January 25, 2008

Aksi untuk Ghaza

Filed under: SIYASAH

UNDANGAN AKSI SOLIDARITAS UNTUK RAKYAT PALESTINA

"SELAMATKAN GHAZA!"

Mengundang seluruh rakyat Indonesia, dari berbagai kalangan dan latar belakang apapun, untuk turut serta aksi turun ke jalan menyerukan kepada dunia yang bungkam atas pembantaian dan pembunuhan Israel atas rakyat Palestina. Buktikan bahwa Indonesia adalah negeri yang cinta perdamaian dan empati kepada bencana kemanusiaan.

Bukankah saat tsunami di Aceh beberapa tahun lalu ribuan rakyat Palestina menyumbangkan sebagian apa yang mereka miliki untuk membantu rakyat Indonesia di Aceh?? Lantas apa yang menghalangi kalian saat ini untuk membantu mereka warga Ghaza yang terus saja dibantai dan dibunuh secara perlahan oleh bangsa Yahudi la’natullah? Bangsa yang Allah murkai dan tak pernah mengenal nilai-nilai perikemanusiaan?

Mari bergabung dengan berbagai elemen masyarakat, ormas, dan parpol Islam untuk aksi turun ke jalan, menyerukan pada dunia, bahwa bangsa Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia ini masih ada disisi bangsa Palestina.
 

AKSI SOLIDARITAS UNTUK RAKYAT PALESTINA

AHAD, 27 JANUARI 2008

BUNDARAN HOTEL INDONESIA, JAKARTA

PUKUL: 07.30 - 12.00  WIB

SIAPKAN INFAQ TERBAIK UNTUK RAKYAT PALESTINA: 

"ONE MAN ONE DOLLAR TO SAVE PALESTINE, OR MORE "
 
 

 

Muslim Palestina, dalam hal ini warga Ghaza dihimpit penderitaan yang maha dasyat. Dunia, dengan Israel sebagai komandonya dan AS sebagai bodyguardnya, mengepung rakyat Ghaza yang lemah dan lapar. Jiwa mereka semakin perih ketika para pemimpin dunia Arab dan Islam bungkam seribu bahasa.

Monolog Duka Lara Penduduk Ghaza

"Ya, Allah yang Maha Besar, kami sudah tidak mampu lagi berkata-kata dan nafas kami terasa sesak untuk mengungkapkan semua kepedihan ini. Namun Engkau yang Maha Tahu penderitaan kami ini, " doa Umi Muhammad sambil meneteskan air mata.

Dengan lilin di tangan, Abu Ahmad, 65, menggumamkan harapannya, "Tak ada seorang pun yang mengulurkan bantuan, air mata dan tangisan kami tak membuat hati mereka tergerak. Allah-lah penolong kami. Saya yakin Allah tidak akan membiarkan kami bersedih menghadapi situasi yang berat ini."

Ummu Ghassan, saudari korban Ali Ghalia sambil menangis terseduh di depan rumah duka di Beit Lahia mengatakan, “Kami yakin dengan takdir Allah. Karena kami mencintai mereka maka kami sabar dan tabah… cukup Allah bagi kami, Dialah sebaik-baik penolong.” Ummu Ghasan memiliki lima anak yang semuanya gugur syahid oleh tembakan tank-tank ‘Israel’ Februari tahun lalu. 

"Pasukan Zionis bisa melihat bahwa itu adalah sebuah dokar berisi seorang perempuan dan anak lelakinya, mereka membalut tubuh mereka karena udara dingin, tapi pasukan Zionis itu tetap menembak mereka. Ini bukan sebuah kesalahan, " tukas Muhammad al-Rahil, salah seorang kerabat korban pembantaian..

“Dan hari Senin kemarin pun, banyak masyarakat Muslim Ghaza yang berpuasa sambil lisan mereka terus mengucapkan, “Allahumma aghits Ghazah.. “ Ya Allah, selamatkanlah Ghaza."

“Mereka berniat puasa dan shalat malam meminta pada Allah agar pengepungan Ghaza segera dicabut oleh Allah. Inilah yang paling mungkin kami lakukan saat ini, ” ujar seorang penduduk Ghaza.

Abu Khalid, 50, ayah dari tujuh anak, warga Beit Hanun di utara Gaza mengungkapkan hal serupa. "Saya khawatir dengan anak-anak saya, tetangga-tetangga saya. Dunia tidak adil. Kami dibiarkan sendiri untuk menghadapi kejahatan Israel," keluh Khalid.

Para tahanan warga Palestina di penjara-penjara Israel mengatakan, "Hati kami hancur, kami tak berdaya untuk membantu mereka."

Lolongan Hati Yang Terkoyak

"Apakah Anda tuli? Tidakkah kalian mendengar suara tangis para ibu dan anak-anak? Tidakkah mereka mendengar tangisan para tahanan dan mereka yang tertindas?" tandas Syaikh Waed al-Zordi, imam masjid Al-Omari di Ghaza.

Shamiya Arafat, ibu enam anak mengungkapkan kemarahannya, "Tak seorang pun di dunia ini yang melihat kami, tak seorang pun yang membantu kami. Negara-negara Arab seharusnya membantu kami. Tapi mereka malah berdiri bersama Israel karena mereka takut pada Amerika dan Israel."

Khalid Mish’al, "Disana ada kelompok pejabat Arab yang tak berdaya dan bungkam, tidak berbuat apa-apa. Kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sikap mereka itu. Ada juga kelompok dari pejabat Arab yang memang benar-benar bungkam atas kejahatan ini. Akan tetapi kebaikan itu masih ada pada umat Islam dan Arab di level resmi. Ada di antara mereka yang siap mengangkat kepala, peduli dengan persoalan rakyat Palestina. Saya menerima sejumlah kontak yang menegaskan adanya gaung yang luas untuk menyambut jeritan tangis anak-anak dan wanita," kata Mish’al mengakhiri pernyataannya.

Mina Salim Mansur, anggota Parlemen Palestina di Nablus menyerukan kepada semua negara dunia dan nurani yang masih hidup untuk segera terlibat dalam membebaskan Jalur Gaza dari blokade yang menciptakan tragedi kemanusiaan. Ia menegaskan dalam pernyataannya: "dari tanah Palestina yang bersejarah, tanah risalah kenabian di sekitar masjid Al-Aqsha dan kelahiran Isa, dan dari rahim penderitaan rakyat Palestina yang terdzalimi, kami mengajak dunia semuanya untuk segera menyelamatkan rakyat kami di Jalur Gaza."

Hamas menyampaikan keheranannya atas sikap membisu dari negara-negara Arab dan Islam atas semua kejahatan ini, "Apa yang Anda tunggu, kami diblokade Anda diam, kami dibunuh Anda tak bergerak, sampai kapan kebisuan ini. Tidakkah aksi pembunuhan dan pembantaian ini menggerakkan hati nurani Anda? Tapi kami tetap berharap agar Anda bisa bergerak, wahai umat Islam bergeraklah tak ada lagi alasan untuk membiarkan kami terus diisolasi."

"Mana partai politik, mana gerakan Islam, nasionalis, sosialis? Mana mereka yang masih mengaku punya harga diri di seluruh dunia? Bagaimana Anda membuktikan bahwa Anda bersama saudara-saudara Anda di Palestina? Mana aksi-aksi solidaritas Anda, mana aksi-aksi di jalan Anda yang ingin mendukung perjuangan rakyat Palestina, yang ingin menghentikan aksi pembantaian kepada anak-anak, orang tua dan wanita?" kata Hamas kembali mempertanyakan peran dunia Islam dan Arab atas pembantaian di Gaza. 

Tekad Yang Tegar Membaja 

Di bawah mihrab, yang diterangi oleh lilin setelah listrik padam di seluruh Jalur Gaza imam Masjid Omari, Syeikh Wael Zarad setelah sholat mengatakan:"Walau diblokade, kita tidak akan menyerahkan senjata, mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Karena putera-puteri bangsa Palestina telah dibina memahami arti kemuliaan dan kehormatan. Di tengah-tengah kegelapan yang menyelimuti Gaza hari ini, kami tegaskan bahwa hari-hari esok hanya milik orang yang mengatakan Laa Ilaaha IllaLLah dan Muhammad sebagai utusan-Nya.

Di tengah-tengah kegelapan kita akan ajarkan kepada seluruh dunia bahwa cahaya Allah ta’ala akan dimulai dari sini, dari rumah Allah ta’ala. Kita akan hidup dengan jiwa besar dan penuh kemuliaan. Kita akan bangkitkan nurani kaum muslimin menuju kemenangan dan pembebasan," tambah Syeikh Zarad penuh semangat.

Abu Zuhri mengisyaratkan bahwa rakyat Gaza "Tidak akan takut mati dan tak akan mengangkat bendera putih. Konspirasi untuk menundukkan Gaza tidak akan berhasil, walau luka dan derita kami alami, kami akan katakan kepada semua orang, kami tidak akan mengangkat bendera putih dan tidak akan menyerah."

"Enyahlah hai musuh bersama konspirasinya, yang ingin menjerumuskan bangsa Palestina dalam perang saudara. Semua ancaman, baik yang datang dari dalam maupun luar, tak akan membuat kami takut. Kami akan terus melangkah meniti janji Allah ta’ala yang pasti. Slogan kami di periode ini adalah sabar dan terus sabar. Tempat bergantung kami hanyalah kepada Allah ta’ala semata, walaupun pasokan listrik, air dan bahan bakar di-stop, tapi Allah ta’ala akan menggantikannya dengan yang lebih baik dan banyak. Walau musuh terus membunuh para pejuang dan pahlawan kami, tak akan membuat kami putus berpegang pada janji Allah yang pasti," tambah pernyataan Hamas yakin.

Dipetik dari www.infopalestina.com dan www.eramuslim.com 

- - - - - - - —–

Apalagi yang mesti di tunggu? Ayo bantu bangsa Palestina dan penduduk Ghaza dengan do’a dan infaq terbaik kita agar mampu mengobati duka lara dan ‘kesendirian’ mereka. Kesendirian di tengah umat Islam yang jumlahnya tidak kurang dari 1,3 milyar orang di seluruh dunia. Salurkan infaq anda sekarang juga!!

January 24, 2008

Agen Intelijen?? (bagian 2)

Filed under: PEMIKIRAN

ISMAIL YUSANTO SEORANG AGEN INTELIJEN (???)

 
Se-provokatif apapun, itu hanyalah sebuah judul. Akan tetapi pemilihan judul di atas bukanlah sembarang memilih tanpa ada alasan yang jelas. Meski seorang Shakespiere pernah melontarkan "Apalah arti sebuah nama?", akan tetapi sebuah nama tetaplah memiliki makna. Demikian pula dengan judul diatas yang sekilas nampak ‘memerahkan telinga’ atau mungkin sekedar membersitkan tanda tanya. Setelah pada tulisan bagian pertama diulas hal-hal yang sangat memungkinkan menjadi latar belakang ‘pujian bijak’ Syeikh Ata Abu Rashta kepada Erdogan dan Ghul, maka pada bagian kedua akan diketengahkan sebuah wacana awal yang menjadi alasan kenapa muncul sebutan ’seorang agen intelijen?’.

Setidaknya ada 3 hal yang kemudian menjadi pertimbangan kenapa kata tersebut menjadi pilihan yang tepat untuk menjadi bahan muhasabah setiap orang, yaitu:

Pertama, tuduhan Amir Hizbut Tahrir yang menyebut Erdogan dan Ghul sebagai ‘Agen’ AS.

Berbicara soal siapa menjadi agen siapa sesungguhnya sedang membicarakan sebuah ‘lingkaran setan’ yang sangat kompleks. Apalagi yang dituduhnya sosok yang menjadi ikon dan orang yang leading atau memimpin sebuah negara. Jika keberhasilan seorang Erdogan menjadi seorang Perdana Menteri di Turki adalah buah tangan dari Amerika Serikat, maka dapat dipastikan manufernya tak akan lepas dari rekayasa dan grand design para agen intelijen yang disebar oleh AS di negeri pewaris khilafah ini. Kenapa? Karena secara kenegaraan para penguasa politik di Amerika tak akan pernah campur tangan secara langsung dan terbuka untuk mengubah peta politik di negara lain. Akan sangat membahayakan tatanan dunia internasional, dan AS tak akan mengambil resiko dengan ‘perang terbuka’ ini.

Lantas siapa yang bekerja di lapangan untuk memuluskan, apa yang dikatakan oleh Amir Hizbut Tahrir dengan sebutan Agen AS, agar berjalan sukses menaiki tangga kepemimpinan sebuah negara. Jawaban  yang pasti adalah mereka para agen intelijen yang disusupkan. Para agen intelijen inilah yang kemudian melakukan operasi intelijen atas action design yang ditetapkan oleh penguasa politik AS. Sedangkan cara yang dilakukan sangat beragam dari mulai yang paling halus sampai dengan yang paling kasar demi mencapai target dan tujuan, sekalipun harus dengan jalan perang dan pertumpahan darah.

Contohnya sangat mudah, beberapa aksi operasi intelijen yang pernah digelar oleh Amerika Serikat diantaranya adalah upaya penggulingan presiden Soekarno ditahun 1950-an dengan cara mempersenjatai kaum pemberontak. Kemudian operasi intelijen Playa Giron yang juga dikenal dengan Invasi Teluk Babi. Operasi ini dilancarkan oleh Agen AS untuk menggulingkan pemerintahan Fidel Castro di Kuba pada tahun 1961. Siapa pelaksana lapangannya? Mereka adalah orang-orang Kuba di pembuangan yang dibina langsung oleh CIA menjadi para agen intelijen. Akibat kegagalan misi operasi intelijen tersebut, Direktur CIA Allen Dulles dan Wakil Direktur CIA Charles Cabell, keduanya dipaksa mengundurkan diri.

Pada tahun sebelumnya, AS juga menggelar operasi intelijen menggulingkan Perdana Menteri Mohammed Mossadegh (1953) di Iran dan Jacobo Arbenz Gusman (1954) di Guatemala. Sedangkan operasi intelijen yang terbaru adalah operasi yang menimpa Irak dan Saddam Husein di tahun 2003.

Kenyataan lain dari dunia ke-agen-an sebenarnya harus membuat kita berhati-hati melontarkan tuduhan tanpa bukti kepada orang-orang yang nyata dengan kesholihannya, dan nyata dalam pelayanannya kepada umat. Sementara catatan sejarahnya menunjukkan mereka adalah orang-orang yang lurus dan hidup dan besar di lingkungan yang ikhlas menegakkan kalimatullah.

Sah-sah saja jika menyebut Yuri Vladimirovich Andriprov yang memimpin Rusia tahun 1982-1984 adalah seorang agen intelijen. Sebab dia pernah menjabat sebagai Direktur KGB. Atau menyebut Presiden Rusia saat ini, Vladimir Putin, sebagai agen intelijen, karena pernah menjadi agen intelijen KGB di Jerman Timur. Bahkan kemudian pernah menjabat sebagai ketua Dinas Rahasia Rusia FSB atau Federal Security Bureau  pada  Maret 1999 sampai November 1999. Tapi apakah dengan biografinya yang penuh dengan catatan dunia ke-agen-an lantas secara otomatis saat ini dia bekerja untuk KGB. Jika jawabannya belum tentu, maka apalagi sosok pemimpin negara yang track recordnya bersih dari dunia ke-intelijen-an?

Dengan demikian, jika memang Erdogan dan Ghul benar seorang Agen AS, maka rekayasa peta politik di Turki akan anyir dengan aktivitas operasi strategis yang gencar dilakukan oleh agen intelijen yang bekerja untuk Erdogan dan AS. Dan dengan ‘head to head’ berhadapan dengan ‘pejuang’ sekulerisme Turki yang di back-up
penuh kalangan militer. Maka proses pergantian kepemimpinan Turki dipastikan harus berdarah-darah. Sayangnya, fakta itu tak pernah terjadi. Bahkan seharusnya intelijen Barat akan lebih menguatkan posisi sekuler Kemalis yang telah sekian dasawarsa lamanya mengekang dan mendiskreditkan mayoritas muslim Turki, bukan sebaliknya berada dibalik para aktivis Islam yang sebentar lagi akan menggolkan pencabutan Undang-Undang yang melarang Pemakain Jilbab di Kampus-kampus Turki. Bukankah muka Barat saat ini sungguh terang-terangan memusuhi Islam? Dan AS akan bergandengan dengan siapapun yang bisa menikam Islam meski dari belakang. Baik dari kalangan non-Islam maupun kalangan Islam sendiri, termasuk dengan berbagi kelompok yang mengaku-ngaku sebagai gerakan Islam.

Karenanya, secara pribadi penulis menantang Amir Hizbut Tahrir, Syeikh Ata Abu Rashta, dan para juru bicara Hizbut Tahrir di seluruh dunia (termasuk Ismail Yusanto di Indonesia) untuk membuktikannya bahwa duo Erdogan-Ghul adalah agen AS.

Dengan begitu, jika Syeikh Ata Abu Rashta menuduh bahwa Erdogan dan Ghul adalah para Agen AS, maka beliau harus menunjukkan bukti siapa-siapa saja (para agen intelijen) yang bekerja di lapangan untuk memuluskan Erdogan-Ghul ke tampuk kursi kepemimpinan Turki. Atau setidaknya menunjukkan bukti track record
keduanya bekerja melayani AS sebagai agen intelijen. Jika tidak mampu membuktikan, maka suka atau tidak suka, malu atau tidak malu, dan mau ataupun tidak mau, pada dirinya sendiri bersama dengan orang-orang yang menyebarkan berita bohong dari artikel panjangnya yang membidik Erdogan-Ghul, melekat padanya dosa sebagai seorang Agen AS. Menyedihkan memang.

(bersambung…)

January 18, 2008

Agen Intelijen?? (bagian 1)

Filed under: PEMIKIRAN

ISMAIL YUSANTO SEORANG AGEN INTELIJEN (???)


Judul di atas terlihat provokatif. Namun, disini penulis tidak dalam konteks menuduh bahwa sdr. Ismail Yusanto, Jubir HTI, adalah seorang agen intelijen. Tulisan berikut ini lebih merupakan sebuah nasehat agar setiap orang, siapupun mereka, TIDAK ringan lidah melontarkan pernyataan tanpa bukti kepada orang-orang yang bibirnya senantiasa dibasahi dengan dzikrullah. Apalagi mereka adalah orang-orang yang sungguh-sungguh membela umat Islam dan kemanusiaan.

Tulisan ini memang dilatar belakangi oleh sebuah artikel panjang[*] tulisan Syiekh Ata Abu Rashta, yang belakangan penulis ketahui bahwa beliau adalah Amir Hizbut Tahrir Internasional (mohon dikoreksi jika ternyata keliru), yang telah dialih bahasakan oleh redaktur www.hizbut-tahrir.or.id, dan disebarluaskan dibanyak media online HTI dan underbow-nya. Dalam artikel panjang tersebut Amir Hizbut Tahrir itu menuduh bahwa Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, dan Presiden Turki Abdullah Ghul, adalah para agen Amerika. Sekali lagi, bahwa Syeikh Ata Abu Rashta menuduh bahwa Erdogan dan Ghul adalah agen AS.

Kata ‘Agen AS’ disini memiliki arti yang beragam tetapi bermakna satu, yaitu sebagai kepanjangan tangan AS yang bekerja, berafiliasi, bersuara, mengeluarkan kebijakan, dan lain-lain untuk dan berkiblat kepada AS. Tokoh negarawan yang saat ini menjabat sebagai kepala pemerintahan Turki yang dicintai rakyatnya dalam artikel tersebut demikian ‘lugas’ dikatakan sebagai Agen AS oleh seseorang yang menyandang gelar Amir Hizbut Tahrir. Demikian pula dengan Ghul, rekan sejawat Erdogan, tak luput dari pernyataan berbisa dari seorang ulama yang di gandrungi kelompoknya. Yang sangat menyedihkan adalah, bahwa ulasan yang tertuang jauh dari sekedar buktiyang mencukupi bahwa mereka berdua adalah seorang Agen AS. Sebuah tuduhan tanpa bukti.

Entah Syeikh ini iri, dengki, atau hasad, dengan keberhasilan mereka membawa kemajuan yang signifikan di bekas pusat pemerintahan khilafah Ustmaniyah ini, atau ada motif lain? Apalagi sejak kepemimpinan Erdogan perekonomian Turki maju pesat, bahkan hingga nilai tukar mata uangnya berubah menjadi 1,2 Lira (YTL) = 1 USD. Padahal di tahun 2001 sebelum kepemimpinan Erdogan perekonomian Turki terpuruk dan nilai tukar Lira anjlok sangat rendah dimana 1 USD setara dengan 1,65 juta Lira. Kebangkitan ekonomi 5 tahun terakhir dibawah kepemimpinan Erdogan ini semakin menguatkan posisi tawarnya dihadapan Uni Eropa. Bahkan penerimaan UE terhadap Turki ditandai dengan banjirnya investor dari UE di negara bekas pemerintahan Khalifah Ustmani. Tercatat bahwa mayoritas investor asing di negeri yang terkenal dengan makanan khas kebabnya ini adalah UE itu sendiri, dan Jerman adalah negara Eropa yang paling banyak memiliki investor di Turki.

Demikian pula dengan iklim kebebasan beragama yang semakin kondusif dari kebijakan-kebijakan sang Perdana Menteri. Sehingga saat ini jilbab adalah pemandangan yang lazim terlihat di jalan-jalan Turki dan kantor-kantor swasta. Bahkan kumandang adzanpun sudah kembali terdengar dengan lafaz ‘Allahu Akbar..Allahu Akbar!’.

Platform ’sekulerisme’ yang ditawarkan AKP memang tidak banyak diangkat oleh para pengkritiknya dari kalangan kelompok Islam yang dengki. Kebanyakan diantara mereka menohok secara membabi buta bahwa sekulerisme yang ditawarkan Erdogan dan AKP-nya setali 3 uang dengan sekulerisme Barat. Padahal anggapan itu keliru besar. Sekulerisme yang mengurat syaraf di negeri dengan ibukota Ankara ini bukanlah sekulerisme yang saat ini diterapkan Barat. Jika jargon sekulerisme Barat banyak merugikan kalangan minoritas, dalam hal ini adalah masyarakat muslim. Maka di Turki, sekulerisme yang di bawa Kemal At-Taruk justru mendiskriminasikan mayoritas muslim. Tak hanya disampai di situ, sekulerisme At-Taruk sampai pada pengharaman segala simbol yang berbau Islam. Padahal sekulerisme Barat pada umumnya tak sampai pada model seperti itu. Sehingga tak heran jika seorang aktivis JIL, Hamid Basyaib, menyebut sekulerisme Kemalis adalah ‘Sekulirisme Fundamentalis’ yang Anti-Agama.

Lantas bagaimana platform sekulerisme yang ditawarkan AKP? Partainya Erdogan ini menyebutkan didalam paltformnya bahwa " ide dasar yang melandasai sekulerisme adalah imparsialitas (kekuasaan) negara terhadap semua keyakinan agama. Dalam arti ini sekulerisme adalah prinsip kebebasan. Dimana sekulerisme membatasi wewenang negara, bukan individu." Artinya adalah, bahwa dengan sekulerisme model AKP ini, maka negara tidak memiliki ruang yang luas untuk membatasi dan mengekang kebebasan warganya dalam menjalankan agama. Dan faktanya udara kebebasan perlahan-lahan mulai dikecap rakyat Turki.

Sebagai manusia berakal pasti mengetahui, bahwa kondisi Turki Kemalis yang dibangun di atas prinsip sekulerisme fundamentalis tak akan mungkin begitu saja dibalikkan sebagaimana membalikkan telapak tangan. Apalagi militer dan kalangan kemalis yang siap mati mengusung sekulerisme versi Kamal At-Taruk masih cukup kuat menyetir pos-pos penting di birokrasi pemerintahan Turki. Rasulullah saja, saat futuhnya Mekah, beliau tidak ‘menyikat’ Abu Sufyan dan para pengikutnya, justru Rasulullah mengeluarkan sabdanya yang terkenal "..Barang siapa masuk rumah Abu Sufyan, maka dia aman’. Hasilnya dikemudian hari Abu Sufyan menjadi bagian dari Islam itu sendiri. Itulah gunanya akal yang Allah karuniakan, untuk mengatur strategi guna menghidupkan maslahat dan manfaat serta kemenangan bagi umat ini.

Sekelumit fakta diatas tentu tidak cukup mewakili untuk menggambarkan bagaimana sepak terjang Erdogan-Ghul dan partainya untuk membela dan memperjuangkan Islam. Tapi paling tidak untuk mencuci mata kelompok-kelompok yang hatinya dibutakan dengan syahwat iri dan dengki agar bisa melihat mutiara yang bersinar dan kebenaran yang cerdas. Sementara prestasi-prestasi lainnya yang mementahkan ‘cerita sejarah’ yang ditulis Syeikh Ata Abu Rastha secara tidak langsung telah diungkap dengan cukup detil oleh Amran Nasution, mantar redaktur majalah Gatra dan Tempo, dalam artikel panjangnya di hidayatullah.com dengan judul ‘Sebuah Model dari Turki’.

Sayangnya, prestasi-prestasi itu tidak dilakukan para aktivis HT disana. Erdogan dan AKP-nya melesat jauh sementara aktivis Hizbut tahrir masih tiarap dalam diskusi dan jargon-jargonnya. Erdogan dan Ghul sudah menyumbangkan maslahat yang real untuk masyarakat Turki sedangkan kader HT masih berceloteh di tataran wacana. Apakah itu semua yang membuat syeikh ini secara ceroboh menuding sang Perdana Menteri dengan sebutan agen AS? Sulit diketahui secara pasti apa tujuan sesungguhnya yang tersembunyi dalam otak Syeikh Ata Abu Rashta ini. Tetapi cukup meyakinkan bahwa apa yang tersembunyi itu tertuang dalam paragraf singkat di bagian kesimpulan dari tulisannya tersebut.

Semua orang bisa melihat, bahwa apa yang dilakukan oleh Atha Abu Rashta sangat serius dan bernuansa kedengkian serta lebih berupa tuduhan tak berdasar. Jika orang seperti ini merasa pantas dan merasa ber-hak untuk mengatakan bahwa Erdogan dan Abdullah Ghul adalah Agen AS? Lantas apa yang menghalangi jika orang lain mengatakan bahwa Ismail Yusanto adalah seorang Agen Intelijen? Toh Ismail Yusanto bukan siapa-siapa, dia cuma jubir HTI, sementara Erdogan dan Ghul adalah Perdana Menteri dan Presiden Turki. Bahkan bisa dikatakan sangat tak sebanding jika men-sejajarkan Ismail Yusanto dengan Erdogan dan Ghul.

Kata-kata bijak yang sering kita dengar agar tidak mudah menuduh dan memfitnah orang lain adalah "Ketika ibu jarimu menuduh dan menuding muka orang lain, sesungguhnya empat jarimu mengarah pada dirimu". Kata-kata bijak ini bukan isapan jempol. Dan bangsa Indonesia sudah demikian puas menyaksikan bukti-bukti dari hikmah kata bijak ini. Tak heran jika ungkapan lain yang sangat dikenal bangsa kita adalah kata-kata ‘maling teriak maling’.

Dalam konteks yang pertama, maka analogi apa yang dilontarkan oleh Amir HT ini adalah 4 : 1. Ata Abu Rashta 4 bagian dan Erdogan-Ghul 1. Sebab secara umum manusia memiliki 5 jari di masing-masing tangannya. Apabila tuduhan sang Syeikh ini salah (apalagi ulasannya tak diiringi dengan bukti-bukti), maka gelar sebagai seorang ‘Agen AS’ melekat pada penuduhnya. Penulis kira ini analogi sederhana yang mudah dan diterima kebanyakan orang.

Analogi kedua adalah tentang ‘maling teriak maling’. Untuk yang kedua ini, sepertinya tidak cukup sulit untuk mendapatkan fakta dan bukti lapangan. Pencopet yang meneriaki ‘pencopet’ terhadap orang yang dicopetnya bukanlah kejadian yang tidak jarang terjadi di masyarakat yang sedang sakit ini. Pengguna narkoba dikalangan ‘penegak hukum’ yang ikut-ikutan menangkap para pengedar narkoba juga pemandangan yang tidak jarang ditayangkan di media televisi kita. Bahkan para koruptor yang meneriaki orang lain berbuat korupsi juga perang media yang cukup sering menjejali telinga dan mata kita. Lalu apa bedanya dengan orang yang meneriaki orang lain sebagai ‘Agen AS’ tanpa bukti dengan para ‘maling yang teriak maling’?

Sementara peringatan Allah SWT. jauh lebih keras dan mengancam orang-orang yang ringan melontarkan fitnah. Allah azza wa jalla berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapakah di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: Ini adalah suatu berita bohong yang nyata?! Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?! Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah amat besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan hal seperti ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang amat besar.” (QS. An-Nuur : 11-16).

Asy-Syahid Sayyid Quthb menegaskan bahwa makna ‘bal hua khairul lakum’ (bahkan ia adalah baik bagi kamu) adalah bermakna "ia menyingkap tipu daya dan para pelakunya terhadap Islam". (Tafsir Az-Zhilal, V/265). Sementara Imam Al-Qasimi mengatakan, “Dan sebagaimana kamu diwajibkan untuk menghentikan lisanmu dari menyakitinya, maka demikian pula kamu diwajibkan untuk menghentikan hatimu dari menyakitinya pula yaitu dengan tidak berburuk-sangka padanya, karena buruk-sangka adalah meng-ghibbah dengan hati dan sama pula dilarang melakukannya. Maka menutupi aib dan kelemahannya serta melupakannya merupakan salah satu tanda orang-orang yang ahli agama. Dan ketahuilah bahwa tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya sesama muslim sama seperti ia mencintai dirinya sendiri. Dan derajat terendah dari ukhuwwah adalah bergaul dengan saudaranya sesama muslim dengan hal yang ia sukai dan melupakan kekurangan dengan menutup kekurangannya dan berusaha menghilangkan sifat iri dan dengki, maka barangsiapa yang masih ada kedengkian dalam hatinya maka saksikanlah bahwa imannya lemah, dirinya berpenyakit dan hatinya busuk sehingga tidak pantas ia untuk berjumpa dengan ALLAH SWT.”

Kedudukan Syeikh Ata Abu Rashta yang merupakan Amir Hizbut Tahrir, tentu saja dengan apa yang tertulis dalam artikelnya, adalah sebagai perwujudan sikap gerakan HTnya di seluruh dunia. Dan penyebarluasan sikapnya itu benar-benar terbukti disemaikan para kader HT di Indonesia melalui berbagai media onlinenya. Maka pantas saja jika orang-orang yang menyaksikan tuduhan pongah ini berfikir, "Apa salahnya mengeluarkan statemen bahwa para petinggi Hizbut Tahrir Indonesia adalah seorang ‘agen’??" Bukankah sikap antara mereka dengan Amirnya bagaikan pinang dibelah dua alias sama saja? Sementara bisa diyakini bahwa tuduhan-tuduhan yang dilontarkan Syeikh Ata Abu Rashta adalah sebuah fitnah dan kedustaan semata.

(bersambung…)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer