December 28, 2008

Gaza Meregang Nyawa

Filed under: SUDUT PALESTINA
GAZA KEMBALI MEREGANG NYAWA
 

“Gaza… Gaza… Gaza segalanya bermula…”, demikian lirik awalan sebuah nasyid besutan Izzatul Islam yang senantiasa membangkitkan semangat untuk mencintai Palestina, bangsanya beserta perjuangannya yang tetap gigih berjihad melawan Israel la’natullah. Ya.. memang segalanya bermula di sana. Ketika HAMAS lahir dari ‘tangan’ sosok mulia yang telah membuktikan janjinya dengan syahid dijalannya, Syeikh Akhmad Yasin.

HAMAS adalah pelita dan harapan yang menghidupkan semangat bangsa Palestina untuk bertahan dan melawan penjajahan Israel dengan pengorbanan demi pengorbanan. Sebagaimana yang diungkapkan Syeihk Mahdi Akif, “Hamas adalah hati umat Islam dan kemuliaannya. Hamas telah menghidupkan semangat rakyat Palestina yang telah beku. Hamas membangkitkan harapan yang pernah lenyap. Hamaslah yang telah menggagalkan proyek Zionisme dalam penghancuran jantung umat Islam di Palestina. Hamaslah yang telah memaksa dunia internasional untuk mengakui keberadaan bangsa Palestina setelah sekian tahun tidak diakui keberadaannya.” Meskipun nyawa demi nyawa yang harus menjadi tumbal perjuangannya meraih kemerdekaan.


Salah satu murid terbaiknya, Dr. Ar-Rantisi juga syahid dalam selang waktu yang tidak begitu lama sepeninggal syeikh mulia yang memimpin perlawanan dari atas kursi roda itu. Satu per satu mujahid-mujahid yang berjuang bersamanya pun syahid di ujung rudal-rudal Israel. Berpuluh, ratusan, bahkan ribuan pejuang itu menjemput kematian dengan kematian yang paling mulia. Bahkan rakyat Palestina, para wanita, anak-anak, dan orang-orang tua renta yang ada di antara mereka, pun bak air bah menjadi tumbal-tumbal perjuangan mempertahankan tanah Islam yang diwariskan itu. Ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan diantara mereka pun harus melalui hidup mereka dengan cocat dan luka-luka yang semakin perih.

Dari dulu, sejak 60 tahun yang lalu, hingga kini berjuta nyawa telah melayang demi perjuangan membebaskan Al-Aqsho dan Al-Quds. Kiblat pertama umat Islam dan sepenggal tanah yang Allah berkahi. Dan baru-baru ini, penjajah terlaknat itu pun telah kembali membantai saudara-daudara kita di Gaza. Sebuah pembantaian paling keji sejak 41 tahun terakhir. Dalam hitungan menit, tidak kurang 350 nyawa saudara kita melayang di bombardir ratusan pesawat tempur Israel yang meraung-raung dilangit Gaza. Korban luka tidak kurang dari 800 orang. Demikian data yang di-publish Departemen Kesehatan Palestina hari ini. Sebagaimana sama-sama kita saksikan pembantaian keji itu, Sabtu (27/12), pesawat tempur F16 melancarkan serangan besar-besaran di lebih dari 50 titik yang membunuh warga Palestina tak berdosa.

Menyikapi tindakan Israel yang semakin kalap dan bengis ini, maka umat Islam di Indonesia pun hendak mewujudkan rasa cintanya kepada saudara mereka. Bahwa mereka di Palestina tidak pernah sendirian, masih ada sekelompok bangsa yang senantiasa berdoa untuk kemerdekaan mereka. Meski hanya sekedar dengan do’a, dana, dan aksi-aksi moral untuk menghinakan pemimpin-pemimpin dunia dan negara-negara Arab yang bungkam dan tidak adil memperlakukan bangsa Palestina.

Pemerintah sudah mengecam agresi militer Israel ke Jalur Gaza. Dan para pemimpin Arab pun masih tetap seperti biasa, sepi peduli dan tak risau dengan tangis yang makin terkuras dan darah yang terus mengucur dari tubuh bocah-bocah Palestina. Maka sebagai wujud nyata dukungan sekecil apapun yang dapat dilakukan untuk membantu derita muslim Palestina, dan membantu melengkingkan berita ketegaran dan keistiqomahan mereka dalam perjuangan melawan zionis Israel, maka umat Islam Indonesia menggelar Aksi Munashoroh untuk Palestina selama 3 hari berturut-turut. InsyaAllah, ini adalah hadiah awal tahun umat Islam Indonesia untuk bangsa palestina memasuki tahun Baru Hijriyah 1430H. Senin-Rabu, 29-31 Desember 2008 ini, secara bergelombang berbagai elemen bangsa Indonesia akan kembali turun ke jalan menyuarakan dukungannya kepada rakyat palestina.

Lantas bagaimana dengan kita? Apa yang mesti kita lakukan saat saudara-saudara kita terus berjuang melawan ancaman kematian, berjuang melawan penderitaan, berjuang melawan kesediahan , berjuang melawan kesabaran, berjuang melawan lemahnya pemimpin-pemimpin Arab dihadapan para aggressor la’natullah itu? Maka cukuplah sekilas ungkapan Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin, syeikh Mahdi ‘Akif,  menjadi panduann, “Saya menaruh harapan besar kepada rakyat Arab dan negara Islam, dan saya percaya bahwa mereka dalam keadaan sangat siap untuk memberikan pengorbanan harta, jika tidak bisa memberikan jiwanya untuk mendukung saudara kita di Palestina”.

Oleh karena itu, kepada seluruh kaum muslimin diseluruh penjuru bumi Allah kami menyeru dan berharap, bahwa kita semua dapat memberikan dukungan dan bantuan dengan apapun yang kita mampu. Dengan apa saja yang dapat kita berikan agar dapat menyeka tangis bocah-bocah Palestina yang tak pernah luput dari duka lara.

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://rhisy.blogsome.com/2008/12/28/101/trackback/

  1. Okelah, saya sepakat, kalau soal “semangat” dan juga “kemanusiaan” tapi tolong tuh si Hammas jangan terlalu radikal, bolehlah berunding denga Israel, emangnya Islam mengharamkan runding2 dg Israel? saya kira gak lah, itu kan interpretasi aja (org tau lah anda ini aliran interpretasi Ihwanul Muslimny Mesir). Makanya Mesir, Arab, Quwait, dan negara2 Arab lainnya gak terlalu peduli.

    Kasianlah sama korban2 yang tak berdosa, mereka menderita dan bahkan mati dengan sangat menyakitkan. itu GARA GARA HAMMAS yang sulit berunding, dan anda sendiri kedengarannya mendewa-dewakannya.

    Comment by vera — January 9, 2009 @ 5:44 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer