HT Menjilat Ludah
HTI MAU JADI PARPOL; MENJILAT LUDAH SENDIRI??
Dalam Konferensi Internasional bertema ‘Saatnya Khilafah Memimpin Dunia’ yang digelar pagi hingga siang ini, Ahad (12/8), Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammad Ismail Yusanto menyatakan bahwa HTI tidak menutup kemungkinan menjadi parpol. (www.eramuslim.com, 12 Agustus 2007).
Sebuah ungkapan yang nyata-nyata tidak konsisten mengingat dalam banyak pernyataannya HTI acapkali mencaci sistem demokrasi yang dianut oleh NKRI. Tidak hanya melalui pernyataan-pernyataan lesannya lewat ceramah-ceramah di masjid atau forum-forum kajian internalnya, aksi-aksi jalanan HTI juga mengusung jargon-jargon yang sama bahwa demokrasi adalah sistem kufur yang ‘diharamkan’ dan ‘najis’.
Tidak jarang orang-orang HTI pun menunjukkan kesinisannya mengenai aktivis-aktivis da’wah di luar mereka yang telah berjuang dengan gigih di parlemen dengan mendirikan institusi formal partai politik. Cerminan fakta ini gampang ditemukan di situs online HTI pada kolom-kolom komentar. Diantara contohnya adalah seseorang berinisial Intan (tentu seorang kader HTI) dalam kolom analisis berjudul "Kepercayaan Masyarakat kepada Partai Politik Menurun" menuliskan komentar tertanggal 21 Mei 2007 sebagai berikut:
"gimana nggak,gayanya doang hendak merepresentasikan aspirasi umat, boro-boro, mereka buruan bagi-bagi modal rakyat. apa seperti begitu ya namanya partai. saya aja malu. ngakunya partai Islam, tahunya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. palsu banget. munafik banget. …. yang jelas gak ada partai di Indonesia yang saya percaya, termasuk partai Islam yang terkenal itu….semuanya gak ada bedanya.simbol doang yang beda.
Atau sebagaimana yang dituliskan seseorang berinisial Teguh dalam Al-Islam edisi 356 berjudul ‘Pelajaran Dari Kasus ‘DKP'’. Komentar bertanggal 23 Mei 2007 tersebut menuliskan sebagai berikut:
"Demikianlah sepak terjang para politisi yang menyatakan diri (lebih tepat disebut menyombongkan diri) sebagai penganut Islam Moderat, yang kemudian dengan label moderat itu mereka menyerukan demokratisasi dan liberalisasi kehidupan di negeri ini.
Kini mereka terperosok ke dalam sistem demokrasi (sesat) yang dibangunnya sendiri. Alih-alih mengangkat kesulitan dan penderitaan umat, justru mereka sendiri terjerembab ke dalam jurang kehinaan hanya karena UANG, memuja kapital (harta), melupakan syahadat, mengkhianati Allah SWT dan Rasulullah SAW, menyisihkan hukum dan syariat Islam…"
Dua contoh pernyataan diatas tentu tidak sebanding dengan lebih banyaknya lagi komentar sejenis yang biasa meluncur dari lesan orang-orang HTI. Yang jelas, munculnya sinisme banyak kalangan kader HTI terhadap aktivis da’wah yang menjadikan partai politik sebagai salah satu sarana da’wahnya tentu tidak bisa dipisahkan dari doktrinase induknya di setiap tempat lewat forum-forum kajian.
Walau demikian pedas cemooh HTI, para aktivis da’wah yang gigih memperjuangkan umat di parlemen tetap konsisten dan tak bergeming. Mereka terus melaju dengan agenda-agenda pembangunan dan pelayanan umat. Karena bagi para aktivis da’wah tersebut, masa awal membangkitkan umat sudah dilewati beberapa tahun sebelumnya. Sehingga cemooh dan sinisme orang-orang HTI tidak mempan dan tumpul. Umat pun makin cinta dan percaya bahwa kehadiran para aktivis da’wah di parlemen benar sungguh-sungguh memperjuangkan mereka kebaikan demi kebaikan.
Angka-angka spektakuler di berbagai daerah yang mencerminkan kepercayaan umat kepada aktivis da’wah ini pun cukup membuat gerah banyak pihak, mungkin juga HTI salah satunya. Hal ini diperlihatkan dengan apa yang dimuat Al-Islam edisi 356 lalu. Pilkada DKI Jakarta baru-baru ini cukup mencengangkan banyak kalangan. Banten sebelumnya juga demikian. Bahkan Kota Depok dan Kota Bekasi juga mengalami hal serupa. Belum lagi tidak kurang dari 81 daerah-daerah diseluruh nusantara telah dipimpin oleh kader-kader pilihan aktivis da’wah ini.
Umat Islam Indonesia memang sudah kadung cinta dan tsiqoh pada para aktivis yang menjadikan parlemen benar-benar sebagai panggung dawah, bukan panggung politik an-sich.
Lalu 12 Agustus 2007 kemarin tiba-tiba HTI lewat Jubirnya Ismail Yusanto mengeluarkan statemen sebagaimana dilansir eramuslim diatas. Lebih lanjut Ismail Yusanto juga mengatakan bahwa “Di sejumlah negara, Hizbut Tahrir telah membuktikan diri sebagai partai politik yang layak diperhitungkan,â€. Jadi, HT menjadi parpol bukan hanya sekedar dalam kerangka ‘akan’, tapi sudah benar-benar menjadi fakta bahwa HT telah masuk wilayah yang selama ini di cemoohnya lewat isu-isu syari’at dan khilafah.
Sebenarnya apa yang membuat HTI tanpa rasa malu menjilat ludahnya sendiri?? Memang berat menjaga lidah.







