July 30, 2007

Sembunyi Di balik Tabligh 2

Filed under: PEMIKIRAN

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

KOFERENSI INTERNASIONAL APA TABLIGH AKBAR??
Tulisan ke-2 dari 2 tulisan.


 

Pemilihan kata ‘konferensi khilafah internasional’ memiliki beberapa konsekuensi logis yang harus melekat kuat baik secara spirit maupun visualisasi fisik. Baik dari sisi narasumber, methode pertemuan, background keilmuan peserta ataupun sebaran peserta konferensi. Dengan mengkomparasi acara yang hendak disuguhkan dalam event tersebut, maka ada beberapa hal yang menjadi alasan kenapa tajuk ‘Konferensi Khilafah Internasional’ menjadi kurang pas dan tidak ada spirit. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut (lanjutan):

Kedua, Methode Pertemuan

Sudah semestinya sebuah konferensi internasional diselenggarakan dengan model yang lazim digunakan dalam masyarakat internasional pula. Disamping itu methode penyelenggaraan juga mesti sesuai dengan pendekatan makna asli konferensi yang meliputi kebutuhan dan fungsi pengkajian, brain storming, pendalaman ataupun perumusan solusi. Sehingga output dari hasil konferensi jelas, tegas, tidak abstrak, dan dapat dijadikan rujukan oleh semua kalangan.

Untuk parameter kedua ini pun acara HTI tersebut sangat tidak memenuhi. Bagaimana tidak pertemuan tersebut di gelar di gelanggang luas terbuka yang pasti tidak mendukung terhadap fungsi pengkajian, pendalaman dan perumusan solusi secara timbal balik antar peserta konferensi. Hanya memenuhi satu fungsi saja, yaitu brain storming atau ‘tabligh’. Itu pun jika setiap peserta yang hadir mengikuti dengan seksama. Sayangnya secara empiris gelanggang terbuka Gelora Bung Karno dibangun tidak untuk kepentingan konferensi seperti ini.

Pertemuan HTI ini akan bersifat monolog dengan peserta pasif yang satu sama lain tidak saling mengenal, meski hanya sekedar wajah. Bahkan tak semua peserta yang hadir dapat mengenali dengan jelas wajah para penceramah ataupun orator dari jarak dekat. Dengan kondisi yang seperti ini, dipastikan tidak bakalan ada hasil yang jelas, panduan yang tegas, rujukan yang konkrit, apalagi munculnya ’sang khalifah’ pasca konferensi tersebut. Semuanya bubar sebagaimana bubarnya peserta seusai mengikuti acara tabligh akbar.

Ketiga, Background Keilmuan

Untuk menggagas secara serius mulai dari strategi umum hingga ke tataran teknis, seharusnya sebuah konferensi dilaksanakan oleh orang-orang yang berkompeten. Memiliki background multi-keilmuan yang mendukung pada tujuan diselenggarakannya konferensi dimaksud. Pada umumnya konferensi diikuti oleh orang-orang yang memiliki kompetensi untuk melakukan analisa dan penggalian pemikiran dan informasi. Tidak dalam wujud masa cair yang ultra-heterogen dari sisi kapabilitas keilmuan. Hal ini tentu sangat tidak relevan dengan kelaziman sebuah konferensi, apalagi konferensi internasional.

Tanpa merendahkan kalangan cendekia di HTI, masa cair yang bakal hadir baik dari kader dan simpatisan HTI ataupun masyarakat umum yang sekonyong-konyong hadir lantaran mewakili DKM atau karena penasaran, tentu bukanlah dalam makna yang sesuai dengan maksud konferensi di atas. Mereka hadir hanya sebagai penonton yang duduk manis tanpa bekal pengetahuan memadai soal muatan konferensi yang dihadiri. Sehingga kehadiran tersebut hanya bermakna figuran belaka.

Harus dipahami bahwa kelaziman makna konferensi adalah seperti apa yang sebagiannya pernah Indonesia selenggarakan. Konferensi Meja Bundar, Konferensi Asia Afrika, KTT Negara Anggota OKI, dan yang belum lama ini diselenggarakan di Bogor 3-4 April 2007 lalu, Konferensi Internasional Pemimpin Umat Islam, merupakan contoh yang konkrit bagaimana mengilustrasikan urgensi dan fungsi background keilmuan peserta suatu konferensi.

Keempat, Jumlah dan Keterwakilan Peserta

Akhir pekan lalu demam bola Piala Asia masih berlangsung. Semua orang, dari yang berdasi hingga abang becak yang mangkal diujung jalan, memahami bahwa makna dari Piala Asia berarti peserta yang turut berlaga adalah tim-tim terbaik dari negara-negara Asia. Atau ketika masyarakat menyaksikan hajatan per 4 tahunan Piala Dunia maka masyarakat paham bahwa peserta laga sepak bola tersebut adalah tim-tim nasional terbaik dari berbagai negara di seluruh penjuru dunia.

Oleh karena itu, menyandangkan kata ‘internasional’ juga harus dimaknai serupa sebagaimana lazimnya. Keterwakilan negara-negara di dunia yang representatif menjadi syarat mutlak pengambilan kata tersebut. Hadirnya penceramah dari beberapa negara tidak secara otomatis menjadi delegasi negaranya. Karena kehadiran mereka sebagai undangan khusus untuk menjadi narasumber. Untuk itu, umat Islam Indonesia pastinya ingin melihat signifikansi keterwakilan negara-negara di dunia mengirimkan delegasinya dalam acara HTI tersebut. Apakah representatif atau hanya isapan jempol belaka?

Dimedia-media publikasi HTI selalu menyatakan bahwa acara ‘Konferensi Khilafah Internasional’ ini akan di hadiri oleh sekitar 100.000 orang. Akan tetapi, jumlah yang besar tidak bisa mengesampingkan faktor keterwakilan. Karena konferensi ‘internasional’ tidak dimaknai dari besar kecilnya peserta yang menghadiri namun lebih kepada 3 faktor pertama.

Meskipun dalih besarnya jumlah peserta akan HTI gunakan untuk menjustifikasi bahwa hajat tersebut adalah Konferensi Internasional, maka negeri ini telah mencatat moment-moment umat Islam yang jumlahnya jauh lebih banyak dari target acara HTI ini. Sebut saja Aksi Sejuta Umat di Monas beberapa tahun yang lalu di era Gus Dur. Ada pula aksi ratusan ribu masa lintas Parpol dan Ormas serta Agama yang di koordinir oleh KISPA saat aksi solidaritas untuk Palestina sekitar tahun 2005. Atau kampanye akbar ratusan ribu masa salah satu parpol Islam di akhir kuartal pertama tahun 2004 di tempat sama dimana diselenggarakan konferensi HTI.

Namun, dengan model serupa dengan apa yang akan diadakan HTI ini, ratusan ribu massa pada waktu itu dengan rendah hati lebih memilih kata Tabligh Akbar atau Aksi Simpatik, bukan ‘konferensi’ nasional apalagi internasional.

Dari beberapa point paparan diatas, maka terbuka dengan jelas apa yang sesungguhnya akan digelar oleh HTI di Senayan 12 Agustus 2007 mendatang. Event tersebut tidak tepat dan kurang pas jika disebut sebagai sebuah Konferensi Khilafah Internasional. Substansi dari penyelenggaraan event tersebut hanyalah sebatas ‘tabligh’ tentang kekhalifahan dan unjuk gigi eksistensi Hizbut Tahrir di Indonesia. Tidak lebih.

Jadi kesimpulannya, daripada keberatan atau kebesaran mengangakt jargon dan terkesan pongah. Lebih baik tajuk ‘Konferensi Khilafah Internasional’ yang di selenggarakan diganti nama dengan ‘Tabligh Akbar HTI’ saja. Sepertinya lebih tepat dan jujur. Agar umat tidak terkecoh dengan bahasa metafora yang terlalu dibesar-besarkan. Biasa aja.

 

Keterkaitan dengan Fitnah oleh HTI

Seolah tema bahasan ini sangat ‘remeh’ untuk diangkat, yaitu antara penggunaan kata ‘Konferensi Khilafah Internasional’ atau ‘Tabligh Akbar HTI’. Akan tetapi, pesan penting yang penulis ingin tekankan pada bagian akhir tulisan ini adalah untuk menggugah orang-orang HTI agar tidak hanya sekedar ‘menjual’ jargon kebaikan di satu sisi. Sementara di sisi yang lain belepotan mengumbar fitnah kepada pejuang-pejuang Islam Palestina sebagaimana yang diulas pada Al-Islam edisi 361.

 

Soal konferensi, tabligh akbar, atau apa pun namanya adalah hal yang biasa dan ‘remeh’. Sedangkan fitnah jelas urusan besar, baik atas keterkaitannya dengan sesama maupun dengan Allah SWT. Disini penulis tidak merasa perlu mengungkap dalil-dalil syar’i tentang fitnah. Sebab, menurut penulis HTI memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai masalah syariah (termasuk hukum-hukumnya). Tapi sayangnya, hingga detik ini HTI tidak cukup punya nyali mengakui kebodohannya menampilkan berita-berita dusta dan fitnah kepada umat Islam Indonesia lewat buletin Jum’at Al-Islam-nya pada edisi 361.

Dengan ulasan ini, sesungguhnya tidak ada alasan bagi HTI untuk tidak segera meminta maaf dan mengklarifikasi fitnahnya, apalagi jika alasannya sedang disibukkan persiapan ‘Konferensi Khilafah Internasional’, lha wong cuma tabligh akbar gitu ko’. (Selesai)
 

 

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://rhisy.blogsome.com/2007/07/30/36/trackback/

  1. betul akhi aris,sebenarnya HTI tidak lebih hanya semata-mata memperkenalkan Khilafah
    .apakah khilafah bisa “berdiri” di negeri ini ?
    jika konferensi taraf Internasional,maka apa yang dihasilkan dari konferensi tersebut harus
    bertanggungjawab terhadap dunia internasional.

    Comment by rendy — February 7, 2009 @ 3:46 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer