Jum’at Kelam
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, "Orang yang sombong adalah orang yang memandang dirinya sempurna segala-galanya, dia memandang orang lain rendah, meremehkannya dan menganggap orang lain itu tidak layak mengerjakan suatu urusan, dia juga sombong dari menerima kebenaran dari orang lain". (Jami’ul Ulum Wal Hikam 2/275).
Karena itulah, penulis tak pernah merasa takut dan gentar untuk tetap berjuang menumbangkan keangkuhan kelompok yang sombong lagi dzolim ini. Sampai Allah menjatuhkan keputusan-Nya terhadap mereka tak pernah memiliki rasa sesal dan upaya meminta maaf kepada umat Islam.
Oleh sebab itu, tentu penulis tak akan pernah bosan untuk membuka persoalan ini ke tengah-tengah umat hingga mereka meminta maaf atas tuduhan yang mereka lontarkan kepada para pejuang HAMAS di buletin Al-Islam mereka. Sampai mereka bertaubat kepada Allah SWT dan bersumpah kepada umat ini bahwa mereka berhenti dari perbuatan finah dan berkata dusta tentang pejuang-pejuang Islam di Palestina.
Agar pembaca bisa memahami tulisan-tulisan di situs ini, alangkah baiknya penulis kembali kutip sebagian apa yang Hizbut Tahrir Indonesia tuduhkan kepada saudara kita HAMAS. Dalam Al-Islam edisi 361, Hizbut tahrir menuliskan beberapa pernyataan sebagai berikut:
“… Pertikaian Fatah dengan Hamas sekarang ini juga membuat mereka (penduduk Palestina) berada dalam cengkeraman, karena milisi yang ada di bawah Fatah mengobarkan kekacauan terhadap Hamas di Gaza. Hamas tidak menyelesaikannya dengan bersikap sabar dan membongkar skenario tersebut kepada masyarakat. Hamas justru membalasnya dengan melakukan pembunuhan dan menumpahkan darah sampai menimpa para orang tua, wanita, dan anak-anak, bahkan pepohonan dan batu, dalam sebuah pembantaian yang sangat keji.” (paragraf 9 Al-Islam edisi 361)
“Sesungguhnya tidak adanya kesadaran politik dalam tubuh Hamas, juga perjalanannya yang tanpa disertai dengan kesadaran politik, itulah yang menyebabkan Hamas terjerumus ke dalam krisis demi krisis; bahkan sampai pada titik di mana mereka harus menumpahkan darah kaum Muslim yang tidak berdosa dengan cara zalim dan penuh permusuhan. Namun, Hamas justru menganggap dirinya melakukan kebaikan, bahkan untuk itu mereka melakukan sujud syukur kepada Allah.” (paragraf 10 Al-Islam edisi 361)
“… Sebab, terus-menerus berada di panggung sandiwara Otoritas Palestina (Fatah) dan Pemerintah (Hamas) yang berada di bawah pendudukan yang didirikan di atas tengkorak kaum Muslim yang terpenggal, nyawa kaum Muslim yang dihilangkan, dan darah-darah mereka yang ditumpahkan, terus-menerus berada dalam kondisi seperti ini, sungguh merupakan pengkhianatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang Mukmin” (paragraf 12 Al-Islam edisi 361)
Dapat disaksikan bersama, betapa mereka ini ringan lidah mengatakan sesuatu yang sangat prinsip tanpa dilandaskan dengan bukti-bukti otentik yang jujur lagi adil. Bahkan merupakan sebuah redaksi pernyataan yang tak sepantasnya dilontarkan para pengaku pejuang syari’ah dan khilafah. Bukan seperti itu umat Islam memandang HAMAS, bahkan mereka yakin dan percaya bahwa mereka ini jauh lebih mulia dalam amal dan ibadahnya di hadapan Allah ketimbang dirinya, atau bahkan dari para petinggi Hizbut Tahrir yang sepertinya takut berperang di medan jihad. Umat Islam di seluruh dunia pun menyaksikan bahwa perlawanan yang mereka lakukan adalah hak mendasar dan tak bisa ditawar-tawar atas segala penjajahan tanah air Islam oleh Israel terlaknat beserta para ‘kompradornya yang setia’.
Hanya orang buta dungu dan fasik yang kikir iman saja yang membuat kesaksian palsu dengan mengatakan bahwa HAMAS telah melakukan pembunuhan dan menumpahkan darah sampai menimpa para orang tua, wanita, dan anak-anak, bahkan pepohonan dan batu, dalam sebuah pembantaian yang sangat keji, menumpahkan darah kaum Muslim yang tidak berdosa dengan cara zalim dan penuh permusuhan, dan melakukan pengkhianatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang Mukmin. Sayangnya orang tidak jelas dan tanpa bukti seperti ini yang dirujuk Hizbut Tahrir untuk menyebarluaskan fitnahnya ke masjid-masjid di seluruh nusantara ini lewat buletin Al-Islamnya di edisi 361.
Hari Jum’at seolah menjadi preseden buruk dengan munculnya propaganda dari kelompok yang senang dan gemar melontarkan berita dusta ini. Belum ada permohonan maaf petinggi HTI atas fitnahnya terhadap para pejuang HAMAS di tanah jihad Palestina, 19 Oktober lalu muncul lagi fitnah lain yang tidak kalah seriusnya disebarluaskan HTI. Setidaknya artikel panjang tulisan Ata Abu Rashta, salah seorang syeikh Hizbut Tahrir Turki, tersebar di 3 situs HTI yaitu: www.hizbut-tahrir.or.id, www.syabab.com, dan www.swaramuslim.com. Dalam artikel itu mereka menuduh bahwa Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Turki terpilih Abdullah Ghul adalah para agen Amerika yang bekerja untuk kepentingan Amerika. Bahkan tanpa sungkan mereka menuduh bahwa AKP, partai yang mengantarkan Erdogan dan Ghul menjadi orang paling penting di Turki, hanyalah sebuah partai yang menggunakan jubah Islam untuk menipu umat Islam. Dalam artikel itu disebutkan:
"…Amerika sadar bahwa konfrontasi langsung kepada militer akan sangat sulit, apalagi dengan menggunakan pion partai politik, akan memiliki resiko tinggi. Maka, ia mempromosikan demokrasi untuk melemahkan kekuatan tentara. Caranya adalah dengan mempromosikan salah satu agennya memimpin pemerintahan melalui kemenangan mayoritas di parlemen yang bisa menghasilkan perundangan untuk menantang wewenang militer. Maka Amerika menunjuk Erdogan dan Abdullah Ghul, yang meninggalkan partai Virtue sejak kudeta 28 Februari yang lalu dan membentuk partai Justice and Development Party (AKP)."
“Situasi di Turki saat ini adalah krisis antara dua kelompok sekuler. Kelompok yang pertama adalah kelompok yang pro Inggris dan setia terhadap ide Kemalis yang didukung oleh militer dan berusaha mempertahankan simbol presiden, dewan keamanan nasional untuk tetap berada dibawah pengaruhnya. Kelompok kedua, adalah kelompok sekuler yang pro Amerika dan berusaha menutupi agenda sekularisme dengan jubah Islam untuk menarik perhatian masyarakat muslim..”.
Kita memang punya kewajiban untuk mengingatkan kelalaian orang-orang yang mengaku berjuang untuk Islam tetapi gemar menyakiti dan dzolim kepada umat Islam itu sendiri. Namun, saat upaya nasehat telah ditempuh tetapi yang dinasehati tetap bebal dan bangga dengan kebohongannya, maka kewajiban kita pula untuk membela mereka yang teraniaya. Dan tak kalah pentingnya, kita juga punya kewajiban untuk membongkar fitnah dan dusta, serta menghancurkannya agar para pelakunya menjadi terhina di hadapan Allah dan manusia.
Genap setengah tahun Hizbut Tahrir memfitnah HAMAS, dan hampir 70 hari Hizbut Tahrir memfitnah Presiden dan Perdana Menteri Turki. Kita tunggu apa mereka berani meminta maaf kepada umat Islam??? Jangan terlalu berharap!







