah binaan PBB yang semestinya aman dari bidikan Israel, juga runtuh porak-poranda menjadi korban tak berdosa. Sedikitnya 35 nyawa melayang dalam pengeboman gedung sekolah tersebut.
Diberitakan oleh berbagai media internasional bahwa korban nyawa dari kalangan anak-anak mencapai sekitar 15-30 %. Sebuah ilustrasi bahwa penjahat perang Israel memang nyata melakukan genosida warga Gaza karena telah membunuh tanpa pandang bulu. Belum lagi orang-orang tua dan kaum ibu yang juga tak sedikit menjadi korban kebrutalan Israel.
Dunia meradang. Eropa menggelegak. Amerika latin turut memanas. Australia juga di goyang aksi-aksi. Terlebih Asia yang di dalamnya ada Indonesia dan Malaysia. Dunia bangkit mengecam kebrutalan Israel yang dipertontonkan secara congkak dan telanjang. Pemimpin-pemimpin dunia pun turut angkat bicara. Mulai dari presiden RI SBY sampai Sarkozy, presiden Perancis. Dari Amir Mosa sampai Paus Benediktus. Dari masyarakat merdeka sampai ribuan warga Afganistan yang dalam kondisi terjajah pula ingin turut berjuang membantu penduduk Gaza.
Dan seperti biasa, Israel tak bergeming. Bahkan semakin menjadi-jadi mempertontonkan kepada dunia bahwa seolah apapun yang mereka lakukan tak kan mampu dibendung kekuatan lmanapun di seluruh dunia. Membantai jika mereka ingin membantai, dan berhenti membantai jika mereka memang sedang ingin berhenti. Sekali lagi, Israel bukan merespon kecaman, kutukan, peringatan, protes-protes, serta aksi-aksi protes dengan bijak, mereka justru semakin brutal menghancurkan rumah-rumah penduduk. Nyawa warga Gaza menjadi murah diujung mortir serdadu Israel terlaknat.
Dan seperti biasa pula, George ‘WAR’ Bush, presiden AS si sekutu loyal bangsa kera Yahudi, berbicara ngelantur dan picik. Pernyataan Bush atas tragedi di Gaza justru menyalahkan pihak HAMAS. Seolah HAMAS adalah biang konflik Israel-Palestina. Padahal seluruh dunia berkata sama, Israel lah si barokokok alias biang kerok tragedi kemanusiaan di Palestina. Sejak dulu, sejak dulu. Sejak mereka mengangkangi wilayah Palestina di tahun 1947. Mereka merampas tanah-tanahnya, mengusir warganya, menodai tempat-tempat sucinya, bahkan membantai secara keji bangsa Palestina yang masih tersisa. Memang, pernyataan mr. Bush itu tidak mengejutkan, apalagi mengherankan. Itu sudah barang tentu. Sebab Bush memang pelayan sekaligus juru bicara Yahudi kepada dunia internasional. Kulitnya boleh nashrani, namun darah dan jiwa mr. Bush tak bisa dipungkiri adalah Yahudi ekstrim yang haus darah. Ya, kakek moyang Bush adalah bangsa Yahudi.
Juga seperti biasa, pemimpin negara petro-dollar tak kelihatan berbuat apa-apa. Pemimpin negara-negara Arab sedikitpun tak tergerak membantu Palestina secara politik. Mereka diam. Mereka lebih takut kepada Amerika dan Yahudi, ketimbang takut kepada Allah SWT. Bahkan Mesir yang memiliki pintu perbatasan dengan Gaza enggan membuka gerbang perbatasan itu sejak hari pertama agresi Israel ke wilayah Gaza. Pemimpin negara Mesir juga melakukan upaya pencegahan Konferensi Darurat Dunia Islam untuk bersikap terhadap tragedi kemanusiaan di Gaza. Entah, apa yang ada dalam benak mereka. Sampai tega membiarkan saudara-saudara seimannya terus bergelimpangan meregang nyawa. Detik demi detik. Tragedi demi tragedi. Sementara mereka masih ongkang-ongkang kaki sampil menikmati kemewahan hidup. Mereka tetap bungkam atas derita Palestina.
GAZA…, Kami Bersamamu
Ya, sejak puncak kebrutalan Israel yang membumihanguskan Gaza pada 27 Desember 2008 lalu, segenap perhatian masyarakat dunia terus tertuju kepada Palestina. Bersyukur, kali ini media TV nasional secara maksimal menampilkan berita perkembangan situasi di Gaza detik demi detik. Bahkan tak tanggung-tanggung ada yang bekerjasama dengan COMES dan secara intensif menyiarkan secara langsung berita terkini Palestina yang disiarkan TV AlJazira.
Masyarakat internasionalpun menunjukkan empatinya. Tak pandang etnis dan agama, mereka semua satu kata mengecam Israel dan mendukung perjuangan bangsa Palestina. Demikian pula dengan kami di sini, hampir setiap waktu memikirkan kondisi saudara-saudara muslim di GAZA. Beberapa aksi solidaritas dan galang dana juga sudah dilakukan berkali-kali. Bahkan beberapa agenda aksi sudah terencanakan untuk beberapa hari mendatang. InsyaAllah kami tak pernah lelah, melakukan apapun yang dapat kami lakukan, sekecil apapun. Meski para penguasa negara-negara Arab tetap bungkam seribua bahasa. Sayang, kami bukan siapa-siapa.
Kami tak pernah bersua denganmu, tapi kami tetap mencintaimu. Kami peduli akan deritamu, kami pun menangis menyaksikan tangis-tangis rakyatmu. Kami juga merogoh kantung-kantung kami yang isinya tak seberapa ini. Untuk tetap menyalakan api harapan di dadamu. Bahwa kalian masih punya saudara seiman seperti kami ini. Dan bahwa kami tetap bersamamu, bersama do’a tulus kami yang setiap saat menyebut namamu. Gaza…, semoga engkau diberi ketegaran.
Ya Allah, angkatlah derita saudara kami di GAZA. Dan Hancurkan bangsa Yahudi sampai ke akar dan antek-anteknya!







