October 31, 2007

Tak Perlu Khilafah

Filed under: PEMIKIRAN

JIHAD PALESTINA TAK PERLU MENANTI DATANGNYA KHILAFAH


Jika beranggapan bahwa menyelesaikan persoalan Palestina mesti dimulai dari terbentuknya khilafah islamiyah, maka sudah barang tentu angka-angka yang dikemukakan oleh Syiekh Abu Bakr pada lawatannya ke Indonesia Ramadhan lalu akan semakin meledak. Meski kedudukan seorang amirul mu’minin sangat penting bagi dunia Islam, namun membela, mempertahankan, dan membebaskan tanah waqaf Palestina adalah kepentingan yang tak mungkin ditunda-tunda hanya lantaran menanti lahirnya seorang khalifah yang entah kapan datangnya.

Bisa dibayangkan, jika mujahid-mujahid agung seperti pejuang HAMAS dan Jihad Islami tak pernah ada di bumi Palestina, juga faksi-faksi bersenjata Palestina seperti Brigade Izzudin Al-Qassam, Batalyon Syuhada Al-Aqsho, Brigade Syahid Abu Akr, Batalyon Tauhid, Batalyon Abu Ali Mustofa, Batalyon Ahmad Abu aisy, dan lain-lain semuanya juga tak pernah ada. Dan Palestina hanya dipenuhi orang-orang yang berfikiran seperti orang-orang Hizbut Tahrir yang terus saja hanya menunggu-nunggu datangnya seorang khalifah, tidaklah mustahil saat ini Palestina hanya tinggal kenangan belaka. Bukan tak mungkin pula bendera Israel telah berkibar di seantero bumi Al-Aqsho ini. Sedangkan semua penduduk muslimnya telah terbantai dengan simbahan darah di gedung-gedung seminar dan diskusi kekhalifahan.

Ibarat memancing di air keruh, propaganda Hizbut Tahrir tak bosan-bosannya mencuri kesempatan ditengah kesempitan. Ini terlihat dari beberapa tulisan di media propagandanya yang menafikan dan menyudutkan para pejuang dan mujahid Palestina. Ditambah dengan bumbu-bumbu untuk membesar-besarkan dan ‘memuji’ sepak terjang dirinya sendiri. Padahal jika harus diakui, konsep pergerakan HT yang tak mengindahkan realitas sosial dapat dibilang tak laku dan kurang menarik bagi mayoritas rakyat Palestina. Meski akhir-akhir ini mereka mengklaim sebagai sebuah arus baru yang signifikan di Palestina, faktanya perjalanan panjang sejak didirikan oleh pendirinya tak cukup ramai mendapatkan pengikut militan. Hitungan 4 ribuan atau 10 ribuan anggota selama kurun waktu 54 tahun termasuk cukup menyedihkan. Mengapa bangsa Palestina kurang tertarik dengan HT, jawabnya barangkali karena mereka lebih cinta hidup mulia atau mati syahid, ketimbang hanya duduk-duduk mendengarkan kisah tentang keruntuhan khilafah.

Maka sangat naif jika sebuah gerakan Islam yang mengaku punya andil dan solusi bagi perjuangan bangsa Palestina tetapi tidak memiliki sikap yang jelas tentang Israel si penjajah. Sangat aneh jika ada gerakan Islam yang bangga diri menjual issu syari’at dan khilafah dalam dakwahnya tetapi takut memanggul senjata dan berjihad di medan perang. Padahal bibirnya senantiasa dibasahi kalimat ’syari’ah dan khilafah’.

Bukankan ketika seruan jihad memanggil seorang mu’min seharusnya segera bergegas menyambutnya? Karena tidak sedikit ayat Al-Qur’an yang tegas-tegas menjelaskan kewajiban ini. Bukankah Allah dan Rasulullah saw. telah memiliki sikap yang jelas terhadap Yahudi la’natullah yang merampas dan memerangi kaum muslimin? Dan bukankah khalifah-khalifah Islam terdahulu juga telah mengamalkan jihad yang sesungguhnya ketika jengkal-jengkal tanah kaum muslimin dirampas oleh kekuatan musuh-musuh Allah?

Karenanya, syari’ah mana yang dipakai oleh Hizbut Tahrir sebagai sebuah gerakan Islam internasional terkait Palestina ini? Uswah mana lagi yang digunakan Hizbut Tahrir dengan bersikap lemah terhadap pencaplok tanah Islam? Bukankah Rasulullah dan para sahabat berpeluh debu dan darah untuk membebaskan jengkal tanah muslimin? Dan orang-orang terbaik itu pun memiliki pedang-pedang yang senantiasa mengayun ke ulu hati orang-orang Yahudi yang bersekutu menghancurkan Islam. Lantas model kekhalifahan mana yang dipilihnya untuk meninggalkan jihad qital, dan lebih memilih berbangga diri dengan rekayasa pergolakan pemikiran? Ketahuilah, obrolan-obrolan itu tak sedikitpun dapat menggetarkan nyali serdadu Israel, apalagi mengusir dan menghancurkannya.

Sementara puluhan ribu keluarga menjadi keluarga syuhada yang ditinggal suami dan ayah yang menjadi tulang punggung keluarganya. Puluhan ribu lainnya harus mendekam dibalik jeruji penjara yang pengap dan tak berperikemanusiaan. Ratusan ribu mengalami luka-luka serius demi mempertahankan Islam dan izzah mereka. Hingga tak mampu bekerja karena terluka, cacat, bahkan lumpuh diterjang peluru-peluru keji Yahudi.

Tak hanya sampai disitu, puluhan ribu rumah pun telah hancur berkeping terlindas buldozer-buldozer Israel. Ribuan ibu kehilangan anak-anak balita mereka, ribuan bocah Palestina meregang nyawa dijalanan. Seperti diungkap dalam sebuah data laporan tahunan, bahwa ditahun 2005 saja, dilaporkan 634 bocah Palestina tewas terenggut peluru dan bombardir rudal-rudal Israel dan 3.354 lainnya luka serius serta cacat. Sebanyak 4.991 anak Palestina tak memiliki tempat berteduh lantaran rumah-rumah mereka dihancurkan tentara-tentara Israel. Tidak kurang 40 ribu anak-anak terpaksa bekerja karena tak memiliki orang tua yang memberinya nafkah. Bahkan jutaan dari mereka harus hidup dalam ketakutan, kesulitan, kekurangan, dan kelaparan.

Sayangnya, sebuah gerakan Islam yang membangga-banggakan diri dengan omong besarnya hanya menonton dan duduk sambil ‘bersenda gurau’ tentang syari’ah dan khilafah. Di saat yang sama bocah-bocah belia dan pemuda Palestina bersama para mujahidin berjibaku dengan batu dan debu melawan tank-tank dan timah panas Israel. Sebagaimana yang dilakukan Hizbut Tahrir Palestina pada bulan Rajab tahun lalu di Ramalah.

Lebih miris lagi, saat itu secara terang-terangan DR. Nabil Halbi, salah satu jajaran pemimpin Hizbut Tahrir Palestina malah melontarkan serangan pedasnya terhadap pemerintah HAMAS dengan mengatakan “Pemerintahan sekarang merupakan pemerintahan ilegal karena dibangun di atas kesepakatan Oslo yang diprakarsai oleh pemerintah otonomi Palestina. Karena itu, pemerintahan seperti ini sama sekali tidak menerapkan Islam.” Sementara faktanya, pejuang HAMAS baik yang di lapangan maupun yang di pemerintahan hingga detik ini, mereka adalah orang-orang yang konsisten dan lurus dengan jihadnya melawan Israel.

Pernyataan bernada sinis ini tentu terlontar sebagai akibat dari tidak kurangnya 60% rakyat Palestina menyandarkan kepercayaannya kepada HAMAS untuk memerintah Palestina lewat kotak suara dalam pemilu Januari 2006 lalu. Pemilu yang oleh dunia internasional dikatakan sebagai pemilu paling demokratis di Palestina. Disisi yang lain, Halbi yang juga seorang dosen ilmu Kimia di Universitas Islam di Ghaza mengemukakan bahwa Hizbut Tahrir adalah partai politik yang berbasis Islam dan berupaya mendirikan negara Islam.

Disamping itu, Hizbut Tahrir Palestina yang dalam seminar akbarnya membentang lebar-lebar jargon “Hilangnya Khilafah Sebabkan Hilangnya Palestina” dan “Dengan Khilafah Kita Memerangi bukan Diperangi” justru adem ayem tak terlihat batang hidungnya di medan jihad. Fakta pahit itu tergambar dari apa yang dikemukakan salah seorang syeikhnya Hizbut Tahrir Palestina, Syeikh Abu Abdullah, yang mengatakan "Solusinya bukan mengirimkan 10.000 orang dari Gaza ke Israel untuk menghapuskan pos militer.” Karena bagi mereka "Suatu pembicaraan tentang kembalinya kepada Khilafah, pembicaraan tentang kembali kepada nila-nilai agama adalah sesuatu yang menarik untuk orang-orang." kata Majid Abu Malah, 55, seorang pengajar Bahasa Arab (www.syabab.com, 28/9/2007). Mereka lupa, bahwa kader dan simpatisan HAMAS adalah orang-orang yang sangat baik akhlak dan kualitas agamanya, serta konsisten amal jihadnya.

Padahal seruan jihad mengangkat senjata demikian meraung-raung memanggilnya untuk bertempur menyelamatkan aqidah, syari’ah, dan Islamnya. Namun rentetan senjata tentara-tentara Israel yang mengoyak tubuh para mujahid itu tak cukup nyaring ditelinga para aktivis HT. Seolah-olah, usia pergerakan yang telah melampaui 54 tahun tak cukup mampu memahami konsep jihad yang Allah perintahkan, sehingga mereka tak suka memanggul senjata dan lebih senang duduk berceloteh soal khilafah yang telah runtuh. Sedang tentang jihad memanggul senjata, mereka masih bingung seperti bingungnya orang yang linglung. Lihat saja apa yang dituturkan sang pendiri Hizbut tahrir, Syeikh Taqiyyuddin An-Nabhani dalam bukunya Al-Dausiyah.

Disana dikemukakan bahwa jihad qital Hizbu Tahrir disandarkan kepada titah seorang pemimpin negara, tak peduli apakah dia muslim atau kafir, mukmin atau dzalim. Bukan didasarkan kepada perintah syariah yang tertulis jelas-jelas di dalam Al-Qur’an. Maka dalam konteks perjuangan Palestina, selama tak keluar perintah jihad melawan Israel dari mulut Presiden Palestina Mahmud Abbas, maka tak ada kamusnya aktivis HT terjun ke medan jihad. Sedangkan dunia tahu bahwa Mahmud Abbas dan Fatah yang kalah dalam pemilu tahun lalu telah berkolaborasi dengan Israel untuk menggulingkan pemerintahan HAMAS dengan menghalalkan segala cara.

Oleh karena itu, sosok Syeikh Abu Bakr mestinya bisa menyadarkan semua pihak yang mengklaim punya perhatian besar terhadap pembebasan masjid Al-Aqsho dan Palestina. Bahwa berjuang, berjihad untuk memuliakan aqidah dan imannya, membela bangsa dan jengkal tanah air Islam, tak perlu menunggu datangnya khalifah. Kapan pun dan dimana pun, ketika kekuatan-kekuatan kufur menganiaya dan merongrong, bahkan merampas hak-hak kaum muslimin, maka wajib baginya bahu-membahu untuk berdiri tegak mengangkat senjata dan berjihad sepenuh hati sampai Allah memberikan satu di antara dua kemuliaan, hidup mulia atau mati syahid.

Namun, sekali lagi disayangkan, garis perjuangan Hizbut Tahrir hanya sebatas omongan saja, “Satukan Hamas dan Fatah untuk melawan Israel yang didukung AS. Mereka harus bersatu padu mengusir Israel”, dan ungkapan “Galang setiap negeri-negeri Islam untuk ’semakin peduli’ dengan permasalahan Palestina. Ajak mereka untuk bersatu menerapkan syariah dan menyatukan umat dalam Khilafah sekaligus melawan penjajah Israel” (Lajnah Siyasiyah HTI, www.hizbut-tahrir.or.id, 29/10/07), Sementara mereka sendiri hanya duduk-duduk saja meninggalkan jihad.

4 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://rhisy.blogsome.com/2007/10/31/41/trackback/

  1. Assalamualaikum

    Salam ukhuwah, pada dasarnya jihad terbagi menjadi dua, yaitu jihad defensif dan ofensif. Konteks Palestina saat ini merupakan jihan defensif (mempertahankan diri) dari serangan Israel. Penduduk muslim di Palestina wajib berjihad untuk mengusir Israel dari wilayah Palestina. Sedangkan jihad ofensif merupakan penaklukan wilayah untuk diseru kepada Islam, dan pada jihad ini maka harus ada institusi yang memimpin yaitu Daulah Islam yang menyebarkan Islam melalui dakwah dan jihad.Semua kasus yang terjadi di negeri-negeri Islam disebabkan tidak adanya Khilafah yang memimpin kaum muslimin di seluruh dunia, akibatnya Israel dengan leluasanya dapat menjajah Palestina sejak puluhan tahun yang lalu. Saya setuju dengan wajibnya jihad di Palestina, namun kita juga harus cermat dalam menganalisis akar permasalahan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin. Selain itu perlu adanya perubahan sistem yang sedang mengadidaya saat ini yaitu Kapitalisme Global, untuk kemudian digantikan dengan sistem Islam ala Manhaj Kenabian.

    Wassalam

    Comment by tursina istibaraq — December 17, 2007 @ 4:28 am

  2. Assalamualaikum akhi….wah kayaknya nada blognya ‘protes’ terus nih….saya sendiri salut dengan kegigihan dan keikhlasan temen2 PKS dan saya juga kagum dengan kekuatan tekat temen temen HT, tapi sebelum kita menduga orang ‘berprasangka’ bukankah itu berrati kita berprasangka buruk dulu (paradoks) dan mungkin kalo temen HTI mau duduk dengan kepala dingin dan antum pun mencoba duduk dalam liqa’ atau halaqah mereka, maka bersitegang seperti ini tidak perlu terjadi…wallahu ‘alam

    Comment by Amee — December 27, 2007 @ 11:21 pm

  3. akhi… tulisan antum ana posting ke blog ana ya.. jazakallah khairan atas usaha antum mengungkap kebohongan dakwah HTI yang katanya pro syari’ah tapi anti jihad, masak disaat perang beraninya cuma aksi damai…Allahu Akbar!!!
    di blog ana, ana juga konsisten mengungkap penipuan2 aktivis HTI, silakan berkunjung akhi…

    Comment by panglima galang — January 19, 2008 @ 4:37 am

  4. “Disana dikemukakan bahwa jihad qital Hizbu Tahrir disandarkan kepada titah seorang pemimpin negara, tak peduli apakah dia muslim atau kafir, mukmin atau dzalim. ”

    dalam nasrah dan berbagai kitab resmi sangat gamblang disebutkan bahwa
    “sebagus apapun ‘akhlaknya’, orang kafir dan perempuan haram hukumnya diangkat sebagai pemegang kekuasaan.

    HT menentang jihad ?
    HT juga mengakui dan mengadopsi jihad defensif tanpa perlu adanya khalifah
    namun tidak mengakui jihad ofensif dengan bom sana-sini tak peduli daerah perang, negeri muslim atau kafir dzimmi

    Sungguh ini adalah sebuah fitnah
    dan nampaknya masih banyak fitnah yang tersebar di sini.
    mudah-mudahan hanya karena ketidakpahaman atau maaf sok alim
    bukan karena kejahatan berbalut jubah malaikat kayk abdullah bin saba, snock, lawrence, dll

    Comment by alhikmah99 — January 19, 2009 @ 2:11 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer