Ayo Bergerak!
MENYONGSONG PILKADA DKI JAKARTA
Pada Pemilu 2004 yang lalu, banyak yang mengatakan bahwa pemenang Pemilu 2004 sejatinya adalah PKS, bukan Golkar atau pun PDIP, apalagi Demokrat. Kenapa? Karena PKS telah berhasil memenangkan hajatan per 5 tahunan itu di DKI Jakarta.
DKI Jakarta adalah barometer eksistensi dan dan kredibilitas sebuah partai politik. Karena mayoritas pemilih di kota metropolitan ini adalah para pemilih rasional yang menggunakan hak pilihnya atas dasar pemahaman yang baik terhadap proses demokrasi. Mereka memilih dengan latar belakang pendidikan yang memadai, mereka juga memilih bukan atas dasar desakan ekonomi yang membuat akal sehat tidak lagi dominan, bahkan mereka juga memilih atas dasar objektifitas terhadap partai politik yang benar-benar berpihak dan membela kepentingan rakyat.
Kepemimpinan Sutiyoso dalam menahkodai Jakarta bukan harus dikatakan gagal. Kita harus mengakui bahwa dibawah ‘tangan’nya Jakarta mengalami loncatan prestasi yang tidak sedikit. Keberaniannya menelurkan proyek-proyek yang tidak populer seperti Busway dan Banjir Kanal Timur menunjukkan niat baik dan keseriusannya membangun Jakarta. Namun demikian, beberapa persoalan yang sangat meresahkan Ibukota Negara seperti kriminalitas, kemacetan, pendidikan, pengangguran, dan banjir tidak bisa diabaikan begitu saja.
Satu hal yang ingin penulis catat adalah bahwa kepemimpinan Jakarta yang akan berakhir bulan Oktober tahun ini sangat banyak dipengaruhi oleh gaya dan kepemimpinan Sutiyoso. Iya, Sutiyoso sebagai ’single fighter’. Sementara partisipasi dari Fauzi Bowo sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta sangat tidak cukup signifikan jika tidak ingin dianggap tidak ada sama-sekali. Oleh karena itu, sangat aneh apabila ada organisasi massa yang bulat mendukung ‘Foke’ dengan alasan ’sudah berpengalaman’. Pengalaman dalam hal apa? Ini yang patut dipertanyakan.
Menguatnya animo warga Jakarta akan munculnya calon independen tidak bisa di-generalisasi-kan bahwa mayoritas masyarakat Jakarta ingin Gubernur dari orang non partai. Meski tidak menutup mata bahwa issu tersebut juga kental dengan bau amis politik, namun sebagiannya benar-benar memiliki alasan yang bersih dari muatan politis. Mencuatnya paradigma calon independen dalam Pilkada jakarta tahun 2007 ini menggambarkan betapa pesimisnya warga Jakarta terhadap ‘niat baik’ kebanyakan partai untuk benar-benar memperjuangkan nasib konstituennya.
Disamping itu, wacana tersebut juga membuktikan bahwa partai-partai politik yang bercokol di Jakarta masih carut marut dan jauh dari idealita sebuah partai. Politik dagang sapi masih menjadi ’style’ kebanyakan parpol tanpa ada rasa malu dan gundah. Sangat menyedihkan. Apalagi dengan munculnya Koalisi Jakarta yang rame-rame mengusung Foke-Prijanto, semakin membongkar wajah aslinya yang hanya mementingkan kepentingan elit parpol saja. Takut kalah dan takut tidak dapat ‘jatah’.
Kamis, 7 Juni 2007 ini menjadi sebuah tonggak semangat dan tekad untuk sungguh-sungguh berjuang memenangkan da’wah di Ibukota Negara tercinta. Majunya Adang-Dani pada Pilkada Jakarta yang akan di gelar 8 Agustus nanti, merupakan suatu bentuk komitmen untuk membenahi Ibukota menjadi lebih baik lagi.
Seluruh kader dan simpatisan dituntut bekerja keras untuk memenangkannya agar partai da’wah ini mampu lebih baik lagi dalam membela dan melayani masyarakat DKI. Tidak hanya dari sisi sosial saja, namun akan mampu melayani umat dari banyak sekali sektor kebutuhan masyarakat yang sangat kompleks sekali.
Sebagaimana yang disampaikan oleh ketua DPW PKS DKI Jakarta, Triwicaksana, usai menyerahkan formulir pencalonan Adang-Dani di KPUD DKI Jakarta Kamis malam kemarin, salah satu arti penting kemenangan Pilkada Jakarta adalah tergesernya oligarkhi partai politik yang selama ini hanya bekerja untuk kepentingan elit saja dengan mengabaikan jeritan dan penderitaan masyarakat Jakarta yang semakin membelit.
Genderang ‘perang’ sudah ditabuh. Kemenangan Adang-Dani dan PKS dalam Pilkada Jakarta tidak hanya sebagai kemengan Politik, tetapi lebih jauh lagi sebagai kemenangan moral dan da’wah. Oleh sebab itu, tidak ada lagi alasan untuk malas dan berdiam diri. Rapatkan barisan, optimalkan segenap potensi dan maksimalkan pengorbanan sejauh yang kita mampu.
DKI memang ‘daerah khusus’ sebagaimana kekhususan-nya dalam tanggung jawab para aktivis da’wah. Pilkada DKI tidak hanya menjadi tanggung jawab para kader di Jakarta saja, namun seluruh kader khususnya di wilayah satelit Jakarta seperti Depok, Tangerang, Bekasi, Bogor, Banten, dan Jawa Barat, serta seluruh Indonesia pada umumnya, juga harus ikut andil dalam upaya memenangkannya.
Dengan do’a, kerja keras, ikhtiar dan keyakinan yang mantap, semoga kesuksesan Pemilu 2004 akan berulang di Pilkada DKI Jakarta 2007. Yakinlah, Allah beserta orang-orang yang benar. Dan "innallaha ma’ana", insya Allah.







