June 21, 2007

Inferiority ADK

Filed under: THULABI

MEMUTUS RANTAI ‘INFERIORITY’ DAKWAH KAMPUS


Sejak beberapa waktu lamanya penulis merasakan kuatnya benih-benih ‘inferiority’ atau keminderan para Aktivis Da’wah Kampus (ADK) di Kota Tangerang. Minder untuk melakukan langkah besar dan ragu untuk membuat prestasi besar. Selama ini penulis sangsi untuk mencoba mengungkap persoalan ini ke tengah-tengah komunitas da’wah ini, khawatir bahwa ‘temuan’ itu hanya sebatas perasaan penulis saja. Namun, ketika salah seorang narasumber pada sebuah acara Tasqif Mahasiswa mengungkap analisa serupa, penulis memberanikan diri untuk menyimpulkan bahwa inferioritas ADK di Kota Tangerang memang benar adanya.

Beberapa bulan yang lalu, penulis pernah melontarkan sebuah ide baru tentang pola sinergi antara Da’wah Kampus dan Da’wah sekolah dalam sebuah forum yang dihadiri oleh kader-kader senior (baca-ustadz). Dimana untuk mencover tingginya kebutuhan SDM mentor dan supervisor di Da’wah Sekolah yang jumlahnya ratusan dengan pelajar puluhan ribu, penulis mengemukakan tentang methode Kampus Satelit. Kampus Satelit ini berfungsi sebagai gudang SDM mentor, pemonitor dinamika, dan sekaligus pembimbing serta pengevaluasi sekolah-sekolah terdekat yang berada di sekitarnya. Sederhananya, optimalisasi SDM kampus untuk mem-back-up da’wah sekolah yang selalu saja kekurangan SDM.

Dengan nada yang serius, salah seorang kader senior tersebut menanggapi usulan penulis tentang Kampus Satelit. Disampaikannya bahwa prediksi tingkat keberhasilan metode tersebut akan sangat disangsikan, karena dianggap bahwa kader dengan background perguruan tinggi dari kampus-kampus yang ada di Kota Tangerang kurang ‘menjual’ dan dianggap tidak cukup ‘capable’. Tidak se’gagah’ kalau kader yang berasal dari mahasiswa atau alumni UI, ITB, UGM, ITS, UNDIP, UNILA, dan seterusnya. Sehingga ‘turba’nya SDM mahasiswa dari kampus-kampus Kampung Cisadane ini tidak akan memberi pengaruh signifikan dalam membangun interesting para pelajar terhadap tarbiyah. Terlebih di sekolah-sekolah negeri dan swasta elit di Kota Tangerang.

Jauh sebelum penulis memasuki lingkaran da’wah di tingkat daerah, sekitar 3,5 tahun yang lalu, tanpa sadar penulis juga pernah memiliki mindset yang sama dengan kader senior diatas, meski dalam kasus yang berbeda. Ketika itu penulis menyodorkan ‘proposal’ kepada murobbi untuk proses penyempurnaan separuh agama, tanpa tendensi yang negatif penulis mengemukakan salah satu syarat ’sekunder’ yang diajukan adalah "Ustadz, kalo bisa akhwat dari kampus Jakarta. Bandung atau Lampung juga tidak apa-apa." Walaupun penulis sendiri berasal dari salah satu kampus lokal kedinasan, dan pada akhirnya penulis mendapatkan seorang bidadari sholihah mahasiswi dari salah satu kampus di Kota Tangerang, alhamdulillah.

Alasan yang menjadi latar belakang munculnya ’syarat tambahan’ tersebut pada waktu itu adalah adanya kesan dalam benak penulis bahwa kader jebolan kampus ‘lokal’ pada umumnya kurang teruji dan kurang haroki, baik dari sisi skill menelurkan gagasan dan program, dari sisi menyikapi issu-issu sosial dan politik, ataupun dari sisi skill survival ketika menghadapi tekanan-tekanan fisik dan mental dari tribulasi dan ujian da’wah kampus. Simpulan ini muncul dalam benak penulis berangkat dari kesan diam dan ‘adem-ayem’nya kampus-kampus di Kota Tangerang dalam aktivitas da’wah sosial dan tarbawi. Apalagi pada saat yang sama, penulis memiliki sebuah amanah lintas kampus kedinasan yang mengharuskannya sering mondar-mandir di banyak kampus ‘besar’ di Jakarta. Sehingga, dari dekat bisa merasakan jauh bedanya geliat da’wah antara Jakarta dan Tangerang. Dan penulis berasumsi bahwa output di lapangan mencerminkan apa yang ada di dalamnya.

Kisah nyata penulis dan komentar spontan kader senior diatas bukan untuk menjustifikasi bahwa ADK-ADK di Kota Tangerang sungguh-sungguh pada fase keterpurukan dan jauh dari kematangan. Namun, untuk menyadarkan bagi semua pihak (termasuk penulis) bahwa ada ‘bahaya laten’ yang harus diwaspadai dan segera ditemukan jalan keluarnya. Karena sedikit pun tidak akan ada imbas kebaikan dalam da’wah ini, jika para pelaku dakwah dan komunitas besar di Kota Tangerang ini masih termakan monster inferioritas, padahal mereka semua sedang mengusung sebuah tata nilai yang unggul lagi mulia.

Langkah pertama untuk mencoba memutus mata rantai ini adalah hendaknya semua pihak jujur terhadap diri sendiri, bahwa selama ini (meski sedikit) banyak diantara kader yang memandang ’sebelah mata’ terhadap kemampuan dan kapabilitas para ADK di Kota Tangerang. Kita mesti mengakui bahwa kader-kader jebolan kampus-kampus besar (mohon maaf) merasa ‘lebih capable dan teruji’ dibandingkan ADK-ADK lokal. Dan ADK-ADK di Kota Tangerang ini harus menyadari bahwa prestasi dan langkah besar tidak hanya monopoli dan milik kampus-kampus besar di luar sana.

Penulis yakin bahwa kejujuran ini mutlak diperlukan untuk mulai merenovasi ‘mindset’ kita tentang brangkas potensi (ADK dan da’wah kampusnya) yang jika diposisikan dengan baik dan benar akan mampu menggebrak dunia dengan prestasi-prestasi besar.
 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer