Antara PKS dan Ghaza
ANTARA PKS DAN GHAZA
Membicarakan Palestina memang bak air bah yang mengalir, deras dan tiada habis-habisnya. Sejarah perjuangan yang pelik dan panjangnya menjadikan setiap pena yang menuliskan kisahnya tak pernah berhenti menari merangkai kata demi kata. Bisa jadi seandainya seluruh tinta emas yang ada dimuka bumi ini dipakai menuliskan kisah-kisah terbaiknya, maka lembaran demi lembaran akan berbicara tentang kisah negeri yang diwariskan itu. Kisah tentang ketegaran, kisah tentang perjuangan, kisah tentang pengorbanan, kisah tentang kekuatan iman, kisah tentang izzah, kisah tentang kehormatan, kisah tentang ribuan Khansa, kisah tentang bocah-bocah syurga, kisah tentang pemuda-pemuda syuhada, kisah tentang kecintaan bangsa terhadap para pejuangnya, maupun kisah tentang para pemimpinnya yang kokoh berpijak pada jalan jihad.
Ya, semuanya ada di negeri Al-Quds itu. Sehingga tidak heran jika seorang ulama terkenal yang disegani, Syeikh Dr. Yusuf Qardhawi, menjadikan persoalan Palestina sebagai central problematika dunia Islam. Central pembuktian siapa yang benar keimanannya dan siapa yang takluk dihadapan kaum penjajah. Karenanya, dari centrum Palestina dunia Islam menjelaskan keterbelahan dirinya sendiri. Di salah satu sisi, mereka adalah para kelompok yang acuh terhadap derita saudaranya. Dan disisi yang lain adalah mereka yang berdiri sebagai kelompok yang secara istiqomah membela negeri yang terjajah itu.
Kelompok pertama dimayoritasi oleh kalangan pemimpin pemerintahan yang takluk dan takut di bawah titah sang agresor dengan kekuatan AS sebagai backing utamanya. Para pemimpin pemerintahan negeri Islam yang lebih senang menumpuk-numpuk kekayaan diri, keluarga, dan kelompoknya dibandingkan turut mensedekahkan solusi bagi saudara seimannya yang kelaparan dan ketakutan di Palestina. Mereka diliputi sindrom dan penyakit ‘al-wahn’ alias cinta dunia dan takut mati. Takut kekuasaannya dijatuhkan oleh AS dan sekutunya, takut keselamatannya diincar agen-agen intelijen Asing, takut aset-aset di luar negerinya di bekukan. Takut tidak bisa jalan-jalan berlibur keluar negeri. Takut dan takut. Bahkan ketakutannya kepada thaghut melebihi ketakutan mereka terhadap ancaman dan peringatan Allah serta Rasul-Nya. Padahal jelas-jelas mereka akan dimintai pertanggungjawabannya sebagai pemegang amanah kepemimpinan di negeri-negeri Islam.
Kelompok pertama juga diisi oleh kalangan masyarakat Islam yang sudah disibukkan oleh urusan dunianya masing-masing. Mereka asyik bergelut dengan kesenangan yang menyilaukan, keluarga yang membuatnya lupa dengan tanggung jawab seorang muslim terhadap sesamanya. Mereka juga sibuk mengumpulkan harta benda sehingga tidak lagi sempat untuk mengenal dunia Islamnya yang terluka dan tercabik diberbagai belahan dunia. Dari kalangan ini sebagiannya juga mencibir pihak-pihak yang secara konsisten peduli kepada derita bangsa Palestina dengan aksi demonstrasi maupun penggalangan dana. Mereka menganggap bahwa pihak yang tak sesuai dengan pemikirannya itu terlalu membesar-besarkan derita bangsa lain sementara banyak warga Indonesia yang perlu juga untuk dibantu dan diperhatikan.
Disamping itu ada dalam kelompok ini juga termasuk orang-orang yang sudah teracuni dengan budaya dan pengaruh Barat baik dalam tataran pemikiran maupun gaya hidupnya. Tidak sedikit dari kalangan ini. Bahkan tidak sekedar mereka tak acuh, sebagian yang punya jalur politis dan ekonomi serta finansial justru mencoba bermesraan dengan Israel dan Zionisme dengan mengangkangi umat Islam yang berurai air mata atas kekejian Yahudi. Kejadian kunjungan beberapa pemuda ’sinting’ yang mengatasnamakan Indonesia beberapa bulan lalu ke Israel adalah salah satu contoh kasusnya.
Kelompok ini juga dihuni kelompok atau gerakan Islam yang lebih mengentalkan ashobiyahnya dibandingkan dengan semangat persaudaraan Islam sesama muslim. Selama tidak ada sangkut pautnya dengan kelompok atau jamaahnya secara langsung, maka mereka ini lebih konsen dengan kepentingan internalnya. Penderitaan saudara-saudara seiman yang setiap hari meronta dengan duka lara tidak menjadi satu agendapun yang diwacanakan dalam garis perjuangan mereka. Adapula kelompok yang merasa bahwa perjuangan jargon-jargonnya lebih utama ketimbang menyelamatkan satu nyawa umat Islam dari kekejian peluru dan mortir Israel. Dengan penuh kebanggaan mereka memasang spanduk-spanduk bertuliskan "Dengan khilafah kita memerangi, bukan diperangi".
Sayangnya, sangking asyiknya menyebarkan jargon-jargon tersebut mereka menjadi sangat malas untuk pergi berjihad memanggul senjata. Mereka lebih senang duduk berdiskusi bagaimana caranya masyarakat Islam masuk dalam kelompoknya. Mereka lebih senang minum kopi di dalam ruang ber-AC, sementara diluar sana para mujahid Palestina berpeluh debu dan keringat serta bercipratan darah disana-sini karena pertempuran melawan Israel. Dan yang lebih dari itu, sangat besar kemungkinannya mereka ini takut mati demi Al-Islam yang mulia.
Tak pelak mereka ini tak berbuat apa-apa untuk umat Islam Palestina yang hari demi harinya diwarnai puluhan nyawa meninggal dunia. Bahkan tangis bayi-bayi yang mengejang dirumah-rumah sakit karena kurang gizi dan obat-obatan tak membuat ‘khalifah’ mau turun tangan, sebab ‘khalifah’ sedang sibuk berdiskusi. Padahal Umar bin Khattab pernah mengatakan "seandainya seekor himar terperosok di Irak, maka umarlah yang bertanggungjwab kenapa tidak dibuatkan jalan untuknya". Memang mungkin harus dimaklumi karena ‘khalifah’ yang ini sekedar khalifah-khalifahan yang tidak mencontoh para khulafaur Rasyidin yang Allah muliakan.
Karenanya tak perlu heran jika ungkapan-ungkapan yang keluar dari mulut para kadernya sekedar "Tunggulah wahai Palestina, pasukan khalifah pasti akan datang!". Atau hanya "Solusi Palestina adalah dengan adanya khilafah". Tidak lebih dari itu atau NATO (No Action Talk Only). Sementara syeikh-syeikh mereka sibuk menuduh para mujahid HAMAS yang berjihad mengusir Israel dari jengkal tanah air Islam Palestina sebagai pembunuh wanita dan anak-anak (silahkan baca kembali Al-Islam edisi 361). Buta sekali mereka.
Demikianlah gambaran kelompok pertama yang acuh dan tak peduli terhadap penderitaan bangsa Palestina. Hatta, ketika rakyat Ghaza diisolasidari bahan makanan dan obat-obatan oleh Israel dengan Barat dibelakangnya beserta negara-negara Islam yang penakut. Sampai dengan diblokadenya pasokan listrik dan bahan bakar yang menyebabkan ribuan nyawa meninggal dunia di rumah sakit, mereka kelompok pertama ini tetap tak berbuat apapun. Pepatah ‘diam itu emas’ mungkin menjadi pegangan utama.
Sekarang kita coba menilik kelompok kedua yang berseberangan dengan kelompok pertama yang telah dibahas di atas. Mereka ini adalah kebanyakan para pemuda Islam yang bangkit dari kelemahan imannya, sadar dengan kewajiban Islam dan persaudaraannya. Mereka bukan pemuda yang matang karena jargon-jargonnya, tapi mereka adalah para pemuda yang lahir dari kematangan aqidah dan amal-amal jihadnya yang nyata. Mereka bukan kaum hartawan, namun harta yang mereka miliki sebagiannya mereka semaikan untuk dakwah dan dunia Islam. Penghasilan setiap bulannya sekian persennya pasti disisihkan untuk geliat dunia Islam dan Palestina. Mereka yang berdiri dalam posisi ini adalah mereka yang memahami dengan dalam bahwa salah satu kunci persoalan dunia Islam ada di negeri yang memiliki kiblat pertama untuk umat Islam ini.
Dalam konteks ke-Indonesia-an, kelompok kedua ini direpresentasikan oleh Partai Keadilan Sejahtera. Meski tidak menafikan kesertaan kalangan lain dan tokoh-tokoh nasional, namun harus diakui bahwa PKS lah yang menjadi motor utama menggerakkan kepedulian bangsan Indonesia kepada Palestina.Tidak sedikit tokoh-tokoh dan ulama-ulama PKS yang menjadi aktor utama diberbagai lembaga kemanusiaan independen yang konsentrasi membantu penderitaan dan perjuangan Palestina sebagai sebuah bangsa. Sebut saja COMES, KISPA, KNRP, Mer-C, serta lembaga-lembaga kemanusiaan lain yang sangat konsisten mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada mereka. Lembaga-lembaga ini memang bukan underbow PKS, hanya secara independen masing-masing tokoh PKS memiliki inisiatif tinggi menggalang potensi umat untuk kepentingan rakyat Palestina lewat berbagai lembaga kemanusiaan yang dikelola dengan amanah dan profesional. Bahkan kader-kader terbaik dari partai ini yang mendapatkan amanah di panggung parlemen meranggul berbagai tokoh lintas partai membentuk kaukus parlemen untuk membantu perjuangan bangsa Palestina.
Di tataran akar rumput, partai Islam ini juga menampilkan konsistensinya menggaungkan kepedulian kepada bangsa yang terjajah itu. Baik melalui forum-forum pertemuan, seminar, kajian, tabligh akbar, bahkan demonstrasi besar-besaran untuk menyuarakan pembelaan terhadap Palestina dan para pejuangnya. Bukan itu saja, dalam lingkaran central, kader-kader PKS juga secara reguler menginfakkan sekian persen dari penghasilan setiap bulannya untuk membantu bencana kemanusiaan di negeri yang di wariskan khalifah Umar bin Khathab. Tidak sekedar ‘One Man One Dollar to Save Palestina’ yang menjadi icon aksi-aksi demonstrasi partai dakwah ini untuk menyeru keterlibatan masyarakat Indonesia secara umum.
Termasuk ketika tragedi boikot warga Ghaza yang ditimpakan oleh jaringan Yahudi internasional melalui negara-negara di Barat yang diamini para pemimpin negeri-negeri Islam. PKS pun bergerak untuk mengingatkan kepada bangsa Indonesia dan dunia, bahwa saudara-saudara muslim di Ghaza sana sedang dianiaya dan didzalimi dengan penganiayaan dan pendzaliman yang luar biasa dahsyat. Ketika ratusan bahkan ribuan nyawa terancam melayang ditangan kebengisan yahudi la’natullah PKS bergerak mengingatkan kepada muslim Indonesia yang kabarnya mayoritas di seluruh dunia, untuk menyisihkan sebagian rizkinya dengan thema ‘One man One Dollar to Save Palestina’.
Oleh karena itu, sangat aneh dengan apa yang diprasangkakan oleh salah seorang wartawan senior Eramuslim, Rizky Ridyasmara yang disebarkannya dalam sebuah artikelnya yang berjudul "Antara Bali dan Ghaza". Dangkal sekali pemikirannya dalam memandang PKS. Ternyata wartawan yang sebetulnya patut diacungi jempol dalam memonitor gerakan zionisme internasional ini, tidak mengerti banyak tentang PKS. Alangkah patut dirinya lebih mengevaluasi diri sendiri, sudah berapa besarkah ia berkontribusi untuk bangsa Palestina. Jangan-jangan hanya ‘one dollar’ saat ikutan aksi di Monas 27 Januari 2008 yang lalu.
Serahkan segalanya hanya kepada Allah semata. Dan Allah yang Maha Tahu setiap amal-amal hambanya, dan Dialah yang berhak menilai siapa yang lebih mulia di sisi-Nya. Wallahua’lam.








Subhanallah wa alhamdulillah Allahu Akbar!!!
Saya hanya bisa tersenyum sekaligus menjengitkan mata ketika membaca tulisan anta di blog ini. Yah, hanya ingin berkomentar secara pribadi saja. Kalo dia aprove ya syukr, kalo gak, setidaknya dibaca oleh anta sendiri.
Akhi yang dimuliakan oleh Allah. Secara pribadi saya melihat adanya ketimpangan sudut pandang dari komen anta.
…..
“Karenanya tak perlu heran jika ungkapan-ungkapan yang keluar dari mulut para kadernya sekedar “Tunggulah wahai Palestina, pasukan khalifah pasti akan datang!”. Atau hanya “Solusi Palestina adalah dengan adanya khilafah”. Tidak lebih dari itu atau NATO (No Action Talk Only). Sementara syeikh-syeikh mereka sibuk menuduh para mujahid HAMAS yang berjihad mengusir Israel dari jengkal tanah air Islam Palestina sebagai pembunuh wanita dan anak-anak (silahkan baca kembali Al-Islam edisi 361). Buta sekali mereka.”
Adakah yang salah dari sini?? Buta dari segi mananya ya akh? NATO dari sisi mana? Mungkin fakta yang disajikan oleh anta kurang lengkap kali ya sehingga pikiran saya (secara pribadi) tidak terbuka?
Kalo mengenai Al-Islam edisi 631 yang saya baca, penulis Al-Islam tersebut menganalisa terkait dengan 2 partai Islam yang seharusnya meperjuangkan kaum muslimin di Palestina untuk terbebas dari penjajahan Yahudi Israel Laknatullah alayh tetapi justru terjebak pada perseteruan kelompok yang merugikan Palestina sendiri. Apakah saya salah membaca? Ataukah mungkin anta hanya membaca sebagian saja?…afwan… coba di baca lebih cermat lagi
Saya coba membandingkan dengan tulisan ini:
“Di tataran akar rumput, partai Islam ini juga menampilkan konsistensinya menggaungkan kepedulian kepada bangsa yang terjajah itu. Baik melalui forum-forum pertemuan, seminar, kajian, tabligh akbar, bahkan demonstrasi besar-besaran untuk menyuarakan pembelaan terhadap Palestina dan para pejuangnya. Bukan itu saja, dalam lingkaran central, kader-kader PKS juga secara reguler menginfakkan sekian persen dari penghasilan setiap bulannya untuk membantu bencana kemanusiaan di negeri yang di wariskan khalifah Umar bin Khathab. Tidak sekedar ‘One Man One Dollar to Save Palestina’ yang menjadi icon aksi-aksi demonstrasi partai dakwah ini untuk menyeru keterlibatan masyarakat Indonesia secara umum”
Umm… apakah tidak sama antara ke-2 kelompok yang anta bandingkan ini? Sama2 pada tataran menyelenggarakan diskusi, seminar, tabligh akbar, dalam rangka membuka mata masy Indonesia pada khususnya atas apa yang terjadi pada Palestina. Apa bedanya??
“Oleh karena itu, sangat aneh dengan apa yang diprasangkakan oleh salah seorang wartawan senior Eramuslim, Rizky Ridyasmara yang disebarkannya dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Antara Bali dan Ghaza”. Dangkal sekali pemikirannya dalam memandang PKS. Ternyata wartawan yang sebetulnya patut diacungi jempol dalam memonitor gerakan zionisme internasional ini, tidak mengerti banyak tentang PKS. Alangkah patut dirinya lebih mengevaluasi diri sendiri, sudah berapa besarkah ia berkontribusi untuk bangsa Palestina. Jangan-jangan hanya ‘one dollar’ saat ikutan aksi di Monas 27 Januari 2008 yang lalu.”
:) berarti anta juga tidak berhak dunk untuk menuduh jamaah lainnya… karena anta juga tidak mengerti apa2 tentang jama’ah tersebut. Anta menuduh sang wartawan bermafhum dangkal. Apakah tidak dangkal juga ketika anta menuduh jama’ah dakwah yang anta perbandingkan tersebut?? Terlebih lagi sense ashobiyyah sangat tercium dalam tulisan anta ini.
Sebagai pribadi saya cuman mengingatkan, karena bukankah sesama muslim kita harus saling mengingatkan sebagaimana dalam surat al-ahsr… Semoga kita terhindar dari sikap ashobiyyah karena itu hanya akan menghancurkan akal, hati dan nurani kita dari kebenaran… Pendalaman terhadap fakta itu sangat penting sekali sebelum kita menjustifikasi segala sesuatu, dan kejernihan qolbu sangat menentukan amal kita. Semoga kita terhindar dari hembusan dan godaan syaithon yang terkutuk…
Afwan…
Wasalam…
Comment by sinan — February 25, 2008 @ 12:01 am
Kalimat “Dengan khilafah kita memerangi, bukan diperangi” adalah jargon yang di pasang di sudut2 negeri Palestina saat HT Palestina menyelenggarakan seminar khilafah di tahun 2006. Padahal ratusan ribu bangsa Palestina meregang nyawa di ujung mesiu Israel. Ironisnya kader2 HT Palestina sangat malas berjihad mengangkat senjata. Kalo memang ini salah, silahkan tampilkan berita atau profil para syuhada HT di Palestina. Bisa? Saya tunggu selama 1 minggu ini, jika tidak bisa…. bagian mana yang salah???
Pengiriman bantuan dana untuk kemanusiaan bagi bangsa Palestina oleh kader2 PKS dikirimkan secara langsung. Tidak perlu semua di ulas secara terbuka, salah satu contoh adalah delegasi KNRP yang dipimpin oleh pak Suripto dan beberapa ulama PKS pada 15 Agustus 2006 lalu. Saya secara langsung mengantarkan rombongan sampai ke Bandara.
Dan jangan salah, event2 penyuaraan untuk solidaritas Palestina selalu dilanjutkan dengan aksi penggalangan dana dan harta benda yang kemudian dikirimkan melalui lembaga-lembaga kemanusiaan (disebut beberapa diantaranya dalam artikel diatas) yang bekerjasama secara intensif dengan lembaga-lembaga kemanusiaan lokal di Palestina, dimana hal ini dilakukan secara rutin ke negeri yang diwariskan Khalifah Umar Al-Faruq itu.
Jika mengenai Al-Islam edisi 361, justru sampeyan yang tidak bisa menangkap muatan tersembunyi yang ada didalamnya. Dunia sudah mengengetahui bagaimana sikap FATAH terhadap Israel, Amerika, dan Pejuang Palestina. Namun apa yang ditulis edisi 361 itu menempatkan para pejuang HAMAS serupa dengan para komprador Israel. HT salah besar!!! Lebih salah lagi itu tertulis di Al-Islam yang disebar ke masjid2 di seluruh Indonesia. Sebuah fitnah yang terorganisir.
Saya sudah minta klarifikasi ke no. kontak DPP HTI yang ada diwebsite dan diterima seseorang bernama Muhammad Lazuardi, saya sudah minta baik-baik tentang bukti (minamal sumber terpercaya baik media internasional maupun nama ‘tokoh lapangan’ yang kata sdr. M. Lazuardi TIDAK MUNGKIN SALAH informasinya) bahwa HAMAS melakukan pembunuhan keji terhadap wanita dan anak-anak, kemudian sujud syukur, dan sebutan2 lain yang tidak pantas.
Ternyata orang ini tidak bisa menjawab dengan baik dan benar. Akhir kata, dia meminta agar saya dan orang-orang yang merasa prihatin atas pemberitaan itu agar menjadikan Al-Islam edisi 361 sebagai NASEHAT. Aneh ya.
Saya juga sudah berupaya menuliskan komentar di bawah tulisan artikel di website HTI, tidak kurang 3 kali saya menulis, tak satupun di upload. Sudah saya kirim ke email redaksi yang saya tujukan ke DPP juga tak satu pun ada jawaban. Pecundang bukan menurut sampeyan?
Insya Allah saya ingin mengajari bagaimana bersikap ksatria agar tidak terus-menerus HT jadi pecundang dan penakut untuk mengakui kekeliruan. Akan ada artikel berjudul ‘Ajari Mereka Sikap Ksatria’
Karenanya, jadikan tulisan-tulisan di webblog ini sebagai NASEHAT saja. Tidak perlu sewot. Bukankah kita harus saling menasehati dan mengingatkan seperti dalam surat Al-’Ashr??
Comment by Administrator — February 25, 2008 @ 3:07 am
Menimbang anda adalah anggota PKS (saya sering membaca tulisan anda di situs resmi PKS Tangerang), dan mampu menulis, apa tidak ingin meluruskan tulisan2 di http://pkswatch.blogspot.com/ ?
Comment by fikri — February 25, 2008 @ 11:35 am
Mas, tolong tanggapi film The Poin Men di Trans TV yang mengangkat isu Palestina dan Israel.
Comment by dany wicaksono — February 25, 2008 @ 12:51 pm
Jazakallah mas Fikri atas kunjungan dan komentarnya. Ass.
Pada prinsipnya, apa yang saya tulis dalam webblog ini tidak terkait dengan latar belakang dan afiliasi saya. Sehingga apa yang tertulis disini murni buah dari kegundahan hati. Karenanya tidak menyangkut apakah saya sebagai anggota PKS ataupun back-ground keorganisasian lainnya. Ini sudah diperjelas di kolom AGREEMENT.
Mengenai blog pkswatch.blogspot.com saya sudah pernah mengunjungi. Kesimpulan sementara, itu bukan dimiliki oleh kader atau simpatisan PKS. Besar kemungkinannya dia adalah seseorang yang berasal dari kelompok Islam yang sangat menikmati kalau PKS tersudutkan.
Sejauh ini saya belum tertarik untuk merespons cuplikan tulisan-tulisannya. Demikian komentar saya mas Fikri.
Comment by Administrator — February 26, 2008 @ 1:42 am
ass, mas Dany.
Wah kebetulan saya ngga’ nonton filmnya ni. Saya masih coba mencari informasi mengenai ceritanya. Atau mas Dany bisa kasih bocorannya ke saya?
Comment by Administrator — February 26, 2008 @ 2:14 am
susah berbicara dengan orang yang menganggap diri paling benar,egois, penebar fitnah, namimah dan ta’ashub..
Begitu bencinya orang itu terhadap saudaranya sendiri..
Apakah yang ia perjuangkan??
PKS-nya kah atau islam..
Sudahkah ia memberi kontribusi ataukah hanya omongan yang menimbulkan permusuhan ditubuh umat islam..
Saya khawatir justru orang-orang seperti itu adalah yahudi yang ingin menghancurkan islam dari dalam..
Comment by Orang yang Prihatin — November 18, 2008 @ 11:02 pm