Daya Juang Turki
BELAJAR DARI ‘FIGHTING SPIRIT’ TURKI
Tim besutan Fatih Terim mampu menampilkan icon baru di Uero 2008 ini. Mereka dikenal sebagai Tim yang memiliki semangat dan daya juang tinggi meski akhirnya harus kandas di semifinal menghadapi Jerman (26/06/08). Sebab, dimanapun pertandingan memang yang terpenting adalah menang, bukan sedikit atau banyak selisih gol yang diciptakan. Namun seringkali sikap mental positif yang menonjol dalam sebuah pertempuran jauh lebih berarti ketimbang kemenangan itu sendiri. Seperti ajang Motor GP beberapa pekan lalu, dimana Stonner jauh melaju sampai finish meninggalkan pembalap-pembalap lainnya, termasuk Rossi yang masuk finish diurutan kedua dibalakang Stoner. Namun, sepanjang beberapa lap terakhir kamera lebih sering menyorot upaya Rossi yang sedikit-demi sedikit menyalip lawan-lawannya dari posisi awal yang hanya start di posisi ke-7. Sementara sejak start Stoner memang sudah diposisi pertama. Stoner memang memenangi kejuaraan, namun Rossi memenangi pertempuran. Stoner win the game, but Rossi win the war. Sama halnya dengan Timnas Turki di Uero 2008 ini.
Dunia akhirnya harus mengakui meski Jerman win the game, but Turki win the war. Mengapa? sebab debut Turki sejak pertarungannya di kualifikasi group telah menunjukkan semangat pantang menyerahnya yang sungguh sangat luar biasa, bahkan mampu menumbangkan mimpi klub-klub besar Eropa sekelas Swiss, Ceko, dan Kroasia. Mereka disebut sebagai The Comeback King sekaligus Penghancur Mimpi yang memiliki fighting spirit atau daya juang yang tinggi.
Dari Underdog menjadi ‘King’
Turki datang ke Uero 2008 sebagai sebuah tim underdog yang sama sekali tak diperhitungkan. Penggila sepak bola bisa jadi menanggap keberadaan Turki di group A sebagai tim ‘bonus’ untuk asah kaki para pemain klub besar Eropa lainnya merumput di Swiss & Austria ini. Namun sejarah baru telah membuktikan bahwa Turki mampu lolos sampai ke semifinal menumbangkan tim-tim besar di Group A dan perempat final. Gol-gol yang dilesakkan ke gawang lawan di detik-detik terakhir menjelang pertandingan usai membuat gelar tim dengan semangat juang tinggi disandangkan kepadanya.
Ya, podium semifinal yang mereka pijaki menjadi bukti bagaimana semangat juang mereka yang tak kenal lelah. Meski pada pertandingan pertamanya kalah ditekuk Portugal 0-2, namun pada putaran berikutnya Turki mampu mempecundangi tuan rumah Swiss dengan skor 2-1. Padahal saat itu Turki tertinggal lebih dulu dan akhirnya membalik keadaan pada menit terakhir.
Demikian pula pada putaran ketiganya melawan Ceko. Keunggulan Ceko 2-0 sampai menit ke-75 secepat kilat di-putarbalik-kan Semith Senturk cs menjadi 2-3. Hanya dalam 15 menit gol demi gol di sarangkan Turki ke gawang Ceko. Tak pelak pertandingan tragis ini membuat syok Petr Cech dan kawan-kawan.
Pertarungan paling tragis adalah saat Turki berhadapan dengan Kroasia di perempatfinal. Laga rumput hijau yang berlangsung alot harus berjalan tanpa gol hingga menit ke 90. Perpanjangan waktu 30 menit pun pada akhirnya menjadi sejarah pilu bagi tim unggulan Kroasia. Bagaimana tidak, gol ‘emas’ yang dilesakkan Ivan Klasnic di menit 119 dilumerkan secara mengejutkan oleh tendangan ‘maut’ Semith Senturk tepat di menit 120. Adu pinalti atas kedudukan 1 sama menjadikan Kroasia tersungkur di kaki Turki dengan skor 1-3. Benar-benar tragis bagi Croasia.
Pertandingan di Stadion St. Jakob-Park, Basel, semalam, bisa dikatakan pertandingan yang sangat menegangkan. Setidaknya hal itu terlukis dari pernyataan Kanselir Jerman, Angela Merkel, yang dengan setia mengikuti pertandingan Jerman melawan Turki sejak awal hingga akhir pertandingan. "Saya harus bilang kalau saya sering menahan nafas", ujarnya.
Laga Kamis dini hari ini juga sekaligus mengukuhkan Timnas Turki sebagai kuda hitam yang lahir di Uero 2008. Meski merumput di semifinal dengan hanya 15 pemain siap tanding. Minus beberapa pemain utama yang terpaksa duduk di kursi penonton lantaran cidera dan akumulasi kartu kuning, namun Turki mampu melayani dengan sangat ajaib tim raksasa Jerman yang turun dengan kekuatan penuh. Bahkan Jerman dibuat tercengan karena jala gawangnya lebih dulu bergetar akibat sepakan Ugur Boral di menit ke-22.
Menghadapi gempuran The Comeback King (julukan yang diberikan kepada Turki karena gol-golnya dimenit terakhir) membuat Ballack cs mati kutu hampir sepanjang pertandingan melawan kegigihan tim asuhan Terim ini. Hal ini diakui oleh penentu kemenangan Jerman, Philipp Lahm. Ia mengatakan "Kami bermain tidak begitu baik, dan Turki menguasai hampir di seluruh bagian pertandingan dan itu membuat kami sangat kesulitan."
Meski akhirnya Turki harus kalah, namun pelatih yang pernah ‘mengecat’ Galatasarray, Ac-Milan dan Fiorentina ini, merasa sangat bangga dengan kesuksesan tim asuhannya. Ia mengatakan "Bertahun-tahun ke depan, ketika publik bicara soal Uero 2008, maka mereka akan mengingat Turki. Mengingat kesuksesan kami".
Daya Juang yang Tinggi
Laga Turki di Uero 2008 ini patut diajungi dua jempol. Tak hanya karena mampu menembus babak semifinal melibas klub-klub unggulan Eropa, namun kebanggaan itu lebih disebabkan nilai performance yang berhasil mereka bekaskan kepada miliaran pasang mata diseluruh penjuru dunia bagaimana seharusnya setiap kita memiliki daya juang atau Fighting Spirit. Setidaknya ada 3 macam daya juang Turki yang bisa kita ambil hikmahnya, yaitu:
Pertama, daya juang di tengah banyak kelemahan. Ketika sebagian besar pemain utama mereka harus absen, namun sedikitpun mereka tak gentar mengadapi klub besar Jerman yang turun dengan kekuatan pemain utama 100%. "Jerman memang tim hebat, tapi kami tidak takut. Dan kami akan menang", demikian tukas salah seorang fan Timnas Turki.
Pernyataan seorang fan tersebut memang bukan isapan jempol belaka. Hal ini dibuktikan ‘Ay-Yildizhar’ sejak menit pertama peluit dibunyikan. Tim Turki terus merangsek dan mampu mengimbangi permainan Jerman yang full-team utama. Bahkan mampu mengawali penjebolan gawang Jerman yang dikenal disiplin dan ketat penjagaannya. Jaring Jens Lehmann pun bergetar.
Kedua adalah daya juang dari pressure atau tekanan. Bisa dibayangkan, selama pertandingan sejak di kelas Group, Turki harus melewati pertandingan selalu dengan ketertinggalan skor terlebih dahulu. Ketika melawan Swiss, Turki tertinggal 0-1. Namun pada detik-detik terakhir mereka bisa merubah angka tersebut dengan angka 2-1. Melawan Ceko lebih fantastik lagi, hanya dalam tempo di 15 menit terakhir, Turki mampu melesakkan 3 gol sekaligus dari sebelumnya tertinggal 2-0 sampai menit ke-75. Kedudukan pun berubah menjadi 2-3 untuk kemenangan Turki. Sama halnya saat melawan Kroasia, Turki mampu menyamakan kedudukan di menit 120 perpanjangan waktu yang mengantarkan tim tersebut menang 1-3 lewat adu pinalti. Tak heran jika mereka mendapat gelar "The Comeback King".
Nilai lebih lain yang ditunjukkan Ay-Yildizhar ini adalah konsistennya berlaku fair meski bermain under-pressure. Karenanya wajar jika Colin Kazim-Richards, gelandang Turki, menyampaikan kritikan keras atas gol kemenangan Jerman. Ia mengatakan, "beberapa kali kami membuang bola (karena ada pemain yang jatuh cedera) sepanjang turnamen ini, dan akan sangat baik jika mereka (Jerman) juga melakukan hal yang sama. Itu sedikit mengecewakan karena saya sedang terjatuh. Saya bukan tipe pemain yang terjatuh jika bukan benar-benar cedera. Buktinya saya kemudian langsung diganti", tegasnya.
Ketiga, daya juang dari stigma Inferioritas. Tidak bisa dipungkiri bahwa tim asuhan Fatih Terim ini adalah satu-satunya perwakilan ‘timnas muslim’ yang berlaga di pertandingan bergengsi Piala Eropa ini. Trackrecord dan pamornya yang bisa dibilang kalah jauh dari Timnas negara-negara besar Eropa lainnya seperti Italia, Spanyol, Portugal, Perancis, Jerman, Swiss, Croasia, maupun Ceko, tak membuat tim asal negara Erdogan ini sekedar sebagai penggembira saja.
Meski awal kehadirannya dipandang sebelah mata sebagai underdog, Turki mampu bangkit dari persepsi sebelah mata kebanyakan penikmat dan pengamat bola dunia. Kekalahannya bertarung pada pertandingan perdana melawan Portugal terbukti sekedar menjadi pelajaran untuk terus melaju ditengah-tengah arus opini yang menjagokan timnas negara-negara Eropa umumnya. Dengan prestasinya kini, maka Eropa harus mengakui negeri muslim Turki (khususnya) telah sejajar dengan negara-negara besar di Eropa.
Mengapa mereka bisa melalui berbagai kesulitan dan tekanan luar biasa yang dihadapi? Baik dari mulai sinisme, minimnya ketersediaan SDM, maupun ketertinggalan serta peluang kekalahan. Jawabannya adalah karena dalam setiap perjuangan selalu ada peluang untuk meraih kemenangan. Harapan Itu masih ada, dan selalu ada. Lantas, bisakah kita bangsa Indonesia yang seringkali merasa telah terjerembab dalam berbagai kesulitan, kesusahan, kemiskinan, kebodohan, dan kelemahan, mau mengambil pelajaran dari perjuangan Turki?
Sebab sesulit apapun jalan yang harus ditempuh, harapan itu akan selalu ada. Yang pasti itu semua harus dilakukan dengan langkah nyata. Bukan hanya sekedar bicara. Bangkitlah Negeriku, Harapan itu Masih Ada.







