June 26, 2008

Daya Juang Turki

Filed under: NASEHAT

BELAJAR DARI ‘FIGHTING SPIRIT’ TURKI


Tim besutan Fatih Terim mampu menampilkan icon baru di Uero 2008 ini. Mereka dikenal sebagai Tim yang memiliki semangat dan daya juang tinggi meski akhirnya harus kandas di semifinal menghadapi Jerman (26/06/08). Sebab, dimanapun pertandingan memang yang terpenting adalah menang, bukan sedikit atau banyak selisih gol yang diciptakan. Namun seringkali sikap mental positif yang menonjol dalam sebuah pertempuran jauh lebih berarti ketimbang kemenangan itu sendiri. Seperti ajang Motor GP beberapa pekan lalu, dimana Stonner jauh melaju sampai finish meninggalkan pembalap-pembalap lainnya, termasuk Rossi yang masuk finish diurutan kedua dibalakang Stoner. Namun, sepanjang beberapa lap terakhir kamera lebih sering menyorot upaya Rossi yang sedikit-demi sedikit menyalip lawan-lawannya dari posisi awal yang hanya start di posisi ke-7. Sementara sejak start Stoner memang sudah diposisi pertama. Stoner memang memenangi kejuaraan, namun Rossi memenangi pertempuran. Stoner win the game, but Rossi win the war. Sama halnya dengan Timnas Turki di Uero 2008 ini.

Dunia akhirnya harus mengakui meski Jerman win the game, but Turki win the war. Mengapa? sebab debut Turki sejak pertarungannya di kualifikasi group telah menunjukkan semangat pantang menyerahnya yang sungguh sangat luar biasa, bahkan mampu menumbangkan mimpi klub-klub besar Eropa sekelas Swiss, Ceko, dan Kroasia. Mereka disebut sebagai The Comeback King sekaligus Penghancur Mimpi yang memiliki fighting spirit atau daya juang yang tinggi.

Dari Underdog menjadi ‘King’

Turki datang ke Uero 2008 sebagai sebuah tim underdog yang sama sekali tak diperhitungkan. Penggila sepak bola bisa jadi menanggap keberadaan Turki di group A sebagai tim ‘bonus’ untuk asah kaki para pemain klub besar Eropa lainnya merumput di Swiss & Austria ini. Namun sejarah baru telah membuktikan bahwa Turki mampu lolos sampai ke semifinal menumbangkan tim-tim besar di Group A dan perempat final. Gol-gol yang dilesakkan ke gawang lawan di detik-detik terakhir menjelang pertandingan usai membuat gelar tim dengan semangat juang tinggi disandangkan kepadanya.

Ya, podium semifinal yang mereka pijaki menjadi bukti bagaimana semangat juang mereka yang tak kenal lelah. Meski pada pertandingan pertamanya kalah ditekuk Portugal 0-2, namun pada putaran berikutnya Turki mampu mempecundangi tuan rumah Swiss dengan skor 2-1. Padahal saat itu Turki tertinggal lebih dulu dan akhirnya membalik keadaan pada menit terakhir.

Demikian pula pada putaran ketiganya melawan Ceko. Keunggulan Ceko 2-0 sampai menit ke-75 secepat kilat di-putarbalik-kan Semith Senturk cs menjadi 2-3. Hanya dalam 15 menit gol demi gol di sarangkan Turki ke gawang Ceko. Tak pelak pertandingan tragis ini membuat syok Petr Cech dan kawan-kawan.

Pertarungan paling tragis adalah saat Turki berhadapan dengan Kroasia di perempatfinal. Laga rumput hijau yang berlangsung alot harus berjalan tanpa gol hingga menit ke 90. Perpanjangan waktu 30 menit pun pada akhirnya menjadi sejarah pilu bagi tim unggulan Kroasia. Bagaimana tidak, gol ‘emas’ yang dilesakkan Ivan Klasnic di menit 119 dilumerkan secara mengejutkan oleh tendangan ‘maut’ Semith Senturk tepat di menit 120. Adu pinalti atas kedudukan 1 sama menjadikan Kroasia tersungkur di kaki Turki dengan skor 1-3. Benar-benar tragis bagi Croasia.

Pertandingan di Stadion St. Jakob-Park, Basel, semalam, bisa dikatakan pertandingan yang sangat menegangkan. Setidaknya hal itu terlukis dari pernyataan Kanselir Jerman, Angela Merkel, yang dengan setia mengikuti pertandingan Jerman melawan Turki sejak awal hingga akhir pertandingan. "Saya harus bilang kalau saya sering menahan nafas", ujarnya.

Laga Kamis dini hari ini juga sekaligus mengukuhkan Timnas Turki sebagai kuda hitam yang lahir di Uero 2008. Meski merumput di semifinal dengan hanya 15 pemain siap tanding. Minus beberapa pemain utama yang terpaksa duduk di kursi penonton lantaran cidera dan akumulasi kartu kuning, namun Turki mampu melayani dengan sangat ajaib tim raksasa Jerman yang turun dengan kekuatan penuh. Bahkan Jerman dibuat tercengan karena jala gawangnya lebih dulu bergetar akibat sepakan Ugur Boral di menit ke-22.

Menghadapi gempuran The Comeback King (julukan yang diberikan kepada Turki karena gol-golnya dimenit terakhir) membuat Ballack cs mati kutu hampir sepanjang pertandingan melawan kegigihan tim asuhan Terim ini. Hal ini diakui oleh penentu kemenangan Jerman, Philipp Lahm. Ia mengatakan "Kami bermain tidak begitu baik, dan Turki menguasai hampir di seluruh bagian pertandingan dan itu membuat kami sangat kesulitan."

Meski akhirnya Turki harus kalah, namun pelatih yang pernah ‘mengecat’ Galatasarray, Ac-Milan dan Fiorentina ini, merasa sangat bangga dengan kesuksesan tim asuhannya. Ia mengatakan "Bertahun-tahun ke depan, ketika publik bicara soal Uero 2008, maka mereka akan mengingat Turki. Mengingat kesuksesan kami".

Daya Juang yang Tinggi

Laga Turki di Uero 2008 ini patut diajungi dua jempol. Tak hanya karena mampu menembus babak semifinal melibas klub-klub unggulan Eropa, namun kebanggaan itu lebih disebabkan nilai performance yang berhasil mereka bekaskan kepada miliaran pasang mata diseluruh penjuru dunia bagaimana seharusnya setiap kita memiliki daya juang atau Fighting Spirit. Setidaknya ada 3 macam daya juang Turki yang bisa kita ambil hikmahnya, yaitu:

Pertama, daya juang di tengah banyak kelemahan. Ketika sebagian besar pemain utama mereka harus absen, namun sedikitpun mereka tak gentar mengadapi klub besar Jerman yang turun dengan kekuatan pemain utama 100%. "Jerman memang tim hebat, tapi kami tidak takut. Dan kami akan menang", demikian tukas salah seorang fan Timnas Turki.

Pernyataan seorang fan tersebut memang bukan isapan jempol belaka. Hal ini dibuktikan ‘Ay-Yildizhar’ sejak menit pertama peluit dibunyikan. Tim Turki terus merangsek dan mampu mengimbangi permainan Jerman yang full-team utama. Bahkan mampu mengawali penjebolan gawang Jerman yang dikenal disiplin dan ketat penjagaannya. Jaring Jens Lehmann pun bergetar.

Kedua adalah daya juang dari pressure atau tekanan. Bisa dibayangkan, selama pertandingan sejak di kelas Group, Turki harus melewati pertandingan selalu dengan ketertinggalan skor terlebih dahulu. Ketika melawan Swiss, Turki tertinggal 0-1. Namun pada detik-detik terakhir mereka bisa merubah angka tersebut dengan angka 2-1. Melawan Ceko lebih fantastik lagi, hanya dalam tempo di 15 menit terakhir, Turki mampu melesakkan 3 gol sekaligus dari sebelumnya tertinggal 2-0 sampai menit ke-75. Kedudukan pun berubah menjadi 2-3 untuk kemenangan Turki. Sama halnya saat melawan Kroasia, Turki mampu menyamakan kedudukan di menit 120 perpanjangan waktu yang mengantarkan tim tersebut menang 1-3 lewat adu pinalti. Tak heran jika mereka mendapat gelar "The Comeback King".

Nilai lebih lain yang ditunjukkan Ay-Yildizhar ini adalah konsistennya berlaku fair meski bermain under-pressure. Karenanya wajar jika Colin Kazim-Richards, gelandang Turki, menyampaikan kritikan keras atas gol kemenangan Jerman. Ia mengatakan, "beberapa kali kami membuang bola (karena ada pemain yang jatuh cedera) sepanjang turnamen ini, dan akan sangat baik jika mereka (Jerman) juga melakukan hal yang sama. Itu sedikit mengecewakan karena saya sedang terjatuh. Saya bukan tipe pemain yang terjatuh jika bukan benar-benar cedera. Buktinya saya kemudian langsung diganti", tegasnya.

Ketiga, daya juang dari stigma Inferioritas. Tidak bisa dipungkiri bahwa tim asuhan Fatih Terim ini adalah satu-satunya perwakilan ‘timnas muslim’ yang berlaga di pertandingan bergengsi Piala Eropa ini. Trackrecord dan pamornya yang bisa dibilang kalah jauh dari Timnas negara-negara besar Eropa lainnya seperti Italia, Spanyol, Portugal, Perancis, Jerman, Swiss, Croasia, maupun Ceko, tak membuat tim asal negara Erdogan ini sekedar sebagai penggembira saja.

Meski awal kehadirannya dipandang sebelah mata sebagai underdog, Turki mampu bangkit dari persepsi sebelah mata kebanyakan penikmat dan pengamat bola dunia. Kekalahannya bertarung pada pertandingan perdana melawan Portugal terbukti sekedar menjadi pelajaran untuk terus melaju ditengah-tengah arus opini yang menjagokan timnas negara-negara Eropa umumnya. Dengan prestasinya kini, maka Eropa harus mengakui negeri muslim Turki (khususnya) telah sejajar dengan negara-negara besar di Eropa.

Mengapa mereka bisa melalui berbagai kesulitan dan tekanan luar biasa yang dihadapi? Baik dari mulai sinisme, minimnya ketersediaan SDM, maupun ketertinggalan serta peluang kekalahan. Jawabannya adalah karena dalam setiap perjuangan selalu ada peluang untuk meraih kemenangan. Harapan Itu masih ada, dan selalu ada. Lantas, bisakah kita bangsa Indonesia yang seringkali merasa telah terjerembab dalam berbagai kesulitan, kesusahan, kemiskinan, kebodohan, dan kelemahan, mau mengambil pelajaran dari perjuangan Turki?

Sebab sesulit apapun jalan yang harus ditempuh, harapan itu akan selalu ada. Yang pasti itu semua harus dilakukan dengan langkah nyata. Bukan hanya sekedar bicara. Bangkitlah Negeriku, Harapan itu Masih Ada.

 

June 23, 2008

Orang Bilang PKS Cari Aman

Filed under: SIYASAH

SOAL MONAS: ORANG BILANG PKS CARI AMAN (???)

 
Umat Islam saat ini memang diuji psikologi aqidahnya. Mencuatnya puncak gunung es soal Ahmadiyah yang ditandai dengan kisruh Monas 1 Juni 2008 lalu sangat menyedot perhatian seluruh umat Islam di Indonesia. Media massa berebut posisi untuk menjadi yang terdepan dalam menyingkap sisi-sisi lain secara ekslusif. Luar biasa memang, hampir seperti paduan suara berbagai media nasional memburu berita dengan angle yang hampir serupa. Yaitu dengan memposisikan jaringan Ahmadiyah dan AKKBB-nya bertengger di atas angin. Sementara Habib Rizieq dan FPI-nya menjadi bulan-bulanan gebukan media massa.

Berita yang santer dan mengalihkan substansi persoalan penistaan agama yang dilakukan Ahmadiyah terhadap Islam ini tentu membuat seluruh umat Islam Indonesia sangat prihatin. Pemerintah SBY-JK yang peragu dan takut terhadap jaringan kekuatan di balik Ahmadiyah ini cuma berani mengeluarkan SKB 3 Menteri yang masih sangat jauh dari harapan. SKB yang sarat dengan kelemahan dan ketidakjelasan itu pun keluar setelah melewati masa berlarut-larut dan memakan korban. Bahkan kelambanan sikap resmi pemerintah itu bukannya menguntungkan umat Islam, justru umat Islam yang menginginkan kemurnian ajaran agamanya malah terinjak-injak oleh tipuan sesat kalangan liberal yang semakin menjadi-jadi membela ajaran Mirza Ghulam Ahmad secara membabi-buta.

Media nasional pun gencar menampilkan sosok-sosok corong liberal untuk mengaduk-aduk cara berfikir umat Islam. Orang-orang yang dikenal sangat dekat dengan asing dan Yahudi mendapatkan porsi luar biasa untuk tampil di media dalam rangka menghembuskan pembelaannya terhadap ajaran sesat ini atas nama kebebasan beragama dan berkeyakinan. Apalagi salah satu tokoh sentralnya, Gus Dur, yang ucapannya dianggap sebagai titah kebenaran oleh sebagian kalangan masyarakat menjadi garda terdepan yang membela Ahmadiyah. Hal ini ditegaskannya dalam sebuah jumpa pers di Markas PBNU Jakarta Pusat 9 Juni 2008 lalu. "Selama saya masih hidup, saya akan pertahankan gerakan Ahmadiyah, ngerti nggak ngerti terserah," ujar Gus Dur. Tak urung masyarakat awam dan kebanyakan yang kualitas agama dan agidahnya belum cukup memadai, mereka dibuat kebingungan. Yang benar disalahkan yang salah dibela. Kasihan benar umat ini.

Masih dalam suasana panas pertarungan ideologi kalangan Islam Liberal dan Ahmadiyahnya melawan umat Islam, media televisi nasional berinisiatif menggelar dialog ataupun debat Ahmadiyah vs Islam. Meski tak kurang dari 10 kali acara seperti ini telah digelar oleh media, namun secara jujur dampaknya kurang begitu terasa signifikan. Pengikut Ahmadiyah tetap dengan kecongkakannya ‘menantang’ umat Islam dengan kepala tegak tengadah. Seolah gejolak penolakan umat Islam selama ini terhadap Ahmadiyah dianggapnya angin lalu. Bahkan Juru Bicara Ahmadiyah Indonesia, Syamsiar Ali, di sebuah dialog pagi TV nasional satu hari pasca keluarnya SKB 3 Menteri, menampilkan gaya meremehkan terhadap ulama MUI yang juga dihadirkan. Terlihat sekali bahwa hingga detik ini mereka tak mau ambil pusing penentangan masyarakat terhadapan kesesatannya, dan masih saja ‘pede’ untuk berhadap-hadapan dengan umat Islam Indonesia.

Ditengah-tengah kemelut Ahmadiyah vs Islam yang terus berkelanjutan ini, pihak-pihak tertentu yang merasa sudah sedikit berbuat untuk membela Islam mencoba meng-kait-kait kan issu yang berkembang ini dengan sikap diamnya PKS terkait persoalan Ahmadiyah dan FPI. Seperti biasa kelompok tertentu ini mengobral tuduhan bahwa PKS sama sekali tak berbuat apapun sebagai sebuah partai yang berasas Islam. Dengan nada yang cukup ’santun’ kelompok ini membanggakan diri karena sudah turut berdebat melawan Ahmadiyah di media televisi. Dan disisi lain mencibir PKS yang menurutnya diam saja tak berbuat apa-apa. Kelompok ini bilang, PKS cari aman untuk kepentingan 2009. Benarkah tuduhan kelompok (yang sudah berlangganan menyudutkan PKS) ini???

Kita bisa buktikan bahwa tuduhan ini keliru besar. Tuduhan kerdil semacam ini memang menipu namun demikian mudah untuk dipatahkan. Sebab faktanya tidaklah seperti yang mereka tuduhkan bahwa PKS diam saja menyikapi arogansi Ahmadiyah dan jaringan pendukungnya dari orang-orang liberal. Beberapa cuplikan dari pemberitaan media massa berikut ini sudah pasti menghancurkan cibiran mereka yang kurang melek informasi dan asal dengki saja.
 
Jangan Bubarkan FPI ! 

Pada tanggal 03/06/2008, detik.com menampilkan berita berjudul "Anggota FPKS: Daripada Dibubarkan, Lebih Baik Bina FPI". Ditengah-tengah desakan kalangan liberal dan kelompok-kelompok masyarakat yang berhasil teracuni media televisi nasional terhadap pembubaran FPI terkait kasus Monas 2 hari sebelumnya, anggota DPR RI asal FPKS angkat bicara untuk mengkounter arus opini yang liar tak berimbang. DH. Al-Yusni dalam surat elektroniknya terhadap detik.com menyatakan bahwa kisrun Monas adalah buah dari kegagalan pemerintah dalam memberikan pembinaan terhadap ormas-ormas, termasuk FPI salah satunya.

Ia meluruskan bahwa isu pembubaran FPi adalah sebuah kekeliruan besar yang hanya akan merunyamkan suasana. Karenanya ia menyarankan agar pemerintah dapat melakukan pembinaan dengan semestinya. Sebab pembubaran FPI malah akan semakin memanaskan suasana. Disisi lain, Bimas Depag baginya adalah sebagai akar persoalan karena selama ini meninggalkan peran melakukan bimbingan agama terhadap masyarakat. Padahal anggaran yang diberika terhadapnya cukup fantastik, yaitu sebesar 145 Miliar. Intinya, jangan sampai opini pembubaran FPI menjadi bola liar yang akan merugikan kalangan Islam yang membela kemurnian agamanya meski cara kekerasan fisik bukanlah pilihan cara yang dipilih PKS. Tetapi, pembenahan dan fasilitasi bimbingan adalah pilihan terbaik.

Usut Tuntas AKKBB

Masih di hari yang sama, Ketua Fraksi PKS juga mengelurkan pernyataannya yang dilansir oleh inilah.com. Ia menyatakan bahwa “Kepolisian jangan hanya fokus pada penyelidikan dan penangkapan Laskar Pembela Islam dan FPI tapi juga memeriksa pihak AKKBB terkait dugaan aksi tanpa izin, penggunaan senjata api dan pernyataan penghinaan terhadap pihak lain.” Demikian kata Ketua DPP PKS sekaligus Ketua FPKS DPR RI Mahfudz Siddiq saat dihubungi INILAH.COM, Rabu (4/6).

Mahfudz melanjutkan bahwa jika penyelesaian hukum insiden Monas dilakukan secara sepihak sebagaimana yang saat itu menjadi mainframe media, maka akan memunculkan kemarahan umat Islam yang lebih serius. Karenanya harus dilakukan secara adil dan objektif terhadap kedua belah pihak secara adil dan objektif. Jangan sampai kekerasan yang dilakukan massa LKI menjadi alat legitimasi bagi Ahmadiyah untuk terus melakukan penistaan terhadap Islam.

Pemberitaan media televisi nasional yang menjadikan tindak kekerasan FPI sebagai perspektif yang ditonjolkan menimbulkan gejolak yang luar biasa. FPI Cirebon sudah mendapatkan perlakuan kekerasan oleh sekelompok orang. FPI Jember juga didatangi massa Garda bangsa yang menuntut pembubaran. Sayangnya, meski pihak kepolisian telah berupaya menyampaikan keterangan untuk penyeimbang bahwa tragedi Monas adalah sebuah kejadian yang in design, namun media masih tetap saja tak bisa adil dan objektif mendudukkan persoalan ini. Bahkan unjuk gigi beberapa kelompok massa yang menghembuskan ‘perang sipil’ dengan latihan ala militer dan kekebalan dipertontonkan tv-tv nasional kita. Tak ayal hal ini semakin membuat emosi masyarakat berkecamuk secara liar.

Karenanya, sebagai representasi FPKS yang mengedepankan cara elegan dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa dan agama, maka lewat peran sesuai porsinya, Mahfudz Siddiq mendorong agar proses keadilan terhadap 2 kelompok ini benar-benar harus ditegakkan. Bukan kah adil itu lebih dekat kepada taqwa? Jika hal ini belum saja dipahami oleh kelompok-kelompok yang suka mendengki, patut disampaikan kepadanya sebuah pertanyaan mendasar, "Apakah cara kekerasan dalam konteks ini dibenarkan dalam syari’at Islam?" Bisa disimak tentang kisah Abu Bakar Ash-Shidiq dan Ali bin Abi Thalib dalam menghadapi cacian orang-orang yang munafik bahkan kafir. Dan keberanian para pelaku kekerasan dari anggota FPI untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya adalah satu sikap yang patut dipuji.

Persoalannya, jika FPI telah berani bertanggung jawab akan tindak kekerasannya melalui jalur hukum. Maka sudah seharusnya pihak kepolisian juga menindak tegas komplotan AKKBB yang telah nyata-nyata melecehkan Islam, melakukan kekerasan verbal, dan memprovokasi serta membawa senjata api. Terus kejar dan jangan sampi membuat mereka merasa nyaman atas kejahatan yang telah mereka lakukan! Penegasan ini (agar kedua belah pihak di usut secara hukum) dilansir ulang satu hari kemudian oleh detik.com.

Dalam rilis yang dikirimkanya ke redaksi inilah.com hari itu, ia juga menyerukan agar pimpinan parpol, terutama yang kadernya terlibat langsung, beserta ormas-ormas Islam untuk kembali dengan kepala dingin menginisiasi suasana damai dan mengedepankan persatuan guna menyelesaikan persoalan ini. Sebab, akibat kompleksnya pikan-pihak yang terlibat dalam masalah ini mengakibatkan panasnya suasana tidak hanya di Jakarta dan Jawa saja, namun mulai meluas dari Sumatar Utara hingga wilayah Indonesia bagian timur.

Hati-Hati, Ada Asing Ikut Main 

Anggota DPR RI FPKS, Soeripto juga mengingatkan adanya penyusupan agen asing di kisruh Monas 1 Juni kemarin. Sinyalemen ini dilontarkan Soeripto di hari kedua pasca rusuh. Meski hingga beberapa hari banyak kalangan yang belum yakin atas kecurigaan kader PKS ini, namun bukan berarti insting mantan pejabat Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) ini keliru. Demikian pula Habib Rizieq meragukan analisa Soeripto, “Saya belum dengar, nanti akan saya cross check dulu ke Pak Soeripto. Kalau tudingan itu benar, tunjukkan buktinya,” kata Ketua FPI Habib Rizieq dalam jumpa pers di kediamannya, Jalan Petamburan III, Jakarta Pusat, Senin (3/6/2008).

Tanda-tanda petunjuk kebenaran analisa tersebut akhirnya muncul di kemudian hari setelah kedutaan besar AS mengeluarkan pernyataan kecaman terhadap kasus Monas itu. Baru setelah itu beberapa pihak panas dan kebakaran jenggot lantas marah dan menuding pihak AS telah mencampuri urusan dalam negeri Indonesia.

Rabu, 4 Juni 2008, anggota DPR RI FPKS Ma’mur Hasanudin juga turut angkat bicara. Sebagaimana dilansir oleh situs resmi PKS, Makmur menyebut bahwa “Banyak kepentingan terhadap kejadian monas. AKK-BB berkepentingan untuk mengaburkan tuntutan ummat Islam terhadap pembubaran Ahmadiyah dengan menuntut pembubaran FPI lebih dulu, sementara pada saat yang sama pemerintah mungkin menunggangi kejadian ini untuk mengalihkan isu BBM”, demikian ungkapnya.

Keprihatinannya juga terkait dengan suasana konflik yang semakin meluas dan salah arah, “Adanya niatan sebagian warga NU untuk menyerang FPI merupakan contoh keberhasilan AKK-BB dalam memecah ummat Islam”. Karenanya, ia menyoroti penangkapan aktivis FPI oleh aparat kepolisian yang dinilainya sudah over-acting. Sebagaimana diketahui bahwa Mabes Polri mengerahkan 1500 pasukannya untuk menangkap tersangka kekerasan Monas di markas FPI. Ma’mur juga meminta dengan tegas agar polisi juga memeriksa tokoh-tokoh AKK-BB yang nama-namanya terpampang dengan jelas sebanyak 289 nama di selebaran provokatif yang tersebar dibeberapa media massa nasional.

Pemerintah Harusnya Tegas

Turut menyeimbangkan bandul opini yang gencar menguntungkan pihak Ahmadiyah, politisi PKS Fachri Hamzah juga angkat bicara di media. Ia menyoroti kelemahan pemerintah yang mengakibatkan masyarakat terdpicu untuk main hakim sendiri. “Akar keributan sosial dan pelanggaran hukum selama ini terjadi karena aura pemerintah yang lemah. Sehingga kalau harus memilih, lebih baik pemerintah yang tegas meski salah. Daripada benar, tapi ragu-ragu. Sementara pemerintah saat ini, salah dan ragu-ragu,” kata Fahri di Jakarta, Kamis (5/6).

Masih menurut Fahri sebagaimana dilansir inilah.com (05/06/08), kesalahan dapat dilanjutkan dengan permintaan maaf. Meskipun begitu pemerintah tidak boleh sering-sering salah. Sementara ‘kalau salah dan ragu’, maka dampaknya sungguh luar biasa. “Bayangkan efek pembangkangan sipilnya sungguh luar biasa, sehingga polisi menjadi sasaran kecaman dan serangan fisik,” tegasnya. Padahal pengambil keputusan dalam kasus Ahmadiyah ini seharusnya ada di tangan SBY-JK.

Bersikaplah Secara Arif

Memasuki hari ke-5 pasca kisruh, dimana potensi konflik semakin meluas ke seluruh wilayah Indonesia, anggota Komisi VIII DPR RI Yoyoh Yusroh juga turut bicara. Ia meminta para tokoh agama dan masyarakat untuk bertindak arif dalam mengarahkan emosi massanya yang merespon Insiden Monas. “Ini sangat penting untuk mencegah berbagai tindak kontraproduktif dan anarkis,” kata Yoyoh di Depok, Jumat (6/6).

Dengan sangat tegas ia menyatakan bahwa Ahmadiyah merupakan agama tersendiri diluar Islam. Karenanya sedikitpun mereka tak memiliki hak untuk memakai simbol-simbol dan mengaku sebagai bagian dari Islam. Sebab jika hal ini dilakukannya, aka mereka memasuki wilayah penistaan terhadap Islam. “Karena itu ketegasan Presiden untuk menyikapi keberadaan Ahmadiyah di Indonesia sudah sangat mendesak demi rasa keadilan dan martabat bangsa,” ujarnya. Namun, demikian ia juga menolak cara-cara kekerasan untuk menghadapi persoalan aqidah ini. Sebab “Tindakan anarkis tidak akan dapat menyelesaikan masalah secara mendasar,” tegasnya.

Beberapa hal di atas disampaikannya menyambut inisiatif pemerintah Depok yang dipimpin kader PKS, Dr. Ir. Nurmahmudi Ismail, yang menggalang komitmen stake holder strategis untuk menolak eskalasi konflik di tingkat lokal. Bersama Kapolres Depok kader PKS ini menghimpun berbagai kalangan ulama untuk menangkal konflik Monas agar tak meluas masuk ke wilayah Depok.

Segera Terbitkan SKB 3 Menteri !

Di hari yang sama, melalui presidennya PKS terus mendesak segera diterbitkannya SKB 3 Menteri. “Pemerintah (Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama dan Kejaksaan Agung) secepatnya harus menerbitkan SKB itu. Penyelesaian secara hukum terhadap masalah Ahmadiyah akan menghilangkan pro dan kontra di kalangan masyarakat,” kata Presiden PKS Ir H Tifatul Sembiring.

Ia juga menegaskan bahwa bentrok Monas memang sengaja dirancang oleh kalangan yang menghendaki keuntungan-keuntungan dibalik kerusuhan itu. Presiden PKS mengatakan, "Seharusnya bentrokan tidak terjadi kalau tidak ada pihak yang melanggar izin demo. Polisi harus bersikap adil,” uangkapnya. Artinya, pihak AKKBB memang sengaja memprovokasi dan melanggar izin pemerintah yang kemudian menyebabkan terjadinya tindak kekerasan.

Menangapi situasi yang terjadi akibat bentrokkan tersebut, sebagaimana dimuat oleh situs resmi PKS, Tifatul menyerukan agar seluruh elemen bangsa dan tokoh masyarakat agar mendamaikan dan tidak memprovokasi keadaan. Tifatul minta semua pihak agar menyelesasikan masalah dengan kepala dingin. Sementara menanggapi penangkapan terhadap Ketua Umum FPI Habib Rizieq Shihab dan pengikutnya, PKS meminta agar polisi berlaku adil dengan menganut asas praduga tak bersalah. PKS meminta semaksimal mungkin dalam mengambil keputusan tidak dipengaruhi tekanan politik manapun termasuk pihak asing. “Jangan sampai penegak hukum dipengaruhi tekanan politik manapun bahkan pihak asing sekalipun,” pungkasnya.

SKB Masih Lemah, Awasi Implementasinya !


Anggota DPR RI FPKS yang lainnya, H. Mutammimul ‘Ula, SH. turut merbicara menyikapi muatan SKB 3 Menteri. Meski menyambut baik dan menilai positif keluarnya keputusan tersebut, namun ia mengatakan bahwa pembubaran Ahmadiyah merupakan langkah yang lebih baik daripada hanya pelarangan semua kegiatan seperti yang tercantum dalam SKB tersebut. Hal ini ini diungkapkannya pada Rabu 11 Juni di gedung DPR RI sebagaimana diberitakan www.pk-sejahtera.org.

Keesokan harinya, senada dengan apa yang telah disampaikan Tamim, panggilan akrab Mutamimul ‘Ula, DH. Al-Yusni anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi PKS juga mempublikasikan sikapnya melalui detik.com. Ia dan beberapa politisi parpol-parpol Islam lainnya memandang bahwa SKB Mendagri, Menag dan Jaksa Agung soal Ahmadiyah tak memadai. Karenanya FPKS mengajukan dikeluarkannya Keputusan Presiden (Keppres) untuk menguatkan SKB yang sebelumnya telah keluar.



“Karena SKB hanya berisi peringatan, saya meminta pemerintah untuk melakukan pengawasan dan pembinaan. Jika pengawasan dan pembinaan tidak berjalan, saya akan mendorong untuk diterbitkannya Keppres,” cetus , DH Al Yusni, dalam rapat kerja dengan Menag, Mendagri dan Jaksa Agung, seperti diuraikannya secara tertulis ke redaksi detikcom, Kamis (12/6/2008).

Menurut aleg PKS ini, penerbitan SKB 3 Menteri adalah bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap masyarakat. “Namun demikian, terdapat beberapa kekurangan dan kelemahan antara lain, SKB tidak memuat definisi penodaan dan penistaan agama dan keyakinan, batasan kebebasan dalam beragama, seperti yang disuarakan oleh banyak pihak,” jelas Yusni. Lebih lanjut, Koordinator Kelompok Komisi VIII FPKS ini mengkritik, “SKB tidak mempunyai implementasi yang jelas, multitafsir, bersifat parsial dan insidental. Mestinya dibuat ketentuan yang kuat, mengikat dan permanen.” (www.detik.com, 12/06/08)).

Dilansir okezone.com (12/06/08), Ma’mur Nasution anggota legislatif DPR RI FPKS, juga ikut mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap implementasi SKB ini. Anggota Komisi III ini juga berharap seluruh produk yang berkaitan dengan Jemaah Ahmadiyah Indonesia segera ditarik dari masyarakat.“Berdasarkan SKB tersebut secara otomotatis produk yang berkaitan dengan ajaran Ahmadiyah harus segera ditarik peredarannya dari masyarakat,” tegasnya.

Jangan Peti-es-kan AKKBB

Melalui situs resmi FPKS, ia juga menyorot ketuntasan pengusutan kasus Monas terhadap kedua belah pihak. Terhadap proses hukum yang ditangani kepolisian, ia menuntut agar pengadilan terhadap para provokator AKKBB juga segera diperiksa secara tegas dan adil. Ia menghimbau agar polisi tidak mem-peti-es-kan kasus tersebut hanya dengan menetapkan tersangka dari kalangan aktifis FPI saja.

“Langkah sigap kepolisian dalam menangkap aktifis FPI patut diapresiasi, namun tugas polisi belumn selesai. Polisi masih harus mengusut tuntas bentrokan Monas dengan memeriksa aktor-aktor AKK-BB,” kata Anggota Komisi Hukum DPR RI Ma’mur Hasanuddin usai bertemu para aktifis Pemuda Penegak Moral dan Etika di ruang kerjanya di DPR RI, Rabu (11/6).

Ma’mun mendesak agar institusi kepolisian menunjukkan independensinya sebagai lembaga penegak hukum dalam menuntaskan kasus Monas ini. Polisi harus bebas dari tekanan dan lobi siapa pun. Karenanya sangat tidak patut jika hanya aktifis FPI saja yang dijadikan tersangka padahal kuat indikasi bahwa kelompok AKK-BB sengaja melakukan provokasi dengan acungan senjata dan kata-kata kotor.

Presiden PKS Tuntut Keppres Bubarkan Ahmadiyah

Dan Jum’at (20/6) lalu sebagaimana dimuat Harian Republika, kembali Presiden PKS menegaskan bahwa Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), harus segera mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Pembubaran Ahmadiyah. Menurutnya, SKB 3 Menteri belumlah cukup, termasuk pembekuan Ahmadiyah juga belumlah cukup sebab keberadaan Ahmadiyah tidak bisa dipungkiri merupakan wujud penistaan terhadap Islam. Satu-satunya pilihan adalah, Ahmadiyah harus dibubarkan.


Apalagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) yang telah mendapatkan mandat khusus dari pemerintah untuk menilai dan menginvestigasi penganut Ahmadiyah, sudah menyatakan Ahmadiyah sesat dan menyesatkan. ‘’Bahkan, Ahlussunnah Waljama’ah sedunia pun telah menyatakan Ahmadiyah sesat,'’ ungkap Tifatul.

Dengan tegas Tifatul juga mengatakan, hendaknya para penganut agama lain tidak perlu imencampuri masalah ini atas nama kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ia juga mengecam pihak negara asing non-Muslim yang telah ikut campur secara provokatif. Karena, ini masalah internal umat Islam Indonesia. Partai Keadilan Sejahtera, lanjutnya, dengan tegas menyatakan Ahmadiyah sesat.

Selain itu, ia pun mendukung upaya umat Islam di Indonesia yang melakukan desakan kepada SBY. ‘’Namun, tidak secara anarkis,'’ ujarnya. Lalu, ia menambahkan, Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam. Sehingga, tidak ada alasan SBY menolak mengeluarkan Keppres itu. (republika)

Itulah Fakta PKS Soal Monas

Selain banyak fakta di atas, sejatinya sejak jauh-jauh hari PKS telah secara resmi mengeluarkan sikap partainya terkait keberadaan Ahmadiyah. Tanggal 9 Mei 2008, Dewan Syuro’ Partai PKS ini sudah mengeluarkan bayanat No.17/B/K/DSP-PKS/1429, bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan tidak layak diperlakukan sebagaimana seorang muslim. Pasca rusuh Monas, 4 Juni 2008, Fraksi PKS juga mengeluarkan pernyataan tegas menyikapi bentrok Monas secara seimbang.

Beberapa kutipan media diatas sangat jelas membuktikan bahwa kader-kader PKS di tataran pimpinan partai maupun melalui kader-kadernya di parlemen melakukan advokasi aktif untuk menyeimbangan opini media sekaligus melakukan pembelaan terhadap kalangan Islam yang menjadi korban rekayasa kekuatan-kekuatan asing yang menunggangi issu Ahmadiyah ini. Kader-kadernya pun dalam wadah yang lain turut melakukan pembelaan semenjak hari pertama pasca kejadian. Keberadaan mantan anggota DPR RI dari PKS periode 1999-2004 disamping Habib Rizieq ketika FPI menyelenggarakan konferensi pers, adalah bukti lain yang meruntuhkan tudingan kacau kelompok yang gemar menyudutkan PKS ini, ujub dan keder.

Semoga sekelumit informasi ini menjadi jawaban yang faktual bahwa dalam tataran apapun kader-kader PKS sedikitpun tak pernah tinggal diam membela al-haq dan melawan al-bathil. Lantas apa yang sudah kalian lakukan wahai pihak-pihak yang senang mencibir PKS???

Diolah dari berbagai sumber.







June 12, 2008

Kampus Wisata

Filed under: THULABI

MEMBANGUN KAMPUS BERWAWASAN WISATA NASIONAL

 
Biaya pendidikan saat ini semakin gila dengan model kebijakan BHMN yang sekarang ini diterapkan di 4 kampus besar ternama. Instutut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Gajah Mada (UGM). Atas dasar kebijakan pemerintah tentang status BHMN ini, ke-empet kampus diatas pun berlomba-lomba memasang tarif mahal untuk jalur khusus yang mereka tawarkan. Jalur khusus ini di’jual’ kepada calon mahasiswa kaya meski secara akademik tidak masuk kualifikasi. Tak tanggung-tanggung, angkanya dapat mencapai ratusan juta rupiah. Akibatnya masyarakat yang kebanyakan sebagai masyarakat menengah kebawah harus gigit jari lantaran tak mampu membayar mahal.

Saya menilai bahwa implementasi kebijakan ini sangat premature diterapakan oleh pihak institusi kampus. Implikasi yang terjadi terpersepsi hanya bagaimana caranya mengeruk uang dari masyarakat lantaran kampus diberi wewenang kebijakan untuk mencari biaya operasional ini. Alasan mereka karena pemerintah sudah tak lagi mengucurkan subsidi pendidikan.

Jalan pikiran seperti ini memang mirip kebijakan Pemerintah ketika harga minyak dunia melambung tinggi. Alih-alih menyiapkan berbagai ’senjata’ untuk menangkalnya, pemerintah malah cuma siap menaikkan harga BBM yang notabene berimbas kuat bagi 61 juta warga miskin di Indonesia (data World Bank).

Soal minyak ini Indonesia jauh kalah dengan sistem pemerintahan di Norwegia. Meski beberapa puluh tahun lalu mereka kalah jauh dengan Indonesia dalam eksplorasi hasil bumi (minyak dan gas), namun kini mereka sudah jauh melampaui Indonesia. Justru saat ini mereka termasuk negara yang menikmati keuntungan imbas kenaikan harga minyak dunia.

Berbeda jauh dengan Indonesia. Sejak dulu hingga kini Indonesia cuma bisa menghasilkan minyak mentahnya saja tanpa memiliki teknologi yang dapat ‘menyulapnya’ menjadi BBM. Alhasil, negara yang katanya kaya kandungan minyak ini malah buntung ketika harga inyak dunia melonjak naik.

Kenapa Norwegia bisa melesat melampaui Indonesia? Karena Norwegia memiliki kebijakan yang tegas tentang alih teknologi. Termasuk dalam perminyakan. Saat ini kilang-kilang minyak di Norwegia sangat sepi dari tenaga-tenaga asing. jauh berbda 20 atau 30 tahun lalu yang masih didominasi orang Barat sebagai main engineer dan pengambil kebijakan oparasonal. Norwegia memang cerdas, sehingga mereka tak hanya mau menanam teknologi yang sekedar mengeksplorasi saja, namun mereka juga berupaya keras membangun industri yang mampu mengolah minyak mentah menjadi BBM. Meski biaya yang harus digelontorkan mahal pada tahap awalnya.

Kini masyarakat Norwegia dapat tersenyum dan menikmati ketika harga minyak dunia melambung tinggi. Sedangkan Indonesia.. rakyatnya semakin tercekik dan menjerit. Sebuah langkah ekonomi yang kurang cerdas untuk Indonesia.

Kembali ke soal BHMN, kebijakan pendidikan tinggi kita ini menurut saya memang salah kaprah. Persepsi yang dibangun memang lebih kepada basis materialis. Para pengelola pendidikan tinggi sepertinya memang sadar atau tak sadar telah membangun menara gading bahwa pendidikan yang berkualitas harus dibayar dengan biaya yang tinggi dan mahal. Tidak ada jalan lain.

Makanya, dengan persepsi seperti ini, banyak masyarakat yang tak mampu mengenyam pendidikan yang layak.. Padahal potensi mereka jika dibina dengan benar tak kan kalah bersaing dengan dunia luar. Sebut saja Profesor termuda yang baru-baru ini di nobatkan AS adalah berasal dan berwarga negara Indonesia (WNI).

Prof. Nelson Tansu, lahir di di Medan , 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang (sumber: milist).

Sayang sekali orang-orang yang berkesempatan seperti Prof. Tansu ini sangat sedikit. Jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang 220 juta jiwa tentu sangat miris. Persepsi pendidikan ini pula yang telah menjadikan fakta bahwa dunia pendidikan kita jauh terlampaui oleh negeri tetangga Malaysia. Padahal dahulu Malaysia ‘mengemis’ ke Indonesia dalam masalah ini. Banyak guru-guru dari Indonesia yang di’impor’ negeri Jiran itu untuk mengajari mereka ‘membaca dan menulis’. Tapi sekarang??? Banyak orang pintar Indonesia yang mengais makanan di negeri tetangga itu.

Beberapa tahun lalu saya pernah membaca sebuah artikel Industri di Eropa. Saya lupa dimajalah apa. Salah satu negara yang diulas adalah Jerman. Dalam tulisan itu disebutkan tentang Dunia Baru Pembangunan Industri di negaranya Klinsman. Dimana dalam tataran tertentu, Jerman sedang mengembangkan pembangunan pabrik-pabrik yang berwawasan wisata. Maksudnya, model industri yang selama ini terkesan full-dangerous dan not friendly bagi masyarakat umum akan di rubah menjadi tempat yang justru menarik untuk dikunjungi. Karenanya, mereka (termasuk beberapa negara eropa lainnya) berlomba untuk mendesign pabrik dengan bentuk yang se-estetik mungkin, ramah lingkungan, dan friendly bagi masyarakat luar. Tentu tanpa harus membahayakan rahasia produk mereka sendiri.

Nah, ide ini sangat realistis diadopsi untuk dibangun oleh kampus-kampus berstatus BHMN di Indonesia yang namanya sudah beken dan go internasional. Dengan konsep seperti ini, tentu dapat menghasilkan celah untuk mengalirkan income bagi Kampus itu sendiri. Tinggal kerjasama dengan dinas Pariwisata setempat untuk mengelolanya. Apalagi diketahui bahwa 4 kampus yang berstatus BHMN ini memang memiliki area dan lahan yang sangat luas yang sangat mungkin untuk mengimplementasikan konsep ini.

Selain itu, dengan semakin padatnya pembangunan di kota-kota besar dan semakin meningkatnya awareness masyarakat akan dunia pendidikan, belakangan ini banyak kampus yang melakukan ekspansi ke daerah pinggiran atau pedesaan dengan ‘mencaplok’ lahan yang sangat luas. Maka penerapan konsep ini akan lebih mudah dan realistis. Jika Petronas sudah memiliki 2 menara kembarnya yang mencakar langit Malaysia, bagaimana dengan kampus-kampus bonafit di Indonesia????

Ayo.. kampus mana yang berani menjadi pionir sebagai kampus berwawasan wisata nasional. Kita tunggu aksinya!

June 10, 2008

Kisruh Monas, SBY Untung

Filed under: SIYASAH

MONAS KISRUH, SBY-JK MENDAPAT DURIAN RUNTUH

 
Kejadian di Monas hari Ahad, 1 Juni 2008 lalu langsung menjadi berita utama seantero negeri ini. Bahkan tak hanya televisi nasional yang menyiarkannya. Jaringan televisi internasional CNN juga beberapa hari terakhir secara rutin menayangkan loss control anggota FPI yang melakukan tindak kekerasan terhadap masa pendukung Ahmadiyah yang menamakan dirinya Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Jika CNN setiap harinya menayangkan kejadian rusuh di Monas itu tak kurang dari dua kali sehari, maka media TV nasional benar-benar didomonasi pemberitaan kejadian tersebut.

Tak ketinggalan media catak pun melakukan hal yang sama, menampilkan pemberitaan seragam. Yaitu mengecam FPI dan menggiring opini agar FPI dibubarkan. Hanya satu media cetak nasional yang menyikapi peristiwa Monas ini dengan seimbang dan profesional, yaitu Harian Umum Republika. Sedangkan Kompas,  Sindo, Rakyat Merdeka, The Jakarta Post, dan lain-lain, setali tiga uang. Mereka kompak mendiskreditkan FPI secara tidak adil sementara perbuatan anarkisme verbal yang dipertontonkan kelompok AKKBB tak tersentuh tangan media. Sekedar mengejar oplah dan mengikuti arus utama saja atau memang mereka semua banci. Entahlah, yang jelas mereka telah turut mencptakan iklim perpecahan bagi seluruh umat Islam di Indonesia.

Kekerasan balasan dari masa pendukung Gusdur yang notabene simbol utama gerakan kelompok AKKBB ini dipertontonkan di Markas FPI Cirebon. Papan nama ormas tersebut penyok di tebas masa yang mengatasnamakan balas dendam terhadap aksi di Jakarta. Di Surabaya juga terjadi hal serupa, masa yang di gerakkan Garda Bangsa menggeruduk sekretariat FPI Surabaya. Setelah terjadi pemaksaan, pimpinan FPI Surabaya, Habib Ali membubarkan FPI pimpinannya sendiri. Demikian pula dengan FPI Yogyakarta. Mengalami nasib yang sama.

Tokoh-tokoh politik pun sebagian turut mengamini rel pemberitaan media yang cenderung diskriminatif menampilkan kisruh Monas. Menyudutkan FPI dan menyembunyikan akar persoalan untuk menuntut pembubaran aliran sesat Ahmadiyah. Alhasil, FPI ramai-ramai dihujat dan dituntut untuk dibubarkan. Sesuatu yang sangat ironi. Isu yang tadinya ramai "Bubarkan Ahmadiyah!", kini berpaling ke isu untuk membubarkan pihak yang konsisten hendak membubarkan Ahmadiyah alias "Bubarkan FPI".

Otak-otak di Balik AKKBB

Bola salju permusuhan terhadap upaya pemurnian aqidah Islam yang disambut gegap gempita oleh media dan bahkan pihak Amerika Serikat ini tentu menjadi tanda-tanya banyak pihak. Siapa sebenarnya otak-otak dibalik AKKBB ini.

Dalam selebaran resmi AKKBB yang sebelum rusuh monas dipublikasikan media masa sebagai undangan ajakan melakukan demonstrasi ilegal itu tercantum nama-nama beken. Tak tanggung-tanggung, beberapa diantaranya tercatut nama-nama tokoh nasional yang tertulis dengan huruf tebal. Beberapa nama tersebut adalah sebagai berikut:

Abdurrahman Wahid dan keluarganya (Sinta Nuriah dan Yenni Wahid), Amien Rais, Azyumardi Azra, A. Syafii Maarif, dan Dawam Rahardjo. Orang-orang ini diperkuat barisan penentang kemurnian Islam dan Jaringan Islam Liberal (JIL) seperti Ulil Abshor Abdala, Goenawan Muhammad, Musdah Mulia. Serta beberapa pembela kesalahan seperti Adnan Buyung Nasution dan Todung Mulya Lubis. Orang-orang yang membiarkan Ahmadiyah menistakan Islam ini didukung penuh oleh tokoh-tokoh non-Islam seperti Asmara Nababan, Indra J. Piliang, Christanto Wibisono, Marsilam Simanjuntak, Mochtar Pabotinggi, Ratna Sarumpaet, dan lain-lainnya.

Dukungan Gusdur ini bukanlah dukungan hanya diatas kertas, bahkan secara terang-terangan mantan presiden RI ini, menyatakan dengan tegas dukungannya terhadap Ahmadiyah. Padahal Ahmadiyah jelas-jelas menistakan Islam, Al-Qur’an dan Muhammad saw. Sebagaimana dilansir oleh detik.com (9/6/08), "Selama saya masih hidup, saya akan pertahankan Gerakan Ahmadiyah, ngerti nggak ngerti terserah!". Demikian diucapkan satu-satunya orang Indonesia yang kerap mendapatkan penghargaan dari tokoh-tokoh Yahudi internasional atas keberaniannya membela kepentingan Yahudi di negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia ini. Menyedihkan.

Keberadaan nama Amien Rais dalam selebaran tersebut juga menyayat hati umat Islam Indonesia yang setitik pun tak rela agamanya dinistakan orang-orang yang sesat dan keras kepala. Kita tentu berharap bahwa tercantumnya nama mantan ketua MPR ini karena asal catut saja. Belakangan sejak kejadian tersebut, politisi PAN ini memang cari aman-aman saja. 

Sayang sekali sebuah kelompok Islam yang beberapa waktu sebelumnya seringkali menggelontorkan opini untuk memojokkan partai Islam yang bekerjasa dengan non-muslim kini diam tak berani berkoar. Jika partai Islam tersebut bekerja sama dengan fakta-fakta maslahatnya, gencar di pojokkan. Namun mereka (kelompok yang gemar hasad) ini ‘aa uu’ tak bersuara menyaksikan kolaborasi jahat menistakan Islam. Mana kutipan-kutipan ayat Al-Qur’an yang biasa digunakan untuk memojokkan Partai Dakwah? Ternyata tumpul untuk ‘memuji’ Amien Rais, Gus Dur, Syafii Maarif, Azyumardi Azra, atau yang lainnya.

Konspirasi Mengalihkan Isu BBM 

Berubahnya wacana yang berkembang dari tuntutan pembubaran Ahmadiyah kepada Pembubaran FPI tentu bukan tanpa skenario. Semuanya terkait satu dengan lainnya. Kekuatan-kekuatan yang selama ini dengki terhadap kalangan Islam bermain api untuk mendiskreditkan umat Islam serta mengadu dombanya.

Kondisi konflik ini semakin dipicu dengan pernyataan SBY yang mengecam FPI terkait rusuh monas beberapa jam usai kerusuhan. Kalangan liberalis semakin di atas angin sementara penganut Ahmadiyah kipas-kipas menuai keuntungan dari bergesernya isu dan opini. Apalagi diketahui banyak diantara masa AKKBB yang berasal dari penganut Ahmadiyah. FPI dan kalangan Islam yang menghendaki pembubaran aliras sesat Mirza Ghulam Ahmad ini justru jadi bulan-bulanan kekerasan media dan tokoh-tokoh pendukung Ahmadiyah.

Sebagaimana diprediksikan oleh banyak pihak, selang sehari pasca kerusuhan diberbagai daerah khususnya di Jawa Timur muncul kelompok-kelompok masyarakat yang unjuk gigi untuk perang melawan FPI. Media detil memberitakan hal ini. Berbagai ritual kekebalan ditayangkan televisi untuk semakin memperkeruh suasana.

Dari mulai Banser, Garda Bangsa, PMII, sampai pasukan berani mati Gusdur bereaksi. Rame-rame menuntut pembubaran FPI yang mereka anggap merusak citra Islam. Bahkan Pasukan Berani Mati nya Gus Dur siap berangkat ke Jakarta untuk menyingkirkan FPI. Kegusaran masyarakat pun meluas sampai ke luar Jawa dan mengalamai kondisi serupa. 

Bahkan campur tangan asing melalui Kedutaan Besar AS menampilkan fakta lain adanya pesanan internasional terkait kasus Monas. Tak heran jika politisi PKS, Soeripto, sebagaimana dilansir www.detik.com (03/06/08) mensinyalir kemungkinan adanya agen asing yang turut bermain dalam kisruh 1 Juni tersebut.

Sebagaimana diketahui bahwa Kedubes AS turut melontarkan kecaman terhadap kejadian monas dengan mengeluarkan keterangan pers beberapa waktu setelah massa AKKBB kocar-kacir disentil Komando Laskar Islam. Islam dinistakan Ahmadiyah, namun justru mereka yang berjuang membela aqidahnya yang dihujat habis-habisan.

Yang jelas, semuanya begitu nyata bahwa tragedi Monas 1 Juni 2008 lalu by design kekuatan-kekuatan tertentu yang berkolaborasi saling menguntungkan. Entah siapa mereka, semoga Allah akan mendatangkan keputusannya. Yang jelas beberapa kata kunci yang berpotensi adalah: Ahmadiyah, Kelompok Liberalis, Kelompok Sekuler pemilik Media, Agen Asing, dan Pemerintah SBY-JK.

SBY-JK Meraup Untung 

Pemberitaan aksi kekerasan fisik yang dilakukan FPI (atau KLI) terhadap masa AKKBB yang menggelar aksi secara ilegal itu sungguh-sungguh memberedel issu utama yang sedang merundung rakyat Indonesia, yaitu issu Kenaikan BBM yang tepat sejak 24 Mei lalu diresmikan pemerintahan SBY-JK. Secara sekejap mata jeritan tangis dan lapar keluarga melarat yang tersebar diseluruh nusantara ini lenyap tersapu angin.

Aksi-aksi moral mahasiswa dan masyarakat menentang kebijakan SBY-JK menaikkan BBM ini menjadi berita yang sudah tak menarik lagi untuk diperbincangkan. Bahkan media massa nampak sudah enggan meliput aksi-aksi tersebut kecuali sedikit sekali sekedar untuk lip service belaka. Akibatnya masyarakat terbawa mainframe pemberitaan media. Kelangkaan gas seolah tak lagi patut untuk diungkap secara publik. Padahal di depot-depot distributor dan pengecer, gas kerap kali langka dan hanya tumpukan-tumpukan tabung gas saja teronggok tak tahu kapan akan datangnya suplai gas dari Pertamina.

Lonjakan harga berbagai bahan pokok seolah menjadi hal tabu untuk menjadi tangis pilu keluarga-keluarga miskin. Sebab terkesan sudah basi untuk diperbincangkan. Sementara kesulitan hidup yang semakin menjerat tak satu nada pun terdengar sampai ke telinga SBY-JK. 

Saat ini sudah tak terdengar lagi raungan masyarakat miskin yang terliput media. Tak ada lagi aksi menentang kenaikan BBM oleh mahasiswa yang menyambangi program-program berita di televisi. Saat ini makin sedikit para politisi yang berkoar kuat mempersoalkan kebijakan presiden. Dan sekarang sudah tak terdengar lagi aktivitas para pengamat ekonomi dan para pakar yang sekedar menyatakan benar bahwa SBY-JK keliru menaikkan harga BBM.

Semuanya bicara tentang AKKBB yang tak pernah mau insyaf dan mencoba unjuk gigi. Semuanya memperbincangkan FPI yang oleh sebagian kalangan liberalis untuk di bubarkan. Semuanya ngomongin Ahmadiyah yang dalam penampilan-penampilannya di televisi tetap kekeh dan justru hendak melecehkan martabat ulama-ulama di MUI. Semuanya memberitakan SKB 3 Menteri yang tak tegas membubarkan Ahmadiyah. Dan agaknya semuanya memang hanya akan terus berkutat dalam persoalan itu. Apalagi SKB 3 Menteri ‘didesign’ menimbulkan multi-interprestasi yang sudah barang tentu tak akan menyudahi persoalan ini. Apa efek utamanya?? Masyarakat tak akan sempat lagi untuk memunculkan lagi issu BBM.

Lalu semuanya pura-pura lupa bahwa SBY-JK telah membuat rakyat miskin semakin tercekik, semuanya lupa bahwa kenaikan BBM sejak sepekan sebelum kejadian Monas membuat rakyat melarat bertambah sekarat. Semuanya pura-pura pikun kalau kenaikan semua bahan-bahan kebutuhan hidup masyarakat telah menghasilkan penderitaan yang menjadi-jadi.

Tak ada lagi yang demo, tak ada lagi yang miris dengan kelangkaan gas, tak ada lagi yang menuntut pertanggung jawaban SBY-JK. Rakyat terus dirugikan. Cuma satu yang untung, pemerintah SBY-JK yang tak lagi dihujat lantaran kebijakannya menaikkan BBM. Kisruh Monas benar-benar menjadi durian runtuh bagi SBY-JK.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer