March 17, 2008

Rizki dan Ghaza

Filed under: NASEHAT

MENGHITUNG BELANJA RIZKI RIDYASMARA
DI TENGAH DERITA WARGA GHAZA


Dalam tulisannya "Antara Bali dan Ghaza" yang berseliweran di dunia maya sejak Februari 2008 lalu, sdr. Rizki Ridyasmara mengawali ulasannya dengan sebuah kata kunci, yaitu ‘empati’. Sebuah kata yang ia kaitkan antara kondisi rakyat Ghaza di Palestina, dengan hajatan PKS yang menyelenggarakan acara Mukernas di Pulau Bali awal Februari silam. Secara keseluruhan, dari tulisannya dapat ditangkap bahwa artikel tersebut mempersoalkan keputusan PKS yang dengan penyelenggaraan Mukernasnya di Bali telah menciderai penderitaan bangsa Palestina di Ghaza. Meski sejauh ini harus diakui bahwa PKS adalah satu-satunya lembaga politik Indonesia yang konsisten dan totalitas dalam mendukung dan membela perjuangan bangsa Palestina dengan segala macam bentuk dan aksinya. Demikiankah sudut pandangnya?

Berbicara mengenai apa itu empati, menurut Thomas F. Mader & Diane C. Mader dalam bukunya ‘Understanding One Another’ (1990), ia mendefinisikan bahwa empati adalah "kemampuan seseorang untuk ’share-feeling’ yang dilandasi kepedulian. Dan kepedulian ini ada tingkatan-tingkatannya". Tingkatan paling rendah adalah ketika seseorang baru bisa memahami ungkapan verbal, entah itu perasaan atau pikiran. Sedangkan tingkatan kepedulian yang paling tinggi adalah memahami lalu tergerak untuk memberikan bantuan nyata yang dibutuhkan berdasarkan keadaannya.

Secara lebih spesifik, Vincent Liong, seorang psikolog pendiri ilmu Kompatiologi mendefinisikan bahwa empati adalah memahami perasaan atau kondisi pihak lain tanpa terbawa untuk mengikuti kepentingan pihak lain dan mengabaikan kepentingan diri sendiri. Ia sebut hal ini sebagai sesuatu yang bersifat objective. Berangkat dari pengertian di atas ini lah tulisan ini dimulai.

Tak adil rasanya jika persepsi yang dibangun dalam artikel diatas (Antara Bali dan Gaza) tidak dibarengi dengan sedikit ulasan anggaran yang dikeluarkan seorang Rizki Ridyasmara dalam pengeluaran bulanannya. Kenapa? Sebab dalam ‘elegi akhir Januari 2008′ yang ia tulis, demikian jelas dirinya membandingkan one man one dollar aksi solidaritas yang digelar PKS beberapa hari sebelumnya dengan dollar yang menggelontor untuk acara Mukernas PKS. Bahkan tidak hanya itu, jurnalis yang menulis buku ‘Singapura Basis Israel Asia Tenggara’ (2005) ini seolah menempatkan bahwa dana PKS akan turut mengalir ke Israel melalui resort-resort yang melakukan promosinya ke sana. Memang terlalu dipaksakan pra-sangkanya ini.

Sebagai seorang jurnalis senior yang telah berhasil menelorkan beberapa buku, ditambah dengan berbagai tulisannya yang banyak dimuat di berbagai media cetak Islam, tidaklah mustahil bahwa sdr. Rizki ini termasuk seorang yang berpenghasilan lebih dari cukup. Dan penulis khusnudzon kalaupun dirinya turut berpanas ria dalam aksi Solidaritas untuk Ghaza 27 Januari silam ia tak hanya mengeluarkan one man one dollar, namun pasti lebih banyak dari itu (mudah-mudahan).

Sebab, walaupun jargon yang di usung one man one dollar to save Palestina namun banyak orang lain yang jauh lebih kurang beruntung rezekinya juga menginfaqkan berpuluh-puluh dollar untuk rakyat Ghaza di silang Monas siang hari itu. Meski di kantong celananya tersisa sejumlah uang yang sangat mungkin tak sebanyak dengan yang telah di infaqkannya. Juga termasuk periuk nasi yang belum tentu akan mengepul hingga Allah memberikan rezekinya kembali di kemudian hari. Termasuk bayi-bayi mereka yang belum tentu masih memiliki ketersediaan susu di lemarinya. Penulis merasa menjadi bagian dari satu di antara kategori mereka yang berangkat hanya dengan dorongan gejolak iman serta ukhuwah dan sedikit uang di tangan. Buka karena kikir, tapi karena memang cuma itu saja yang ada di tangan. Catatan ini tertuang dalam tulisan ‘Rahasia Keajaiban Sedekah‘.

Sungguh tidak ada yang salah jika banyak peserta yang datang menggunakan mobilnya yang mewah. Pula tak ada yang salah ketika mereka datang dengan menenteng HP ber-camera-nya yang ber-pixel tinggi. Dan tak ada yang salah apabila mereka datang dengan berbagai pakaiannya yang bersih dan berkualitas baik. Sebab itu adalah wasilah mereka untuk bisa hadir bersama saudara lainnya membangunkan umat yang tertidur lewat aksi ditengah terik matahari Ahad itu.

Namun subhanallah, sepertinya tak satupun dari mereka (orang-orang yang hanya memiliki sedikit uang dalam genggaman) yang iri melihat peserta lainnya menghabiskan sekian ratus ribu hanya untuk sekedar membeli bensin atau pulsa. Dan merekapun tak bersu’udzon dengan peserta lain yang mampu berkomunikasi lama-lama dengan telepon genggamnya. Sebab mereka yakin benar, belum tentu nilai pahala mereka lebih kecil dibandingkan orang lain yang menginfaqkan harta berpuluh-puluh kali lipat darinya. Karena mereka juga sama-sama meng-imani Allah dan Rasulnya,

Rasulullah saw bersabda, "Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham." Para sahabat bertanya, "Bagaimana itu?" Nabi Saw menjawab, "Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersodaqoh dengannya, dan seorang lagi memiliki harta-benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disodaqohkannya. (HR. An-Nasaa’i)

Makanya, terlalu mengada-ada dengan tulisannya "Ketika saat berteriak-teriak selamatkan Muslim Ghaza kita hanya menyumbangkan One Man One Dollar. Tapi ke Bali…?" Kecuali jika orang dengan berpenghasilan lebih dari cukup seperti sdr. Rizki ini hanya mengeluarkan 1 dollar saja.

Jika seandainya boleh berhitung berapa belanja yang telah sdr. Rizki ini keluarkan ditengah-tengah kondisi rakyat Ghaza yang lapar dan ketakutan, apakah dirinya telah menginfaqkan 1 dari 2 dirham yang dimilikinya? Mohon maaf, kalau ada yang mengatakan demikian maka itu hanyalah omong kosong belaka. Mari berhitung, apabila ia belanja ditempat yang berbadan hukum, jelas ia telah mengeluarkan 10% uangnya untuk PPN. Jika ia mendapatkan gaji dari perusahaan yang berbadan hukum, ia pun sudah terpotong gajinya sebesar 10% sebagai pajak penghasilan. Lalu jika ia menghabiskan sekian juta per bulannya untuk mengisi bensin, maka 10%-nya sudah jelas masuk ke kantong pemerintah. Persis 10 % dari pulsa bulananya juga secara cuma-cuma masuk ke kas pemerintah, sisanya masuk ke konglomerat pemilik jaringan komunikasi. Belum lagi biaya listrik dan telepon rumahnya. Belum pula jajan anak-anak dan belanja untuk makan bergizi keluarganya. Juga biaya dan bayaran sekolah anak-anak yang sangat mungkin tidak kecil jumlahnya. Juga acara ‘berlibur’ keluarga di akhir pekan setiap bulannya. Berapa yang telah ia dikeluarkan?

Apabila yang dimaksudkan dengan empati terhadap bangsa Palestina yang saat ini menderita akibat tidak memiliki makanan, tidak memiliki obat-obatan, yang rumahnya hancur, yang tidak mampu membeli bensin, yang kegelapan karena ketiadaan pasokan listrik, yang tak memiliki pesawat handphone, yang tak memiliki laptop, yang anak-anaknya tak mampu bersekolah, adalah seseorang haruslah menempatkan pada kondisi yang sama dan sepadan, mengapa sdr. Rizki ini masih merasa nyaman dan cuek dengan berpuluh-puluh persen uangnya yang secara cuma-cuma masuk ke kantong pemerintah dan para pengusaha (yang bukan hal mustahil punya keterkaitan dengan Yahudi)?

Kenapa rumah sang jurnalis ini tidak dirobohkan saja sebagaimana rumah-rumah di Ghaza yang roboh, kenapa tidak jalan kaki saja ke tempat kerja, kenapa HP dan Laptopnya tak dijualnya saja untuk diinfaqkan. Kenapa makan sehari-harinya tidak diganti dengan cukup memakan nasi dan garam saja? Lantas kenapa ia juga harus ikut-ikutan terbang ke Konferensi Al-Quds di Turki 14-17 November 2007 lalu. Memangnya ada yang bisa ia lakukan untuk langsung memerdekakan Palestina dari Israel la’natullah? Bukankah ribuan dollar pasti ia keluarkan untuk itu?

Kalau sdr. Rizki mencari pembenaran bahwa itu semua adalah sebuah konsekuensi dan kewajibannya sebagai orang Indonesia yang harus mengeluarkan pajak, dan berargumentasi bahwa belanja sehari-harinya sebagai kebutuhan dan sarana untuk melangsungkan hidup. Serta terbangnya ke Istanbul sebagai tuntutan pekerjaan, dan hal itu ia anggap sebagai sesuatu yang sah di tengah derita dan sengsaranya warga Ghaza. Lantas adakah sesuatu yang tak pantas dilakukan PKS untuk menggelar salah satu hajat partainya di salah satu bumi yang Allah ciptakan?

Mudah-mudahan di sini tidak perlu mengajari sdr. Rizki bahwa denyut kepartaian diwujudkan dalam siklus fase yang sudah menjadi kebutuhan pokok. Munas, Rapimnas. Mukernas, Musyawarah Majelis Syuro, yang menjadi siklus dalam PKS adalah kebutuhan pokok yang juga wajib dalam sebuah aktivitas lembaga dakwah yang terorganisir. Bukankah setiap mukmin tahu, bahwa kebaikan yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir. Maka untuk memenangkan kebenaran wajib terorganisir dengan baik dan solid.

Kalaupun sdr. Rizki ini mempersoalkan biaya besar yang dikeluarkan partai dakwah ini untuk Mukernas diatas, anggap saja menghabiskan Rp. 5 miliyar, silahkan bagi dengan peserta yang tidak kurang dari 1.500 orang. maka setiap orang kira-kira hanya menghabiskan dana sebesar 3,3 juta. Akan tetapi jika biayanya lebih kecil dari nilai tersebut (misal 1 M), maka jumlah rata-rata yang dihabiskan akan jauh lebih sedikit. Apalagi jika hanya misal 100-200 juta. Dan Mukernas dilangsungkan hanya sekali dalam setahun. Bandingkan dengan belanja bulanan sdr. Rizki Ridyasmara yang penulis yakini jauh lebih besar dari angka itu.

Jika PKS ‘terpaksa’ harus menghabiskan dana ‘besar’ untuk kepentingan dakwah Islam dan kemaslahatan umat, lantas bagaimana dengan anggaran bulanan penulis buku ‘Gerilya Salib di Serambi Makkah’ ini yang tidak kalah besar hanya untuk sekedar melangsungkan hidup? Bandingkan pula berapa dana yang secara rutin di himpun kader-kader PKS diseluruh dunia untuk membantu bangsa Palestina setiap bulannya. PKS tentu berempati terhadap Palestina dalam beragam bentuk aksi, namun PKS sebagai sebuah rumah besar juga harus tetap eksis menanungi isi rumahnya, sebagaimana sdr. Rizki merasa berhak membelanjakan sebesar apapun untuk melangsungkan hidup keluarganya.

Dari uraian ini semestinya bisa membedah, siapa sesungguhnya yang lebih berempati terhadap bangsa Palestina dan rakyat Ghaza, seorang Rizky Ridyasmara atau ratusan ribu kader Partai Keadilan Sejahtera?

Karenanya sangat tidak pantas ketika ia melontarkan dzon kepada para qiyadah PKS dengan ungkapan "Saya tidak sampai hati bersenang-senang, bermalam di kamar ber-AC, menikmati breakfast, lunch, dan dinner di hotel yang berkecukupan, pergi ke pantai di antara jejeran tubuh bugil para turis bule, sedangkan saudara-saudara saya di Gaza, Falujah, dan di belahan bumi lainnya masih hidup bagaikan di neraka jahanam. Saya tidak tega.” Padahal sdr. Rizki ini nebeng rombongan KNRP dan Dr. Hidayat Nurwahid saat digelarnya konferensi Al-Quds di Istanbul Turki silam. Semoga ia sadar bahwa apa yang dituliskannya (Antara Bali dan Gaza) lebih kepada mendatangkan fitnah dan menguliti kekeliruan dirinya sendiri.

Ia lupa bahwa PKS dalam kontrak politiknya dengan SBY 2004 lalu secara tegas mencantumkan persyaratan dukungan untuk Palestina merdeka. Dalam perjalanannya partai Islam ini juga konsisten memonitor implementasi kontrak politik tersebut. Ia juga lupa bahwa kader-kader PKS di parlemen menjadi motor terbentuknya Kaukus Palestina yang secara terus menerus memberikan support politis kepada perkembangan di Palestina. Ia juga lupa bahwa 15 Agustus 2006 silam, rombongan KNRP yang di komandoi Suripto (aleg PKS DPR RI) berangkat ke Libanon dan Palestina di bawah bayang-bayang desingan peluru Israel untuk menyampaikan dana tak kurang dari Rp. 5 milyar hasil penggalangan dari para kader PKS di Indonesia. Sayangnya pada moment itu memang bukan sdr. Rizki yang meliput untuk eramuslim.com.

Ia lupa bahwa selain aksi 27 Januari 2008 lalu, telah didahului ratusan bahkan ribuan aksi penggalangan dana dan kemanusiaan yang digelar PKS untuk solidaritas Palestina. Entah lupa atau pura-pura tidak tahu, bahwa hingga detik ini puluhan LSM yang digalang kader-kader PKS pun telah memberikan aksi yang nyata dengan istiqomah. Bahkan ia pun menafikan bahwa COMES yang terus istiqomah mengkampanyekan galang bantuan untuk solidaritas palestina di gerakkan oleh banyak kader terbaik dari Partai Islam ini.

Ia pun lupa, bahwa ratusan bahkan ribuan syair tentang Palestina telah di ‘ciptakan’ oleh kader-kader Partai Dakwah ini hingga jutaan rakyat Indonesia melek penderitaan saudara mereka, bahkan mencintai mereka sebagaimana mereka mencintai dirinya sendiri. Dadanya bergemuruh dan mulutnya tak henti melafaskan do’a untuk kebaikan, kemuliaan, dan kemerdekaan rakyat Palestina. Ia juga lupa bahwa ratusan bahkan ribuan film dokumenter tentang Palestina telah diproduksi para kader PKS, yang membuat orang-orang terperangah dan kemudian sadar terhadap fakta-fakta kebiadaban Yahudi atas saudara seiman mereka di tanah yang diwariskan itu.

Rasanya tak akan pernah habis menyebut satu per satu apa yang telah dan akan terus diperjuangkan oleh partai dakwah ini untuk membela bangsa Palestina. Dan amatlah malu menyebutkan amal perjuangan yang selama ini telah dilakukan. Namun semoga ini semua menjadi bukti yang akan menghinakan setiap fitnah dan prasangka. Cukuplah Allah dan Rasul-nya, dan orang-orang beriman yang menjadi saksi.

Sdr. Rizki Ridyasmara (yang semoga dirahmati Allah), jika Anda dengan tulisan pemberitaan dan artikel-artikel Anda tentang Palestina membuat Anda merasa paling banyak berbuat untuk Palestina, jika buku dan analisis yang pernah Anda tulis bercerita tentang Palestina, dan hal-hal sejenisnya tentang Palestina, itu semua membuat Anda merasa sebagai orang yang paling berjasa untuk Palestina, maka Anda salah besar. Dan Allah yang Maha Tahu siapa-siapa yang baik amalnya.

Telah berhasil membuat sekian buku dan disebut sebagai jurnalis Islam senior tidaklah cukup untuk menyematkan gelar bahwa Anda sumber kebenaran. Mudah-mudahan Anda menyadari kekeliruan ini. Sayangnya kecerobohan Anda telah dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk merongrong izzah partai dakwah yang berjuang untuk Islam ini. Namun, selalu ada kesempatan untuk meminta maaf bagi orang-orang yang benar keimanannya.

 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer