August 23, 2007

Sesumbar Ko Nakat

Filed under: PEMIKIRAN

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

SESUMBAR HIZBUT TAHRIR PASCA ‘KONFERENSI’


Dalam konteks dunia Islam kontemporer, hanya Hizbut Tahrirlah yang bisa dikatakan sebagai “gerakan politik Islam” yang memperjuangkan terealisasinya Khilafah— yang merupakan panggilan universal; tidak hanhya untuk umat Islam, tetapi lebih dari itu.” Demikian pernyataan dari salah seorang pembicara pada Konferensi Khilafah Internasional perwakilan dari HT Jepang, Prof. Dr. Hassan Ko Nakat.

Kutipan artikel yang termuat dalam syabab.com dan dilansir oleh media onlinenya HTI, www.hizbut-tahrir.or.id, tanggal 21 Agustus 2007, Prof. tersebut juga menegaskan bahwa Hizbut Tahrir merupakan satu-satunya gerakan Islam yang memperjuangkan konsep Khilafah.

Ungkapan ‘hanya’ dan ’satu-satunya’ diatas rasanya demikian sombong keluar dari mulut seorang ‘Prof. Dr.” yang datang dari negeri matahari terbit itu. Apalagi dilontarkan di negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, Indonesia. Negara yang tentu didalamnya hidup beragam warna perjuangan kaum muslimin yang tumbuh dan berkembang sejak zaman penjajahan hingga saat-saat sekarang ini. Toh semua orang tahu bahwa Hizbut Tahrir tak memiliki andil apapun ketika bangsa Indonesia ini berpeluh keringat dan berdarah-darah demi memerdekakan diri dari bangsa penjajah. Apalagi sejarah bangsa Indonesia tak pernah melupakan bahwa salah satu penjajah paling kejam yang datang ke Indonesia ini adalah bangsa Jepang, kakek moyang sdr. Professor.

Hanya dalam jangka waktu 3 tahun, penderitaan yang dialami negeri ini lebih parah ketimbang masa penjajahan Belanda yang berlangsung lebih dari 350 tahun lamanya. Atas karunia Allah lah, 62 tahun lalu Indonesia lepas dari kekejian Jepang menjadi bangsa yang merdeka. Bersamaan dengan pengakuan Mesir terhadap kedaulatan bangsa Indonesia sebagai negara yang merdeka atas lobi intensif pendiri gerakan Islam internasional Ikhwanul Muslimin, Asy-Syahid Imam Hasan Al-Banna.

Karenanya ungkapan nyinyir yang dilontarkan di atas sungguh sangat aneh, seolah hanya orang-orang HTI saja yang melek dengan syari’at dan perjuangan menegakkan Islam di muka bumi ini. Sementara gerakan-gerakan da’wah lain yang sepi ‘berita’ (meski terus komitmen dalam kerja kerasnya) dianggap tak punya taji. Padahal mereka pun paham betul tentang kewajiban dan syari’at Islam ini. Tak hanya itu, diantaranya telah membangun dengan kuat pondasi dan bangunannya, bahkan menghiasinya dengan implementasi syari’at Islam dalam kehidupan sehari-hari. Maka patut dipertanyakan kapabilitas sdr. Profesor melontarkan pernyataan ini. Apakah gara-gara HT sudah merasa ‘besar’ pasca ‘konferensi’ 12 Agustus lalu?

Penulis kira Prof. Dr. Hassan Ko Nakat memiliki pandangan yang sangat sempit terhadap gerakan Islam di Indonesia, terlebih di dunia. Anda seperti katak dalam tempurung yang menganggap rumah Anda-lah satu-satunya tempat yang layak dianggap ‘rumah pejuang khilafah’. Umat Islam memang tak akan sedikitpun mempermasalahkannya apa pun persepsi Anda. Namun, alangkah baiknya ungkapan tersebut hanya dilontarkan dalam tempurung katak Anda. Sebab, hal ini hanya akan menelanjangi kualitas pola pikir kelompok Anda sendiri. Jika Anda saja yang bergelar Prof. Dr. punya fikrah yang sempit seperti ini, maka orang-orang HT yang tak bergelar profesor atau doktor seperti Anda ini tentu jauh lebih buruk dari pemikiran Anda. Ini adalah analogi yang adil yang harus penulis ungkapkan disini.

Siapapun, termasuk kelompok Anda, boleh saja menggaungkan syari’at dan khilafah, namun alangkah indahnya jika dalam pelaksanaannya senantiasa diiringi sikap tawadhu’ dan tidak menyombongkan diri. Bukankah di luar HT dimana anda ‘hidup’, ada juga gerakan da’wah lain yang konsisten membangun umat ini menuju khilafah? Bukankah di luar ulama-ulama yang Anda kenal banyak diantara mereka yang menahan mata dan kantuknya, serta telah berpeluh keringat memberikan sumbangsih yang tidak kecil untuk mengantarkan umat ini menuju kekhalifahan Islam yang diimpikan? Diantara mereka telah banyak yang gugur di medan jihad, dan sebagiannya menanti-nanti.

Sayangnya, Anda tak mendapatkan kebanyakan di antara mereka kecuali ke-tawadhu’-an yang sangat serta menahan diri dari perbuatan ujub dan sombong. Bahkan banyak diantara mereka yang dalam benaknya tak terlintas sedikit pun bahwa merekalah satu-satunya gerakan atau ulama yang memperjuangkan kejayaan Islam. Sebab mereka paham, bahwa umat ini dengan beragam bajunya memiliki mimpi, potensi besar, dan jerih payah usahanya untuk kembali ke pangkuan Islam dengan keutuhannya, termasuk kembalinya kekhalifahan. Dan dengan kontribusinya masing-masing, gerakan-gerakan Islam yang lurus itu bersama-sama bergerak menuju satu tujuan. Yaitu tegaknya kemuliaan Islam.

Anda dan Hizbut Tahrir harus sadar dan membangunkan diri dari tidur yang melenakan. Agar tak di ninabobo-kan fatamorgana jargon dan harokah Anda. Alangkah baiknya jika otak Anda yang cerdas itu dipergunakan untuk tafakur terhadap sekeliling Anda. Bukankah Anda dan HT hadir dalam kancah umat ini dimana telah lahir lembaga-lembaga syari’ah tanpa campur tangan Anda dan HT? Apakah Anda tidak memikirkan bagaimana tumbuh kembangnya bank-bank syari’ah yang menjamur di seantero dunia. Atau perusahaan-perusahaan berbasis syari’ah yang juga hadir menjawab kebutuhan umat ini. Lalu juga lembaga-lembaga pendidikan ekonomi syariah yung turut semarak mencetak SDM-SDM trampil di sektor ekonomi. Juga ‘mewabahnya’ proses islamisasi di berbagai kampus dan masyarakat luas di berbagai negara. Munculnya lembaga-lembaga kemanusiaan nasional dan internasional yang bermisikan Islam, lembaga amil zakat profesional, dan menguatnya posisi tawar da’i-da’i ikhlas di kancah perpolitikan dunia, adalah sebagai tanda bahwa umat ini telah cukup lama bergerak dalam kebangkitannya. Di Mesir, Palestina, Turki, Aljazair, bahkan di Indonesia, gerakan da’wah mengakar demikian kuat dan mendapatkan sambutan yang luar biasa. Apakah Anda dan HT mengira bahwa ini semua terjadi dengan semerta-merta?

Sebagai salah satu orang penting di Hizbut Tahrir, Anda tentu tidak begitu asing dengan syari’at dan hukum-hukum Islam yang tertuang baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Termasuk diantaranya adalah mengenai sombong dan ujub, serta merendahkan pihak lain. Sadar atau tidak sadar ungkapan yang terlontar dari lesan Anda pasti akan mendatangkan balasannya. Sebagaimana ungkapan Anda bahwa “…hanya Hizbut Tahrirlah yang bisa dikatakan sebagai “gerakan politik Islam” yang memperjuangkan terealisasinya Khilafah..” dan pernyataan “..Hizbut Tahrir merupakan satu-satunya gerakan Islam yang memperjuangkan konsep Khilafah..”. Sungguh dengan pernyataan ini Anda telah menafikan darah para syuhada dan peluh keringat ulama-ulama sholih yang telah meniagakan hidupnya di jalan Allah demi tegakknya kemuliaan Islam.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”. (Al-Isra’: 36-37)

Di ayat yang lain Allah SWT juga berfirman:

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Lukman: 18)

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (Al-Hadiid: 23)

Bahkan Rasulullah saw. demikian jelas mengancam orang-orang yang berlaku sombong. Berkata Ibnu Mas’ud ra: Bersabda Nabi SAW: “Tidak akan masuk jannah orang yang dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan. Sombong itu menutupi kebenaran dan menipu manusia”. (Mukhtasyar Shahih Muslim hal. 54). Dan umat ini pun cepat atau lambat pasti akan mengetahui siapa yang benar dan siapa yang dusta, sebagaimana firman Allah:

Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong.” (Al-Qomar: 26)

Betapa baik seandainya Anda mengambil ketauladanan dari kisah-kisah nyata terkait dengan apa yang sedang Anda perjuangkan. Perhatikanlah bagaimana khalifah Umar bin Abdul Aziz menampilkan contoh tentang makna ke-tawadhu-an. Pernah suatu malam beliau kedatangan seorang tamu, saat itu ia sedang menulis, sementara pelita hampir habis minyaknya maka ia permisi untuk mengambil minyak. Maka tamunya berkata: “Apakah khalifah mengambilkan minyak karena aku?” Jawab khalifah: “Bukan seorang yang mulia jika tidak memuliakan tamunya”. Maka kata tamunya: “Tidakkah Anda membangunkan pelayan Anda?” Jawab khalifah: “Ia lelah karena bekerja seharian”. Maka berangkatlah ia ke gudang untuk mencari minyak, lalu dituangnya sendiri dari gentong minyak ke tempatnya lalu dibawanya dengan tangan dan bajunya bernoda bekas minyak. Maka kata tamunya: “Anda lakukan sendiri hal ini wahai amirul mu’minin?” Maka ia menjawab: “Diamlah, aku ini hanyalah seorang Umar tidak berkurang sedikitpun, dan sebaik-baik manusia adalah yang disisi Allah SWT tercatat sebagai seorang yang tawadhu’.

Bahkan ketika Rasulullah SAW bersama para shahabat berhasil menaklukkan Makkah dengan gilang gemilang, pada saat tersebut beliau SAW pun kemudian menundukkan kepalanya sampai hampir-hampir menyentuh punggung untanya sambil mengulang-ulang ayat: Inna fatahna laka fathan mubina..

Jika Rasulullah tawadhu’ dengan kemenangannya dan khalifah yang sesungguhnya juga tawadhu’ dengan kekhalifahannya, lantas apakah tersisa alasan lain untuk Profesor bersikap takabur, sementara HT baru dalam taraf bersosialisasi tentang khilafah? Bahkan HT sendiri masih kebingungan bagaimana mekanisme menegakkan khilafah bukan?

Adalah tindakan tidak bijak jika Anda sesumbar dengan menyatakan bahwa “…hanya Hizbut Tahrirlah yang bisa dikatakan sebagai “gerakan politik Islam” yang memperjuangkan terealisasinya Khilafah..”. Anda benar-benar melampaui batas dan mendekati apa yang dikatakan Rasulullah saw. ‘menutupi kebenaran dan menipu manusia’. Semoga tulisan ini bisa menjadi nasehat bagi Prof. Dr. Hassan Ko Nakat dan Hizbut Tahrir, serta sekaligus sebagai peringatan agar lebih berhati-hati dan tidak terjerumus pada kehinaan.

 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://rhisy.blogsome.com/2007/08/23/37/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer