Harga Kader
MAHALNYA HARGA SEORANG KADER DA’WAH
Harga seorang kader da’wah, adalah lebih besar nilainya jika dibandingkan dengan harta dunia beserta segala macam isinya. Harta mungkin bisa merubah wajah peradaban dari satu warna ke warna yang lain. Namun, harta hanya mampu sebatas merubah bangunan-bangunan fisik yang mengiringi pergantian peradaban dari waktu ke waktu. Harta benda tidak mampu membentuk apa yang dimaksud dengan ruh dan jiwa peradaban. Bahkan sebaliknya, jika tidak diposisikan sebagaimana fungsinya harta benda hanya akan menjadi batu ujian sebuah peradaban.
Peradaban kekinian dunia Barat, terlebih peradaban Amerika Serikat, telah menjadi contoh dan bukti yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi ini. Ketika kekuatan materialisme telah menguasai pemikiran para pembuat kebijakan di sebuah negeri, maka kerusakan demi kerusakan akan menjadi bom waktu yang siap melumat kecongkakan peradaban. Amerika boleh berbangga dengan ke-adidaya-an mereka kepada penduduk dunia saat ini. Akan tetapi tidak ada yang menjamin bahwa hegemoni Amerika atas penduduk dunia mampu bertahan lama sebagaimana kehancuran Uni Soviet beberapa tahun lalu.
Keperkasaan Amerika dalam sektor ekonomi tidaklah menjamin kekuatan inner-quality yang dimiliki bangsanya. Bahkan tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini negara Amerika dan negara-negara Barat yang begitu mengagungkan paham liberalisme, materialisme dan kapitalismenya sedang menghadapi krisis ‘ruh’ yang begitu hebat. Berbagai perilaku kriminal dan penyimpangan moral yang semakin marak di negara-negara barat adalah satu bukti yang memperkuat simpulan ini.
Benar apa yang di katakan oleh Asy-Syahid Sayyid Qutb dalam salah satu bukunya, bahwa keberhasilan materi yang disandang Amerika di atas isme-isme-nya telah menjadikan Amerika sebagai ‘bengkel besar’ yang tidak memiliki jiwa. Ruh mereka kosong dari nafas keimanan, sehingga mereka bagaikan mayat-mayat yang berjalan di atas muka bumi tanpa tahu kemana tujuan akhirnya. Mereka bagaikan robot yang dikendalikan oleh uang dan waktu sehingga slogan ‘time is money’ menjadi sesuatu yang dipegang erat-erat. Sementara rasa nyaman dan tenang tidak dapat mereka beli meski mereka belanjakan seluruh hartanya, kecuali ketenangan sesaat yang penuh kekhawatiran.
Nafsu imperialisme yang dilancarkan Amerika Serikat dan sekutunya di bawah pemerintahan mr. Bush ke negeri-negeri Islam Afganistan dan Irak adalah salah satu bentuk desain politik bar-bar-nya yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan materi terkait krisis energi yang menghantui negerinya. Dukungan Amerika yang membabi-buta terhadap segala perilaku sadis Israel terhadap bangsa Palestina, jika dikaji lebih mendalam salah satu faktor utamanya juga karena terkait dengan masalah materialisme ekonomi yang dikuasai yahudi amerika. Media dan industri di berbagai bidang di Amerika sudah dikuasai yahudi, bahkan sistem politiknya sudah menjadi barang mainan orang-orang pemuja bintang david. Apa jadinya jika Amerika di’embargo’ orang yahudi? Dapat dipastikan Amerika yang sombong itu akan bangkrut dan hancur. Begitulah peradaban tanpa ruh, rapuh dan tinggal menunggu saat kehancuran.
Sebaliknya, bagaimana peradaban Islam telah menjadi fakta sejarah yang demikian kuat. Kepemimpinan Rasulullah s.a.w yang dilanjutkan khulafaur rosyidin dan penerus-penerusnya telah bertahan hingga 14 abad lamanya. Ini jika dihitung sejak kepemimpinan nabi Muhammad s.a.w hingga keruntuhan kekhalifahan Turki Ustmani. Akan tetapi bila dipandang Islam sebagai sistem yang multidimensi, maka sesungguhnya hingg kini tatanan nilai dan kehidupan Islam sungguh-sungguh eksis dalam berbagai bentuknya. Inilah peradaban Islam yang tak pernah lekang dimakan zaman.
Kebanyakan para sahabat Rasulullah adalah kader-kader da’wah yang masih muda dan enerjik. Mereka adalah para asabikunal awwalun yang ikhlas dan tertambat hatinya merindukan syurga. Mereka adalah sosok yang menjadikan dunia hanya tempat persinggahan, dan menjadikan harta cukup sebagai sarana bertahan hidup dan menegakkan panji Islam. Dari mereka lah Islam merambah diseluruh penjuru dunia. Sahabat dan orang-orang sholih setelahnya adalah kader-kader terbaik yang pernah ada dimuka bumi. Dan mereka pasti akan selalu muncul di setiap masanya. Begitu pula pemuda-pemuda Palestina kini, mereka adalah gambaran para kader tangguh yang tak gentar menghadapi berbagai intimidasi dan penganiayaan, penculikan maupun pembunuhan. Kesabaran telah mengantarkan mereka kepada pucuk pemerintahan ketika HAMAS menjadi tumpuan rakyat Palestina untuk merdeka dari jajahan Israel la’natullah.
Hingga saat dunia meng-embargo pun, pemerintahan Hamas tetap tegar dan bertahan dalam pilar keimanannya. Sekali-kali mereka tidak mengakui eksistensi Israel penjajah, apa pun resikonya. Bahkan keteguhan iman yang membakar jiwa-jiwa mereka membulatkan tekad untuk meneruskan apa yang mereka sebut sebagai ‘Reformasi dan Perlawanan’. Prinsip ini menjadi pegangan yang kuat bagi para kader da’wah di bumi ‘yang diberkahi’ itu.
Sepotong surat berikut ini, yang dikirim bersama beberapa gram perhiasan emas oleh seorang muslimah kepada pemerintah yang dipimpin Hamas menggambarkan sikap mendalam yang dimiliki kader da’wah di seluruh Palestina.
“Saudara-saudaraku para pejabat pemerintah yang terhormat… Aku tidak tahu apa yang harus aku tulis kepada kalian. Aku orang yang lemah dalam mengungkap perasaan. Tapi aku demi Allah sangat merasakan kebanggaan dan penghormatan saat melihat dan mendengar kalian. Aku begitu gembira dan bangga ketika melihat kekokohan kalian menghadapi tekanan demi tekanan yang mendera. Tapi aku katakan kepada kalian: Janganlah lemah dan janganlah bersedih, karena sesungguhnya Allah bersama kalian, dan kami juga bersama kalian, rakyat bersama kalian, semua rakyat akan menjadi penopang dan bantuan bagi kalian. Kami insya Allah tidak akan menjadi sebab kalian menyerah, dalam hal apapun.
Kami tidak meminta kalian apapun kecuali, komitmen yang kokoh. Demi Allah, peganglah prinsip kalian. Berdirilah di atas prinsip kalian. Kuatkanlah pegangan kalian terhadap agama kalian…Demi Allah, kami takkan melupakan kalian dalam do’a-do’a kami. Kami mengerti betapa beratnya beban tanggung jawab yang kalian pikul. Tapi kami juga yakin, pada saat yang sama bahwa kalian mampu memikulnya hingga tiba di tepi yang aman….”.
"Aku berharap kalian menerima pemberian kecil ini. Inilah yang mampu aku berikan. Demi Allah aku berharap bila aku memiliki semua harta di dunia ini akan aku berikan juga kepada kalian. Tapi inilah yang aku punya…". (Ibnatu Da’wah, puteri da’wah)
Berbicara pejuang Palestina memang tidak sedang berbicara tentang peradaban. Akan tetapi, kita bisa melihat dan menilai betapa sentuhan tarbawi telah membangun pilar-pilar yang kokoh dari pondasi peradaban masa depan yang dinantikan. Kokoh, kuat dan menjulang tinggi diatas keimanan yang teguh. Begitulah kader da’wah, mereka tidak sekedar membangun peradaban. Tetapi mereka juga ruh dan jiwa yang akan terus mengarahkan dunia ini dari masa ke masa. Dan merekalah yang menghitam putihkan atmosfer dunia, disetiap zaman, di setiap masa. Hingga tiba saatnya Allah mendatangkan keputusan-Nya.







