Bersegera Mengukir Kebaikan
Dunia adalah ladang besar tempat untuk bercocok tanam. Tempat dimana setiap makhluk yang hidup diatasnya berlomba mendapatkan keuntungan dan mengumpulkan bekal dengan menebar benih. Maka apa saja benih yang ditebarkan, hasil yang akan didapatkan tergantung dari jenis benih yang disemaikan. Siapa saja yang menanam benih keburukan, maka keburukan pula yang akan didapatkan. Sebaliknya, siapa yang menanam kebaikan maka yang didapatkannya adalah kebaikan.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (Al-Zalzalah: 7-8)
Jika sebagian manusia ada yang berlomba-lomba mengukir catatan keburukan dengan tinta darah, lalu bagaimana dengan para pendukung kabaikan? Apabila orang-orang yang bekerja untuk kejahatan mereka dapat bersatu padu untuk menegakkan kampium kejahatannya dan bahkan untuk melawan kebaikan, lantas bagaimana orang-orang yang memiliki tanggung jawab besar untuk mengawal kebaikan? Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa "kejahatan yang terorganisir dengan rapi akan mampu mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir dengan rapi."
Oleh karena itu, sudah sepatutnya orang-orang yang menyeru manusia kepada jalan kebajikan segera menata diri, merapatkan barisan dan menentukan kerja-kerja prioritas untuk segera ditunaikan. Sebagaimana perintah Allah ta’ala dalam surat ash-shaaf ayat 4; Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
Tanggung jawab peradaban yang demikian berat tidak mungkin dilakukan dengan kerja da’wah yang setengah-setengah. Akan tetapi membutuhkan kesungguhan dan totalitas baik dalam amal jihadi maupun tadhiyah.
Tidak boleh ada sebagian kader dakwah yang duduk santai sementara sebagian yang lain bercucuran peluh. Tidak patut ada sebagian kader dakwah yang masih saja terbuai mimpi-mimpi, sementara sebagian lainnya sedang berjuang keras di medan dakwah. Adalah ironis ketika masih ada sebagian kader yang sibuk menumpuk-numpuk harta benda, padahal di medan perang banyak saudaranya yang telah mengorbankan darah dan jiwanya.
Imam Syahid Hasan Al-Banna pernah mengingatkan kepada para kader dengan kalimatnya yang menghujam, " Orang yang bermimpi adalah berbeda dengan orang yang berkata-kata, orang yang hanya bisa berkata saja adalah berbeda dengan orang yang mampu menuangkan perkataannya dalam tulisan. Dan orang yang membuat tulisan-tulisan adalah berbeda dengan orang yang berjihad di medan perang. Dan orang yang berjihad saja adalah berbeda denga mereka yang berjihad dengan penuh pengorbanan."
Karena setiap orang bisa bermimpi, dan kader pun berhak untuk bermimpi. Mimpi tentang kejayaan Islam yang dijanjikan, mimpi tentang kemenganan yang semakin dekat, mimpi tentang kehancuran bangsa-bangsa kafir yang durhaka kepada-Nya. Memang cukup banyak orang mampu mengungkapkannya mimpi-mimpinya dalam perkataan. Tetapi hanya sebagian saja yang mampu manuangkannya dalam bentuk tulisan. Dari yang sebagian itu hanya sedikit saja yang mau berjihad fi sabilillah. Akan tetapi orang-orang yang benar jihadnya, lurus niatnya dan sungguh-sungguh pengorbanannya hanyalah sebagian kecil saja dari bagian yang kecil.
Maka beruntunglah bagi siapa saja yang mampu mencapai tingkat terakhir dalam melaksanakan amal-amal dakwah di atas. Dan sesungguhnya menjadi hak setiap kita untuk menjadi jundi-jundi produktif yang senantiasa bersungguh sungguh dalam menunaikan tugas-tugas dakwah dengan mengoptimalkan persiapan dan mengasah kemampuan secara terus menerus.
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al-Anfaal: 60)
Demikian jelas firman-firman Allah SWT. mengingatkan kepada kita agar mengoptimalkan kerja-kerja dakwah dengan segenap kemampuan, tenaga, dan harta yang kita miliki. Tentu dengan keikhlasan dan keimanan yang menjadi energi kita, agar tidak berguguran di jalan dakwah.
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (At-Taubah: 105)
Dan tanggungan Allah-lah yang akan memberikan hidayah dan kemenangan: "Jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." (An-Nahl:82).







