October 31, 2007

Tak Perlu Khilafah

Filed under: PEMIKIRAN

JIHAD PALESTINA TAK PERLU MENANTI DATANGNYA KHILAFAH


Jika beranggapan bahwa menyelesaikan persoalan Palestina mesti dimulai dari terbentuknya khilafah islamiyah, maka sudah barang tentu angka-angka yang dikemukakan oleh Syiekh Abu Bakr pada lawatannya ke Indonesia Ramadhan lalu akan semakin meledak. Meski kedudukan seorang amirul mu’minin sangat penting bagi dunia Islam, namun membela, mempertahankan, dan membebaskan tanah waqaf Palestina adalah kepentingan yang tak mungkin ditunda-tunda hanya lantaran menanti lahirnya seorang khalifah yang entah kapan datangnya.

Bisa dibayangkan, jika mujahid-mujahid agung seperti pejuang HAMAS dan Jihad Islami tak pernah ada di bumi Palestina, juga faksi-faksi bersenjata Palestina seperti Brigade Izzudin Al-Qassam, Batalyon Syuhada Al-Aqsho, Brigade Syahid Abu Akr, Batalyon Tauhid, Batalyon Abu Ali Mustofa, Batalyon Ahmad Abu aisy, dan lain-lain semuanya juga tak pernah ada. Dan Palestina hanya dipenuhi orang-orang yang berfikiran seperti orang-orang Hizbut Tahrir yang terus saja hanya menunggu-nunggu datangnya seorang khalifah, tidaklah mustahil saat ini Palestina hanya tinggal kenangan belaka. Bukan tak mungkin pula bendera Israel telah berkibar di seantero bumi Al-Aqsho ini. Sedangkan semua penduduk muslimnya telah terbantai dengan simbahan darah di gedung-gedung seminar dan diskusi kekhalifahan.

Ibarat memancing di air keruh, propaganda Hizbut Tahrir tak bosan-bosannya mencuri kesempatan ditengah kesempitan. Ini terlihat dari beberapa tulisan di media propagandanya yang menafikan dan menyudutkan para pejuang dan mujahid Palestina. Ditambah dengan bumbu-bumbu untuk membesar-besarkan dan ‘memuji’ sepak terjang dirinya sendiri. Padahal jika harus diakui, konsep pergerakan HT yang tak mengindahkan realitas sosial dapat dibilang tak laku dan kurang menarik bagi mayoritas rakyat Palestina. Meski akhir-akhir ini mereka mengklaim sebagai sebuah arus baru yang signifikan di Palestina, faktanya perjalanan panjang sejak didirikan oleh pendirinya tak cukup ramai mendapatkan pengikut militan. Hitungan 4 ribuan atau 10 ribuan anggota selama kurun waktu 54 tahun termasuk cukup menyedihkan. Mengapa bangsa Palestina kurang tertarik dengan HT, jawabnya barangkali karena mereka lebih cinta hidup mulia atau mati syahid, ketimbang hanya duduk-duduk mendengarkan kisah tentang keruntuhan khilafah.

Maka sangat naif jika sebuah gerakan Islam yang mengaku punya andil dan solusi bagi perjuangan bangsa Palestina tetapi tidak memiliki sikap yang jelas tentang Israel si penjajah. Sangat aneh jika ada gerakan Islam yang bangga diri menjual issu syari’at dan khilafah dalam dakwahnya tetapi takut memanggul senjata dan berjihad di medan perang. Padahal bibirnya senantiasa dibasahi kalimat ’syari’ah dan khilafah’.

Bukankan ketika seruan jihad memanggil seorang mu’min seharusnya segera bergegas menyambutnya? Karena tidak sedikit ayat Al-Qur’an yang tegas-tegas menjelaskan kewajiban ini. Bukankah Allah dan Rasulullah saw. telah memiliki sikap yang jelas terhadap Yahudi la’natullah yang merampas dan memerangi kaum muslimin? Dan bukankah khalifah-khalifah Islam terdahulu juga telah mengamalkan jihad yang sesungguhnya ketika jengkal-jengkal tanah kaum muslimin dirampas oleh kekuatan musuh-musuh Allah?

Karenanya, syari’ah mana yang dipakai oleh Hizbut Tahrir sebagai sebuah gerakan Islam internasional terkait Palestina ini? Uswah mana lagi yang digunakan Hizbut Tahrir dengan bersikap lemah terhadap pencaplok tanah Islam? Bukankah Rasulullah dan para sahabat berpeluh debu dan darah untuk membebaskan jengkal tanah muslimin? Dan orang-orang terbaik itu pun memiliki pedang-pedang yang senantiasa mengayun ke ulu hati orang-orang Yahudi yang bersekutu menghancurkan Islam. Lantas model kekhalifahan mana yang dipilihnya untuk meninggalkan jihad qital, dan lebih memilih berbangga diri dengan rekayasa pergolakan pemikiran? Ketahuilah, obrolan-obrolan itu tak sedikitpun dapat menggetarkan nyali serdadu Israel, apalagi mengusir dan menghancurkannya.

Sementara puluhan ribu keluarga menjadi keluarga syuhada yang ditinggal suami dan ayah yang menjadi tulang punggung keluarganya. Puluhan ribu lainnya harus mendekam dibalik jeruji penjara yang pengap dan tak berperikemanusiaan. Ratusan ribu mengalami luka-luka serius demi mempertahankan Islam dan izzah mereka. Hingga tak mampu bekerja karena terluka, cacat, bahkan lumpuh diterjang peluru-peluru keji Yahudi.

Tak hanya sampai disitu, puluhan ribu rumah pun telah hancur berkeping terlindas buldozer-buldozer Israel. Ribuan ibu kehilangan anak-anak balita mereka, ribuan bocah Palestina meregang nyawa dijalanan. Seperti diungkap dalam sebuah data laporan tahunan, bahwa ditahun 2005 saja, dilaporkan 634 bocah Palestina tewas terenggut peluru dan bombardir rudal-rudal Israel dan 3.354 lainnya luka serius serta cacat. Sebanyak 4.991 anak Palestina tak memiliki tempat berteduh lantaran rumah-rumah mereka dihancurkan tentara-tentara Israel. Tidak kurang 40 ribu anak-anak terpaksa bekerja karena tak memiliki orang tua yang memberinya nafkah. Bahkan jutaan dari mereka harus hidup dalam ketakutan, kesulitan, kekurangan, dan kelaparan.

Sayangnya, sebuah gerakan Islam yang membangga-banggakan diri dengan omong besarnya hanya menonton dan duduk sambil ‘bersenda gurau’ tentang syari’ah dan khilafah. Di saat yang sama bocah-bocah belia dan pemuda Palestina bersama para mujahidin berjibaku dengan batu dan debu melawan tank-tank dan timah panas Israel. Sebagaimana yang dilakukan Hizbut Tahrir Palestina pada bulan Rajab tahun lalu di Ramalah.

Lebih miris lagi, saat itu secara terang-terangan DR. Nabil Halbi, salah satu jajaran pemimpin Hizbut Tahrir Palestina malah melontarkan serangan pedasnya terhadap pemerintah HAMAS dengan mengatakan “Pemerintahan sekarang merupakan pemerintahan ilegal karena dibangun di atas kesepakatan Oslo yang diprakarsai oleh pemerintah otonomi Palestina. Karena itu, pemerintahan seperti ini sama sekali tidak menerapkan Islam.” Sementara faktanya, pejuang HAMAS baik yang di lapangan maupun yang di pemerintahan hingga detik ini, mereka adalah orang-orang yang konsisten dan lurus dengan jihadnya melawan Israel.

Pernyataan bernada sinis ini tentu terlontar sebagai akibat dari tidak kurangnya 60% rakyat Palestina menyandarkan kepercayaannya kepada HAMAS untuk memerintah Palestina lewat kotak suara dalam pemilu Januari 2006 lalu. Pemilu yang oleh dunia internasional dikatakan sebagai pemilu paling demokratis di Palestina. Disisi yang lain, Halbi yang juga seorang dosen ilmu Kimia di Universitas Islam di Ghaza mengemukakan bahwa Hizbut Tahrir adalah partai politik yang berbasis Islam dan berupaya mendirikan negara Islam.

Disamping itu, Hizbut Tahrir Palestina yang dalam seminar akbarnya membentang lebar-lebar jargon “Hilangnya Khilafah Sebabkan Hilangnya Palestina” dan “Dengan Khilafah Kita Memerangi bukan Diperangi” justru adem ayem tak terlihat batang hidungnya di medan jihad. Fakta pahit itu tergambar dari apa yang dikemukakan salah seorang syeikhnya Hizbut Tahrir Palestina, Syeikh Abu Abdullah, yang mengatakan "Solusinya bukan mengirimkan 10.000 orang dari Gaza ke Israel untuk menghapuskan pos militer.” Karena bagi mereka "Suatu pembicaraan tentang kembalinya kepada Khilafah, pembicaraan tentang kembali kepada nila-nilai agama adalah sesuatu yang menarik untuk orang-orang." kata Majid Abu Malah, 55, seorang pengajar Bahasa Arab (www.syabab.com, 28/9/2007). Mereka lupa, bahwa kader dan simpatisan HAMAS adalah orang-orang yang sangat baik akhlak dan kualitas agamanya, serta konsisten amal jihadnya.

Padahal seruan jihad mengangkat senjata demikian meraung-raung memanggilnya untuk bertempur menyelamatkan aqidah, syari’ah, dan Islamnya. Namun rentetan senjata tentara-tentara Israel yang mengoyak tubuh para mujahid itu tak cukup nyaring ditelinga para aktivis HT. Seolah-olah, usia pergerakan yang telah melampaui 54 tahun tak cukup mampu memahami konsep jihad yang Allah perintahkan, sehingga mereka tak suka memanggul senjata dan lebih senang duduk berceloteh soal khilafah yang telah runtuh. Sedang tentang jihad memanggul senjata, mereka masih bingung seperti bingungnya orang yang linglung. Lihat saja apa yang dituturkan sang pendiri Hizbut tahrir, Syeikh Taqiyyuddin An-Nabhani dalam bukunya Al-Dausiyah.

Disana dikemukakan bahwa jihad qital Hizbu Tahrir disandarkan kepada titah seorang pemimpin negara, tak peduli apakah dia muslim atau kafir, mukmin atau dzalim. Bukan didasarkan kepada perintah syariah yang tertulis jelas-jelas di dalam Al-Qur’an. Maka dalam konteks perjuangan Palestina, selama tak keluar perintah jihad melawan Israel dari mulut Presiden Palestina Mahmud Abbas, maka tak ada kamusnya aktivis HT terjun ke medan jihad. Sedangkan dunia tahu bahwa Mahmud Abbas dan Fatah yang kalah dalam pemilu tahun lalu telah berkolaborasi dengan Israel untuk menggulingkan pemerintahan HAMAS dengan menghalalkan segala cara.

Oleh karena itu, sosok Syeikh Abu Bakr mestinya bisa menyadarkan semua pihak yang mengklaim punya perhatian besar terhadap pembebasan masjid Al-Aqsho dan Palestina. Bahwa berjuang, berjihad untuk memuliakan aqidah dan imannya, membela bangsa dan jengkal tanah air Islam, tak perlu menunggu datangnya khalifah. Kapan pun dan dimana pun, ketika kekuatan-kekuatan kufur menganiaya dan merongrong, bahkan merampas hak-hak kaum muslimin, maka wajib baginya bahu-membahu untuk berdiri tegak mengangkat senjata dan berjihad sepenuh hati sampai Allah memberikan satu di antara dua kemuliaan, hidup mulia atau mati syahid.

Namun, sekali lagi disayangkan, garis perjuangan Hizbut Tahrir hanya sebatas omongan saja, “Satukan Hamas dan Fatah untuk melawan Israel yang didukung AS. Mereka harus bersatu padu mengusir Israel”, dan ungkapan “Galang setiap negeri-negeri Islam untuk ’semakin peduli’ dengan permasalahan Palestina. Ajak mereka untuk bersatu menerapkan syariah dan menyatukan umat dalam Khilafah sekaligus melawan penjajah Israel” (Lajnah Siyasiyah HTI, www.hizbut-tahrir.or.id, 29/10/07), Sementara mereka sendiri hanya duduk-duduk saja meninggalkan jihad.

October 30, 2007

Lawatan Jihad

Filed under: PEMIKIRAN

SYEIKH ABU BAKR DI INDONESIA
 

Dalam sebuah lawatan jihad ke Indonesia Ramadhan tahun ini, salah seorang mujahid Hamas, Syeikh Abu Bakr, menyampaikan berita-berita mencengangkan yang membuat pedih dan perih hati umat Islam Indonesia. Kondisi terkini bumi jihad Palestina sangat memilukan hati bagi siapa saja yang cinta Islam dan umatnya. Seperti dimuat oleh www.eramuslim.com 29/10 lalu.

Beliau kabarkan bahwa saat ini tidak kurang dari 7.000 keluarga yang ditinggal syahid oleh orang tua atau anaknya sejak intifadhah pertama hingga intifadha kedua. Deretan mujahid yang syahid tak hanya dari kalangan pria saja, namum wanita dan anak-anak telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ‘tumbal’ perjuangan bangsa Palestina.

Penangkapan, penyiksaan, dan bombardir rudal-rudal Israel telah mengakibatkan lebih dari 500.000 muslim Palestina luka-luka dan cacat. Tak sedikit diantaranya cacat dan lumpuh seumur hidup. Dengan kondisi ini, praktis ratusan ribu rakyat Palestina tak mampu bekerja mengais riski dan bergantung kepada orang lain.

Kondisi infrastruktur tanah jihad itupun tidak lebih baik, 10.000 rumah lebih telah dihancurkan dan diluluh lantakkan oleh rudal dan buldozer Yahudi terlaknat. Tidak hanya itu, beliau menambahkan “Dan sekarang ini kami dipisahkan dengan adanya pembangunan tembok-tembok pemisah yang sangat kokoh dan tingginya sampai dengan 10 meter. Sehingga sekarang ini kami dipisahkan dari rumah-rumah kami, kami dipisahkan dari rumah-rumah sakit kami, kami dipisahkan dari universitas-universitas kami”. Bahkan dikatakannya, perempuan-perempuan Palestina terpaksa melahirkan bayinya pos-pos perbatasan dan di pinggir-pinggir jalan. Sangat memilukan.

Sekarang ini jumlah orang Palestina yang mendekam dipenjara-penjara Israel lebih dari 12.000 orang. Semuanya mengalami penyiksaan yang sangat keji dan tidak manusiawi. Banyak diantara mereka yang akhirnya menemui kesyahidan atau cacat luar biasa sebagaimana apa yang menimpa Syeikh Siyam, panggilan lain Syeikh Abu Bakr. Meski tampak masih tegap dan kuat, namun fungsi penglihatan kedua matanya sudah tidak ada lagi alias buta. Meskipun kedua matanya tetap terbuka seperti orang-orang lain. Ust. Ferry Noor, Ketua KISPA, berujar “Beliau pernah ditangkap sampai lima kali oleh tentara Zionis-Israel dan mengalami siksaan. Salah satu siksaannya dengan listrik dan mengakibatkan kebutaan. Allah telah membutakan mata beliau dari segala kekotoran dan kemaksiatan dunia”.

Bahkan dari laporan terbaru tentang kondisi tawanan perempuan, terungkap bahwa perlakuan sipir di ruang-ruang penjara sangat-sangat jauh dari manusiai dan melanggar hukum internasional. Sanitasi yang buruk, dan layanan pengobatan yang sangat minim membuat derita para tawanan semakin hebat dan perih.

Bumi yang diwariskan oleh Umar Al-Faruq, yang diatasnya berdiri tegar Masjid Al-Aqsho, berteriak memanggil umat Islam diseluruh dunia. Masjid yang dulunya dijejali jamaahnya yang tidak kurang dari 500.000 orang, kini hanya diramaikan tidak lebih dari 10 %nya, itupun terdiri dari kalangan orang tua yang usianya telah melebihi 50 tahun. Tentara Israel telah memperketat aturan seenaknya sendiri untuk menghalang-halangi rakyat Palestina yang ingin sholat di masjidnya sendiri. Sekali lagi Syeikh Abu Bakr menyeru kepada dunia Islam, “Wahai Saudaraku, selamatkanlah Al-Aqsha, karena Al-Aqsha ini akan segera runtuh jika kaum Muslimin tidak segera membantunya.

Dalam lawatannya tersebut, syeikh yang juga salah seorang mantan Imam Besar masjid Al-Aqsho ini menyampaikan kabar tentang pejuang-pejuang HAMAS, Bahwa setelah rakyat Palestina menghendaki perubahan pemerintahan dengan ditandainya kemenangan HAMAS, tentara-tentara Zionis Israel telah terusir dari Jalur Gaza yang jauhnya tidak kurang dari 350 km. Sehingga, mereka tidak mampu lagi masuk ke Jalur Gaza meski sejengkal tanah. Pemerintahan dibawah Perdana Menteri Ismail Haniya juga telah membangun kembali rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah, dan universitas yang telah banyak dihancurkan tentara barbar Yahudi.

Serta satu hal yang sangat jauh lebih penting, “kami juga berhasil dengan dakwah dan tarbiyah kami sehingga kami dapat menciptakan generasi-generasi Islam yang tangguh di sisi Al-Qur’an dan Assunnah Rasulullah SAW” tegasnya. Dalam kunjungannya di markas www.eramuslim.com beliau menutup pernyataannya dengan mengatakan: “Saya sendiri khawatir, bukan khawatir dengan pejuang-pejuang para mujahidin Palestina, Tetapi saya khawatir dengan diri saya dan kalian semua yang ada di Indonesia, yang sekarang masih menunggu di jalan jihad. Kita sedang menunggu untuk bisa tiba di sana, tetapi mereka telah ada di sana dan menunggu untuk bisa mendapat syahid atau hidup mulia. Jika kita semua ingin tiba di sana, berdoalah kepada Allah dan tetaplah istiqomah sehingga nantinya kita termasuk orang-orang yang dipilih Allah untuk membebaskan al-Aqsha dan kita bisa melaksanakan sholat berjamaah di sana dengan aman.”

 

October 2, 2007

Lidah Keji Syabab

Filed under: PEMIKIRAN

LAGI, LIDAH KEJI DAN DUSTA HIZBUT TAHRIR


Amat menyedihkan bahwa Hizbut Tahrir tak jera dan semakin menikmati omong kosong dan fitnah serta kedustaannya. Perilaku yang sangat jauh dari syari’at dan nilai-nilai Islam. Dengan artikel di www.syabab.com. yang disebarkan sdr. Bejo ini, membuktikan Hizbut Tahrir ingin menegaskan kesombongannya dengan jalan mengulang fitnah Al-Islam edisi 361 dan menutup mata terhadap kebenaran. Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni, atau melaknatnya kepada kelompok-kelompok yang dzalim lagi keji.

Berikut ini salah satu kalimat utama petikan tulisan dari www.syabab.com, kiriman sdr. Bejo, salah seorang kader HTI yang ‘militan’.

"..Banyak rakyat Palestina yang kecewa terhadap kedua kelompok tersebut yang mengakibatkan Palestina terbagi dua, satu di bawah kendali Hamas dan lainnya dikuasai Fatah. Hizbut Tahrir sendiri pernah mengingatkan kedua kelompok itu untuk sama-sama kembali kepada solusi Islam, bukan saling bunuh. Dalam selebarannya beberapa bulan lalu, gerakan yang lahir dari Masjid Al-Aqsa, 54 tahun yang lalu ini mengingatkan bahwa perilaku saling bunuh antara Fatah dan Hamas merupakan kejahatan dan pengkhianatan kepada Allah Swt."

Umat Islam mengetahui bahwa Hizbut Tahrir tak pernah memberikan apa-apa terhadap perjuangan bangsa Palestina meski dalam salah satu petikan tulisan tersebut menyebutkan ”… Hizbut Tahrir sendiri pernah mengingatkan kedua kelompok itu untuk sama-sama kembali kepada solusi Islam, bukan saling bunuh”. Melainkan hanya berupa pernyataan-pernyataan keji dan fitnah yang dengan senang hati mereka sebut sebagai sebuah nasehat. Karena yang dilakukan HT selama 54 tahun ini di Palestina hanyalah jualan issu syari’at & khilafah ditengah desingan rudal yang menembus dinding dan mengoyak tubuh rakyat Palestina setiap detik dan menit. Sementara, tak terdengar satupun dari mereka yang syahid lantaran berjuang memanggul senjata melawan Zionis Israel.

Karenanya tulisan tidak valid yang hanya didasarkan kepada sumber-sumber tak terpercaya ini nampak demikian aneh dan pongah. Duh, jurnalisme yang sangat menyedihkan. Jika hanya menyandarkan kepada media syabab.com (milik HT) maka dari sudut pandang mana berita ini teruji kebenarannya? Semestinya bisa ditampilkan data-data dari Al-Jazirah, Reuters, infopalestina.com, TV dan media-media terkenal Arab dan Timur Tengah, atau lainnya. Sementara ‘Telegraph Online’ yang dijadikan salah satu sumbernya, sepertinya tidak pernah dikenal di dunia Islam (bahkan tak pernah menjadi rujukan sekedar berita di www.eramuslim.com?).

Semua orang mengetahui bahwa jumlah penduduk Palestina jutaan jiwa. Kalo 10.000 disebut www.syabab.com (mewakili HTI) itu ‘banyak’, ya sah-sah saja. Terus, bagaimana dengan mayoritas rakyat Palestina yang mendukung dan mencintai Hamas karena Allah, yang jumlahnya jutaan?? Baiknya disebut ‘banyak’, ’sangat banyak’, ‘banyak sekali’, atau ’sangat sedikit sekali’?? Tulisan situs HTI tersebut membesar-besarkan yang kecil dan mengecilkan yang besar.

Kalo hanya …."Seseorang yang tinggal di Palestina sekarang benar-benar membutuhkan partai politik, terutama pada Islam yang satu, tidak dicapai sesuatu untuk individu." kata Syeikh Abu Abdullah seperti dilaporkan telegraph online…., maka itu maknanya nggak banyak, kan cuma ’seseorang’? Atau kalo cuma… "Sekitar 50 orang pria, muda dan tua, berkumpul selepas sholat pada suatu malam untuk mendengarkan kajian dari syeikh di salah satu masjid.".., artinya hanya 50-an orang, bukan ‘banyak’.

Kalimat…"banyak orang Palestina yang kecewa’ kepada HAMAS pun sangat subjektif dan menipu. Kalau kecewa kepada Fatah memang benar, tetapi kepada HAMAS? Sungguh sangat jauh dari fakta. Disamping pernyataan ini tak mendasar dan lebih ingin membesar-besarkan Hizbut Tahrir, ungkapan ini pun sangat jauh dari fakta di lapangan yang pada beberapa bulan ini banyak diungkap oleh lembaga-lembaga independen baik nasional Palestina maupun internasional. Hasil polling yang di publis oleh harian Time, Washington Post, Pusat Polling Palestina, dan lembaga HAM Palestina, dan beberapa media di Eropa beberapa waktu lalu menunjukan bahwa dukungan dan simpati bangsa Palestina kepada HAMAS semakin besar. Sebaliknya Fatah semakin terpuruk dan ditinggalkan rakyat Palestina karena kedzaliman dan kebodohannya tunduk kepada Israel. Data-data polling tersebut bisa dilihat di www.infopalestina.com.

Sedang mengenai tuduhan HT bahwa HAMAS berkhianat kepada Allah SWT, sangat mengada-ada dan buta terhadap fakta, logika dan syari’at Islam. Pada lawatan Syeikh Muhammad Siyam (mantan Imam Besar Masjid Al-Aqsho yang diusir dan diasingkan Israel la’natullah), 16 September 2007 lalu di masjid Agung Al-Azhar Jakarta, beliau menyampaikan kesaksian bahwa sebenarnya Pemerintah Indonesia dan Qatar, telah berupaya menawarkan solusi dan mediasi dialogis atas persoalan Palestina di PBB. Akan tetapi justru Mahmud Abbas yang menolak dan menghalang-halangi niat dan upaya baik kedua negara tersebut, dan lebih memilih duduk meminum teh bersama Pemerintah Israel dan Bush. Sedangkan dari pihak HAMAS tak pernah henti-hentinya menawarkan jalan dialog dan persatuan kepada kelompok Fatah, dunia Islam pun mengetahuinya (kecuali HT kali ya?). Jadi, mudah sekali untuk disimpulkan mana yang berkhianat kepada Allah dan kaum muslimin dan mana yang berpijak diatas Islam? Anak Taman Kanak-Kanak saja dengan mudah bisa membedakannya.

Dan tidak heran jika Hizbut Tahrir bisa bisa memasang …"Poster-poster seruan terhadap khilafah mereka tempel pada setiap dinding di pusat kota. Bahkan di pusat kota Ramalah terpampang sebuah banner raksasa bertuliskan, "Khilafah: Super Power Masa Depan". Karena sangat terkait dengan prinsip jihad HT yang sangat aneh dan membingungkan. Karenanya HT di elus Mahmud Abbas di Ramalah yang jelas-jelas antek Yahudi, sebab Abbas tahu persis siapa ‘kawan’ yang menguntungkan untuk mendzalimi HAMAS.

Dalam salah satu kitab rujukan (kitap doktrin) Hizbut Tahrir, kitab ‘Al-Dausiyah’ halaman 62 baris 25-37, disebutkan: "Disini terkadang timbul pertanyaan, yaitu apakah penguasa (baca: penguasa sekuler ataupun kafir) yang telah mempersiapkan peperangan buat melawan orang kafir demi melaksanakan rencana negara kafir, dalam hal ini apakah berperang hukumnya wajib dibawah pemerintah penguasa tersebut? Jawaban atas hal itu adalah: bila rencana tersebut tidak menghantam kaum muslimin dan tidak menyakiti mereka, maka berperang hukumnya adalah wajib dibawah bendera pemerintah tersebut sekalipun hal itu untuk merealisasikan rencana negara kafir selama peperangan tersebut melawan orang-orang kafir juga.

Sebaliknya…."Akan tetapi, bila rencana tersebut untuk memukul kaum muslimin dan dilaksanakan untuk menghancurkan kaum muslimin, maka dalam kondisi ini tidak wajib berperang di bawah bendera penguasa kafir.."

Dari fakta diatas, bagi Hizbut Tahrir, kewajiban ataupun keharaman berperang (jihad fii sabililah) bukan atas ketundukan kepada perintah Allah dan syari’at (Al-Qur’an & Sunnah), melainkan kepada penguasa, meski penguasa tersebut adalah penguasa kafir (semata-mata untuk ber-khidmah kepada orang kafir yang ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya). Na’udzubillah. Ini benar-benar doktrin yang khianat kepada Allah SWT. Dimana konsep syari’at dan khilafah yang selama ini digembar-gemborkan?

Di fakta yang lain, sejak pendirian Hizbut Tahrir tahun 1953 di Al-Quds, sejarah bangsa Palestina bisa dikatakan tak pernah di hiasi tinta emas perlawanan oleh murid-murid Taqiyuddin An-Nabhani kepada agresor yahudi. Sejarah perlawanan dan perjuangan rakyat Palestina tak mencium darah mujahid dan syuhada Hizbut Tahrir. Karenanya, patut dipertanyakan dimana kader-kader HT meregang nyawa saat kematian menjemput, apakah di atas ranjang yang empuk dan bersih dari debu jihad? Lantas bagaimana mereka mengatakan bahwa “Semakin meningkatnya aktifitas Hizbut Tahrir di Palestina ini tentu bukan untuk menyaingi Hamas. Namun menawarkan solusi jitu bagi pembebasan Al-Quds, Palestina dan negeri-negeri Muslim lainnya yang saat ini masih dijajah Barat dan antek-anteknya..”.

Bagaimana mungkin Palestina merdeka dan negeri-negeri Islam terbebas dari kedzaliman Yahudi, orang-orang kafir & munafik sementara orang-orang HT hanya duduk berbicara dan ngobrol sambil meminum kopi dengan orang-orang yang takut memanggul senjata?? Sudah berapa puluh ayat Al-Qur’an yang diingkari Hizbut Tahrir dengan perilaku yang demikian? Hanya duduk menonton orang-orang mukmin yang berjihad. Ataukah Hizbut Tahrir Palestina tak merasa terpanggil dengan banyaknya panggilan Allah “ yaa ayyuhal mu’minun…” dalam ayat-ayat perintah qital-nya dalam Al-Qur’an? Zaman ini memang zaman penuh fitnah, kelompok penakut dan berhati kerdil nyaring berkoar menebar dusta dan merongrong orang-orang yang teguh dalam Ad-Diin-nya, sementara orang-orang mukmin yang tawadhu’ tetap dalam jihadnya dengan penuh keikhlasan dan rendah hati.

Oleh karena itu, tak heran jika di Ramalah Mahmud Abbas ‘menyayangi’ Hizbut Tahrir sebagaimana Abbas juga ‘menyayangi’ Israel dan Amerika. Tak pernah terdengar milisi sadis Fatah membidik orang-orang Hizbut Tahrir di Palestina. Aneh memang, apakah Israel melarang mereka membidik Hizbut Tahrir? Ada hubungan apa antara HT dengan Israel? Pertanyaan-pertanyaan ini wajar karena Fatah hanyalah kepanjangan tangan dari Israel. Mereka menjadi sadis kepada HAMAS dan rakyat Palestina lantaran ‘titah’ dan pesan tuan mereka yang telah memberikan dollar dan mainan ‘pembunuh’. Hal ini tercermin dari apa yang diungkapkan oleh salah seorang syeikhnya HT Palestina, Syeikh Abu Abdullah, yang mengatakan soal jihad Palestina “Solusinya bukan mengirimkan 10.000 orang dari Gaza ke Israel untuk menghapuskan pos militer..”, Begitu akrabnya HT dengan Israel, hingga tak terpikir untuk berjihad memanggul senjata meski sekedar menghapus pos militer yang telah menyengsarakan dan membunuh puluhan ribu nyawa rakyat Palestina?

Tanpa harus banyak menguliti dusta dan omong kosong Hizbut Tahrir, faktanya bahwa di bumi para nabi itu, saat orang-orang mukmin (para pejuang dan mujahid Palestina) mengorbankan harta, jiwa, dan raganya untuk membela Agama Allah dan mengusir bangsa Yahudi la’natullah, orang-orang HT cuma sekedar menjual obrolan tentang ‘khilafah’, dusta dan fitnah. Sementara bajunya bersih dari cipratan darah dan debu jihad. Dan lidahnya tajam seperti wanita pembawa kayu bakar istri Abu Lahab.

Ini peringatan kepada kader-kader Hizbut Tahrir militan (baca: pen-taklid buta), bahwa semakin kalian menyombongkan diri, angkuh dan menebar fitnah, semakin banyak borok-borok dan dusta Hizbut Tahrir yang akan di bongkar oleh umat ini. Hizbut Tahrir…hizbut tahrir, gerakan yang mengaku tidak melakukan kekerasan dalam setiap perjuangannya, tetapi gemar berdusta dan memfitnah.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer