August 28, 2007

Jalan Terjal Jilbab

Filed under: SEJARAH, PEMIKIRAN

JILBAB: SEBUAH JALAN TERJAL MERAIH KEMULIAAN


Al-yaumul `alami lil hijab atau International Hijab Solidarity Day dideklarasikan 3 tahun lalu di London, Ibukota Inggris. Konferensi sehari bertemakan "Assembly for the Protection of Hijab" atau "Majelis untuk Perlindungan Hijab" menelurkan sebuah petisi yang berisikan dukungan terhadap jilbab secara ketat. bahkan konferensi yang diselenggarakan 12 Juli 2004 itu menetapkan 4 September sebagai hari solidaritas jilbab internasional.

Konferensi ini dibuka walikota London, Ken Livingstone, dan diikuti 300 delegasi yang mewakili 102 organisasi-organisasi Inggris dan internasional. Ken Livingstone adalah salah satu tokoh Barat yang dikenal konsisten membela hak-hak kaum muslim Inggris dalam kebebasan menjalankan kewajiban agamanya, termasuk dalam persoalan jilbab ini. Pernyataan-penyataannya cukup keras dan tegas menentang pihak-pihak Eropa yang mencoba mengusik ketenangan kehidupan beragama. Disamping itu, tokoh muslim terkemuka Sheikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi dan Prof. Tariq Ramadan juga hadir dalam konferensi ini menjadi narasumber.

Saat itu, pelarangan penggunaan jilbab di sekolah-sekolah Perancis telah memicu kemarahan kaum muslimin sedunia. Berbagai aksi-aksi mengecam keputusan PM Perancis pun meluap di berbagai negara. Untuk diketahui, kepala pemerintahan Perancis, PM. Jean-Pierre Raffarin, telah mempelopori Eropa mengeluarkan Undang-Undang tentang larangan jilbab di sekolah-sekolah Perancis. Keputusan ini pun diperkuat oleh Presiden Perancis Jacques Chirac yang menyerukan dilarangnya penggunaan simbol keagamaan itu untuk mempertahankan sistem pemerintahan Perancis yang sekuler pada awal tahun 2004.

Akibatnya, pada pertengahan Januari 2004, ribuan orang turun ke jalan-jalan di Eropa dan Timur Tengah memprotes rencana Perancis yang akan melarang anak-anak perempuan menggunakan jilbab. Di London, Paris, Beirut dan Amman ribuan wanita berjilbab melakukan aksi menentang undang-undang diskriminatif tersebut. Demonstrasi juga berlangsung di Kairo, Berlin dan di Tepi Barat.

Warga Muslim Perancis menggelar aksi demonstrasi pada 7 Februari 2004 di depan Gedung Majelis Nasional Nasional Perancis. Aksi itu merupakan bentuk protes kalangan Muslim Perancis terhadap undang-undang larangan jilbab tampil di sekolah-sekolah pemerintah. Movement for Justice and Dignity yang mengkoordinir aksi ini meng-klaim lebih dari 10.000 massa terlibat dalam demo menentang undang-undang anti jilbab yang dikeluarkan pemerintah Perancis tersebut. Aksi-aksi ini didukung perwakilan kelompok-kelompok agama, para aktivis dan organisasi HAM lainnya.

Penyelenggaraan konferensi yang digawangi oleh Pro-Hijab Organization ini diselenggarakan di tengah semakin meluasnya sentimen anti-Islam yang terjadi di negara-negara Barat, terutama negara-negara Eropa yang selama ini dikenal relatif terbuka kepada Islam. Pasca serangan 11 September 2001 yang kontroversial itu kebencian masyarakat Barat meledak. Dan membuka kedok kerapuhan kebebasan berekspresi ala Barat yang selama ini mereka elu-elukan.

Kalangan sekuler, kalangan no-muslim, dan kalangan munafik bersatu padu membidik umat Islam baik dalam bentuk serangan fisik maupun opini. Jilbab sebagai simbol kemuliaan dan kewajiban kaum muslimah menjadi target strategis bagi ‘kelompok sekutu’ itu untuk menghancurkan moral kaum muslimin sedikit demi sedikit. Hal ini bisa dipahami, karena jilbab adalah tanda ketaatan seorang muslimah kepada agamanya. Pelarangan dan pelecehan demi pelecehan terhadap busana yang menutup aurat ini pun semakin meningkat tajam di belahan Eropa dan Amerika.

Pembenturan masalah jilbab dengan tatanan kehidupan sosial politik di Barat yang sebenarnya telah terjadi jauh sebelum tragedi 2004 ini memang membuat prihatin banyak kalangan. Tidak hanya membuat miris ulama-ulama muslim saja, para pemikir dan kalangan ilmiah Barat pun turut mencemaskan keadaan ini. Karenanya, tokoh-tokoh di Barat yang lebih netral pun turut bersikap. Diantaranya adalah Walikota London Ken Livingstone, yang bersikap tegas membela kebebasan berjilbab. Seorang anggota Kongres AS, Brat Sherman dari Partai Demokrat asal California, juga mengajukan draft resolusi mengecam undang-undang (UU) anti jilbab Perancis (10/2/2004).

Ledakan diskriminasi anti-Jilbab yang terjadi demikian meluas semenjak awal 2004 itu sesuai dengan apa yang di kemukakan seorang pemikir dan penulis Barat Wendy Shalit, dalam bukunya yang terbit tahun 1999 berjudul berjudul A Return to Modesty atau ‘Kembali Kepada Kesederhanaan’, ia menuliskan, "Tidakkah merupakan sebuah hal yang aneh ketika kita tidak bisa berbicara mengenai sebuah hal yang sangat penting dan sangat kita perlukan? Kita terpaksa membicarakan masalah penting itu secara rahasia dan sembunyi-sembunyi. Hijab seorang perempuan adalah salah satu topik yang telah dilarang untuk dibicarakan pada zaman ini dan merupakan salah satu dari pintu-pintu yang tertutup, yang ditampilkan sebagai hal yang bahaya. Masalah hijab tidak sekadar menjawab sebuah pertanyaan, melainkan merupakan pakaian yang tepat bagi kaum perempuan, sehingga topik ini bisa menguncang segalanya."

August 27, 2007

Waspada HT

Filed under: PEMIKIRAN

MEMELIHARA KADER DA’WAH DARI INCARAN HTI


Saat ini kita seolah digegapgempitakan oleh gencarnya issu ’syari’at dan khilafah’ yang diusung oleh saudara-saudara kita di Hizbut Tahrir. Aksi massif yang secara konsisten digaungkan HTI dalam mensosialisasikan ‘kekhalifahan’ harus diakui sedemikian ‘luar biasa’. Kampus, masjid-masjid, sekolah, dan tempat-tempat umum lainnya sepertinya menjadi mimbar bebas HTI ‘menjual’ arus pergerakannya. Ya, gegap gempita.

Buku-buku dan tulisan HTI dalam menggaungkan kekhalifahan pun menjamur di masyarakat. Bahkan acara-acara kajian rutin pun semakin semarak dan meluas di berbagai pelosok daerah. Masjid-masjid dan mushola yang dulunya diramaikan oleh kegiatan-kegiatan da’wah tarbiyah pun telah menjadi semakin semarak dengan masuknya HT mengambil sebagian waktunya untuk acara-acara ‘tatsqif’ mereka. Atau mungkin, ada satu dua masjid yang saat ini benar-benar telah digantikan pemakmurnya oleh kader-kader HTI. Tak masalah memang, toh ada yang meneruskan memakmurkan masjid yang pernah menjadi basis keislaman. Namun, anggapan ini tidak tepat dalam kaca-mata da’wah kita terkait perlombaan dalam kebaikan dan takwa.

Membaca tulisan-tulisan terbitan HTI, apalagi ketika berbicara soal khilafah, acapkali para kader tarbiyah harus ‘berdecak kagum’ dan lumpuh tak berkutik sama sekali. Tak heran, tidak sedikit kader yang belum lama ngaji, dan sedang semangat-semangatnya harus ‘tercerabut’ mengikuti milah mereka. Padahal calon-calon keder muda itu telah melalui upaya rekrutmen yang cukup banyak mengeluarkan biaya da’wah. Insya Allah atas pengorbanan itu, kader da’wah ini ikhlas. Hanya kesedihan pasti ada ketika tunas baru yang sedang disemai terambil oleh orang lain. Apalagi tak sedikit dengan methode dan cara-cara HT yang licik.

Menghadapi ’senjata’ saudara kita di HTI berupa isu ‘khilafah’ seolah-olah memaksa sebagian kader memilih jalan mengalah ketika sebagian binaannya memutuskan pindah perahu. Pilihan mengalah ini terkadang karena persepsi yang mungkin terlalu didramatisir oleh kader-kader tarbiyah itu sendiri. Atau juga karena kurang pahamnya kader terhadap siapa dan bagaimana Hizbut Tahrir. Ada dua faktor yang penulis nilai sangat mempengaruhi pilihan sikap ‘mengalah’ para kader tarbiyah ini:

Pertama, umumnya kader menilai bahwa jargon syari’at dan khilafah yang diusung oleh HTI sangat layak jual dan laku keras. Sehingga sepertinya tak mungkin dibendung dengan manhaj tarbiyah yang hanya menyisipkan isu kekhalifahan di bagian ‘kecil’ konsep da’wahnya. Tak jarang, sebagian kader pun masih gagap untuk menjelaskan kepada masyarakat bagaimana tarbiyah sangat lebih rasional menata tahapan da’wah menuju kekhalifahan.

Setiap kader tarbiyah memang harus segera mengevaluasi diri, kenapa kemudian diberbagai tempat tunas-tunas baru itu sebagian diantaranya tercerabut dan memilih berpindah ke perahu Hizbut Tahrir. Disamping juga harus tetap memelihara agar para mad’u da’wah kita terjaga fikroh dan ketsiqohannya.

Kita memang tidak sedang mencari cara ‘melawan’ jargon dan issu-issu da’wah HTI. Sama sekali kita juga tidak sedang mencari titik lemah ’sistem kekhalifahan’. Justru kita juga adalah bagian dari pergerakan da’wah yang secara konsisten sedang membangun dan menuju ke arah sana. Kita juga tidak sedang mencari-cari cara untuk melawan issu syari’at, karena kita adalah barisan hamba Allah yang juga konsistem mengamalkan syari’at dalam kehidupan sehari-hari kita (insya Allah). Namun kita punya kewajiban untuk menyelamatkan fikroh para mad’u da’wah. Sehingga yang harus dilakukan adalah bagaimana kita mampu memberikan penguatan ketsiqohan dan fikrah bahwa inilah jalan terbaik yang paling sesuai dengan model da’wah Rasulullah saw.

Kedua, kesan berlebihan bahwa kader HTI adalah orang-orang yang ‘jago’ dan pandai berdebat terlebih saat mengangkat tema syari’at dan khilafah. Apalagi bisa dilihat buku-buku dan tulisan-tulisan produk HTI demikian detil dan mendalam mengungkap dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang kewajiban menegakkan khilafah. Kecenderungannya, kader terbawa untuk memilih ‘menyingkir’ ketimbang sekali-kali merespon apa yang mereka perbincangkan. Yang terjadi adalah kader tak cukup mampu mengikuti perkembangan isu kekinian yang mulai banyak terungkap dalam konsep-konsep da’wah HTI. Akibatnya kader menjadi semakin awam mengenai sepak terjang HTI, padahal dalam beberapa kesempatan para mad’u da’wah kader membutuhkan pencerahan yang mampu menguatkan fikroh mereka mengenai ‘how is hizbut tahrir?’

Ketika seorang kader tak mampu memberikan pencerahan yang tepat, maka hal ini mendorong tunas-tunas baru yang belum lama tersentuh tarbiyah ini mencoba mencari sendiri karena penasaran dan silau dengan ‘kedigdayaan’ HTI. ‘Musibah’ tak pelak tak dapat dihindari saat mad’u yang penasaran bertemu dengan kader HTI yang mobile mencari SDM baru untuk dijebak dan menguatkan kelompok mereka. Dengan modal kepiawaian lesan, mad’u da’wah yang masih semangat-semangatnya mencari Islam kaffah ini menjadi mudah terbelokkan. Apalagi, isu khilafah, sekali lagi adalah senjata da’wah HTI yang relatif manjur bagi sebagian orang.

Harus mebjadi bahan mutabaah, dan patut menjadi pelajaran berharga kenapa sebagian binaan-binaan kita akhirnya ‘berpisah’ dengan kita. Lengahnya kita, atau liciknya mereka?

Ada catatan penting yang semestinya kita lakukan sedini mungkin sejak saat ini. Bahwa penguasaan yang memadai mengenai berbagai kelompok pergerakan di luar akan menjadi nilai lebih bagi setiap kader. Maka, alangkah baiknya jika kader-kader yang telah memiliki kekuatan fikrah dan ketsiqohan kepada da’wah ini membuka pikirannya untuk ‘membaca’ dan mempelajari apa, siapa, dan bagaimana sepak terjang gerakan-gerakan da’wah disekitar kita, terlebih HTI.

Diakhir tulisan ini, penulis ingin mengungkap sebuah persoalan kunci yang saat ini jarang diketahui oleh para kader tarbiyah. Saudara-saudara kita di HTI ini memang sangat digdaya dan menguasai dari A sampai Z sejarah dan dalil kekhalifahan. Mereka juga cerdas menyampaikan argumen kelemahan-kelemahan sistem kemasyarakatan diluar khilafah. Namun, apakah para kader mengetahui, bahwa sesungguhnya Hizbut Tahrir sama sekali tidak memiliki konsep bagaimana mendirikan dan menegakkan khilafah???
 

August 24, 2007

57 Hari 361

Filed under: PEMIKIRAN

57 HARI FITNAH HTI kepada PEJUANG PALESTINA


Saudara-sauradaku sekalian, hari ini adalah Jum’at yang ke-8 pasca keluarnya buletin resmi Hizbut Tahrir Indonesia, Al-Islam edisi 361. Atau tepat 57 hari terbitnya edisi tersebut yang mengupas tentang pejuang-pejuang Palestina.

Sayangnya, ulasan buletin edisi tersebut bukannya bermuatan ta’awun untuk terus mengobarkan semangat jihad mujahid-mujahid suci Palestina, tetapi justru cacian manis dan fitnah sadis yang mengguncang nurani dan membuat air mata kita terkuras.

Sedih bukan karena penderitaan pejuang-pejuang Palestina itu, tetapi sedih dan marah karena fitnah keji, berita bohong, dan cacian sadis yang di lontarkan HIZBUT TAHRIR INDONESIA kepada saudara-saudara tercinta kita, HAMAS rahimahumullah. Pedih, karena saudara sendiri yang harusnya membela (meski hanya dengan do’a) malah menikam dari belakang.

Sudah banyak artikel tanggapan, ‘protes’ serta nasehat yang ditulis oleh penulis dan juga Ust. Tengku. Untuk mengingatkan dan menyadarkan para petinggi HTI agar mereka segera menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam Indonesia yang telah mengkonsumsi berita racun dan sampah itu. Agar HTI memohon maaf atas kecerobohan, kekeliruan, fitnah, dan kata-kata keji yang dituduhkannya kepada HAMAS.

Bahkan penulis pun sudah berupaya men-tabayun latar belakang muatan Al-Islam edisi 361 itu kepada redaksi www.hizbut-tahrir.or.id yang memuat artikel online media Al-Islam. Di ujung telepon, penulis tersambung dengan seseorang bernama Muhammad Lazuardi dengan alamat email budibangkit2000@yahoo.co.uk. Penulis meminta informasi atas dasar apa berita edisi 361 itu dimuat, menurutnya bahwa apa yang termuat dalam Al-Islam itu semuanya adalah data VALID dan FAKTA LAPANGAN yang dihimpun oleh narasumber yang ‘terpercaya’ (baca: Orang HT Palestina). Sayangnya seluruh isi berita/artikel yang cukup panjang itu, tak satu pun menyebutkan sumber-sumber resmi yang terpercaya dikenal publik.

Penulis pun mempertanyakan kembali apakah berita dalam tulisan edisi 361 itu benar adanya, Sdr. M. Lazuardi ini mengatakan bahwa itu pasti benar. Maka penulis pun mengatakan bahwa berita itu Fitnah dan tidak valid. Orang HTI itu justru mengatakan, bahwa apapun, sebaiknya tulisan tersebut dijadikan NASEHAT (MESKI TERNYATA BENAR-BENAR BERITA FITNAH DAN DUSTA). Penulis terus berusaha menegaskan tentang bagaimana HTI akan bertanggung jawab mengklarifikasi tentang masalah ini. Sdr. M. Lazuardi akhirnya meminta penulis untuk langsung menghubungi Jubir HTI Ismail Yusanto. Duh!

Tidak hanya itu, penulis juga beberapa kali mencoba menuliskan komentar di www.hizbut-tahrir.or.id tepat dibagian bawah tulisan edisi 361 pada kolom komentar yang tersedia. Tidak kurang dari dua kali penulis meng-input komentar atas edisi itu, sayangnya tidak pernah di upload. Hanya keterangan ‘menunggu’ yang tertampil selama dua hari. Selanjutnya hilang sama sekali. Penulis sudah komplain dan menghubungi langsung pihak redaksi, namun jawabannya sangat membingungkan. Sepertinya tulisan yang memperkuat dan mendukung kebohongan artikel tersebut saja yang di approve, yang kontra ‘no way’.

Sangat disayangkan, jika kelompok yang getol mengusung jargon ’syari’at’ dan ‘khilafah’ ini ternyata tak punya niat baik untuk mengklarifikasi berita aneh tersebut, apalagi untuk meminta maaf kepada umat Islam pada umumnya, atau pejuang Palestina secara khusus. HTI malah terkesan angkuh dengan mengabaikan semua keberatan umat yang masuk ke email resminya, info@hizbut-tahrir.or.id. Apalagi salah seorang kader HTI berinisial ‘Aji Bejo’ dengan alamat email radenmasbeejo@gmail.com (yang tak pernah berani menunjukkan identitasnya hingga hari ini), dengan bangga mengirimkan balik secara gencar berita-berita tentang ‘Konferensi Khilafah Internasional’ ke seluruh alamat email yang penulis cc dalam tanggapan terhadap tulisan Al-Islam tersebut (penulis sinyalir Aji Bejo ini adalah salah seorang pengelola hizbut-tahrir.or.id).

Yang jelas, permohonan maaf dan pengakuan ‘khilaf’ itu tak pernah kunjung datang. Entah apa yang menutup mata, pendengaran, dan hati mereka sehingga sampai detik ini tak ada tanda-tanda niat baik HTI untuk menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam Indonesia dan dunia. Yang telah terlanjur mengalir di dalam darahnya berita dusta tentang pejuang HAMAS. Tetapi yang jelas Allah lah yang mengunci mati hati orang-orang yang dikehendaki-Nya (QS. 8:22-23, 21:45).

Hari ini sudah hari ke 57. Penulis dan orang-orang yang membaca dengan seksama Al-Islam edisi 361 itu masih saja menitikkan air mata. Ini adalah catatan sejarah yang tak akan terhapus, bahwa HTI sudah menabur FITNAH kepada pejuang Palestina (HAMAS). Sama seperti Amerika, Israel, dan antek-antek Yahudi yang tak pernah puas memfitnah dan menyudutkan HAMAS.
 

August 23, 2007

Sesumbar Ko Nakat

Filed under: PEMIKIRAN

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

SESUMBAR HIZBUT TAHRIR PASCA ‘KONFERENSI’


Dalam konteks dunia Islam kontemporer, hanya Hizbut Tahrirlah yang bisa dikatakan sebagai “gerakan politik Islam” yang memperjuangkan terealisasinya Khilafah— yang merupakan panggilan universal; tidak hanhya untuk umat Islam, tetapi lebih dari itu.” Demikian pernyataan dari salah seorang pembicara pada Konferensi Khilafah Internasional perwakilan dari HT Jepang, Prof. Dr. Hassan Ko Nakat.

Kutipan artikel yang termuat dalam syabab.com dan dilansir oleh media onlinenya HTI, www.hizbut-tahrir.or.id, tanggal 21 Agustus 2007, Prof. tersebut juga menegaskan bahwa Hizbut Tahrir merupakan satu-satunya gerakan Islam yang memperjuangkan konsep Khilafah.

Ungkapan ‘hanya’ dan ’satu-satunya’ diatas rasanya demikian sombong keluar dari mulut seorang ‘Prof. Dr.” yang datang dari negeri matahari terbit itu. Apalagi dilontarkan di negara dengan penduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, Indonesia. Negara yang tentu didalamnya hidup beragam warna perjuangan kaum muslimin yang tumbuh dan berkembang sejak zaman penjajahan hingga saat-saat sekarang ini. Toh semua orang tahu bahwa Hizbut Tahrir tak memiliki andil apapun ketika bangsa Indonesia ini berpeluh keringat dan berdarah-darah demi memerdekakan diri dari bangsa penjajah. Apalagi sejarah bangsa Indonesia tak pernah melupakan bahwa salah satu penjajah paling kejam yang datang ke Indonesia ini adalah bangsa Jepang, kakek moyang sdr. Professor.

Hanya dalam jangka waktu 3 tahun, penderitaan yang dialami negeri ini lebih parah ketimbang masa penjajahan Belanda yang berlangsung lebih dari 350 tahun lamanya. Atas karunia Allah lah, 62 tahun lalu Indonesia lepas dari kekejian Jepang menjadi bangsa yang merdeka. Bersamaan dengan pengakuan Mesir terhadap kedaulatan bangsa Indonesia sebagai negara yang merdeka atas lobi intensif pendiri gerakan Islam internasional Ikhwanul Muslimin, Asy-Syahid Imam Hasan Al-Banna.

Karenanya ungkapan nyinyir yang dilontarkan di atas sungguh sangat aneh, seolah hanya orang-orang HTI saja yang melek dengan syari’at dan perjuangan menegakkan Islam di muka bumi ini. Sementara gerakan-gerakan da’wah lain yang sepi ‘berita’ (meski terus komitmen dalam kerja kerasnya) dianggap tak punya taji. Padahal mereka pun paham betul tentang kewajiban dan syari’at Islam ini. Tak hanya itu, diantaranya telah membangun dengan kuat pondasi dan bangunannya, bahkan menghiasinya dengan implementasi syari’at Islam dalam kehidupan sehari-hari. Maka patut dipertanyakan kapabilitas sdr. Profesor melontarkan pernyataan ini. Apakah gara-gara HT sudah merasa ‘besar’ pasca ‘konferensi’ 12 Agustus lalu?

Penulis kira Prof. Dr. Hassan Ko Nakat memiliki pandangan yang sangat sempit terhadap gerakan Islam di Indonesia, terlebih di dunia. Anda seperti katak dalam tempurung yang menganggap rumah Anda-lah satu-satunya tempat yang layak dianggap ‘rumah pejuang khilafah’. Umat Islam memang tak akan sedikitpun mempermasalahkannya apa pun persepsi Anda. Namun, alangkah baiknya ungkapan tersebut hanya dilontarkan dalam tempurung katak Anda. Sebab, hal ini hanya akan menelanjangi kualitas pola pikir kelompok Anda sendiri. Jika Anda saja yang bergelar Prof. Dr. punya fikrah yang sempit seperti ini, maka orang-orang HT yang tak bergelar profesor atau doktor seperti Anda ini tentu jauh lebih buruk dari pemikiran Anda. Ini adalah analogi yang adil yang harus penulis ungkapkan disini.

Siapapun, termasuk kelompok Anda, boleh saja menggaungkan syari’at dan khilafah, namun alangkah indahnya jika dalam pelaksanaannya senantiasa diiringi sikap tawadhu’ dan tidak menyombongkan diri. Bukankah di luar HT dimana anda ‘hidup’, ada juga gerakan da’wah lain yang konsisten membangun umat ini menuju khilafah? Bukankah di luar ulama-ulama yang Anda kenal banyak diantara mereka yang menahan mata dan kantuknya, serta telah berpeluh keringat memberikan sumbangsih yang tidak kecil untuk mengantarkan umat ini menuju kekhalifahan Islam yang diimpikan? Diantara mereka telah banyak yang gugur di medan jihad, dan sebagiannya menanti-nanti.

Sayangnya, Anda tak mendapatkan kebanyakan di antara mereka kecuali ke-tawadhu’-an yang sangat serta menahan diri dari perbuatan ujub dan sombong. Bahkan banyak diantara mereka yang dalam benaknya tak terlintas sedikit pun bahwa merekalah satu-satunya gerakan atau ulama yang memperjuangkan kejayaan Islam. Sebab mereka paham, bahwa umat ini dengan beragam bajunya memiliki mimpi, potensi besar, dan jerih payah usahanya untuk kembali ke pangkuan Islam dengan keutuhannya, termasuk kembalinya kekhalifahan. Dan dengan kontribusinya masing-masing, gerakan-gerakan Islam yang lurus itu bersama-sama bergerak menuju satu tujuan. Yaitu tegaknya kemuliaan Islam.

Anda dan Hizbut Tahrir harus sadar dan membangunkan diri dari tidur yang melenakan. Agar tak di ninabobo-kan fatamorgana jargon dan harokah Anda. Alangkah baiknya jika otak Anda yang cerdas itu dipergunakan untuk tafakur terhadap sekeliling Anda. Bukankah Anda dan HT hadir dalam kancah umat ini dimana telah lahir lembaga-lembaga syari’ah tanpa campur tangan Anda dan HT? Apakah Anda tidak memikirkan bagaimana tumbuh kembangnya bank-bank syari’ah yang menjamur di seantero dunia. Atau perusahaan-perusahaan berbasis syari’ah yang juga hadir menjawab kebutuhan umat ini. Lalu juga lembaga-lembaga pendidikan ekonomi syariah yung turut semarak mencetak SDM-SDM trampil di sektor ekonomi. Juga ‘mewabahnya’ proses islamisasi di berbagai kampus dan masyarakat luas di berbagai negara. Munculnya lembaga-lembaga kemanusiaan nasional dan internasional yang bermisikan Islam, lembaga amil zakat profesional, dan menguatnya posisi tawar da’i-da’i ikhlas di kancah perpolitikan dunia, adalah sebagai tanda bahwa umat ini telah cukup lama bergerak dalam kebangkitannya. Di Mesir, Palestina, Turki, Aljazair, bahkan di Indonesia, gerakan da’wah mengakar demikian kuat dan mendapatkan sambutan yang luar biasa. Apakah Anda dan HT mengira bahwa ini semua terjadi dengan semerta-merta?

Sebagai salah satu orang penting di Hizbut Tahrir, Anda tentu tidak begitu asing dengan syari’at dan hukum-hukum Islam yang tertuang baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Termasuk diantaranya adalah mengenai sombong dan ujub, serta merendahkan pihak lain. Sadar atau tidak sadar ungkapan yang terlontar dari lesan Anda pasti akan mendatangkan balasannya. Sebagaimana ungkapan Anda bahwa “…hanya Hizbut Tahrirlah yang bisa dikatakan sebagai “gerakan politik Islam” yang memperjuangkan terealisasinya Khilafah..” dan pernyataan “..Hizbut Tahrir merupakan satu-satunya gerakan Islam yang memperjuangkan konsep Khilafah..”. Sungguh dengan pernyataan ini Anda telah menafikan darah para syuhada dan peluh keringat ulama-ulama sholih yang telah meniagakan hidupnya di jalan Allah demi tegakknya kemuliaan Islam.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”. (Al-Isra’: 36-37)

Di ayat yang lain Allah SWT juga berfirman:

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Lukman: 18)

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (Al-Hadiid: 23)

Bahkan Rasulullah saw. demikian jelas mengancam orang-orang yang berlaku sombong. Berkata Ibnu Mas’ud ra: Bersabda Nabi SAW: “Tidak akan masuk jannah orang yang dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan. Sombong itu menutupi kebenaran dan menipu manusia”. (Mukhtasyar Shahih Muslim hal. 54). Dan umat ini pun cepat atau lambat pasti akan mengetahui siapa yang benar dan siapa yang dusta, sebagaimana firman Allah:

Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong.” (Al-Qomar: 26)

Betapa baik seandainya Anda mengambil ketauladanan dari kisah-kisah nyata terkait dengan apa yang sedang Anda perjuangkan. Perhatikanlah bagaimana khalifah Umar bin Abdul Aziz menampilkan contoh tentang makna ke-tawadhu-an. Pernah suatu malam beliau kedatangan seorang tamu, saat itu ia sedang menulis, sementara pelita hampir habis minyaknya maka ia permisi untuk mengambil minyak. Maka tamunya berkata: “Apakah khalifah mengambilkan minyak karena aku?” Jawab khalifah: “Bukan seorang yang mulia jika tidak memuliakan tamunya”. Maka kata tamunya: “Tidakkah Anda membangunkan pelayan Anda?” Jawab khalifah: “Ia lelah karena bekerja seharian”. Maka berangkatlah ia ke gudang untuk mencari minyak, lalu dituangnya sendiri dari gentong minyak ke tempatnya lalu dibawanya dengan tangan dan bajunya bernoda bekas minyak. Maka kata tamunya: “Anda lakukan sendiri hal ini wahai amirul mu’minin?” Maka ia menjawab: “Diamlah, aku ini hanyalah seorang Umar tidak berkurang sedikitpun, dan sebaik-baik manusia adalah yang disisi Allah SWT tercatat sebagai seorang yang tawadhu’.

Bahkan ketika Rasulullah SAW bersama para shahabat berhasil menaklukkan Makkah dengan gilang gemilang, pada saat tersebut beliau SAW pun kemudian menundukkan kepalanya sampai hampir-hampir menyentuh punggung untanya sambil mengulang-ulang ayat: Inna fatahna laka fathan mubina..

Jika Rasulullah tawadhu’ dengan kemenangannya dan khalifah yang sesungguhnya juga tawadhu’ dengan kekhalifahannya, lantas apakah tersisa alasan lain untuk Profesor bersikap takabur, sementara HT baru dalam taraf bersosialisasi tentang khilafah? Bahkan HT sendiri masih kebingungan bagaimana mekanisme menegakkan khilafah bukan?

Adalah tindakan tidak bijak jika Anda sesumbar dengan menyatakan bahwa “…hanya Hizbut Tahrirlah yang bisa dikatakan sebagai “gerakan politik Islam” yang memperjuangkan terealisasinya Khilafah..”. Anda benar-benar melampaui batas dan mendekati apa yang dikatakan Rasulullah saw. ‘menutupi kebenaran dan menipu manusia’. Semoga tulisan ini bisa menjadi nasehat bagi Prof. Dr. Hassan Ko Nakat dan Hizbut Tahrir, serta sekaligus sebagai peringatan agar lebih berhati-hati dan tidak terjerumus pada kehinaan.

 

August 13, 2007

HT Menjilat Ludah

Filed under: PEMIKIRAN

HTI MAU JADI PARPOL; MENJILAT LUDAH SENDIRI??


Dalam Konferensi Internasional bertema ‘Saatnya Khilafah Memimpin Dunia’ yang digelar pagi hingga siang ini, Ahad (12/8), Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Muhammad Ismail Yusanto menyatakan bahwa HTI tidak menutup kemungkinan menjadi parpol. (www.eramuslim.com, 12 Agustus 2007).

Sebuah ungkapan yang nyata-nyata tidak konsisten mengingat dalam banyak pernyataannya HTI acapkali mencaci sistem demokrasi yang dianut oleh NKRI. Tidak hanya melalui pernyataan-pernyataan lesannya lewat ceramah-ceramah di masjid atau forum-forum kajian internalnya, aksi-aksi jalanan HTI juga mengusung jargon-jargon yang sama bahwa demokrasi adalah sistem kufur yang ‘diharamkan’ dan ‘najis’.

Tidak jarang orang-orang HTI pun menunjukkan kesinisannya mengenai aktivis-aktivis da’wah di luar mereka yang telah berjuang dengan gigih di parlemen dengan mendirikan institusi formal partai politik. Cerminan fakta ini gampang ditemukan di situs online HTI pada kolom-kolom komentar. Diantara contohnya adalah seseorang berinisial Intan (tentu seorang kader HTI) dalam kolom analisis berjudul "Kepercayaan Masyarakat kepada Partai Politik Menurun" menuliskan komentar tertanggal 21 Mei 2007 sebagai berikut:

"gimana nggak,gayanya doang hendak merepresentasikan aspirasi umat, boro-boro, mereka buruan bagi-bagi modal rakyat. apa seperti begitu ya namanya partai. saya aja malu. ngakunya partai Islam, tahunya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. palsu banget. munafik banget. …. yang jelas gak ada partai di Indonesia yang saya percaya, termasuk partai Islam yang terkenal itu….semuanya gak ada bedanya.simbol doang yang beda.

Atau sebagaimana yang dituliskan seseorang berinisial Teguh dalam Al-Islam edisi 356 berjudul ‘Pelajaran Dari Kasus ‘DKP'’. Komentar bertanggal 23 Mei 2007 tersebut menuliskan sebagai berikut:

"Demikianlah sepak terjang para politisi yang menyatakan diri (lebih tepat disebut menyombongkan diri) sebagai penganut Islam Moderat, yang kemudian dengan label moderat itu mereka menyerukan demokratisasi dan liberalisasi kehidupan di negeri ini.

Kini mereka terperosok ke dalam sistem demokrasi (sesat) yang dibangunnya sendiri. Alih-alih mengangkat kesulitan dan penderitaan umat, justru mereka sendiri terjerembab ke dalam jurang kehinaan hanya karena UANG, memuja kapital (harta), melupakan syahadat, mengkhianati Allah SWT dan Rasulullah SAW, menyisihkan hukum dan syariat Islam…"

Dua contoh pernyataan diatas tentu tidak sebanding dengan lebih banyaknya lagi komentar sejenis yang biasa meluncur dari lesan orang-orang HTI. Yang jelas, munculnya sinisme banyak kalangan kader HTI terhadap aktivis da’wah yang menjadikan partai politik sebagai salah satu sarana da’wahnya tentu tidak bisa dipisahkan dari doktrinase induknya di setiap tempat lewat forum-forum kajian.

Walau demikian pedas cemooh HTI, para aktivis da’wah yang gigih memperjuangkan umat di parlemen tetap konsisten dan tak bergeming. Mereka terus melaju dengan agenda-agenda pembangunan dan pelayanan umat. Karena bagi para aktivis da’wah tersebut, masa awal membangkitkan umat sudah dilewati beberapa tahun sebelumnya. Sehingga cemooh dan sinisme orang-orang HTI tidak mempan dan tumpul. Umat pun makin cinta dan percaya bahwa kehadiran para aktivis da’wah di parlemen benar sungguh-sungguh memperjuangkan mereka kebaikan demi kebaikan.

Angka-angka spektakuler di berbagai daerah yang mencerminkan kepercayaan umat kepada aktivis da’wah ini pun cukup membuat gerah banyak pihak, mungkin juga HTI salah satunya. Hal ini diperlihatkan dengan apa yang dimuat Al-Islam edisi 356 lalu. Pilkada DKI Jakarta baru-baru ini cukup mencengangkan banyak kalangan. Banten sebelumnya juga demikian. Bahkan Kota Depok dan Kota Bekasi juga mengalami hal serupa. Belum lagi tidak kurang dari 81 daerah-daerah diseluruh nusantara telah dipimpin oleh kader-kader pilihan aktivis da’wah ini.

Umat Islam Indonesia memang sudah kadung cinta dan tsiqoh pada para aktivis yang menjadikan parlemen benar-benar sebagai panggung dawah, bukan panggung politik an-sich.

Lalu 12 Agustus 2007 kemarin tiba-tiba HTI lewat Jubirnya Ismail Yusanto mengeluarkan statemen sebagaimana dilansir eramuslim diatas. Lebih lanjut Ismail Yusanto juga mengatakan bahwa “Di sejumlah negara, Hizbut Tahrir telah membuktikan diri sebagai partai politik yang layak diperhitungkan,â€. Jadi, HT menjadi parpol bukan hanya sekedar dalam kerangka ‘akan’, tapi sudah benar-benar menjadi fakta bahwa HT telah masuk wilayah yang selama ini di cemoohnya lewat isu-isu syari’at dan khilafah.

Sebenarnya apa yang membuat HTI tanpa rasa malu menjilat ludahnya sendiri?? Memang berat menjaga lidah.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer