September 22, 2006

Cagub PKS untuk Banten

Filed under: SIYASAH

LEBIH DEKAT DENGAN BANG ZUL


Majelis Syuro DPP PKS (30/7) akhirnya menetapkan kader internalnya, Dr. Zulkieflimansyah, SE., MSc., untuk dimajukan sebagai calon gubernur dalam PILKADA Banten akhir 2006 ini. Ketetapan ini merupakan hasil dari skenario B yang disiapkan DPP PKS jika koalisi dengan PD sampai akhir Juli 2006 tidak menemukan kejelasan. Dengan menggandeng PSI, PKS memantapkan diri secara bulat mengajukan kader internalnya untuk bertarung dalam PILKADA.

Bursa yang juga tidak kalah seru adalah soal sosok yang akan dipasangkan dengan Bang Zul, panggilan akrab Dr. Zulkieflimansyah. Dari tiga nama kandidat yang masuk dalam rekomendasi DPP PKS, akhirnya aktris cantik dan politisi dari PDI-P, Marissa Haque, terpilih untuk mendampingi Bang Zul, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, maju dalam PILKADA Banten. Mba Ica, sapaan akrab Marissa Haque, menyingkirkan dua kandidat lainnya Imam Aryadi (Aleg Partai Golkar), dan Dedi ‘Miing’ Bagito (Aktris dan pelawak senior). Untuk mengenal lebih dekat dengan 2 calon dari PKS ini, berikut adalah sekilas biografi dari keduanya:

Dr. Zulkieflimansyah, SE., MSc.

Dilahirkan di Sumbawa Besar, 18 Mei 1972. Sederet prestasi telah diraih semenjak masih kanak-kanak. Berbagai lomba dan prestasi telah dimenangkannya ditanah yang terkenal madu dan minuman alami berenergi. Dan puncaknya ia terpilih mewakili propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada kompetisi pertukaran pelajar antara Indonesia-Australia selama hampir setahun pada tahun 1989.

Bang Zul bersekolah di Darwin High School di Darwin dan di Sadadeen Secondary College di Alice Springs. Pengalaman tinggal bersama keluarga Australia yang melakoni bisnis Outback Freight Business Service memungkinkan dirinya mengenal Australia sangat dalam sampai ke pedalaman dan berinteraksi dengan suku asli aborigin yang mengesankan.

Ketika kuliah di UI berbagai aktivitas dan prestasi juga di torehkan. Periode 1994-1995 Bang Zul dipercaya oleh Mahasiswa UI sebagai Ketua Senat Mahasiswa tingkat Universitas yang kini menjelma menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM UI).

Mahasiswa berprestasi UI di bidang penalaran diperolehnya di tahun 1994 serta menjadi Pemenang pertama lomba menulis Mahasiswa bidang ekonomi tingkat Nasional. Bang Zul juga menjadi pemenang di lomba menulis mahasiswa dalam Bahasa Inggris yang di selenggarakan oleh Japan Airlines (JAL) baik di tingkat Universitas Indonesia maupun di Tingkat Nasional. JAL kemudian mensponsorinya untuk belajar di Sophia University Tokyo, Japan tentang Comparative Asian Industrial System.

Belajar adalah kebutuhan untuk senantiasa meningkatkan kapasitas. Demikian salah satu prinsip hidupnya. Selain degree programme yang ditempuhnya di Glasgow, Bang Zul juga menempuh pendidikan lanjutannya di Kennedy School of Government, Harvard University (US), Institute for New Technology, Maastricht (The Netherlands), Science and Policy Research Unit di University of Manchester (UK) serta di University of Dundee (Scotland).

Bang Zul kini berkiprah di DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mewakili daerah pemilihan Kabupaten dan Kota Tangerang ( Banten 2 ). Kapabilitasnya menjadikan dirinya dipercaya menjadi wakil ketua Fraksi PKS DPR RI. Aktivitas sehari-hari di Komisi VI terkait erat dengan persoalan perindustrian, perdagangan, BUMN, Koperasi dan UKM, Investasi Asing, Badan Standarisasi Nasional serta KPPU. Dirinya juga menjadi anggota Badan Musyawarah DPR.

Keterlibatannya di dunia politik tak berarti karena tak berprestasi sebagai akademisi di kampus. Memenangkan berbagai Grant Penelitian di tingkat Nasional, menulis di jurnal ilmiah di dalam dan luar negeri serta merepresentasikan Indonesia di penelitian-penelitian Internasional adalah hal biasa yang dilakukannya. Tak mengherankan jika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menobatkannya sebagai Peneliti Muda Terbaik Indonesia dalam bidang Ekonomi dan Management tahun 2003.

Memiliki rumah tinggal di kawasan BSD Kabupaten Tangerang bersama seorang istri dan 2 putra. Sejak menjadi aleg, dirinya lebih sering tinggal di rumah dinas, Jakarta. Sehingga warga sekitar di kampung Dadap BSD itu banyak yang merasa kehilangan. Terkait dengan kepakarannya dalam bidang ekonomi, selain aktivitasnya sebagai kader PKS di parlemen, Bang Zul mengajar sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

 
Sumber: www.zulkieflimansyah.com 

September 19, 2006

Cawagub PKS

Filed under: SIYASAH
MARISSA HAQUE DI PILKADA BANTEN

Marissa Haque lahir di Balikpapan, 15 Oktober 1962. Sejak Belia, selain sekolah sebagai kewajiban utamanya, putri sulung pasangan Allen Haque (berdarah Belanda) dan Nike Suharyah (Sumenep), mengisi waktu luangnya dengan kegiatan menari dan menyanyi di sanggar "Swara Mahardika" pimpinan Guruh Sukarno-putera. Namun, dunia yang ia selami terasa sempit, akhirnya ia tertarik menjadi model dan aktris.

Film pertamanya berjudul "Kembang Semusim", garapan sutradara M.T. Risyaf di tahun 1980. Talentanya yang besar dalam seni peran kemudian membuahkan hasil. Di tahun 1984, Marissa berhasil meraih Piala Citra sebagai Aktris Pembantu Terbaik di film "Tinggal Landas Buat Kekasih". Bintangnya makin bercahaya, Lewat film "Matahari-Matahari" (1985), ia berhasil meraih penghargaan sebagai Aktris Terbaik pada Festival Film Asia Pasifik tahun 1987. Dan main bersama suaminya, Ikang Fawzi, dalam "Biarkan bulan Itu" (1986), ia dinobatkan sebagai Aktris Terbaik Festival Film Indonesia.

Tak puas hanya sebagai pemain, ia mulai menjajal kemampuannya sebagai prosuser. Dari tangannya terlahir film "Sepondok Dua Cinta" (1990) dan "Yang Tercinta" (1991). Sejak itu, ia mulai tertarik untuk memproduksi sejumlah sinetron. Salah satu sinetron karyanya yang sukses adalah "Salah Asuhan" (1993), berhasil meraih Piala Vidia sebagai mini seri terbaik versi Festival Sinetron Indonesia 1994.

Kehidupannya yang tidak jauh dari dunia perfilman bukan berarti Marissa larut dalam gaya hidup glamour. Bersama Ikang Fauzi, yang menikahinya pada 12 April 1987, Marissa menikmati kehidupan spiritual mendekatkan diri kepada Allah SWT. Puncaknya ketika tahun 1993 keduanya berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Keagungan Allah SWT membimbingnya untuk terus berusaha dan mencoba istiqomah beribadah. Keputusannya untuk mengenakan jilbab pun bulat. Dengannya ia selalu merasa lebih dekat kepada Allah SWT., lebih aman dan terhindar dari pelecehan seksual maupun diskriminasi gender.

Latar belakang pendidikannya juga patut diajungi jempol, tidak seperti sebagian artis lain yang lebih memilih dunia selebriti dengan mengenyampingkan pendidikan, Marissa berhasil menamatkan kuliahnya di fakultas hukum Universitas Trisakti. Bahkan karena keseriusannya menekuni dunia perfilman, dirinya menempuh kuliah S-2 di Ohio University-Amerika Serikat dengan jurusan Study Kajian Film dan Televisi Internasional.

Popularitas dan kecerdasannya menarik hati PDI Perjuangan untuk memasukkannya dalam jajaran selebriti yang politisi. Pemilu 2004 mengantarkan dirinya menjadi anggota DPR RI dari PDI-P dari daerah pemilihan Bandung. Tidak hanya sekedar pasang tampang, Marissa membuktikan kemampuanya dengan melakukan banyak gebrakkan. Diantaranya adalah pembuatan CD Audio Visual tentang Penyelewengan Penyelenggaraan Haji di tahun 2005.

Interaksinya dengan kader-kader PKS di parlemen, membuat Marissa dekat dengan PKS. Bahkan tidak diragukan lagi, Ibu dua anak ini sudah menjadikan kajian tarbiyah sebagai salah satu aktifitasnya. Dan kini, dengan lebih terang lagi, Marissa bergandengan tangan dengan PKS untuk melakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik lagi di bumi para jawara ini.

Demikian ulasan sekilas tentang calon gubernur dan wakil gubernur Banten yang di usung PKS provinsi Banten. Semoga PILKADA Banten menjadi pintu bagi Partai Dakwah ini untuk melakukan banyak perbaikan demi kemaslahatan ummat. Menuju Banten yang Bersih-Peduli, Adil dan Sejahtera. Amiin.

Saatnya bagi para kader untuk menyingsingkan lengan baju, bersiap dan selalu siaga, serta bekerja keras untuk memenangkan dakwah siyasi ini.

September 15, 2006

Harga Kader

Filed under: PEMIKIRAN

MAHALNYA HARGA SEORANG KADER DA’WAH


Harga seorang kader da’wah, adalah lebih besar nilainya jika dibandingkan dengan harta dunia beserta segala macam isinya. Harta mungkin bisa merubah wajah peradaban dari satu warna ke warna yang lain. Namun, harta hanya mampu sebatas merubah bangunan-bangunan fisik yang mengiringi pergantian peradaban dari waktu ke waktu. Harta benda tidak mampu membentuk apa yang dimaksud dengan ruh dan jiwa peradaban. Bahkan sebaliknya, jika tidak diposisikan sebagaimana fungsinya harta benda hanya akan menjadi batu ujian sebuah peradaban.

Peradaban kekinian dunia Barat, terlebih peradaban Amerika Serikat, telah menjadi contoh dan bukti yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi ini. Ketika kekuatan materialisme telah menguasai pemikiran para pembuat kebijakan di sebuah negeri, maka kerusakan demi kerusakan akan menjadi bom waktu yang siap melumat kecongkakan peradaban. Amerika boleh berbangga dengan ke-adidaya-an mereka kepada penduduk dunia saat ini. Akan tetapi tidak ada yang menjamin bahwa hegemoni Amerika atas penduduk dunia mampu bertahan lama sebagaimana kehancuran Uni Soviet beberapa tahun lalu.

Keperkasaan Amerika dalam sektor ekonomi tidaklah menjamin kekuatan inner-quality yang dimiliki bangsanya. Bahkan tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini negara Amerika dan negara-negara Barat yang begitu mengagungkan paham liberalisme, materialisme dan kapitalismenya sedang menghadapi krisis ‘ruh’ yang begitu hebat. Berbagai perilaku kriminal dan penyimpangan moral yang semakin marak di negara-negara barat adalah satu bukti yang memperkuat simpulan ini.

Benar apa yang di katakan oleh Asy-Syahid Sayyid Qutb dalam salah satu bukunya, bahwa keberhasilan materi yang disandang Amerika di atas isme-isme-nya telah menjadikan Amerika sebagai ‘bengkel besar’ yang tidak memiliki jiwa. Ruh mereka kosong dari nafas keimanan, sehingga mereka bagaikan mayat-mayat yang berjalan di atas muka bumi tanpa tahu kemana tujuan akhirnya. Mereka bagaikan robot yang dikendalikan oleh uang dan waktu sehingga slogan ‘time is money’ menjadi sesuatu yang dipegang erat-erat. Sementara rasa nyaman dan tenang tidak dapat mereka beli meski mereka belanjakan seluruh hartanya, kecuali ketenangan sesaat yang penuh kekhawatiran.

Nafsu imperialisme yang dilancarkan Amerika Serikat dan sekutunya di bawah pemerintahan mr. Bush ke negeri-negeri Islam Afganistan dan Irak adalah salah satu bentuk desain politik bar-bar-nya yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan materi terkait krisis energi yang menghantui negerinya. Dukungan Amerika yang membabi-buta terhadap segala perilaku sadis Israel terhadap bangsa Palestina, jika dikaji lebih mendalam salah satu faktor utamanya juga karena terkait dengan masalah materialisme ekonomi yang dikuasai yahudi amerika. Media dan industri di berbagai bidang di Amerika sudah dikuasai yahudi, bahkan sistem politiknya sudah menjadi barang mainan orang-orang pemuja bintang david. Apa jadinya jika Amerika di’embargo’ orang yahudi? Dapat dipastikan Amerika yang sombong itu akan bangkrut dan hancur. Begitulah peradaban tanpa ruh, rapuh dan tinggal menunggu saat kehancuran.

Sebaliknya, bagaimana peradaban Islam telah menjadi fakta sejarah yang demikian kuat. Kepemimpinan Rasulullah s.a.w yang dilanjutkan khulafaur rosyidin dan penerus-penerusnya telah bertahan hingga 14 abad lamanya. Ini jika dihitung sejak kepemimpinan nabi Muhammad s.a.w hingga keruntuhan kekhalifahan Turki Ustmani. Akan tetapi bila dipandang Islam sebagai sistem yang multidimensi, maka sesungguhnya hingg kini tatanan nilai dan kehidupan Islam sungguh-sungguh eksis dalam berbagai bentuknya. Inilah peradaban Islam yang tak pernah lekang dimakan zaman.

Kebanyakan para sahabat Rasulullah adalah kader-kader da’wah yang masih muda dan enerjik. Mereka adalah para asabikunal awwalun yang ikhlas dan tertambat hatinya merindukan syurga. Mereka adalah sosok yang menjadikan dunia hanya tempat persinggahan, dan menjadikan harta cukup sebagai sarana bertahan hidup dan menegakkan panji Islam. Dari mereka lah Islam merambah diseluruh penjuru dunia. Sahabat dan orang-orang sholih setelahnya adalah kader-kader terbaik yang pernah ada dimuka bumi. Dan mereka pasti akan selalu muncul di setiap masanya. Begitu pula pemuda-pemuda Palestina kini, mereka adalah gambaran para kader tangguh yang tak gentar menghadapi berbagai intimidasi dan penganiayaan, penculikan maupun pembunuhan. Kesabaran telah mengantarkan mereka kepada pucuk pemerintahan ketika HAMAS menjadi tumpuan rakyat Palestina untuk merdeka dari jajahan Israel la’natullah.

Hingga saat dunia meng-embargo pun, pemerintahan Hamas tetap tegar dan bertahan dalam pilar keimanannya. Sekali-kali mereka tidak mengakui eksistensi Israel penjajah, apa pun resikonya. Bahkan keteguhan iman yang membakar jiwa-jiwa mereka membulatkan tekad untuk meneruskan apa yang mereka sebut sebagai ‘Reformasi dan Perlawanan’. Prinsip ini menjadi pegangan yang kuat bagi para kader da’wah di bumi ‘yang diberkahi’ itu.

Sepotong surat berikut ini, yang dikirim bersama beberapa gram perhiasan emas oleh seorang muslimah kepada pemerintah yang dipimpin Hamas menggambarkan sikap mendalam yang dimiliki kader da’wah di seluruh Palestina.

Saudara-saudaraku para pejabat pemerintah yang terhormat… Aku tidak tahu apa yang harus aku tulis kepada kalian. Aku orang yang lemah dalam mengungkap perasaan. Tapi aku demi Allah sangat merasakan kebanggaan dan penghormatan saat melihat dan mendengar kalian. Aku begitu gembira dan bangga ketika melihat kekokohan kalian menghadapi tekanan demi tekanan yang mendera. Tapi aku katakan kepada kalian: Janganlah lemah dan janganlah bersedih, karena sesungguhnya Allah bersama kalian, dan kami juga bersama kalian, rakyat bersama kalian, semua rakyat akan menjadi penopang dan bantuan bagi kalian. Kami insya Allah tidak akan menjadi sebab kalian menyerah, dalam hal apapun.

Kami tidak meminta kalian apapun kecuali, komitmen yang kokoh. Demi Allah, peganglah prinsip kalian. Berdirilah di atas prinsip kalian. Kuatkanlah pegangan kalian terhadap agama kalian…Demi Allah, kami takkan melupakan kalian dalam do’a-do’a kami. Kami mengerti betapa beratnya beban tanggung jawab yang kalian pikul. Tapi kami juga yakin, pada saat yang sama bahwa kalian mampu memikulnya hingga tiba di tepi yang aman….”.

"Aku berharap kalian menerima pemberian kecil ini. Inilah yang mampu aku berikan. Demi Allah aku berharap bila aku memiliki semua harta di dunia ini akan aku berikan juga kepada kalian. Tapi inilah yang aku punya…". (Ibnatu Da’wah, puteri da’wah)

Berbicara pejuang Palestina memang tidak sedang berbicara tentang peradaban. Akan tetapi, kita bisa melihat dan menilai betapa sentuhan tarbawi telah membangun pilar-pilar yang kokoh dari pondasi peradaban masa depan yang dinantikan. Kokoh, kuat dan menjulang tinggi diatas keimanan yang teguh. Begitulah kader da’wah, mereka tidak sekedar membangun peradaban. Tetapi mereka juga ruh dan jiwa yang akan terus mengarahkan dunia ini dari masa ke masa. Dan merekalah yang menghitam putihkan atmosfer dunia, disetiap zaman, di setiap masa. Hingga tiba saatnya Allah mendatangkan keputusan-Nya.

 

Sejarah Banten

Filed under: SEJARAH

MENGENAL BANTEN LEBIH MENDALAM

“Kejayaan Banten yang pernah menembus dunia internasional harus dijaga dan lebih ditingkatkan dalam perkembangannya. Karya Syeikh Nawawi Al Bantani, sampai sekarang masih menjadi rujukan referensi di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir dan beberapa universitas terkenal di timur tengah. Bahkan Banten pernah memiliki mata uang sendiri yang digunakan untuk berdagang dengan dunia luar. Bahkan orang-orang Barat dari Denmark, Portugis, Belanda bisa hidup berdampingan di Banten. Ini mencerminkan betapa kejayaan Banten demikian maju saat itu,”

“Adanya kesultanan Banten, masjid agung, dan menara adalah simbol nilai-nilai religius yang telah lama tertanam dalam masyarakat Banten,”

Demikian ungkapan Dr. Hidayat Nurwahid, mantan Presiden PKS yang sekarang menjadi ketua MPR, tiga tahun yang lalu dalam seminar “Membangun Kembali Kejayaan Banten” yang digelar oleh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) propinsi Banten, Sabtu (27/9), di Hotel Mahadria, Alun-Alun, Serang.

Banyak yang mesti dikenali lebih mendalam tentang Banten oleh para kader PKS terkait kepentingan partai dakwah ini memenangkan PILKADA Banten akhir 2006. Terlebih jika dilakukan pendataan kader, maka jumlah kader PKS dipropinsi Banten tidak sedikit yang berasal dari daerah diluar Propinsi Banten.
Bahkan, mungkin kader yang merupakan orang perantauan jumlahnya lebih banyak jika dibanding dengan putra daerah yang asli Banten.

Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi setiap kader untuk mengenal Banten lebih dalam, baik tentang; sejarah, budaya, penduduk, penyebaran agama, pendidikan maupun potensi kewilayahan, demi upaya yang optimal untuk memenangkan PILKADA.

Sejarah Banten

Banten sebagaimana nama suatu wilayah sudah dikenal dan diperkenalkan sejak abad ke 14. Mula-mula Banten merupakan pelabuhan yang sangat ramai disinggahi kapal dan dikunjungi pedagang dari berbagai wilayah hingga orang Eropa yang kemudian menjajah bangsa ini. Pada tahun 1330 orang sudah menganal sebuah negara yang saat itu disebut Panten, yang kemudian wilayah ini dikuasai oleh Majapahit di bawah Mahapatih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk.

Pada masa-masa itu Kerajaan Majapahit dan Kerjaan Demak merupakan dua kekuatan terbesar di Nusantara. Tahun 1524 - 1525 para pedagang Islam berdatangan ke Banten dan saat itulah dimulai penyebaran agama Islam di Banten. Sekitar dua abad kemudian berdiri Kadipaten Banten di Surasowan pada 8 Oktober 1526. Pada tahun 1552 - 1570 Maulana Hasanudin Panembahan Surasowan menjadi Sultan Banten pertama.

Kesultanan Banten

Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524-1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak menaklukkan penguasa lokal di Banten, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak.

Anak dari Sunan Gunung Jati (Hasanudin) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara.

Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama.

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat.

Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa lahir tahun 1631, adalah putra Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad yang menjadi Sultan Banten periode 1640-1650. Ketika kecil, ia bergelar Pangeran Surya. Ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Ratu atau Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia, ia diangkat sebagai sultan dengan gelar Sultan Abdul Fathi Abdul Fattah. Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa (terletak di Kabupaten Serang).

Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten pada periode 1651 - 1682. Ia memimpin banyak perlawanan terhadap Belanda. Masa itu, VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Kemudian Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka.

Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar. Di bidang ekonomi, Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi. Di bidang keagamaan, ia mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti kerajaan dan penasehat sultan.

Ketika terjadi sengketa antara kedua putranya, Sultan Haji dan Pangeran Purbaya, Belanda ikut campur dengan bersekutu dengan Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa. Saat Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Sorosowan (Banten), Belanda membantu Sultan Haji dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tack dan de Saint Martin.

Banten Pasca Kemerdekaan

Setelah memasuki masa kemerdekaan, muncul keinginan rakyat Banten untuk membentuk sebuah propinsi. Niatan tersebut pertama kali mencuat di tahun 1953 yang kemudian pada 1963 terbentuk Panitia Propinsi Banten di Pendopo Kabupaten Serang. Dalam pertemuan antara Panitia Propinsi Banten dengan DPRD-GR sepakat untuk memperjuangkan terbentuknya Propinsi Banten.

Pada tanggal 25 Oktober 1970 Sidang Pleno Musyawarah Besar Banten mengesahkan Presidium Panitia Pusat Propinsi Banten. Namun ternyata perjuangan untuk membentuk Propinsi Banten dan terpisah dari Jawa Barat tidaklah mudah dan cepat. Selama masa Orde Baru keinginan tersebut belum bisa direalisir.

Pada Orde Reformasi perjuangan masyarakat Banten semakin gigih karena mulai terasa semilirnya angin demokrasi dan isu tentang otonomi daerah. Pada 18 Juli 1999 diadakan Deklarasi Rakyat Banten di Alun-alun Serang yang kemudian Badan Pekerja Komite Panitia Propinsi Banten menyusun Pedoman Dasar serta Rencana Kerja dan Rekomendasi Komite Pembentukan Propinsi Banten (PBB).

Sejak itu mulai terbentuk Sub-sub Komite PBB di berbagai wilayah di Banten untuk memperkokoh dukungan terbentuknya Propinsi Banten. Setelah melalui perjuangan panjang dan melelahkan akhirnya pada 4 Oktober 2000 Rapat Paripurna DPR-RI mengesahkan RUU Propinsi Banten menjadi Undang-undang No. 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Propinsi Banten.

Banten menjadi Propinsi

Provinsi ini dulunya merupakan bagian dari provinsi Jawa Barat, namun dipisahkan sejak tahun 2000, dengan keputusan Undang-undang no.23 tahun 2000. Wilayahnya mencakup sisi barat dari Provinsi Jawa Barat, yaitu Serang, Lebak, Pandeglang, Cilegon, dan Tangerang. Ibukotanya Serang.

Tanggal 17 Oktober 2000 Presiden Abdurrahman Wahid mengesahkan UU No. 23 Tahun 2000 tentang PBB. Sebulan setelah itu pada 18 Nopember 2000 dilakukan peresmian Propinsi Banten dan pelantikan Pejabat Gubernur H. Hakamudin Djamal untuk menjalankan pemerintah propinsi sementara waktu itu sebelum terpilihnya Gubernur Banten definitif. Pada tahun 2002 DPRD Banten memilih Dr. Ir. Djoko Munandar, MEng dan Hj. Atut Chosiyah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Banten pertama.

Propinsi Banten terletak pada koordinat 5°7′50" - 7°1′11" LS dan 105°1′11" - 106°’12" BT dengan Ibukota Propinsi adalah Serang. Luas wilayahnya mencapai 9.160,70 km2 dengan jumlah penduduk 7.451.300 jiwa (2003). Ragam suku bangsa yang mendiami propinsi ini diantaranya: suku Banten, Sunda, Baduy, Jawa, dan Lampung, dan lain-lain. Adapun penyebaran agama yang dianut oleh masyarakat Banten adalah; Agama Islam (96,6%), Kristen (1,2%), Katolik (1%), Budha (0,7%), dan Hindu (0,4%). Bahasa komunikasi sehari-hari yang digunakan dalam masyarakat antara lain Bahasa Indonesia, Jawa-Banten, Sunda, dan Jawa.

 
Dari berbagai sumber. 

September 9, 2006

KMM Kota

Filed under: THULABI
Kongres Mahasiswa Muslim Kota Tangerang
ANTARA HARAPAN DAN SEBUAH KEHARUSAN

Jika tidak ada aral melintang, Kongres Mahasiswa Muslim (KMM) Kota Tangerang akan diselenggarakan 10 – 12 November 2006 mendatang. Momen istimewa yang pelaksanaannya bertepatan dengan Hari Pahlawan ini memiliki alasan khusus, yaitu agar semangat juang para pahlawan untuk menegakkan panji-panji Islam melekat kuat di sanubari para aktivis dakwah kampus (ADK) Kota Tangerang. Ada 3 tujuan besar dari pelaksanaan kongres mahasiswa muslim yang akan diadakan 15 hari pasca Idhul Fitri 1427 H ini, yaitu:

1. Mengkonsolidasikan dan Menguatkan Aktivitas Dakwah Kampus

Pertumbuhan kader dakwah kampus di Kota Tangerang masih terbilang rendah. Sangat sulit mengukur statistik pertumbuhan kader dari waktu ke waktu. Euforia dan system yang terbangun dalam dakwah kampus juga masih banyak yang harus ditingkatkan.

Kegiatan syi’ar dakwah kampus terasa kembang-kempis. Belum ada satu pun kampus di Kota Tangerang yang bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan dakwah kampus. Kegiatan yang diadakan di kampus-kampus masih sporadis meski dirangkum dalam program-program dakwah reguler. Belum terbentuk kampus yang bisa dijadikan sentra da’wah ke-Islam-an yang mampu memotori aktivitas dakwah kemahasiswaan. Belum muncul kampus dakwah yang menjadi kebanggaan bagi ADK sebagaimana ITB di Bandung, UI di Jakarta, ataupun UGM di Yogyakarta. Ini mungkin mimpi yang berat, tetapi bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.

Dalam hal kaderisasi juga dapat dibilang lemah. Cukup mengkhawatirkan kondisinya jika melihat fakta lapangan ketika hampir semua kampus di Kota Tangerang mengalami masalah regenerasi kepengurusan. ADK datang dan pergi, masuk dan lulus, tanpa membekaskan dan meninggalkan struktur dan SDM yang kuat untuk memegang tongkat estafet dakwah kampus berikutnya. Sehingga tidak jarang posisi-posisi strategis dalam organisasi kampus seperti Ketua BEM, Ketua Himpunan Mahasiswa, Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) terlucuti satu per satu.

Belum lagi masih terdapat cukup banyak kampus-kampus yang belum terakses oleh dakwah hingga saat ini. Dari sekitar 20-an kampus yang terdaftar di DIKTI baru 7 kampus saja yang telah terakses. Artinya sekitar 60 % kampus di Kota Tangerang memerlukan perhatian khusus untuk mendorong munculnya aktivitas dakwah ke-Islam-an.

2. Membangun Sinergi Kekuatan Berbagai Potensi Dakwah Kampus

Kondisi kampus di Kota Tangerang memang belum sebanyak dan se-bonafide di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, atau minimal Lampung, Kab. Tangerang, atau pun Kab. Serang. Bahkan belum satu pun diantaranya yang berstatus Negeri, semuanya swasta dengan status akreditasi dan popularitas masih kalah jauh dibanding perguruan tinggi di kota besar lainnya. Dampaknya secara umum kader-kader berprestasi lulusan SMU maupun mereka yang pernah aktif dalam kegiatan ke-Islam-an lebih memilih kuliah di Jakarta, Bandung, atau Lampung ketimbang memilih perguruan tinggi di kotanya. Sehingga yang mengisi kampus di Kota Tangerang adalah mayoritas pelajar tanpa background aktivis. Butuh proses panjang untuk membentuk dan membina mereka agar turut menjadi kader dakwah yang membangkitkan dakwah Islam dikampus-kampus pilihan mereka. Kalaupun ada mahasiswa yang berlatar belakang kader, kebanyakan diantara mereka adalah mahasiswa duo-status, mahasiswa dan karyawan. Mereka para pekerja yang waktu sehari-harinya banyak tersedot di perusahaan tempat mereka bekerja. Sehingga untuk manjadi penggerak dakwah kampus mereka banyak menemui kendala waktu dan kesempatan.

Akan tetapi bukan berarti jumlah SDM ADK juga tidak banyak. Ada tiga golongan kader mahasiswa yang terkait dengan tanggung jawab dakwah di Kota Tangerang. Pertama, adalah para ADK yang tinggal dan kuliah di Kota Tangerang. Mereka adalah kekuatan utamanya. Kedua, mahasiswa yang meski tinggal di luar kota, tetapi mereka kuliah di kampus yang berada di Kota Tangerang. Sehingga banyak aktivitas dan waktunya mereka gunakan di daerah yang terkenal dengan daerah seribu industri ini. Ketiga, Banyak ADK yang tetap tinggal di Kota Tangerang meski kuliah di Jakarta, Kab. Tangerang maupun Kab. Serang. Atau mahasiswa yang tetap sering singgah di Kota Tangerang walaupun kuliah di daerah lain yang lebih jauh seperti Lampung, Bandung, bahkan Yogyakarta.

Tiga elemen penting ini harus dibangun interaksinya, dikuatkan visi dakwahnya, dioptimalkan sinerginya dan difasilitasi untuk melakukan berbagai agenda-agenda besar dakwah kampus. Apa lagi jika di break-down lebih jauh, dengan mengkategorikan mahasiswa sesuai jenjang pendidikannya sejak dari D1-D4, Sarjana (S1) dan Pasca Sarjana, maka Kota Tangerang sesungguhnya memiliki kuantitas SDM kader yang tidak sedikit. Bahkan sangat mencukupi untuk melakukan berbagai peran dakwah dan perubahan-perubahan besar baik di kampus maupun luar kampus.

Eksistensi sarana dakwah ekstra kampus yang kondisinya seperti antara ‘ada dan tiada’ menjadi perhatian serius. Keberadaan KAMMI Daerah dan FSLDK belumlah memberikan andil berarti untuk mem-back-up dakwah kampus di Kota Tangerang.

Potensi-potensi tersebut mesti dicerahkan dan ‘dihidupkan’ kembali, dibangun diatas keyakinan dan optimisme, serta harus di-sinergikan untuk menguatkan bangunan dakwah Islam. Atau jika kurang memungkinkan, pembentukan wajihah baru yang mampu mewadahi dan mengeksplorasi potensi ketiga elemen mahasiswa diatas adalah satu keniscayaan. Jika salah satu parpol orde baru bias membidani kelahiran Himpunan Mahasiswa Tangerang (Himata) yang bergerak di dalam dan di luar Kota Tangerang, mengapa ADK tidak?

3. Membangun Eksistensi Kader Da’wah dalam Issu-issu Kedaerahan.

Berkenaan dengan berbagai masalah yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat seperti masalah pendidikan, iptek, moralitas maupun sosial kemasyarakatan, keberadaan kader dakwah mestinya bisa memberi peran positif. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi mahasiswa di Kota Tangerang keberadaanya masih dipandang sebelah mata oleh para pembuat kebijakan di eksekutif. Mahasiswa, terlebih mahasiswa muslim para aktivis dakwah kampus, belum masuk dalam daftar pihak-pihak yang dibutuhkan partisipasinya dalam membangun Kota Tangerang yang bervisi ‘akhlakul karimah’. Padahal mahasiswa memiliki kapasitas untuk peran itu, minimal untuk kontributor ide yang berpihak kepada pembangunan moral dan peningkatan kualitas pendidikan daerah.

Suara lantang mahasiswa sangat dibutuhkan untuk menyikapi berbagai masalah dan penyimpangan yang terjadi dimasyarakat. Jangan sampai ADK menjadi mahasiswa yang sibuk mengurusi diri sendiri saja. Tidak peduli kejadian disekitarnya yang membutuhkan uluran bantuan.

Musibah yang menimpa mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal (Poltek GT) bisa menjadi pelajaran berharga. Dimana mahasiswa Kota Tangerang, dalam hal ini ADK, tidak mampu berbuat apa-apa untuk membantu 140 mahasiswa yang di-DO massal sejak akhir Juni 2006 lalu. Kampus ditutup dan Dosen serta Staff kampusnya dipaksa mengundurkan diri. Tidak ada pernyataan simpati, apalagi aksi solidaritas massif untuk menekan kekuatan-kekuatan arogan yang masih bercokol di institusi pendidikan di Kota Tangerang. Atau bahkan sebaliknya, mungkin masih banyak yang tidak tau sama sekali tentang kejadian ini. Sementara disisi yang lain, di salah satu propinsi di luar Jawa, belum lama ini ratusan mahasiswa melakukan konvoi aksi solidaritas hanya gara-gara salah seorang mahasiswa ditilang polisi.

Faktor yang melatar-belakanginya memang beragam, baik karena faktor internal maupun eksternal. Secara internal, harus diakui bahwa perhatian para aktivis dakwah kampus tentang visi pembangunan daerah masih sangat lemah. Jangankan dalam sektor ekonomi, dalam hal pembangunan yang terkait dengan moralitas dan pendidikan tinggi saja bisa jadi sangat banyak mahasiswa ADK yang belum nge-klik. Mahasiswa cenderung pasif dan pemikirannya lebih terbatas hanya untuk diri sendiri saja, bagaimana caranya dirinya bisa cepat lulus kuliah. Faktor lainnya adalah masalah waktu. Mengenai waktu dan kesempatan yang dimiliki para kader da’wah yang mayoritas juga karyawan cukup sulit berbagi waktu untuk memikirkan agenda-agenda ke-ummat-an, masih menjadi alasan klasik yang terus saja belum terpecahkan. Sedangkan secara eksternal, terlihat bahwa pemerintah daerah, legislative daerah, maupun publik, belum memiliki kepercayaan terhadap mahasiswa Kota Tangerang. Baik dari segi pemikiran, akademik, kualitas, maupun gerakan sosial politiknya.


Ini adalah berbagai kondisi yang mesti ditindaklanjuti dengan cermat untuk perbaikan ke depan. Harus ada solusi. Dan yakinlah selalu ada jalan keluar untuk setiap problematika dakwah. Tinggal pilihannya berada di tangan para kader dakwah itu sendiri. Apakah ingin bersantai dan menonton saja akan situasi dan kondisi yang ada. Atau menjadi barisan kader yang bersedia bekerja keras dan rela berkorban untuk kemenangan dakwah ini?
 

September 1, 2006

Empati dari Langit

Filed under: DARI HATI

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

DARI ANAK LANGIT UNTUK MAHASISWA PGT


ASSALAMU’ALAIKUM-MERDEKA?!

APA YANG BISA KAMI BANTU? WASS.

;ANAK LANGIT; KOMUNITAS MUSIK SERDADOE; INSTITUT KOLONG JEMBATAN

@SUPPORT YOUR MOVEMENT.”

Demikian isi pesan singkat (SMS) yang diterima Rona, Ketua Dewan Mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal yang juga vokalis Tim Nasyid Shoutus Shilmi, 31 Agustus lalu. Jika dilihat isinya, mungkin terasa sangat sederhana, tapi maknanya sungguh LUAR BIASA.

SMS tersebut dilatar belakangi selebaran yang disebar oleh mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal terkait musibah yang menimpa mereka sejak 3 bulan yang lalu, arogansi institusi kampus dan perusahaan Gajah Tunggal yang men-DO massal 140 mahasiswanya secara semena-mena. Selebaran berisi permohonan bantuan masyarakat Kota Tangerang untuk berpartisipasi mengirimkan SMS ke Nomor Pengaduan untuk Presiden SBY, 9949, disebar sejak Selasa 29 Agustus 2006.

Kader di Kota Tangerang tentu tidak asing dengan Komunitas Anak Langit, kita mengenal mereka seperti kita mengenal sahabat dekat. Bahkan kemunculannya pada event-event besar yang diselenggarakan oleh DPD PKS Kota Tangerang selalu mengingatkan kita untuk terus peduli pada sesama. Benar, kita begitu mengenal mereka dan memahami siapa mereka.

Memang, mereka hanya sekumpulan Anak Jalanan yang tinggal dibilangan belakang pasar Cikokol, dibawah atap yang begitu memprihatinkan. Mereka kepanasan oleh terik matahari siang, menggigil oleh dinginnya malam. Jika hujan turun wajah-wajah tegar dan pekerja keras mereka pun terguyur rintikan air hujan. Yang menjelang tidurnya, mungkin hanya mampu merajut mimpi dan cita-cita. Impian yang tinggal impian, dan cita-cita yang begitu berat untuk meraihnya.

Mereka anak jalanan yang untuk makan sehari-hari saja susah. Harus me-ngamen dari pagi hingga sore, bahkan tidak jarang malam hari mereka baru sampai dirumah. Dan mereka harus rela belajar ‘baca tulis’ disatu ruangan yang juga jadi tempat hidup mereka karena tidak mampu bayar untuk sekolah.

Tentang SMS itu, bisa jadi pulsa yang mereka miliki tidaklah seberapa. Dan HP yang mereka pakai untuk menyampaikan empatinya kepada mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal pun bukan lah HP ‘mewah’ seperti yang dimiliki sebagian besar kader da’wah. Milik mereka cuma HP yang untuk menulis SMS saja cukup sulit mengganti huruf kapital dengan huruf biasa.

Tapi justru dari mereka, satu-satunya pesan empati yang datang ke mahasiswa Poltek GT di antara ribuan HP dengan pulsa melimpah yang dimiliki para kader da’wah di Kota Tangerang. Bahkan mereka tidak peduli, siapa yang ingin mereka bantu. Mereka Cuma kumpulan anak-anak kecil usia SD-SMP, akan tetapi hati mereka terlalu peka untuk sekedar dihalangi label ‘mahasiswa’. Pun mungkin dalam benak mereka juga tak pernah terlintas sama sekali untuk bisa menjadi seorang mahasiswa. Kader mungkin bisa berkilah, kalau mereka juga sudah turut mengirim SMS ke 9949. Tapi apakah kita tidak berfikir Komunitas Anak Langit juga telah melakukan hal yang sama?

Seandainya kita boleh berkata jujur, “Apa sih yang bisa dilakukan Anak Langit untuk membantu rekan-rekan mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal?” Maka jawabannya adalah “Tidak ada yang bisa dilakukan Anak Langit, kecuali do’a”. Karena mereka tidak punya apa-apa, mereka bukan Birokrat, professional dalam bidang hukum, mereka bukan aleg, mereka bukan pengurus PKS yang punya akses luas, mereka bukan orang yang punya kelebihan harta, mereka ‘bukan’ kader da’wah ini, dan mereka juga bukan bagian dari keluarga mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal. Justru sebaliknya, mereka lah yang seharusnya banyak kita bantu.

Tetapi, sesaat setelah mereka menerima selebaran itu segera yang mereka lakukan adalah menghubungi rekan-rekan mahasiswa Poltek GT dengan menawarkan apa saja yang bisa mereka lakukan untuk membantu, “APA YANG BISA KAMI BANTU?” Sepertinya ini ungkapan pertama (dan paling mengharukan) yang datang ke kader mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal sejak perjalanan aksinya 3 bulan yang lalu melawan tirani dan arogansi Gajah Tunggal Group.

Kondisi sebaliknya malah penulis dapatkan ketika berinteraksi dengan kalangan kader, baik dari level aleg, pengurus struktural DPD, sampai kader di tataran umum, termasuk kalangan kader kampus yang mestinya lebih peka dan cepat tanggap. Ini mungkin tidak bisa digeneralisasi, tetapi realitas dilapangan belum ada bukti yang mampu membantah simpulan penulis. Respon yang paling sering ditemukan hanya sekedar pertanyaan basa-basi, “Gimana perkembangan temen-temen Poltek?”, “Kok bisa begitu ya?”, “Kasian ya..”. Tidak lebih dari itu. Tidak ada satu pun dari kalangan kader yang pasang badan dengan mengatakan “Apa yang bias Ana bantu?”

Jangankan untuk menyokong dalam bentuk tenaga dan materi, untuk ikut serta memikirkan jalan keluar saja saling melempar tanggung jawab dengan alasan bukan bidangnya, bukan ahlinya, bukan tanggung jawabnya, atau sekedar dengan alasan sibuk. Sedih memang mendengarnya, tapi itulah kenyataannya. Apakah memang sebagian kader Partai Da’wah yang Bersih dan PEDULI ini sudah miskin ke-PEDULI-an??

Padahal semua kader da’wah ini sepakat 100%, bahwa kader tarbiyah adalah aset yang paling mahal harganya. Yang tidak bisa digantikan dengan harta benda sebanyak apa pun. Bahkan dengan jabatan! Dan mayoritas mahasiswa yang di-DO massal adalah para kader tarbiyah yang turut menjadi penguat bangunan da’wah ini. Lalu mengapa kita masih saja tidak peduli kepada mereka??

Saatnya meng-evaluasi diri, baik secara pribadi atau pun ‘struktur’. Jangan sampai alasan kesibukan tugas da’wah dan PILKADA menjustifikasi ketidak-PEDULI-an kita kepada kader yang sedang dirundung musibah. Apakah mereka harus mengadu dan mencari bantuan ke ‘tempat’ lain?

Semoga saja tidak hanya mereka, Anak-Anak Langit, yang dengan derita hidupnya cepat merasakan derita dan kesedihan mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal. Tetapi kita, yang belum Allah SWT uji dengan kelaparan, kekurangan harta, ketakutan, dan penganiayaan, moga mampu memelihara rasa empati dan tanggung jawab kepada sesama kader da’wah.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah : 155)

Barangkali ini merupakan pengingat dari Allah SWT., lewat SMS Anak-Anak ‘Syurga’ yang polos dan tulus. Agar kita menjadi bangunan da’wah yang benar-benar berhias ke-PEDULI-an.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer