July 30, 2007

Sembunyi Di balik Tabligh 1

Filed under: PEMIKIRAN

KOFERENSI INTERNASIONAL APA TABLIGH AKBAR??
(Tulisan pertama dari 2 tulisan)


Akhir-akhir ini ruas-ruas jalan Ibukota diramaikan dengan spanduk-spanduk sosialisasi ‘Konferensi Khilafah Internasional’ yang diusung oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Daerah satelit di sekitar DKI Jakarta seperti Tangerang, Bekasi, Bogor dan Depok pun tak luput dari pampangan spanduk-spanduk tersebut. Demikian pula pamflet berukuran poster dengan background sejumput rumput hijau di tengah tanah yang retak juga tertempel di banyak mading masjid dan kampus di daerah-daerah Jabodetabek. Entah dengan daerah lain diluarnya, apakah mengalami kejadian serupa.

Tidak ketinggalan beberapa aktivis HTI juga menggunakan media internet dan email untuk mem-booming-kan hajatan akbar versi HTI yang akan diselenggarakan 12 Agustus 2007 ini. Secara mencolok event ini dipublikasikan baik menggunakan situs-situs HTI sendiri maupun beberapa situs Islam yang memang umum. Sedangkan aksi sosialisasi via surat elektronik juga cukup gencar dengan tak tanggung-tanggung melampirkan slide promosi narasumber dan peta jalan menuju lokasi yang memang akan diselenggarakan di Gelora Bung Karno. Sayangnya, penulis dapatkan sang pengirim email masuk tanpa memperkenalkan sedikitpun identitas dirinya. Rasanya ko’ kurang santun dan tidak memahami etika. Sebagaimana email yang masuk ke email penulis, dimana pengirim secara intensif mengirimkan email tanpa identitas yang berisi informasi dan beberapa kutipan artikel yang tentu sudah menjurus ke arah hajatan tersebut di atas.

Pada dasarnya penulis mengapresiasi segala macam bentuk upaya kebaikan untuk menegakkan izzah umat Islam. Termasuk penyadaran kembali kaum muslimin terhadap khilafah islamiyah sebagaimana akan digelar HTI Agustus mendatang. Berasal dari organisasi Islam atau harokah apapun, kewajiban menegakkan kembali kekhalifahan Islam yang telah hilang hampir satu abad yang lamanya itu, adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Walaupun dalam tataran teknis setiap organisasi menempuh jalan yang beragam. Namun, semangat untuk sampai ke muara yang sama harus dijadikan patokan atau prinsip.

Mencermati lebih detil muatan acara yang hendak diadakan pada momen Konferensi Khilafah Internasional tersebut, penulis menilai ada beberapa hal prinsip yang kurang sesuai dan tidak pas. Ketidaksesuaian itu terletak pada tajuk ‘konferensi’ itu sendiri. Secara bahasa tentu sah-sah saja pihak HTI menggunakan kata konferensi. Sebab makna konferensi secara bahasa adalah pertemuan. Namun, hemat penulis pilihan kata tersebut kurang pas jika didekatkan kepada pemaknaan secara istilah. Apalagi jika kata ‘konferensi’ disambungkan dengan kata ‘khilafah’ dan kata ‘internasional’. Maknanya akan semakin jauh jika lebih kritis menilik rangkaian acara yang sudah disapkan HTI untuk 12 Agustus 2007 mendatang.

Pemilihan kata ‘konferensi khilafah internasional’ memiliki beberapa konsekuensi logis yang harus melekat kuat baik secara spirit maupun visualisasi fisik. Baik dari sisi narasumber, methode pertemuan, background keilmuan peserta ataupun sebaran peserta konferensi. Dengan mengkomparasi acara yang hendak disuguhkan dalam event tersebut, maka ada beberapa hal yang menjadi alasan kenapa tajuk ‘Konferensi Khilafah Internasional’ menjadi kurang pas dan tidak ada spirit. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, Latar Belakang Narasumber

Spirit dari tajuk konferensi khilafah ini mestinya diaktualisasikan dalam wujud keberagaman latar belakang dan kapabilitas narasumber atau penceramah. Lebih khusus haruslah menghadirkan ulama-ulama dunia yang memiliki pengaruh besar di seantero dunia Islam. Besar karena karya-karya pentingnya ataupun karena sosok dan fatwanya yang diterima dan diikuti oleh mayoritas lintas kelompok di dunia Islam. Sayangnya hajat yang akan diselenggarakan HTI ini tidak memenuhi unsur pertama ini.

Tidak bisa ditutupi bahwa narasumber atau pembicara yang didaulat untuk menyampaikan pikiran-pikirannya memiliki latar belakang yang homogen. 100 % semuanya adalah orang Hizbut Tahrir. Lantas dimana ulama-ulama dunia yang hingga hari ini masih sangat dihormati dan memiliki peran yang sangat kuat di dunia Islam. Apakah mereka semua tidak masuk dalam hitungan HTI? Sebut saja syekh Dr. Yusuf Qaradhowi, yang merupakan Ketua Umum Persatuan Ulama Islam Internasional. Kemudian Dr. Amir Musa selaku Sekjen Liga Arab, kemudian ulama besar yang juga sekaligus Syeikh Al-Azhar Dr. Muhammad Sayyed Thanthowi, dan sederet ulama-ulama internasional lainnya yang disegani. Tak satupun dari mereka yang namanya masuk dalam daftar penceramah konferensi tersebut. Jika ulama-ulama yang disegani saja tidak ada, apatah lagi kehadiran umaro atau pemimpin dari negara-negara muslim?

Malah sebaliknya, umat Islam Indonesia justru diberi suguhan beberapa nama ulama yang cukup asing di telinga, baik dari sisi kiprahnya di dunia Islam maupun karya karyanya yang membangun kebangkitan umat di dunia. Tentu terkecuali bagi orang-orang HTI.

Sedangkan kehadiran tokoh-tokoh lokal seperti Dr. Din Syamsudin, KH. Hasyim Musadi, AA Gym, Habib Rizieq Sihab, dan lain-lain yang menggawangi ormas-ormas Islam Indonesia untuk berorasi tidak lebih hanya sebagai pemanis dan tambahan saja. Apalagi tanpa kehadiran Dr. Hidayat Nurwahid, yang dalam suatu aksi simpatik pernah di selorohkan oleh Jubir HTI Ismail Yusanto untuk didaulat menjadi Khalifah (jika beliau mau), menjadikan hajatan tersebut semakin jauh dari makna yang seharusnya.

Jika narasumber yang dihadirkan hanya sebatas karena dari ‘luar negeri’, apalagi semuanya ulama-ulama satu ‘warna’, maka apa bedanya dengan acara-acara serupa di tanah air yang di namai tabligh akbar? (bersambung)

 

Sembunyi Di balik Tabligh 2

Filed under: PEMIKIRAN

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

KOFERENSI INTERNASIONAL APA TABLIGH AKBAR??
Tulisan ke-2 dari 2 tulisan.


 

Pemilihan kata ‘konferensi khilafah internasional’ memiliki beberapa konsekuensi logis yang harus melekat kuat baik secara spirit maupun visualisasi fisik. Baik dari sisi narasumber, methode pertemuan, background keilmuan peserta ataupun sebaran peserta konferensi. Dengan mengkomparasi acara yang hendak disuguhkan dalam event tersebut, maka ada beberapa hal yang menjadi alasan kenapa tajuk ‘Konferensi Khilafah Internasional’ menjadi kurang pas dan tidak ada spirit. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut (lanjutan):

Kedua, Methode Pertemuan

Sudah semestinya sebuah konferensi internasional diselenggarakan dengan model yang lazim digunakan dalam masyarakat internasional pula. Disamping itu methode penyelenggaraan juga mesti sesuai dengan pendekatan makna asli konferensi yang meliputi kebutuhan dan fungsi pengkajian, brain storming, pendalaman ataupun perumusan solusi. Sehingga output dari hasil konferensi jelas, tegas, tidak abstrak, dan dapat dijadikan rujukan oleh semua kalangan.

Untuk parameter kedua ini pun acara HTI tersebut sangat tidak memenuhi. Bagaimana tidak pertemuan tersebut di gelar di gelanggang luas terbuka yang pasti tidak mendukung terhadap fungsi pengkajian, pendalaman dan perumusan solusi secara timbal balik antar peserta konferensi. Hanya memenuhi satu fungsi saja, yaitu brain storming atau ‘tabligh’. Itu pun jika setiap peserta yang hadir mengikuti dengan seksama. Sayangnya secara empiris gelanggang terbuka Gelora Bung Karno dibangun tidak untuk kepentingan konferensi seperti ini.

Pertemuan HTI ini akan bersifat monolog dengan peserta pasif yang satu sama lain tidak saling mengenal, meski hanya sekedar wajah. Bahkan tak semua peserta yang hadir dapat mengenali dengan jelas wajah para penceramah ataupun orator dari jarak dekat. Dengan kondisi yang seperti ini, dipastikan tidak bakalan ada hasil yang jelas, panduan yang tegas, rujukan yang konkrit, apalagi munculnya ’sang khalifah’ pasca konferensi tersebut. Semuanya bubar sebagaimana bubarnya peserta seusai mengikuti acara tabligh akbar.

Ketiga, Background Keilmuan

Untuk menggagas secara serius mulai dari strategi umum hingga ke tataran teknis, seharusnya sebuah konferensi dilaksanakan oleh orang-orang yang berkompeten. Memiliki background multi-keilmuan yang mendukung pada tujuan diselenggarakannya konferensi dimaksud. Pada umumnya konferensi diikuti oleh orang-orang yang memiliki kompetensi untuk melakukan analisa dan penggalian pemikiran dan informasi. Tidak dalam wujud masa cair yang ultra-heterogen dari sisi kapabilitas keilmuan. Hal ini tentu sangat tidak relevan dengan kelaziman sebuah konferensi, apalagi konferensi internasional.

Tanpa merendahkan kalangan cendekia di HTI, masa cair yang bakal hadir baik dari kader dan simpatisan HTI ataupun masyarakat umum yang sekonyong-konyong hadir lantaran mewakili DKM atau karena penasaran, tentu bukanlah dalam makna yang sesuai dengan maksud konferensi di atas. Mereka hadir hanya sebagai penonton yang duduk manis tanpa bekal pengetahuan memadai soal muatan konferensi yang dihadiri. Sehingga kehadiran tersebut hanya bermakna figuran belaka.

Harus dipahami bahwa kelaziman makna konferensi adalah seperti apa yang sebagiannya pernah Indonesia selenggarakan. Konferensi Meja Bundar, Konferensi Asia Afrika, KTT Negara Anggota OKI, dan yang belum lama ini diselenggarakan di Bogor 3-4 April 2007 lalu, Konferensi Internasional Pemimpin Umat Islam, merupakan contoh yang konkrit bagaimana mengilustrasikan urgensi dan fungsi background keilmuan peserta suatu konferensi.

Keempat, Jumlah dan Keterwakilan Peserta

Akhir pekan lalu demam bola Piala Asia masih berlangsung. Semua orang, dari yang berdasi hingga abang becak yang mangkal diujung jalan, memahami bahwa makna dari Piala Asia berarti peserta yang turut berlaga adalah tim-tim terbaik dari negara-negara Asia. Atau ketika masyarakat menyaksikan hajatan per 4 tahunan Piala Dunia maka masyarakat paham bahwa peserta laga sepak bola tersebut adalah tim-tim nasional terbaik dari berbagai negara di seluruh penjuru dunia.

Oleh karena itu, menyandangkan kata ‘internasional’ juga harus dimaknai serupa sebagaimana lazimnya. Keterwakilan negara-negara di dunia yang representatif menjadi syarat mutlak pengambilan kata tersebut. Hadirnya penceramah dari beberapa negara tidak secara otomatis menjadi delegasi negaranya. Karena kehadiran mereka sebagai undangan khusus untuk menjadi narasumber. Untuk itu, umat Islam Indonesia pastinya ingin melihat signifikansi keterwakilan negara-negara di dunia mengirimkan delegasinya dalam acara HTI tersebut. Apakah representatif atau hanya isapan jempol belaka?

Dimedia-media publikasi HTI selalu menyatakan bahwa acara ‘Konferensi Khilafah Internasional’ ini akan di hadiri oleh sekitar 100.000 orang. Akan tetapi, jumlah yang besar tidak bisa mengesampingkan faktor keterwakilan. Karena konferensi ‘internasional’ tidak dimaknai dari besar kecilnya peserta yang menghadiri namun lebih kepada 3 faktor pertama.

Meskipun dalih besarnya jumlah peserta akan HTI gunakan untuk menjustifikasi bahwa hajat tersebut adalah Konferensi Internasional, maka negeri ini telah mencatat moment-moment umat Islam yang jumlahnya jauh lebih banyak dari target acara HTI ini. Sebut saja Aksi Sejuta Umat di Monas beberapa tahun yang lalu di era Gus Dur. Ada pula aksi ratusan ribu masa lintas Parpol dan Ormas serta Agama yang di koordinir oleh KISPA saat aksi solidaritas untuk Palestina sekitar tahun 2005. Atau kampanye akbar ratusan ribu masa salah satu parpol Islam di akhir kuartal pertama tahun 2004 di tempat sama dimana diselenggarakan konferensi HTI.

Namun, dengan model serupa dengan apa yang akan diadakan HTI ini, ratusan ribu massa pada waktu itu dengan rendah hati lebih memilih kata Tabligh Akbar atau Aksi Simpatik, bukan ‘konferensi’ nasional apalagi internasional.

Dari beberapa point paparan diatas, maka terbuka dengan jelas apa yang sesungguhnya akan digelar oleh HTI di Senayan 12 Agustus 2007 mendatang. Event tersebut tidak tepat dan kurang pas jika disebut sebagai sebuah Konferensi Khilafah Internasional. Substansi dari penyelenggaraan event tersebut hanyalah sebatas ‘tabligh’ tentang kekhalifahan dan unjuk gigi eksistensi Hizbut Tahrir di Indonesia. Tidak lebih.

Jadi kesimpulannya, daripada keberatan atau kebesaran mengangakt jargon dan terkesan pongah. Lebih baik tajuk ‘Konferensi Khilafah Internasional’ yang di selenggarakan diganti nama dengan ‘Tabligh Akbar HTI’ saja. Sepertinya lebih tepat dan jujur. Agar umat tidak terkecoh dengan bahasa metafora yang terlalu dibesar-besarkan. Biasa aja.

 

Keterkaitan dengan Fitnah oleh HTI

Seolah tema bahasan ini sangat ‘remeh’ untuk diangkat, yaitu antara penggunaan kata ‘Konferensi Khilafah Internasional’ atau ‘Tabligh Akbar HTI’. Akan tetapi, pesan penting yang penulis ingin tekankan pada bagian akhir tulisan ini adalah untuk menggugah orang-orang HTI agar tidak hanya sekedar ‘menjual’ jargon kebaikan di satu sisi. Sementara di sisi yang lain belepotan mengumbar fitnah kepada pejuang-pejuang Islam Palestina sebagaimana yang diulas pada Al-Islam edisi 361.

 

Soal konferensi, tabligh akbar, atau apa pun namanya adalah hal yang biasa dan ‘remeh’. Sedangkan fitnah jelas urusan besar, baik atas keterkaitannya dengan sesama maupun dengan Allah SWT. Disini penulis tidak merasa perlu mengungkap dalil-dalil syar’i tentang fitnah. Sebab, menurut penulis HTI memiliki pengetahuan yang cukup baik mengenai masalah syariah (termasuk hukum-hukumnya). Tapi sayangnya, hingga detik ini HTI tidak cukup punya nyali mengakui kebodohannya menampilkan berita-berita dusta dan fitnah kepada umat Islam Indonesia lewat buletin Jum’at Al-Islam-nya pada edisi 361.

Dengan ulasan ini, sesungguhnya tidak ada alasan bagi HTI untuk tidak segera meminta maaf dan mengklarifikasi fitnahnya, apalagi jika alasannya sedang disibukkan persiapan ‘Konferensi Khilafah Internasional’, lha wong cuma tabligh akbar gitu ko’. (Selesai)
 

 

July 14, 2007

HTI Fitnah HAMMAS

Filed under: PEMIKIRAN

JANGAN MENGUMBAR FITNAH SOAL PALESTINA!


Sebuah keterkejutan luar biasa ketika membaca artikel buletin Al-Islam edisi 361 yang dikeluarkan secara resmi oleh Hizbut Tahrir Indonesia, tepatnya edisi Jum’at, 29 Juni 2007 yang lalu. Disana tertulis dengan bahasa yang sangat ‘lembut’ menyebutkan bagaimana Hamas bersikap terhadap tindak kejahatan yang dilakukan oleh pasukan Fatah.

Tuduhan-Tuduhan HTI

Pada bagian akhir paragraf ke-9 Al-Islam edisi 361 disebutkan; "… Pertikaian Fatah dengan Hamas sekarang ini juga membuat mereka (penduduk Palestina) berada dalam cengkeraman, karena milisi yang ada di bawah Fatah mengobarkan kekacauan terhadap Hamas di Gaza. Hamas tidak menyelesaikannya dengan bersikap sabar dan membongkar skenario tersebut kepada masyarakat. Hamas justru membalasnya dengan melakukan pembunuhan dan menumpahkan darah sampai menimpa para orang tua, wanita, dan anak-anak, bahkan pepohonan dan batu, dalam sebuah pembantaian yang sangat keji."

Pernyataan ini terasa sangat tendensius dan tidak bersandar kepada fakta lapangan yang nyata-nyata sangat jauh dari statement diatas. Terlebih tuduhan tersebut tidak didukung dengan data-data lapangan yang valid dan terpercaya. Secara umum dunia Islam mengetahui bahwa Hamas sudah menyampaikan peringatan berulang kali, bahkan sangat terbuka mengulurkan tangan untuk berdialog dengan pihak Fatah. Namun seruan dan ajakan tersebut tak ditanggapi presiden Mahmod Abbas, dan juga tidak di gubris pasukan kudeta di bawah Fatah yang terus saja melakukan aksi kejahatan, kekerasan, pembakaran dan bahkan pembunuhan. Dimana dalam aksi-aksinya tidak hanya tokoh dan pendukung Hamas saja yang dibunuh oleh pasukan tersebut, tetapi warga, imam masjid, bahkan simpatisan Fatah sendiri pun ikut menjadi korban dengan dilempar dari atas gedung bertingkat hanya gara-gara berjenggot.

Siapapun memahami bahwa sah (baik dari sisi konstitusi ataupun syari’ah) bagi Hamas sebagai pemerintah yang bertanggung jawab atas keamanan wilayah Palestina baik di Tepi Barat atau pun Jalur Gaza untuk melakukan langkah tegas guna menyelamatkan rakyat Palestina dari rongrongan kelompok bersenjata yang terus-menerus melakukan kejahatan. Karenanya, kalimat "..dan menumpahkan darah sampai menimpa para orang tua, wanita, dan anak-anak, bahkan pepohonan dan batu, dalam sebuah pembantaian yang sangat keji…" adalah sebuah fitnah sangat kotor yang nyata-nyata dilontarkan HTI.

Menghadapi pasukan kudeta bersenjata yang tidak mempan dengan seruan dan himbauan untuk menghentikan kejahatannya, demi menyelamatkan ukhuwah nasional maka hak mendasar bagi pemerintah dan pejuang untuk membela diri dan menumpas pasukan yang berdiri dibelakang agresor Israel. Jika di Indonesia Pemerintah mengerahkan kekuatan senjata untuk ‘menyadarkan’ gerakan separatis yang pernah terjadi di NAD beberapa waktu lalu masyarakat dunia tidak mempermasalahkan, lalu kenapa HTI jadi berang menyikapi keputusan Hamas terhadap sekelompok pasukan kudeta? Sedangkan terbunuhnya pasukan dari dua belah pihak adalah harga yang terpaksa harus dibayar untuk menegakkan yang hak dan menghancurkan yang batil.

Merupakan sebuah keharusan bagi para pejuang Palestina yang ingin membela bangsanya dengan berprinsip tegas sebagaimana yang dilontarkan Batalyon Izzudin Al-Qossam bahwa senapan dan senjata mereka harus tetap ke arah dada-dada penjajah Israel, para pengekor, antek, agen dan mata-mata yang membantu Israel (infopalestina, 03/07/2007).

Fakta pengkhianatan yang dilakukan sekelompok pasukan di bawah Fatah ini sejalan dengan apa yang dilansir oleh Harian Haaretz edisi 06/06 yang menyebutkan bahwa pihak-pihak di gerakan Fatah pergi ke lembaga keamanan Israel meminta diperkenankan kepada gerakan ini untuk memasukkan perlengkapan militer dalam jumlah besar dari salah satu negara tetangga ke Gaza untuk membantu gerakan ini dalam perang melawan Hamas. Lantas apakah namanya selain pengkhianat negara jika sekelompok orang bersenjata meminta bantuan penjajah untuk memerangi pejuang yang hendak memerdekakan negaranya?

Apalagi, paska sterilisasi Istana Kepresidenan dari pasukan kudeta ditemukan bukti-bukti mencengangkan tentang skandal pasukan pengamanan Presiden dengan pemimpin Israel, termasuk skenario pembunuhan tokoh-tokoh Palestina seperti mendiang pemimpin PLO Yasir Arafat dan PM. Ismail Haniya. Salah seorang petinggi Hamas Dr. Khalil Hayyah, Jum’at (22/06) memaparkan dokumen tulisan tangan Muhammad Dahlan saat pertemuan Abbas dengan PM Israel Ehud Olmert. Dokumen ini menyebutkan penyerahkan 2500 pucuk senjata dan 2 juta peluru oleh Israel kepada kelompok Dahlan di Tepi Barat untuk menghadapi gerakan Islam di sana. Penulis tidak tahu, apakah Hizbut Tahrir yang ada di Palestina juga menjadi sasaran tembak pembelot-pembelot di tubuh Fatah ini. Jika tidak, kenapa bisa??

Bukti hubungan mesra pasukan kudeta dengan penjajah Israel juga tergambar dari apa yang disampaikan Perdana menteri Israel, Ehud Olmert, dalam sidang parlemen bidang keamanan luar negeri Israel, Senin (2/7) lalu yang menegaskan bahwa pihaknya menjalin kerja sama bidang keamanan dengan dinas keamanan pimpinan Mahmud Abbas untuk menghadapi kelompok perlawanan di Tepi Barat dan Gaza.

Kemudian pada paragraf ke 10 juga dituliskan; "Sesungguhnya tidak adanya kesadaran politik dalam tubuh Hamas, juga perjalanannya yang tanpa disertai dengan kesadaran politik, itulah yang menyebabkan Hamas terjerumus ke dalam krisis demi krisis; bahkan sampai pada titik di mana mereka harus menumpahkan darah kaum Muslim yang tidak berdosa dengan cara zalim dan penuh permusuhan. Namun, Hamas justru menganggap dirinya melakukan kebaikan, bahkan untuk itu mereka melakukan sujud syukur kepada Allah."

Penulis mengetahui, sejauh ini tokoh-tokoh Hamas yang berada di pejabat pemerintahan bekerja dengan profesional sesuai dengan bidang dan keahliannya. Tidak ada tuduhan-tuduhan miring kecuali dari pihak Israel dan Amerika. Dan mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki catatan permasalahan moral dan kejahatan. Oleh karena itu, landasan macam apa yang membuat HTI mengeluarkan statemen bahwa Hamas tidak memiliki kesadaran politik. Bukankah keterlibatannya dalam pemilu demokratis yang memang dianut konstitusi Palestina adalah salah satu bentuk kesadaran politik? Dan bukankah sikap tegasnya untuk tidak tunduk kepada penjajah Israel sampai Palestina merdeka juga bagian dari bentuk kesadaran politiknya? Penempatan orang-orang yang profesional dalam tubuh kabinet PM. Isma’il Haniya juga bagian dari kesadaran politknya juga?

Ambalat saja yang berupa pulau tak berpenghuni mati-matian Indonesia perjuangkan. Apatah lagi seluruh kawasan Palestina yang tercaplok oleh Yahudi penjajah harus diserahkan tanpa syarat dengan muka manis dan menunduk? Oleh karena itu, siapa saja yang nyata-nyata menjadi antek dan kepanjangan tangan Israel harus diberi ganjaran yang setimpal agar kerusakan yang jauh lebih besar dapat terhindari. Apalagi mereka para anggota pasukan kudeta termasuk golongan orang-orang yang khianat kepada kepentingan nasional dan negara.

Namun demikian, Hamas menunjukkan bukti kearifannya dimana pada hari ‘pembebasan’ Gaza atas kejahatan pasukan muhammad Dahlan, Hamas telah menyampaikan pengampunan umum kepada seluruh anggota pasukan yang terlibat berbagai tindak kejahatan tersebut.

Ditambah pula fakta-fakta lapangan justru berkata sebaliknya dari apa yang dituduhkan HTI kepada Hamas. Namun, "..Hamas justru menganggap dirinya melakukan kebaikan, bahkan untuk itu mereka melakukan sujud syukur kepada Allah…" Sebagaimana yang disampaikan Hamas kepada infopalestina.com (03/07), Hamas mengisyaratkan bahwa pada saat Israel melakukan kejahatan demi kejahatan dengan membunuh, menangkap dan menggeledah, justru milisi bersenjata pimpinan Muhamad Dahlan dari unsur keamanan Palestina merasa bangga melakukan kejahatan terhadap kader-kader dan warga pendukung Hamas. Jika para antek Israel saja bangga melakukan kejahatan dan pembunuhan, maka kenapa HTI ‘gerah’ atas rasa syukur rakyat Palestina yang terlepas dari ancaman pembunuhan dan penyiksaan?

Selain itu, paska penguasaan keamanan Hamas atas Gaza, kehidupan warga berangsur-angsur membaik dan tenang. Bahkan disebut-sebut Gaza pertama kalinya merasakan masa tenang setelah selama puluhan tahun sebelumnya terus dilanda ancaman dan ketakutan. Catatan pembunuhan pun menurun drastis. Dalam sebuah laporan yang ditulis oleh Menteri Hukum Palestina Yusuf Mansi yang diterima Infopalestina hari ini Kamis (05/07), menegaskan, hanya ada tiga kasus pembunuhan selama setengah bulan Juni lalu. Disebutkan, selama bulan Januari 2007 ada 63 kasus pembunuhan, Februari 35 kasus pembunuhan, Maret 19 kasus pembunuhan, April 19 kasus pembunuhan, Mei 46 kasus pembunuhan, Juni 3 kasus pembuhuhan. Tiga kasus pembunuhan terakhir pada saat Hamas menguasai Jalur Gaza itu pun bukan disebabkan kekacauan keamanan.

Dan pada bagian akhir paragraf ke-12 tertulis; "… Sebab, terus-menerus berada di panggung sandiwara Otoritas Palestina (Fatah) dan Pemerintah (Hamas) yang berada di bawah pendudukan yang didirikan di atas tengkorak kaum Muslim yang terpenggal, nyawa kaum Muslim yang dihilangkan, dan darah-darah mereka yang ditumpahkan, terus-menerus berada dalam kondisi seperti ini, sungguh merupakan pengkhianatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang Mukmin"

Kata-kata diatas rasanya ko’ kurang pantas dilontarkan sebuah gerakan Islam yang mengusung jargon syari’ah dan khilafah. Dan lebih sangat dekat kepada kata-kata keji dan finah. Petikan paragraf tersebut sungguh sangat mengganggu benak penulis, karena jika ditelaah dengan fakta-fakta yang diungkap diberbagai media terpercaya tulisan-tulisan tersebut hanya didasarkan kepada sudut pandang yang lemah dan dan jauh dari kejujuran. Disamping itu juga mencerminkan ‘ketidaktahuan’ penulisnya tentang kondisi Palestina yang sesungguhnya. Atau memang sengaja menutup mata? Saya meragukan.

Memahami Kronologi Masa-Masa Sulit di Palestina

Ketegangan situasi di Palestina memang semakin menguat paska penandatanganan Kesepakatan Mekah bulan Februari 2007 lalu. Padahal sebelumnya dunia dan rakyat Palestina menyambut suka cita penandatanganan kesepakatan yang diprakarsai oleh Raja Arab Saudi dan pemerintah Mesir itu, dimana salah satu isi kesepakatannya adalah mengenai pembentukan Pemerintahan Koalisi Nasional. Pemerintahan yang secara proporsional terdiri dari mayoritas kekuatan Hamas dan Fatah bersama dengan faksi-faksi lain yang ada di Palestina. Situasi tersebut terlukis dari kegembiraan rakyat palestina. Sebagaimana di lansir eramuslim.com, disebutkan bahwa warga Ghaza menyambut gembira tercapainya kesepakatan antara Hamas dan Fatah dalam pertemuan Makkah di Arab Saudi. Mereka merayakan kegembiraan itu dengan menyalakan kembang api ke langit kota Ghaza.

"Ghaza belum pernah sebahagia ini selama bertahun-tahun. Gaza hari ini berbeda, Gaza malam ini berbeda," kata Abu Ali Saleh, warga Ghaza berusia 50 tahun, Kamis (8/2) malam. Selain di Ghaza, rakyat Palestina di Tepi Barat juga menyambut gembira kesepakatan Fatah dan Hamas.

"Hari ini kami bahagia melihat para pemimpin kami saling berjabat tangan, bukan saling membunuh satu sama lain," kata Nasri Abu Rajab, 26, warga kota al-Khalil.

Jika kondisi ini terus berlangsung tentu tidak menguntungkan bagi Israel dan Amerika. Oleh karena itu, Israel dan Amerika pun memainkan kartu strategis dengan memanfaatkan pasukan ‘khusus’ yang memang telah lama dibinanya dari pasukan elit pengawal presiden. Pasukan tersebut bergerak dibawah komando Muhamad Dahlan, salah seorang tokoh militer Fatah yang memiliki pengaruh cukup kuat. Pasukan ‘kudeta’ itu melakukan berbagai aksi penangkapan, kekerasan, pembakaran, penembakan, banhkan pembunuhan terhadap warga Palestina yang diduga memiliki hubungan dengan Hamas guna merongrong pemerintahan yang di pimpin PM. Ismail Haniya. Bahkan salah seorang imam Masjid Abbas turut menjadi korban pembunuhan setelah sebelumnya di siksa dan ditembaki dengan sadis.

Di Gaza pasukan pimpinan Dahlan itu meningkatkan ekskalasi kejahatan dengan cara membakar sekolah-sekolah, lembaga sosial, lembaga zakat, yayasan dan kantor-kantor yang mereka anggap punya kaitan dengan Hamas. Penculikan dan pembunuhan semakin meningkat dijalan-jalan Gaza. Warga Gaza sebagai basis pendukung Hamas diliputi ketakutan dan ancaman kejahatan bahkan pembunuhan. Tidak sedikit warga yang diculik dan kemudian dibunuh dengan keji oleh pasukan ‘antek’ Yahudi ini. Terhitung tidak kurang dari 50 kader Hamas yang diculik dan disiksa bahkan dibunuh oleh kelompok pasukan kudeta pimpinan Muhamad Dahlan. Sementara Presiden Abbas diam saja dan membiarkan berbagai tindak kriminal dan pembunuhan yang sudah mengancam keselamatan nasional bangsa Palestina. Tanpa rasa malu sang komandan pasukan Muhamad Dahlan masih bebas berkeliaran di Istana Kepresidenan Mahmud Abbas. Bahkan menurut keterangan beberapa korban yang berhasil diselamatkan, mereka dan beberapa orang lain yang diculik telah disiksa dan ditembaki secara terang-terangan di dalam Istana tersebut.

Menyikapi situasi ini, Hamas pun berulang kali memberikan peringatan kepada pasukan kudeta tersebut agar menghentikan kejahatannya atas rakyat Palestina. Dan dalam sebuah surat panjangnya kepada Presiden Abbas, Ismail Haniya menyerukan peringatan terhadap permasalahan ini. Namun, seruan tersebut tidak digubris. Bahkan di wilayah Gaza kejahatan pasukan kudeta semakin meningkat. Hamas sebagai pemegang pemerintah yang bertanggung jawab terhadap keamanan dan keselamatan rakyat Palestina mengancam menggunakan tindakan tegas jika kelompok Muhamad Dahlan tidak menghentikan tindakan brutalnya.

Ancaman tersebut akhirnya benar-benar dibuktikan oleh Hamas mengingat pasukan pembunuh tetap tidak bergeming dengan kejahatannya. Pos-pos kemananan yang diduduki pasukan kudeta Fatah berhasil dikuasai Hamas satu per satu. Dalam waktu hanya beberapa hari, melalui pertempuran sengit seluruh pos keamanan akhirnya dapat dikuasai oleh Hamas, bahkan Istana Kepresidenan yang dijadikan sarang pemimpin pasukan kudeta pun turut diamankan. Dan Gaza pun berhasil dikuasai sepenuhnya. Hari itu juga Hamas mengumumkan penguasaan kondisi kemananan wilayah Gaza, menjamin keamanan warganya dan menyampaikan pengampunan kepada anggota pasukan kudeta yang mau insyaf. Gaza berangsur-angsur pulih dan tenang.

Jadi sangat keliru jika HTI menyebutkan pemerintahan Hamas "…didirikan di atas tengkorak kaum Muslim yang terpenggal, nyawa kaum Muslim yang dihilangkan, dan darah-darah mereka yang ditumpahkan, terus-menerus berada dalam kondisi seperti ini, sungguh merupakan pengkhianatan kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang Mukmin".

Nasehat Yang Tegas!

Memandang apa yang kini terjadi dan berlangsung di Palestina haruslah dipandang dengan cermat dan tidak gegabah. Mengambil kesimpulan tanpa didasari pengetahuan yang luas dan kejujuran adalah sebuah tindakan ceroboh yang dapat menjerumuskan seseorang dalam kubangan fitnah dan laknat.

Sekali lagi, seharusnya HTI tidak ceroboh mengumbar statement resminya yang kurang pantas. Apalagi jika beraroma fitnah dan kata-kata keji. Karena Rasulullah saw. bersabda: "Bukanlah seorang mukmin jika suka mencela, melaknat dan berkata-kata keji." (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)

Tulisan ini tidak penulis buat untuk membela siapa dan memusuhi siapa. Tidak untuk mendukung Hamas apalagi menyalahkan Fatah, karena sesungguhnya persoalan yang ada di Palestina adalah karena adanya sekelompok pasukan bersenjata ’sempalan’ Fatah yang memerangi dan berusaha mengkudeta pemerintahan Hamas yang terpilih secara demokratis. Nasehat ini lebih sebagai peringatan kepada seluruh organisasi-organisasi Islam di Indonesia dan seluruh dunia untuk tidak ceroboh melemparkan fitnah dan kekejian kepada saudara kita sendiri. Sebab kita memiliki tanggung jawab sebagai pemersatu, menjaga ukhuwah, dan turut memberi andil untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan umat Islam. Bukan malah mengaduk-aduk dan memperkeruhnya.

Oleh karena itu, sebagai bentuk tanggung jawab iman, penulis menyerukan nasihat kepada Hizbut Tahrir Indonesia agar lebih hati-hati dalam mengeluarkan issu-issu sensitif dan lebih bening dalam melihat permasalahan dunia Islam. Terlebih sebagai sebuah organisasi Islam yang meneriakkan jargon syari’ah dan khilafah, alangkah baiknya apabila HTI dapat hadir ditengah-tengah umat dengan bahasa yang lembut dan lebih berakhlak. Jangan sampai Islam kembali tercoreng gara-gara ulah segelintir orang Islam yang kalap dan latah.

 

July 13, 2007

Memaknai Kemerdekaan

Filed under: NASEHAT

MERDEKA DARI PENGHAMBAAN KEPADA THAGHUT

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain." (Al-Ma’idah: 20)

Kemerdekaan adalah karunia dan nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, nikmat kemerdekaan harus terus disyukuri dan dimaknai lebih dalam dari hanya sekedar peringatan ceremonial belaka. Bukan lantaran ia dicapai dengan pengorbanan harta, jiwa dan raga saja, namun karena kesadaran kita juga bahwa kemerdekaan itu tak akan mungkin tercapai tanpa campur tangan dan karunia Allah Dzat yang Maha Kuasa.

Hal ini dipahami benar oleh paru guru dan pahlawan pendahulu kita hingga kesadaran iman itu pun termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi ” ..atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa…”. Sebuah warisan kejujuran yang harus direnungi secara mendalam oleh generasi penerus di masa kini dan masa yang akan datang. Bahkan sebagaimana ayat 29 surat Al-Ma’idah di atas, Allah benar-benar mempertegas dalam firman-Nya bahwa kemerdekaan adalah pemberian-Nya. Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam Indonesia harus mensyukurinya dengan penuh tawadhu dan rendah hati.

Apabila pada masa-masa jahiliyah dan zaman kolonialisme wujud penjajahan yang menimpa umat adalah berupa penindasan fisik dan ancaman senjata, maka pada era kemerdekaan ini ‘musuh’ umat Islam menjelma dalam bentuk lain yang lebih ‘laten’ dan tidak kalah berbahaya. Peperangan yang mencuat adalah peperangan aqidah kaum muslimin dengan musuh-musuh yang beragam dan selalu memperbaharui diri.

Harta, kekuasaan, jabatan, uang, kesenangan, kemewahan, fasilitas hidup, mode, mistik, jimat, perdukunan, ramalan bintang, perjudian online, narkoba, seks bebas, dan tayangan-tayangan media yang menyesatkan dewasa ini sudah menjadi sosok-sosok monster yang merongrong aqidah kaum muslimin. Taghut tidaklah semata-mata dipahami sebagai sesosok berhala dan patung yang disembah dan dikeramatkan sebagimana dikenal pada masa-masa awal turunnya Islam. Namun pada hakikatnya, thaghut dapat berbentuk apa saja yang membuat hati dan pikiran manusia merasa condong dan memuliakannya, bahkan mencintainya melebihi cintanya kepada Allah SWT.

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cintanya kepada Allah…” (Al Baqarah : 165)

Persoalan ini tentu tidak bisa dianggap enteng, sebab perkara-perkara tersebut diatas bukanlah fakta yang dibuat-buat. Namun sebuah realitas masyarakat yang sungguh sangat memprihatinkan. Apalagi serangan aqidah itu sudah secara langsung memasuki rumah-rumah melalui media televisi kita tanpa ada sedikitpun benteng yang mampu menahannya.

Kita bisa melihat bagaimana sesungguhnya pertelevisian kita sudah tidak lagi berpihak kepada umat dalam membentengi aqidahnya. Kekuasaan dan harta dijadikan komoditas yang memicu perseteruan, kemewahan di ‘dewa’ kan, ramalan di perdagangkan dengan vulgar dan tanpa malu-malu. Kemaksiatan dipertontonkan dengan kebanggaan. Dan banyak hal lain yang kesemuanya semakin hari semakin mengikis aqidah dan iman kaum muslimin.

Itu semua lantaran manusia telah menjadikan karunia dan pemberian-pemberian Allah sebagai sosok taghut yang mereka ’sembah’ dan bangga-banggakan. Oleh karena itu, kaum muslimin harus sadar dan segera bangun dari keterpurukan aqidah. Jangan sampai kita terjerembab dalam kedangkalan iman dan kedustaan aqidah, sebagaimana Allah peringatkan didalam firman-Nya:

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (An-Nahl: 36)

Persoalan aqidah umat ini sudah memasuki kondisi kritis dan merisaukan. Dan harus ada tindakan konkrit untuk menyelamatkan masyarakat dari bahaya laten yang menggerogoti keimanan kaum muslimin. Generasi muda Islam harus menjadi garda terdepan dalam membentengi umat dari keruntuhan iman.
 

July 9, 2007

Selamat Jalan Mujahidah

Filed under: DARI HATI

SELAMAT JALAN MUJAHIDAH: ALLAH TELAH MEMILIH KALIAN

Turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas syahidnya ukhti Mia Eka Putri dan ukhti Evi Alvia yang telah kembali ke sisi Allah SWT dalam musibah kecelakaan 8 Juli 2007 yang menimpa ikhwan & akhwat pada acara Dauroh Pelajar DP2 Kota Tangerang.

Semoga Allah menerima segala amal sholih keduanya, mengampuni semua salah dan khilafnya, serta menempatkan keduanya di tempat terbaik di syurga-Nya yang penuh nikmat dan suka cita. Untuk keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan, ketegaran, dan keikhlasan atas kepergian mereka berdua. Insya Allah ridhonya kita akan menjadi jalan kemudahan bagi keduanya sampai di taman yang diimpikan setiap orang beriman.

Bagi ikhwan dan akhwat korban musibah yang Allah selamatkan, semoga diberikan kekuatan iman, kesejukan hati, keikhlasan, dan kesabaran. Mudah-mudahan Allah segera menyembuhakan sakit dan luka kalian. Dan yakinlah bahwa ".. segores luka dijalan Allah, kan menjadi saksi pengorbanan" dihadapan Allah yang Maha Penyayang. Untuk kalian para mujahid da’wah yang tsabat, petikkan nasyid cinta ini dipersembahkan:

Mengarungi samudera kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa tuk berpangku tangan

Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka di jalan Allah
kan menjadi saksi pengorbanan

Allahu ghoyyatuna, Ar-rosul qudwatuna
Al-qur’an dusturuna, Al-jihadu sabiluna
Al-mautu fii sabilillah asma amanina

Allah adalah tujuan kami, Rosulullah tauladan kami
Al-qur’an pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi

(nasyid shoutul harokah: "Bingkai Kehidupan")

Musibah ini adalah takdir Allah yang telah digariskan. Semoga kita semua sabar dan dapat mengambil pelajaran berharga darinya. Namun, jangan pernah berhenti untuk terus melangkah, apalagi hanya karena musibah kematian ini. Sebab, seandainya kita bersembunyi di lubang semut pun, jika telah tiba masanya, maka kematian pasti akan datang menjemput.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan (Al-Ankabut: 57)

Kematian hanya peringatan bagi setiap yang bernyawa, bahwa umur yang Allah berikan buat kita sedemikian sempit. Karenanya, teruslah bekerja dan beramal dengan sungguh-sungguh untuk bekal menuju sang Pencipta. Sebab kita lebih cinta mati di jalan Allah, ketimbang meregang nyawa di atas ranjang yang mewah. "Selamat jalan mujahidah.., sungguh Allah telah memilih kalian.." Semoga kelak Allah mengumpulkan kita semua di syurga-Nya. Amiin.

 

July 4, 2007

Ayo Mukhoyyam

Filed under: NASEHAT

NGGA’ IKUT MUKHOYYAM KO’ BANGGA..?

 
Mukhoyyam adalah bagian yang tak terpisahkan dari kewajiban dan tuntutan tarbawi setiap kader dakwah. Tidak perduli tua atau muda, senior atau pun pemula. Dan mukhoyyam pun harus ditunaikan baik dalam kondisi lapang maupun sempit, dalam kondisi rizki melimpah ataupun seret. Sebab, mestinya setiap kader dakwah sudah jauh-jauh hari menyiapkan waktu dan maal untuk menyongsong event serius ini.

Urgensi mukhoyyam tidak lebih longgar dari kehadiran kader dalam TRP pekanan. Juga tidak lebih ringan dari menjalankan amanah struktural. Karena ia adalah bagian dari manhaj tarbiyah yang kita yakini kemuliaannya.Tantangan berat yang semakin beragam didepan mata, seharusnya mendorong para aktivis da’wah untuk memanfaatkan sarana mukhoyyam sebagai kesempatan emas untuk menge-charge kembali spirit dan kebugaran fikroh yang lambat laun mengendur seiring perjalanan waktu. Dengan sedikit kesulitan dan ujian dalam kegiatan mukhoyyam diharapkan agar setiap kader bisa menapak tilasi, merenungi dan bertafakur bahwa perjalanan da’wah dalam tataran implementasi jauh lebih sulit dan kompleks. Karenanya dibutuhkan kader-kader yang kuat secara fisik dan mental, kader yang cerdas dan mampu bertahan dalam kondisi sesulit apapun, dan kader yang mampu memikul beban amanah untuk memenangkan da’wah ini. Sehingga agama semata-mata hanya milik Allah SWT.

Ada beberapa hal yang harus dipahami setiap kader dakwah bahwa kewajiban mukhoyyam memiliki makna penting dalam amal jama’i, yaitu:

Membangun Kekuatan Ukhuwwah (Qowwiyul ukhuwwah)

Mukhoyyam akan menguatkan ukhuwah, karena disini para kader da’wah akan menjalani proses pengenalan (taaruf) dalam wujud yang lebih nyata. Saling bisa mengenali kelebihan dan kekurangan saudaranya untuk kemudian muncul perasaan saling memahami (tafahum) dan berlapang dada. Sehingga dengan itu setiap kader semakin menyadari pentingnya amal jama’i, saling melengkapi, dan ber-takaful (saling menanggung) dalam amal-amal da’wah.

Membangun Kekuatan Keberanian (Qowwiyul Saja’ah)

Tantangan da’wah hari ini memiliki jenis yang jauh lebih kompleks dan beragam daripada masa-masa sebelumnya. Tidak hanya ancaman dan rongrongan dalam bentuk pemikiran saja, namun juga berupa opini, teror, ancaman fisik dan lain-lain. Perlu kesiapan memadai untuk bisa menanggulangi dan mencari jalan keluar.

Performance kader dalam rutinitas TRP sangat tidak mampu menunjukkan kebutuhan ini. Apalagi dalam perkembangannya tidak sedikit TRP yang mengalami pasang surut dalam frekuensi kuantitas dan kualitasnya. Sehingga potensi keberanian yang dimiliki setiap kader kurang terasah dan terlatih untuk merespon tantangan dan ancaman terhadap da’wah ini. Meskipun keberanian tidak hanya terukur dari hitungan pengendalian emosi dan fisik semata. Mukhoyyam adalah media yang cukup tepat untuk ‘menajamkan’ potensi yang satu ini.

Membangun Kekuatan Kedisiplinan (Qowiyyul Dzawabit)

Maraknya bangku kosong di awal acara yang sering mewarnai program-program da’wah yang selama ini diselenggarakan akan terus menjadi ‘budaya’ yang mengakar jika kedisiplinan kader semakin lama semakin tidak teruji. Apabila untuk sekedar hadir saja tidak bisa disiplin dan tepat waktu, lalu bagaimana jika seorang kader diberikan kepercayaan untuk mengelola amanah? Analogi yang fair. Jika urusan sepele saja tidak mampu, maka untuk tanggung jawab yang jauh lebih besar pasti akan berantakan dan jauh dari sukses dan keberkahan. Da’wah ini akan sangsi untuk memikulkan amanah kepada kader-kadernya yang lemah disiplin. Padahal kita-kita juga sebagai kader-kader da’wah yang menjadi batu bata penopang bangunan ini. Jika kita tidak layak memikul amanah karena lemahnya disiplin kita, lantas apakah da’wah ini harus memberikan kepada orang lain?

Membangun Kekuatan Daya Responsibilitas

Tidak bisa dipungkiri bahwa terbengkalainya kerja-kerja da’wah di berbagai tempat banyak disebabkan semakin payahnya daya responsibilitas kader. Luntur oleh karunia dan kemudahan yang pada hari ini semakin gampang digenggam tangan. Sungguh keliru jika ‘gaya amal’ kita terus menerus seperti ini. Apalagi jika semakin parah?

Tentu kita sering mendapatkan informasi jika saat-saat ini tidak sedikit aktivis da’wah yang urung menunaikan tugas gara-gara terhalang gerimis dan rengekan anak. Atau karena sedikit kemalaman dan ‘jauh’. Padahal sarana kehidupan yang dimiliki kader semakin lengkap mengingat latar belakang mata pencaharian dan ekonomi rata-rata kader cukup baik dan mapan. Tidak kurang kader yang memiliki alat transportasi, motor bahkan mobil. Dan berapa banyak kader yang tidak punya HP dan telepon, sangat sedikit. Namun sayangnya, anugerah dan kesempatan lebih yang Allah berikan kurang dimanfaatkan untuk mendongkraknya dalam amal-amal da’wah.

Bukan perkara siapa yang salah. Namun yang paling jelas bisa dipahami adalah bahwa lemahnya daya responsibilitas kita dalam menyambut seruan kerja da’wah sejauh ini disebabkan semakin luntur dan pudarnya imtimam kita terhadap manhaj. Oleh karena itu, untuk mewujudkan mimpi-mimpi besar kita dalam da’wah, yaitu kemenangan dan kemuliaan di sisi Allah SWT, harus senantiasa dijaga dan dipelihara kualitas ketaatan dan loyalitas kita terhadap manhaj dan jalan dawah. Atau jika diperlukan, harus ada ‘renovasi’ serius untuk mengembalikan fikroh dan kesadaran kader kepada manhaj yang mulia. Karenanya, mukhoyyam menduduki posisi yang strategis untuk memelihara orisinalitas fikroh kader dan terjaminnya keberlangsungan pembenahan umat. Sehingga meninggalkannya bagaikan melepas salah satu pilar bangunan da’wah ini.

Dibagian akhir tulisan ini, penulis menghimbau kepada seluruh kader* Kota Tangerang yang belum mengikuti mukhoyyam sebelumnya di DP masing-masing, agar segera bersiap diri untuk bersama kader lainnya mengikuti Mukhoyyam Dasar II yang akan diselenggarakan pada hari Jum’at - Ahad, 6 - 8 Juli 2007 di Gunung Bunder, Bogor. Dan bagi para muwajih, alangkah indahnya jika Antum memahami dengan lebih baik urgensitas mukoyyam ini, dan mendorong dengan serius para binaannya untuk mengikuti mukoyyam ‘wada’ 2007 ini. Jazakumullah.
 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer