February 22, 2008

Antara PKS dan Ghaza

Filed under: PEMIKIRAN

ANTARA PKS DAN GHAZA


Membicarakan Palestina memang bak air bah yang mengalir, deras dan tiada habis-habisnya. Sejarah perjuangan yang pelik dan panjangnya menjadikan setiap pena yang menuliskan kisahnya tak pernah berhenti menari merangkai kata demi kata. Bisa jadi seandainya seluruh tinta emas yang ada dimuka bumi ini dipakai menuliskan kisah-kisah terbaiknya, maka lembaran demi lembaran akan berbicara tentang kisah negeri yang diwariskan itu. Kisah tentang ketegaran, kisah tentang perjuangan, kisah tentang pengorbanan, kisah tentang kekuatan iman, kisah tentang izzah, kisah tentang kehormatan, kisah tentang ribuan Khansa, kisah tentang bocah-bocah syurga, kisah tentang pemuda-pemuda syuhada, kisah tentang kecintaan bangsa terhadap para pejuangnya, maupun kisah tentang para pemimpinnya yang kokoh berpijak pada jalan jihad.

Ya, semuanya ada di negeri Al-Quds itu. Sehingga tidak heran jika seorang ulama terkenal yang disegani, Syeikh Dr. Yusuf Qardhawi,  menjadikan persoalan Palestina sebagai central problematika dunia Islam. Central pembuktian siapa yang benar keimanannya dan siapa yang takluk dihadapan kaum penjajah. Karenanya, dari centrum Palestina dunia Islam menjelaskan keterbelahan dirinya sendiri. Di salah satu sisi, mereka adalah para kelompok yang acuh terhadap derita saudaranya. Dan disisi yang lain adalah mereka yang berdiri sebagai kelompok yang secara istiqomah membela negeri yang terjajah itu.

Kelompok pertama dimayoritasi oleh kalangan pemimpin pemerintahan yang takluk dan takut di bawah titah sang agresor dengan kekuatan AS  sebagai backing utamanya. Para pemimpin pemerintahan negeri Islam yang lebih senang menumpuk-numpuk kekayaan diri, keluarga, dan kelompoknya dibandingkan turut mensedekahkan solusi bagi saudara seimannya yang kelaparan dan ketakutan di Palestina. Mereka diliputi sindrom dan penyakit ‘al-wahn’ alias cinta dunia dan takut mati. Takut kekuasaannya dijatuhkan oleh AS dan sekutunya, takut keselamatannya diincar agen-agen intelijen Asing, takut aset-aset di luar negerinya di bekukan. Takut tidak bisa jalan-jalan berlibur keluar negeri. Takut dan takut. Bahkan ketakutannya kepada thaghut melebihi ketakutan mereka terhadap ancaman dan peringatan Allah serta Rasul-Nya. Padahal jelas-jelas mereka akan dimintai pertanggungjawabannya sebagai pemegang amanah kepemimpinan di negeri-negeri Islam.

Kelompok pertama juga diisi oleh kalangan masyarakat Islam yang sudah disibukkan oleh urusan dunianya masing-masing. Mereka asyik bergelut dengan kesenangan yang menyilaukan, keluarga yang membuatnya lupa dengan tanggung jawab seorang muslim terhadap sesamanya. Mereka juga sibuk mengumpulkan harta benda sehingga tidak lagi sempat untuk mengenal dunia Islamnya yang terluka dan tercabik diberbagai belahan dunia. Dari kalangan ini sebagiannya juga mencibir pihak-pihak yang secara konsisten peduli kepada derita bangsa Palestina dengan aksi demonstrasi maupun penggalangan dana. Mereka menganggap bahwa pihak yang tak sesuai dengan pemikirannya itu terlalu membesar-besarkan derita bangsa lain sementara banyak warga Indonesia yang perlu juga untuk dibantu dan diperhatikan.

Disamping itu ada dalam kelompok ini juga termasuk orang-orang yang sudah teracuni dengan budaya dan pengaruh Barat baik dalam tataran pemikiran maupun gaya hidupnya. Tidak sedikit dari kalangan ini. Bahkan tidak sekedar mereka tak acuh, sebagian yang punya jalur politis dan ekonomi serta finansial justru mencoba bermesraan dengan Israel dan Zionisme dengan mengangkangi umat Islam yang berurai air mata atas kekejian Yahudi. Kejadian kunjungan beberapa pemuda ’sinting’ yang mengatasnamakan Indonesia beberapa bulan lalu ke Israel adalah salah satu contoh kasusnya.

Kelompok ini juga dihuni kelompok atau gerakan Islam yang lebih mengentalkan ashobiyahnya dibandingkan dengan semangat persaudaraan Islam sesama muslim. Selama tidak ada sangkut pautnya dengan kelompok atau jamaahnya secara langsung, maka mereka ini lebih konsen dengan kepentingan internalnya. Penderitaan saudara-saudara seiman yang setiap hari meronta dengan duka lara tidak menjadi satu agendapun yang diwacanakan dalam garis perjuangan mereka. Adapula kelompok yang merasa bahwa perjuangan jargon-jargonnya lebih utama ketimbang menyelamatkan satu nyawa umat Islam dari kekejian peluru dan mortir Israel. Dengan penuh kebanggaan mereka memasang spanduk-spanduk bertuliskan "Dengan khilafah kita memerangi, bukan diperangi".

Sayangnya, sangking asyiknya menyebarkan jargon-jargon tersebut mereka menjadi sangat malas untuk pergi berjihad memanggul senjata. Mereka lebih senang duduk berdiskusi bagaimana caranya masyarakat Islam masuk dalam kelompoknya. Mereka lebih senang minum kopi di dalam ruang ber-AC, sementara diluar sana para mujahid Palestina berpeluh debu dan keringat serta bercipratan darah disana-sini karena pertempuran melawan Israel. Dan yang lebih dari itu, sangat besar kemungkinannya mereka ini takut mati demi Al-Islam yang mulia.

Tak pelak mereka ini tak berbuat apa-apa untuk umat Islam Palestina yang hari demi harinya diwarnai puluhan nyawa meninggal dunia. Bahkan tangis bayi-bayi yang mengejang dirumah-rumah sakit karena kurang gizi dan obat-obatan tak membuat ‘khalifah’ mau turun tangan, sebab ‘khalifah’ sedang sibuk berdiskusi. Padahal Umar bin Khattab pernah mengatakan "seandainya seekor himar terperosok di Irak, maka umarlah yang bertanggungjwab kenapa tidak dibuatkan jalan untuknya". Memang mungkin harus dimaklumi karena ‘khalifah’ yang ini sekedar khalifah-khalifahan yang tidak mencontoh para khulafaur Rasyidin yang Allah muliakan.

Karenanya tak perlu heran jika ungkapan-ungkapan yang keluar dari mulut para kadernya sekedar "Tunggulah wahai Palestina, pasukan khalifah pasti akan datang!". Atau hanya "Solusi Palestina adalah dengan adanya khilafah". Tidak lebih dari itu atau NATO (No Action Talk Only). Sementara syeikh-syeikh mereka sibuk menuduh para mujahid HAMAS yang berjihad mengusir Israel dari jengkal tanah air Islam Palestina sebagai pembunuh wanita dan anak-anak (silahkan baca kembali Al-Islam edisi 361). Buta sekali mereka.

Demikianlah gambaran kelompok pertama yang acuh dan tak peduli terhadap penderitaan bangsa Palestina. Hatta, ketika rakyat Ghaza diisolasidari bahan makanan dan obat-obatan oleh Israel dengan Barat dibelakangnya beserta negara-negara Islam yang penakut. Sampai dengan diblokadenya pasokan listrik dan bahan bakar yang menyebabkan ribuan nyawa meninggal dunia di rumah sakit, mereka kelompok pertama ini tetap tak berbuat apapun. Pepatah ‘diam itu emas’ mungkin menjadi pegangan utama.

Sekarang kita coba menilik kelompok kedua yang berseberangan dengan kelompok pertama yang telah dibahas di atas. Mereka ini adalah kebanyakan para pemuda Islam yang bangkit dari kelemahan imannya, sadar dengan kewajiban Islam dan persaudaraannya. Mereka bukan pemuda yang matang karena jargon-jargonnya, tapi mereka adalah para pemuda yang lahir dari kematangan aqidah dan amal-amal jihadnya yang nyata. Mereka bukan kaum hartawan, namun harta yang mereka miliki sebagiannya mereka semaikan untuk dakwah dan dunia Islam. Penghasilan setiap bulannya sekian persennya pasti disisihkan untuk geliat dunia Islam dan Palestina. Mereka yang berdiri dalam posisi ini adalah mereka yang memahami dengan dalam bahwa salah satu kunci persoalan dunia Islam ada di negeri yang memiliki kiblat pertama untuk umat Islam ini. 

Dalam konteks ke-Indonesia-an, kelompok kedua ini direpresentasikan oleh Partai Keadilan Sejahtera. Meski tidak menafikan kesertaan kalangan lain dan tokoh-tokoh nasional, namun harus diakui bahwa PKS lah yang menjadi motor utama menggerakkan kepedulian bangsan Indonesia kepada Palestina.Tidak sedikit tokoh-tokoh dan ulama-ulama PKS yang menjadi aktor utama diberbagai lembaga kemanusiaan independen yang konsentrasi membantu penderitaan dan perjuangan Palestina sebagai sebuah bangsa. Sebut saja COMES, KISPA, KNRP, Mer-C, serta lembaga-lembaga kemanusiaan lain yang sangat konsisten mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada mereka. Lembaga-lembaga ini memang bukan underbow PKS, hanya secara independen masing-masing tokoh PKS memiliki inisiatif tinggi menggalang potensi umat untuk kepentingan rakyat Palestina lewat berbagai lembaga kemanusiaan yang dikelola dengan amanah dan profesional. Bahkan kader-kader terbaik dari partai ini yang mendapatkan amanah di panggung parlemen meranggul berbagai tokoh lintas partai membentuk kaukus parlemen untuk membantu perjuangan bangsa Palestina.

Di tataran akar rumput, partai Islam ini juga menampilkan konsistensinya menggaungkan kepedulian kepada bangsa yang terjajah itu. Baik melalui forum-forum pertemuan, seminar, kajian, tabligh akbar, bahkan demonstrasi besar-besaran untuk menyuarakan pembelaan terhadap Palestina dan para pejuangnya. Bukan itu saja, dalam lingkaran central, kader-kader PKS juga secara reguler menginfakkan sekian persen dari penghasilan setiap bulannya untuk membantu bencana kemanusiaan di negeri yang di wariskan khalifah Umar bin Khathab. Tidak sekedar ‘One Man One Dollar to Save Palestina’ yang menjadi icon aksi-aksi demonstrasi partai dakwah ini untuk menyeru keterlibatan masyarakat Indonesia secara umum.

Termasuk ketika tragedi boikot warga Ghaza yang ditimpakan oleh jaringan Yahudi internasional melalui negara-negara di Barat yang diamini para pemimpin negeri-negeri Islam. PKS pun bergerak untuk mengingatkan kepada bangsa Indonesia dan dunia, bahwa saudara-saudara muslim di Ghaza sana sedang dianiaya dan didzalimi dengan penganiayaan dan pendzaliman yang luar biasa dahsyat. Ketika ratusan bahkan ribuan nyawa terancam melayang ditangan kebengisan yahudi la’natullah PKS bergerak mengingatkan kepada muslim Indonesia yang kabarnya mayoritas di seluruh dunia, untuk menyisihkan sebagian rizkinya dengan thema ‘One man One Dollar to Save Palestina’.

Oleh karena itu, sangat aneh dengan apa yang diprasangkakan oleh salah seorang wartawan senior Eramuslim, Rizky Ridyasmara yang disebarkannya dalam sebuah artikelnya yang berjudul "Antara Bali dan Ghaza". Dangkal sekali pemikirannya dalam memandang PKS. Ternyata wartawan yang sebetulnya patut diacungi jempol dalam memonitor gerakan zionisme internasional ini, tidak mengerti banyak tentang PKS. Alangkah patut dirinya lebih mengevaluasi diri sendiri, sudah berapa besarkah ia berkontribusi untuk bangsa Palestina. Jangan-jangan hanya ‘one dollar’ saat ikutan aksi di Monas 27 Januari 2008 yang lalu.

Serahkan segalanya hanya kepada Allah semata. Dan Allah yang Maha Tahu setiap amal-amal hambanya, dan Dialah yang berhak menilai siapa yang lebih mulia di sisi-Nya. Wallahua’lam. 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer