March 13, 2008

Film & Peradaban (1)

Filed under: PEMIKIRAN

FILM & PERTARUNGAN PERADABAN


Film Ayat-Ayat Cinta garapan tangan sutradara ternama Hanung Bramantyo demikian booming sejak peluncuran perdananya pertengahan Februari 2008 silam. Tercatat pada pekan pertama peluncurannya, 1,3 juta orang Indonesia berjubel memenuhi bioskop-bioskop di seantero nusantara. Angka tersebut dipastikan akan terus merangkak naik mengingat besarnya animo dari masyarakat Indonesia.

Satu hal yang sangat menarik adalah, bahwa film layar lebar yang diangkat dari novel besutan Habiburrahman Elsirazy ini tidak hanya menyedot kalangan masyarakat muslim yang memiliki kecondongan terhadap kehidupan religi saja, namun Ayat-Ayat Cinta juga menjadi buah bibir baru para ABG dari mulai yang alim sampai ABG yang masih menjadi korban mode dan budaya Barat. Bahkan yang lebih spektakuler lagi film ini juga digemari oleh kalangan non-muslim. Mereka tidak hanya melewatkan tontonan bermutu ini, namun juga memberikan komentar dan apresiasi luar biasa atas nilai-nilai yang terkandung dalam film tersebut.

Apa yang bisa dicerna dari sketsa singkat di atas? Pesan yang ingin penulis angkat dari sketsa singkat diatas bukanlah pada bombastisnya Ayat-Ayat Cinta, namun lebih kepada menggugah kesadaran setiap orang bahwa sungguh sebuah film mampu memiliki ‘daya sihir’ yang luar biasa untuk ‘menghipnotis’ suatu masyarakat dengan lintas batas. Jika tulisan bisa mengguncang dunia, gambar-gambar mampu memuntahkan jutaan manusia turun ke jalan, dan berita bisa menghitam putihkan fakta, maka apa yang ditimbulkan oleh film lebih dahsyat lagi. Bukan hanya keguncangan, bukan cuma aksi turun ke jalan, dan bukan pula rekayasa fakta, namun tayangan film dan sejenisnya dapat memberikan imbas yang jauh lebih hebat dari itu semua. Yaitu film mampu membuat berubahnya sebuah paradigma, pola pikir, cita rasa, budaya, gaya hidup, maupun persepsi tentang kebenaran, tanpa penentangan psikologis dari para ‘korban’nya.

Film mampu mempengaruhi pemikiran manusia secara halus, lebih halus dari lembutnya sutera. Pengaruhnya mampu mengalir bersama aliran darah tanpa disadari. Bahkan mampu membuat seseorang bertindak mengikuti apa yang disaksikannya. Dalam konteks yang seimbang, tentu pengaruh tersebut bisa berupa pengaruh baik maupun pengaruh buruk.

Masih kuat dalam ingatan bagaimana tayangan WWF yang sempat booming beberapa tahun lalu telah merenggut beberapa jiwa. Demikian pula dengan film Naruto yang menjadi inspirasi jalan kematian salah seorang anak di negeri ini beberapa bulan silam. Belum lagi budaya permisif yang saat ini mewabah bagaikan virus.

Tahun 80-an film-film yang menyuguhkan kisah percintaan senantiasa menampilkan para pemain yang secara usia telah cukup dewasa. Minimal adalah mereka yang telah bebas dari seragam sekolah alias telah memasuki dunia kampus. Tidak heran jika di masyarakat pada zaman orang-orang tua saat itu masih terjaga ‘ketabuan’ mengumbar kisah cinta kepada orang lain. Rasa malu dan menghargai keberadaan lingkungan disekitarnya masih sangat kuat. Ditambah sentuhan religi dibanyak jenis film-film seperti film sunan-sunan, film para pendekar, maupun film percintaan ala Rhoma Irama, sedikit banyak turut menjaga realitas tema yang sama dilapangan.

Tahun 90-an, dunia entertainment dibanjiri dengan film percintaan yang menampilkan muda-mudi berseragam putih abu-abu. Disusul awal tahun 2000-an film dengan thema yang sama menampilkan remaja berseragam putih biru mulai ramai menjejali tayangan ditelevisi. Bahkan tanpa malu-malu lagi sekitar tahun 2005 kisah tersebut ditampilkan dengan para pemainnya yang masih berseragam putih merah.

Lantas bagaimana realitas di masyarakat ketika tayangan-tayangan film di media menampilkan hal yang demikian, ternyata kenyataan di masyarakat kini semakin parah dan memprihatinkan. Tak heran keadaan ini megkhawatirkan banyak orang tua yang anak-anaknya mulai menginjak awal usia remaja. Bahkan tak bisa dipungkiri bahwa secara biologis usia pematangan organ seksual anak-anak masa kini datang lebih awal dibandingkan dengan zaman orang tua-orang tua mereka dahulu. Usia menstruasi anak-anak perempuan masa kini rata-rata telah mulai datang di usia 9 tahun. Berbeda dengan zaman orang tua mereka yang umumnya baru mengalami datang bulan pertamanya di umur 13 tahun. Demikian pula dengan anak laki-laki, Kenapa? Karena imbas tayangan film memang merasuki manusia hingga ke dalam aliran darah yang menjalar sampai ke otak.

Uraian diatas hanya sebuah kilasan sederhana dari sebuah imbas ‘daya sihir’ film diulas dari sudut masalah yang sangat umum. Lantas bagaimana pengaruh film mampu menjadi ‘nuklir’ dalam pertarungan peradaban? Nantikan ulasan berikutnya!

(bersambung ..)

Note: Tulisan ini dalam rangka memenuhi permintaan dari mas Dany Wicaksono,

dan dipersembahkan sepenuhnya untuk semua pembaca.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer