February 15, 2008

Koalisi Merah-Putih

Filed under: SIYASAH

KOALISI MERAH-PUTIH TERLALU DIBESARKAN


Bola salju mengenai issu koalisi merah putih itu sebenarnya baru sekedar wacana. Dan wacana yang bergulir tersebut berangkat dari penyelenggaraan Mukernas PKS awal Februari lalu di Bali. Opini yang dibesar-besarkan media ini menggelinding terkait dengan perbincangan Nidayat Nurwahid dengan Walikota Denpasar Anak Agung Puspayoga saat silaturahmi PKS ke Puri Satria tempat kediaman Walikota yang memang berasal dari PDI-P.

Dalam silaturrahmi tersebut terjadi perbincangan yang akrab dan hangat. Bahkan Walikota mengaku sangat senang dengan diselenggarakannya Mukernas PKS di Bali. Salah satu petikan yang diucapkan Hidayat Nur Wahid adalah sebagai berikut, "Ini mungkin awal koalisi merah-putih. Bali kan sebelumnya merah. Selama Mukernas PKS diputihkan. Sekarang saya pinjam dulu, biar jadi merah putih," ucap Hidayat di Puri Satria, Jalan Veteran, Denpasar, Bali, Kamis (31/1/2008) sebagaimana dilansir banyak media.

Apa yang banyak diberitakan di media sepertinya menjadi berita liar yang seolah-olah bahwa koalisi PKS - PDI-P sudah di ambang mata. Padahal fakta sesungguhnya masih sangat jauh panggang dari apinya. Bahkan antar kedua petinggi partai sama sekali belum pernah diberitakan ada pertemuan-pertemuan tertentu untuk membicarakan masalah itu. Apalagi kesepakatan-kesepakatan untuk berkoalisi?

DPP PKS agaknya memang tidak begitu tertarik untuk menanggapi opini yang bergulir mengenai koalisi ‘merah-putih’ dengan PDIP. Sebab, salah satu dasar yang dijadikan pijakan kenapa PKS menyelenggarakan Mukernas di Bali adalah ketetapan PKS menjadi partai Islam yang lebih membuka diri dengan masyarakat Indonesia yang sangat plural. Harus digaris bawahi, yang PKS lakukan adalah lebih membuka diri dan bukan PKS sebagai Partai Terbuka. Membuka diri artinya, siap bekerjasama dengan siapapun dalam kemaslahatan untuk melayani umat dan bangsa Indonesia yang multi-ras dan budaya ini. Apalagi telah ditegaskan bahwa PKS adalah partai dakwah, dimana dakwah itu sendiri memiliki karakter terbuka. Seperti biasa, PKS lebih mengedepankan bukti dan kinerja nyata dalam melayani umat meskipun sebagian pihak berupaya memanfaatkan celah issu untuk menghadang laju Partai Islam ini.

Dakwah sebagai sebuah keterbukaan sebetulnya tidak sulit untuk dipahami sekalipun oleh orang awam. Rasulullah sendiri membawa Islam dengan keterbukaan. Jika Islam ini ekslusif dan hanya untuk kelompok-kelompok tertentu saja, niscaya Islam tak akan pernah sampai di tangan kita. Bukankah Islam datang di tengah kaum yang paganis saat itu. Kemudian hasil dari interaksi Islam secara kontinyu dengan masyarakat Quraisy yang penyembah berhala perlahan namun pasti menarik satu per satu suku Quraish menjadi pendukung, penganut, dan pembela Islam. Bahkan yang atas kehendak Allah tidak masuk Islam seperti Abu Thalib pun menghabiskan hidupnya untuk melindungi dan membela Muhammad saw. dari makar orang-orang kuffar. Peristiwa-peristiwa lain yang menjadi bukti bolehnya berkoalisi dengan kekuatan-kekuatan non Islamis sudah diulas pada tulisan sebelumnya berjudul "Tak Sekedar Partai Islam, Tapi PKS Partai Dakwah". Oleh karena itu, seandainya pun dikemudian hari akan terjadi koalisi antar PKS dan PDI-P, maka sungguh hal itu sesuatu yang pernah dilakukan Rasulullah saw. Apalagi di PDI-P juga banyak orang Islam.

Beberapa pihak juga mencoba menusuk PKS dari keputusannya menyelenggarakan acara Mukernas di pulau Bali. Mereka berargumen bahwa dengan penyelenggaraan Mukernas di Bali, maka PKS telah berkompromi dengan berbagai bentuk kemaksiatan. Seolah, Bali yang dengan segala keindahannya bukanlah sebuah pulau yang tak pernah Allah ciptakan. Sehingga tidak layak untuk dakwah Islam masuk ke sana. Kelompok yang dengki ini lupa bahwa Rasulullah di utus di tengah-tengah masyarakat jahiliyah yang berlumur kesyirikan dan penyakit sosial yang kronis.

Mengenai tudingan ini, DPP PKS telah mengeluarkan bayanat atau penjelasan yang mengungkap latar belakang dipilihnya Bali sebagai lokasi Mukernas PKS 1-3 Februari 2008. Isinya berupa 2 sisi pertimbangan secara internal maupun eksternal, yaitu sebagai berikut:

Alasan Internal:

  1. Mengokohkan dakwah Islam di Bali dan menegaskan komitmen dakwah kita, bahwa seluruh jengkal tanah air Republik Indonesia adalah teritori yang utuh dari medan dakwah PKS.
  2. Mengokohkan posisi kader PKS di Provinsi Bali yang berjumlah sekitar 5.775 orang dan kader yang berjuang di daerah-daerah minoritas.
  3. Mengokohkan posisi minoritas ummat Islam di Bali yang jumlahnya sekitar 323.853 (9%) dari 3.442.600 orang penduduk Pulau Bali.
  4. Mengokohkan soliditas dan mobilitas PKS serta daya jangkau dakwah kita ke seluruh penjuru tanah air Republik Indonesia.

Alasan Eksternal:

  1. Menegaskan pengakuan PKS kepada pluralitas dan keanekaragaman agama, suku dan budaya bangsa Indonesia, dan berupaya menjadikannya sebagai sumber kreativitas kolektiv kita sebagai bangsa.
  2. Dalam konteks keIndonesiaan, kehadiran PKS di Bali juga merupakan penghargaan kepada minoritas dan komitmen PKS untuk memberikan keadilan bagi semua warga Negara Republik Indonesia tanpa membedakan agama, suku dan golongannya.
  3. Menegaskan komitmen PKS untuk ikut serta menciptakan perdamaian di seluruh wilayah Republik Indonesia, dan mengakhiri segala bentuk penggunaan kekerasan dan terorisme atas nama agama, mengakhiri konflik antar agama serta mempertahankan Bali sebagai halaman rumah Indonesia yang damai dan tentram.
  4. Menegaskan komitmen PKS untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dua alasan di atas sungguh sangat terang seterang matahari di siang bolong. Hanya kelompok yang besar kedengkiannya saja yang tak pernah puas memojokkan PKS meski kebenaran telah nyata padanya. Oleh karena itu, pada hakikatnya berbagai issu dan tuduhan miring kepada PKS terpatahkan dengan penjelasan di atas.

Yaitu, bahwa koalisi Merah-Putih antara PKS dan PDI-P yang dibesar-besarkan sesungguhnya hanyalah baru sampai sebatas wacana saja, serta sebagai wujud kesiapan PKS untuk bekerjasama dengan siapa saja dalam kemaslahatan dan kebaikan. Sementara tuduhan bahwa PKS telah berkompromi dengan kemaksiatan sungguh keliru besar. Yang benar tujuan PKS menggelar hajat di pulai Dewata itu adalah untuk memantapkan eksistensi dakwah Islam.[]






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer