March 27, 2008

Kasihan Demokrasi..

Filed under: KOLOM KHUSUS

KASIHAN DEMOKRASI .. *


Demokrasi itu Syirik??

Anggapan demokrasi itu syirk didasari pemahaman yang belum utuh. Sesungguhnya demokrasi saat ini mengalami deviasi makna. Tiap Negara memiliki pemahaman sendiri. Demokrasi disebuah negara belum tentu demokrasi di negara lain. Biasanya, kaum muslimin yang mengharamkan demokrasi karena memahaminya sebagai bentuk pemerintahan rakyat dengan kedaulatan tertinggi di tangan rakyat. Adapun dalam Islam kedaulatan tertinggi ditangan Allah: La Hukmu Illa Lillah.

Hanya saja, jika menjadi landasan mengharamkannya dalam konteks da’wah maka itu adalah perkataan yang benar tapi konteksnya tidak tepat. Tidak ada satupun para aktivis da’wah yang tulus dan santun yang berbicara demokrasi dan mengambil manfaatnya benar-benar meyakini kedaulatan tertinggi ditangan rakyat. Sama sekali tidak terlintas dalam pemikiran mereka pemahaman seperti itu. Karenanya, setiap muslim, apalagi mufti (pemberi fatwa) harus bertindak hati-hati dalam memberikan penilaian. Terlalu mudah menvonis atau mengharamkan sesuatu sama bahayanya dengan terlalu mudah membolehkannya.

Jika kita belum mengetahui betul masalah yang dihadapi, bertanyalah kepada ahlinya. Jangan sampai fatwa yang keluar membuat gamang perjuangan yang sedang dilakukan atau dimanfaatkan musuh musuh da’wah untuk memarjinalkan politik Islam. Kaidah yang telah disepakati para ulama: “Siapa yang menetapkan hukum sesuatu padahal ia tidak mengetahui secara pasti sesuatu itu, ketetapan hukumnya dianggap cacat walau kebetulan benar.”

Harus diakui, bahwa tidak ada kesamaan pandangan tentang demokrasi. Jadi, fatwa hukum yang diberikannya tidaklah baku. Kita pun dapat mengembalikan urusan itu kepada hukum asal/awal yaitu mubah (boleh)

Demokrasi itu Kuffar?

Ada pula yang memandang demokrasi itu berasal dari barat yang kafir. Oleh karena itu, demokrasi pola alien yang masuk kedalam negeri-negeri muslim. Jika alasan itu diajadikan alasan pengharaman demokrasi, sesungguhnya tidaklah tepat. Memang benar demokrasi berasal dari sistem Barat. Namun, tidak ada yang mengingkari bahwa Rasulullah pernah menggunakan cara orang Majusi (Persia) ketika perang Ahzab, yaitu menggali Khandaq (parit besar). Nabi pun memanfaatkan jasa tawanan perang Badr untuk mengajarkan baca tulis anak-anak kaum muslimin walaupun tawanan itu musyrik. Rasululah juga pernah membubuhkan stempel ketika mengirim surat kepada penguasa sekitar jazirah Arab sebagai bentuk pengakuan beliau terhadap kebiasaan yang mereka lakukan agar mereka mau menerima surat dakwahnya.

Jadi tidak ada satu pun syariat yang melarang mengambil kebaikan dari pemikiran teoritis dan pemecahan praktis non-muslim dalam masalah dunia selama tidak bertentangan dengan nash yang jelas makna dan hukumnya serta kaidah yang tetap. Oleh karena itu hikmah adalah hak orang muslim yang hilang, sudah selayaknya kita merebutnya kembali. Islam hanya tidak membenarkan asal comot terhadap segala yang datang dari barat tanpa ditimbang diatas dua pusaka yang adil; Al-Qur’an dan As-sunnah.

Esensi Demokrasi

Esensi demokrasi terlepas dari berbagai definisi dan istilah akademis, adalah wadah masyarakat untuk memilih seseorang yang mengurus dan mengatur mereka. Pemimpinya bukan orang yang mereka benci, peraturannya bukan yang mereka kehendaki dan mereka berhak menerima pertanggungjawaban jika pemimpin/penguasa itu salah. Mereka pun berhak memecatnya jika menyeleweng. Mereka juga tidak boleh dibawa ke sistem ekonomi, sosial atau politik yang tidak mereka kenal dan tidak disukai. Jika demikian esensi demokrasi, dimana letak pertentangannya dalam islam? Mana dalil yang membenarkan anggapan itu?

Siapa saja yang mau merenung esensi demokrasi, pasti akan mendapatkan kesamaannya dengan prinsip Islam. Misalnya, Islam mengingkari seorang yang mengimani orang banyak dalam shalat, sementara makmum membenci dan tidak menyukainya. Rasul juga pernah bersabda dalam sebuah hadis lainnya; “Sebaik-baik pemimpin kamu (kepala pemerintahan) adalah orang yang mencintai kamu dan kamu mencitainya, mendoakan kebaikanmu dan kamu mendoakan kebaikan untuknya. Sejelek-jeleknya pemimpin kamu adalah yang kamu benci dan ia`membenci kamu, kamu mengutuknya dan ia mengutuk kamu.” (HR Imam Muslim dan Auf bin Malik)

Tidaklah suci suatu kaum yang tidak dapat memutuskan perkara dengan benar dikalangan mereka dan orang lemahnya tidak dapat mengambil haknya dari orang yang kuat, melainkan dengan susah payah.” (HR Imam Thabrani)

Masih banyak hadis-hadis serupa. Hal itu sekaligus menunjukan bahwa jiwa demokrasi, seperti adanya keseimbangan antara state (negara/pemerintahan/penguasa) dengan people (rakyat), adanya persamaan sesama manusia, dan kewajiban meluruskan penguasa yang menyimpang, dan lainnya maka sesungguhnya sudah lama ada dalam Islam.

Lihatlah pemuka-pemuka umat ini telah telah mengajarkan cara hidup berdemokrasi yang hakiki. Dalam pidato pertama Abu Bakar ra: “Wahai manusia! Kalian telah mengangkatku. Oleh karena itu bila kalian melihatku dalam kebenaran, bantulah aku. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dalam memimpin kalian. Jika aku melanggar Allah, tidak ada kewajiban taat kepadaku.”

Adapun Umar ra. saat menjadi khalifah: “Mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada orang yang mau menunjukan aib kepadaku. Begitu pula kaum muslimin saat itu, yang tidak pernah punya rasa sungkan, apalagi takut untuk mengkritik penguasa yang menyimpang. Sehingga ketika ada seorang yang meluruskan kekeliruan Umar tentang mahar wanita, Umar tidak menganggapnya sebagai bentuk merendahkan dirinya.

Islam telah mendahului paham demokrasi dengan menetapkan kaidah-kaidah yang menjadi penopang esensi dan substansi demokrasi. Namun Islam menyerahkan perincian dan penjabarannya kepada ijtihad kaum muslimin sesuai prinsip-prinsip ad-Din dan mashlahat dunia mereka, masa dan tempat, serta perkembangan situasi dan keadaan manusia.

Sebenarnya penggunaan istilah-istilah asing seperti demokrasi untuk mengungkapkan makna-makna Islam bukanlah hal yang kita inginkan. Namun, kita tidak mungkin menutup mata, karena itulah istilah yang populer digunakan manusia. Justru kita harus mengerti maksudnya agar tidak salah paham atau mengartikannya dengan arti yang tidak sesuai dengan kandungannya atau tidak sesuai dengan maksud orang yang mengucapkannya. Dengan demikian, fatwa yang kita jatuhkan pun sehat dan seimbang. Dan kita tidak terjebak, tersibukan dengan kulitnya.

Tidak masalah kalau istilah itu keluar dari luar Islam karena kisaran fatwa bukan pada istilahnya, melainkan esensi dan substansinya. Judi tetaplah judi walau dinamakan SDSB. Khamr tetaplah khamr walau dinamakan jamu. Umar bin Khattab pernah merelakan tidak menggunakan istilah jizyah kepada kaum nashrani dibawah naungan kekuasaannya karena mereka merasa direndahkan dengan istilah itu. Umar menerimanya sambil berkomentar, ”Mereka adalah orang-orang bodoh. Mereka menolak nama (bungkus) tetapi menerima isinya.”


* Artikel di atas merupakan tulisan Ir. Tengku Iwan sebagai tanggapan atas pernyataan sekaligus tudingan Wakil Jubir Resmi Hizbut Tahrir Turki terhadap Pemerintahan Erdogan dan AKP-nya di Turki, yang dipublikasikan oleh web resmi HTI www.hizbut-tahrir.or.id (25/03/08). Sumber tulisan adalah buku IM, Anugrah Allah yang Terdzalimi, Karya Farid Nu’man. Sebuah artikel yang patut untuk di simak.

March 17, 2008

Rizki dan Ghaza

Filed under: NASEHAT

MENGHITUNG BELANJA RIZKI RIDYASMARA
DI TENGAH DERITA WARGA GHAZA


Dalam tulisannya "Antara Bali dan Ghaza" yang berseliweran di dunia maya sejak Februari 2008 lalu, sdr. Rizki Ridyasmara mengawali ulasannya dengan sebuah kata kunci, yaitu ‘empati’. Sebuah kata yang ia kaitkan antara kondisi rakyat Ghaza di Palestina, dengan hajatan PKS yang menyelenggarakan acara Mukernas di Pulau Bali awal Februari silam. Secara keseluruhan, dari tulisannya dapat ditangkap bahwa artikel tersebut mempersoalkan keputusan PKS yang dengan penyelenggaraan Mukernasnya di Bali telah menciderai penderitaan bangsa Palestina di Ghaza. Meski sejauh ini harus diakui bahwa PKS adalah satu-satunya lembaga politik Indonesia yang konsisten dan totalitas dalam mendukung dan membela perjuangan bangsa Palestina dengan segala macam bentuk dan aksinya. Demikiankah sudut pandangnya?

Berbicara mengenai apa itu empati, menurut Thomas F. Mader & Diane C. Mader dalam bukunya ‘Understanding One Another’ (1990), ia mendefinisikan bahwa empati adalah "kemampuan seseorang untuk ’share-feeling’ yang dilandasi kepedulian. Dan kepedulian ini ada tingkatan-tingkatannya". Tingkatan paling rendah adalah ketika seseorang baru bisa memahami ungkapan verbal, entah itu perasaan atau pikiran. Sedangkan tingkatan kepedulian yang paling tinggi adalah memahami lalu tergerak untuk memberikan bantuan nyata yang dibutuhkan berdasarkan keadaannya.

Secara lebih spesifik, Vincent Liong, seorang psikolog pendiri ilmu Kompatiologi mendefinisikan bahwa empati adalah memahami perasaan atau kondisi pihak lain tanpa terbawa untuk mengikuti kepentingan pihak lain dan mengabaikan kepentingan diri sendiri. Ia sebut hal ini sebagai sesuatu yang bersifat objective. Berangkat dari pengertian di atas ini lah tulisan ini dimulai.

Tak adil rasanya jika persepsi yang dibangun dalam artikel diatas (Antara Bali dan Gaza) tidak dibarengi dengan sedikit ulasan anggaran yang dikeluarkan seorang Rizki Ridyasmara dalam pengeluaran bulanannya. Kenapa? Sebab dalam ‘elegi akhir Januari 2008′ yang ia tulis, demikian jelas dirinya membandingkan one man one dollar aksi solidaritas yang digelar PKS beberapa hari sebelumnya dengan dollar yang menggelontor untuk acara Mukernas PKS. Bahkan tidak hanya itu, jurnalis yang menulis buku ‘Singapura Basis Israel Asia Tenggara’ (2005) ini seolah menempatkan bahwa dana PKS akan turut mengalir ke Israel melalui resort-resort yang melakukan promosinya ke sana. Memang terlalu dipaksakan pra-sangkanya ini.

Sebagai seorang jurnalis senior yang telah berhasil menelorkan beberapa buku, ditambah dengan berbagai tulisannya yang banyak dimuat di berbagai media cetak Islam, tidaklah mustahil bahwa sdr. Rizki ini termasuk seorang yang berpenghasilan lebih dari cukup. Dan penulis khusnudzon kalaupun dirinya turut berpanas ria dalam aksi Solidaritas untuk Ghaza 27 Januari silam ia tak hanya mengeluarkan one man one dollar, namun pasti lebih banyak dari itu (mudah-mudahan).

Sebab, walaupun jargon yang di usung one man one dollar to save Palestina namun banyak orang lain yang jauh lebih kurang beruntung rezekinya juga menginfaqkan berpuluh-puluh dollar untuk rakyat Ghaza di silang Monas siang hari itu. Meski di kantong celananya tersisa sejumlah uang yang sangat mungkin tak sebanyak dengan yang telah di infaqkannya. Juga termasuk periuk nasi yang belum tentu akan mengepul hingga Allah memberikan rezekinya kembali di kemudian hari. Termasuk bayi-bayi mereka yang belum tentu masih memiliki ketersediaan susu di lemarinya. Penulis merasa menjadi bagian dari satu di antara kategori mereka yang berangkat hanya dengan dorongan gejolak iman serta ukhuwah dan sedikit uang di tangan. Buka karena kikir, tapi karena memang cuma itu saja yang ada di tangan. Catatan ini tertuang dalam tulisan ‘Rahasia Keajaiban Sedekah‘.

Sungguh tidak ada yang salah jika banyak peserta yang datang menggunakan mobilnya yang mewah. Pula tak ada yang salah ketika mereka datang dengan menenteng HP ber-camera-nya yang ber-pixel tinggi. Dan tak ada yang salah apabila mereka datang dengan berbagai pakaiannya yang bersih dan berkualitas baik. Sebab itu adalah wasilah mereka untuk bisa hadir bersama saudara lainnya membangunkan umat yang tertidur lewat aksi ditengah terik matahari Ahad itu.

Namun subhanallah, sepertinya tak satupun dari mereka (orang-orang yang hanya memiliki sedikit uang dalam genggaman) yang iri melihat peserta lainnya menghabiskan sekian ratus ribu hanya untuk sekedar membeli bensin atau pulsa. Dan merekapun tak bersu’udzon dengan peserta lain yang mampu berkomunikasi lama-lama dengan telepon genggamnya. Sebab mereka yakin benar, belum tentu nilai pahala mereka lebih kecil dibandingkan orang lain yang menginfaqkan harta berpuluh-puluh kali lipat darinya. Karena mereka juga sama-sama meng-imani Allah dan Rasulnya,

Rasulullah saw bersabda, "Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham." Para sahabat bertanya, "Bagaimana itu?" Nabi Saw menjawab, "Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersodaqoh dengannya, dan seorang lagi memiliki harta-benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disodaqohkannya. (HR. An-Nasaa’i)

Makanya, terlalu mengada-ada dengan tulisannya "Ketika saat berteriak-teriak selamatkan Muslim Ghaza kita hanya menyumbangkan One Man One Dollar. Tapi ke Bali…?" Kecuali jika orang dengan berpenghasilan lebih dari cukup seperti sdr. Rizki ini hanya mengeluarkan 1 dollar saja.

Jika seandainya boleh berhitung berapa belanja yang telah sdr. Rizki ini keluarkan ditengah-tengah kondisi rakyat Ghaza yang lapar dan ketakutan, apakah dirinya telah menginfaqkan 1 dari 2 dirham yang dimilikinya? Mohon maaf, kalau ada yang mengatakan demikian maka itu hanyalah omong kosong belaka. Mari berhitung, apabila ia belanja ditempat yang berbadan hukum, jelas ia telah mengeluarkan 10% uangnya untuk PPN. Jika ia mendapatkan gaji dari perusahaan yang berbadan hukum, ia pun sudah terpotong gajinya sebesar 10% sebagai pajak penghasilan. Lalu jika ia menghabiskan sekian juta per bulannya untuk mengisi bensin, maka 10%-nya sudah jelas masuk ke kantong pemerintah. Persis 10 % dari pulsa bulananya juga secara cuma-cuma masuk ke kas pemerintah, sisanya masuk ke konglomerat pemilik jaringan komunikasi. Belum lagi biaya listrik dan telepon rumahnya. Belum pula jajan anak-anak dan belanja untuk makan bergizi keluarganya. Juga biaya dan bayaran sekolah anak-anak yang sangat mungkin tidak kecil jumlahnya. Juga acara ‘berlibur’ keluarga di akhir pekan setiap bulannya. Berapa yang telah ia dikeluarkan?

Apabila yang dimaksudkan dengan empati terhadap bangsa Palestina yang saat ini menderita akibat tidak memiliki makanan, tidak memiliki obat-obatan, yang rumahnya hancur, yang tidak mampu membeli bensin, yang kegelapan karena ketiadaan pasokan listrik, yang tak memiliki pesawat handphone, yang tak memiliki laptop, yang anak-anaknya tak mampu bersekolah, adalah seseorang haruslah menempatkan pada kondisi yang sama dan sepadan, mengapa sdr. Rizki ini masih merasa nyaman dan cuek dengan berpuluh-puluh persen uangnya yang secara cuma-cuma masuk ke kantong pemerintah dan para pengusaha (yang bukan hal mustahil punya keterkaitan dengan Yahudi)?

Kenapa rumah sang jurnalis ini tidak dirobohkan saja sebagaimana rumah-rumah di Ghaza yang roboh, kenapa tidak jalan kaki saja ke tempat kerja, kenapa HP dan Laptopnya tak dijualnya saja untuk diinfaqkan. Kenapa makan sehari-harinya tidak diganti dengan cukup memakan nasi dan garam saja? Lantas kenapa ia juga harus ikut-ikutan terbang ke Konferensi Al-Quds di Turki 14-17 November 2007 lalu. Memangnya ada yang bisa ia lakukan untuk langsung memerdekakan Palestina dari Israel la’natullah? Bukankah ribuan dollar pasti ia keluarkan untuk itu?

Kalau sdr. Rizki mencari pembenaran bahwa itu semua adalah sebuah konsekuensi dan kewajibannya sebagai orang Indonesia yang harus mengeluarkan pajak, dan berargumentasi bahwa belanja sehari-harinya sebagai kebutuhan dan sarana untuk melangsungkan hidup. Serta terbangnya ke Istanbul sebagai tuntutan pekerjaan, dan hal itu ia anggap sebagai sesuatu yang sah di tengah derita dan sengsaranya warga Ghaza. Lantas adakah sesuatu yang tak pantas dilakukan PKS untuk menggelar salah satu hajat partainya di salah satu bumi yang Allah ciptakan?

Mudah-mudahan di sini tidak perlu mengajari sdr. Rizki bahwa denyut kepartaian diwujudkan dalam siklus fase yang sudah menjadi kebutuhan pokok. Munas, Rapimnas. Mukernas, Musyawarah Majelis Syuro, yang menjadi siklus dalam PKS adalah kebutuhan pokok yang juga wajib dalam sebuah aktivitas lembaga dakwah yang terorganisir. Bukankah setiap mukmin tahu, bahwa kebaikan yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir. Maka untuk memenangkan kebenaran wajib terorganisir dengan baik dan solid.

Kalaupun sdr. Rizki ini mempersoalkan biaya besar yang dikeluarkan partai dakwah ini untuk Mukernas diatas, anggap saja menghabiskan Rp. 5 miliyar, silahkan bagi dengan peserta yang tidak kurang dari 1.500 orang. maka setiap orang kira-kira hanya menghabiskan dana sebesar 3,3 juta. Akan tetapi jika biayanya lebih kecil dari nilai tersebut (misal 1 M), maka jumlah rata-rata yang dihabiskan akan jauh lebih sedikit. Apalagi jika hanya misal 100-200 juta. Dan Mukernas dilangsungkan hanya sekali dalam setahun. Bandingkan dengan belanja bulanan sdr. Rizki Ridyasmara yang penulis yakini jauh lebih besar dari angka itu.

Jika PKS ‘terpaksa’ harus menghabiskan dana ‘besar’ untuk kepentingan dakwah Islam dan kemaslahatan umat, lantas bagaimana dengan anggaran bulanan penulis buku ‘Gerilya Salib di Serambi Makkah’ ini yang tidak kalah besar hanya untuk sekedar melangsungkan hidup? Bandingkan pula berapa dana yang secara rutin di himpun kader-kader PKS diseluruh dunia untuk membantu bangsa Palestina setiap bulannya. PKS tentu berempati terhadap Palestina dalam beragam bentuk aksi, namun PKS sebagai sebuah rumah besar juga harus tetap eksis menanungi isi rumahnya, sebagaimana sdr. Rizki merasa berhak membelanjakan sebesar apapun untuk melangsungkan hidup keluarganya.

Dari uraian ini semestinya bisa membedah, siapa sesungguhnya yang lebih berempati terhadap bangsa Palestina dan rakyat Ghaza, seorang Rizky Ridyasmara atau ratusan ribu kader Partai Keadilan Sejahtera?

Karenanya sangat tidak pantas ketika ia melontarkan dzon kepada para qiyadah PKS dengan ungkapan "Saya tidak sampai hati bersenang-senang, bermalam di kamar ber-AC, menikmati breakfast, lunch, dan dinner di hotel yang berkecukupan, pergi ke pantai di antara jejeran tubuh bugil para turis bule, sedangkan saudara-saudara saya di Gaza, Falujah, dan di belahan bumi lainnya masih hidup bagaikan di neraka jahanam. Saya tidak tega.” Padahal sdr. Rizki ini nebeng rombongan KNRP dan Dr. Hidayat Nurwahid saat digelarnya konferensi Al-Quds di Istanbul Turki silam. Semoga ia sadar bahwa apa yang dituliskannya (Antara Bali dan Gaza) lebih kepada mendatangkan fitnah dan menguliti kekeliruan dirinya sendiri.

Ia lupa bahwa PKS dalam kontrak politiknya dengan SBY 2004 lalu secara tegas mencantumkan persyaratan dukungan untuk Palestina merdeka. Dalam perjalanannya partai Islam ini juga konsisten memonitor implementasi kontrak politik tersebut. Ia juga lupa bahwa kader-kader PKS di parlemen menjadi motor terbentuknya Kaukus Palestina yang secara terus menerus memberikan support politis kepada perkembangan di Palestina. Ia juga lupa bahwa 15 Agustus 2006 silam, rombongan KNRP yang di komandoi Suripto (aleg PKS DPR RI) berangkat ke Libanon dan Palestina di bawah bayang-bayang desingan peluru Israel untuk menyampaikan dana tak kurang dari Rp. 5 milyar hasil penggalangan dari para kader PKS di Indonesia. Sayangnya pada moment itu memang bukan sdr. Rizki yang meliput untuk eramuslim.com.

Ia lupa bahwa selain aksi 27 Januari 2008 lalu, telah didahului ratusan bahkan ribuan aksi penggalangan dana dan kemanusiaan yang digelar PKS untuk solidaritas Palestina. Entah lupa atau pura-pura tidak tahu, bahwa hingga detik ini puluhan LSM yang digalang kader-kader PKS pun telah memberikan aksi yang nyata dengan istiqomah. Bahkan ia pun menafikan bahwa COMES yang terus istiqomah mengkampanyekan galang bantuan untuk solidaritas palestina di gerakkan oleh banyak kader terbaik dari Partai Islam ini.

Ia pun lupa, bahwa ratusan bahkan ribuan syair tentang Palestina telah di ‘ciptakan’ oleh kader-kader Partai Dakwah ini hingga jutaan rakyat Indonesia melek penderitaan saudara mereka, bahkan mencintai mereka sebagaimana mereka mencintai dirinya sendiri. Dadanya bergemuruh dan mulutnya tak henti melafaskan do’a untuk kebaikan, kemuliaan, dan kemerdekaan rakyat Palestina. Ia juga lupa bahwa ratusan bahkan ribuan film dokumenter tentang Palestina telah diproduksi para kader PKS, yang membuat orang-orang terperangah dan kemudian sadar terhadap fakta-fakta kebiadaban Yahudi atas saudara seiman mereka di tanah yang diwariskan itu.

Rasanya tak akan pernah habis menyebut satu per satu apa yang telah dan akan terus diperjuangkan oleh partai dakwah ini untuk membela bangsa Palestina. Dan amatlah malu menyebutkan amal perjuangan yang selama ini telah dilakukan. Namun semoga ini semua menjadi bukti yang akan menghinakan setiap fitnah dan prasangka. Cukuplah Allah dan Rasul-nya, dan orang-orang beriman yang menjadi saksi.

Sdr. Rizki Ridyasmara (yang semoga dirahmati Allah), jika Anda dengan tulisan pemberitaan dan artikel-artikel Anda tentang Palestina membuat Anda merasa paling banyak berbuat untuk Palestina, jika buku dan analisis yang pernah Anda tulis bercerita tentang Palestina, dan hal-hal sejenisnya tentang Palestina, itu semua membuat Anda merasa sebagai orang yang paling berjasa untuk Palestina, maka Anda salah besar. Dan Allah yang Maha Tahu siapa-siapa yang baik amalnya.

Telah berhasil membuat sekian buku dan disebut sebagai jurnalis Islam senior tidaklah cukup untuk menyematkan gelar bahwa Anda sumber kebenaran. Mudah-mudahan Anda menyadari kekeliruan ini. Sayangnya kecerobohan Anda telah dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk merongrong izzah partai dakwah yang berjuang untuk Islam ini. Namun, selalu ada kesempatan untuk meminta maaf bagi orang-orang yang benar keimanannya.

 

March 13, 2008

Film & Peradaban (1)

Filed under: PEMIKIRAN

FILM & PERTARUNGAN PERADABAN


Film Ayat-Ayat Cinta garapan tangan sutradara ternama Hanung Bramantyo demikian booming sejak peluncuran perdananya pertengahan Februari 2008 silam. Tercatat pada pekan pertama peluncurannya, 1,3 juta orang Indonesia berjubel memenuhi bioskop-bioskop di seantero nusantara. Angka tersebut dipastikan akan terus merangkak naik mengingat besarnya animo dari masyarakat Indonesia.

Satu hal yang sangat menarik adalah, bahwa film layar lebar yang diangkat dari novel besutan Habiburrahman Elsirazy ini tidak hanya menyedot kalangan masyarakat muslim yang memiliki kecondongan terhadap kehidupan religi saja, namun Ayat-Ayat Cinta juga menjadi buah bibir baru para ABG dari mulai yang alim sampai ABG yang masih menjadi korban mode dan budaya Barat. Bahkan yang lebih spektakuler lagi film ini juga digemari oleh kalangan non-muslim. Mereka tidak hanya melewatkan tontonan bermutu ini, namun juga memberikan komentar dan apresiasi luar biasa atas nilai-nilai yang terkandung dalam film tersebut.

Apa yang bisa dicerna dari sketsa singkat di atas? Pesan yang ingin penulis angkat dari sketsa singkat diatas bukanlah pada bombastisnya Ayat-Ayat Cinta, namun lebih kepada menggugah kesadaran setiap orang bahwa sungguh sebuah film mampu memiliki ‘daya sihir’ yang luar biasa untuk ‘menghipnotis’ suatu masyarakat dengan lintas batas. Jika tulisan bisa mengguncang dunia, gambar-gambar mampu memuntahkan jutaan manusia turun ke jalan, dan berita bisa menghitam putihkan fakta, maka apa yang ditimbulkan oleh film lebih dahsyat lagi. Bukan hanya keguncangan, bukan cuma aksi turun ke jalan, dan bukan pula rekayasa fakta, namun tayangan film dan sejenisnya dapat memberikan imbas yang jauh lebih hebat dari itu semua. Yaitu film mampu membuat berubahnya sebuah paradigma, pola pikir, cita rasa, budaya, gaya hidup, maupun persepsi tentang kebenaran, tanpa penentangan psikologis dari para ‘korban’nya.

Film mampu mempengaruhi pemikiran manusia secara halus, lebih halus dari lembutnya sutera. Pengaruhnya mampu mengalir bersama aliran darah tanpa disadari. Bahkan mampu membuat seseorang bertindak mengikuti apa yang disaksikannya. Dalam konteks yang seimbang, tentu pengaruh tersebut bisa berupa pengaruh baik maupun pengaruh buruk.

Masih kuat dalam ingatan bagaimana tayangan WWF yang sempat booming beberapa tahun lalu telah merenggut beberapa jiwa. Demikian pula dengan film Naruto yang menjadi inspirasi jalan kematian salah seorang anak di negeri ini beberapa bulan silam. Belum lagi budaya permisif yang saat ini mewabah bagaikan virus.

Tahun 80-an film-film yang menyuguhkan kisah percintaan senantiasa menampilkan para pemain yang secara usia telah cukup dewasa. Minimal adalah mereka yang telah bebas dari seragam sekolah alias telah memasuki dunia kampus. Tidak heran jika di masyarakat pada zaman orang-orang tua saat itu masih terjaga ‘ketabuan’ mengumbar kisah cinta kepada orang lain. Rasa malu dan menghargai keberadaan lingkungan disekitarnya masih sangat kuat. Ditambah sentuhan religi dibanyak jenis film-film seperti film sunan-sunan, film para pendekar, maupun film percintaan ala Rhoma Irama, sedikit banyak turut menjaga realitas tema yang sama dilapangan.

Tahun 90-an, dunia entertainment dibanjiri dengan film percintaan yang menampilkan muda-mudi berseragam putih abu-abu. Disusul awal tahun 2000-an film dengan thema yang sama menampilkan remaja berseragam putih biru mulai ramai menjejali tayangan ditelevisi. Bahkan tanpa malu-malu lagi sekitar tahun 2005 kisah tersebut ditampilkan dengan para pemainnya yang masih berseragam putih merah.

Lantas bagaimana realitas di masyarakat ketika tayangan-tayangan film di media menampilkan hal yang demikian, ternyata kenyataan di masyarakat kini semakin parah dan memprihatinkan. Tak heran keadaan ini megkhawatirkan banyak orang tua yang anak-anaknya mulai menginjak awal usia remaja. Bahkan tak bisa dipungkiri bahwa secara biologis usia pematangan organ seksual anak-anak masa kini datang lebih awal dibandingkan dengan zaman orang tua-orang tua mereka dahulu. Usia menstruasi anak-anak perempuan masa kini rata-rata telah mulai datang di usia 9 tahun. Berbeda dengan zaman orang tua mereka yang umumnya baru mengalami datang bulan pertamanya di umur 13 tahun. Demikian pula dengan anak laki-laki, Kenapa? Karena imbas tayangan film memang merasuki manusia hingga ke dalam aliran darah yang menjalar sampai ke otak.

Uraian diatas hanya sebuah kilasan sederhana dari sebuah imbas ‘daya sihir’ film diulas dari sudut masalah yang sangat umum. Lantas bagaimana pengaruh film mampu menjadi ‘nuklir’ dalam pertarungan peradaban? Nantikan ulasan berikutnya!

(bersambung ..)

Note: Tulisan ini dalam rangka memenuhi permintaan dari mas Dany Wicaksono,

dan dipersembahkan sepenuhnya untuk semua pembaca.

March 3, 2008

Selamat Jalan Akhi..

Filed under: DARI HATI
SELAMAT JALAN WAHAI ORANG YANG MUSLIKH
 
 
Saya masing ingat dengan jelas dan tak pernah akan terlupakan. Waktu itu, beberapa hari menjelang masa orientasi mahasiswa baru, saya datang dari kampung sebagai orang baru di Tangerang. Dengan membawa tas carrier tinggi saya berjalan cukup jauh. Saya nekat jalan dari terminal Cimone ke Asrama. Bukan karena dompetnya kecopetan, namun darah petualang sebagai seorang anak pecinta alam SMU yang suka naik gunung dan jalan jauh mendorong saya melakukan ‘long march‘ itu. Sekalian ingin tahu suasana kanan kiri ‘jalan setapak’ menuju asrama secara lebih detil. Maklum pendatang baru.

Hari itu cukup terik, tak heran peluh keringat saya bercucuran, mungkin bisa dikatakan sebesar ‘jagung’. Lumayan juga jalan sejauh 7 km di siang hari dengan tas carrier yang tinggi dan berat. Sampai mendekati ‘warteg’ dan ‘warsun’ dekat asrama kampus suasana memang sudah seperti mau perang. Senior-senior pada nongkrong di tempat-tempat strategis. Tampang senior banyak yang ditekuk dan cuek (maaf, ini sekedar cerita kenangan yang sangat indah), bahkan tidak sedikit yang sudah pada mulai rajin nyuruh push-up para calon mahasiswa baru.

Terus terang punggung saya sudah pegal-pegal dan kaki sudah terasa mau ‘copot’. Ternyata Cimone-asrama bukan jarak yang bersahabat buat jalan kaki di siang hari. Setelah melewati dengan aman para senior yang bikin jantung deg-deg-an, saya mendekati gerbang asrama. Sedikit berbeda dengan kondisi di jalan tadi, di asrama tampak lebih sunyi. Mungkin karena di luar masih lumayan panas, jadi banyak penghuni asrama yang lebih memilih beraktivitas didalam asrama.

Langkah saya sudah gontai. Saya sangat lelah dan kaos yang saya kenakan juga sudah basah kuyup dengan keringat yang terus mengucur. Saca baca bismillah ketika satu kaki mulai menginjak halaman asrama yang memang masih asing. Tiba-tiba, dari sebelah kanan melintas seorang laki-laki menyapaku. Saya tahu dia pasti salah seorang senior.

Wajahnya teduh, dan menyunggingkan senyum yang terasa oleh saya sangat tulus dan dalam. Jelas sangat berbeda dengan wajah para senior yang saya telah berpapasan sebelumnya. Kalau senior yang di luar asrama, saya yang harus berusaha menyunggingkan senyum dan menyapa (itupun belum tentu di balas), tapi senior yang satu ini justru sebaliknya. Ia yang terlebih dahulu tersenyum padaku dan menyapaku "baru datang ya, Dik?", demikian ucapnya. Saya pun menjawab singkat dengan perasaan lega dan ‘aman’.

Setelah semakin dekat, tiba-tiba ia menyodorkan tangannya menjabat tangan saya, "Muslikhin’, katanya menyebut namanya. saya pun menjawab singkat dengan menyebut namaku. Tak sampai di situ, setelah sedikit bercengkerama ia pun kemudian membantu dan mengantar saya melakukan registrasi untuk mendapatkan jatah kamar di asrama itu.

* * *

Iya, itu sepenggal kisah yang sangat berkesan di dalam hati. Sebuah kisah yang terjadi hampir 9 tahun yang lalu. Namun, sungguh saya masih ingat setiap terlintas segala sesuatu yang ber’bau’ kampus dulu. Dan kisah ini pun yang saya ceritakan kepada mas Muslikhin ketika bersama istri saya menjenguknya di RS Al-Qadr 24 Maret 2008 yang lalu.

Sore itu Istrinya menyambut saya dan istri saya dengan tatapan mata yang tegar namun berat. Saya cukup terperanjat melihat kondisi fisiknya yang sangat kurus. Bahkan saya hampir tak mengenalinya. Mata ini berkaca-kaca namun saya menahannya. Wajah yang dulu teduh menyapa dengan senyum yang kuat nuansa keikhlasannya, kini tak mampu mengenali saya. Kangker hati yang menyerangnya sejak beberapa bulan lalu sungguh-sungguh merubahnya dari sosok yang gesit dalam kebaikan menjadi sosok yang lemah tak berdaya. Allah SWT pasti telah menggariskan takdirnya dengan jalan yang paling sempurna.

Usai sholat maghrib, istrinya yang begitu tabah meminta saya menuntun sosok yang terbaring itu untuk menunaikan sholat maghrib. Saya pun duduk disamping pembaringan setelah ia ditayamumkan istrinya. Perlahan saya memulai membacakan bacaan-bacaan sholat dengan memegang punggung tangannya yang tinggal tulang berbalut kulit. Bibir saya bergetar membaca setiap ayat-ayat Al-Qur’an dan bacaan sholat. Mata ini tak kuasa menahan lelehan air mata dengan iringan hati yang bergemuruh memohon mukjizat dari sang Penggengam Jiwa. Allahumma, rabbigh firli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fu’anni.

Ia tampak tak bergeming dari posisinya. Setelah sholat dan saya tuntun berdoa, saya sejenak mengajaknya berbincang untuk menghiburnya. Entah ia mendengar atau tidak, tetapi mulut saya terus berbicara. Sambil mengusap keningnya dan mengipasinya, saya pun bercerita padanya tentang kisah sebagaimana yang telah saya ceritakan diatas. Dalam suasana yang tenang itu saya menutup cerita dengan sebuah doa dan harapan, "Mas Muslikhin, insyaAllah, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kita. Adalah mudah bagi Allah untuk menurunkan mukjizatnya. Dan Allah lah yang paling mengetahui apa yang terbaik buat kita."

* * *

Jum’at, 29 Februari 2008, HP saya berdering tanda SMS masuk, "innalillahi wainnailahi raaji’un, telah wafat akh Muslikhin, 29 th, hari ini jam 17.15 WIB. Mohon doa dan maafnya". Ternyata Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang lebih menyayanginya dengan jalan mengambil dirinya kembali dalam rengkuhan-Nya. Mengistirahatkan dirinya dari penat kehidupan yang fana ini.

Selamat jalan wahai seorang yang muslikh, kami menjadi bukti atas ketulusanmu, keikhlasanmu, kebaikanmu, dan perjuanganmu dalam membela dakwah Islam yang mulia ini. Dan Allah yang Maha Perkasa yang paling mengetahui kebajikanmu. Selamat jalan saudaraku. Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan dikembalikan. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un.

 





















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer