Sidney pun Mengadu (2)
SEPUCUK SURAT DARI AUSTRALIA: SYDNEY PUN MENGADU
Salah seorang mahasiswa postgraduate dari University of Sydney mengirimkan email kepada saya yang isinya kurang lebih seperti ini; “saya disini cukup disedihkan dengan diramaikannya sebuah milis lembaga dakwah Islam untuk masyarakat muslim Indonesia di Sydney oleh kader-kader Hizbut Tahrir yang selalu menghujat PKS dalam segala kesempatan, berita-berita kecil lalu dibesar-besarkan dan dicaci-maki sekehendaknya, bagaimana meluruskan hal ini?”
Saya mencoba memberi sedikit jawaban atas pertanyaan seorang saudara seiman di Australia yang menulis email ini kepada saya. Saya menangkap hatinya yang resah, semoga usulan dangkal saya ini bisa sedikit mengobati kegundahannya.
Bagaimana Menghadang Fitnah
Ulasan pada bagian pertama lebih menunjukkan bahwa taujih rabbaniyah tak akan berguna dalam logika Hizbut Tahrir. Dari beberapa tulisan yang pernah saya tulis dan saya kirimkan ke email DPP HTI ternyata memang sama sekali tidak ada respons. Padahal sebagiannya sudah saya selipkan beberapa nasehat qur’ani dan al-Hadits. Bahkan tulisan saya yang ‘menantang’ pembuktian tuduhan Amir HT terhadap PM. Turki Recep Tayyip Erdogan juga sama sekali tidak direspons. Kesimpulannya, tak banyak yang bisa diharapkan dari kelompok pecundang. Alih-alih sadar atas kesalahannya mereka justru semakin asyik membuat lontaran-lontaran fitnah yang semakin menggelikan.
Lantas, bagaimana seharusnya kita meluruskan? Pendekatan yang perlu untuk mengingatkan kelompok HT ini memang dari sisi pembongkaran millah mereka. Namun tetap, kita tidak berharap mereka yang akan segera sadar dan meminta maaf kepada umat ini atas pembodohan-pembodohan yang dilakukannya. Akan tetapi lebih kepada membangun kesadaran, pengetahuan, dan wawasan internal tentang bagaimana menghadapi ‘politics war’ kelompok pemfitnah ini. Minimal ada dua langkah pendekatan yang harus ditempuh. Yaitu pendekatan perang fakta dan pendekatan tsaqofah.
1. Pendekatan Perang Fakta
Selama ini, Hizbut Tahrir memang cukup rajin dan konsen memanfaatkan issu-issu miring gerakan dakwah lain untuk dijadikan bahan kajian dan analisis. Padahal belum tentu issu-issu tersebut berupa fakta, malah kebanyakan hanya sebuah praduga dan dzan yang sengaja dipelintir untuk kepentingan black campaign oleh mereka. Hasilnya kemudian diberitakan secara beruntun di berbagai media yang dimilikinya, baik media maya maupun media cetak.
Hasil-hasil analisa itu diteruskan dengan taklid oleh para kadernya dan dimanfaatkan untuk menyebarkan syak wasangka di tengah masyarakat menggunakan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui khatib-khatib yang dipersiapkan struktur HT di berbagai wilayah. Sehingga tidak heran jika dilapangan banyak kader HT yang gelagapan ketika ditanya mendetil tentang berita-berita yang dikeluarkan oleh pusat. Akibatnya ketika sudah mentok, mereka bilang "sebaiknya langsung menghubungi Jubir HTI saja untuk memperjelas masalah ini. Oooo, berarti memang benar bahwa lontaran-lontaran fitnah yang berasal dari HT ini atas kebijakan petinggi-petinggi HT di pusat.
Acara-acara tatsqif yang mereka adakan dengan meminjam masjid-masjid masyarakat juga dimanfaatkan secara licik oleh kader-kader HT di tingkat lapangan. Meski tidak jarang banyak pihak yang merasa dilangkahi dan ditipu karena umumnya mereka lebih suka main klaim bahwa kehadiran mereka di suatu masjid telah didukung si fulan dan si fulanah. Padahal izin awalnya hanya untuk meminjam tempat.
Terkait hal ini, maka sudah sepatutnya para aktivis dakwah yang merasa terganggu dan terusik dengan pola-pola licik HT, tiba saatnya untuk mengambil peran sebagai subject perang fakta. Bukan lagi menjadi object yang selalu dijadikan bulan-bulanan opini HT yang hampir selalu menyudutkan dan bernada fitnah. Menjadi subject opini memang lebih strategis ketimbang sebagai object. Sebab, sekenceng-kencengnya ia membuat penangkalan opini, tetap saja manjadi object. Hasilnya capek tetapi tidak mengungguli opini dasar.
Dengan menjadi subject, atmosfer yang tercipta bisa semau si pembuat opini. Kapan, bagaimana, dan seperti apa opini yang bergulir terserah si creator awal. Terserah public mau menangkap opini ini atau tidak. Yang jelas sebuah opini baru telah digulirkan, dan masyarakat umum yang akan menikmati manfaatnya.
Saya sepakat bahwa alangkah baiknya sebuah gerakan dakwah Islam tidak perlu ambil pusing dengan berbagai serangan fitnah yang dilancarkan gerakan dakwah lain. Yang terpenting adalah berbuat sebaik-baiknya untuk maslahat umat dan seiring waktu umat pasti akan mengetahui siapa yang benar dan mana yang pura-pura. Akan tetapi menurut saya, lebih baik lagi apabila diantara kader-kader yang mampu dan memiliki kesempatan untuk mengambil peran menjadi barisan perisai. Sebuah barisan yang akan menangkal fitnah-fitnah keji yang dilancarkan oleh gerakan dakwah lain (HT) secara jahat.
Mengapa? Hal ini penting sebab dunia saat ini adalah sebuah zaman dimana informasi menjadi ‘penguasa’ yang menentukan hitam-putihnya sesuatu hal. Sebuah kebenaran akan bisa disamarkan dengan berita perancuan yang dilancarkan secara massif dan kontinyu. Dan sebaliknya, sesuatu yang tidak benar bisa menjadi seolah-olah benar ketika disuguhkan dari berbagai penjuru dengan pemutar-balikkan fakta. Dan masyarakatlah yang menjadi korban informasi itu. Akibatnya dakwah ini menghadapi hambatan dan fitnah yang luar biasa.
Menjadi subject dalam perang fakta ini maksudnya adalah, saatnya para kader untuk mulai membuka mata, membuka wawasan, dan mulailah mempelajari kekuatan dan senjata kelompok penuduh dan pencaci maki. Mulailah membuka dan memperhatikan tulisan-tulisan mereka, opini-opini mereka, buku-buku mereka, perilaku tokoh-tokoh mereka, media mereka, keseharian mereka dan lain sebaginya. Saya menjamin, bahwa semakin banyak mengenal mereka maka akan semakin tahu banyak kelemahan-kelemahannya. Hizbut Tahrir hanya nampak digdaya bagi orang-orang yang awam mengenalnya.
Dan satu hal lagi, waspada terhadap operasi ‘intelijen’ mereka yang cukup terstruktur dan terlatih. Jangan sampai lembaga-lembaga yang Anda bangun dengan susah payah tahu-tahu diambil alih mereka. Akibatnya tanpa malu-malu mereka mendepak orang-orang di luar mereka seperti yang terjadi di sebuah lembaga ZIS nasional di Indonesia. Ko’ bisa? Ya, mereka menyusup seperti menyusupnya intelijen dalam gerakan-gerakan Islam. Dan HT sudah punya kader-kader yang terlatih dalam dunia susup-menyusup ini.
Dengan pengetahuan itu, maka mulailah untuk menjadi para penganalisa dan pemerhati sepak terjang HT. Apa gunanya? Yaitu untuk menjadi perisai dan penyeimbang ketika Hizbut Tahrir mencoba melontarkan fitnah dan tuduhan-tuduhan tak mendasar terhadap bangunan dakwah ini. Lebih baik lagi jika secara aktif mampu memberikan opini-opini kontemporer kepada masyarakat. Tentunya analisa-analisa tersebut mesti menjabarkan sebagai sebuah fakta-fakta penyimpangan yang sangat mudah ditemui di Hizbut Tahrir. Jangan sampai terjebak dengan cara licik seperti yang banyak mereka lakukan. Bisa-bisa tidak ada bedanya antara kita dengan HT.
2. Pendekatan Tsaqofah
Saat ini banyak yang malu-malu dan kurang berani untuk melakukan studi komparasi gerakan Islam secara terbuka. Akhirnya simpang siur yang kurang jelas ujungnya membuat sebagian para penggiat dakwah pemula justru terjebak dalam jerat Hizbut Tahrir.
Oleh karena itu, saya berfikir bahwa sudah bukan zamannya lagi untuk tabu mengadakan forum kajian terbuka. Sebuah forum seperti seminar atau kajian umum yang mengulas sepak terjang gerakan HT dengan mengkombinasi ulasan antara manhaj mereka dengan gaya kekinian mereka saat ini. Tentu hal ini sangat bermanfaat jika hanya dibandingkan masyarakat mengenal HT di kulitnya saja. Kulit sering kali terlihat mulus, padahal dalamnya penuh borok dan muslihat. Tidak perlu jadi agenda prioritas, tetapi anggap saja sebagai kegiatan iseng.
Kajian ini harus diadakan secara reguler dengan tempo disesuaikan dengan kebutuhan. Seminar dengan judul “Membongkar Raport Merah Hizbut Tahrir” mungkin cocok untuk coba diselenggarakan. Atau “Menangkal Fitnah-Fitnah Hizbut Tahrir” juga tema yang menarik untuk dibahas. Atau yang lebih menggigit, “Hizbut Tahrir dan Dunia Intelijen” tentu tidak kalah menarik. Narasumber yang diundang sebaiknya tokoh-tokoh yang secara khusus mengetahui sepak terjang dari HT ini. Lebih bagus lagi mereka yang berasal dari saksi sejarah pihak-pihak yang secara langsung pernah ‘tersayat’ oleh ‘kejahatan’ cara dakwahnya.
Pengetahuan inilah yang akan menjadi kekuatan penyeimbang serta penangkal opini-opini miring yang dihembuskan mereka melalui berbagai pintu. Pendalaman tsaqofah secara langsung jauh lebih efektif ketimbang lewat media online. Sebab, pembahasan lewat media maya cenderung tidak tuntas. Dengan adanya kajian terbuka secara berkesinambungan ini akan memiliki efek domino yang luar biasa, sebab masing-masing aktivis dakwah bisa menjelaskan kepada masyarakat dan tunas-tunas muda secara lebih detil dan gamblang siapa sesungguhnya si penebar fitnah ini.
Mudah-mudahan dua gagasan ini bisa sedikit membantu mengobati kegundahan seorang saudara seiman di negeri kanguru yang jauh di seberang sana. Juga semoga menjadi inspirasi yang lain diberbagai belahan bumi dalam menangkal makar-makar keji yang menghalang-halangi dakwah Islam sesungguhnya.
(selesai)







