Secangkir Ghibah Aktivis
SECANGKIR GHIBAH ‘AKTIVIS’ DAKWAH
Penulis hanyalah seorang kader baru dan karbitan dalam barisan dakwah ini, sebuah jamaah besar yang menaungi nusantara dengan kasih sayangnya. Karena itu, tak layak kiranya menyebut apa yang sudah penulis berikan dan lakukan untuk dakwah ini, mengingat begitu banyak orang-orang yang tak tersebut namanya mengorbankan harta, jiwa dan raganya demi membesarkan bangunan hingga besar seperti saat sekarang. Tak terhitung peluh mereka yang menetes, tak terhitung air mata mereka yang bercucuran, dan tak terhitung pula waktu dan periuk yang mereka korbankan demi dakwah ini. Karenanya tak pantas seorang karbitan seperti penulis ini mengaku-ngaku berjasa bagi Partai Dakwah ini.
Namun, rasa sadar diri ini tidak lantas membuat penulis adem ayem dan tak terusik dengan apa yang sekarang berkembang. Sebuah gelombang ghibah yang nampaknya semakin lezat dinikmati oleh orang-orang yang menikmati. FKP dengan PKS Watch-nya bagai sebuah komunitas ‘pengangguran’ yang merasa paling berjasa terhadap membesarnya jamaah ini, sehingga mereka merasa berhak untuk mengumbar ruang-ruang privasi jamaah dakwah ini ke ranah publik.
Heran, sedih, dan miris. Tiga kata itu sepertinya cukup lengkap menggambarkan keprihatinan penulis terhadap apa yang dipertontonkan para ustadz dan aktivis FKP di mimbar publik. Baik melalui forum-forum ghibah atas nama kajian, atau forum SMS atas nama kepedulian, bahkan yang lebih tak pantas lagi adalah lewat forum dunia maya atas nama nasehat dan kekritisan.
Padahal semua orang tahu, dunia maya adalah mimbar bebas yang dapat diakses oleh siapa saja. Baik mereka yang melek dakwah, oleh mereka yang awam dan semakin bingung dengan moralitas sebagaian ulamanya, bahkan mereka yang tergolong ‘harbi’ yang tak pernah lengah menanti kelengahan orang-orang beriman.
Apakah ini adalah gaya baru atau style ‘ustadz’ dan ‘aktivis’ masa kini yang sudah melek teknologi? Sehingga setiap kegundahan terhadap kebijakan jamaah ini begitu murah diumbar lewat internet, sebuah dunia tanpa batas. Wallahu’a'lam, apakah mereka ini curhat dan mengadu kepada orang awam atau bahkan sedang mengadu kepada musuh-musuh Islam? Atau mereka sedang menikmati dunia pergosipan yang begitu mengasyikkan? Dulu mereka adalah orang-orang yang demikian tegas penghukumannya terhadap tayangan gosip yang menjamuri media televisi negeri ini. Lantas apakah kini mereka sudah menjadi penikmat gosip sehingga tak tahan untuk menjadi pelakunya langsung?
Secangkir Ghibah
Orang bilang gosip itu ‘digosok makin siip’. Karenanya wabah gosip demikian cepat meningkat tajam diberbagai media massa nasional kita. Media cetak, media televisi, radio, internet, semuanya terjangkit virus laten ini. Bahkan sampai di ruang makan rumah-rumah yang notabene keluarga kaum muslimin tak lepas dari dunia gosip. Lebih memiriskan hati lagi ketika sebagaian orang yang dianggap ustadz oleh sebagian kalangan pun turut latah menjadi penggosip ulung. Memang secara tidak langsung namanya bukan menggosip, dalam bahasa ustadz sebutannya lebih halus dan sopan, yaitu ghibah. Sayang sekali dihadapan Allah Ta’ala kata yang satu ini maknanya jauh lebih beringas. Allah SWT berfirman;
“Dan janganlah kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah seseorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik padanya.” (Al-Hujurat:12)
Allah Dzat yang Maha Suci menggambarkan mereka yang melakukan ghibah ibarat memakan bangkai saudaranya sendiri. Menakutkan. Lantas apalagi bagi mereka yang merasa asyik dan menikmati akan perbuatan ini? Maka jauh lebih rendah derajatnya ketimbang orang yang sekedar doyan bangkai saudaranya, kecuali mereka bertaubat dan menghentikan segala perbuatannya yang serupa.
Rasulullah saw bertanya kepada mereka, “Tahukah kamu, apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Yaitu kamu menyebut-nyebut saudaramu mengenai sesuatu yang tidak disukainya.” Mereka bertanya “Bagaimana pendapat engkau jika apa yang kami katakan itu benar ada pada dirinya.” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan itu ada padanya, maka sesungguhnya kamu telah melakukan ghibah, terhadapnya. Dan jika apa yang kamu katakan itu tidak ada padanya, maka sesungguhnya kamu telah melakukang kebohongan mengenai dia.” (Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i).
Lebih gamblang Syeikh Dr. Yusuf Qaradhawi menyebutkan dalam kitab Al-Halal wal-Haram fil Islam bab hukum ghibah, menurutnya bahwa ghibah itu sesungguhnya adalah keinginan untuk menghancurkan orang lain, keinginan untuk menodai orang lain, kemuliaan dan kehormatannya.
Jangan Berkedok Nasehat
Patutkah orang-orang itu mengelak bahwa apa yang mereka pergunjingkan di berbagai media maya dan nyata ini adalah dalam rangka nasehat dan perbaikan? Padahal apa yang mereka gosipkan sejauh ini bisa jadi hanyalah ’sebuah kesalahan’ dalam paradigma subjektif mereka. Sementara kebijakan-kebijakan-kebijakan jamaah yang senantiasa mereka rongrong telah keluar sebagai sebuah produk permusyawarahan yang digariskan Islam.
Sehingga patut dipertanyakan perbuatan mereka yang enggan menerima hasil musyawarah dengan hati lapang ini. Entah mereka membenci aturan Islam atau lantaran tidak lengkapnya pemahaman latar belakang keluarnya sebuah produk musyawarah. Jika sejatinya mereka membenci syuro’ dengan segala kelebihan dan kekurangannya, maka betapa tak pantasnya gelar keustadzan ataupun keaktivisan tersandang padanya. Namun, apabila perbuatannya sebagai buah dari tidak lengkapnya menangkap informasi latar belakang sebuah kebijakan, mestinya orang-orang ini dapat menggunakan jalur-jalur yang ada. Jalur yang selama ini sudah disepakati semenjak bertahun-tahun tertarbiyah.
Kader-kader karbitan seperti penulis ini tentu dapat memaklumi atas ketidak-sinkron-an paradigma para ustadz dan aktivis ‘langitan’ terhadap kebijakan siyasiyah jamaah. Mengingat kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang hampir tak berpeluh keringat dalam agenda-agenda siyasi. Bisa kita tanyakan kepada mereka berapakali mereka bersusah payah memasang bendera partai dakwah ini agar berkibar ditengah pesimistis negeri ini, berapa kali mereka memasang spanduk maupun panji-panji keadilan dan kebenaran, berapa kali mereka memasang pamflet-pamflet dalam agenda pemenangan dakwah, berapa kali mereka duduk bermusyawarah hingga larut malam mengurut urat otak mereka untuk melayani umat.
Dakwah juga Berarti Melayani
Mereka lupa bahwa dakwah tidak hanya sekedar ‘mengajari’, namun hakikatnya dakwah juga melayani. Apakah mereka menafikan bahwa anak cucu Khalilullah Ibrahim as. tetap menjadi pelayan ka’bah hingga tiba kerasulan Muhammad saw.? Jika dakwah hanya bermakna mengajari, sungguh hanya guru, ustadz, kiyai, dosen agama, dan dai profesi saja yang mendapatkan pahala dakwah. Padahal penguasa yang beriman, adil dan amanah lebih dulu masuk syurga ketimbang ulama yang sholih.
Sekali lagi, orang-orang seperti penulis, selaku kader baru dan karbitan tentu memaklumi dan tetap berprasangka baik saat ustadz dan ‘aktivis’ FKP tak terlihat batang hidungnya pada program direct selling ke masyarakat. Dan tetap berkhusnudzan meski bau ustadz-ustadz dan ‘aktivis’nya tak tercium ketika pasukan kader kepanduan menyerbu daerah bencana, berjibaku dengan tangis dan derita ekonomi masyarakat, saat mengangkat jasad-jasad saudaranya yang telah membusuk. Juga saat mereka bergotong royong dengan tangan-tangan sayu masyarakat membangun daerah mereka kembali akibat bencana. Bahkan ketika ribuan kader harus meninggalkan anak, istri, dan keluarganya untuk tinggal di daerah bencana demi membantu dan melayani umat yang tertimpa musibah. Kita semua tetap bisa memahami ketidakberadaannya para ustadz dan aktivis FKP disana, dengan bingkai pemahaman adanya perbedaan porsi tanggungjawab masing-masing pejuang dakwah.
Namun sebaliknya. Sayang sekali dalam hal menyikapi kebijakan siyasi jamaah, mereka justru lebih senang ‘speaking-speaking’ secara liberal di dunia maya dan bergulat dengan hawa nafsunya yang terus mendorong mereka untuk semakin dzalim terhadap saudaranya. Sebuah arena yang saat ini hampir mereka (orang-orang FKP) tak nampak kontribusinya. Padahal PKS sebagai sebuah jamaah dakwah sudah memberikan ruang yang luas bagi kader-kadernya untuk berinteraksi positif secara dua arah. Tentu dengan mekanisme yang etis, elegan, dan egaliter. Bukan dengan kelatahan membuat program gosip murahan yang menyedihkan seperti PKS Watch.
Apalagi, yang patut diketahui publik bahwa selama ini kelompok FKP-lah yang sebetulnya tak pernah mengindahkan dan memenuhi undangan Qiyadah dan Struktur PKS. Untuk duduk bersama membahas apa yang mereka usulkan dan gembar-gemborkan. Mereka tak pernah mau mengangkat telpon genggamnya ketika dihubungi struktur. Bahkan belum sekalipun mereka ini meminta kesempatan kepada struktur untuk duduk bersama. Sepertinya tak ada keberanian dihati mereka untuk berdiskusi, dengar pendapat, apatah lagi bermusyawarah secara objectif untuk menemukan titik temu.
Dan faktanya adalah mereka para ustadz dan aktivis FKP lebih enjoy dengan ‘najwah’ di media publik ketimbang bicara sesuai mekanisme jamaah yang sudah ada. Rupanya secangkir ‘ghibah manis‘ itu cukup membuat mereka mabuk kepayang. Mereka tetap merasa telah melakukan perbaikan, padahal sesungguhnya mereka sedang memecahkan genting di atap rumah. Jika mereka tetap berbuat demikian, maka bisa jadi mereka telah tertipu oleh hawa nafsunya. Karenanya wahai saudaraku, sadarlah dan segera bertaubat!








Jazakallah khaira, akhi. Antum sangat baik dalam mengungkapkan tanggapan. Semoga Allah menjaga kita dari ‘inad dan fusuq. Saya selalu berharap bahwa saya termasuk yang ikut terlibat dalam “menjaga Allah” karena pasti “Allah akan menjagamu” seperti dijelaskan oleh Ibnu Rajab saat mensyarah Hadits 19 Arbain.
Saya mengenal mereka yang terlibat dalam FKP, karena saya termasuk murid-murid mereka. Kebaikan mereka sangat banyak dibanding kebaikan saya. Pengorbanan mereka sangat banyak, sementara saya sangat sedikit. Semoga perbuatan mereka atas nama FKP tidak membatalkan amal-amal baik mereka dalam membina kader dan membesarkan Jamaah.
Kadang saya heran, kenapa mereka sepicik itu? Meskipun PKS bukan Ikhwan, tapi sama-sama berdakwah dalam bentuk harakah. Sehingga kita bisa membandingkan dengan sejarah dakwah Ikhwan. Kalau kita membaca buku “Bersama Kafilah Ikhwan” (hlm. 182 – 203) yang mencantumkan tulisan Wakil Mursyid Am (Syaikh Ahmad Syukri Affandi) kepada Mursyid Am (Hasan Al-Banna) ada sedikit jawaban. Mungkin itulah sunnatullah fid-dakwah. Bayangkan, selevel Imam Syahid saja dituduh diktator, mau menghancurkan Jamaah, berkomplot dengan politisi busuk, keluar dari ashalah, dll. Bayangkan, surat itu dipublikasikan di media umum (dua media). Wajar kalau sekarang surat-surat seperti itu nempel di dunia maya karena memang lagi ngetrend. Kalau kita baca lagi di buku itu (hlm. 482 – 487, 556 - 579) kita akan mengetahui juga bahwa di masa Hasan Hudhaibi pun beberapa masyayikh Jamaah dipecat. Mereka itu adalah Ahmad Hasan Al-Baquri (anggota Maktab Irsyad), 4 Anggota Dewan Pimpinan Organisasi Rahasia: Abdurrahman As-Sindi, Ahmad Adil Kamal, Ahmad Ash-Shabbagh, Ahmad Zaki Hasan; 3 Anggota Dewan Pendiri: Shalih ‘Asymawi, Muhammad Al-Ghazali, Ahmad Abdul Aziz Jalal.
4 anggota Dewan Pimpinan Organisasi Rahasia yang dipecat dari keanggotaan Ikhwan melemparkan siasat dan tipu dayanya terhadap Mursyid ‘Am (MA) dalam bentuk konspirasi dan perlawanan; 21 orang mendatangi rumah MA dan memaksa MA untuk menandatangani surat pengunduran diri dari jabatan Mursyid ‘Am, tapi tidak berhasil; Mereka bergabung dengan yang lainnya yang telah terlebih dahulu menduduki Kantor Maktab Irsyad; Mereka bersikukuh tidak akan meninggalkan kantor itu sampai Maktab Irsyad mencabut surat pemecatan empat ikhwah itu.
Maktab Irsyad membentuk Komisi Investigasi Keanggotaan untuk menyelidiki tiga syekh yang telah mendukung gerakan pendudukan kantor Maktab Irsyad. 3 syekh itu adalah Shalih ‘Asymawi, Muhammad Al-Ghazali, Ahmad Abdul Aziz Jalal. Mereka bahkan menulis surat terbuka yang dimuat di majalah Ad-Dakwah yang berisi kecaman terhadap langkah Mursyid ‘Am dan Maktab Irsyad.
wallahu a’lam bish-shawab
Comment by JIRAN — December 10, 2008 @ 12:37 am
Mantan (ustad) syamsul balda kemana yaa akhi??? oow rupanya dia sedang asyik-masyuk di Gerindra rupanya….
na’udzubillah yaa, qta diadu domba oleh model ustad kaya begini dan dimanfaatkan oleh harokah lain, lawan2 politik qta, dsb…
Comment by EKA KURNIA — December 11, 2008 @ 4:37 am
assalammualaikum
terima kasih akh… sejujurnya ane juga rajin ngunjungin PKS Watch. Tulisan-tulisannya memang tidak mengajak untuk memperbaiki akan tetapi lebih kepada pengurangan tsiqoh kepada qiyadah.
Jazakallah kepada akh eka yang telah memberikan link ke blog ini agar hati kembali tentram.
