February 27, 2008

PKS Rahmatan Lil’alamin

Filed under: SIYASAH

KE-RAHMATAN LIL’ALAMIN-AN PKS;
Upaya Demarketisasi itu Tumbang dengan Sendirinya 

 
Saat ini, yang namanya bekerjasama dengan kalangan non-muslim tiba-tiba mencuat menjadi thema yang menarik untuk diperbincangkan banyak pihak. Seolah-olah dunia ini sejak lama terbelah menjadi dua yang secara otomatis memisahkan antara kehidupan seorang muslim dengan kehidupan non-muslim. Sehingga topik keterbukaan untuk saling membantu dalam kemaslahatan sosial antara umat Islam dengan non-muslim menjadi asing dan aneh. Euforia ini muncul bukan tanpa sebab, ‘keanehan’ ini muncul secara berjamaah atas langkah politik PKS pasca Mukernas 1-3 Februari 2008 lalu di pulau Bali.

Sebagai seorang muslim, penulis tentu terperanjat menyikapi hal ini. Bukan lantaran keputusan Mukernas PKS untuk siap bekerjasama dan mengakomodasi pluraritas bangsa Indonesia yang beragam suku dan agama ini, tetapi lebih kepada reaksi masyarakat, lebih-lebih sebagian gerakan Islam, yang memandang heran terhadap pilihan langkah dakwah PKS untuk secara lebih luas dan terbuka terhadap keanekaragaman bangsa Indonesia secara utuh. Mereka lupa bahwa dakwah memiliki karakteristik terbuka bagi semua makhluk yang bernama manusia. Mereka lupa bahwa Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh alam, baik bagi mereka yang beriman maupun mereka yang bukan muslim.

Sampai ada kader-kader dari sebuah gerakan Islam yang memanfaatkan kondisi ini untuk mendemarketisasi partai dakwah tersebut lewat berbagai media, terutama media internet. Dari mulai mempersoalkan pemilihan tempat di pulau Bali, soal logo Mukernas yang mereka sebut berupa Pura, sampai pada tudingan bahwa PKS telah meninggalkan jati dirinya sebagai Partai Islam karena berubah paltform menjadi partai terbuka. Lebih menggelikan lagi ada sebuah tulisan dari seorang wartawan senior www.eramuslim.com, Rizky Ridyasmara, yang mencoba mengusik PKS dengan artikelnya berjudul ‘Antara Bali dan Ghaza’. Apakah semua yang dituduhkan itu benar adanya? Ternyata issu yang mereka gulirkan baik tentang masalah pemilihan lokasi, tentang logo Mukernas, maupun platform sebagai Partai Terbuka, semuanya mentah total.

Pemilihan lokasi yang ditudingkan banyak kalangan bahwa PKS memilih Bali adalah dalam rangka rihlah atau tour rontok seketika dengan dikeluarkannya Bayan DPP mengenai alasan Bali sebagai tempat Mukernas PKS. Tudingan bahwa PKS mulai berkompromi dengan kemaksiatan juga hangus dan tidak terbukti. Aktivitas para peserta Mukernas yang disorot banyak media tak satu pun yang tertangkap sedang berleha-leha ditempat-tempat yang bukan menjadi area Mukernas untuk bermaksiat kepada Allah. Bahkan kegiatan di luar syuro justru membawa semangat dakwah Islam yang kental dan santun. Acara seminar, Senam PKS, sampai dengan pembentukan Gema Keadilan propinsi Bali berlangsung tanpa menabrak nilai-nilai Islam.

Sebaliknya, banyak masyarakat Bali yang notabene mayoritas beragama Hindu turut senang dan bersyukur atas kehadiran PKS. Kehadiran PKS di pulau dewata itu cukup efektif menghapuskan citra negatif bangsa Indonesia yang cenderung melekat di mata dunia internasional sejak berbagai peristiwa ledakan bom yang selama beberapa tahun terakhir sering terjadi dibeberapa titik di wilayah Indonesia. Bahwa Bali kondusif dan tetap aman dari ganguan para ‘teroris’ yang selama ini menggunakan kedok Islam. Kalangan pengusaha juga merasakan imbas positif ini. Tidak luput pula kegembiraan Walikota Denpasar, Anak Agung Puspayoga’ yang dua kali dikunjungi Dr. Hidayat Nurwahid beseta rombongan dari Dewan Syariah Pusat dan Majelis Pertimbangan Pusat.

Bahkan kehadiran ribuan kader PKS serasa menunjukkan bahwa kekeliruan segelintir aktivis Islam yang selama ini menjalankan aksinya dengan kekerasan telah tertutup pintu dan ruang geraknya. Kenapa, sebab PKS secara tidak langsung menjelaskan kepada umat Islam di Indonesia bahwa Bali juga bagian dari jengkal tanah yang Allah karuniakan untuk disemaikan dakwah Islam yang lembut dan santun. Bali bukanlah musuh umat Islam hanya lantaran berpenduduk mayoritas Hindu, atau gara-gara disana banyak lokasi yang saat ini menjadi tempat maksiyat. Jikalau benar banyak tempat yang saat ini digunakan untuk bermaksiyat kepada Allah, maka menjadi tugas para da’i-lah untuk meluruskannya. Meluruskan dengan santun dan bermartabat.

Karenanya satu hal yang tidak kalah pentingnya, bahwa seminoritas apapun, disana juga terdapat orang-orang muslim yang senantiasa melafazkan kalimat lailahaillallah di kala pagi dan petang. Mereka adalah kalangan kecil yang selama ini kurang tersentuh oleh perhatian saudaranya secara maksimal dan sewajarnya. Dengan kehadiran PKS awal Februari lalu, umat Islam minoritas disana menjadi lebih percaya diri bahwa mereka juga terakui dan diperhatikan sebagai bagian dari umat Islam yang besar di seluruh dunia ini. Hal ini sejalan dengan landasan dasar yang digunakan DPP PKS untuk membantu mengukuhkan eksistensi dan dakwah Islam yang saat ini minoritas di pulau Dewata itu. Sehingga, salah satu agenda diluar Mukernas yang dilakukan oleh para petinggi PKS adalah bersilaturrahim ke tempat para ulama yang salah satunya adalah ketua MUI propinsi Bali.

Mengenai tudingan yang kedua, bahwa logo Mukernas berupa Pura, tentu hal ini sengaja dilebih-lebihkan oleh kalangan aktivis yang merasa cukup nikmat dengan mencibir PKS. Mereka mengatakan bahwa demi kepentingan politiknya PKS rela merubah segalanya. Padahal hal ini sudah diklarifikasi oleh Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah propinsi Bali, M. Suhaimin Sutarmadi (24/1/2008). Logo tersebut hanyalah sebuah icon daerah sebagaimana Jakarta punya Monas, Banten punya Menara Masjid Banten, Bandung punya Gedung Sate, Kudus dengan Masjid Menara yang merupakan sebuah gapura, Palembang dengan jembatan Amperanya, dan lain-lain. Jelas, jika umat Islam Indonesia menginginkan simbol-simbol kedaerahan di Bali lebih Islami, maka sudah sepantasnya mereka berfikir apa yang bisa mereka sumbangkan untuk dakwah Islam di Bali. Bukan cuma ngomongin orang lain berdasarkan pada dzon belaka.  Jika suatu masa nanti Bali atas izin Allah berubah menjadi mayoritas muslim bisa jadi lain cerita.

Dan lagi kenapa harus memper-pusing dengan masalah yang sepele ini? Bukankah di spanyol juga banyak bangunan yang berarsitektur Islami tetapi ternyata sebuah Gereja? Dan sebaliknya, dengan yang terjadi di negara-negara Barat dimana bangunan-bangunan gereja yang sudah sepi jemaat dijadikan tempat sholat oleh orang-orang Islam. Di indonesia juga tidak sedikit masjid etnis China yang bangunannya mirip klenteng. Ada masalah? Sekali lagi tidak. Apalagi sudah ditegaskan bahwa gambar logo Mukernas PKS adalah sebuah gapura yang identik dengan icon kedaerahan pulau Bali.

Terkait tudingan yang ketiga ini, beberapa kader sebuah kelompok Islam sampai bersusah payah menuliskan artikel lengkap dengan dalil-dalilnya. Artikel tersebut disebarkan melalui email dan milist-milist. Artikel yang berjudul ‘Parpol Islam’ itu mengulas dengan nuansa bahwa PKS sudah bukan lagi Partai Islam dengan issunya yang menjadi Partai Terbuka. Tidak hanya itu, ulasan yang ditulis oleh Ust. Daud Rasyid yang seolah bertentangan dengan langkah PKS serta nampak menguatkan tulisannya juga disebarluaskan. Namun, sayang alangkah disayang, ternyata asumsinya mentah total. Sebab tidak sekedar PKS tetap sebagai Partai Islam, tetapi PKS juga tetap sebagai Partai Dakwah. Sekali lagi, bayanat yang dikeluarkan 3 lembaga tinggi PKS telah mementahkan opini yang beredar dan tak bertanggung jawab ini.

Lebih kurang opini yang di sodorkan wartawan eramuslim.com juga sudah terjawab dengan beberapa ulasan di atas. Hanya yang secara khusus diangkat sang wartawan bahwa dengan penyelenggaraan Mukernas PKS di Bali, PKS sudah hilang empatinya dengan warga Ghaza di Palestina. Dengan mengetengahkan cerita percakapan dengan salah seorang kader PKS yang turut menjadi peserta Mukernas, Rizky Ridyasmara, sang wartawan eramuslim.com itu menggiring opininya seolah tinggal dia sendirian yang masih ‘lurus’. Sementara orang-orang shalih yang berangkat ke Bali sudah tak layak lagi menjadi tauladan dalam dakwah lantaran mereka menyelenggarakan hajat partainya di hotel berbintang di pulau yang terkenal dengan tari kecaknya itu.

Opini yang dituliskan sangat terasa dipaksakan. Dan aneh ketika sang wartawan ini mencoba memposisikan PKS sudah tidak empati lagi dengan rakyat Ghaza. Dari sudut pandang mana? Apakah hanya karena mereka berkumpul ditempat yang relatif mewah? Atau hanya karena mereka jauh-jauh pergi ke Bali? Atau hanya karena pengeluaran yang cukup besar untuk penyelenggaraan Mukernas? Jika persoalannya demikian, maka sdr. wartawan ini mengetengahkan opini bernuansa demarketisasi yang sangat dangkal dan merem dari fakta-fakta di lapangan tentang keseriusan dukungan PKS kepada bangsa Palestina. Penulis sedikit tertarik untuk menelusur siapa sebenarnya sang wartawan ini?

Allah SWT telah mengatur dunia ini dengan sedemikian rupa. Ujian yang Dia berikan kepada hambanya pun bermacam-macam. Ada ujian kefakiran, katakutan, kelaparan, kesakitan, kesengsaraan, begitu pula dengan ujian yang berupa kecukupan, kemampuan, rizki yang berkah, bahkan fasilitas kemudahan yang dalam genggaman tangan. Justru karena sunnatullah inilah dunia ini hidup. Ada sedekah, ada syukur, ada tabah, ada saling tolong menolong, ada zakat, ada do’a, ada sabar, ada ikhlas, ada empati, maupun ada pembelaan terhadap kaum yang lemah.

Mukernas bagi sebuah partai adalah ibarat kebutuhan pokok yang diperlukan manusia. Jika tanpa alat komunikasi dan internet sdr. Rizky Ridyasmara ini tak mampu menuangkan ide-idenya didunia maya. Maka begitu pula Partai. Jika laptop mahal dan HP mewah yang dimiliki sdr. wartawan ini sebuah kewajaran, maka hotel mewah berkapasitas besar yang mampu menampung seluruh peserta Mukernas adalah sebuah kebutuhan pokok. Jika besarnya biaya yang dikeluarkan sdr. Rizky untuk belanja kebutuhan rutin serta biaya pendidikan untuk anak-anaknya dia anggap wajar dikeluarkan ditengah-tengah derita warga Ghaza, maka kebutuhan pokok lah bagi sebuah partai untuk menfasilitasi perumusan agenda-agenda dakwah dan keumatan dengan baik dan pebuh perhitungan. Sebelum berpanjang lebar, penulis batasi ulasan mengenai sdr. Rizky Ridyasmara dalam tulisan ini yang insyaAllah akan dibuat ulasan tersendiri dalam sebuah artikel berjudul "Menghitung Belanja Rizky Ridyasmara di tengah Derita Warga Ghaza".

Kembali kepada thema awal mengenai bekerjasama dengan non-muslim. Tidak dapat dibendung lagi, berangkat dari stigma negatif yang selama ini coba ditimpakan oleh kelompok-kelompok tertentu kepada partai kader ini, PKS kini telah memantapkan langkah untuk tampil lebih integral. Hasil Mukernas yang mengamanatkan untuk bekerja secara bersih, lebih peduli, dan lebih menguatkan profesionalisme ini, mendorong seluruh jajaran kader PKS untuk mulai menyamakan suhu agar lebih gesit dan intensif dalam menyampaikan dakwah Islam dan pendidikan politik. Tak pelak, partai yang dulunya di cap sangat eksklusif dan di stigmasi beraliran ‘talibanisme’ saat ini mulai merentangkan tangan untuk bekerjasama dengan berbagai pihak manapun yang cinta kepada kebaikan.

Penulis melihat bahwa PKS benar-benar ingin menerapkan dakwah Islam yang rahmatan lil’alamin. Dakwah yang tidak menempatkan setiap orang-orang non-muslim sebagai golongan yang tak mungkin berbuat kebaikan. Namun sebaliknya, PKS membuka diri untuk bekerjasama dengan siapapun yang setuju dengan prinsip-prinsip dasar perjuangannya dalam membela umat dan bangsa. Tentu tak lepas dar koridor yang tertuang dalam platform organisasinya, sebagai Partai Islam dan Partai Dakwah.

February 22, 2008

Antara PKS dan Ghaza

Filed under: PEMIKIRAN

ANTARA PKS DAN GHAZA


Membicarakan Palestina memang bak air bah yang mengalir, deras dan tiada habis-habisnya. Sejarah perjuangan yang pelik dan panjangnya menjadikan setiap pena yang menuliskan kisahnya tak pernah berhenti menari merangkai kata demi kata. Bisa jadi seandainya seluruh tinta emas yang ada dimuka bumi ini dipakai menuliskan kisah-kisah terbaiknya, maka lembaran demi lembaran akan berbicara tentang kisah negeri yang diwariskan itu. Kisah tentang ketegaran, kisah tentang perjuangan, kisah tentang pengorbanan, kisah tentang kekuatan iman, kisah tentang izzah, kisah tentang kehormatan, kisah tentang ribuan Khansa, kisah tentang bocah-bocah syurga, kisah tentang pemuda-pemuda syuhada, kisah tentang kecintaan bangsa terhadap para pejuangnya, maupun kisah tentang para pemimpinnya yang kokoh berpijak pada jalan jihad.

Ya, semuanya ada di negeri Al-Quds itu. Sehingga tidak heran jika seorang ulama terkenal yang disegani, Syeikh Dr. Yusuf Qardhawi,  menjadikan persoalan Palestina sebagai central problematika dunia Islam. Central pembuktian siapa yang benar keimanannya dan siapa yang takluk dihadapan kaum penjajah. Karenanya, dari centrum Palestina dunia Islam menjelaskan keterbelahan dirinya sendiri. Di salah satu sisi, mereka adalah para kelompok yang acuh terhadap derita saudaranya. Dan disisi yang lain adalah mereka yang berdiri sebagai kelompok yang secara istiqomah membela negeri yang terjajah itu.

Kelompok pertama dimayoritasi oleh kalangan pemimpin pemerintahan yang takluk dan takut di bawah titah sang agresor dengan kekuatan AS  sebagai backing utamanya. Para pemimpin pemerintahan negeri Islam yang lebih senang menumpuk-numpuk kekayaan diri, keluarga, dan kelompoknya dibandingkan turut mensedekahkan solusi bagi saudara seimannya yang kelaparan dan ketakutan di Palestina. Mereka diliputi sindrom dan penyakit ‘al-wahn’ alias cinta dunia dan takut mati. Takut kekuasaannya dijatuhkan oleh AS dan sekutunya, takut keselamatannya diincar agen-agen intelijen Asing, takut aset-aset di luar negerinya di bekukan. Takut tidak bisa jalan-jalan berlibur keluar negeri. Takut dan takut. Bahkan ketakutannya kepada thaghut melebihi ketakutan mereka terhadap ancaman dan peringatan Allah serta Rasul-Nya. Padahal jelas-jelas mereka akan dimintai pertanggungjawabannya sebagai pemegang amanah kepemimpinan di negeri-negeri Islam.

Kelompok pertama juga diisi oleh kalangan masyarakat Islam yang sudah disibukkan oleh urusan dunianya masing-masing. Mereka asyik bergelut dengan kesenangan yang menyilaukan, keluarga yang membuatnya lupa dengan tanggung jawab seorang muslim terhadap sesamanya. Mereka juga sibuk mengumpulkan harta benda sehingga tidak lagi sempat untuk mengenal dunia Islamnya yang terluka dan tercabik diberbagai belahan dunia. Dari kalangan ini sebagiannya juga mencibir pihak-pihak yang secara konsisten peduli kepada derita bangsa Palestina dengan aksi demonstrasi maupun penggalangan dana. Mereka menganggap bahwa pihak yang tak sesuai dengan pemikirannya itu terlalu membesar-besarkan derita bangsa lain sementara banyak warga Indonesia yang perlu juga untuk dibantu dan diperhatikan.

Disamping itu ada dalam kelompok ini juga termasuk orang-orang yang sudah teracuni dengan budaya dan pengaruh Barat baik dalam tataran pemikiran maupun gaya hidupnya. Tidak sedikit dari kalangan ini. Bahkan tidak sekedar mereka tak acuh, sebagian yang punya jalur politis dan ekonomi serta finansial justru mencoba bermesraan dengan Israel dan Zionisme dengan mengangkangi umat Islam yang berurai air mata atas kekejian Yahudi. Kejadian kunjungan beberapa pemuda ’sinting’ yang mengatasnamakan Indonesia beberapa bulan lalu ke Israel adalah salah satu contoh kasusnya.

Kelompok ini juga dihuni kelompok atau gerakan Islam yang lebih mengentalkan ashobiyahnya dibandingkan dengan semangat persaudaraan Islam sesama muslim. Selama tidak ada sangkut pautnya dengan kelompok atau jamaahnya secara langsung, maka mereka ini lebih konsen dengan kepentingan internalnya. Penderitaan saudara-saudara seiman yang setiap hari meronta dengan duka lara tidak menjadi satu agendapun yang diwacanakan dalam garis perjuangan mereka. Adapula kelompok yang merasa bahwa perjuangan jargon-jargonnya lebih utama ketimbang menyelamatkan satu nyawa umat Islam dari kekejian peluru dan mortir Israel. Dengan penuh kebanggaan mereka memasang spanduk-spanduk bertuliskan "Dengan khilafah kita memerangi, bukan diperangi".

Sayangnya, sangking asyiknya menyebarkan jargon-jargon tersebut mereka menjadi sangat malas untuk pergi berjihad memanggul senjata. Mereka lebih senang duduk berdiskusi bagaimana caranya masyarakat Islam masuk dalam kelompoknya. Mereka lebih senang minum kopi di dalam ruang ber-AC, sementara diluar sana para mujahid Palestina berpeluh debu dan keringat serta bercipratan darah disana-sini karena pertempuran melawan Israel. Dan yang lebih dari itu, sangat besar kemungkinannya mereka ini takut mati demi Al-Islam yang mulia.

Tak pelak mereka ini tak berbuat apa-apa untuk umat Islam Palestina yang hari demi harinya diwarnai puluhan nyawa meninggal dunia. Bahkan tangis bayi-bayi yang mengejang dirumah-rumah sakit karena kurang gizi dan obat-obatan tak membuat ‘khalifah’ mau turun tangan, sebab ‘khalifah’ sedang sibuk berdiskusi. Padahal Umar bin Khattab pernah mengatakan "seandainya seekor himar terperosok di Irak, maka umarlah yang bertanggungjwab kenapa tidak dibuatkan jalan untuknya". Memang mungkin harus dimaklumi karena ‘khalifah’ yang ini sekedar khalifah-khalifahan yang tidak mencontoh para khulafaur Rasyidin yang Allah muliakan.

Karenanya tak perlu heran jika ungkapan-ungkapan yang keluar dari mulut para kadernya sekedar "Tunggulah wahai Palestina, pasukan khalifah pasti akan datang!". Atau hanya "Solusi Palestina adalah dengan adanya khilafah". Tidak lebih dari itu atau NATO (No Action Talk Only). Sementara syeikh-syeikh mereka sibuk menuduh para mujahid HAMAS yang berjihad mengusir Israel dari jengkal tanah air Islam Palestina sebagai pembunuh wanita dan anak-anak (silahkan baca kembali Al-Islam edisi 361). Buta sekali mereka.

Demikianlah gambaran kelompok pertama yang acuh dan tak peduli terhadap penderitaan bangsa Palestina. Hatta, ketika rakyat Ghaza diisolasidari bahan makanan dan obat-obatan oleh Israel dengan Barat dibelakangnya beserta negara-negara Islam yang penakut. Sampai dengan diblokadenya pasokan listrik dan bahan bakar yang menyebabkan ribuan nyawa meninggal dunia di rumah sakit, mereka kelompok pertama ini tetap tak berbuat apapun. Pepatah ‘diam itu emas’ mungkin menjadi pegangan utama.

Sekarang kita coba menilik kelompok kedua yang berseberangan dengan kelompok pertama yang telah dibahas di atas. Mereka ini adalah kebanyakan para pemuda Islam yang bangkit dari kelemahan imannya, sadar dengan kewajiban Islam dan persaudaraannya. Mereka bukan pemuda yang matang karena jargon-jargonnya, tapi mereka adalah para pemuda yang lahir dari kematangan aqidah dan amal-amal jihadnya yang nyata. Mereka bukan kaum hartawan, namun harta yang mereka miliki sebagiannya mereka semaikan untuk dakwah dan dunia Islam. Penghasilan setiap bulannya sekian persennya pasti disisihkan untuk geliat dunia Islam dan Palestina. Mereka yang berdiri dalam posisi ini adalah mereka yang memahami dengan dalam bahwa salah satu kunci persoalan dunia Islam ada di negeri yang memiliki kiblat pertama untuk umat Islam ini. 

Dalam konteks ke-Indonesia-an, kelompok kedua ini direpresentasikan oleh Partai Keadilan Sejahtera. Meski tidak menafikan kesertaan kalangan lain dan tokoh-tokoh nasional, namun harus diakui bahwa PKS lah yang menjadi motor utama menggerakkan kepedulian bangsan Indonesia kepada Palestina.Tidak sedikit tokoh-tokoh dan ulama-ulama PKS yang menjadi aktor utama diberbagai lembaga kemanusiaan independen yang konsentrasi membantu penderitaan dan perjuangan Palestina sebagai sebuah bangsa. Sebut saja COMES, KISPA, KNRP, Mer-C, serta lembaga-lembaga kemanusiaan lain yang sangat konsisten mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada mereka. Lembaga-lembaga ini memang bukan underbow PKS, hanya secara independen masing-masing tokoh PKS memiliki inisiatif tinggi menggalang potensi umat untuk kepentingan rakyat Palestina lewat berbagai lembaga kemanusiaan yang dikelola dengan amanah dan profesional. Bahkan kader-kader terbaik dari partai ini yang mendapatkan amanah di panggung parlemen meranggul berbagai tokoh lintas partai membentuk kaukus parlemen untuk membantu perjuangan bangsa Palestina.

Di tataran akar rumput, partai Islam ini juga menampilkan konsistensinya menggaungkan kepedulian kepada bangsa yang terjajah itu. Baik melalui forum-forum pertemuan, seminar, kajian, tabligh akbar, bahkan demonstrasi besar-besaran untuk menyuarakan pembelaan terhadap Palestina dan para pejuangnya. Bukan itu saja, dalam lingkaran central, kader-kader PKS juga secara reguler menginfakkan sekian persen dari penghasilan setiap bulannya untuk membantu bencana kemanusiaan di negeri yang di wariskan khalifah Umar bin Khathab. Tidak sekedar ‘One Man One Dollar to Save Palestina’ yang menjadi icon aksi-aksi demonstrasi partai dakwah ini untuk menyeru keterlibatan masyarakat Indonesia secara umum.

Termasuk ketika tragedi boikot warga Ghaza yang ditimpakan oleh jaringan Yahudi internasional melalui negara-negara di Barat yang diamini para pemimpin negeri-negeri Islam. PKS pun bergerak untuk mengingatkan kepada bangsa Indonesia dan dunia, bahwa saudara-saudara muslim di Ghaza sana sedang dianiaya dan didzalimi dengan penganiayaan dan pendzaliman yang luar biasa dahsyat. Ketika ratusan bahkan ribuan nyawa terancam melayang ditangan kebengisan yahudi la’natullah PKS bergerak mengingatkan kepada muslim Indonesia yang kabarnya mayoritas di seluruh dunia, untuk menyisihkan sebagian rizkinya dengan thema ‘One man One Dollar to Save Palestina’.

Oleh karena itu, sangat aneh dengan apa yang diprasangkakan oleh salah seorang wartawan senior Eramuslim, Rizky Ridyasmara yang disebarkannya dalam sebuah artikelnya yang berjudul "Antara Bali dan Ghaza". Dangkal sekali pemikirannya dalam memandang PKS. Ternyata wartawan yang sebetulnya patut diacungi jempol dalam memonitor gerakan zionisme internasional ini, tidak mengerti banyak tentang PKS. Alangkah patut dirinya lebih mengevaluasi diri sendiri, sudah berapa besarkah ia berkontribusi untuk bangsa Palestina. Jangan-jangan hanya ‘one dollar’ saat ikutan aksi di Monas 27 Januari 2008 yang lalu.

Serahkan segalanya hanya kepada Allah semata. Dan Allah yang Maha Tahu setiap amal-amal hambanya, dan Dialah yang berhak menilai siapa yang lebih mulia di sisi-Nya. Wallahua’lam. 

February 18, 2008

Sidney pun Mengadu (2)

Filed under: PEMIKIRAN

SEPUCUK SURAT DARI AUSTRALIA: SYDNEY PUN MENGADU


Salah seorang mahasiswa postgraduate dari University of Sydney mengirimkan email kepada saya yang isinya kurang lebih seperti ini; “saya disini cukup disedihkan dengan diramaikannya sebuah milis lembaga dakwah Islam untuk masyarakat muslim Indonesia di Sydney oleh kader-kader Hizbut Tahrir yang selalu menghujat PKS dalam segala kesempatan, berita-berita kecil lalu dibesar-besarkan dan dicaci-maki sekehendaknya, bagaimana meluruskan hal ini?”

Saya mencoba memberi sedikit jawaban atas pertanyaan seorang saudara seiman di Australia yang menulis email ini kepada saya. Saya menangkap hatinya yang resah, semoga usulan dangkal saya ini bisa sedikit mengobati kegundahannya.

Bagaimana Menghadang Fitnah

Ulasan pada bagian pertama lebih menunjukkan bahwa taujih rabbaniyah tak akan berguna dalam logika Hizbut Tahrir. Dari beberapa tulisan yang pernah saya tulis dan saya kirimkan ke email DPP HTI ternyata memang sama sekali tidak ada respons. Padahal sebagiannya sudah saya selipkan beberapa nasehat qur’ani dan al-Hadits. Bahkan tulisan saya yang ‘menantang’ pembuktian tuduhan Amir HT terhadap PM. Turki Recep Tayyip Erdogan juga sama sekali tidak direspons. Kesimpulannya, tak banyak yang bisa diharapkan dari kelompok pecundang. Alih-alih sadar atas kesalahannya mereka justru semakin asyik membuat lontaran-lontaran fitnah yang semakin menggelikan.

Lantas, bagaimana seharusnya kita meluruskan? Pendekatan yang perlu untuk mengingatkan kelompok HT ini memang dari sisi pembongkaran millah mereka. Namun tetap, kita tidak berharap mereka yang akan segera sadar dan meminta maaf kepada umat ini atas pembodohan-pembodohan yang dilakukannya. Akan tetapi lebih kepada membangun kesadaran, pengetahuan, dan wawasan internal tentang bagaimana menghadapi ‘politics war’ kelompok pemfitnah ini. Minimal ada dua langkah pendekatan yang harus ditempuh. Yaitu pendekatan perang fakta dan pendekatan tsaqofah.

1. Pendekatan Perang Fakta

Selama ini, Hizbut Tahrir memang cukup rajin dan konsen memanfaatkan issu-issu miring gerakan dakwah lain untuk dijadikan bahan kajian dan analisis. Padahal belum tentu issu-issu tersebut berupa fakta, malah kebanyakan hanya sebuah praduga dan dzan yang sengaja dipelintir untuk kepentingan black campaign oleh mereka. Hasilnya kemudian diberitakan secara beruntun di berbagai media yang dimilikinya, baik media maya maupun media cetak.

Hasil-hasil analisa itu diteruskan dengan taklid oleh para kadernya dan dimanfaatkan untuk menyebarkan syak wasangka di tengah masyarakat menggunakan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui khatib-khatib yang dipersiapkan struktur HT di berbagai wilayah. Sehingga tidak heran jika dilapangan banyak kader HT yang gelagapan ketika ditanya mendetil tentang berita-berita yang dikeluarkan oleh pusat. Akibatnya ketika sudah mentok, mereka bilang "sebaiknya langsung menghubungi Jubir HTI saja untuk memperjelas masalah ini. Oooo, berarti memang benar bahwa lontaran-lontaran fitnah yang berasal dari HT ini atas kebijakan petinggi-petinggi HT di pusat.

Acara-acara tatsqif yang mereka adakan dengan meminjam masjid-masjid masyarakat juga dimanfaatkan secara licik oleh kader-kader HT di tingkat lapangan. Meski tidak jarang banyak pihak yang merasa dilangkahi dan ditipu karena umumnya mereka lebih suka main klaim bahwa kehadiran mereka di suatu masjid telah didukung si fulan dan si fulanah. Padahal izin awalnya hanya untuk meminjam tempat.

Terkait hal ini, maka sudah sepatutnya para aktivis dakwah yang merasa terganggu dan terusik dengan pola-pola licik HT, tiba saatnya untuk mengambil peran sebagai subject perang fakta. Bukan lagi menjadi object yang selalu dijadikan bulan-bulanan opini HT yang hampir selalu menyudutkan dan bernada fitnah. Menjadi subject opini memang lebih strategis ketimbang sebagai object. Sebab, sekenceng-kencengnya ia membuat penangkalan opini, tetap saja manjadi object. Hasilnya capek tetapi tidak mengungguli opini dasar.

Dengan menjadi subject, atmosfer yang tercipta bisa semau si pembuat opini. Kapan, bagaimana, dan seperti apa opini yang bergulir terserah si creator awal. Terserah public mau menangkap opini ini atau tidak. Yang jelas sebuah opini baru telah digulirkan, dan masyarakat umum yang akan menikmati manfaatnya.

Saya sepakat bahwa alangkah baiknya sebuah gerakan dakwah Islam tidak perlu ambil pusing dengan berbagai serangan fitnah yang dilancarkan gerakan dakwah lain. Yang terpenting adalah berbuat sebaik-baiknya untuk maslahat umat dan seiring waktu umat pasti akan mengetahui siapa yang benar dan mana yang pura-pura. Akan tetapi menurut saya, lebih baik lagi apabila diantara kader-kader yang mampu dan memiliki kesempatan untuk mengambil peran menjadi barisan perisai. Sebuah barisan yang akan menangkal fitnah-fitnah keji yang dilancarkan oleh gerakan dakwah lain (HT) secara jahat.

Mengapa? Hal ini penting sebab dunia saat ini adalah sebuah zaman dimana informasi menjadi ‘penguasa’ yang menentukan hitam-putihnya sesuatu hal. Sebuah kebenaran akan bisa disamarkan dengan berita perancuan yang dilancarkan secara massif dan kontinyu. Dan sebaliknya, sesuatu yang tidak benar bisa menjadi seolah-olah benar ketika disuguhkan dari berbagai penjuru dengan pemutar-balikkan fakta. Dan masyarakatlah yang menjadi korban informasi itu. Akibatnya dakwah ini menghadapi hambatan dan fitnah yang luar biasa.

Menjadi subject dalam perang fakta ini maksudnya adalah, saatnya para kader untuk mulai membuka mata, membuka wawasan, dan mulailah mempelajari kekuatan dan senjata kelompok penuduh dan pencaci maki. Mulailah membuka dan memperhatikan tulisan-tulisan mereka, opini-opini mereka, buku-buku mereka, perilaku tokoh-tokoh mereka, media mereka, keseharian mereka dan lain sebaginya. Saya menjamin, bahwa semakin banyak mengenal mereka maka akan semakin tahu banyak kelemahan-kelemahannya. Hizbut Tahrir hanya nampak digdaya bagi orang-orang yang awam mengenalnya.

Dan satu hal lagi, waspada terhadap operasi ‘intelijen’ mereka yang cukup terstruktur dan terlatih. Jangan sampai lembaga-lembaga yang Anda bangun dengan susah payah tahu-tahu diambil alih mereka. Akibatnya tanpa malu-malu mereka mendepak orang-orang di luar mereka seperti yang terjadi di sebuah lembaga ZIS nasional di Indonesia. Ko’ bisa? Ya, mereka menyusup seperti menyusupnya intelijen dalam gerakan-gerakan Islam. Dan HT sudah punya kader-kader yang terlatih dalam dunia susup-menyusup ini.

Dengan pengetahuan itu, maka mulailah untuk menjadi para penganalisa dan pemerhati sepak terjang HT. Apa gunanya? Yaitu untuk menjadi perisai dan penyeimbang ketika Hizbut Tahrir mencoba melontarkan fitnah dan tuduhan-tuduhan tak mendasar terhadap bangunan dakwah ini. Lebih baik lagi jika secara aktif mampu memberikan opini-opini kontemporer kepada masyarakat. Tentunya analisa-analisa tersebut mesti menjabarkan sebagai sebuah fakta-fakta penyimpangan yang sangat mudah ditemui di Hizbut Tahrir. Jangan sampai terjebak dengan cara licik seperti yang banyak mereka lakukan. Bisa-bisa tidak ada bedanya antara kita dengan HT.

2. Pendekatan Tsaqofah

Saat ini banyak yang malu-malu dan kurang berani untuk melakukan studi komparasi gerakan Islam secara terbuka. Akhirnya simpang siur yang kurang jelas ujungnya membuat sebagian para penggiat dakwah pemula justru terjebak dalam jerat Hizbut Tahrir.

Oleh karena itu, saya berfikir bahwa sudah bukan zamannya lagi untuk tabu mengadakan forum kajian terbuka. Sebuah forum seperti seminar atau kajian umum yang mengulas sepak terjang gerakan HT dengan mengkombinasi ulasan antara manhaj mereka dengan gaya kekinian mereka saat ini. Tentu hal ini sangat bermanfaat jika hanya dibandingkan masyarakat mengenal HT di kulitnya saja. Kulit sering kali terlihat mulus, padahal dalamnya penuh borok dan muslihat. Tidak perlu jadi agenda prioritas, tetapi anggap saja sebagai kegiatan iseng.

Kajian ini harus diadakan secara reguler dengan tempo disesuaikan dengan kebutuhan. Seminar dengan judul “Membongkar Raport Merah Hizbut Tahrir” mungkin cocok untuk coba diselenggarakan. Atau “Menangkal Fitnah-Fitnah Hizbut Tahrir” juga tema yang menarik untuk dibahas. Atau yang lebih menggigit, “Hizbut Tahrir dan Dunia Intelijen” tentu tidak kalah menarik. Narasumber yang diundang sebaiknya tokoh-tokoh yang secara khusus mengetahui sepak terjang dari HT ini. Lebih bagus lagi mereka yang berasal dari saksi sejarah pihak-pihak yang secara langsung pernah ‘tersayat’ oleh ‘kejahatan’ cara dakwahnya.

Pengetahuan inilah yang akan menjadi kekuatan penyeimbang serta penangkal opini-opini miring yang dihembuskan mereka melalui berbagai pintu. Pendalaman tsaqofah secara langsung jauh lebih efektif ketimbang lewat media online. Sebab, pembahasan lewat media maya cenderung tidak tuntas. Dengan adanya kajian terbuka secara berkesinambungan ini akan memiliki efek domino yang luar biasa, sebab masing-masing aktivis dakwah bisa menjelaskan kepada masyarakat dan tunas-tunas muda secara lebih detil dan gamblang siapa sesungguhnya si penebar fitnah ini.

Mudah-mudahan dua gagasan ini bisa sedikit membantu mengobati kegundahan seorang saudara seiman di negeri kanguru yang jauh di seberang sana. Juga semoga menjadi inspirasi yang lain diberbagai belahan bumi dalam menangkal makar-makar keji yang menghalang-halangi dakwah Islam sesungguhnya.

(selesai)

Sidney pun Mengadu (1)

Filed under: PEMIKIRAN

SEPUCUK SURAT DARI AUSTRALIA: SIDNEY PUN MENGADU


Salah seorang mahasiswa postgraduate dari University of Sydney mengirimkan email kepada saya yang isinya kurang lebih seperti ini;

saya disini cukup disedihkan dengan diramaikannya sebuah milis lembaga dakwah Islam untuk masyarakat muslim Indonesia di Sydney oleh kader-kader Hizbut Tahrir yang selalu menghujat PKS dalam segala kesempatan, berita-berita kecil lalu dibesar-besarkan dan dicaci-maki sekehendaknya, bagaimana meluruskan hal ini?”

Antara senang dan prihatin menerima email tersebut di atas. Senang karena tulisan-tulisan saya sudah bisa dinikmati oleh saudara-saudara seiman di Australia. Prihatin karena ternyata apa yang dialami ikhwah di sana tidak jauh berbeda dengan yang dialami di Indonesia, Palestina maupun Turki, serta di berbagai belahan dunia lainnya. Mereka dihujat, dicacimaki dan disudutkan. Bahkan mereka difitnah.

Sebetulnya, baru kemarin saya sedikit konsen terhadap ‘politics war’ yang dilancarkan Hizbut Tahrir terhadap ikhwah di seluruh dunia. Belum cukup memadai ilmu yang saya miliki. Namun, sepak terjang HT di Indonesia yang secara kontinyu mengusik PKS dan tarbiyahnya, serta gerakan dakwah lainnya, sedikit demi sedikit mulai terkuak dan semakin terang untuk dibaca dan analisa.

Dari berbagai data dan informasi yang coba saya runut dan kumpulkan, ada satu kesimpulan pahit yang terpaksa harus saya rumuskan. Yaitu bahwa Hizbut Tahrir memang memiliki grand-design untuk melakukan ‘carracter assasination’ terhadap para aktivis dakwah di luar kelompoknya. Lebih-lebih mereka para pejuang dakwah yang menjadikan pemikiran-pemikiran Asy-Syahid Hasan Al-Banna sebagai sumber rujukannya. Saya jadi teringat ketika peristiwa terbunuhnya Imam Hasan Al-Bana yang dirayakan secara besar-besaran di berbagai negara Barat dengan pesta pora dan minum minuman keras. Mereka orang-orang kuffar Barat demikian bergembira dengan kematian Asy-Syahid.

Tak Akan Mempan Nasehat Rabbani

Dalam meluruskan black campaign yang di gulirkan HT, sepertinya sudah tidak mempan dengan bahasa dalil syari’ah. Mereka sudah bebal, apalagi mereka mungkin merasa diri mereka kelompok yang paling menguasai ilmu syari’ah. Ditambah dengan ghil atau dengki mereka terhadap para ikhwah, maka semakin matanglah visi mereka untuk mencabik para pengusung dakwah dari luar kelompoknya. Hal ini tercermin mulai dari pendirinya, Taqiyudin An-Nabhani, ketika di nasehati seorang pemuda ikhwan pada sebuah forum diskusi di Al-Quds 50-an tahun silam dengan ayat Al-Qur’an. Bukannya berterima kasih, Taqiyudin An-Nabhani malah murka, marah, dan menghasut peserta forum diskusi untuk menjauhi dan memusuhi pemuda yang mengingatkan dirinya dengan kalam Allah itu.

Sangat berbeda sekali dengan para khalifah Rasyidin ra. yang bercucuran air mata dan segera kembali kepada hukum Allah dengan nasehat-nasehat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah. Meski nasehat atau pelurusan kembali itu datang dari rakyatnya yang jelata. Bagaimana kisah Abu Bakar dengan penghunus pedang, bagaimana kisah Umar dengan wanita ‘penentang’ aturan mahar yang hendak diperbarui khalifahnya. Bagaimana kisah Ali dengan pencuri baju perang, serta kisah-kisah menyejarah lainnya. Kesemuanya adalah sekelumit kisah agung yang menenteramkan hati orang-orang beriman.

Dibandingkan dengan lukisan sejarah kemuliaan Khulafaur Rasyidin, maka kelompok Hizbut Tahrir yang di Indonesia dikomandoi oleh Ismail Yusanto dan Al-Khaththath ini sungguh sangat jauh berbeda. Meski jargon dan kampanye mereka adalah untuk memperjuangkan syari’at dan khilafah, namun kenyataannya perilaku mereka justru seperti perilaku kuffar Yahudi dan si Paman Sam. Suka memfitnah, menuduh tanpa bukti, dan tak mau dinasehati. Sepertinya telinga mereka sudah budeg dan tak pernah dibersihkan. Sementara mulutnya licin berbusa menuduh dan mencaci maki para pejuang Islam diluar kelompoknya. Dan satu lagi, mereka adalah para pecundang kelas kakap yang tak berani mengakui kesalahannya padahal borok-borok yang mereka usung terbongkar dengan nyata dan memalukan. Mereka berlaku seolah-olah fine-fine saja dan tak ada yang perlu dirisaukan. Kenapa demikian? Sebab mereka melihat seolah-olah hanya diri mereka sendirilah yang paling benar dan layak memberikan ‘nasehat’, meski sebetulnya lebih tepat tulisan-tulisan nasehatnya disebut sebagai cacian dan fitnah.

Memang kontras sekali dengan kehidupan dan kepribadian para khilafah Islam yang menorehkan tinta emas dalam sejarah Islam. Mereka begitu mudah luluh dengan ayat-ayat Allah yang mengguyur relung hati mereka walaupun keluar dari mulut seorang wanita tua perebus batu.

Mata mereka, kelompok Hizbut Tahrir, pun buta dengan mutiara berkilauan yang dimiliki para mujahid Islam di luar kelompoknya. Sementara mereka takjub dengan batu kali yang dimiliki kelompoknya sendiri. Lihat saja dengan apa yang dikemukakan oleh Amir Hizbut Tahrir Internasional, Syeikh Ata’ Abu Rashta, dalam pernyataannya (24/08/07) saat mengomentari pelaksanaan ‘Tabligh Akbar’ Hizbut Tahrir di Gelora Bung Karno 12 Agustus tahun lalu. Dalam tulisannya dia menyebutkan;

Saya pun sungguh sangat terharu, karena laporan yang saya baca, tentang ukhti mukminah yang mati syahid di jalan raya setelah dia melaksanakan tugas-tugas terkait konferensi. .. Sungguh ukhti itu termasuk orang yang mati syahid akhirat, dengan izin Allah."

Kemudian ia juga mengatakan, “Saya juga merasa terharu tentang akhi yang patah kakinya saat dia cepat-cepat turun dari kereta api yang harus dinaikinya di antara keramaian manusia untuk menuju konferensi,.. . Saya pun terharu dengan ikhwan dan akhwat yang terpaksa menjual berbagai perhiasan dan perabotan di rumah dan mengorbankan sebagian kebutuhan-kebutuhan rumah tangga mereka, agar dapat membayar iuran yang wajib dibayar terkait konferensi,”

Dan selanjutnya ia berkata, “Sungguh amal dan pengorbanan Anda itu mengingatkan saya akan para sahabat dan shahabiyat yang mulia dalam pengorbanan dan infak mereka di jalan Allah meski mereka sendiri sebenarnya masih membutuhkan. Sungguh Anda telah membuat suatu teladan dalam kebaikan yang pantas diikuti dan suatu contoh yang pantas diikuti oleh orang-orang yang mencari akhirat jauh di atas upaya mereka mencari dunia…”

Coba bandingkan dengan sekedar tiga peristiwa berikut ini; Seorang muslimah bercadar yang menyebut dirinya Puteri Da’wah menyerahkan sejumlah perhiasan emas dan sepucuk surat kepada Pemerintah Palestina dari HAMAS saat menghadapi berbagai tekanan dan pengucilan dunia internasional (17/04/06). Dalam suratnya ia menulis “…aku demi Allah sangat merasakan kebanggaan dan penghormatan saat melihat dan mendengar kalian. Aku begitu gembira dan bangga ketika melihat kekokohan kalian menghadapi tekanan demi tekanan yang mendera. .. Kami insya Allah tidak akan menjadi sebab kalian menyerah, dalam hal apapun. …Aku berharap kalian menerima pemberian kecil ini. Inilah yang mampu aku berikan. Demi Allah aku berharap bila aku memiliki semua harta di dunia ini akan aku berikan juga kepada kalian. Tapi inilah yang aku punya…”

Peristiwa lain adalah terbunuhnya salah seorang komandan militer penting Hizbullah oleh makar Israel baru-baru ini. "Dengan penuh bangga kami melepaskan pimpinan besar perlawanan Islam di Libanon dalam rombongan syuhada. Hidup sang komandan penuh dengan jihad, pengorbanan dan capaian-capaian. Saudara kami Haji Emad Moghoneah gugur di tangan zionis Israel," demikian pernyataan Hizbullah.

Demikian juga dengan berita jihad fii sabilillah yang disampaikan oleh Brigade Izzudin Al-Qassam Ahad lalu (17/02/08). Sumber di Al-Qossam menyebutkan, pihaknya telah bertempur habis-habisan dengan pasukan Israel yang berusaha menyusup ke wilayah Gaza yang dijaga pasukan perlawanan. Akibatnya 1 orang syahid dan 15 personel Hamas dan Brigade al-Quds, sayap militer Jihad Islam dikabarkan terluka. (www.infopalestina.com). Belum lagi syahidnya sosok terbaik Syeikh Ahmad Yasin dan Dr. Abdul Aziz Ar-Rantisi di ujung rudal Israel.

Dua fakta berbeda diatas sebetulnya menceritakan satu peristiwa yang sama, yaitu tentang kematian, infaq fi sabilillah, dan perjuangan membela Islam. Namun terang sekali perbedaannya, bagaimana para kader HT mati ’syahid’ (mudah-mudahan bukan mati konyol), dibanding syahidnya pejuang Islam sesungguhnya. Bagaimana sang ‘tauladan HT’ patah kaki disebabkan turun terburu-buru dari kereta, dibandingkan luka-lukanya puluhan bahkan ribuan pejuang Islam yang sebenarnya di medan jihad. Serta bagaimana pengorbanan para ‘ikhwan dan akhwat HT’ untuk ‘nonton’ konferensi, dibandingkan para muslimah yang menginfaqkan seluruh hartanya demi kehormatan Islam.

Perbedaan lainnya adalah, apresiasi yang dibesar-besarkan seorang Amir Hizbut Tahrir bagi peristiwa-peristiwa kecil yang barang kali terlalu latah untuk dikategorikan bagian dari perjuangan untuk Islam. Dan sebaliknya, sejarah bercerita bagaimana seharusnya pejuang-pejuang Islam sesungguhnya berkorban untuk Islam.

(bersambung..) 

February 15, 2008

Koalisi Merah-Putih

Filed under: SIYASAH

KOALISI MERAH-PUTIH TERLALU DIBESARKAN


Bola salju mengenai issu koalisi merah putih itu sebenarnya baru sekedar wacana. Dan wacana yang bergulir tersebut berangkat dari penyelenggaraan Mukernas PKS awal Februari lalu di Bali. Opini yang dibesar-besarkan media ini menggelinding terkait dengan perbincangan Nidayat Nurwahid dengan Walikota Denpasar Anak Agung Puspayoga saat silaturahmi PKS ke Puri Satria tempat kediaman Walikota yang memang berasal dari PDI-P.

Dalam silaturrahmi tersebut terjadi perbincangan yang akrab dan hangat. Bahkan Walikota mengaku sangat senang dengan diselenggarakannya Mukernas PKS di Bali. Salah satu petikan yang diucapkan Hidayat Nur Wahid adalah sebagai berikut, "Ini mungkin awal koalisi merah-putih. Bali kan sebelumnya merah. Selama Mukernas PKS diputihkan. Sekarang saya pinjam dulu, biar jadi merah putih," ucap Hidayat di Puri Satria, Jalan Veteran, Denpasar, Bali, Kamis (31/1/2008) sebagaimana dilansir banyak media.

Apa yang banyak diberitakan di media sepertinya menjadi berita liar yang seolah-olah bahwa koalisi PKS - PDI-P sudah di ambang mata. Padahal fakta sesungguhnya masih sangat jauh panggang dari apinya. Bahkan antar kedua petinggi partai sama sekali belum pernah diberitakan ada pertemuan-pertemuan tertentu untuk membicarakan masalah itu. Apalagi kesepakatan-kesepakatan untuk berkoalisi?

DPP PKS agaknya memang tidak begitu tertarik untuk menanggapi opini yang bergulir mengenai koalisi ‘merah-putih’ dengan PDIP. Sebab, salah satu dasar yang dijadikan pijakan kenapa PKS menyelenggarakan Mukernas di Bali adalah ketetapan PKS menjadi partai Islam yang lebih membuka diri dengan masyarakat Indonesia yang sangat plural. Harus digaris bawahi, yang PKS lakukan adalah lebih membuka diri dan bukan PKS sebagai Partai Terbuka. Membuka diri artinya, siap bekerjasama dengan siapapun dalam kemaslahatan untuk melayani umat dan bangsa Indonesia yang multi-ras dan budaya ini. Apalagi telah ditegaskan bahwa PKS adalah partai dakwah, dimana dakwah itu sendiri memiliki karakter terbuka. Seperti biasa, PKS lebih mengedepankan bukti dan kinerja nyata dalam melayani umat meskipun sebagian pihak berupaya memanfaatkan celah issu untuk menghadang laju Partai Islam ini.

Dakwah sebagai sebuah keterbukaan sebetulnya tidak sulit untuk dipahami sekalipun oleh orang awam. Rasulullah sendiri membawa Islam dengan keterbukaan. Jika Islam ini ekslusif dan hanya untuk kelompok-kelompok tertentu saja, niscaya Islam tak akan pernah sampai di tangan kita. Bukankah Islam datang di tengah kaum yang paganis saat itu. Kemudian hasil dari interaksi Islam secara kontinyu dengan masyarakat Quraisy yang penyembah berhala perlahan namun pasti menarik satu per satu suku Quraish menjadi pendukung, penganut, dan pembela Islam. Bahkan yang atas kehendak Allah tidak masuk Islam seperti Abu Thalib pun menghabiskan hidupnya untuk melindungi dan membela Muhammad saw. dari makar orang-orang kuffar. Peristiwa-peristiwa lain yang menjadi bukti bolehnya berkoalisi dengan kekuatan-kekuatan non Islamis sudah diulas pada tulisan sebelumnya berjudul "Tak Sekedar Partai Islam, Tapi PKS Partai Dakwah". Oleh karena itu, seandainya pun dikemudian hari akan terjadi koalisi antar PKS dan PDI-P, maka sungguh hal itu sesuatu yang pernah dilakukan Rasulullah saw. Apalagi di PDI-P juga banyak orang Islam.

Beberapa pihak juga mencoba menusuk PKS dari keputusannya menyelenggarakan acara Mukernas di pulau Bali. Mereka berargumen bahwa dengan penyelenggaraan Mukernas di Bali, maka PKS telah berkompromi dengan berbagai bentuk kemaksiatan. Seolah, Bali yang dengan segala keindahannya bukanlah sebuah pulau yang tak pernah Allah ciptakan. Sehingga tidak layak untuk dakwah Islam masuk ke sana. Kelompok yang dengki ini lupa bahwa Rasulullah di utus di tengah-tengah masyarakat jahiliyah yang berlumur kesyirikan dan penyakit sosial yang kronis.

Mengenai tudingan ini, DPP PKS telah mengeluarkan bayanat atau penjelasan yang mengungkap latar belakang dipilihnya Bali sebagai lokasi Mukernas PKS 1-3 Februari 2008. Isinya berupa 2 sisi pertimbangan secara internal maupun eksternal, yaitu sebagai berikut:

Alasan Internal:

  1. Mengokohkan dakwah Islam di Bali dan menegaskan komitmen dakwah kita, bahwa seluruh jengkal tanah air Republik Indonesia adalah teritori yang utuh dari medan dakwah PKS.
  2. Mengokohkan posisi kader PKS di Provinsi Bali yang berjumlah sekitar 5.775 orang dan kader yang berjuang di daerah-daerah minoritas.
  3. Mengokohkan posisi minoritas ummat Islam di Bali yang jumlahnya sekitar 323.853 (9%) dari 3.442.600 orang penduduk Pulau Bali.
  4. Mengokohkan soliditas dan mobilitas PKS serta daya jangkau dakwah kita ke seluruh penjuru tanah air Republik Indonesia.

Alasan Eksternal:

  1. Menegaskan pengakuan PKS kepada pluralitas dan keanekaragaman agama, suku dan budaya bangsa Indonesia, dan berupaya menjadikannya sebagai sumber kreativitas kolektiv kita sebagai bangsa.
  2. Dalam konteks keIndonesiaan, kehadiran PKS di Bali juga merupakan penghargaan kepada minoritas dan komitmen PKS untuk memberikan keadilan bagi semua warga Negara Republik Indonesia tanpa membedakan agama, suku dan golongannya.
  3. Menegaskan komitmen PKS untuk ikut serta menciptakan perdamaian di seluruh wilayah Republik Indonesia, dan mengakhiri segala bentuk penggunaan kekerasan dan terorisme atas nama agama, mengakhiri konflik antar agama serta mempertahankan Bali sebagai halaman rumah Indonesia yang damai dan tentram.
  4. Menegaskan komitmen PKS untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dua alasan di atas sungguh sangat terang seterang matahari di siang bolong. Hanya kelompok yang besar kedengkiannya saja yang tak pernah puas memojokkan PKS meski kebenaran telah nyata padanya. Oleh karena itu, pada hakikatnya berbagai issu dan tuduhan miring kepada PKS terpatahkan dengan penjelasan di atas.

Yaitu, bahwa koalisi Merah-Putih antara PKS dan PDI-P yang dibesar-besarkan sesungguhnya hanyalah baru sampai sebatas wacana saja, serta sebagai wujud kesiapan PKS untuk bekerjasama dengan siapa saja dalam kemaslahatan dan kebaikan. Sementara tuduhan bahwa PKS telah berkompromi dengan kemaksiatan sungguh keliru besar. Yang benar tujuan PKS menggelar hajat di pulai Dewata itu adalah untuk memantapkan eksistensi dakwah Islam.[]

February 14, 2008

Wajah Seram VD

Filed under: NASEHAT

WAJAH SERAM VALENTINE’S DAY


Valentine’s Day atau dikenal hari kasih sayang tiba-tiba dianggap sebagai acara paling penting bagi kalangan muda-mudi. Berbagai prosesi pesta pora dan hura-hura selalu mewarnai secara kuat hajatan satu tahunan ini. Bahkan di Inggris 14 Februari dicanangkan sebagai The National Impotence Day atau hari impoten nasional yang bertujuan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap ancaman impotensi 2 juta pria Inggris. Sementara di AS lebih parah lagi. tanggal 14 Februari ditkukuhkan sebagai The National Condom Week alias ‘pekan kondom nasional’ sebagai aksi nyata kampanye nasional penggunaan kondom untuk mencegah mewabahnya HIV/AIDS yang pertumbuhannya di AS semakin sulit dibendung akibat budaya free-sex di negeri Paman Sam itu.

Baru-baru ini hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh sebuah universitas di Thailand sangat menggemparkan dunia. Berdasarkan jaring pendapat yang melibatkan 2.400 remaja Bangkok terkait perayaan hari valentine menunjukkan bahwa 27% dari mereka akan merayakan hari ‘kasih sayang’ itu dengan melakukan hubungan intim dengan pasangannya. Artinya, tidak kurang 1 dari 4 ramaja Thailand sudah bersiap-siap melakukan pesta seks di hari yang sangat familiar bagi kalangan remaja itu.

Bahkan setahun sebelumnya di negara yang sama, 1 dari 3 gadis remaja negeri gajah Putih itu menganggap bahwa Hari Valentine sebagai waktu yang tepat untuk bercinta serta melepaskan keperawanan mereka, Demikian pula dengan jajak pendapat yang dilakukan oleh Assumption University yang mengguncang berbagai kalangan di Thailand quartal pertama 2007 lalu. Hasil jajak pendapat terhadap 1.578 gadis usia belasan tahun itu menyatakan bahwa sepertiga dari mereka berencana melakukan hubungan seks di Hari Valentine bila pacar mereka memintanya.

Tidak jauh berbeda dengan hasil jajak pendapat Assumption University, survey lain yang dilakukan Universitas Thai terhadap 1.222 gadis remaja menyebutkan bahwa 11 persen dari mereka berencana menyerahkan keperawanannya bertepatan dengan malam Valentine.

Lantas bagaimana dengan di Indonesia?? Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia ini nampaknya memang para peniru budaya Barat yang fanatik. Hingga saking fanatiknya banyak dari kalangan generasi penerusnya berpola pikir pragmatis dalam menyerap budaya asing, yeng jelas-jelas tidak mencerminkan tata nilai keislaman dan budaya ketimuran yang kental dengan nilai kesopanan. Kalangan remaja mengadopsi budaya Barat yang mengangungkan syahwat tanpa berupaya melakukan filter atau screening. Akibatnya, budaya yang nampak ‘wah’ seperti perayaan VD ini di telan mentah-mentah meski menerjang pagar-pagar keimanan seorang muslim. Dengan dukungan kampanye industri media yang sangat gencar, perayaan VD di negara tercinta ini semakin parah dan memprihatinkan. Hasilnya bisa disaksikan dari data-data penelitian yang sungguh sangat menyedihkan.

Fenomena sex on valentine dibenarkan oleh dr. Andik Wijaya SMSH, seorang Seksolog dari Surabaya. Ia menuturkan bahwa sekitar tahun 1999, pernah diundang oleh sebuah hotel berbintang di Surabaya untuk menghadiri pesta Valentine’s. Bonusnya adalah para undangan boleh check-in selama sehari bersama pasangan dengan jaminan tak akan di-cek identitas pasangannya (suami istri atau bukan).

Salah seorang penulis, Samsul Ma’arif, pernah melakukan survei terhadap remaja pinggiran Kota Bandung seperti Cimahi, Batujajar, Padalarang, dan Lembang menjelang Valentine’s Day di tahun 2004, Dengan dibantu Lembaga Telaah Agama dan Masyarakat (eL-TAM) sebanyak 500 angket disebarkan ke siswa-siswi tingkat SMA di daerah tersebut. Hasilnya sungguh sangat mengejutkan!

Dari 413 responden yang menjawab angket secara "sah", sebanyak 26,4% mengaku lebih suka merayakan Valentine bersama pacar atau kekasih mereka dengan jalan-jalan, makan-makan, lalu berciuman yang berujung kepada kegiatan seks bebas. Fakta ini diperkuat oleh hasil riset sebuah lembaga sosial di Kota Bandung yang melakukan riset dan survei terhadap perilaku seks di kalangan remaja Kota Bandung serta beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Menurut lembaga Family Health International (FHI) itu, hasil survei menunjukkan bahwa 54% remaja Kota Bandung pernah berhubungan seks. Di susul kemudian berturut-turut Medan (52%), Jakarta (51%), dan Surabaya (47%). Hasil survei yang menggemparkan ini pernah dimuat di harian Kompas, 25 Januari 2006.

Begitulah potret perayaan VD di negeri ini. Tidak kalah mengerikan bukan? Jika di tahun-tahun ‘baheula’ saja sudah seperti itu wajahnya? Bagaimana dengan perayaan VD di tahun 2008 ini? Sedih membayangkannya. Semoga malam ini Allah tidak menurunkan azab dan kemurkaannya akibat ulah ratusan juta pasang manusia di seluruh dunia yang melakukan pesta seks dan kemungkaran. Dan patutlah Dunia Islam bersedih dan semakin terhenyak ketika menyaksikan remaja-remaja muslim kini kian hari semakin buta dengan turut men-skaral-kan perayaan ini dengan mengumbar syahwat dan seks bebas secara lebih berani dan vulgar.

Nyatalah hasil dari misi besar yang pernah dikemukakan Samuel Zweimer dalam konferensi gereja di Quds (1935) yang mengatakan : “Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim. Sebagai seorang kristen tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas yang hanya mengejar kepuasan hawa nafsu”.

Lantas apa yang akan kalian lakukan wahai para penyeru dakwah dengan fakta yang mengerikan ini?? Bukankah kalian adalah pelita yang menerangi umat? Pemimpin bagi diri dan kaumnya yang menanti dan membutuhkan cahaya dan hidayah? Mungkin kita belum maksimal mengerahkan pengorbanan untuk menuntun mereka sehingga mereka malah memilih jauh dengan Islam dan mengikuti millah orang-orang yang sesat.

Ayo singsingkan lengan baju untuk membimbing umat ini kembali dalam kasih sayang Allah, Dzat yang jauh lebih layak dicintai dengan cinta sejati. Bukankah kita ingin umat ini mengetahui, bahwa mereka lebih kita cintai melebihi kecintaan kita pada diri sendiri??


February 12, 2008

Rahasia Keajaiban Sedekah

Filed under: NASEHAT, DARI HATI

RAHASIA KEAJAIBAN SEDEKAH


Hari ini saya membuka friendster. Salah seorang sahabat mengirimkan sebuah nasehat yang membuat hati tertegun dan mata ini berkaca-kaca. Ia mengirimkan sebuah ’surat cinta’ dari Rasulullah saw. Isi suratnya sebagai berikut;

Rasulullah SAW pernah berkata, bahwa setiap masuk pagi, ada dua malaikat mengajukan permohonan mereka kepada Allah SWT. Malaikat pertama berdoa:”Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya”. Yang kedua berdoa:” Ya Allah jadikanlah semakin tidak punya orang yang pelit terhadap hartanya.”

Berbicara mengenai balasan dari Allah atas sedekah ataupun infaq yang telah kita keluarkan, sungguh kita butuh keyakinan yang sempurna, bahwa Allah akan mengganti dengan berlipat-lipat dari arah yang tak pernah kita sangka-sangka sebelumnya. Bukankah Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya? Berikut ini adalah sekelumit pengalaman yang mudah-mudahan bermanfaat buat ikhwah sekalian.

Alhamdulillah, saya sekeluarga sejak beberapa bulan lalu belajar menguatkan keyakinan itu, bahwa Allah akan memberikan ganti yang lebih baik bagi orang-orang yang menginfakkan hartanya. Dan dengan pengharapan yang besar kepada Allah bahwa Dia pasti akan memenuhi janjinya tanpa menunggu waktu yang lama. Saya dan istri juga mulai belajar merutinkan sedekah baik dikala lapang dan sempit. Dengan nilai besar ataupun kecil, dengan jalan menghadiahi orang tua atau saudara. Meski tidak seberapa namun kami belajar untuk mengasah keikhlasan semata karena Allah. Dan dengan jalan menyisihkan infaq untuk fii sabilillah. SubhanAllah, keyakinan itu semakin kuat. Dan janji Allah demikian nampak jelas. Salah satunya adalah pada aksi solidaritas Palestina untuk warga Ghaza yang lalu.

Saya dan istri memang orang yang berpenghasilan utama dari gaji yang kami terima setiap akhir bulan. Beberapa penghasilan dari usaha lain (memang sudah menjadi komitmen) sementara tidak kami masukkan dalam penghasilan keluarga. Praktis kami menghidupi diri dengan gaji bulanan tersebut. Maka, kejadian uang habis sebelum jatuh tanggal menjadi hal yang lumrah dan biasa. Tapi kami tak berputus asa, bahkan kami makin semangat untuk berinfaq sekaligus menguatkan keyakinan terhadap janji-janji Allah.

Saat aksi Palestina 27 Januari lalu, kondisi kantong keluarga memang sedang kurang bersahabat. Baru 3 hari terima gaji, cuma tersisa beberapa rupiah saja. Bukan karena dibelanjakan konsumtif, karena kebetulan bulan Januari itu saya mengembangkan usaha yang terpaksa harus mengambil sebagian besar penghasilan bulanan yang biasanya saya terima. Sebagian sisanya sudah pasti dibelanjakan untuk mujahidah kecil kami, Safiya Salwa Syahidah, yang saat ini menginjak usia 10 bulan. Namun, atas dasar cinta dan empati kepada saudara seiman di Ghaza, kami sekeluarga berangkat ke Monas dengan semua bekal maal yang masih tersisa. Ada beberapa lembar uang kertas yang tersumpal dikantong celana. Sayangnya hanya 2 lembar yang signifikan nilainya. Beberapa yang lain hanya cukup untuk membeli makanan sederhana dan air minum untuk kami saat aksi siang harinya, termasuk buat Salwa. Itu pun mungkin tidak cukup.

Namun, saya sudah meniatkan untuk menginfaqkan 1 lembar dari 2 lembar yang cukup berharga itu, (jika tak layak disebut SANGAT berharga). Istri awalnya sedikit agak ragu, mengingat penghasilannya yang beberapa hari lagi keluar sudah ter-pos-pos sedemikian rupa. Sementara untuk melewati satu bulan kedepan masih sangat panjang. Sehingga sepeser dari uang yang tersisa menjadi sangat berarti. Sampai saat aksi solidaritas untuk Palestina itu lewat separuh jalan, istri masih berat hati. Namun bayang wajah duka lara saudara-saudara di Ghaza membuat menitik air mata ini. Saya coba terus meyakinkan istri, bahwa Allah pasti akan mengganti dengan yang jauh lebih banyak. Apalagi mengeluarkan sedekah karena Allah di kala sempit. Allah pasti tak akan membiarkan begitu saja hamba-Nya yang punya ar-rajaa’ dan al-hub kepada saudaranya seiman.

Aksi itu sudah sampai dipenghujungnya, kami pun bersiap melangkah pulang seraya menunggu bus umum yang menuju ke Kota Tangerang. Saya merogoh saku celana dan seketika terhenyak, ternyata kami belum berinfak. Saya genggam beberapa lembar uang kertas di tangan. Dan kutatap wajah istri untuk meminta persetujuannya mengambil satu diantara 2 lembar uang yang sangat berharga itu, sebagaimana yang dari awal sudah diniatkan. Sementara 1 lembar lagi kami pakai untuk ongkos naik bus. Akhirnya, istripun mengangguk tanda setuju.

Saya pun bersyukur. Karena ‘pasukan pengumpul’ infaq dari panitia aksi sudah sangat jauh dari posisi kami, maka sembari meraih Salwa saya mendekati beberapa panitia petugas medis Aksi yang kebetulan sedang berhenti beberapa puluh meter di dekat kami. Setelah sejenak kami beri penjelasan bahwa kami terlupa belum infaq, maka petugas medis bersedia menerima titipan tersebut dari kami. Salwa yang menggenggam uang itu, dan itu pertama kali baginya berlatih untuk berinfaq. Dalam hati, ucapan ‘bismillah’ saya kuatkan saat jemari mungil Salwa melepaskan satu lembar uang berharga itu. Dan akhirnya kami pulang dengan hati yang tentram, penuh syukur, dan berserah diri kepada Allah. Semoga sedikit dari rizki yang kami infaqkan bisa memberi manfaat untuk anak-anak Ghaza yang teraniaya dan tak mampu membeli susu.

Janji Allah itu tak pernah meleset dan ingkar. Allah memenuhi janji-Nya dengan cara-caranya sendiri. Belum genap 24 jam semenjak aksi itu, dari arah yang tak disangka-sangka, lewat tangan istri, Allah SWT memberikan ganti sejumlah uang sama persis dengan nilai uang yang kami infaqkan sehari sebelumnya. Saat istri menyampaikan kabar itu, mata saya berkaca-kaca. “Subhanallah, Engkau Maha menepati janji ya Allah”. Hati saya bergemuruh, bukan karena uang yang kami terima itu. Namun karena untuk yang kesekian kalinya bagi kami, Allah memenuhi janji-Nya secepat kilat.

Tidak sampai disitu, dari uang itu kami pun sepakat untuk menyedekahkan sebagiannya. Subhanallah, 10 hari kemudian lewat tangan istri kembali, lewat jalan yang tak disangka-sangka Allah menggantinya 7 kali lipat dari sebagian yang kami infaqkan. Dengannya kami pun menyedekahkan sebagian lagi dari yang 7 kali lipat itu, dan 2 hari berikutnya Allah yang Maha Kaya menggantinya 10 kali lipat dari yang kami sedekahkan. Padahal biasanya kami hanya menerima penghasilan dari gaji tetap bulanan saja yang tak ‘mungkin’ bertambah di tengah jalan.

Memang Allah benar-benar mengganti sedekah hamba-Nya dengan berlipat-lipat keberkahan. Bahkan di pagi ini, saya mendapatkan kabar gembira lewat telepon dari seorang ikhwah yang bekerjasama mengelola sebuah usaha baru yang saya jalankan. Bahwa usaha yang dibuka hari pertama dihari kemarin menunjukkan optimisme keuntungan yang sangat menjanjikan. Alhamdulillah.

Terima kasih yaa Rabbana, mudah-mudahan Engkau anugerahkan kepada kami dan saudara-saudara kami rezeki yang melimpah lagi berkah. Agar kami bisa kembali bersedekah (dengan lebih banyak) untuk saudara-saudara kami lainnya yang Engkau uji dengan kekurangan harta dan ketakutan. Ya Allah, sayangi dan kasihilah saudara-saudara kami di Ghaza dengan kuasa-Mu. Lindungi dan selamatkan mereka dari orang-orang yang dzalim lagi aniaya.

Ya Allah Dzat yang Maha Perkasa, kami beriman atas janji-janji-Mu. Dan semakin kuat atas keyakinan kami, bahwa iman, ukhuwah, dan rezeki di tangan hamba-Mu tak pernah Engkau sia-siakan. Engkau pasti bersama kami dengan keimanan kami, dan Engkau pasti menjadi Penolong kami dengan persaudaraan kami. Tak ada nilai yang kecil di sisi Engkau, ketika sedekah ini dibalut dengan keikhlasan dan cinta atas nama-Mu.

February 8, 2008

Tak Sekedar Partai Islam (2)

Filed under: SIYASAH

TAK SEKEDAR PARTAI ISLAM, TETAPI PKS PARTAI DAKWAH (bagian 2)

 

Pasca Mukernas PKS tanggal 1-3 Februari 2008 lalu, media digegapgempitakan oleh berbagai reaksi masyarakat terkait beberapa komitmen yang diputuskan PKS. Pemberitaan miring dari kelompok-kelompok tertentu berseliweran di dunia maya. Dengan gaya bahasanya masing-masing mereka mencoba memojokkan PKS atas komitmennya menjadi partai yang lebih terbuka terhadap semua kalangan, termasuk bagi masyarakat Indonesia yang beragama non-Islam. Sebagiannya juga mencoba mempersoalkan wacana koalisi ‘merah-putih’ antara PKS dengan PDI-P yang sesungguhnya baru sekedar bahasa silaturrahim para petinggi PKS ketika berkunjung ke Puri Satria untuk ‘kulonuwun’ dengan Walikota Denpasar Anak Agung Puspayoga yang memang berasal dari PDI-P.

PKS sebagai Partai Dakwah

Dengan demikian bisa ditarik sebuah benang merah bahwa bekerjasama dengan kalangan di luar Islam adalah sebuah tuntutan humanisme dan Islam yang rahmatan lil’alamin. Dan sejarah Islam telah membuktikannya di abad 16 lalu bagaimana kejayaan Islam terbentang luas dari Arab hingga ke Eropa dan Afrika. Dan sejarah juga memberikan pelajaran, bahwa ketika kita gagal bekerjasama membangun kemaslahatan maka yang terjadi adalah sebaliknya. Kekuatan di luar Islam akan senantiasa membidik, mengintai, dan merongrong serta memecah belah Islam. Bahkan sampai hancur berkeping-keping sebagaimana hancurnya kekhilafahan Ustmani di tangan orang-orang kuffar. Padahal menurut catatan sejarah, Perancis dan Inggris yang menjadi lawan Khilafah Turki pada PD I, sebelumnya adalah sekutu dekat Turki dalam kerjasama ekonomi dan militer.

Nah, kembali kepada esensi persoalan utama. Kenapa PKS tidak menutup pintu untuk berkoalisi dengan PDI-P (sebagaimana santer dimuat diberbagai media massa dan internet) yang dikenal dengan partai sekuler??

Jika mencermati tulisan sebelumnya mungkin sudah sedikit gamblang. Bahwa Islam saja yang digdaya di tangan khalifah melakukan kerjasama dengan kekuatan-kekuatan kuffar, apalagi PKS yang masih baru tumbuh dalam kancah politik Indonesia? Selain itu harus di akui dengan jujur bahwa PDI-P bukanlah kekuatan kuffar yang membidik umat Islam secara prinsipil. Warna perjuangannya memang kental diwarnai dengan ‘ideologi merah’ yang dipengaruhi tokoh-tokoh penggeraknya. Namun, bukankah di kalangan mereka juga banyak yang muslimnya? Jika Khilafah saja bekerjasama dengan kekuatan yang 100% kuffar, apalagi PKS dengan PDI-P yang jelas-jelas juga banyak orang Islamnya?

Jika sebagian kalangan menilai bahwa keputusan Mukernas PKS menjadi partai yang lebih terbuka dan siap membuka kran koalisi dengan PDI-P adalah pilihan konyol dan pragmatis untuk meraih kekuasaan, maka pandangan tersebut sangatlah keliru. PKS adalah Partai Da’wah yang segala sepak terjangnya didasarkan untuk kemaslahatan umat serta demi terbangunnya pemahaman Islam menjadi lebih baik lagi dikalangan masyarakat umum Indonesia. Sebagai partai politik PKS secara tegas meyakini bahwa melayani umat secara profesional, amanah, dan bersih adalah tuntutan Islam itu sendiri. Apakah yang akan dilayani itu cukup yang ber-KTP Islam saja? Atau yang berjenggot, bersarung, bersurban, atau yang di lemarinya terdapat bendera hitam bertuliskan ‘lailahaillallah’ saja? Tentunya tidak. Sebab Islam datang untuk menebarkan kebaikan dan kemaslahatan untuk semua umat manusia tanpa pandang bulu.

Al-Qur’anul karim menyebutkan bahwa manusia Allah ciptakan dengan berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan berbeda-beda sebagaimana firman-Nya:

"Wahai manusia, Kami telah menciptakan kamu laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal satu atas yang lain. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Tuhan adalah yang paling bertaqwa kepada-Nya". (Q.S. Al-Hujurat: 13).

Allah SWT juga berfiman,

Jikalau Rabb-mu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu (yaitu para rasul as), dan untuk (perbedaan pendapat) itulah Allah menciptakan mereka, kalimat Rabb-mu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam itu dengan Jin dan Manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS. Hud: 118-119)

Dua ayat di atas menjadi sebuah sunnatullah bahwa manusia itu berbeda-beda, termasuk dalam pijakan ideologi politiknya. lantas apakah gara-gara mereka tidak berasas Islam mereka telah keluar dari kodrat sebagai makhluk Allah, dan tak layak lagi untuk disentuh dengan nilai-nilai dakwah? Jikalau persepsi itu benar adanya bahwa mereka yang berideologi Islam saja yang layak untuk dijadikan kawan, niscaya Allah SWT tak akan pernah memberi rizki dan kehidupan bagi makhluknya yang tidak beriman. Itulah fakta keragaman yang tak bisa dipungkiri. Tanpa keragaman niscaya tak akan pernah dikenal sebutan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Sementara dalam hal bekerjasama diantara umat manusia yang tidak berideologi Islam, maka salah satu hadits Rasulullah saw. cukup menjadi bukti bahwa Islam tidak mengharamkan bekerjasama dengan orang-orang non-Islam, apalagi kalau hanya orang sekuler yang masih bertuhan. Anas berkata: “Rasulullah SAW telah melakukan perjanjian (mempersekutukan) antara Quraisy dan al-Anshar di rumahnya di Madinah” (HR Muslim: bab muakhooh: 16/82)

Dalam Islam, musyarokah atau koalisi politik disebut juga dengan at-tahaluf as-siyasi, yang secara etimologi artinya adalah perjanjian atau sumpah. Dikatakan oleh Ibnu Al-Ashir dalam An-Nihayah fi Gharibil Hadits; beliau menyebutkan bahwa at-tahaluf adalah saling mengikat dan saling berjanji dalam tolong menolong, bantu membantu dan kesepakatan.

Peristiwa musyarokah dalam Islam yang melibatkan kalangan muslim dengan non-muslim sebetulnya bukan barang baru. Di zaman Rasulullah hal ini pernah dilakukan. Bahkan ketika di Makkah, Rasulullah sendiri senantiasa ‘berkoalisi’ dengan Abu Thalib pamannya yang tak pernah masuk Islam hingga ajalnya. Abu Thalib lah yang tak henti-hentinya membela dan melindungi Rasulullah dari masyarakat Quraisy yang mengincar beliau dan eksistensi da’wahnya.

Beberapa peristiwa yang menjadi contoh musyarakah ini adalah peristiwa kabilah-kabilah yang memperebutkan kepemimpinan di Makkah dalam mengurusi kiswah, pembawa bendera peperangan, dan penjamuan kepada tamu-tamu ka’bah. Salah satu peristiwa koalisi yang diapresiasi oleh Rasulullahi SAW adalah peristiwa Hilfu al-fudhul. Rasulullah mengatakan: “Seandainya aku di undang (dalam Hilful Fudhul) di masa Islam maka aku akan memenuhi (undangan)nya”. Sebagaimana diketahui bahwa Hilful Fudhul ditegakkan untuk menolong orang-orang yang terdzalimi hak-haknya.

Peristiwa lain yang menyejarah adalah peristiwa perjanjian damai Rasulullah beserta para sahabat dengan kaum Yahudi Bani Quraidzah di Madinah demi menciptakan keamanan bersama dan menegakkan keadilan. (Sirah Nabawiyah Syeikh al-Mubarakfuri).

PKS sebagai partai da’wah senantiasa mengedepankan khusnudzon kepada semua pihak, dengan latar belakang apapun. Baik latar belakang agama maupun pilihan politiknya. Bahwa setiap orang atau kelompok memiliki potensi berbuat kebaikan. Bukankah kita sering disodori pertanyaan yang kadang tidak mudah untuk memberikan jawaban yang pas, kenapa ada orang Islam perilakunya buruk dan suka menfitnah, sementara ada orang non-muslim tetapi baik hati dan dermawan bagi lingkungan masyarakatnya? Karenanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, PDI-P pun masih tetap berpotensi melakukan kebaikan. Demikian pula dengan partai-partai yang lain.

Lantas kenapa dengan PDI-P bukan dengan partai berasas Islam atau berbasis massa Islam saja? Tidak benar bahwa PKS hanya membuka pintu musyarakah atau kerjasama dengan PDI-P saja. Pertengahan 2007 lalu PKS juga membangun silaturrahim intensif dengan PPP pimpinan Hamzah Haz. Bahkan kunjungan balik satu sama lain cukup hangat diberitakan terkait issu rencana tandingan untuk menghadang koalisi Golkar-PDIP di Medan dan Palembang beberapa bulan lalu. Diberbagai daerah, PKS menunjukkan keragaman dalam menentukan dengan siapa mereka memilihan untuk berkerjasama.

Koalisi Berpijak pada Paradigma Dakwah

Untuk itu, yang menjadi perhatian PKS adalah bukan dengan siapa harus berkoalisi, namun bagaimana koalisi dapat menghasilkan maslahat yang lebih baik bagi umat ini. Dengan siapapun dan dengan latar belakang apapun karena PKS adalah partai dakwah yang harus menjadikan siapapun sebagai ladang dan mitra dakwah. Karenanya yang menjadi pijakan koalisi PKS dengan pihak lain adalah parameter-parameter dakwah dan kemaslahatan umat. Secara panjang lebar, penjelasan mengenai parameter-parameter musyarakah telah diulas oleh Drs. Al-Muzammil Yusuf dalam sebuah artikel berjudul "Musyarokah : Paradigma, Strategi dan Tolok Ukur".

Sejalan dengan apa yang menjadi landasan koalisi PKS, Imam Syafi’I dalam Mughni Al-Manhaj menegaskan bahwa yang menjadi ukuran dalam boleh dan tidaknya bersekutu dengan non-muslim, atau dalam konteks ini kalangan sekuler, adalah mengenai kemaslahatan umat. Sehingga dengan musyarakah ini diharapkan nilai-nilai maslahat yang berlaku umum dapat dimaksimalkan dan dibangun dengan lebih nyata.

Apabila berkoalisi dalam konteks politik adalah sebuah kelaziman. Maka hubungan interaksi dengan kalangan luar yang tak berideologi Islam menjadi sunnah yang harus dijalankan dalam kacamata da’wah. Sebab, da’wah memiliki karakter terbuka. Terbuka bagi siapa saja entah bagi mereka yang muslim abangan ataupun mereka yang telah berkeyakinan di luar Islam. Dan demikian pula Rasulullah beserta para sahabat memberikan tauladan. Sebab Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Itulah PKS sebagai partai da’wah, dan seterusnya akan menjadi partai da’wah, serta tidak sekedar sebagai partai Islam saja.

 

(selesai) 

Tak Sekedar Partai Islam (1)

Filed under: SIYASAH

TAK SEKEDAR PARTAI ISLAM, TAPI PKS PARTAI DAKWAH (bagian 1)


Pasca Mukernas PKS tanggal 1-3 Februari 2008 lalu, media digegapgempitakan oleh berbagai reaksi masyarakat terkait beberapa komitmen yang diputuskan PKS. Pemberitaan miring dari kelompok-kelompok tertentu berseliweran di dunia maya. Dengan gaya bahasanya masing-masing mereka mencoba memojokkan PKS atas komitmennya menjadi partai yang lebih terbuka terhadap semua kalangan, termasuk bagi masyarakat Indonesia yang beragama non-Islam. Sebagiannya juga mencoba mempersoalkan wacana koalisi ‘merah-putih’ antara PKS dengan PDI-P yang sesungguhnya baru sekedar bahasa silaturrahim para petinggi PKS ketika berkunjung ke Puri Satria untuk ‘kulonuwun’ dengan Walikota Denpasar Anak Agung Puspayoga yang memang berasal dari PDI-P.

Oleh karena itu, tulisan ini merupakan sedikit sumbangsih untuk menjadi tsaqofah bersama, baik bagi kader PKS ataupun masyarakat umum, bahwa apa yang menjadi komitmen-komitmen PKS dari Mukernas-nya di Bali beberapa waktu lalu sedikitpun tidak keluar dari konteks koridor dakwah Islam.

Koalisi dan Keterbukaan Islam

Ketika Perang Dunia meletus di tahun 1918, dimana kekhilafahan Turki bersekutu dengan Jerman, Austria-Hungaria, dan Bulgaria dalam Poros Tengah melawan sekutu yang terdiri dari AS, Rusia, Italia, Perancis, Inggris, dan Kanada, tidak banyak kalangan yang mempersoalkan persekutuan Khilafah Utsmani di Turki. Padahal jika ditilik, penyebab terjadinya Perang Dunia tersebut sama sekali tak terkait dengan kepentingan umat Islam, yaitu disebabkan peristiwa terbunuhnya Pangeran Ferdinand dari Austria oleh sekelompok teroris Serbia di Sarajevo.

Sejarah mencatat bahwa PD I mengakibatkan korban meninggal dengan jumlahnya yang sungguh sangat dahsyat. Kekhilafahan Turki sendiri harus membayar 1 juta nyawa tentara muslimnya yang menjadi korban peperangan. Sementara total korban perang dari kedua belah pihak, baik dari kalangan sipil ataupun tentara, mencapai 9 juta jiwa. Kekalahan Poros Tengah dimana Turki masuk didalamnya bersama Jerman, memang menjadi detik-detik akhir kedigdayaan khilafah Islam yang berpusat di Turki. Hingga pada tahun 1924 kekhilafahan Islam dijatuhkan oleh makar seorang pemikir sekuler Kemal Attaturk dengan dukungan kekuatan-kekuatan berideolagi di luar Islam. Fakta di atas tidak banyak dikupas oleh kalangan umum, termasuk kelompok Islam yang getol mengkampanyekan khilafah.

Yang ingin saya garis bawahi adalah, mengenai ‘persekutuan’ atau musyarakah Khilafah Turki dengan Jerman, Austria, dan Bulgaria. Bukankah mereka semua adalah bangsa kafir yang secara ideologi sangat berseberangan dengan umat Islam? Namun, mengapa khalifah Islam bekerjasama dengan mereka? Apakah dapat dikatakan bahwa Khalifah hanya berkoalisi dengan negara-negara kafir saat PD I meletus saja sementara sebelumnya tidak pernah ada proses kerjasama apa pun? Logika awam kita, tidaklah mungkin sebuah negara, apalagi kekhalifahan Islam, mempertaruhkan pengorbanan yang besar hingga jutaan nyawa melayang tanpa sebelumnya ada kerjasama yang erat. Seperti kita saja saat ini. Kita tidaklah mungkin memberikan bantuan dengan pengorbanan ‘habis-habisan’ untuk seseorang yang tak pernah kita kenali. Apalagi kita ketahui mereka bukanlah saudara seiman.

Jawaban pasti peristiwa di atas adalah karena kekuatan Islam yang besar saat itu bukanlah kekuatan satu-satunya yang berpengaruh dalam tataran dunia internasional. Kekuatan-kekuatan militer yang sangat kuat pada waktu itu juga dimiliki negara-negara kuffar seperti Rusia, Perancis, Italia, AS, dan juga Jerman. Karenanya pilihan berkoalisi dengan kekuatan kuffar adalah keputusan untuk memelihara hubungan harmonis saling menguntungkan dan demi kepentingan menjaga kedaulatan wilayah Islam agar tidak ‘direcoki’.

Mestinya kita bisa memahami keputusan ‘pahit’ sang khalifah tentang persekutuannya dengan negara-negara Non-Islam. Kenapa? karena masyarakat Islam sebesar apapun tidak sepatutnya membatasi diri dengan pergaulan yang sempit. Termasuk dalam hal pergaulan politik internasional. Sejarah memang berbicara fakta, ketika hubungan baik dengan di luar kalangan Islam tidak dijaga dan dipelihara, maka pilihan ‘permusuhan’ oleh kalangan di luar Islam adalah hal yang tidak bisa dielakkan. Akibatnya kekuatan non-Islam tersebut terus berupaya mengerogoti wilayah-wilayah Islam sejengkal demi sejengkal. Apalagi setelah kekalahan Khilafah pada perang Lepanto (1571), khilafah tidak lagi melakukan ekspansi dan hanya mempertahankan wilayahnya. Sayangnya, kemerosotan pemahaman Islam yang luar biasa membuat kekuatan-kekuatan di luar Islam mulai mengincar dan mencabik wilayah-wilayah pemerintahan kekhalifahan Islam.

Pada Perjanjian Carlowitz (1699), wilayah Hongaria, Slovenia, Kroasia, Hemenietz, Padolia, Ukraina, Morea, dan sebagian Dalmatia lepas; masing-masing jatuh ke tangan Venezia dan Habsburg. Ditambah khilafah harus kehilangan wilayahnya di Eropa pada Perang Krim di abad ke-19, dan lebih tragis lagi setelah Perjanjian San Stefano (1878) dan Berlin (1887).

Sekali lagi, kembali kita bisa melihat fakta sejarah diatas, bahwa permusuhan dan pembatasan diri hanya akan merugikan umat Islam dengan segala konteksnya. Padahal selama enam abad kekhilafahan Turki telah menjadi pusat interaksi bangsa Timur dan Barat, dengan kata lain pusat interaksi dan kerjasama antara muslim dan non-muslim. Dan saat itu kekhalifahan menjadi salah satu kekuatan paling kuat di dunia dengan angkatan lautnya yang disegani.

 
(bersambung..) 

February 1, 2008

Agen Intelijen?? (bagian 3)

Filed under: PEMIKIRAN

ISMAIL YUSANTO SEORANG AGEN INTELIJEN (???)

 
Pada bagian ke-2, telas diulas alasan pertama kenapa judul di atas adalah ‘Ismail Yusanto Seorang Agen Intelijen (???). Pada bagian terakhir ini, dijelaskan 2 hal lain yang menjadi latar belakang kenapa kata ‘agen intelijen’ itu muncul. Disamping itu, bagian ini juga akan menjadi pengantar tulisan berupa beberapa fakta sejarah yang patut menjadi bahan renungan semua pihak bagaimana sepak terjang operasi intelijen yang merugikan umat Islam Indonesia (akan ditulis pada artikel terpisah). Berikut adalah lanjutan ulasan terhadap ‘3 hal’ yang telah diawali di bagian sebelumnya.

Kedua, Kepergoknya Kader HTI di Sarang Intelijen

Medio 2007 lalu, salah seorang tokoh sekaligus petinggi sebuah Partai Islam di Indonesia yang di undang BIN untuk dimintai keterangan terkait ‘next plan’ seandainya Partai Islam tersebut berhasil memimpin negara Indonesia, memergoki salah seorang yang ia kenal betul sebagai aktivis dan kader HTI. Dengan kalimat lugas, petinggi Partai Islam itu menyapa "Antum di sini?" Dengan rada gugup orang tersebut merespon dengan basa-basi. Secara jujur penulis tidak cukup banyak data dan informasi akan detil dari berita ini, namun sumber yang terpercaya keamanahannya cukup menjadi jaminan bahwa kejadian itu benar adanya.

Mari kita coba mengkalkulasi kenapa seorang kader HTI itu bisa berada di sarang intelijen. Ada kepentingan apa dirinya berkeliaran di sana. Alangkah baiknya penulis mencoba mereka-reka dan membuka wacana, dan kemudian biarlah pihak HTI yang menyampaikan tabayun dan penjelasan atas ‘analisa krece’ tulisan ini. Penulis sangat berlapang dada jika ada pelurusan-pelurusan oleh pihak HTI dari ‘analisa bodoh’ yang penulis kemukakan.

Dunia intelijen merupakan dunia yang sangat confidential dan sangat sulit tersentuh kalangan sipil. Begitulah tabiat dunia intelijen baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Oleh karena itu, orang-orang yang bekerja di sana baik sebagai staff instansi ataupun keadministrasian harus melalui proses yang sangat selektif sekali. Kebanyakan masyarakat awam tidak begitu paham apa dan bagaimana menjadi pegawai di kantor BIN ini. Kondisi ini adalah kenyataan untuk meragukan bahwa kader HTI tersebut disana bekerja hanya sebagai pegawai biasa, bukan seorang agen. Akan tetapi semoga ia benar-benar hanya sebagai pegawai biasa di markas BIN tersebut.

Soalnya jika ia di sana bukan sebagai pegawai biasa, lantas apa yang ia lakukan sehingga ‘berkeliaran’ di sarang macan? Seorang petinggi Partai Islam saja datang ke situ untuk dimintai keterangan (bahasa lainnya di interogasi), terus apa yang dilakukannya kalau bukan ‘ngantor’ disitu? Kalo pun hanya sekedar singgah, kenapa harus di markas intelijen? Jika memata-matai intelijen jelas suatu hal yang tidak mungkin. Masa’ intel dimata-matai sipil, tidak kebalik tuh? Tapi jika dalam rangka ‘bersahabat’ maka hal itu adalah hal yang sangat mungkin.

Persoalan berikutnya, apabila ternyata kondisi yang sebenarnya adalah bahwa kader HTI tersebut adalah seorang agen intelijen, maka masih menyisakan sebuah pertanyaan. Pertanyaannya adalah, apakah keberadaan kader HTI yang berkeliaran di sarang intelijen itu diketahui oleh petinggi HTI dalam hal ini Jubir dan strukturnya? Jika tidak, maka informasi ini cukup positif untuk dijadikan warning agar jajarannya lebih berhati-hati dan mawas diri. Kondisi ini merupakan subuah ancaman yang dapat memecah belah jalan di masa yang akan datang. Bahkan jika keberadaan penyusup ini tak terdeteksi maka lambat laun gerakan HTI akan terperangkap sesuai dengan design dan aksi sang agen intelijen. 

Namun jika jawabannya "Ya", maka bisa diterka bahwa ada interaksi simbiosis mutualisme antara kedua belah pihak, HTI dengan BIN. Terlalu jauh menyimpulkan bahwa HTI adalah bentukan intelijen, namun bukan hal yang mustahil jika telah terjadi deal-deal tertentu yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Apa keuntungan bagi HTI? Yaitu ‘jaminan keamanan’ dalam menyampaikan syi’ar da’wahnya ’sekeras’ apapun merivali ideologi yang dianut negara ini. Sementara keuntungan bagi intelijen, adalah jaminan terpantaunya bahwa gerakan HT di Indonesia tak akan merongrong ideologi yang menjadi pijakan negara Indonesia. Ditambah bahwa keberadaanya akan menjadi senjata untuk mengkonter kekuatan ideolagis lain yang pamornya semakin sulit dibendung dalam kancah perpolitikan nasional. Di beberapa tempat dan kesempatan, kekuatan ideologis ini banyak dikaji kelompok-kelompok nasionalis yang merasa masa depannya terancam dengan keberadaannya. Bahkan kalangan partai-partai besar orde baru yang mengaku nasionalis sudah menjadikannya common enemy demi mengganjal dan menghancurkan arus besar ideologis tersebut.

Hal ini bukan isapan jempol, mengingat berbagai fakta di lapangan gaya da’wah HTI terus saja ‘menyerang’ para aktivis da’wah yang berjuang di mimbar parlemen. Bahkan hampir di berbagai kesempatan shalat Jum’at para khatib yang berasal dari HTI acap kali ‘menyerang’ dan melontarkan wacana bahwa upaya aktivis da’wah yang berjibaku di panggung parlemen ‘terbukti’ sia-sia dan jauh dari rel Islam. Penulis menjadi saksi sendiri hal ini terjadi di berbagai kesempatan sholat Jum’at di beberapa masjid di Jakarta dan Banten. Fakta lain adalah, dalam pengkaderannya di berbagai perguruan tinggi di Indonesia tak bisa dipungkiri HTI membidik mereka yang menjadi simpatisan dan berafiliasi kepada Partai Islam berideologi kuat ini. Bahkan tak jarang dengan cara kotor mereka menjegal para kader dan simpatisan yang baru datang dari daerah dengan berpura-pura menjadi bagian dari Partai Islam tersebut. Memuji-muji tokohnya, mengajak mengkaji buku dan materi yang menjadi referensi. Kemudian pada masa yang sudah tertentu mereka (para aktivis HTI) menyatakan dirinya sebagai aktivis Hizbut Tahrir dan berbalik memojokkan Partai Islam itu sendiri serta mengaku-ngaku bahwa tokoh-tokoh yang pemikirannya banyak di adopsi oleh Partai Islam tersebut adalah tokoh Hizbut Tahrir. Lucu memang, tapi itulah kelicikan yang menjadi fakta. Kejadian ini di alami beberapa rekan dari penulis saat mereka kuliah di perguruan tinggi di Surabaya dan Bandung.

Dengan kata lain, langsung ataupun tidak langsung, penggerogotan ini cukup menguntungkan banyak kalangan terutama mereka kalangan yang ngaku-ngaku orang nasionalis yang haus akan kekuasaan nasional. Kalangan ini takut tergusur oleh gelombang ideologis yang cukup mengurat syaraf di masyarakat Indonesia secara umum. dan phobia serta tidak memahami Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan begitu sejalan dengan kerja BIN yang memang didominasi kalangan yang tak memiliki afiliasi dengan Islam. Bahkan sebaliknya.

Ketiga, Pelatihan Intelijen Aktivis HTI

Situs HTI www.khilafah1924H tertanggal 30 November 2005 menyebutkan bahwa Hizbut Tahrir menyelenggarakan Pelatihan Dasar-Dasar Intelijen bagi para aktivisnya di ’sebuah tempat di Indonesia’. Dalam kesempatan itu menghadirkan mantan Kapala BAKIN Letjend. ZA. Maulani (alm) sebagai narasumbernya. Dalam sisi positif, HTI bisa dibilang selangkah lebih maju dalam menyikapi eksistensi dunia intelijen. Jika kelompok atau gerakan Islam lain masih menjadi bidikan dan sasaran bulan-bulanan rekayasa operasi intelijen, HTI justru malah mengadakan pelatihan dasar-dasar intelijen bagi para aktivisnya. Patut di apresiasi.

Apalagi pelatihan tersebut dinarasumberi oleh mantan orang no.1di BAKIN pada masa pemerintahan BJ. Habibie. Alm Letjend ZA. maulani memang dikenal dekat dengan kalangan Islam. Bahkan orang kepercayaan mantan presiden jenius ini adalah salah seorang yang cukup serius melawan issu Jamaah Islamiyah yang dihembuskan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Dan pembelaanya terhadap Amir Majelis Mujahidin, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, yang disudutkan dan dipenjarakan atas pesanan negeri Paman Sam itu tak perlu diragukan lagi. Bahkan keberpihakannya terhadap umat Islam ditunjukkan dengan penterjemahan bukuStranger Then Fiction: Independent Investigation of 9-11 and War on Terrorism karya Dr. Albert D. Pastore, PhD. yang kemudian diberi judul "Fitnah Itu Akhirnya Terungkap".

Akan tetapi dunia intelijen tetaplah dunia intelijen. Dunia yang yang sulit dijangkau dan dipahami masyarakat sipil. Sebuah dunia yang dalam catatan sejarah sangat tidak bersahabat dengan umat Islam. Tidak dalam rangka menyangsikan keseriusan ZA. Maulani dalam membela Islam, namun biar bagaimanapun selama masa tugasnya sebagai Kepala BAKIN tercatat beliau juga bekerja untuk kepentingan penguasa pada waktu itu.

Bulan Juli-Agustus tahun 1999 sebagai Kepala BAKIN beliau memimpin operasi di Jawa Timur untuk kepentingan menggolkan kembali BJ. Habibie sebagai presiden RI. Seperti yang diungkap SiaR, beberapa pesantren besar seperti Ponpes Langitan (Tuban), Ponpes Sichona Cholil (Bangkalan), dan Ponpes Lirboyo didatangi ZA. Maulani. KH. Hasyim Muzadi yang pada saat itu masih menjabat sebagai ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur membenarkan operasi itu. Beliau mengatakan bahwa  pada bulan-bulan Juni-Juli tahun itu ZA. Maulani rajin mendatangi pesantren-pesantren NU untuk menggembosi suara PKB dan Gus Dur yang akan berpasangan dengan Megawati. "Bahkan setiap pamitan Maulani selalu memberi uang pada para kiai dengan alasan untuk transport," ujar Hasyim Muzadi.    

Sementara itu Ketua Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren Madura KH. Nurudin A. Rachman juga membenarkan operasi Za. Maulani di Jawa Timur, "Benar memang, sekitar Juni lalu pak Maulani rajin datang ke pesantren-pesantren. Dan setiap kali kunjungannya selalu didampingi pengurus Golkar Jatim." ujarnya. Operasi tersebut tergolong sukses. Bahkan menurut Ketua DPW Jatim pada waktu itu, Chairul Anam, operasi yang dilakukan Maulani sudah dilakukan jauh-jauh hari. "Buktinya suara PKB kacau dikantong-kantong NU, tegas Anam. Sampai karena kegeramannya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua PBNU mengusulkan agar mengganti orang-orang BAKIN pada pemerintahan berikutnya. Dan terbukti, ketika Gus Dur menjabat sebagai presiden, ZA. Maulani disingkirkan.

Sekali lagi, uraian di atas bukan dalam rangka meragukan kedekatan dan keberpihakan ZA. Maulani kepada umat Islam. Penulis juga tidak dalam rangka mempermasalahkan isi pelatihan di atas dan berpositif thingking saja karena saat itu kampanye global perang terhadap terorisme yang digalang AS mencengkeram negara-negara berkembang layaknya Indonesia. Satu hal mengganjal yang patut menjadi pertanyaan adalah, apa kaitannya pelatihan di tahun 2005 itu dengan kejadian di sarang intelijen pertengahan tahun 2007 kemarin? Apakah setelah wafatnya ZA. Maulani dengan segala kelebihan dan kekurangannya (dan mungkin beliau tidak ada sangkut pautnya dalam masalah ini), para alumni pelatihan mengalami perkembangan kreativitas secara ‘mandiri’ sehingga dengan cepat bisa menerobos pintu istana intelijen?

Penulis sangat senang sekali jika ada pihak-pihak yang menyampaikan penjelasan dan klarifikasi terkait kegundahan ini. Kenapa? Karena hingga saat ini Badan Intelijen Negara tidak pernah berhenti menggelar operasi-operasinya, baik operasi strategis maupun operasi taktis. Kasus meninggalnya aktivis HAM Munir, dan penyusupan intelijen di Majelis Mujahidin Indonesia beberapa masa lalu adalah bukti bahwa intelijen tidak pernah pensiun, dan terus bekerja dari satu operasi ke operasi intelijen berikutnya. Dan sejarah perjalanan umat Islam Indonesia sejak pasca kemerdekaan memiliki catatan sangat merah terhadap intelijen.

Ketiga hal inilah yang melandasi kenapa penulis menyandangkan kata agen intelijen pada judul di atas. Alasan ke-2 dan ke-3 hanyalah sebuah logika penambah yang perlu disingkap untuk lebih membuka mata, bagaimana seharusnya sang Amir Hizbut Tahrir melontarkan analisanya. Jangan asal menuduh aktivis di luar gerakannya dengan sebutan-sebutan yang buruk. Dengan kedua paparan di atas saja, penulis tidak terlalu tertarik untuk secara gegabah mengatakan bahwa Ismail Yusanto adalah seorang agen intelijen. Dalam konteks ini penulis lebih senang untuk berbaik sangka bahwa Ismail Yusanto adalah seorang yang baik. Dengan jalan ini penulis bermaksud menyadarkan kepada Syeikh Ata’ Abu Rashta agar tidak dzolim mengecap orang lain dengan tuduhan yang buruk.

(selesai)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer