HTI Fitnah HAMMAS
JANGAN MENGUMBAR FITNAH SOAL PALESTINA!
Sebuah keterkejutan luar biasa ketika membaca artikel buletin Al-Islam edisi 361 yang dikeluarkan secara resmi oleh Hizbut Tahrir Indonesia, tepatnya edisi Jum’at, 29 Juni 2007 yang lalu. Disana tertulis dengan bahasa yang sangat ‘lembut’ menyebutkan bagaimana Hamas bersikap terhadap tindak kejahatan yang dilakukan oleh pasukan Fatah.
Tuduhan-Tuduhan HTI
Pada bagian akhir paragraf ke-9 Al-Islam edisi 361 disebutkan; "… Pertikaian Fatah dengan Hamas sekarang ini juga membuat mereka (penduduk Palestina) berada dalam cengkeraman, karena milisi yang ada di bawah Fatah mengobarkan kekacauan terhadap Hamas di Gaza. Hamas tidak menyelesaikannya dengan bersikap sabar dan membongkar skenario tersebut kepada masyarakat. Hamas justru membalasnya dengan melakukan pembunuhan dan menumpahkan darah sampai menimpa para orang tua, wanita, dan anak-anak, bahkan pepohonan dan batu, dalam sebuah pembantaian yang sangat keji."
Pernyataan ini terasa sangat tendensius dan tidak bersandar kepada fakta lapangan yang nyata-nyata sangat jauh dari statement diatas. Terlebih tuduhan tersebut tidak didukung dengan data-data lapangan yang valid dan terpercaya. Secara umum dunia Islam mengetahui bahwa Hamas sudah menyampaikan peringatan berulang kali, bahkan sangat terbuka mengulurkan tangan untuk berdialog dengan pihak Fatah. Namun seruan dan ajakan tersebut tak ditanggapi presiden Mahmod Abbas, dan juga tidak di gubris pasukan kudeta di bawah Fatah yang terus saja melakukan aksi kejahatan, kekerasan, pembakaran dan bahkan pembunuhan. Dimana dalam aksi-aksinya tidak hanya tokoh dan pendukung Hamas saja yang dibunuh oleh pasukan tersebut, tetapi warga, imam masjid, bahkan simpatisan Fatah sendiri pun ikut menjadi korban dengan dilempar dari atas gedung bertingkat hanya gara-gara berjenggot.
Siapapun memahami bahwa sah (baik dari sisi konstitusi ataupun syari’ah) bagi Hamas sebagai pemerintah yang bertanggung jawab atas keamanan wilayah Palestina baik di Tepi Barat atau pun Jalur Gaza untuk melakukan langkah tegas guna menyelamatkan rakyat Palestina dari rongrongan kelompok bersenjata yang terus-menerus melakukan kejahatan. Karenanya, kalimat "..dan menumpahkan darah sampai menimpa para orang tua, wanita, dan anak-anak, bahkan pepohonan dan batu, dalam sebuah pembantaian yang sangat keji…" adalah sebuah fitnah sangat kotor yang nyata-nyata dilontarkan HTI.
Menghadapi pasukan kudeta bersenjata yang tidak mempan dengan seruan dan himbauan untuk menghentikan kejahatannya, demi menyelamatkan ukhuwah nasional maka hak mendasar bagi pemerintah dan pejuang untuk membela diri dan menumpas pasukan yang berdiri dibelakang agresor Israel. Jika di Indonesia Pemerintah mengerahkan kekuatan senjata untuk ‘menyadarkan’ gerakan separatis yang pernah terjadi di NAD beberapa waktu lalu masyarakat dunia tidak mempermasalahkan, lalu kenapa HTI jadi berang menyikapi keputusan Hamas terhadap sekelompok pasukan kudeta? Sedangkan terbunuhnya pasukan dari dua belah pihak adalah harga yang terpaksa harus dibayar untuk menegakkan yang hak dan menghancurkan yang batil.
Merupakan sebuah keharusan bagi para pejuang Palestina yang ingin membela bangsanya dengan berprinsip tegas sebagaimana yang dilontarkan Batalyon Izzudin Al-Qossam bahwa senapan dan senjata mereka harus tetap ke arah dada-dada penjajah Israel, para pengekor, antek, agen dan mata-mata yang membantu Israel (infopalestina, 03/07/2007).
Fakta pengkhianatan yang dilakukan sekelompok pasukan di bawah Fatah ini sejalan dengan apa yang dilansir oleh Harian Haaretz edisi 06/06 yang menyebutkan bahwa pihak-pihak di gerakan Fatah pergi ke lembaga keamanan Israel meminta diperkenankan kepada gerakan ini untuk memasukkan perlengkapan militer dalam jumlah besar dari salah satu negara tetangga ke Gaza untuk membantu gerakan ini dalam perang melawan Hamas. Lantas apakah namanya selain pengkhianat negara jika sekelompok orang bersenjata meminta bantuan penjajah untuk memerangi pejuang yang hendak memerdekakan negaranya?
Apalagi, paska sterilisasi Istana Kepresidenan dari pasukan kudeta ditemukan bukti-bukti mencengangkan tentang skandal pasukan pengamanan Presiden dengan pemimpin Israel, termasuk skenario pembunuhan tokoh-tokoh Palestina seperti mendiang pemimpin PLO Yasir Arafat dan PM. Ismail Haniya. Salah seorang petinggi Hamas Dr. Khalil Hayyah, Jum’at (22/06) memaparkan dokumen tulisan tangan Muhammad Dahlan saat pertemuan Abbas dengan PM Israel Ehud Olmert. Dokumen ini menyebutkan penyerahkan 2500 pucuk senjata dan 2 juta peluru oleh Israel kepada kelompok Dahlan di Tepi Barat untuk menghadapi gerakan Islam di sana. Penulis tidak tahu, apakah Hizbut Tahrir yang ada di Palestina juga menjadi sasaran tembak pembelot-pembelot di tubuh Fatah ini. Jika tidak, kenapa bisa??
Bukti hubungan mesra pasukan kudeta dengan penjajah Israel juga tergambar dari apa yang disampaikan Perdana menteri Israel, Ehud Olmert, dalam sidang parlemen bidang keamanan luar negeri Israel, Senin (2/7) lalu yang menegaskan bahwa pihaknya menjalin kerja sama bidang keamanan dengan dinas keamanan pimpinan Mahmud Abbas untuk menghadapi kelompok perlawanan di Tepi Barat dan Gaza.
Kemudian pada paragraf ke 10 juga dituliskan; "Sesungguhnya tidak adanya kesadaran politik dalam tubuh Hamas, juga perjalanannya yang tanpa disertai dengan kesadaran politik, itulah yang menyebabkan Hamas terjerumus ke dalam krisis demi krisis; bahkan sampai pada titik di mana mereka harus menumpahkan darah kaum Muslim yang tidak berdosa dengan cara zalim dan penuh permusuhan. Namun, Hamas justru menganggap dirinya melakukan kebaikan, bahkan untuk itu mereka melakukan sujud syukur kepada Allah."
Penulis mengetahui, sejauh ini tokoh-tokoh Hamas yang berada di pejabat pemerintahan bekerja dengan profesional sesuai dengan bidang dan keahliannya. Tidak ada tuduhan-tuduhan miring kecuali dari pihak Israel dan Amerika. Dan mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki catatan permasalahan moral dan kejahatan. Oleh karena itu, landasan macam apa yang membuat HTI mengeluarkan statemen bahwa Hamas tidak memiliki kesadaran politik. Bukankah keterlibatannya dalam pemilu demokratis yang memang dianut konstitusi Palestina adalah salah satu bentuk kesadaran politik? Dan bukankah sikap tegasnya untuk tidak tunduk kepada penjajah Israel sampai Palestina merdeka juga bagian dari bentuk kesadaran politiknya? Penempatan orang-orang yang profesional dalam tubuh kabinet PM. Isma’il Haniya juga bagian dari kesadaran politknya juga?
Ambalat saja yang berupa pulau tak berpenghuni mati-matian Indonesia perjuangkan. Apatah lagi seluruh kawasan Palestina yang tercaplok oleh Yahudi penjajah harus diserahkan tanpa syarat dengan muka manis dan menunduk? Oleh karena itu, siapa saja yang nyata-nyata menjadi antek dan kepanjangan tangan Israel harus diberi ganjaran yang setimpal agar kerusakan yang jauh lebih besar dapat terhindari. Apalagi mereka para anggota pasukan kudeta termasuk golongan orang-orang yang khianat kepada kepentingan nasional dan negara.
Namun demikian, Hamas menunjukkan bukti kearifannya dimana pada hari ‘pembebasan’ Gaza atas kejahatan pasukan muhammad Dahlan, Hamas telah menyampaikan pengampunan umum kepada seluruh anggota pasukan yang terlibat berbagai tindak kejahatan tersebut.
Ditambah pula fakta-fakta lapangan justru berkata sebaliknya dari apa yang dituduhkan HTI kepada Hamas. Namun, "..Hamas justru menganggap dirinya melakukan kebaikan, bahkan untuk itu mereka melakukan sujud syukur kepada Allah…" Sebagaimana yang disampaikan Hamas kepada infopalestina.com (03/07), Hamas mengisyaratkan bahwa pada saat Israel melakukan kejahatan demi kejahatan dengan membunuh, menangkap dan menggeledah, justru milisi bersenjata pimpinan Muhamad Dahlan dari unsur keamanan Palestina merasa bangga melakukan kejahatan terhadap kader-kader dan warga pendukung Hamas. Jika para antek Israel saja bangga melakukan kejahatan dan pembunuhan, maka kenapa HTI ‘gerah’ atas rasa syukur rakyat Palestina yang terlepas dari ancaman pembunuhan dan penyiksaan?
Selain itu, paska penguasaan keamanan Hamas atas Gaza, kehidupan warga berangsur-angsur membaik dan tenang. Bahkan disebut-sebut Gaza pertama kalinya merasakan masa tenang setelah selama puluhan tahun sebelumnya terus dilanda ancaman dan ketakutan. Catatan pembunuhan pun menurun drastis. Dalam sebuah laporan yang ditulis oleh Menteri Hukum Palestina Yusuf Mansi yang diterima Infopalestina hari ini Kamis (05/07), menegaskan, hanya ada tiga kasus pembunuhan selama setengah bulan Juni lalu. Disebutkan, selama bulan Januari 2007 ada 63 kasus pembunuhan, Februari 35 kasus pembunuhan, Maret 19 kasus pembunuhan, April 19 kasus pembunuhan, Mei 46 kasus pembunuhan, Juni 3 kasus pembuhuhan. Tiga kasus pembunuhan terakhir pada saat Hamas menguasai Jalur Gaza itu pun bukan disebabkan kekacauan keamanan.
Dan pada bagian akhir paragraf ke-12 tertulis; "… Sebab, terus-menerus berada di panggung sandiwara Otoritas Palestina (Fatah) dan Pemerintah (Hamas) yang berada di bawah pendudukan yang didirikan di atas tengkorak kaum Muslim yang terpenggal, nyawa kaum Muslim yang dihilangkan, dan darah-darah mereka yang ditumpahkan, terus-menerus berada dalam kondisi seperti ini, sungguh merupakan pengkhianatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang Mukmin"
Kata-kata diatas rasanya ko’ kurang pantas dilontarkan sebuah gerakan Islam yang mengusung jargon syari’ah dan khilafah. Dan lebih sangat dekat kepada kata-kata keji dan finah. Petikan paragraf tersebut sungguh sangat mengganggu benak penulis, karena jika ditelaah dengan fakta-fakta yang diungkap diberbagai media terpercaya tulisan-tulisan tersebut hanya didasarkan kepada sudut pandang yang lemah dan dan jauh dari kejujuran. Disamping itu juga mencerminkan ‘ketidaktahuan’ penulisnya tentang kondisi Palestina yang sesungguhnya. Atau memang sengaja menutup mata? Saya meragukan.
Memahami Kronologi Masa-Masa Sulit di Palestina
Ketegangan situasi di Palestina memang semakin menguat paska penandatanganan Kesepakatan Mekah bulan Februari 2007 lalu. Padahal sebelumnya dunia dan rakyat Palestina menyambut suka cita penandatanganan kesepakatan yang diprakarsai oleh Raja Arab Saudi dan pemerintah Mesir itu, dimana salah satu isi kesepakatannya adalah mengenai pembentukan Pemerintahan Koalisi Nasional. Pemerintahan yang secara proporsional terdiri dari mayoritas kekuatan Hamas dan Fatah bersama dengan faksi-faksi lain yang ada di Palestina. Situasi tersebut terlukis dari kegembiraan rakyat palestina. Sebagaimana di lansir eramuslim.com, disebutkan bahwa warga Ghaza menyambut gembira tercapainya kesepakatan antara Hamas dan Fatah dalam pertemuan Makkah di Arab Saudi. Mereka merayakan kegembiraan itu dengan menyalakan kembang api ke langit kota Ghaza.
"Ghaza belum pernah sebahagia ini selama bertahun-tahun. Gaza hari ini berbeda, Gaza malam ini berbeda," kata Abu Ali Saleh, warga Ghaza berusia 50 tahun, Kamis (8/2) malam. Selain di Ghaza, rakyat Palestina di Tepi Barat juga menyambut gembira kesepakatan Fatah dan Hamas.
"Hari ini kami bahagia melihat para pemimpin kami saling berjabat tangan, bukan saling membunuh satu sama lain," kata Nasri Abu Rajab, 26, warga kota al-Khalil.
Jika kondisi ini terus berlangsung tentu tidak menguntungkan bagi Israel dan Amerika. Oleh karena itu, Israel dan Amerika pun memainkan kartu strategis dengan memanfaatkan pasukan ‘khusus’ yang memang telah lama dibinanya dari pasukan elit pengawal presiden. Pasukan tersebut bergerak dibawah komando Muhamad Dahlan, salah seorang tokoh militer Fatah yang memiliki pengaruh cukup kuat. Pasukan ‘kudeta’ itu melakukan berbagai aksi penangkapan, kekerasan, pembakaran, penembakan, banhkan pembunuhan terhadap warga Palestina yang diduga memiliki hubungan dengan Hamas guna merongrong pemerintahan yang di pimpin PM. Ismail Haniya. Bahkan salah seorang imam Masjid Abbas turut menjadi korban pembunuhan setelah sebelumnya di siksa dan ditembaki dengan sadis.
Di Gaza pasukan pimpinan Dahlan itu meningkatkan ekskalasi kejahatan dengan cara membakar sekolah-sekolah, lembaga sosial, lembaga zakat, yayasan dan kantor-kantor yang mereka anggap punya kaitan dengan Hamas. Penculikan dan pembunuhan semakin meningkat dijalan-jalan Gaza. Warga Gaza sebagai basis pendukung Hamas diliputi ketakutan dan ancaman kejahatan bahkan pembunuhan. Tidak sedikit warga yang diculik dan kemudian dibunuh dengan keji oleh pasukan ‘antek’ Yahudi ini. Terhitung tidak kurang dari 50 kader Hamas yang diculik dan disiksa bahkan dibunuh oleh kelompok pasukan kudeta pimpinan Muhamad Dahlan. Sementara Presiden Abbas diam saja dan membiarkan berbagai tindak kriminal dan pembunuhan yang sudah mengancam keselamatan nasional bangsa Palestina. Tanpa rasa malu sang komandan pasukan Muhamad Dahlan masih bebas berkeliaran di Istana Kepresidenan Mahmud Abbas. Bahkan menurut keterangan beberapa korban yang berhasil diselamatkan, mereka dan beberapa orang lain yang diculik telah disiksa dan ditembaki secara terang-terangan di dalam Istana tersebut.
Menyikapi situasi ini, Hamas pun berulang kali memberikan peringatan kepada pasukan kudeta tersebut agar menghentikan kejahatannya atas rakyat Palestina. Dan dalam sebuah surat panjangnya kepada Presiden Abbas, Ismail Haniya menyerukan peringatan terhadap permasalahan ini. Namun, seruan tersebut tidak digubris. Bahkan di wilayah Gaza kejahatan pasukan kudeta semakin meningkat. Hamas sebagai pemegang pemerintah yang bertanggung jawab terhadap keamanan dan keselamatan rakyat Palestina mengancam menggunakan tindakan tegas jika kelompok Muhamad Dahlan tidak menghentikan tindakan brutalnya.
Ancaman tersebut akhirnya benar-benar dibuktikan oleh Hamas mengingat pasukan pembunuh tetap tidak bergeming dengan kejahatannya. Pos-pos kemananan yang diduduki pasukan kudeta Fatah berhasil dikuasai Hamas satu per satu. Dalam waktu hanya beberapa hari, melalui pertempuran sengit seluruh pos keamanan akhirnya dapat dikuasai oleh Hamas, bahkan Istana Kepresidenan yang dijadikan sarang pemimpin pasukan kudeta pun turut diamankan. Dan Gaza pun berhasil dikuasai sepenuhnya. Hari itu juga Hamas mengumumkan penguasaan kondisi kemananan wilayah Gaza, menjamin keamanan warganya dan menyampaikan pengampunan kepada anggota pasukan kudeta yang mau insyaf. Gaza berangsur-angsur pulih dan tenang.
Jadi sangat keliru jika HTI menyebutkan pemerintahan Hamas "…didirikan di atas tengkorak kaum Muslim yang terpenggal, nyawa kaum Muslim yang dihilangkan, dan darah-darah mereka yang ditumpahkan, terus-menerus berada dalam kondisi seperti ini, sungguh merupakan pengkhianatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang Mukmin".
Nasehat Yang Tegas!
Memandang apa yang kini terjadi dan berlangsung di Palestina haruslah dipandang dengan cermat dan tidak gegabah. Mengambil kesimpulan tanpa didasari pengetahuan yang luas dan kejujuran adalah sebuah tindakan ceroboh yang dapat menjerumuskan seseorang dalam kubangan fitnah dan laknat.
Sekali lagi, seharusnya HTI tidak ceroboh mengumbar statement resminya yang kurang pantas. Apalagi jika beraroma fitnah dan kata-kata keji. Karena Rasulullah saw. bersabda: "Bukanlah seorang mukmin jika suka mencela, melaknat dan berkata-kata keji." (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)
Tulisan ini tidak penulis buat untuk membela siapa dan memusuhi siapa. Tidak untuk mendukung Hamas apalagi menyalahkan Fatah, karena sesungguhnya persoalan yang ada di Palestina adalah karena adanya sekelompok pasukan bersenjata ’sempalan’ Fatah yang memerangi dan berusaha mengkudeta pemerintahan Hamas yang terpilih secara demokratis. Nasehat ini lebih sebagai peringatan kepada seluruh organisasi-organisasi Islam di Indonesia dan seluruh dunia untuk tidak ceroboh melemparkan fitnah dan kekejian kepada saudara kita sendiri. Sebab kita memiliki tanggung jawab sebagai pemersatu, menjaga ukhuwah, dan turut memberi andil untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan umat Islam. Bukan malah mengaduk-aduk dan memperkeruhnya.
Oleh karena itu, sebagai bentuk tanggung jawab iman, penulis menyerukan nasihat kepada Hizbut Tahrir Indonesia agar lebih hati-hati dalam mengeluarkan issu-issu sensitif dan lebih bening dalam melihat permasalahan dunia Islam. Terlebih sebagai sebuah organisasi Islam yang meneriakkan jargon syari’ah dan khilafah, alangkah baiknya apabila HTI dapat hadir ditengah-tengah umat dengan bahasa yang lembut dan lebih berakhlak. Jangan sampai Islam kembali tercoreng gara-gara ulah segelintir orang Islam yang kalap dan latah.