Comment by kandra — December 16, 2008 @ 9:30 am
Ana kasian sama antum lidah antum penuh dengan caci maki terhadap ustadz dan simpatisan FKP, apakah antum tahu siapa mreka dan apa kontribusi mereka bagi dakwah ?, ungguh tulisan ini diluar adab para astatidz dan pendukung FKP, padahal disana ada ust. ihsan tanjung, ust, Daud Rasyid, ust ferry nur, ust mashadi, ust. didin hafiduddin, ust abu ridho, ust, abdul malik
lalu antum bertanya kontribui mereka terhadap dakwah dan partai, yang jelas merekalah yang memulai dakwah ini dengan tangis dan air mata disaat antum mungki masih terpesona dengan dunia, diantara mereka adalah orang2 yang mengorbankan waktu mereka untuk dakwah, kalau antum mau mengkritik FKP saya ersilahkan tapi jaga ucapan antum dengan kata kata seperti orang yang tidak punya adab, FKP dan pks watch adalah dua hal yang berbeda saya tidak setuju dengan pkswatch, sementara FKP antum datangi kajiannya tabayunlah sama mereka.
Afwan yah antum ini meminta fkp tabayun dengan pks tapi kok tindakan antum menyalahi lisan antum sendiri, masalah internal FKP yang antum katakan tidak pernah meu menganggap telepon DPP PKs itu fitnah fkp dan beberapa qiyadah struktural punya forum sms, jadi lisan antum terlalu berbahaya akh antum tidak tahu yang terjadi kecuali dari kata orang.
mudah mudahan diloloskan komentar saya ini untuk mengklarifikasi tuduhan antum, tapi kalau antum tidak meloloskan hanyalah Allah dan kita berdua yang menjadi saksi atas yang antum katakan, termsuk tuduhan dan kedustaan yang antum tidak bisa buktikan
barakallahu fiikum
wassalammu’alaikum wr wb
Comment by kader — December 22, 2008 @ 6:19 pm
Assalamu’alaikum akh Kader,
Alhamdulillah saya sudah membaca tulisan-tulisan Ust. Daud Rosyid yang bertemakan ‘kembali kepada asholah da’wah’. Dan saya juga sudah melihat video acara2 FKP, saya juga tahu ustadz yang diturunkan level keanggotaannya karena hilang ke-ta’at-annya kepada kebijakan jama’ah. Bukankah dalam arkanul bai’ah kita tersebutkan rukun ta’at???
Saya juga tahu di FKP ada Ust. Syamsul Balda yang sudah di pecat dari jamaah lantaran persoalan ‘maksiyat’ kepada Allah. Dan sangat gencar memobilisasi binaan-binaannya dan orang2 yang bisa dipengaruhinya untuk bermanuver terhadap PKS. Saya juga tahu persis seorang Ust. yang diberikan amanah sebagai anggota dewan, namun makan gaji buta karena sudah berbulan-bulan tidak pernah hadir di kantornya dan bekerja sebagai anggota dewan. Dan ustadz tersebut sekarang menjadi salah seorang koordinator daerah FKP di sebuah Kota di wilayah Jabodetabek. Na’udzubillah. Kita saja yang bekerja di sektor swasta bolos kerja 1/2 hari saja merasa malu menerima gaji di akhir bulan. Lha ini seorang ustadz (koordinator daerah) FKP makan gaji buta (astaghfirullah akhi… akhi…, dimana Islam-nya?).
Jika bersama FKP ada orang yang bermasalah menjadi rujukan dan dan sahabat karib untuk melakukan manuver merongrong jama’ah. Lantas manufer2 nya mereka umbar dimedia maya, kenapa antum mempersoalkan tulisan kader bodoh seperti saya ini yang hanya mengungkapkan keprihatinannya???
Saya tahu secara langsung, dari Ust. penegak kedisiplinan jamaah kita ini, bahwa orang2 FKP dan PKS Watchnya sudah beberapakali diundang untuk duduk bersama, namun tak pernah ada yang berani hadir dalam forum Qiyadah. Mereka lebih asyik mengumbarnya lewat dunia maya. Silahkan antum buktikan bahwa FKP dan PKS Watch-nya tidak ada kaitan sama sekali.
Ana tidak menafikan besarnya kontribusi mereka membangun dakwah ini. Bahkan saya pun pernah menjadi peserta taujih sang Ust. Korda FKP itu (dulu waktu saya masih bau kencur dalam jama’ah ini). Namun kini beliau justru mencoreng jama’ah dan Islam ini dengan makan gaji buta (mudah2an tidak haram). Apa yg keliru dengan catatan saya yang menyebutkan bahwa ‘KINI’ mereka tak berkontribusi apapun untuk membangun jamaah ini??? Bukankah tindakan mereka sekarang ini lebih mengarah kepada perusakan jamaah?
Apa yg FKP dan PKS Watch-nya saat ini lakukan adalah satu dari tanda-tanda ‘Runtuhnya Dakwah di Tangan Da’i’. Semoga Allah menjaga dan menyelamatkan bahtera dakwah ini.
Dengan tanggapan ini maka membatalkan ‘klarifikasi’ antum akh kader. Apalagi modelnya antum seperti DOS yang pengecut tidak berani menunjukkan identitas dirinya. Jika antum kader, kenapa harus takut??? Memangnya siapa antum sampai merasa pantas MEWAKILI FKP & PKS WATCH-nya?
Namun, jazakallah sudah mampir di bolg ana yang sederhana ini.
Wassalamu’alaikum ww.
Comment by Administrator — December 23, 2008 @ 3:58 am
Jazakallah akh JIRAN, tulisan antum menambah wawasan buat ana. Meski beberapa buku tebal tentang ke-ikhwan-an ada di rak buku ana, kadang hal-hal seperti itu terlewat untuk dibaca dengan seksama. Sekali lagi jazakallah.
Dan terima kasih sudah mampir. Salam kenal ya.
Comment by Administrator — December 23, 2008 @ 4:01 am
Akh Eka Kurnia,
Ana sedang menelaah kebenaran dokumen intelijen yang dimuat thufailalghifari. Dan sedang menyiapkan tulisan sederhana terkait hal ini. Waallahua’lam apakah benar beliau masuk ke Gerindra.
Comment by Administrator — December 23, 2008 @ 4:05 am
wa’alaikumsalam.
Terima kasih akh kandra sudah mampir ke blog sederhana ini. Tulisan2 ini hanyalah bait-bait kegundahan hati ana. Semoga ada manfaatnya.
Comment by Administrator — December 23, 2008 @ 4:07 am
terimakasih antum sudah meloloskan komentar saya mudah mudahan kita bisa berdiskusi dengan baik
Pertama ust. Syamsul Balda tidak pernah terlibat dalam FKP, jadi tuduhan antum salah, soal ust yang antum sebut koordinator FKP itu silahkan tunjuk saja orangnya, kalaupun dia bersalah namun antum masih lihat banyak ust lainnya yang mendukung FKP seperti ust. Daud Rasyid Ust. Abu Ridho, Ust. Hasib, Uts Didin, Ust Ahzami, antum hanya melihat satu dua orang kemudian antum generalisir semuanya ini adalah kesalahan, apalagi menuduh ust syamsul balda dibaliknya saya cuman bisa mengurut dada sebab saya tahu persis tuduhan tuduhan itu tidak punya dasar yang kuat.
kesua masalah dialog seperti saya tegaskan di FKP ada forum sms dan forum itu terdiri dari qiyadah struktural dan ust2 FKP, jadi tuduha antum tidak mau diajak dialog itu salah dan tidak mendasar sama sekali apa antum pernah dengan forum sms ?, tidakkan antum cuman mendengar satu pihak dan mengatakan FKP tidak mau berdialog, akhi siapa yang mengajukan usulan ke majelis syuro, akhi siapa yang datang capek capek ke DPR untuk mengklarifikasi masalah BLBI itu bukti nyata siapa yang mau diajak dialog dan yang tidak mau diajak dialog.
Ketiga antum yang menuduh FKP dan PKSwatch berhubungan antumlah yang harus membuktikan bukan ana, tuduhan harus mempunyai bukti akhi jangan antum lempar batu sembunyi tangan.
Ana pengecut ? antum bisa menemui ana di acar FKP di PLN besok kalau antum mau menemui ana, saya tunggu silahkan email ke alamat email ana, kalau antum tidak mau jelaslah antum itu hanya bisa menuduh tanpa bukti.
Ana tunggu kehadiran antum, oh yah sebelum pamit antum tunggu saja sekarang beberapa ikhwah sedang mengumpulkan bukti membawa qiyadah yang bermasalah ke KPK, kita lihat nanti siapa yang benar makanya ana minta antum jangan emosional, jangan sampai nanti muka antum yang tertunduk malu karena membela qiyadah yang bermasalah
ilal liqo assalammu’alaikum wr wb
Comment by kader — December 23, 2008 @ 5:37 pm
Seharusnya ustazd-ustazd yang mau mengkritisi kebijakan PKS tidak perlu membentuk FKP. Karena akan sangat berbahaya sekali bagi kelangsungan jamaah. yang kita permasalahkan kan bukan jamaah namun beberapa orang,Tapi yang diserang malah jamaah dengan kata.. PKS tidak lagi begini begitu
DOS itu aneh banget loh,, seorang simpatisan yang tinggal di luar negri kok bisa dapat info yang katanya lebih banyak daripada kader didalam barisan nya.
Kalau memang mau mengkritik kenapa harus dimulai dari orang macam dody suhendra.Dia jago loh, mungkin bisa bantu2 bikin situs buat jelek2in jamaah buat kelompok lain,, salafi situsnya bagus2 loh, hi tech.
Comment by orabg ningunf — December 31, 2008 @ 2:43 pm
saya ikut tarbiyah, tapi mungkin tidak layak jika disebut kader PKS. masih sgt sedikit pemahaman ane ttg partai.
ane tidak pernah tau klo ada FKP dan PKS watch. tapi menurut ane, adanya PKS watch yang bisa dikases oleh siapapun, dan termasuk tulisan antum di blog ini hanya akan membuka aib jama’ah. khawatirnya malah memecah jama’ah ini dan menjadi senjata musuh2 PKS untuk menghancurkan PKS. klo ada masalah sebaiknya di tabayunkan dulu, didiskusikan dengan murobbi, dan gak perlu ditulis di blog atau apapun yang bisa diakses oleh sapapun. ingat, kita itu umat islam, harus bisa menutupi aib saudara2 kita.
wallahu’alam.
Comment by Rahma — January 6, 2009 @ 3:25 am
blog ini sesungguhnya hanya membuat hubungan semakin meruncing! tidak da manfaatnya sama sekali. blog ini mengkritik FKP yang hanya menulis di lahan maya. tapi saya katakan bawha Anda juga salah dengan menulis di ranah tak bertuan seperti ini. anda juga memakan tuduhan anda sendiri.
saya bukanlah simpatisan FKP, apalagi pkswatch. pks watch adalah sosok tidak bertanggungjawab yang hadir untuk merusak dan oleh karena itu tidak perlu ditanggapi.
saya hanyalah pecinta kelurusan cita-cita dan kesatuan jamaah!! pecinta tercapainya cita-cita bahwa Allahu ghayatuna. bahwa pertiwi ini akan menjadi yang jamaah ini cita-citakan semula.
wahai para asatidz. .. kami sering menahan tangis mendengar dan membaca berita2 yang ada…kami bersama-sama kalian dalam hari-hari yang penuh keringat-tangis di era sya’bi tahun 90an… dan kami tidak ragukan, betapa antum semua telah berbuat banyak yang tidak ternilai untuk dakwah dan jamaah ini… antum adalah pilar-pilar penjaga kelurusan tujuan dan kegigihan para prajurit yang setiap saat dilontarkan… oleh karena itu kami sangat mencintai antum semua.. qiyadah yang sedang bertugas ataupun FKP.
tidakkah ada cara ahsan agar kalian bersatu kembali, bergandeng tangan merangkul kami menuju pulau harapan.. seperti yang dicita-citakan…???!! tidakkah kalian mendengar isak tangis kami ketika kami menyaksikan kepedihan ini??!! jangan kalian saling bertahan dengan pendapat sendiri-sendiri!!! bukankah kalian yang mengjarkan kami untuk berlapang dada dan saling mencintai..??! dengan nasihat-nasihat hikmah yang penuh kasih sayang?? bukankah kalian yang mengajarkan kepada kami untuk berlapang dada menerima kritikan??!! kalian pula yang mengajarkan kami untuk saling mendoakan dalam doa persatuan yang khusyu’ dan tadarru’.. ya syaikh!! kami ingin kemesraan itu kembali..!!!!!
Comment by wahyu — January 9, 2009 @ 4:24 am
Sedih juga ya, pkswatch ana kritik karena tidak jelas manhaj islah-nya dalam memperbaiki pks. Ternyata blog ini juga kurang lebih sama. Hanya berdiri pada sisi yang berbeda. Afwan akh, saya hanya pengen jujur aja. Nggak perlu lah perselisihan ini dipertajam. Antum jangan ikut-ikutan si dos, berpolemik melalui blog. Saya setuju sekali dengan Akhuna Wahyu. Semoga segala dinamika ini bisa mendewasakan kita semua. Wal afwu minkum. Hanya sekadar nasehat aja Akh Rhisy…
Comment by Miimoo — January 11, 2009 @ 5:46 am
Akhi
yang jadi Qiyadah, posisikanlah antum sebagai seorang “QIYADAH”
yang jadi Jundi, posisikanlah antum sebagai seorang “JUNDI”
Comment by Jundi — January 18, 2009 @ 5:00 pm
Ikhwahfillah, Al-Islam ini mengajarkan kepada kita untuk tidak berpecah belah (Ali-Imron:105). Dan ana sangat berharap jamaah ini tetap bersatu. Baik PKS, PKS Watch, FKP dan kita, mari kita berkontributif pada amal yang nyata, bukan hanya sekedar kata-kata. Keburukan tak usahlah diungkit lagi, begitupun kebaikan jangan pula diungkit lagi. Tahukan antum, amal yang tidak ikhlas tidak akan diterima oleh Allah. Amalan yang tidak ikhlas dipengaruhi oleh 2 hal: ria’ dan ujub. ria adalah penyakit orang munafik di mana ia hanya mau beribadah jika dilihat orang. ujub adalah penyakit yang justru menghinggapi orang yang melakukan kebaikan, yakni jika orang yang melakukan kebaikan merasa cukup atas kebaikan yang telah dilakukan. Akhi, Bisakah antum semua (baik PKS Watch atau blog ini) carikan dalil yang shahih tentang cara mengkritik saudara muslim dengan di depan umum atau dengan membuka aib itu memang disyariatkan? Ana hanya hamba yang dhaif yang ingin meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam berukhuwah. dan ana hanya ingin berkontribusi pada jamaah manusia yang banyak salahnya ini, agar ana dapat memperoleh nikmatnya watawa shoibil haq, wa tawa shaubishabr. Jama’ah dakwah (baca: IM) ini dapat maju jika kita tidak berpecah belah dan saling mengingatkan dengan kesabaran. Sabar, sabar, sabar. hal inilah, bagi saya adalah kunci kemenangan umat Islam. sudah cukup umat ini berpecah belah yang kemudian membuat umat lemah, dari zaman Ali hingga zamannya Hilmi. kalo kita lebih mengedepankan emosional, apa bedanya kita dengan teman-teman di suatu jamaah yang sering mentahdzir, men-just serela-relanya. Atau jangan-jangan, beberapa temen-temen di jamaah ini sudah terbawa tren seperti itu. ana sangat sepakat dengan statement “kembali ke Asholah”, tapi ana mohon, jangan dengan nada emosional melontarkan kata-kata seperti itu kepada jamaah ini. kembali ke Asholah adalah suatu perjuangan akh. bukan hanya sekadar mengkoreksi kecacatan orang-orang ataupun sikap jamaah ini satu per satu yang diungkapkan kepada ruang publik. Ana tidak terlalu fanatis terhadap jamaah IM ini. ana fanatis terhadap Islam. Islam yang mencintai persatuan, minimal diterapkan dalam jamaah Ikhwanul Muslimin ini. maka kembalilah pada asholah tersebut. ingatlah kawan, Imam Syahid Hasan Al-Banna membentuk jama’ah ini dengan persaudaraan (ukhuwah). kata “ikhwanul muslimin” sendiri mengisyaratkan dua makna: aqidah dan ukhuwah (dalam buku “Tsawabit dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin” Jum’ah Amin Abdul Aziz). Mana ukhuwah kita kawan???
Comment by deff — January 20, 2009 @ 4:47 pm
Membaca tulisan ini dan tulisan tentang dokumen BIN, kepala saya langsung pening. Ya Allah, ternyata perjalanan gerbong dakwah ini tidak berjalan se-hitam-putih yang saya kira. Malah semakin banyak daerah abu-abu antara benar dan salah, fakta vs fitnah dll. Mengenai FKP, PKS watch dan sejenisnya… wallahu a’lam, saya tidak punya kapabilitas untuk berkomentar terhadap hal-hal tersebut. Saya hanya bisa tetap berdoa bahwa jama’ah yang menjadi kendaraan dakwah kita tetap diridhai Allah dan memperoleh keberkahan ditengah hantaman manuver dari mereka yang ingin lokomotif dakwah ini mati.
Menanggapi aksi serang menyerang isu yang menjurus pada cacimaki, menyemai benih kebencian dan pemutusan ukhuwah… saya hanya bisa mengingatkan antum untuk beristighfar. Pertanyakan kembali kondisi amal yaumian antum sebelum antum mempertanyakan keputusan syura. Qiyadah kita memang bukan malaikat, tidak mungkin diharapkan bisa memberikan kesempurnaan dalam tiap kebijakan dan memuaskan seluruh jamaah yang jumlahnya semakin gemuk ini.
Comment by ardee — February 2, 2009 @ 2:49 am
Ayo bersatulah…. BANGKITLAH NEGERIKU….HARAPAN ITU MASIH ADA….
biarin ada FKP, gag usah dtanggap, ttp berprasangka baik, kita ikuti dengan baik dakwah yang dbawa Allahyarham abuya KH.Rahmat Abdullah, teruskan perjuangannya, beliau juga dulu penerus dakwah yang succes, penerus daripada Guru”nya dulu yang shalih, baik ulama maupun habaib, caayyooo
Comment by suleng — February 6, 2009 @ 11:07 am
Alhamdulillah…
Tulisan antum bagai oase di tengah kegundahan para kader dakwah jamaah ini.
Untuk saudaraku yang lain, buat opini yang menentramkan semacam ini. Abaikan FKP dengan PKS Watch-nya.
Terus berjuang, kuatkan azzam, sampai Allah memenangkan dakwah ini atau kita syahid di jalam ini. Allahu Akbar!!!
Comment by dira — February 12, 2009 @ 4:37 am
Siip! Alhamdulillah…ada tulisan ini. Abaikan FKP dengan PKS Watch-nya. Kuatkan azzam untuk terus berjuang bersama jamaah ini. Islam butuh amal, bukan sekedar opini-opini, apalagi yang sarat dengan fitnah. Allahu Akbar!
Comment by dira — February 12, 2009 @ 4:41 am
Assalamu’alaikum ww,
Pakabar sahabat dan saudaraku semua. Saya ingin menyampaikan, bahwa terkait dengan keberadaan PKSWatch dan FKP, sejatinya (insyaAllah) saya lumayan tahu banyak.
Namun, sedari awal ana berkomitmen. Seabreg tulisan yang telah dimuat PKSWATCH beserta ghibah-ghibahnya (bahkan fitnah), serta berbagai propaganda yang dengan ‘bangga dilancarkan’ mereka yang menamakan diri FKP, maka saya tidak berniat berpanjang lebar. Cukup 1 artikel ini untuk ‘melawan’ apa2 yang telah mereka lakukan.
Sedari awalpun, saya sadar benar memang tak terlalu penting menanggapi propaganda ‘bayaran’ mereka. Semoga Allah mengampuni kedzaliman mereka kepada saudara-saudaranya para kader yang ikhlas di medan dakwah PKS.
Mereka bersikukuh dengan jalan mereka, lantaran mereka tidak mampu mengemban kerja-kerja dakwah. Mereka enggan turun ke masyarakat, mereka enggan menunaikan amanah dibawah terik matahari, mereka enggan berpeluh keringat menyantuni umat yang lara dan lapar. Dan mereka bergabung dalam forum tersebut untuk ‘membenarkan’ dan menjustifikasi kemalasan mereka menunaikan tugas-tugas dakwah.
Bagi mereka, saya cukup menghormati dengan 1 tulisan dalam artikel ini. Kepada saudara2ku yang sudah berkomentar pada artikel ini, saya sampaikan jazakumullah. Mari kembali bekerja dengan ikhlas dan profesional untuk kemenangan dakwah.
Allahu Akbar!!!
Wassalamu’alaikum ww.
risyanto aris
Comment by Administrator — February 13, 2009 @ 2:51 am
jangan komentar sepihak, sebaiknya telusuri dulu akar permasalahannya. agar lebih obyektif….
Comment by yon — February 24, 2009 @ 5:05 am
jamaah dawah qt ini sudah banyak ujian ,mari kita jaga ukhuwah qt ,jangan terbelah-belah ,imam qt Alloh dan Rasul kitab qt Alquran,jangan orang lain mengambilnya,PKS itu sarana untuk membangun iman kita,bersatu kita teguh bercerai kita hancur.thoibthoibthoib. irws
Comment by irwan saleh — February 24, 2009 @ 7:25 am
“saat ustadz dan ‘aktivis’ FKP tak terlihat batang hidungnya pada program direct selling ke masyarakat. Dan tetap berkhusnudzan meski bau ustadz-ustadz dan ‘aktivis’nya tak tercium ketika pasukan kader kepanduan menyerbu daerah bencana,”
Emang antum kenal ya sama ustadz2 FKP?emang satu daerah? kok bisa tahu mereka ga direct selling?
Comment by DEF — March 5, 2009 @ 4:27 pm
Kenapa sih harus bikin FKP kalau masih merasa sebagai kader jamaah ? haruskah diobral didunia maya permasalahan internal ? buat press rilis lagi ! Kalau memang ikhlas khan ada mekanismenya . Apa mau ngajak rame2 bedhol desa dari PKS karena tidak setuju dengan qiyadah ? kok kekanak - kanakan sekali Ya? bukannya sudah jadi ustadz puluhan tahun ?
ya sudah lah gini saja, kalau merasa sudah tidak sependapat dan tidak bisa diperbaiki ya bikin jamaah baru saja monggo, Jamaah ini tetap jalan ada atau tidak ada antum semua. Jangan karena pernah membesarkan jamaah kemudian berhak mengobok obok jamaah. Afwan lho kalau agak kasar komentarnya
Comment by satriabajaireng — March 16, 2009 @ 3:15 pm
Assalamualaikum, wr wb.
Jazakillah khair atas dimuatnya tanggapan saya.
Saya mencoba melihat secara obyektif permasalahan ini (sebelumnya saya tidak tahu apakah PKS watch yang anda maksud adalah yang versi lama atau yang baru –versi 2 menurut Pemilik PKS Watch–)
pertama
. Sebuah gelombang ghibah yang nampaknya semakin lezat dinikmati oleh orang-orang yang menikmati. FKP dengan PKS Watch-nya……(paragraf 2)
tanggapan saya: Setahu saya PKS Watch bukanlah bagian dari FKP (mungkin administrator perlu browsing lebih dalam lagi ke situs tersebut).
kedua
Ssngat sulit bagi kita untuk mendengarkan orang lain apabila setiap kali ada kritikan atau pertanyaan terhadap PKS selalu kita anggap sebagai ghibah.
Bukankah PKS adalah partai yang tentu saja kebijakannya diketahui oleh (sedikit atau banyak) publik/masyarakat?
Yang saya ketahui adalah apa yang dibahas baik di FKP maupun PKSWatch adalah kebijakan-kebijakan PKS yang sudah umum diketahui publik (karena tersebar di media massa, contohnya).
Karenanya saya pikir tidak ada bedanya apakah yang bertanya dari FKP, dari PKSWatch, dari politisi partai sebelah maupun dari kader akar rumput atau yang lainnya.
Saya yakin dengan kapasitas ustadz2 PKS namun kita juga tidak boleh mengesampingkan ustadz2 FKP ataupun yang lain yang memberikan kritikan/masukan, bahkan mungkin para kader grassroot maupun simpatisan yang bertanya.
Terima kasih
Comment by ari — April 15, 2009 @ 5:39 am
Ya akhi, coba anta intropeksi what you write akh.
Insyaallah kalau saja kita bisa “membelah dada” para ustadz FKP, ana haqul yaqin mereka lebih PKS dibanding elit politik PKS pada umumnya.
Seharusnya kita berterimakasih dengan adanya FKP, karena mereka mencoba menjaga “Partai Dakwah” ini menjadi “Partai Politik” yang pragmatis.
Moga Allah mengampuni dosa kita semua. Amiiin…
Comment by Abi naylah — April 24, 2009 @ 3:10 pm
aku sgt sepakat dgn akh wahyu. mantap tu yu… makin lama makin panas suasana ini. baiknya kalo mmg punya niat baik, jgn ada upaya mengkompori perbedaan pendapat ini. seperti bang abi naylah ni. puji fkp buruk kan pks. yg rugi ya dua-dua. yg untung mungkin bg abu naylah ni, iya bang yo…
Comment by asa namku — May 23, 2009 @ 2:46 pm
wahyu, ari dll sgt bagus.
abu naylah … kompor. siapa antm ya abu… (bukan abu lahab kan)
Comment by asa namku — May 23, 2009 @ 2:49 pm