January 24, 2008

Agen Intelijen?? (bagian 2)

Filed under: PEMIKIRAN

ISMAIL YUSANTO SEORANG AGEN INTELIJEN (???)

 
Se-provokatif apapun, itu hanyalah sebuah judul. Akan tetapi pemilihan judul di atas bukanlah sembarang memilih tanpa ada alasan yang jelas. Meski seorang Shakespiere pernah melontarkan "Apalah arti sebuah nama?", akan tetapi sebuah nama tetaplah memiliki makna. Demikian pula dengan judul diatas yang sekilas nampak ‘memerahkan telinga’ atau mungkin sekedar membersitkan tanda tanya. Setelah pada tulisan bagian pertama diulas hal-hal yang sangat memungkinkan menjadi latar belakang ‘pujian bijak’ Syeikh Ata Abu Rashta kepada Erdogan dan Ghul, maka pada bagian kedua akan diketengahkan sebuah wacana awal yang menjadi alasan kenapa muncul sebutan ’seorang agen intelijen?’.

Setidaknya ada 3 hal yang kemudian menjadi pertimbangan kenapa kata tersebut menjadi pilihan yang tepat untuk menjadi bahan muhasabah setiap orang, yaitu:

Pertama, tuduhan Amir Hizbut Tahrir yang menyebut Erdogan dan Ghul sebagai ‘Agen’ AS.

Berbicara soal siapa menjadi agen siapa sesungguhnya sedang membicarakan sebuah ‘lingkaran setan’ yang sangat kompleks. Apalagi yang dituduhnya sosok yang menjadi ikon dan orang yang leading atau memimpin sebuah negara. Jika keberhasilan seorang Erdogan menjadi seorang Perdana Menteri di Turki adalah buah tangan dari Amerika Serikat, maka dapat dipastikan manufernya tak akan lepas dari rekayasa dan grand design para agen intelijen yang disebar oleh AS di negeri pewaris khilafah ini. Kenapa? Karena secara kenegaraan para penguasa politik di Amerika tak akan pernah campur tangan secara langsung dan terbuka untuk mengubah peta politik di negara lain. Akan sangat membahayakan tatanan dunia internasional, dan AS tak akan mengambil resiko dengan ‘perang terbuka’ ini.

Lantas siapa yang bekerja di lapangan untuk memuluskan, apa yang dikatakan oleh Amir Hizbut Tahrir dengan sebutan Agen AS, agar berjalan sukses menaiki tangga kepemimpinan sebuah negara. Jawaban  yang pasti adalah mereka para agen intelijen yang disusupkan. Para agen intelijen inilah yang kemudian melakukan operasi intelijen atas action design yang ditetapkan oleh penguasa politik AS. Sedangkan cara yang dilakukan sangat beragam dari mulai yang paling halus sampai dengan yang paling kasar demi mencapai target dan tujuan, sekalipun harus dengan jalan perang dan pertumpahan darah.

Contohnya sangat mudah, beberapa aksi operasi intelijen yang pernah digelar oleh Amerika Serikat diantaranya adalah upaya penggulingan presiden Soekarno ditahun 1950-an dengan cara mempersenjatai kaum pemberontak. Kemudian operasi intelijen Playa Giron yang juga dikenal dengan Invasi Teluk Babi. Operasi ini dilancarkan oleh Agen AS untuk menggulingkan pemerintahan Fidel Castro di Kuba pada tahun 1961. Siapa pelaksana lapangannya? Mereka adalah orang-orang Kuba di pembuangan yang dibina langsung oleh CIA menjadi para agen intelijen. Akibat kegagalan misi operasi intelijen tersebut, Direktur CIA Allen Dulles dan Wakil Direktur CIA Charles Cabell, keduanya dipaksa mengundurkan diri.

Pada tahun sebelumnya, AS juga menggelar operasi intelijen menggulingkan Perdana Menteri Mohammed Mossadegh (1953) di Iran dan Jacobo Arbenz Gusman (1954) di Guatemala. Sedangkan operasi intelijen yang terbaru adalah operasi yang menimpa Irak dan Saddam Husein di tahun 2003.

Kenyataan lain dari dunia ke-agen-an sebenarnya harus membuat kita berhati-hati melontarkan tuduhan tanpa bukti kepada orang-orang yang nyata dengan kesholihannya, dan nyata dalam pelayanannya kepada umat. Sementara catatan sejarahnya menunjukkan mereka adalah orang-orang yang lurus dan hidup dan besar di lingkungan yang ikhlas menegakkan kalimatullah.

Sah-sah saja jika menyebut Yuri Vladimirovich Andriprov yang memimpin Rusia tahun 1982-1984 adalah seorang agen intelijen. Sebab dia pernah menjabat sebagai Direktur KGB. Atau menyebut Presiden Rusia saat ini, Vladimir Putin, sebagai agen intelijen, karena pernah menjadi agen intelijen KGB di Jerman Timur. Bahkan kemudian pernah menjabat sebagai ketua Dinas Rahasia Rusia FSB atau Federal Security Bureau  pada  Maret 1999 sampai November 1999. Tapi apakah dengan biografinya yang penuh dengan catatan dunia ke-agen-an lantas secara otomatis saat ini dia bekerja untuk KGB. Jika jawabannya belum tentu, maka apalagi sosok pemimpin negara yang track recordnya bersih dari dunia ke-intelijen-an?

Dengan demikian, jika memang Erdogan dan Ghul benar seorang Agen AS, maka rekayasa peta politik di Turki akan anyir dengan aktivitas operasi strategis yang gencar dilakukan oleh agen intelijen yang bekerja untuk Erdogan dan AS. Dan dengan ‘head to head’ berhadapan dengan ‘pejuang’ sekulerisme Turki yang di back-up
penuh kalangan militer. Maka proses pergantian kepemimpinan Turki dipastikan harus berdarah-darah. Sayangnya, fakta itu tak pernah terjadi. Bahkan seharusnya intelijen Barat akan lebih menguatkan posisi sekuler Kemalis yang telah sekian dasawarsa lamanya mengekang dan mendiskreditkan mayoritas muslim Turki, bukan sebaliknya berada dibalik para aktivis Islam yang sebentar lagi akan menggolkan pencabutan Undang-Undang yang melarang Pemakain Jilbab di Kampus-kampus Turki. Bukankah muka Barat saat ini sungguh terang-terangan memusuhi Islam? Dan AS akan bergandengan dengan siapapun yang bisa menikam Islam meski dari belakang. Baik dari kalangan non-Islam maupun kalangan Islam sendiri, termasuk dengan berbagi kelompok yang mengaku-ngaku sebagai gerakan Islam.

Karenanya, secara pribadi penulis menantang Amir Hizbut Tahrir, Syeikh Ata Abu Rashta, dan para juru bicara Hizbut Tahrir di seluruh dunia (termasuk Ismail Yusanto di Indonesia) untuk membuktikannya bahwa duo Erdogan-Ghul adalah agen AS.

Dengan begitu, jika Syeikh Ata Abu Rashta menuduh bahwa Erdogan dan Ghul adalah para Agen AS, maka beliau harus menunjukkan bukti siapa-siapa saja (para agen intelijen) yang bekerja di lapangan untuk memuluskan Erdogan-Ghul ke tampuk kursi kepemimpinan Turki. Atau setidaknya menunjukkan bukti track record
keduanya bekerja melayani AS sebagai agen intelijen. Jika tidak mampu membuktikan, maka suka atau tidak suka, malu atau tidak malu, dan mau ataupun tidak mau, pada dirinya sendiri bersama dengan orang-orang yang menyebarkan berita bohong dari artikel panjangnya yang membidik Erdogan-Ghul, melekat padanya dosa sebagai seorang Agen AS. Menyedihkan memang.

(bersambung…)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer