September 15, 2006

Harga Kader

Filed under: PEMIKIRAN

MAHALNYA HARGA SEORANG KADER DA’WAH


Harga seorang kader da’wah, adalah lebih besar nilainya jika dibandingkan dengan harta dunia beserta segala macam isinya. Harta mungkin bisa merubah wajah peradaban dari satu warna ke warna yang lain. Namun, harta hanya mampu sebatas merubah bangunan-bangunan fisik yang mengiringi pergantian peradaban dari waktu ke waktu. Harta benda tidak mampu membentuk apa yang dimaksud dengan ruh dan jiwa peradaban. Bahkan sebaliknya, jika tidak diposisikan sebagaimana fungsinya harta benda hanya akan menjadi batu ujian sebuah peradaban.

Peradaban kekinian dunia Barat, terlebih peradaban Amerika Serikat, telah menjadi contoh dan bukti yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi ini. Ketika kekuatan materialisme telah menguasai pemikiran para pembuat kebijakan di sebuah negeri, maka kerusakan demi kerusakan akan menjadi bom waktu yang siap melumat kecongkakan peradaban. Amerika boleh berbangga dengan ke-adidaya-an mereka kepada penduduk dunia saat ini. Akan tetapi tidak ada yang menjamin bahwa hegemoni Amerika atas penduduk dunia mampu bertahan lama sebagaimana kehancuran Uni Soviet beberapa tahun lalu.

Keperkasaan Amerika dalam sektor ekonomi tidaklah menjamin kekuatan inner-quality yang dimiliki bangsanya. Bahkan tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini negara Amerika dan negara-negara Barat yang begitu mengagungkan paham liberalisme, materialisme dan kapitalismenya sedang menghadapi krisis ‘ruh’ yang begitu hebat. Berbagai perilaku kriminal dan penyimpangan moral yang semakin marak di negara-negara barat adalah satu bukti yang memperkuat simpulan ini.

Benar apa yang di katakan oleh Asy-Syahid Sayyid Qutb dalam salah satu bukunya, bahwa keberhasilan materi yang disandang Amerika di atas isme-isme-nya telah menjadikan Amerika sebagai ‘bengkel besar’ yang tidak memiliki jiwa. Ruh mereka kosong dari nafas keimanan, sehingga mereka bagaikan mayat-mayat yang berjalan di atas muka bumi tanpa tahu kemana tujuan akhirnya. Mereka bagaikan robot yang dikendalikan oleh uang dan waktu sehingga slogan ‘time is money’ menjadi sesuatu yang dipegang erat-erat. Sementara rasa nyaman dan tenang tidak dapat mereka beli meski mereka belanjakan seluruh hartanya, kecuali ketenangan sesaat yang penuh kekhawatiran.

Nafsu imperialisme yang dilancarkan Amerika Serikat dan sekutunya di bawah pemerintahan mr. Bush ke negeri-negeri Islam Afganistan dan Irak adalah salah satu bentuk desain politik bar-bar-nya yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan materi terkait krisis energi yang menghantui negerinya. Dukungan Amerika yang membabi-buta terhadap segala perilaku sadis Israel terhadap bangsa Palestina, jika dikaji lebih mendalam salah satu faktor utamanya juga karena terkait dengan masalah materialisme ekonomi yang dikuasai yahudi amerika. Media dan industri di berbagai bidang di Amerika sudah dikuasai yahudi, bahkan sistem politiknya sudah menjadi barang mainan orang-orang pemuja bintang david. Apa jadinya jika Amerika di’embargo’ orang yahudi? Dapat dipastikan Amerika yang sombong itu akan bangkrut dan hancur. Begitulah peradaban tanpa ruh, rapuh dan tinggal menunggu saat kehancuran.

Sebaliknya, bagaimana peradaban Islam telah menjadi fakta sejarah yang demikian kuat. Kepemimpinan Rasulullah s.a.w yang dilanjutkan khulafaur rosyidin dan penerus-penerusnya telah bertahan hingga 14 abad lamanya. Ini jika dihitung sejak kepemimpinan nabi Muhammad s.a.w hingga keruntuhan kekhalifahan Turki Ustmani. Akan tetapi bila dipandang Islam sebagai sistem yang multidimensi, maka sesungguhnya hingg kini tatanan nilai dan kehidupan Islam sungguh-sungguh eksis dalam berbagai bentuknya. Inilah peradaban Islam yang tak pernah lekang dimakan zaman.

Kebanyakan para sahabat Rasulullah adalah kader-kader da’wah yang masih muda dan enerjik. Mereka adalah para asabikunal awwalun yang ikhlas dan tertambat hatinya merindukan syurga. Mereka adalah sosok yang menjadikan dunia hanya tempat persinggahan, dan menjadikan harta cukup sebagai sarana bertahan hidup dan menegakkan panji Islam. Dari mereka lah Islam merambah diseluruh penjuru dunia. Sahabat dan orang-orang sholih setelahnya adalah kader-kader terbaik yang pernah ada dimuka bumi. Dan mereka pasti akan selalu muncul di setiap masanya. Begitu pula pemuda-pemuda Palestina kini, mereka adalah gambaran para kader tangguh yang tak gentar menghadapi berbagai intimidasi dan penganiayaan, penculikan maupun pembunuhan. Kesabaran telah mengantarkan mereka kepada pucuk pemerintahan ketika HAMAS menjadi tumpuan rakyat Palestina untuk merdeka dari jajahan Israel la’natullah.

Hingga saat dunia meng-embargo pun, pemerintahan Hamas tetap tegar dan bertahan dalam pilar keimanannya. Sekali-kali mereka tidak mengakui eksistensi Israel penjajah, apa pun resikonya. Bahkan keteguhan iman yang membakar jiwa-jiwa mereka membulatkan tekad untuk meneruskan apa yang mereka sebut sebagai ‘Reformasi dan Perlawanan’. Prinsip ini menjadi pegangan yang kuat bagi para kader da’wah di bumi ‘yang diberkahi’ itu.

Sepotong surat berikut ini, yang dikirim bersama beberapa gram perhiasan emas oleh seorang muslimah kepada pemerintah yang dipimpin Hamas menggambarkan sikap mendalam yang dimiliki kader da’wah di seluruh Palestina.

Saudara-saudaraku para pejabat pemerintah yang terhormat… Aku tidak tahu apa yang harus aku tulis kepada kalian. Aku orang yang lemah dalam mengungkap perasaan. Tapi aku demi Allah sangat merasakan kebanggaan dan penghormatan saat melihat dan mendengar kalian. Aku begitu gembira dan bangga ketika melihat kekokohan kalian menghadapi tekanan demi tekanan yang mendera. Tapi aku katakan kepada kalian: Janganlah lemah dan janganlah bersedih, karena sesungguhnya Allah bersama kalian, dan kami juga bersama kalian, rakyat bersama kalian, semua rakyat akan menjadi penopang dan bantuan bagi kalian. Kami insya Allah tidak akan menjadi sebab kalian menyerah, dalam hal apapun.

Kami tidak meminta kalian apapun kecuali, komitmen yang kokoh. Demi Allah, peganglah prinsip kalian. Berdirilah di atas prinsip kalian. Kuatkanlah pegangan kalian terhadap agama kalian…Demi Allah, kami takkan melupakan kalian dalam do’a-do’a kami. Kami mengerti betapa beratnya beban tanggung jawab yang kalian pikul. Tapi kami juga yakin, pada saat yang sama bahwa kalian mampu memikulnya hingga tiba di tepi yang aman….”.

"Aku berharap kalian menerima pemberian kecil ini. Inilah yang mampu aku berikan. Demi Allah aku berharap bila aku memiliki semua harta di dunia ini akan aku berikan juga kepada kalian. Tapi inilah yang aku punya…". (Ibnatu Da’wah, puteri da’wah)

Berbicara pejuang Palestina memang tidak sedang berbicara tentang peradaban. Akan tetapi, kita bisa melihat dan menilai betapa sentuhan tarbawi telah membangun pilar-pilar yang kokoh dari pondasi peradaban masa depan yang dinantikan. Kokoh, kuat dan menjulang tinggi diatas keimanan yang teguh. Begitulah kader da’wah, mereka tidak sekedar membangun peradaban. Tetapi mereka juga ruh dan jiwa yang akan terus mengarahkan dunia ini dari masa ke masa. Dan merekalah yang menghitam putihkan atmosfer dunia, disetiap zaman, di setiap masa. Hingga tiba saatnya Allah mendatangkan keputusan-Nya.

 

Sejarah Banten

Filed under: SEJARAH

MENGENAL BANTEN LEBIH MENDALAM

“Kejayaan Banten yang pernah menembus dunia internasional harus dijaga dan lebih ditingkatkan dalam perkembangannya. Karya Syeikh Nawawi Al Bantani, sampai sekarang masih menjadi rujukan referensi di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir dan beberapa universitas terkenal di timur tengah. Bahkan Banten pernah memiliki mata uang sendiri yang digunakan untuk berdagang dengan dunia luar. Bahkan orang-orang Barat dari Denmark, Portugis, Belanda bisa hidup berdampingan di Banten. Ini mencerminkan betapa kejayaan Banten demikian maju saat itu,”

“Adanya kesultanan Banten, masjid agung, dan menara adalah simbol nilai-nilai religius yang telah lama tertanam dalam masyarakat Banten,”

Demikian ungkapan Dr. Hidayat Nurwahid, mantan Presiden PKS yang sekarang menjadi ketua MPR, tiga tahun yang lalu dalam seminar “Membangun Kembali Kejayaan Banten” yang digelar oleh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) propinsi Banten, Sabtu (27/9), di Hotel Mahadria, Alun-Alun, Serang.

Banyak yang mesti dikenali lebih mendalam tentang Banten oleh para kader PKS terkait kepentingan partai dakwah ini memenangkan PILKADA Banten akhir 2006. Terlebih jika dilakukan pendataan kader, maka jumlah kader PKS dipropinsi Banten tidak sedikit yang berasal dari daerah diluar Propinsi Banten.
Bahkan, mungkin kader yang merupakan orang perantauan jumlahnya lebih banyak jika dibanding dengan putra daerah yang asli Banten.

Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi setiap kader untuk mengenal Banten lebih dalam, baik tentang; sejarah, budaya, penduduk, penyebaran agama, pendidikan maupun potensi kewilayahan, demi upaya yang optimal untuk memenangkan PILKADA.

Sejarah Banten

Banten sebagaimana nama suatu wilayah sudah dikenal dan diperkenalkan sejak abad ke 14. Mula-mula Banten merupakan pelabuhan yang sangat ramai disinggahi kapal dan dikunjungi pedagang dari berbagai wilayah hingga orang Eropa yang kemudian menjajah bangsa ini. Pada tahun 1330 orang sudah menganal sebuah negara yang saat itu disebut Panten, yang kemudian wilayah ini dikuasai oleh Majapahit di bawah Mahapatih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk.

Pada masa-masa itu Kerajaan Majapahit dan Kerjaan Demak merupakan dua kekuatan terbesar di Nusantara. Tahun 1524 - 1525 para pedagang Islam berdatangan ke Banten dan saat itulah dimulai penyebaran agama Islam di Banten. Sekitar dua abad kemudian berdiri Kadipaten Banten di Surasowan pada 8 Oktober 1526. Pada tahun 1552 - 1570 Maulana Hasanudin Panembahan Surasowan menjadi Sultan Banten pertama.

Kesultanan Banten

Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524-1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak menaklukkan penguasa lokal di Banten, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak.

Anak dari Sunan Gunung Jati (Hasanudin) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara.

Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama.

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat.

Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa lahir tahun 1631, adalah putra Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad yang menjadi Sultan Banten periode 1640-1650. Ketika kecil, ia bergelar Pangeran Surya. Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia, ia diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa (terletak di Kabupaten Serang).

Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten pada periode 1651 - 1682. Ia memimpin banyak perlawanan terhadap Belanda. Masa itu, VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Kemudian Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka.

Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar. Di bidang ekonomi, Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi. Di bidang keagamaan, ia mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti kerajaan dan penasehat sultan.

Ketika terjadi sengketa antara kedua putranya, Sultan Haji dan Pangeran Purbaya, Belanda ikut campur dengan bersekutu dengan Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa. Saat Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Sorosowan (Banten), Belanda membantu Sultan Haji dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tack dan de Saint Martin.

Banten Pasca Kemerdekaan

Setelah memasuki masa kemerdekaan, muncul keinginan rakyat Banten untuk membentuk sebuah propinsi. Niatan tersebut pertama kali mencuat di tahun 1953 yang kemudian pada 1963 terbentuk Panitia Propinsi Banten di Pendopo Kabupaten Serang. Dalam pertemuan antara Panitia Propinsi Banten dengan DPRD-GR sepakat untuk memperjuangkan terbentuknya Propinsi Banten.

Pada tanggal 25 Oktober 1970 Sidang Pleno Musyawarah Besar Banten mengesahkan Presidium Panitia Pusat Propinsi Banten. Namun ternyata perjuangan untuk membentuk Propinsi Banten dan terpisah dari Jawa Barat tidaklah mudah dan cepat. Selama masa Orde Baru keinginan tersebut belum bisa direalisir.

Pada Orde Reformasi perjuangan masyarakat Banten semakin gigih karena mulai terasa semilirnya angin demokrasi dan isu tentang otonomi daerah. Pada 18 Juli 1999 diadakan Deklarasi Rakyat Banten di Alun-alun Serang yang kemudian Badan Pekerja Komite Panitia Propinsi Banten menyusun Pedoman Dasar serta Rencana Kerja dan Rekomendasi Komite Pembentukan Propinsi Banten (PBB).

Sejak itu mulai terbentuk Sub-sub Komite PBB di berbagai wilayah di Banten untuk memperkokoh dukungan terbentuknya Propinsi Banten. Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan akhirnya pada 4 Oktober 2000 Rapat Paripurna DPR-RI mengesahkan RUU Propinsi Banten menjadi Undang-undang No. 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Banten.

Banten menjadi Propinsi

Provinsi ini dulunya merupakan bagian dari provinsi Jawa Barat, namun dipisahkan sejak tahun 2000, dengan keputusan Undang-undang no.23 tahun 2000. Wilayahnya mencakup sisi barat dari Provinsi Jawa Barat, yaitu Serang, Lebak, Pandeglang, Cilegon, dan Tangerang. Ibukotanya Serang.

Tanggal 17 Oktober 2000 Presiden Abdurrahman Wahid mengesahkan UU No. 23 Tahun 2000 tentang PBB. Sebulan setelah itu pada 18 Nopember 2000 dilakukan peresmian Propinsi Banten dan pelantikan Pejabat Gubernur H. Hakamudin Djamal untuk menjalankan pemerintah propinsi sementara waktu itu sebelum terpilihnya Gubernur Banten definitif. Pada tahun 2002 DPRD Banten memilih Dr. Ir. Djoko Munandar, MEng dan Hj. Atut Chosiyah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Banten pertama.

Propinsi Banten terletak pada koordinat 5°7′50" - 7°1′11" LS dan 105°1′11" - 106°’12" BT dengan Ibukota Propinsi adalah Serang. Luas wilayahnya mencapai 9.160,70 km2 dengan jumlah penduduk 7.451.300 jiwa (2003). Ragam suku bangsa yang mendiami propinsi ini diantaranya: suku Banten, Sunda, Baduy, Jawa, dan Lampung, dan lain-lain. Adapun penyebaran agama yang dianut oleh masyarakat Banten adalah; Agama Islam (96,6%), Kristen (1,2%), Katolik (1%), Budha (0,7%), dan Hindu (0,4%). Bahasa komunikasi sehari-hari yang digunakan dalam masyarakat antara lain Bahasa Indonesia, Jawa-Banten, Sunda, dan Jawa.

 
Dari berbagai sumber. 





















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer