Natal di Ghaza
NATAL DI GHAZA MENJADI BUKTI
Kegembiraan Natal tahun ini ternyata tak hanya menjadi moment bahagia bagi kalangan umat kristiani di Ghaza. Akan tetapi menjadi saat yang penting pula bagi para mujahid HAMAS yang memang menguasai Ghaza sejak upaya kudeta pasukan militer Fatah pertengahan tahun ini. Saat-saat penting itu terekam dari berbagai pernyataan warga kristiani yang bermukim di wilayah jantung perjuangan Palestina itu.
Sebagaimana dilansir www.eramuslim.com (27/12), Monsignor Manuel Mussalam, salah seorang pendeta Katolik Roma mengungkapkan, "Kami betul-betul merasakan kebebasan beribadah di bawah pemerintahan HAMAS. Saya tidak pernah menerima keluhan apapun dari umat Kristiani di Ghaza tentang pemerintahan HAMAS".
Basem Ayyad, salah seorang warga Kristen mengaku bahwa kehidupannya lebih baik di bawah pemerintahan HAMAS. Bahkan ia tak pernah melupakan bagaimana pemerintahan otoritas yang dipimpin HAMAS membantunya membayarkan hutangnya. Sementara Attala, warga Kristen yang berprofesi sebagai dokter di Ghaza mengatakan, "Kami tak punya masalah dengan HAMAS. Kami merasakan persaudaraan dan toleransi antar umat beragama di sini, di Ghaza". Demikian pula yang dikemukakan seorang kristiani Simon Tarazi, "Saya tak pernah merasa diganggu atau dilecehkan oleh warga Muslim". Bahkan mereka merasa bahagia dengan dikuasainya Ghaza oleh HAMAS hingga mereka bisa merayakan natal tahun ini dengan damai meski tak berlangsung meriah.
Kesederhanaan perayaan Natal tersebut bahkan merupakan kemauan mereka sendiri sebagai bentuk solidaritas warga kristiani kepada saudaranya umat Islam di Ghaza. Mereka menyatakan tidak akan menggelar perayaan yang berlebihan untuk menghormati warga muslim yang sedang mengalamai penindasan atas isolasi dan embargo yang dilakukan oleh presidennya sendiri, penjajah Israel, dan dunia internasional. Walaupun sesungguhnya bisa saja mereka merayakan Natal dengan penuh kemeriahan, "Saya bisa saja minta izin kepada Perdana Menteri Ismail Haniyah untuk menggelar perayaan natal yang meriah dan meminta Menteri Dalam Negeri untuk memberikan bantuan pengamanan, tapi kami memutuskan untuk tidak melakukan hal itu", demikian disampaikan Monsignor Mussalam.
"Kegembiraan warga muslim adalah kegembiraan kami juga. Kesedihan mereka, kesedihan kami pula. Kami mengalami krisis yang sama dan kami punya tujuan yang sama", ungkap pendeta tersebut. Ia juga menyatakan kesedihannya atas berbagai derita yang dialami saudara muslim atas penangkapan dan penganiayaan oleh penjajah Israel yang mengakibatkan banyak warga muslim Ghaza luka-luka, cacat, bahkan meninggal dunia. Termasuk saat Idhul Adha beberapa hari sebelumnya dimana tidak sedikit warga Ghaza yang tewas oleh peluru-peluru tentara Yahudi.
Warga kristiani sadar benar bahwa kondisi saat ini di Ghaza memaksa mereka untuk lebih menunjukkan empati kepada warga muslim yang secara massal sedang terdzolimi. Namun yang tidak kalah pentingnya untuk diuangkap adalah, mereka sadar dan paham betul bahwa sumber bencana di Ghaza dan Palestina yang sesungguhnya adalah penjajah Israel beserta antek-antek yang menjadi kompradornya.
Umat Kristiani di jalur Ghaza memang tidaklah banyak, hanya sekitar 2% dari total 1,5 juta penduduknya. Namun apa yang mereka nyatakan di moment Natal tahun ini mestinya bisa membelalakkan mata dunia. Terutama bagi mereka yang dipenuhi hasad dan rasa dengki, yang dengan ringan lidah melontarkan tuduhan terhadap para pejuang dan mujahid HAMAS serta para pemimpinnya di pemerintahan Palestina. Mereka berkicau bahwa HAMAS telah berkhianat kepada Allah dengan membantai penduduknya, kaum wanita dan anak-anak. Mereka memfitnah tanpa sesal dan rasa bersalah hingga detik ini. Padahal fakta-fakta telah menjungkirkan sesumbar dan dusta mereka. Dan kebohongan mereka pun telah nyata-nyata terbongkar dengan amat memalukan. Siapa ‘mereka’ ini?? Tentu saja ‘mereka’ adalah gerombolan Hizbut Tahrir yang penuh tipu muslihat. Masih ingat apa yang tertuang di Al-Islam edisi 361?
Biarlah ‘mereka’ asyik dengan kubangan dusta yang berbuih dimulutnya. Dan biarlah mereka menikmati ‘pahala’ atas kebohongan, dusta, tuduhan keji, dan fitnah yang mereka alamatkan kepada para mujahid yang berjuang untuk menyelamatkan aqidah dan tanah airnya. Sepenggal tanah air Islam yang diberkahi dengan masjid Al-Aqsho di atasnya. Sebab, moment Natal di Ghaza telah menambah bukti bahwa kebenaran akan terungkap dan fitnah akan terhina.







