Sidney pun Mengadu (1)
SEPUCUK SURAT DARI AUSTRALIA: SIDNEY PUN MENGADU
Salah seorang mahasiswa postgraduate dari University of Sydney mengirimkan email kepada saya yang isinya kurang lebih seperti ini;
“saya disini cukup disedihkan dengan diramaikannya sebuah milis lembaga dakwah Islam untuk masyarakat muslim Indonesia di Sydney oleh kader-kader Hizbut Tahrir yang selalu menghujat PKS dalam segala kesempatan, berita-berita kecil lalu dibesar-besarkan dan dicaci-maki sekehendaknya, bagaimana meluruskan hal ini?”
Antara senang dan prihatin menerima email tersebut di atas. Senang karena tulisan-tulisan saya sudah bisa dinikmati oleh saudara-saudara seiman di Australia. Prihatin karena ternyata apa yang dialami ikhwah di sana tidak jauh berbeda dengan yang dialami di Indonesia, Palestina maupun Turki, serta di berbagai belahan dunia lainnya. Mereka dihujat, dicacimaki dan disudutkan. Bahkan mereka difitnah.
Sebetulnya, baru kemarin saya sedikit konsen terhadap ‘politics war’ yang dilancarkan Hizbut Tahrir terhadap ikhwah di seluruh dunia. Belum cukup memadai ilmu yang saya miliki. Namun, sepak terjang HT di Indonesia yang secara kontinyu mengusik PKS dan tarbiyahnya, serta gerakan dakwah lainnya, sedikit demi sedikit mulai terkuak dan semakin terang untuk dibaca dan analisa.
Dari berbagai data dan informasi yang coba saya runut dan kumpulkan, ada satu kesimpulan pahit yang terpaksa harus saya rumuskan. Yaitu bahwa Hizbut Tahrir memang memiliki grand-design untuk melakukan ‘carracter assasination’ terhadap para aktivis dakwah di luar kelompoknya. Lebih-lebih mereka para pejuang dakwah yang menjadikan pemikiran-pemikiran Asy-Syahid Hasan Al-Banna sebagai sumber rujukannya. Saya jadi teringat ketika peristiwa terbunuhnya Imam Hasan Al-Bana yang dirayakan secara besar-besaran di berbagai negara Barat dengan pesta pora dan minum minuman keras. Mereka orang-orang kuffar Barat demikian bergembira dengan kematian Asy-Syahid.
Tak Akan Mempan Nasehat Rabbani
Dalam meluruskan black campaign yang di gulirkan HT, sepertinya sudah tidak mempan dengan bahasa dalil syari’ah. Mereka sudah bebal, apalagi mereka mungkin merasa diri mereka kelompok yang paling menguasai ilmu syari’ah. Ditambah dengan ghil atau dengki mereka terhadap para ikhwah, maka semakin matanglah visi mereka untuk mencabik para pengusung dakwah dari luar kelompoknya. Hal ini tercermin mulai dari pendirinya, Taqiyudin An-Nabhani, ketika di nasehati seorang pemuda ikhwan pada sebuah forum diskusi di Al-Quds 50-an tahun silam dengan ayat Al-Qur’an. Bukannya berterima kasih, Taqiyudin An-Nabhani malah murka, marah, dan menghasut peserta forum diskusi untuk menjauhi dan memusuhi pemuda yang mengingatkan dirinya dengan kalam Allah itu.
Sangat berbeda sekali dengan para khalifah Rasyidin ra. yang bercucuran air mata dan segera kembali kepada hukum Allah dengan nasehat-nasehat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah. Meski nasehat atau pelurusan kembali itu datang dari rakyatnya yang jelata. Bagaimana kisah Abu Bakar dengan penghunus pedang, bagaimana kisah Umar dengan wanita ‘penentang’ aturan mahar yang hendak diperbarui khalifahnya. Bagaimana kisah Ali dengan pencuri baju perang, serta kisah-kisah menyejarah lainnya. Kesemuanya adalah sekelumit kisah agung yang menenteramkan hati orang-orang beriman.
Dibandingkan dengan lukisan sejarah kemuliaan Khulafaur Rasyidin, maka kelompok Hizbut Tahrir yang di Indonesia dikomandoi oleh Ismail Yusanto dan Al-Khaththath ini sungguh sangat jauh berbeda. Meski jargon dan kampanye mereka adalah untuk memperjuangkan syari’at dan khilafah, namun kenyataannya perilaku mereka justru seperti perilaku kuffar Yahudi dan si Paman Sam. Suka memfitnah, menuduh tanpa bukti, dan tak mau dinasehati. Sepertinya telinga mereka sudah budeg dan tak pernah dibersihkan. Sementara mulutnya licin berbusa menuduh dan mencaci maki para pejuang Islam diluar kelompoknya. Dan satu lagi, mereka adalah para pecundang kelas kakap yang tak berani mengakui kesalahannya padahal borok-borok yang mereka usung terbongkar dengan nyata dan memalukan. Mereka berlaku seolah-olah fine-fine saja dan tak ada yang perlu dirisaukan. Kenapa demikian? Sebab mereka melihat seolah-olah hanya diri mereka sendirilah yang paling benar dan layak memberikan ‘nasehat’, meski sebetulnya lebih tepat tulisan-tulisan nasehatnya disebut sebagai cacian dan fitnah.
Memang kontras sekali dengan kehidupan dan kepribadian para khilafah Islam yang menorehkan tinta emas dalam sejarah Islam. Mereka begitu mudah luluh dengan ayat-ayat Allah yang mengguyur relung hati mereka walaupun keluar dari mulut seorang wanita tua perebus batu.
Mata mereka, kelompok Hizbut Tahrir, pun buta dengan mutiara berkilauan yang dimiliki para mujahid Islam di luar kelompoknya. Sementara mereka takjub dengan batu kali yang dimiliki kelompoknya sendiri. Lihat saja dengan apa yang dikemukakan oleh Amir Hizbut Tahrir Internasional, Syeikh Ata’ Abu Rashta, dalam pernyataannya (24/08/07) saat mengomentari pelaksanaan ‘Tabligh Akbar’ Hizbut Tahrir di Gelora Bung Karno 12 Agustus tahun lalu. Dalam tulisannya dia menyebutkan;
“Saya pun sungguh sangat terharu, karena laporan yang saya baca, tentang ukhti mukminah yang mati syahid di jalan raya setelah dia melaksanakan tugas-tugas terkait konferensi. .. Sungguh ukhti itu termasuk orang yang mati syahid akhirat, dengan izin Allah."
Kemudian ia juga mengatakan, “Saya juga merasa terharu tentang akhi yang patah kakinya saat dia cepat-cepat turun dari kereta api yang harus dinaikinya di antara keramaian manusia untuk menuju konferensi,.. . Saya pun terharu dengan ikhwan dan akhwat yang terpaksa menjual berbagai perhiasan dan perabotan di rumah dan mengorbankan sebagian kebutuhan-kebutuhan rumah tangga mereka, agar dapat membayar iuran yang wajib dibayar terkait konferensi,”
Dan selanjutnya ia berkata, “Sungguh amal dan pengorbanan Anda itu mengingatkan saya akan para sahabat dan shahabiyat yang mulia dalam pengorbanan dan infak mereka di jalan Allah meski mereka sendiri sebenarnya masih membutuhkan. Sungguh Anda telah membuat suatu teladan dalam kebaikan yang pantas diikuti dan suatu contoh yang pantas diikuti oleh orang-orang yang mencari akhirat jauh di atas upaya mereka mencari dunia…”
Coba bandingkan dengan sekedar tiga peristiwa berikut ini; Seorang muslimah bercadar yang menyebut dirinya Puteri Da’wah menyerahkan sejumlah perhiasan emas dan sepucuk surat kepada Pemerintah Palestina dari HAMAS saat menghadapi berbagai tekanan dan pengucilan dunia internasional (17/04/06). Dalam suratnya ia menulis “…aku demi Allah sangat merasakan kebanggaan dan penghormatan saat melihat dan mendengar kalian. Aku begitu gembira dan bangga ketika melihat kekokohan kalian menghadapi tekanan demi tekanan yang mendera. .. Kami insya Allah tidak akan menjadi sebab kalian menyerah, dalam hal apapun. …Aku berharap kalian menerima pemberian kecil ini. Inilah yang mampu aku berikan. Demi Allah aku berharap bila aku memiliki semua harta di dunia ini akan aku berikan juga kepada kalian. Tapi inilah yang aku punya…”
Peristiwa lain adalah terbunuhnya salah seorang komandan militer penting Hizbullah oleh makar Israel baru-baru ini. "Dengan penuh bangga kami melepaskan pimpinan besar perlawanan Islam di Libanon dalam rombongan syuhada. Hidup sang komandan penuh dengan jihad, pengorbanan dan capaian-capaian. Saudara kami Haji Emad Moghoneah gugur di tangan zionis Israel," demikian pernyataan Hizbullah.
Demikian juga dengan berita jihad fii sabilillah yang disampaikan oleh Brigade Izzudin Al-Qassam Ahad lalu (17/02/08). Sumber di Al-Qossam menyebutkan, pihaknya telah bertempur habis-habisan dengan pasukan Israel yang berusaha menyusup ke wilayah Gaza yang dijaga pasukan perlawanan. Akibatnya 1 orang syahid dan 15 personel Hamas dan Brigade al-Quds, sayap militer Jihad Islam dikabarkan terluka. (www.infopalestina.com). Belum lagi syahidnya sosok terbaik Syeikh Ahmad Yasin dan Dr. Abdul Aziz Ar-Rantisi di ujung rudal Israel.
Dua fakta berbeda diatas sebetulnya menceritakan satu peristiwa yang sama, yaitu tentang kematian, infaq fi sabilillah, dan perjuangan membela Islam. Namun terang sekali perbedaannya, bagaimana para kader HT mati ’syahid’ (mudah-mudahan bukan mati konyol), dibanding syahidnya pejuang Islam sesungguhnya. Bagaimana sang ‘tauladan HT’ patah kaki disebabkan turun terburu-buru dari kereta, dibandingkan luka-lukanya puluhan bahkan ribuan pejuang Islam yang sebenarnya di medan jihad. Serta bagaimana pengorbanan para ‘ikhwan dan akhwat HT’ untuk ‘nonton’ konferensi, dibandingkan para muslimah yang menginfaqkan seluruh hartanya demi kehormatan Islam.
Perbedaan lainnya adalah, apresiasi yang dibesar-besarkan seorang Amir Hizbut Tahrir bagi peristiwa-peristiwa kecil yang barang kali terlalu latah untuk dikategorikan bagian dari perjuangan untuk Islam. Dan sebaliknya, sejarah bercerita bagaimana seharusnya pejuang-pejuang Islam sesungguhnya berkorban untuk Islam.
(bersambung..)








assalamualaikum,
eh yang bener aja mas, di klarifikasi dulu ya..?
dengernya di mana, milist yang mana, tentang apa, ya banyak lah yg harus di klarifikasi. soalnya jangan sampai ketidak sukaan seseorang pada orang lain akan menjadikanya tidak adil dan pilih kasih.
orait bro..
dan saya yakin dia tidak tersinggung dengan peserta milist yg di sana, tapi oleh ayat2 yg sering di ungkap disana. kenapa tersinggung oleh ayat, karena dia adalah orang yang mengerti ayat, bukan orang yg nggak ngerti apa2.
wassalam
Comment by HITAM PUTIH2009 — March 22, 2008 @ 12:32 am