October 17, 2006

Bersegera Mengukir Kebaikan

Filed under: PEMIKIRAN

Dunia adalah ladang besar tempat untuk bercocok tanam. Tempat dimana setiap makhluk yang hidup diatasnya berlomba mendapatkan keuntungan dan mengumpulkan bekal dengan menebar benih. Maka apa saja benih yang ditebarkan, hasil yang akan didapatkan tergantung dari jenis benih yang disemaikan. Siapa saja yang menanam benih keburukan, maka keburukan pula yang akan didapatkan. Sebaliknya, siapa yang menanam kebaikan maka yang didapatkannya adalah kebaikan.

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Al-Zalzalah: 7-8)

Jika sebagian manusia ada yang berlomba-lomba mengukir catatan keburukan dengan tinta darah, lalu bagaimana dengan para pendukung kabaikan? Apabila orang-orang yang bekerja untuk kejahatan mereka dapat bersatu padu untuk menegakkan kampium kejahatannya dan bahkan untuk melawan kebaikan, lantas bagaimana orang-orang yang memiliki tanggung jawab besar untuk mengawal kebaikan? Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa "kejahatan yang terorganisir dengan rapi akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir dengan rapi."

Oleh karena itu, sudah sepatutnya orang-orang yang menyeru manusia kepada jalan kebajikan segera menata diri, merapatkan barisan dan menentukan kerja-kerja prioritas untuk segera ditunaikan. Sebagaimana perintah Allah ta’ala dalam surat ash-shaaf ayat 4; Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Tanggung jawab peradaban yang demikian berat tidak mungkin dilakukan dengan kerja da’wah yang setengah-setengah. Akan tetapi membutuhkan kesungguhan dan totalitas baik dalam amal jihadi maupun tadhiyah.

Tidak boleh ada sebagian kader dakwah yang duduk santai sementara sebagian yang lain bercucuran peluh. Tidak patut ada sebagian kader dakwah yang masih saja terbuai mimpi-mimpi, sementara sebagian lainnya sedang berjuang keras di medan dakwah. Adalah ironis ketika masih ada sebagian kader yang sibuk menumpuk-numpuk harta benda, padahal di medan perang banyak saudaranya yang telah mengorbankan darah dan jiwanya. 

Imam Syahid Hasan Al-Banna pernah mengingatkan kepada para kader dengan kalimatnya yang menghujam, " Orang yang bermimpi adalah berbeda dengan orang yang berkata-kata, orang yang hanya bisa berkata saja adalah berbeda dengan orang yang mampu menuangkan perkataannya dalam tulisan. Dan orang yang membuat tulisan-tulisan adalah berbeda dengan orang yang berjihad di medan perang. Dan orang yang berjihad saja adalah berbeda denga mereka yang berjihad dengan penuh pengorbanan."

Karena setiap orang bisa bermimpi, dan kader pun berhak untuk bermimpi. Mimpi tentang kejayaan Islam yang dijanjikan, mimpi tentang kemenganan yang semakin dekat, mimpi tentang kehancuran bangsa-bangsa kafir yang durhaka kepada-Nya. Memang cukup banyak orang mampu mengungkapkannya mimpi-mimpinya dalam perkataan. Tetapi hanya sebagian saja yang mampu manuangkannya dalam bentuk tulisan. Dari yang sebagian itu hanya sedikit saja yang mau berjihad fi sabilillah. Akan tetapi orang-orang yang benar jihadnya, lurus niatnya dan sungguh-sungguh pengorbanannya hanyalah sebagian kecil saja dari bagian yang kecil.

Maka beruntunglah bagi siapa saja yang mampu mencapai tingkat terakhir dalam melaksanakan amal-amal dakwah di atas. Dan sesungguhnya menjadi hak setiap kita untuk menjadi jundi-jundi produktif yang senantiasa bersungguh sungguh dalam menunaikan tugas-tugas dakwah dengan mengoptimalkan persiapan dan mengasah kemampuan secara terus menerus.

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al-Anfaal: 60)

Demikian jelas firman-firman Allah SWT. mengingatkan kepada kita agar mengoptimalkan kerja-kerja dakwah dengan segenap kemampuan, tenaga, dan harta yang kita miliki. Tentu dengan keikhlasan dan keimanan yang menjadi energi kita, agar tidak berguguran di jalan dakwah.

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (At-Taubah: 105)

Dan tanggungan Allah-lah yang akan memberikan hidayah dan kemenangan: "Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." (An-Nahl:82).

Perjalanan Penuh Arti

Filed under: DARI HATI

Aku dilahirkan 26 tahun lalu, tepatnya 29 September 1980, di kota kecil yang terkenal dengan makanan khas ‘Nasi Grombyang’. Kota yang dipagari Gunung Slamet di bagian selatan dan pantai Laut Jawa di sebelah utara, yang merupakan bagian dari Propinsi Jawa Tengah. Kicau burung dan bentangan sawah yang luas begitu kental mewarnai setiap sudut-sudut kota dan pedesaaan. Subhanallah, aku jadi selalu merindukan kampung halamanku.

Puji syukur hanya untuk Allah yang berkenan memberiku sebagaian nikmat kecerdasan, hingga di masa perjalanan mengenyam jenjang pendidikan dasar, prestasi ranking 1 tidak pernah lepas dari genggaman. Bapak dan Ibu guru, kalian adalah para pahlawan yang telah membimbingku penuh kesabaran. Serta kawan-kawan masa kecilku, kalian adalah orang-orang yang banyak memberi pelajaran persahabatan dalam mengarungi perjalanan hidup ini. Aku tak mungkin melupakan kalian.

Kenangan Bersama Ayah

Tidak bisa kupungkiri, waktu itu adalah masa-masa sulitku menghadapi takdir kehidupan. Ketika Juni 1989 Allah SWT. berkenan memanggil ayahanda ke haribaan-Nya. Usiaku belum genap 9 tahun. Dan raport kenaikan kelasku belum sempat ayah tanda tangani.

Ayah, engkau adalah guru terbaikku. Yang mengajarkan tentang cinta dan kasih sayang, tentang kesabaran dan kelembutan, tentang kesederhanaan dan kepedulian, tentang tanggung jawab dan keberanian, tentang ketegaran dan pengorbanan. Ayah, engkau telah membimbingku mempelajari tentang hidup dan kehidupan.

Betapa aku masih ingat, saat di suatu malam engkau mengajakku bersama kakak bermalam ditengah-tengah persawahan yang begitu gelap. Di sebuah gubuk kecil, ditemani suara jangkrik dan radio kecil, aku dan kakak menyertaimu menjaga tumpukan kedelai hasil panen kita tadi siang. Kulihat dilangit sana berhiaskan taburan kerlip bintang yang begitu indah. Ayah, aku merasakan kedamaian.  

Dan aku pun ingat, detik-detik terakhir saat perpisahan denganmu. Kulihat jasadmu terbujur kaku, tak menyapaku. Sayangnya, waktu itu aku masih terlalu kecil untuk memahami apa arti kematian. Aku hanya mampu merenung kosong tanpa pemahaman. Terbersit dalam benakku, satu saat nanti… Ayah pasti kembali lagi.

Hari pun berlalu satu demi satu, dan akhirnya harus ku pahami bahwa ayah tak mungkin kembali lagi. Ayah, selamat jalan ayah. Semoga Allah SWT menerimamu dalam naungan ampunan dan kasih sayang-Nya, sebagaimana ketulusan cinta dan kasihmu pada Ibu, kakak, dan aku.

Wanita yang Tegar

Aku memahami adaptasi yang tidak begitu mudah bagimu, Ibu. Karena dulu, ketika ayah masih ada di antara kita, engkau hanyalah seorang ibu rumah tangga. Tapi sejak saat itu, dirimu harus menjadi seorang ibu sekaligus kepala rumah tangga. Mencari nafkah untuk bertahan hidup.

Sejak kepergian ayah, dirimu adalah orang yang paling dekat denganku.  Apalagi kakak kemudian tinggal bersama saudara agar bisa tetap melanjutkan sekolah. Ibu, engkau adalah wanita tegar yang pantang putus asa, meski sedih dan berat. Aku bisa merasakan ketika butir air mata sering membasahi kelopak matamu. Dan aku pun merasakan ketika kulitmu kian berkerut dan lapuk terbakar sinar matahari. Aku sangat merasakan spirit yang terus bergelora dalam dirimu, untuk tidak menyerah melewati masa-masa sulit.

Ibu, aku senang dan aku bangga. Kala tubuh mungilku waktu itu bisa membantumu mencari penghasilan. Ketika pagi-pagi buta aku mesti menyertaimu merawat dan menyiangi tanaman sayur-mayur kita.  Menyirami dan menaburinya pupuk, menjaganya dan memeliharanya. Setiap pagi dan sore hari kaki kecilku mengayuh sepeda tua untuk menemani atau menyusulmu menyambangi lahan-lahan sayuran.

Hingga masa petik tiba, aku pun bersamamu membantu mengumpulkan ikatan-ikatan sayuran. Membersihkan dan mengemasnya. Tidak jarang aku juga turut mengangkutnya ke pasar untuk segera dijual dalam keadaan segar.

Ibu, aku bangga dan bahagia bisa membantumu meski waktu belajar dan bermainku jadi tidak banyak, toh aku juga masih bisa sempat bermain. Tapi insya Allah aku ikhlas. Ibu, engkau adalah orang yang paling aku cintai melebihi segalanya.

Ibu, aku juga masih ingat. Ketika akhirnya, ibu harus menentukan pilihan untuk merantau ke Ibukota Negara. Engkau memelukku erat dengan deraian air mata. Sedih rasanya, keluarga yang hanya 3 nyawa tidak pernah tinggal serumah sejak kepergian ayah.

Tekadmu yang kuat agar aku dan kakak tetap sekolah, meski harus tinggal terpisah jarak yang jauh, membuat dirimu tak lagi memperdulikan kulitmu yang mulai berkerut dan tenagamu yang kian melemah. Semoga Allah meridhoi ikhtiar dan perjuanganmu.

Dan do’a-do’a panjangmu di sepertiga malam terakhir adalah penguat kesabaran, energi harapan, dan sebab-sebab kehendak Allah memberikan kita ‘kemenangan’. Dan kini Allah telah mengabulkan diantara do’a-do’a kita.

Ibu, kini aku menyadari hikmah besar dari peristiwa-peristiwa yang Allah ujikan kepada kita. Cita-cita dan misi hidup yang kuat telah mengantarkan kita kepada keberhasilan melewati masa-masa sulit itu.

Bunda… terima kasih.

Semoga Allah Yang Maha Penyayang tiada henti membimbing dan menaungi kita. Amiin.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer