August 27, 2007

Waspada HT

Filed under: PEMIKIRAN

MEMELIHARA KADER DA’WAH DARI INCARAN HTI


Saat ini kita seolah digegapgempitakan oleh gencarnya issu ’syari’at dan khilafah’ yang diusung oleh saudara-saudara kita di Hizbut Tahrir. Aksi massif yang secara konsisten digaungkan HTI dalam mensosialisasikan ‘kekhalifahan’ harus diakui sedemikian ‘luar biasa’. Kampus, masjid-masjid, sekolah, dan tempat-tempat umum lainnya sepertinya menjadi mimbar bebas HTI ‘menjual’ arus pergerakannya. Ya, gegap gempita.

Buku-buku dan tulisan HTI dalam menggaungkan kekhalifahan pun menjamur di masyarakat. Bahkan acara-acara kajian rutin pun semakin semarak dan meluas di berbagai pelosok daerah. Masjid-masjid dan mushola yang dulunya diramaikan oleh kegiatan-kegiatan da’wah tarbiyah pun telah menjadi semakin semarak dengan masuknya HT mengambil sebagian waktunya untuk acara-acara ‘tatsqif’ mereka. Atau mungkin, ada satu dua masjid yang saat ini benar-benar telah digantikan pemakmurnya oleh kader-kader HTI. Tak masalah memang, toh ada yang meneruskan memakmurkan masjid yang pernah menjadi basis keislaman. Namun, anggapan ini tidak tepat dalam kaca-mata da’wah kita terkait perlombaan dalam kebaikan dan takwa.

Membaca tulisan-tulisan terbitan HTI, apalagi ketika berbicara soal khilafah, acapkali para kader tarbiyah harus ‘berdecak kagum’ dan lumpuh tak berkutik sama sekali. Tak heran, tidak sedikit kader yang belum lama ngaji, dan sedang semangat-semangatnya harus ‘tercerabut’ mengikuti milah mereka. Padahal calon-calon keder muda itu telah melalui upaya rekrutmen yang cukup banyak mengeluarkan biaya da’wah. Insya Allah atas pengorbanan itu, kader da’wah ini ikhlas. Hanya kesedihan pasti ada ketika tunas baru yang sedang disemai terambil oleh orang lain. Apalagi tak sedikit dengan methode dan cara-cara HT yang licik.

Menghadapi ’senjata’ saudara kita di HTI berupa isu ‘khilafah’ seolah-olah memaksa sebagian kader memilih jalan mengalah ketika sebagian binaannya memutuskan pindah perahu. Pilihan mengalah ini terkadang karena persepsi yang mungkin terlalu didramatisir oleh kader-kader tarbiyah itu sendiri. Atau juga karena kurang pahamnya kader terhadap siapa dan bagaimana Hizbut Tahrir. Ada dua faktor yang penulis nilai sangat mempengaruhi pilihan sikap ‘mengalah’ para kader tarbiyah ini:

Pertama, umumnya kader menilai bahwa jargon syari’at dan khilafah yang diusung oleh HTI sangat layak jual dan laku keras. Sehingga sepertinya tak mungkin dibendung dengan manhaj tarbiyah yang hanya menyisipkan isu kekhalifahan di bagian ‘kecil’ konsep da’wahnya. Tak jarang, sebagian kader pun masih gagap untuk menjelaskan kepada masyarakat bagaimana tarbiyah sangat lebih rasional menata tahapan da’wah menuju kekhalifahan.

Setiap kader tarbiyah memang harus segera mengevaluasi diri, kenapa kemudian diberbagai tempat tunas-tunas baru itu sebagian diantaranya tercerabut dan memilih berpindah ke perahu Hizbut Tahrir. Disamping juga harus tetap memelihara agar para mad’u da’wah kita terjaga fikroh dan ketsiqohannya.

Kita memang tidak sedang mencari cara ‘melawan’ jargon dan issu-issu da’wah HTI. Sama sekali kita juga tidak sedang mencari titik lemah ’sistem kekhalifahan’. Justru kita juga adalah bagian dari pergerakan da’wah yang secara konsisten sedang membangun dan menuju ke arah sana. Kita juga tidak sedang mencari-cari cara untuk melawan issu syari’at, karena kita adalah barisan hamba Allah yang juga konsistem mengamalkan syari’at dalam kehidupan sehari-hari kita (insya Allah). Namun kita punya kewajiban untuk menyelamatkan fikroh para mad’u da’wah. Sehingga yang harus dilakukan adalah bagaimana kita mampu memberikan penguatan ketsiqohan dan fikrah bahwa inilah jalan terbaik yang paling sesuai dengan model da’wah Rasulullah saw.

Kedua, kesan berlebihan bahwa kader HTI adalah orang-orang yang ‘jago’ dan pandai berdebat terlebih saat mengangkat tema syari’at dan khilafah. Apalagi bisa dilihat buku-buku dan tulisan-tulisan produk HTI demikian detil dan mendalam mengungkap dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang kewajiban menegakkan khilafah. Kecenderungannya, kader terbawa untuk memilih ‘menyingkir’ ketimbang sekali-kali merespon apa yang mereka perbincangkan. Yang terjadi adalah kader tak cukup mampu mengikuti perkembangan isu kekinian yang mulai banyak terungkap dalam konsep-konsep da’wah HTI. Akibatnya kader menjadi semakin awam mengenai sepak terjang HTI, padahal dalam beberapa kesempatan para mad’u da’wah kader membutuhkan pencerahan yang mampu menguatkan fikroh mereka mengenai ‘how is hizbut tahrir?’

Ketika seorang kader tak mampu memberikan pencerahan yang tepat, maka hal ini mendorong tunas-tunas baru yang belum lama tersentuh tarbiyah ini mencoba mencari sendiri karena penasaran dan silau dengan ‘kedigdayaan’ HTI. ‘Musibah’ tak pelak tak dapat dihindari saat mad’u yang penasaran bertemu dengan kader HTI yang mobile mencari SDM baru untuk dijebak dan menguatkan kelompok mereka. Dengan modal kepiawaian lesan, mad’u da’wah yang masih semangat-semangatnya mencari Islam kaffah ini menjadi mudah terbelokkan. Apalagi, isu khilafah, sekali lagi adalah senjata da’wah HTI yang relatif manjur bagi sebagian orang.

Harus mebjadi bahan mutabaah, dan patut menjadi pelajaran berharga kenapa sebagian binaan-binaan kita akhirnya ‘berpisah’ dengan kita. Lengahnya kita, atau liciknya mereka?

Ada catatan penting yang semestinya kita lakukan sedini mungkin sejak saat ini. Bahwa penguasaan yang memadai mengenai berbagai kelompok pergerakan di luar akan menjadi nilai lebih bagi setiap kader. Maka, alangkah baiknya jika kader-kader yang telah memiliki kekuatan fikrah dan ketsiqohan kepada da’wah ini membuka pikirannya untuk ‘membaca’ dan mempelajari apa, siapa, dan bagaimana sepak terjang gerakan-gerakan da’wah disekitar kita, terlebih HTI.

Diakhir tulisan ini, penulis ingin mengungkap sebuah persoalan kunci yang saat ini jarang diketahui oleh para kader tarbiyah. Saudara-saudara kita di HTI ini memang sangat digdaya dan menguasai dari A sampai Z sejarah dan dalil kekhalifahan. Mereka juga cerdas menyampaikan argumen kelemahan-kelemahan sistem kemasyarakatan diluar khilafah. Namun, apakah para kader mengetahui, bahwa sesungguhnya Hizbut Tahrir sama sekali tidak memiliki konsep bagaimana mendirikan dan menegakkan khilafah???
 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer