February 18, 2008

Sidney pun Mengadu (2)

Filed under: PEMIKIRAN

SEPUCUK SURAT DARI AUSTRALIA: SYDNEY PUN MENGADU


Salah seorang mahasiswa postgraduate dari University of Sydney mengirimkan email kepada saya yang isinya kurang lebih seperti ini; “saya disini cukup disedihkan dengan diramaikannya sebuah milis lembaga dakwah Islam untuk masyarakat muslim Indonesia di Sydney oleh kader-kader Hizbut Tahrir yang selalu menghujat PKS dalam segala kesempatan, berita-berita kecil lalu dibesar-besarkan dan dicaci-maki sekehendaknya, bagaimana meluruskan hal ini?”

Saya mencoba memberi sedikit jawaban atas pertanyaan seorang saudara seiman di Australia yang menulis email ini kepada saya. Saya menangkap hatinya yang resah, semoga usulan dangkal saya ini bisa sedikit mengobati kegundahannya.

Bagaimana Menghadang Fitnah

Ulasan pada bagian pertama lebih menunjukkan bahwa taujih rabbaniyah tak akan berguna dalam logika Hizbut Tahrir. Dari beberapa tulisan yang pernah saya tulis dan saya kirimkan ke email DPP HTI ternyata memang sama sekali tidak ada respons. Padahal sebagiannya sudah saya selipkan beberapa nasehat qur’ani dan al-Hadits. Bahkan tulisan saya yang ‘menantang’ pembuktian tuduhan Amir HT terhadap PM. Turki Recep Tayyip Erdogan juga sama sekali tidak direspons. Kesimpulannya, tak banyak yang bisa diharapkan dari kelompok pecundang. Alih-alih sadar atas kesalahannya mereka justru semakin asyik membuat lontaran-lontaran fitnah yang semakin menggelikan.

Lantas, bagaimana seharusnya kita meluruskan? Pendekatan yang perlu untuk mengingatkan kelompok HT ini memang dari sisi pembongkaran millah mereka. Namun tetap, kita tidak berharap mereka yang akan segera sadar dan meminta maaf kepada umat ini atas pembodohan-pembodohan yang dilakukannya. Akan tetapi lebih kepada membangun kesadaran, pengetahuan, dan wawasan internal tentang bagaimana menghadapi ‘politics war’ kelompok pemfitnah ini. Minimal ada dua langkah pendekatan yang harus ditempuh. Yaitu pendekatan perang fakta dan pendekatan tsaqofah.

1. Pendekatan Perang Fakta

Selama ini, Hizbut Tahrir memang cukup rajin dan konsen memanfaatkan issu-issu miring gerakan dakwah lain untuk dijadikan bahan kajian dan analisis. Padahal belum tentu issu-issu tersebut berupa fakta, malah kebanyakan hanya sebuah praduga dan dzan yang sengaja dipelintir untuk kepentingan black campaign oleh mereka. Hasilnya kemudian diberitakan secara beruntun di berbagai media yang dimilikinya, baik media maya maupun media cetak.

Hasil-hasil analisa itu diteruskan dengan taklid oleh para kadernya dan dimanfaatkan untuk menyebarkan syak wasangka di tengah masyarakat menggunakan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui khatib-khatib yang dipersiapkan struktur HT di berbagai wilayah. Sehingga tidak heran jika dilapangan banyak kader HT yang gelagapan ketika ditanya mendetil tentang berita-berita yang dikeluarkan oleh pusat. Akibatnya ketika sudah mentok, mereka bilang "sebaiknya langsung menghubungi Jubir HTI saja untuk memperjelas masalah ini. Oooo, berarti memang benar bahwa lontaran-lontaran fitnah yang berasal dari HT ini atas kebijakan petinggi-petinggi HT di pusat.

Acara-acara tatsqif yang mereka adakan dengan meminjam masjid-masjid masyarakat juga dimanfaatkan secara licik oleh kader-kader HT di tingkat lapangan. Meski tidak jarang banyak pihak yang merasa dilangkahi dan ditipu karena umumnya mereka lebih suka main klaim bahwa kehadiran mereka di suatu masjid telah didukung si fulan dan si fulanah. Padahal izin awalnya hanya untuk meminjam tempat.

Terkait hal ini, maka sudah sepatutnya para aktivis dakwah yang merasa terganggu dan terusik dengan pola-pola licik HT, tiba saatnya untuk mengambil peran sebagai subject perang fakta. Bukan lagi menjadi object yang selalu dijadikan bulan-bulanan opini HT yang hampir selalu menyudutkan dan bernada fitnah. Menjadi subject opini memang lebih strategis ketimbang sebagai object. Sebab, sekenceng-kencengnya ia membuat penangkalan opini, tetap saja manjadi object. Hasilnya capek tetapi tidak mengungguli opini dasar.

Dengan menjadi subject, atmosfer yang tercipta bisa semau si pembuat opini. Kapan, bagaimana, dan seperti apa opini yang bergulir terserah si creator awal. Terserah public mau menangkap opini ini atau tidak. Yang jelas sebuah opini baru telah digulirkan, dan masyarakat umum yang akan menikmati manfaatnya.

Saya sepakat bahwa alangkah baiknya sebuah gerakan dakwah Islam tidak perlu ambil pusing dengan berbagai serangan fitnah yang dilancarkan gerakan dakwah lain. Yang terpenting adalah berbuat sebaik-baiknya untuk maslahat umat dan seiring waktu umat pasti akan mengetahui siapa yang benar dan mana yang pura-pura. Akan tetapi menurut saya, lebih baik lagi apabila diantara kader-kader yang mampu dan memiliki kesempatan untuk mengambil peran menjadi barisan perisai. Sebuah barisan yang akan menangkal fitnah-fitnah keji yang dilancarkan oleh gerakan dakwah lain (HT) secara jahat.

Mengapa? Hal ini penting sebab dunia saat ini adalah sebuah zaman dimana informasi menjadi ‘penguasa’ yang menentukan hitam-putihnya sesuatu hal. Sebuah kebenaran akan bisa disamarkan dengan berita perancuan yang dilancarkan secara massif dan kontinyu. Dan sebaliknya, sesuatu yang tidak benar bisa menjadi seolah-olah benar ketika disuguhkan dari berbagai penjuru dengan pemutar-balikkan fakta. Dan masyarakatlah yang menjadi korban informasi itu. Akibatnya dakwah ini menghadapi hambatan dan fitnah yang luar biasa.

Menjadi subject dalam perang fakta ini maksudnya adalah, saatnya para kader untuk mulai membuka mata, membuka wawasan, dan mulailah mempelajari kekuatan dan senjata kelompok penuduh dan pencaci maki. Mulailah membuka dan memperhatikan tulisan-tulisan mereka, opini-opini mereka, buku-buku mereka, perilaku tokoh-tokoh mereka, media mereka, keseharian mereka dan lain sebaginya. Saya menjamin, bahwa semakin banyak mengenal mereka maka akan semakin tahu banyak kelemahan-kelemahannya. Hizbut Tahrir hanya nampak digdaya bagi orang-orang yang awam mengenalnya.

Dan satu hal lagi, waspada terhadap operasi ‘intelijen’ mereka yang cukup terstruktur dan terlatih. Jangan sampai lembaga-lembaga yang Anda bangun dengan susah payah tahu-tahu diambil alih mereka. Akibatnya tanpa malu-malu mereka mendepak orang-orang di luar mereka seperti yang terjadi di sebuah lembaga ZIS nasional di Indonesia. Ko’ bisa? Ya, mereka menyusup seperti menyusupnya intelijen dalam gerakan-gerakan Islam. Dan HT sudah punya kader-kader yang terlatih dalam dunia susup-menyusup ini.

Dengan pengetahuan itu, maka mulailah untuk menjadi para penganalisa dan pemerhati sepak terjang HT. Apa gunanya? Yaitu untuk menjadi perisai dan penyeimbang ketika Hizbut Tahrir mencoba melontarkan fitnah dan tuduhan-tuduhan tak mendasar terhadap bangunan dakwah ini. Lebih baik lagi jika secara aktif mampu memberikan opini-opini kontemporer kepada masyarakat. Tentunya analisa-analisa tersebut mesti menjabarkan sebagai sebuah fakta-fakta penyimpangan yang sangat mudah ditemui di Hizbut Tahrir. Jangan sampai terjebak dengan cara licik seperti yang banyak mereka lakukan. Bisa-bisa tidak ada bedanya antara kita dengan HT.

2. Pendekatan Tsaqofah

Saat ini banyak yang malu-malu dan kurang berani untuk melakukan studi komparasi gerakan Islam secara terbuka. Akhirnya simpang siur yang kurang jelas ujungnya membuat sebagian para penggiat dakwah pemula justru terjebak dalam jerat Hizbut Tahrir.

Oleh karena itu, saya berfikir bahwa sudah bukan zamannya lagi untuk tabu mengadakan forum kajian terbuka. Sebuah forum seperti seminar atau kajian umum yang mengulas sepak terjang gerakan HT dengan mengkombinasi ulasan antara manhaj mereka dengan gaya kekinian mereka saat ini. Tentu hal ini sangat bermanfaat jika hanya dibandingkan masyarakat mengenal HT di kulitnya saja. Kulit sering kali terlihat mulus, padahal dalamnya penuh borok dan muslihat. Tidak perlu jadi agenda prioritas, tetapi anggap saja sebagai kegiatan iseng.

Kajian ini harus diadakan secara reguler dengan tempo disesuaikan dengan kebutuhan. Seminar dengan judul “Membongkar Raport Merah Hizbut Tahrir” mungkin cocok untuk coba diselenggarakan. Atau “Menangkal Fitnah-Fitnah Hizbut Tahrir” juga tema yang menarik untuk dibahas. Atau yang lebih menggigit, “Hizbut Tahrir dan Dunia Intelijen” tentu tidak kalah menarik. Narasumber yang diundang sebaiknya tokoh-tokoh yang secara khusus mengetahui sepak terjang dari HT ini. Lebih bagus lagi mereka yang berasal dari saksi sejarah pihak-pihak yang secara langsung pernah ‘tersayat’ oleh ‘kejahatan’ cara dakwahnya.

Pengetahuan inilah yang akan menjadi kekuatan penyeimbang serta penangkal opini-opini miring yang dihembuskan mereka melalui berbagai pintu. Pendalaman tsaqofah secara langsung jauh lebih efektif ketimbang lewat media online. Sebab, pembahasan lewat media maya cenderung tidak tuntas. Dengan adanya kajian terbuka secara berkesinambungan ini akan memiliki efek domino yang luar biasa, sebab masing-masing aktivis dakwah bisa menjelaskan kepada masyarakat dan tunas-tunas muda secara lebih detil dan gamblang siapa sesungguhnya si penebar fitnah ini.

Mudah-mudahan dua gagasan ini bisa sedikit membantu mengobati kegundahan seorang saudara seiman di negeri kanguru yang jauh di seberang sana. Juga semoga menjadi inspirasi yang lain diberbagai belahan bumi dalam menangkal makar-makar keji yang menghalang-halangi dakwah Islam sesungguhnya.

(selesai)

Sidney pun Mengadu (1)

Filed under: PEMIKIRAN

SEPUCUK SURAT DARI AUSTRALIA: SIDNEY PUN MENGADU


Salah seorang mahasiswa postgraduate dari University of Sydney mengirimkan email kepada saya yang isinya kurang lebih seperti ini;

saya disini cukup disedihkan dengan diramaikannya sebuah milis lembaga dakwah Islam untuk masyarakat muslim Indonesia di Sydney oleh kader-kader Hizbut Tahrir yang selalu menghujat PKS dalam segala kesempatan, berita-berita kecil lalu dibesar-besarkan dan dicaci-maki sekehendaknya, bagaimana meluruskan hal ini?”

Antara senang dan prihatin menerima email tersebut di atas. Senang karena tulisan-tulisan saya sudah bisa dinikmati oleh saudara-saudara seiman di Australia. Prihatin karena ternyata apa yang dialami ikhwah di sana tidak jauh berbeda dengan yang dialami di Indonesia, Palestina maupun Turki, serta di berbagai belahan dunia lainnya. Mereka dihujat, dicacimaki dan disudutkan. Bahkan mereka difitnah.

Sebetulnya, baru kemarin saya sedikit konsen terhadap ‘politics war’ yang dilancarkan Hizbut Tahrir terhadap ikhwah di seluruh dunia. Belum cukup memadai ilmu yang saya miliki. Namun, sepak terjang HT di Indonesia yang secara kontinyu mengusik PKS dan tarbiyahnya, serta gerakan dakwah lainnya, sedikit demi sedikit mulai terkuak dan semakin terang untuk dibaca dan analisa.

Dari berbagai data dan informasi yang coba saya runut dan kumpulkan, ada satu kesimpulan pahit yang terpaksa harus saya rumuskan. Yaitu bahwa Hizbut Tahrir memang memiliki grand-design untuk melakukan ‘carracter assasination’ terhadap para aktivis dakwah di luar kelompoknya. Lebih-lebih mereka para pejuang dakwah yang menjadikan pemikiran-pemikiran Asy-Syahid Hasan Al-Banna sebagai sumber rujukannya. Saya jadi teringat ketika peristiwa terbunuhnya Imam Hasan Al-Bana yang dirayakan secara besar-besaran di berbagai negara Barat dengan pesta pora dan minum minuman keras. Mereka orang-orang kuffar Barat demikian bergembira dengan kematian Asy-Syahid.

Tak Akan Mempan Nasehat Rabbani

Dalam meluruskan black campaign yang di gulirkan HT, sepertinya sudah tidak mempan dengan bahasa dalil syari’ah. Mereka sudah bebal, apalagi mereka mungkin merasa diri mereka kelompok yang paling menguasai ilmu syari’ah. Ditambah dengan ghil atau dengki mereka terhadap para ikhwah, maka semakin matanglah visi mereka untuk mencabik para pengusung dakwah dari luar kelompoknya. Hal ini tercermin mulai dari pendirinya, Taqiyudin An-Nabhani, ketika di nasehati seorang pemuda ikhwan pada sebuah forum diskusi di Al-Quds 50-an tahun silam dengan ayat Al-Qur’an. Bukannya berterima kasih, Taqiyudin An-Nabhani malah murka, marah, dan menghasut peserta forum diskusi untuk menjauhi dan memusuhi pemuda yang mengingatkan dirinya dengan kalam Allah itu.

Sangat berbeda sekali dengan para khalifah Rasyidin ra. yang bercucuran air mata dan segera kembali kepada hukum Allah dengan nasehat-nasehat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah. Meski nasehat atau pelurusan kembali itu datang dari rakyatnya yang jelata. Bagaimana kisah Abu Bakar dengan penghunus pedang, bagaimana kisah Umar dengan wanita ‘penentang’ aturan mahar yang hendak diperbarui khalifahnya. Bagaimana kisah Ali dengan pencuri baju perang, serta kisah-kisah menyejarah lainnya. Kesemuanya adalah sekelumit kisah agung yang menenteramkan hati orang-orang beriman.

Dibandingkan dengan lukisan sejarah kemuliaan Khulafaur Rasyidin, maka kelompok Hizbut Tahrir yang di Indonesia dikomandoi oleh Ismail Yusanto dan Al-Khaththath ini sungguh sangat jauh berbeda. Meski jargon dan kampanye mereka adalah untuk memperjuangkan syari’at dan khilafah, namun kenyataannya perilaku mereka justru seperti perilaku kuffar Yahudi dan si Paman Sam. Suka memfitnah, menuduh tanpa bukti, dan tak mau dinasehati. Sepertinya telinga mereka sudah budeg dan tak pernah dibersihkan. Sementara mulutnya licin berbusa menuduh dan mencaci maki para pejuang Islam diluar kelompoknya. Dan satu lagi, mereka adalah para pecundang kelas kakap yang tak berani mengakui kesalahannya padahal borok-borok yang mereka usung terbongkar dengan nyata dan memalukan. Mereka berlaku seolah-olah fine-fine saja dan tak ada yang perlu dirisaukan. Kenapa demikian? Sebab mereka melihat seolah-olah hanya diri mereka sendirilah yang paling benar dan layak memberikan ‘nasehat’, meski sebetulnya lebih tepat tulisan-tulisan nasehatnya disebut sebagai cacian dan fitnah.

Memang kontras sekali dengan kehidupan dan kepribadian para khilafah Islam yang menorehkan tinta emas dalam sejarah Islam. Mereka begitu mudah luluh dengan ayat-ayat Allah yang mengguyur relung hati mereka walaupun keluar dari mulut seorang wanita tua perebus batu.

Mata mereka, kelompok Hizbut Tahrir, pun buta dengan mutiara berkilauan yang dimiliki para mujahid Islam di luar kelompoknya. Sementara mereka takjub dengan batu kali yang dimiliki kelompoknya sendiri. Lihat saja dengan apa yang dikemukakan oleh Amir Hizbut Tahrir Internasional, Syeikh Ata’ Abu Rashta, dalam pernyataannya (24/08/07) saat mengomentari pelaksanaan ‘Tabligh Akbar’ Hizbut Tahrir di Gelora Bung Karno 12 Agustus tahun lalu. Dalam tulisannya dia menyebutkan;

Saya pun sungguh sangat terharu, karena laporan yang saya baca, tentang ukhti mukminah yang mati syahid di jalan raya setelah dia melaksanakan tugas-tugas terkait konferensi. .. Sungguh ukhti itu termasuk orang yang mati syahid akhirat, dengan izin Allah."

Kemudian ia juga mengatakan, “Saya juga merasa terharu tentang akhi yang patah kakinya saat dia cepat-cepat turun dari kereta api yang harus dinaikinya di antara keramaian manusia untuk menuju konferensi,.. . Saya pun terharu dengan ikhwan dan akhwat yang terpaksa menjual berbagai perhiasan dan perabotan di rumah dan mengorbankan sebagian kebutuhan-kebutuhan rumah tangga mereka, agar dapat membayar iuran yang wajib dibayar terkait konferensi,”

Dan selanjutnya ia berkata, “Sungguh amal dan pengorbanan Anda itu mengingatkan saya akan para sahabat dan shahabiyat yang mulia dalam pengorbanan dan infak mereka di jalan Allah meski mereka sendiri sebenarnya masih membutuhkan. Sungguh Anda telah membuat suatu teladan dalam kebaikan yang pantas diikuti dan suatu contoh yang pantas diikuti oleh orang-orang yang mencari akhirat jauh di atas upaya mereka mencari dunia…”

Coba bandingkan dengan sekedar tiga peristiwa berikut ini; Seorang muslimah bercadar yang menyebut dirinya Puteri Da’wah menyerahkan sejumlah perhiasan emas dan sepucuk surat kepada Pemerintah Palestina dari HAMAS saat menghadapi berbagai tekanan dan pengucilan dunia internasional (17/04/06). Dalam suratnya ia menulis “…aku demi Allah sangat merasakan kebanggaan dan penghormatan saat melihat dan mendengar kalian. Aku begitu gembira dan bangga ketika melihat kekokohan kalian menghadapi tekanan demi tekanan yang mendera. .. Kami insya Allah tidak akan menjadi sebab kalian menyerah, dalam hal apapun. …Aku berharap kalian menerima pemberian kecil ini. Inilah yang mampu aku berikan. Demi Allah aku berharap bila aku memiliki semua harta di dunia ini akan aku berikan juga kepada kalian. Tapi inilah yang aku punya…”

Peristiwa lain adalah terbunuhnya salah seorang komandan militer penting Hizbullah oleh makar Israel baru-baru ini. "Dengan penuh bangga kami melepaskan pimpinan besar perlawanan Islam di Libanon dalam rombongan syuhada. Hidup sang komandan penuh dengan jihad, pengorbanan dan capaian-capaian. Saudara kami Haji Emad Moghoneah gugur di tangan zionis Israel," demikian pernyataan Hizbullah.

Demikian juga dengan berita jihad fii sabilillah yang disampaikan oleh Brigade Izzudin Al-Qassam Ahad lalu (17/02/08). Sumber di Al-Qossam menyebutkan, pihaknya telah bertempur habis-habisan dengan pasukan Israel yang berusaha menyusup ke wilayah Gaza yang dijaga pasukan perlawanan. Akibatnya 1 orang syahid dan 15 personel Hamas dan Brigade al-Quds, sayap militer Jihad Islam dikabarkan terluka. (www.infopalestina.com). Belum lagi syahidnya sosok terbaik Syeikh Ahmad Yasin dan Dr. Abdul Aziz Ar-Rantisi di ujung rudal Israel.

Dua fakta berbeda diatas sebetulnya menceritakan satu peristiwa yang sama, yaitu tentang kematian, infaq fi sabilillah, dan perjuangan membela Islam. Namun terang sekali perbedaannya, bagaimana para kader HT mati ’syahid’ (mudah-mudahan bukan mati konyol), dibanding syahidnya pejuang Islam sesungguhnya. Bagaimana sang ‘tauladan HT’ patah kaki disebabkan turun terburu-buru dari kereta, dibandingkan luka-lukanya puluhan bahkan ribuan pejuang Islam yang sebenarnya di medan jihad. Serta bagaimana pengorbanan para ‘ikhwan dan akhwat HT’ untuk ‘nonton’ konferensi, dibandingkan para muslimah yang menginfaqkan seluruh hartanya demi kehormatan Islam.

Perbedaan lainnya adalah, apresiasi yang dibesar-besarkan seorang Amir Hizbut Tahrir bagi peristiwa-peristiwa kecil yang barang kali terlalu latah untuk dikategorikan bagian dari perjuangan untuk Islam. Dan sebaliknya, sejarah bercerita bagaimana seharusnya pejuang-pejuang Islam sesungguhnya berkorban untuk Islam.

(bersambung..) 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer