Putriku, Cepat Sembuh ya..
Sudah 2 hari ini badan Salwa hangat. Parasnya yang lucu dan nggemesin tampak lesu dan kurang ceria. Pipinya yang biasanya mudah merekah karena senyumnya, sudah dua hari ini terasa sangat ‘mahal’. Dia sedang pelit senyum. Bahkan Ahad pagi kemarin, saat bersamaku jalan2 disekitar perumahan, reaksinya ‘very very cool’ meski salah seorang tantenya (tetangga rumah) mencoba menggodanya dengan berbagai gaya.
Perasaannya pun sangat sensitif, sedikit-sedikit nangis, bahkan tak jarang tangisnya melengking. Acara makan2 di Gokana Terriyaki yang sudah ayah-bundanya rencanakan jauh2 hari urung dilakukan. Soalnya Salwa ngga mungkin kena angin sementara kesehatannya lagi kurang bagus. Jadilah siang itu aku belanja bahan mentah di Mall Plaza Shinta yang letaknya kebetulan hanya beberapa meter dari pintu rumah.
Siang ini ayah Salwa masak spesial, mie goreng sozziz sapi dan nugget goreng sambal cocol, sedikit mirip menu di Gokkana. Cuma kurang steak daging sapi dan capcay (maklum bundanya ngga bisa ninggalin Salwa). Biar amatir, rasanya juga ngga kalah ko’, apalagi perut lagi kelaparan, hehehe.
Salwa masih makan bubur seduh Promina, belom bisa makan nuget apalagi tongseng. Ya sudahlah dia bareng makan dengan menu yang berbeda. Wajahnya sedikit berbinar dan ceria. Usai makan Salwa minum obat penurun panas, sayang dikeluarkannya kembali. Dia ngga suka minum obat, biar dicampur susu botol juga, tetep nggak mau. Itu susu yang tercampur obat dijamin bakal nggak akan diminum.
Sebenernya suhu tubuhnya belum begitu panas, baru kerasa hangat. So, baru ku kompres saja sesering mungkin. Menurutku belum mendesak dibawa ke dokter. Ku kompres pake tissue yang kubasahi air minum dari kulkas. Dia suka, soalnya dingin. Salwa sudah terbiasa pegang buah dingin yang baru keluar dari kulkas. Jemarinya yang mungil dan lentik biasanya pelan dan malu-malu menyentuhnya. Lama-lama dia suka dan tak takut lagi memainkan buah apel yang dingin itu.
Malam senin lalu bobo’nya juga sebentar-sebentar bangun. Jelas terlihat tidak nyenyak. Matanya lelah dan sembab. Panas badannya sedikit bertambah, mungkin karena tak nyenyak tidur. Pagi harinya, Salwa bangun dengan suasana sedikit berbeda. Matanya jeli melihat sekeliling. Sesekali ia menggeliat, dan kemudian tangisnya melengking. "aem..aem..aemm" begitu ucapnya disela-sela tangis yang melengking dipagi hari. Rupanya dia lapar dan haus. Padahal kalo lagi sehat, Salwa bangun dengan senyum, menggeliat kesana-kemari, dan tangan mungilnya meraba wajahku yang mendekatinya dan mengajaknya berdoa. "Alhamdulillah..". Sambil menunggu Bundanya menyiapkan susu formula, kusetel VCD kesukaan Salwa untuk meredakan rengekannya, "bismillah.. bismillah, dengan nama Allah, bismillah." demikian lirik lagunya. Wajah Salwa menyemburat senang.
Senin pagi Salwa di bawa ke dokter sama neneknya. Dan Alhamdulillah panasnya perlahan menurun sejak sore hari. Meski rewelnya belum ikut ilang. Semalam Tangerang diguyur hujan deras, sehingga Salwa terpaksa menginap di rumah nenek bersama bundanya. Sementara aku harus balik ke rumah untuk mencuci baju-baju Salwa yang sudah mulai menumpuk di keranjang baju. Pagi ini, aku menengoknya dan dia sudah bisa tertawa-tawa menyambutku.
………..
Nanda sayang, kita harus percaya dan yakin. Bahwa semua yang menimpa kita adalah yang terbaik buat kita. Ayah yakin, kamu paham (karena kamu pintar dan sholihah), bahwa sakit yang kita alami adalah sarana agar kelak kamu dan kita pandai bersyukur dengan nikmat sehat. Dan agar kelak kamu menjadi muslimah yang kuat, dan tak mudah menyerah dengan cobaan-cobaan dan kesulitan hidup. Aamiiin.







