December 15, 2008

Rindu sang Murabbi

Filed under: PEMIKIRAN, DARI HATI

Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu
Dengan semua nama yang jadi milik-Mu
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala yang ghaib
Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
Sebagai musim bunga hati kami, Cahaya hati kami
Pelipur sedih dan duka kami, Pencerah mata kami

(Syeikhut Tarbiyah KH. Rahmat Abdullah) 


Rindu Kami pada Sang Murabbi

Jika sekumpulan mereka membeberkan ruang privasi dan dzon-dzon (yang belum tentu kebenarannya) dimuka publik secara bangga dan tanpa batasan-batasan, maka sedikitpun hati ini tak tertarik untuk menjadi bagian dari mereka. Jika mereka sibuk menyindir qiyadah dan beberapa petinggi struktural yang berpola pikir kontemporer (khas kaum muda) dengan tuduhan menunggangi partai dakwah ini untuk menumpuk kekayaan pribadi, sedikitpun mata ini tak akan terkecoh.

Jika beberapa gelintir aktivis dan ustadz yang menamakan dirinya Forum Kader Peduli (FKP) getol menggaungkan gerakan ‘kembali kepada asholah da’wah’, dengan men-judgement bahwa arah gerak partai dan jamaah dakwah saat ini sudah menyimpang, sedikitpun tak membuat diri ini goyah dan bersimpati kepada mereka. Biar pun mereka mengkampanyekan atas nama kerinduan terhadap nilai-nilai asholah dakwah tarbawiyah, namun hati ini lebih rindu kehadiran sang Murabbi-sang Murabbi yang tawadhu’ dan penuh kasih sayang.

Ya Allah, kami rindu sang Murabbi yang menjadi tauladan dalam berkasih sayang. Bukan ’sang doktor’ yang mengajarkan kebencian dengan garang dan menakutkan. Sang Murabbi yang mengajari kami bagaimana mengedepankan akhlak mulia saat berhadapan dengan lawan maupun kawan. Bukan ’sang doktor’ yang mengajari kami sindiran-sindiran tak pantas dan gosip murahan untuk saudara dan pejuang-pejuang yang sholih.

Kami rindu sang Murabbi yang memuliakan anak kemarin sore dengan mengatakan “Janganlah kamu menunduk (padaku) seperti itu, sebab di kepalamu ada Al-Qur’an”. Kami rindu seorang Murabbi yang tanpa merasa rendah memungutkan sebuah pena yang terjatuh dengan mengatakan “Jika senjata seorang tentara adalah senapan, maka senjata seorang sastrawan adalah pena. Jagalah!”. Bukan seorang ‘doktor’ yang menggunjingkan ‘rumahnya’ dengan kecerdasan ilmu dan keahliannya.

Kami rindu sang Murabbi yang lesannya menginspirasi kami melakukan perbaikan dan amal sholih. Kami rindu sang Murabbi yang tulisan-tulisannya menyentuh relung hati meski kadang sulit untuk seketika kami pahami. Bukan sang doktor yang tulisannya menginspirasi orang-orang diluar sana menyebarkan propaganda pecah belah dengan bersumber dari ucapannya. Bukan sang doktor yang lugas ungkapannya untuk menyakiti pemimpin-pemimpin kami yang kami tsiqoh-i dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Kami rindu sang Murabbi yang dihormati umat lantaran tak canggung berdiri di panggung hajatan ‘dangdut’ salah seorang warga. Bukan untuk bergoyang, namun untuk memperkenalkan ‘nyanyian’ kebenaran dengan sikapnya yang bersahabat. Hingga ketika pijakan kaki terakhirnya meninggalkan panggung, menjadi wasilah para tamu undangan shohibul bait untuk mengaji dengan sang ustadz. Bukan seorang doktor yang di layar televisi terlihat welas asih, namun di panggung ‘kepedulian’ nampak sangar menghakimi perjuangan ini dengan sebutan yang aneh, "bengkok" katanya. Sepertinya sama maknanya dengan sebutan menyimpang dan sesat.

Kami rindu sang Murabbi yang lesannya lirih berdoa untuk kami dan jamaah ini dengan doanya yang syahdu dan membekaskan air mata. Dimana beliau berdoa, “Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami. Rukunkan antar hati kami. Tunjuki kami jalan keselamatan. Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang. Jadikan kumpulan kami jama’ah orang muda yang menghormati orang tua. Dan jama’ah orang tua yang menyayangi orang muda. Jangan Engkau tanamkan di hati kami kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman. Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan, pengkhianatan dan kedengkian.

Bukan seorang doktor yang mengatakan jamaah kita sekarang ini telah berwala’ kepada syaithon (red-na’udzubillahi min dzalik), dengan mengatakan… “kita ini berubah 180 derajat, dari sebuah jama’ah (kelompok) umat Islam yang ingin mengerahkan wala’ nya kepada Allah menjadi berwala’ kepada syaithon dan thawwabiin”.

Benar ya Allah, kami rindu. Terlebih saat ini. Ketika beberapa orang yang pernah menjadi panutan kami kini lebih senang menjadi pedang orang-orang yang tak senang dengan dakwah ini. Ketika lidah mereka, mereka relakan menjadi pena para ‘kuli tinta’ yang siap bekerja menghancurkan dakwah ini. Ketika kami tak lagi melihat mereka menjadi panutan kami dalam menjaga sirriyatudda’wah, ketika kami kini lebih melihat mereka menjadi pencibir yang kering dari embun kasih sayang.

Ya Allah, kami rindu Ust. Rahmat Abdullah, sang Murabbi kami. Kami menyayanginya meski kami pun tahu Engkau lebih menyayanginya. Kami mencintai Syeikh kami, sebagaimana kami mencintai orang-orang sholih yang Engkau muliakan. Kami memuliakannya, meskipun Engkau-lah yang lebih tahu tinggi derajat kemuliannya disisi-Mu.

Ya Allah, walaupun kini beliau tak lagi disisi kami, namun masih begitu terasa kuat pancar kasih sayangnya kepada kami para penumpang baru yang masih dungu dan bodoh ini. Masih lekat wajahnya yang begitu teduh, masih teringat ucapannya yang mengalir lembut namun berbobot, masih terngiang nasihat-nasihat bijaknya yang kadang diselingi dengan humor untuk menyunggingkan senyum kami. Masih lekat dalam ingatan kami kesabaran dan bijak hatinya.

Ya Allah, seandainya Engkau masih menyimpan ribuan hamba-Mu yang serupa Syeikh kami, kirimkanlah kepada kami, ya Allah. Jikalau Engkau masih menyimpan ratusan hamba-Mu yang serupa Syeikh kami, kirimkanlah kepada kami, ya Allah. Atau kalau pun Engkau masih menyimpan puluhan hamba-Mu yang serupa Syeikh kami, kirimkanlah kepada kami, ya Allah.

Bahkan, kalaupun Engkau masih menyimpan hanya seorang saja hamba-Mu yang serupa dengan Syeikh kami, Ust. Rahmat Abdullah, maka kirimkanlah kepada kami. Agar menjadi penyejuk diantara kami. Agar menjadi pelipur lara duka kami. Agar menjadi penuntun iman kami. Agar menjadi orang tua yang menyayangi kami. Menjadi sahabat dalam perjalanan. Dan agar ia menjadi sang Murabbi bagi kami dalam melewati prahara dunia ini.


3 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://rhisy.blogsome.com/2008/12/15/98/trackback/

  1. semoga teman-teman PKS bisa menjadikan beliau panutan. Jadilah orang idealis dan hanif seperti beliau, gak perlu lah hujat-hujatan dengan gerakan lain, malah akan menghambat kemenangan Islam.

    Comment by al-Muharir — December 16, 2008 @ 2:42 pm

  2. “semoga teman-teman PKS bisa menjadikan beliau panutan. Jadilah orang idealis dan hanif seperti beliau, gak perlu lah hujat-hujatan dengan gerakan lain, malah akan menghambat kemenangan Islam”
    sama-sama, kita-kita dan anthum juga

    Comment by zaid — December 30, 2008 @ 4:18 am

  3. insya Allah kalu ust Rahmat masih hidup..pasti dia gabung juga ama FKP yang antum caci maki

    Comment by Ruyatna — May 14, 2009 @ 1:23 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer