August 30, 2006

Inspirasi Kebangkitan

Filed under: THULABI

PERGERAKAN MAHASISWA MUSLIM, INSPIRASI UNTUK BANGKIT

Pergerakan mahasiswa muslim di Indonesia memiliki peran yang sangat penting. Berbeda dengan mahasiswa pada umumnya, pergerakan mahasiswa muslim disamping di latarbelakangi rasa tanggung jawab kepada nasib dan kesulitan hidup yang dialami oleh rakyat, mereka dalam pergerakannya dimotivasi oleh tanggung jawab ideologi ke-Islam-an yang kuat. Meski tidak sepenuhnya semua gerakan mahasiswa muslim berpijak erat-erat diatas tata nilai keislaman, akan tetapi paling tidak mereka berjuang diatas motivasi untuk membuktikan bahwa Islam adalah solusi berbagai tantangan dan problematika kebangsaan.

Mahasiswa merupakan salah satu kekuatan pelopor di setiap perubahan. Dan mahasiswa telah berhasil mengambil peran yang signifikan dengan terus menggelorakan energi “perlawanan” dan bersikap kritis membela kebenaran dan keadilan.

Dalam perjalanan sejarah Indonesia terdapat beberapa organisasi mahasiswa ekstra kampus yang cukup menonjol, yaitu HMI Dipo (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), HMI MPO (Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi) dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia).

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan salah satu organisasi mahasiswa tertua di Indonesia yag lahir pada 5 Februari 1947 di kota Yogyakarta. Didirikan oleh Lafran Pane dan kawan-kawan ditengah kondisi bangsa yang masih bergejolak di awal-awal kemerdekaan.

Langkah-langkah strategis untuk mengambil peranan dalam melakukan perbaikan diberbagai aspek kehidupan pun diupayakan. Format awal gerakan HMI selain memberikan pembinaan agama Islam kepada mahasiswa dan masyarakat untuk mengantisipasi pengaruh sekulerisme Barat, juga mengerahkan milisi mahasiswa untuk berjuang secara fisik dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dalam perkembangannya, HMI telah banyak melahirkan kader-kader pemimpin bangsa. Dalam pemerintahan Orde Baru, hampir selalu ada mantan kader HMI yang duduk di kabinet. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran signifikan HMI dalam keikutsertannya menumbangkan Orde Lama serta menegakkan Orde Baru.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Kelahiran Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dibidani oleh kaum muda Nahdlatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia pada tanggal 17 April 1960 di Surabaya. Pada perkembangannya, dengan dicetuskannya Deklarasi Murnajati 14 Juli 1972, PMII secara struktural menyatakan diri sebagai organisasi independen, terlepas dari ormas apa pun, termasuk dari NU.

Menjelang peristiwa jatuhnya Soeharto, PMII bergabung dengan elemen gerakan mahasiswa lainnya menumbangkan rezim Soeharto.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

Beberapa tokoh angkatan muda Muhammadiyah seperti Muhammad Djaman Alkirdi, Rosyad Soleh, Amin Rais dan kawan-kawan memelopori berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Yogyakarta pada tanggal 14 Maret 1964.

Dalam periode pergolakan ini, IMM harus berhadapan dengan situasi dan kondisi sosial, politik, ekonomi, budaya di tengah kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama yang sangat rawan dan kritis. IMM pada saat itu langsung berhadapan dengan kebijakan Manipol Usdek Bung Karno, Nasakom, dan ancaman PKI. Sehingga kegiatan-kegiatan IMM lebih banyak diarahkan kepada pembinaan personil, penguatan organisasi, pembentukan dan pengembangan IMM di kota-kota maupun perguruan tinggi

Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO)

Mulanya MPO merupakan nama sekelompok aktivis kritis HMI yang prihatin melihat HMI begitu terkooptasi oleh rezim orde baru yang mewajibkan HMI mengubah azasnya yang semula Islam menjadi pancasila. Bagi aktivis MPO, perubahan azas ini merupakan simbol kemenangan penguasa terhadap gerakan mahasiswa yang akan berdampak pada termatikannya demokrasi di Indonesia.

Setelah Pengurus Besar HMI melalui jumpa pers mengumumkan tentang penerimaannya asas Pancasila oleh HMI, muncullah perlawanan yang kemudian melahirkan HMI MPO pada 15 Maret 1986 di Jakarta, sebagaimana tercantum dalam buku Berkas Putih yang terbit 10 Agustus 1986.

HMI-MPO hadir sebagai sosok pendekar yang berani berteriak lantang menentang kekuasaan. HMI-MPO-lah satu-satunya organisasi Islam yang pertama kali menuntut turunnya Suharto dari kursi kepresidenan. Maka tak heran jika selama kekuasaan orde baru, HMI-MPO menjadi organisasi ‘bawah tanah’ yang berjuang melawan rezim dengan segala resikonya.

Ketika terjadi gerakan reformasi 98, kesatuan-kesatuan aksi buatan HMI-MPO seperti LMMY, FKMIJ, FKSMJ, dan FKMIJ memainkan peran strategis dalam menggalang kekuatan elemen gerakan mahasiswa. Melalui poros Jakarta-Yogyakarta-Makassar, yang secara tidak langsung terbentuk sebagai sentra gerakan HMI-MPO, isu-isu gerakan dikomunikasikan ke seluruh Indonesia.

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)

KAMMI lahir para ahad tanggal 29 April 1998 bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H yang dituangkan dalam naskah Deklarasi Malang. KAMMI awal kali muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif Mahasiswa yang berbasis aktivis dakwah kampus pada pelaksanaan Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X se-Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang.

Ada beberapa alasan mengapa KAMMI harus lahir. Pertama, adanya indikasi upaya rezim pemerintah mematikan potensi bangsa sehingga mendorong segera didengungkannya tuntutan reformasi. Kedua, suara umat Islam mulai terabaikan, sehingga penting untuk segera berbuat. Ketiga, sebagai ekspresi keprihatian mendalam dan tanggung jawab moral atas krisis dan penderitaan rakyat yang melanda Indonesia. Keempat, untuk membangun kekuatan yang dapat berfungsi sebagai peace power untuk melakukan tekanan moral kepada pemerintah.

Dalam perjuangan reformasi tahun 98, bersama elemen pergerakan mahasiswa lainnya KAMMI melakukan tekanan terhadap pemerintahan Orde Baru melalui gerakan massa. Rezim Suharto dengan segala macam kebobrokannya, akhirnya tumbang pada 21 Mei 1998.

Namun bagi KAMMI, paska keruntuhan Suharto proses reformasi di Indonesia belumlah usai, masih membutuhkan proses yang panjang. Lewat Muktamar Nasional KAMMI yang pertama, 1-4 Oktober 1998, KAMMI memutuskan diri berubah dari organ gerakan aksi menjadi ormas mahasiswa Islam. Peran utamanya adalah untuk menjadi pelopor, pemercepat dan perekat gerakan pro-reformasi.

Menjadi Inspirasi untuk Segera Bangkit

Adalah satu bukti sejarah bahwa pergerakan mahasiswa muslim tidak bisa dipandang remeh dalam mengawal perjalanan bangsa ini. Bahkan, dapat dikatakan mahasiswa muslim menjadi energi yang konsisten dalam tribulasi pergerakan mahasiswa di Indonesia. Dari waktu ke waktu, dalam berbagai wadahnya, gerakan mahasiswa muslim menjadi pagar betis yang berdiri dibarisan terdepan dalam mengawal perubahan demi perubahan.

Mahasiswa muslim Kota Tangerang adalah bagian tak terpisahkan dari komunitas mahasiswa muslim di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Yang padanya melekat semangat juang yang tinggi untuk bangkit dari keterpurukan, memiliki sensitifitas yang tajam terhadap penderitaan ummat, juga memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk mendidik dan men-tarbiyah bangsa ini.

Oleh karena itu, sejarah emas perjuangan mahasiswa muslim diatas mestinya dapat menjadi inspirasi mendasar bagi mahasiswa muslim di Kota Tangerang untuk segera bangkit dari ketidak-berdayaan, bangkit dari ketidak-produktifan, bangkit dari rasa pesimis, bangkit dari rasa tidak percaya diri, dan bangkit dari kemalasan. Jangan sampai menyerah sebelum berjuang!

August 22, 2006

Periodesasi Gerakan Mahasiswa

Filed under: SEJARAH
MENANTI BANGKITNYA MAHASISWA KOTA TANGERANG

MAHASISWA merupakan elemen yang tak terpisahkan dari perjalanan peradaban sebuah bangsa. Sejarah dunia, baik di Timur maupun di Barat, telah menjadi bukti bahwa idealisme, kepeloporan, pemikiran kritis, konsistensi semangat perubahan, dan pergerakannya yang melekat pada sosok mahasiswa telah banyak mewarnai peradaban negeri-negeri diberbagai belahan dunia.

Tidak terkecuali Indonesia. Kemerdekaan bangsa Indonesia atas kolonialisme yang telah berlangsung hampir 4 abad lamanya, merupakan buah dari kerja keras para tokoh muda yang lahir dari komunitas kampus. Bung Karno, Bung Hatta, HOS Cokroaminoto, dll, adalah motor penggerak rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya.

Gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Dalam perjalanannya dari masa ke masa, bangsa ini telah mengenal beberapa dekade perjuangan mahasiswa.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1966

Dikenal dengan istilah angkatan ’66, merupakan aksi pergerakan mahasiswa maengangkat isu bahaya latin komunis sebagai bahaya laten negara yang harus segera dimusnahkan dari bumi Indonesia. Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, Sofyan Wanandi, dan Yusuf Wanandi adalah diantara aktivis mahasiswa yang bergerak lantang menentang komunisme. Dimana pada saat itu Partai Komunis Indonesia (PKI), sebagai pengusung paham komunisme, telah cukup hebat merasuki sektor-sektor pemerintahan.

Dukungan masyarakat terhadap pergerakan mahasiswa yang terbangun dibeberapa wilayah nusantara memaksa Presiden Sukarno untuk berpihak pada rakyat. Slogan NASAKOM yang dipaksakan Sukarno akhirnya runtuh dengan dikeluarkannya Surat Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR). Peristiwa ini menandai berakhirnya kepemimpinan Orde Lama (ORLA) dan memasuki era Orde Baru (ORBA) dibawah kepemimpinan Suharto.

Saat itu beberapa aktivis ‘66 memilih menanggalkan baju idealismenya untuk mencecap kenikmatan menjadi anggota parlemen, berduyun-duyun masuk Golkar, sebuah entitas yang kemudian dikecam. Orang yang paling keras memprotes perilaku memalukan ini adalah Soe Hok Gie, aktivis ‘66 sekaligus intelektual merdeka yang mati muda. Gie marah dan kecewa menyaksikan teman-temannya sesama demonstran melebur dalam kekuasaan; tidak sabar menjadi penunggu gerbang idealisme yang selama ini digemborkan lewat aksi-aksi demonstrasinya. Gie menuduh mereka pengkhianat karena telah melacurkan diri untuk meneguhkan legitimasi rezim Orba.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1970-an

Dalam perkembangannya, pemerintahan Orde Baru dibawah kepemimpinan Suharto banyak mendapatkan penentangan dari gerakan mahasiswa. Gerakan anti korupsi muncul di tahun 1970 yang ditindaklanjuti dengan pembentukan Komite Anti Korupsi, yang diketuai oleh Wilopo. Tahun 1972 merebak Aksi Golput menentang pelaksanaan pemilu pertama di masa Orde Baru, karena Golkar dinilai telah berlaku curang. Gerakan melawan kebijakan penggusuran pemukiman rakyat kecil akibat pembangunan Taman Mini Indonesia Indah muncul di tahun 1972.

Peristiwa Malari pada 15 Januari 1974, adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa menolak produk Jepang dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974. Dilatarbelakangi oleh Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P. Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing. Klimaksnya saat kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang Kakuei Tanaka yang berkunjung ke Jakarta (14-17 Januari 1974), demonstrasi disertai dengan kerusuhan. Aktivis mahasiswa yang mencuat namanya pada masa ini diantaranya Hariman Siregar, sedangkan mahasiswa yang gugur dari peristiwa ini adalah Arif Rahman Hakim.

Gerakan mahasiswa Indonesia 1978. Gerakan yang mengkritik strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional pada 1977-1978 yang mengakibatkan untuk pertama kalinya kampus-kampus perguruan tinggi Indonesia diserbu dan diduduki oleh militer. Hal ini kemudian diikuti oleh dihapuskannya Dewan Mahasiswa dan diterapkannya kebijakan NKK/BKK di seluruh Indonesia.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1980-an

Pasca diberlakukannya NKK/BKK, jalur perjuangan lain ditempuh oleh para aktivis mahasiswa dengan memakai kendaraan lain untuk menghindari sikap represif pemerintah, yaitu dengan meleburkan diri dan aktif di Organisasi kemahasiswaan ekstra kampus seperti HMI (himpunan mahasiswa islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PMKRI (Pergerakan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) atau yang lebih dikenal dengan kelompok Cipayung. Mereka juga membentuk kelompok-kelompok diskusi dan pers mahasiswa.

Gerakan pada era ini lebih terfokus pada perguruan tinggi besar. Puncaknya tahun 1985 ketika Mendagri (Menteri Dalam Negeri) Saat itu Rudini berkunjung ke ITB. Kedatangan Mendagri disambut dengan Demo Mahasiswa dan terjadi peristiwa pelemparan terhadap Mendagri.

Gerakan Mahasiswa Tahun 1990 an

Isu yang diangkat pada Gerakan era ini sudah mengkerucut, yaitu penolakan diberlakukannya terhadap NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus /Badan Kordinasi Kampus) yang membekukan Dewan Mahasiswa (DEMA/DM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan melarang Mahasiswa terjun ke dalam politik praktis.

Organisasi kemahasiswaan seperti ini menjadikan aktivis mahasiswa dalam posisi mandul, karena pihak rektorat yang notabane-nya perpanjangan pemerintah (penguasa) lebih leluasa dan dilegalkan untuk mencekal aktivis mahasiswa yang kritis dan bersuara lantang terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

Di kampus intel-intel berkeliaran, pergerakan mahasiswa dimata-matai. Dan banyak intel berkedok mahasiswa. Pemerintah Orde Baru pun menggaungkan opini adanya pergerakan sekelompok orang yang berkeliaran di masyarakat dan mahasiswa dengan sebutan OTB (organisasi tanpa bentuk). Masyarakat pun termakan dengan opini ini karena OTB ini identik dengan gerakan komunis.

Pemberlakuan NKK/BKK maupun opini OTB ataupun cara-cara lain yang dihadapkan menurut versi penguasa ORBA, tidak membuat mahasiswa putus asa, karena disetiap event nasional dijadikan untuk menyampaikan penolakan dan pencabutan SK tentang pemberlakukan NKK/BKK.

Gerakan mahasiswa decade 90-an mencapai klimaksnya pada tahun 1998, di diawali dengan terjadinya krisis moneter di pertengahan tahun 1997. harga-harga kebutuhan melambung tinggi, daya beli masyarakat pun berkurang. Mahasiswa pun mulai gerah dengan penguasa ORBA, tuntutan mundurnya Soeharto menjadi agenda nasional gerakan mahasiswa.

Gerakan mahasiswa dengan agenda REFORMASI nya mendapat simpati dan dukungan yang luar biasa dari rakyat. Mahasiswa menjadi tumpuan rakyat untuk mengubah kondisi yang ada, dimana rakyat sudah jenuh dengan pemerintahan yang bercokol selama 32 tahun, alih-alih mensejahterakan rakyatnya, Suharto justru semakin memperkaya keluarga dan kroni-kroninya, yang dikenal dengan sebutan jalur ABG (ABRI, Birokrat, dan Golkar).

Gerakan Mahasiswa Tahun 1998

Gerakan mahasiswa Indonesia 1998 adalah puncak gerakan mahasiswa tahun sembilan puluhan yang ditandai tumbangnya Orde Baru dengan lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, pada tanggal 21 Mei 1998. Berbagai kesatuan aksi diberbagai daerah muncul untuk menentang rezim Suharto. Di Aceh terbentuk SMUR (Solidaritas Mahasiswa Untuk Rakyat). Di Medan muncul DEMUD dan Agresu (Aliansi Gerakan Reformasi Sumatera Utara).

Di Bandung lahir FKMB (Forum Komunikasi Mahasiswa Bandung), FIM B (Front Indonesia Muda Bandung), FAMU (Front Aksi Mahasiswa Unisba), GMIP (Gerakan Mahasiswa Indonesia Untuk Perubahan), KPMB (Komite Pergerakan Mahasiswa Bandung), FAF (Front Anti Fasis), KM ITB (Keluarga Mahasiswa ITB), dan KM Unpar (Komite Mahasiswa Unpar).

Di Jakarta lahir KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia), FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta), Forkot (Forum Komunitas Mahasiswa se-Jabotabek), Famred (Front Aksi Mahasiswa Untuk Reformasi dan Demokrasi), Front Nasional, Front Jakarta, KamTri (Kesatuan Aksi Mahasiswa Trisakti), HMI MPO, KB UI (Keluarga Besar Mahasiswa UI), FAM UI, Komrad (Komite Mahasiswa dan Rakyat untuk Demokrasi), Gempur (Gerakan Mahasiswa untuk Perubahan), Forbes, Jarkot, LS-ADI (Lingkar Studi-Aksi untuk Demokrasi Indonesia), dan HMR (Himpunan Mahasiswa Revolusioner).

KBM-IPB (Keluarga Besar Mahasiswa - Institut Pertanian Bogor) muncul di Bogor. Di Yogyakarta ada SMKR (Solidaritas Mahasiswa Untuk Kedaulatan Rakyat), KPRP (Komite Perjuangan Rakyat untuk Perubahan), FKMY (Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta), PPPY (Persatuan Perjuangan Pemuda Yogyakarta), FAMPERA (Front Aksi Mahasiswa Peduli Rakyat), dan LMMY (Liga Mahasiswa Muslim Yogyakarta).

Di Solo, Bali, Malang, dan Surabaya juga lahir puluhan kesatuan aksi yang konsisten menentang kebijakan dan keberadaan rezim Suharto. Gerakan yang menuntut reformasi dan dihapuskannya "KKN" (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998 ini, harus berhadapan dengan berbagai tindakan represif yang menewaskan 4 aktivis mahasiswa Trisakti. Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II , Tragedi Lampung adalah bukti lainnya upaya represif Suharto untuk meredam gerakan ini.

Setelah bergulirnya reformasi pada tahun 1998, pergerakan mahasiswa dihadapkan pada pluralitas gerakan yang sangat tinggi. Mahasiswa pada saat ini memiliki garis perjuangan dan agenda yang berbeda dengan mahasiswa lainnya.

Mahasiswa Pengawal Reformasi

Peran dan fungsi mahasiswa harus kembali dipertegas. Mahasiswa harus mampu mengawasi dan mengontrol reformasi secara utuh seperti saat mereka membidani kelahirannya bulan Mei 1998. Meski demikian, sungguh bahwa mahasiswa masih memiliki idealisme untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia, atau setidaknya di daerahnya masing-masing.

Mahasiswa tetap dikenal masyarakat sebagai agent of change. Hal ini memberikan konsekuensi logis kepada mahasiswa untuk bertindak dan berbuat terus-menerus sesuai dengan gelar yang melekat pada dirinya. Mahasiswa harus tetap memiliki sikap kritis, dan mengambil peran untuk melakukan banyak perubahan terbaik untuk bangsanya.

Di alam demokrasi, suara lantang mahasiswa merupakan representasi dari realitas sosial di masyarakat yang sering kali dikesampingkan oleh para penguasa negeri ini. Masalah pendidikan, pengangguran, beban ekonomi, kesenjangan sosial, moralitas, dan korupsi merupakan beberapa hal yang sering kali menjadi energi bagi mahasiswa untuk terus bergerak membela dan menyuarakan jeritan rakyat.

Pertanyaan penutup dari tulisan ini adalah, bagaimana dengan mahasiswa di Kota Tangerang??

August 16, 2006

Derita Mahasiswa Poltek GT

Filed under: THULABI
MESTINYA SETIAP KITA SEGERA MEMBANTU

 
Kota Tangerang - Jika pihak yang berkecimpung dalam bidang pendidikan tidak paham cara, metode dan aturan main dalam dunia pendidikan, maka yang muncul adalah arogansi, otoriterianisme, dan bahkan premanisme pendidikan.

Hal ini terlihat jelas dengan kasus yang menimpa ratusan mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal. Setelah penetapan Drop Out dua mahasiswa terbaiknya, Indar Dwi Basuki dan Untung Kasirin, yang lolos maju sampai Grand Final Kontes Robot Indonesia 2006, di Balairung Universitas Indonesia 3-4 Juni lalu, pihak Direktur Politeknik Gajah Tunggal men-DO massal 137 mahasiswa yang melakukan aksi solidaritas menentang SK DO 2 rekan mahasiswa sebelumnya.

Tidak hanya sampai disitu, managemen pusat Gajah Tunggal Group (PT. Gajah Tunggal) yang menaungi Politeknik Gajah Tunggal, juga memaksa 40-an dosen tetap dan staff kampus untuk mengundurkan diri. Per Awal Juli ini kampus nyaris kosong dan tidak ada aktivitas perkuliahan sedikit pun.

Tindakan premanisme sampai pada keputusan perusahaan yang menyetop uang saku bulanan mahasiswa mulai awal Juli ini. Hal ini sangat disayangkan dan merugikan pihak mahasiswa. Meskipun secara de facto mahasiswa bisa saja dianggap sudah ter-DO massal, mengingat dosen dan staff kampus juga sudah di PHK sehingga tidak mungkin melanjutkan aktivitas perkuliahan lagi dalam waktu dekat. Tetapi secara de jure, pihak institusi Politeknik Gajah Tunggal belum mengeluarkan SK resmi DO massal terhadap mahasiswa.

Artinya adalah, bahwa pihak perusahaan PT. Gajah Tunggal masih berkewajiban membayarkan uang saku bulanan kepada mahasiswa sesuai dengan surat perjanjian yang telah ditandatangani kedua belah pihak diawal para mahasiswa masuk di Politeknik Gajah Tunggal. Tetapi yang terjadi perusahaan menghentikan pembayaran uang saku kepada mahasiswa. Sudah jelas mahasiswa sangat dirugikan.

Bahkan tindakan premanisme juga hampir melibatkan pihak Pemda Kota Tangerang sebagai pemilik Asrama Tinggal Mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal. Entah ada desakan dari mana, tiba-tiba awal Juli lalu pihak Pemda Kota Tangerang lewat Dinas yang terkait dengan masalah asrama mengeluarkan peringatan kepada ratusan mahasiswa yang tinggal di Asrama, bahwa batas akhir pembayaran asrama adalah hari Minggu, 9 Juli 2006. Jika tidak mampu bayar maka mahasiswa harus angkat kaki dari asrama. Padahal, pada bulan-bulan sebelumnya pihak pengurus asrama secara kolektif membayarkan biaya sewa tinggal kepada pihak Pemda paling cepat setiap tanggal 10. Untungnya hal itu bisa dikomunikasikan pengurus Asrama dengan pihak Pemda yang akhirnya bisa memahami kesulitan yang sedang dihadapi mahasiswa.

Fakta di atas sudah jelas membuktikan wajah asli dari pihak perusahaan pembuat ban itu. Bahwa penyelenggaraan pendidikan tinggi yang dilakukannya tidaklah murni sebagai bentuk perannya kepada masyarakat untuk membantu negara dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Tetapi lebih kepada kepentingan bisnis yang berorientasi kepada profit. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa dengan penyelenggaraan institusi pendidikan ‘gratis’, ada discount pajak yang diterima perusahaan Gajah Tunggal dari pemerintah. Karena dianggap telah melakukan peran sosial yang cukup strategis.

Orientasi profit ini juga terbukti dari perbedaan yang cukup signifikan dalam hal salary lulusan Politeknik Gajah Tunggal jika dibandingkan dengan lulusan Perguruan Tinggi lain yang bekerja di perusahaan Gajah Tunggal Group. Bukan rahasia umum lagi bahwa tingkat salary alumni Politeknik Gajah Tunggal yang bekerja di perusahaan-perusahaan Gajah Tunggal Group lebih kecil jika dibandingkan dengan pekerja yang berasal dari perguruan tinggi lain untuk jenjang latar belakang pendidikan yang sama. Dalam bahasa perusahaan, selisih salary itu merupakan penggantian biaya kuliah selama 3 tahun yang harus dikeluarkan alumni Politeknik Gajah Tunggal. Apalagi besar total biaya yang harus ‘dikembalikan’ cukup besar, berkisar 25 - 30 juta rupiah. Artinya, sesungguhnya mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal bukanlah kuliah gratis melainkan membayar setelah bekerja.

Sikap arogansi terlihat dari statemen Ismail, public relations PT. Gajah Tunggal, sebagaimana di muat di koran tempo tanggal 18 Juli 2006, halaman A13. Ismail mengatakan, "Sekolah ini milik intern perusahaan dan semua biaya perkuliahan ditanggung perusahaan. Siapa pun tidak berhak ikut campur kebijakan kami."

Tampak dari statemennya betapa Gajah Tunggal tidak memahami etika dunia pendidikan. Semestinya mereka mengerti bahwa setiap institusi pendidikan yang sudah terdaftar di DIKTI tidak boleh tidak harus tunduk dan patuh pada tata aturan pendidikan tinggi. Disamping itu, setiap institusi ‘bisnis’ yang bersinggungan dengan kepentingan public tidaklah boleh semaunya sendiri membuat aturan main. Harus didasarkan kepada aturan-aturan standar yang berlaku di negeri ini. Maka salah besar jika Ismail sang public relation PT. Gajah Tunggal mengatakan ’siapapun tidak berhak ikut campur kebijakan kami’.

Yang jelas, akibat ulah arogan dan otoriter pihak Gajah Tunggal, ratusan mahasiswa dan ribuan keluarga mahasiswa dirugikan secara materi dan immaterial.

August 10, 2006

Kita Anti-Yahudi

Filed under: PEMIKIRAN
MENGAPA ISLAM MELAKNAT BANGSA YAHUDI?
 
 
Jika masih ada sebagian orang yang bertanya-tanya, mengapa kita mesti membenci dan waspada terhadap orang-orang Yahudi? Maka jawabannya adalah karena orang-orang Yahudi tidak hanya sekedar keras permusuhannya dengan orang-orang mukmin. Tetapi juga karena kebiadaban dan kebuasan tuntunan ajaran dan syariatnya yang tertuang dalam kitab Talmudz yang mereka sucikan.

Al-Qur’an telah mengabarkan dengan gamblang tentang kerasnya permusuhan orang-orang Yahudi dengan umat Islam di dalam surat Al-Ma’idah: 82, yang bunyinya :

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani." Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri." (QS. Al-Ma’idah: 82)

Sejarah kenabian juga telah membuktikan banyak fakta tentang kedengkian dan permusuhan Yahudi la’natullah. Bahkan Rasulullah Muhammad s.a.w tidak luput dari incaran makar bejatnya.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah sakit yang agak parah, sehingga datanglah kepadanya dua malaikat, yang satu duduk di sebelah kepalanya dan yang satu lagi duduk di sebelah kakinya. Berkatalah malaikat yang berada di sebelah kakinya kepada malaikat yang berada di sebelah kepalanya: "Apa yang engkau lihat?" Ia berkata: "Dia kena guna-guna." "Apa guna-guna itu?" "Guna-guna itu sihir." "Siapa yang membuat sihirnya?" Ia menjawab: "Labid bin al-A’syam Alyahudi yang sihirnya berupa gulungan yang disimpan di sumur keluarga si Fulan di bawah sebuah batu besar. Datanglah ke sumur itu, timbalah airnya dan angkat batunya kemudian ambillah gulungannya dan bakarlah." Pada pagi hari Rasulullah saw. Mengutus Ammar bin Yasir dengan kawan-kawannya. Setibanya di sumur itu tampaklah airnya yang merah seperti pacar. Air itu ditimbanya dan diangkat batunya serta dikeluarkan gulungan itu, padanya ada tali yang terdiri atas sebelas simpul.
(Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab HalaĆ­lun Nubuwah dari al-Kalbi dari Abi Shalih yang bersumber dari Ibnu Abbas)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Yahudi membuatkan makanan bagi Rasulullah saw. Setelah makan makanan itu tiba-tiba Rasulullah sakit keras sehingga shahabat-shahabatnya mengira bahwa penyakit itu timbul dari perbuatan yahudi itu.
(Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam kitab al-Dalaildari Abu Jafar ar-Razi dari ar-Rabi bin Anas yang bersumber dari Anas bin Malik)

Dalam catatan sejarah yang lainnya, kita bisa mendapati bengisnya permusuhan orang-orang Yahudi kepada kaum muslimin sebagaimana terjadi dalam perang Ahzab. Orang Yahudi bersekutu untuk menghancurkan orang-orang mukmin dan untuk membunuh Rasulullah s.a.w.

Dikomandoi orang-orang Yahudi, kaum munafik dan orang-orang musyrik bersekutu membuat makar penghacuran terhadap orang-orang mukmin di Medinah. Mereka telah mengepung rapat orang-orang mukmin sehingga sebagian dari mereka telah berputus asa dan menyangka bahwa mereka akan berhasil dihancurkan oleh musuh-musuh mereka itu. Sampai akhirnya Allah mengirimkan bantuan berupa tentara yang tidak kelihatan dan angin topan, sehingga musuh-musuh itu menjadi kacau balau dan melarikan diri.

Sesudah golongan-golongan yang bersekutu itu kocar-kacir, maka Allah memerintahkan Nabi untuk menghancurkan Bani Quraizhah (Ahli Kitab) dan menghalau mereka dari benteng-benteng mereka. Kemudian seluruh laki-laki yang ikut berperang dibunuh, perempuan dan anak-anak ditawan. "Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memesukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan". (Al-Ahzab: 26).

Laporan yang ditulis Prof. Dr. Mustafa Regev dalam artikelnya yang ditulis di harian al Syarq Qatar pada edisi 2 Agustus 2006, sebagaimana dilansir www.infopalestina.com, mencengangkan kita semua. Kedengkian dan kebengisan orang-orang Yahudi tidak berubah seiring perkembangan zaman. Malahan justru makin meningkat dan beragam bentuk kebiadabannya. Bahkan kesesatan ajarannya telah membentuk penganut-penganutnya menjadi manusia buas dan barbar.

Bunyi ajaran syariat orang-orang Yahudi diantaranya adalah:
"Orang-orang yang tidak mengimani ajaran-ajaran Yahudi dan syariat Yahudi, harus kita persembahkan sebagai korban untuk Tuhan kita yang agung."

"Ketika kamu mendekati suatu kota untuk kau perangi, maka ajaklah untuk damai. Kalau (warga) kota menjawab ajakan damai dan kota dibuka untukmu, maka semua bangsa yang ada didalamnya menjadi milikmu untuk kau tundukkan dan kau perbudak untukmu. Kalau (kota itu) menyerahkan diri kepadamu, bahkan melakukan perang denganmu maka kepunglah. Apabila Tuhanmu mendorongnya ke tanganmu maka bunuhlah semua laki-laki dengan mata pedang. Sedangkan kaum wanita, anak-anak, binatang ternak dan semua yang ada di dalam kota, semua rampasannya jadikanlah rampasan untuk dirimu. Makanlah rampasan musuh-musuhmu yang diberikan Tuhan-mu untukmu."

Dan kini, betapa hari ini mata kita masih hangat oleh air mata menyaksikan saudara-saudara kaum muslimin di Palestina dan Libanon dibantai dengan sadis oleh Israel sang Yahudi la’natullah. Semoga janji Allah segera tiba untuk memenangkan orang-orang beriman diatas orang-orang kafir yang berbuat dzalim.

August 5, 2006

Ritual Yahudi bagian 2

Filed under: SEJARAH
KISAH KEJAHATAN YANG TERKENAL 

 
Di Italia, orang-orang Yahudi menyembelih seorang bocah untuk ditumpahkan darahnya.Sementara di Mesir. Seorang lelaki Yahudi pergi dari Kairo ke kota Bur Sa’ed. Selanjutnya dia menyewa tempat di sebelah barat kota. Berkali-kali mendatangi seorang penjual Yunani di daerah yang sama. Sampai suatu hari dia datang bersama seorang bocah kecil berusia 8 tahun. Orang Yahudi ini kemudian minum arak dan memaksa si bocah meminumnya hingga menarik perhatian orang Yunani tersebut. Pada hari selanjutnya, ditemukan jasad bocah tersebut dicincang secara biadab, tenggorokannya diputus. Peristiwa itu membuat geger warga di Mesir kala itu.
 
Di Suriah, ditemukan mayat seorang wanita kristen, disembelih, tubuhnya kehabisan darah. Pelaku kejahatan ini adalah seorang Yahudi “Revol Ankuta” yang dituduh melakukan penyembelihan. Dia mengambil darah korban untuk digunakan dalam hari raya Pesakh (Paskah). Di Libanon, orang-orang Yahudi menyembelih korban bernama Fathullah al Shaigh. Mereka mengambil darah korban untuk digunakan dalam perayaan hari raya Pesakh.
 
Di negeri Syam, seorang wanita Yahudi “Banud” murtad dari agamanya setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri kejahata-kejahatan Yahudi yang mengerikan. Mereka membunuh anak-anak tidak berdosa demi mengambil darah mereka untuk dicampur dalam jamuan hari raya Pesakh. Dia pun masuk Kristen menjadi biarawati dan meninggal dunia dengan nama “Katrina”. Dia meninggalkan memori (catatan) yang sangat berbahaya tentang kejahatan-kejahatan Yahudi dan kehausan mereka untuk menumpahkan darah. Dalam memorinya dia menyebutkan peristiwa-peristiwa yang dia saksikan sendiri.
 
Di Inggris, ditemukan mayat seorang bocah berusia 12 tahun terbunuh dan berlumuran darah akibat banyak luka ditubuhnya. Saat itu bertepatan dengan hari raya (jamuan) Pesakh Yahudi. Hal itu tidak membuat ragu lagi bagi warga Inggris bahwa pembunuh bocah tersebut orang-orang Yahudi. Akhirnya berhasil dibekuk para pelaku kejahatan ini yang kesemuanya ternyata adalah orang Yahudi. Ini merupakan persoalan yang pertama kali terungkap dan catatannya masih tersimpan di keuskupan Inggris!!
 
Di ibukota London telah ditemukan jasad seorang bocah di sebuah pemakaman suci. Pada tubuh korban tidak ditemukan setetes darahpun yang telah dikuras dengan luka khusus. Orang Yahudi menculik bocah lain dari Lincoln. Dan itu terjadi pada hari raya jamuan suci Pesakh. Mereka menyiksa korban, menyalib dan menguras darahnya. Ayah korban menemukan jasad anaknya di sumur dekat rumah orang Yahudi. Saat dilakukan penyidikan, sang Yahudi mengakui terlibat dalam kejahatan ini. Sebanyak 91 orang Yahudi diajukan ke pengadilan dan 18 di antaranya dijatuhi hukuman mati.
 
Kejahatan orang Yahudi di Inggris terus berlanjut hingga tahun 1290 ketika orang-orang Yahudi menyembelih Oxford, seorang bocah Kristen, dan diambil darahnya. Kejahatan ini membuat raja Edward I mengeluarkan perintahnya yang sangat bersejarah tentang pengusiran orang-orang Yahudi dari Inggris. Di Perancis, seorang remaja Kristen dijual kepada Yahudi pada tahun 1192. Orang-orang Yahudi kemudian menyembelih dan menampung darahnya. Saat pengadilan di gelar, raja Philip Agustus menghadiri langsung pesidangan dan memerintahkan orang-orang Yahudi yang melakukan kejahatan ini agar dibakar mati.
 
Di Jerman, orang Yahudi menculik seorang bocah berusia 3 tahun kemudian membunuh korban setelah diambil darahnya. Pelaku kejahatan ini dijatuhi hukuman mati dengan dibakar!! Di Spanyol, salah seorang Yahudi memberikan pengakuan atas teman-temannya dan orang-orang yang ikut dengannya dalam menyembelih salah seorang bocah dan mengambil darahnya. Dalam kasus ini, sebanyak 8 orang Yahudi dijatuhi hukuman mati. Kasus inilah yang menjadi penyebab dikeluarkannya keputusan pengusiran orang-orang Yahudi dari Spanyol pada tahun 1490.
 
Di Swiss tahun 1287, tepatnya di Berne, orang-orang Yahudi menyembelih seorang bocah bernama Rudolf di rumah orang Yahudi kaya raya di kota Berne. Orang-orang Yahudi mengakui kejahatan mereka dan banyak dari mereka yang dihukum mati. Kota Berne membuat patung yang menggambarkan orang Yahudi tengah makan seorang bocah kecil, patung ini dipasang di kampung Yahudi guna mengingatkan mereka atas kejahatan buas yang mereka lakukan.
 
Di Austria tahun 1462, di daerah Insbirk, seorang bocah Kristen dijual kepada orang Yahudi lalu mereka menyembelihnya di atas batu di dalam gua. Darah korban digunakan untuk merayakan hari raya Pesakh. Setelah kejadian itu, pihak pemerintah mengeluarkan sejumlah keputusan yang mewajibkan orang-orang Yahudi mengikatkan tali berwarna kuning di lengan kiri mereka guna membedakan mereka dengan orang-orang Swiss untuk menghindari kejahatan mereka.
 
Di Italia tahun 1475, seorang bocah berusia 3 tahun bernama Simon dinyatakan hilang. Ketika semua mata (kecurigaan) diarahkan ke orang-orang Yahudi, mereka menghadirkan mayat bocah dari selokan guna menjauhkan tuduhan. Setelah dilakukan penyelidikan terbukti bahwa korban tidak mati karena tenggelam, namun karena kehabisan darah yang dikeluarkan melalui luka di bagian leher, pergelangan tangan dan kaki. Orang-orang Yahudi mengakui atas kejahatan tersebut. Mereka berdalih sangat membutuhkan darah untuk menyempurnakan ritual agama mereka serta untuk membuat adonan roti hari raya mereka dengan darah manusia dan anggur. Sebanyak 7 orang Yahudi dijatuhi hukuman mati dalam kasus ini.
 
Di Hongaria, orang-orang Yahudi menculik seorang gadis remaja Kristen berusia 14 tahun. Seorang bocah perempuan Yahudi mengakui dirinya menyaksikan ibunya mengundang anak perempuan Kristen ke rumahnya. Selanjutnya korban digiring sejumlah orang Yahudi ke Sinagog. Seorang anak laki-laki Yahudi mengakui, dia menyaksikan aksi penyembelihan korban dan pengumpulan darah dalam wadah besar. Sejumlah orang Yahudi mengakui ikut terlibat dalam aksi pembunuhan ini guna merayakan hari raya Yahudi Pesakh. Sebanyak 15 orang Yahudi diajukan ke pengadilan, dan ini menjadi pengadilan bersejarah di Hongaria. Namun kekuatan dana (sogok) Yahudi telah menghancurkan kebenaran dalam kejahatan ini dan pengadilan membebaskan orang-orang Yahudi dari tuduhan pembunuhan. Meskipun semua bukti tuduhan menunjuk kepada keikutsertaan mereka dalam aksi kejahatan ini. Kejahatan ini menimbulkan situasi anti Yahudi yang menyebar di seluruh Eropa.
 
Di Rusia, bertepatan dengan hari raya jamuan suci Yahudi, hilang seorang anak laki-laki berusia delapan setengah tahun. Seminggu kemudian, jasad korban ditemukan di sebuah rawa dekat kota. Saat dilakukan otopsi terhadap korban ditemukan banyak luka dari jarum tajam di seluruh tubuhnya, namun tidak ditemukan bekas darah setetespun di tubuhnya. Karena korban telah dimandikan sebelum dikenakan bajunya kembali. 3 orang wanita Yahudi mengakui sebagai pelaku kejahatan tersebut.
 
Di Turki, di pulau Rudes, bertepatan dengan hari raya Yahudi Purim, seorang anak laki-laki Yunani dinyatakan hilang. Sebelumnya bocah ini terlihat memasuki kampung Yahudi di pulau tersebut. Ketika orang-orang Yunani marah dan meminta dilakukan pencarian terhadap bocah tersebut, hakim Turki Yosef Pasha terpaksa mengepung perkampungan Yahudi dan menahan para pemimpin Yahudi. Jurnal Ma’arev cetakan tahun 1905 jilid 10 halaman 410 mengakui melalui tokoh milyuner Yahudi, pejabat pemerintah Turki Utsmani kala itu berhasil disogok.
 

Ditulis oleh Prof. Dr. Mustafa Regev, Al-Syarq Qatar (2 Agustus 2006)

August 4, 2006

Ritual Yahudi bagian 1

Filed under: SEJARAH
2 PERINTAH PENYIKSAAN RITUAL YAHUDI

COMES: Di antara episode-episode yang sangat berkesan dan terkenal dari drama “Pedagang Senjata” karya Shakeshpeare adalah sebuah episode yang di dalamnya menampilkan “seorang pedagang Yahudi di Venesia (Italia), pada satu waktu dia melakukan pertaruhan terhadap daging seorang bocah Kristen, yaitu dengan memotong bagian tubuh bocah yang sudah disepakati.”

Ungkapan dari syariat mereka diantaranya sebagai berikut: “Orang-orang yang tidak mengimani ajaran-ajaran agama Yahudi dan syariat Yahudi, harus kita persembahkan sebagai korban untuk Tuhan kita yang agung.” Adalagi, “Ketika kamu mendekati suatu kota untuk kau perangi maka ajaklah untuk damai. Kalau (warga) kota menjawab ajakan damai dan kota dibuka untukmu, maka semua bangsa yang ada di dalamnya menjadi milikmu untuk kau tundukan dan kau perbudak untukmu. Kalau (kota itu) tidak menyerahkan diri kepadamu, bahkan melakukan perang denganmu maka kepunglah. Apabila Tuhanmu mendorongnya ke tanganmu maka bunuhlah semua laki-laki dengan mata pedang. Sedangkan kaum wanita, anak-anak, binatang ternak dan semua yang ada di dalam kota, semua rampasannya jadikanlah rampasan untuk dirimu. Makanlah rampasan musuh-musuhmu yang diberikan Tuhan-mu untukmu.”

Bagaimana mereka mumpahkan darah? Orang-orang Yahudi memiliki banyak cara dalam menumpahkan darah korbannya:


1. Menggunakan Tong Berjarum.

Yaitu subuah tong yang pas dengan tubuh korban yang di seluruh sisinya dipasang jarum tajam yang menusuk tubuh korban saat diletakan di dalam tong agar darah mengalir secara perlahan dari seluruh bagian tubuh korban, yang disertai dengan penderitaan yang teramat sangat sehingga menimbulkan sensasi kenikmatan bagi orang-orang Yahudi yang menyaksikan darah mengucur dari tubuh korban kemudian mengalir dari bawah tong ke bejana yang sudah disiapkan untuk menampung darah.

2. Penyembelihan dan Pembersihan.

 
Cara ini dilakukan dengan menyembelih korban sebagaimana menyembelih kambing dan darahnya dibesihkan dalam wadah, atau memotong pembuluh-pembuluh korban agar darah mengucur keluar dan dikumpulkan dalam wadah yang kemudian diserahkan kepada Hakom (Rabbi) yang melakukan persiapan jamuan suci yang berlumuran dengan darah untuk mendapatkan ridha dari tuhan Yahudi yang haus akan pertumpahan darah. Tidak ada kebahagiaan bagi Yahudi dalam hari-hari raya mereka apabila tidak memakan jamuan yang berlumuran darah (orang) non Yahudi. Yahudi masa lalu mengutamakan darah (orang) Kristen karena kedengkian keagamaan yang mereka sembunyikan terhadap agama dan orang-orang Kristen, (korban) selanjutnya setelah itu adalah kaum muslimin.

August 1, 2006

Jalan Aksi Mahasiswa Poltek

Filed under: THULABI

PERCEPAT PROSES ADVOKASI MAHASISWA POLTEK GT

 
KOTA TANGERANG - Masa perjuangan menuntut kebenaran dan keadilan para mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal sudah memasuki hari ke-42. Upaya-upaya yang telah diupayakan belum juga membuahkan hasil yang berpihak kepada mahasiswa.

Mulai dari upaya negosiasi penyelesaian internal yang dilakukan oleh tim mahasiswa yang didampingi DEMA (Dewan Mahasiswa) tanggal 15 Juni lalu, sampai dengan pengaduannya ke fraksi PKS DPR RI tanggal 18 Juli kemarin, belum ada titik terang, kapan proses perjuangan menuntut keadilan ini akan segera tuntas. Runutan langkah yang terekam dalam perjalanan aksi mahasiswa bisa dilihat sebagai berikut:

13 Juni 2006 : Keluar SK Pemecatan (DO) 2 mahasiswa berprestasi, Indar Dwi Basuki dan Untung kasirin. Keputusan arogan ini mengusik hati nurani mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal. Gaya kepemimpinan direktur Politeknik Gajah Tunggal, Budiman Ivino, yang selama ini sangat diktator dan otoriter menyulut mahasiswa untuk sampai kepada kesatuan kata dan tekad: aksi menentang arogansi, ke-diktator-an, dan ke-otoriter-an.

14 Juni 2006 : Mahasiswa Tk. II (semester 4) dan mahasiswa Tk. I (semester 2), berjumlah 137 mahasiswa, melakukan aksi solidaritas mogok belajar. Pada hari ini dilakukan negosiasi untuk menuntut pencabutan SK Pemecatan diatas. Karena sikap pengecut direktur Politeknik Gajah Tunggal, yang tidak berani mempertanggungjawabkan tindakannya berhadapan dengan mahasiswa, negosiasi dilakukan di Gajah Tunggal Grup Tangerang.

Budiman Ivino bersembunyi dibelakang management Gajah Tunggal dengan menebar opini dan isu yang menyesatkan, bahwa 2 mahasiswa (Indar & Untung) telah melakukan korupsi dan merugikan secara material Politeknik Gajah Tunggal. Benny Gozali, pimpinan Perusahaan Gajah Tunggal Tangerang, bukan menjadi penengah atau peredam masalah, secara membabi buta menyalahkan mahasiswa dan mendukung penuh keputusan direktur Politeknik Gajah Tunggal.

Karena negosiasi tak seimbang itu menemui jalan buntu, sore harinya seorang perwakilan mahasiswa dan 2 mahasiswa yang di DO mengadukan kasusnya ke fraksi PKS DPRD Kota Tangerang. Sementara aksi mogok belajar masih berlangsung dihalaman kampus Politeknik Gajah Tunggal hingga jam 18.00 WIB.

15 Juni 2006 : Mahasiswa kembali melakukan aksi solidaritas dengan mogok kuliah di halaman kampus. Koran Satelit News memuat berita ‘aksi solidaritas’ mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal, tetapi kontennya justru menyudutkan mahasiswa. Mengambil informasi dari Ismail, Public Relations PT. Gajah Tunggal, dikatakan pada koran itu bahwa 2 mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal di DO karena nilainya kurang (padahal proses DO berdasarkan nilai hanya bisa dilakukan setelah hasil UAS keluar, sementara sesuai jadwal akademik Politeknik Gajah Tunggal baru akan melaksakan UAS tanggal 10 Juli 2006). Jadi, Ismail, PR PT. Gajah Tunggal telah memberikan keterangan palsu, berbohong kepada publik Kota Tangerang dan warga Banten pada umumnya.

16 Juni 2006 : Harian Seputar Indonesia (Sindo), Koran Tempo, dan Tribun Banten, memuat aksi solidaritas mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal. Diharian Tribun Banten memuat berita foto dengan isi teks yang kurang lebih muatannya sama dengan pemberitaan Satelit News sehari sebelumnya, bahwa mahasiswa melakukan aksi solidaritas untuk rekannya yang di DO karena nilainya rendah. Lagi-lagi narasumbernya adalah Ismail, PR PT. Gajah Tunggal.

Harian Sindo lebih objektif, diberitakan didalamnya bahwa aksi mahasiswa politeknik gajah tunggal adalah dalam rangka solidaritas 2 rekannya yang di DO secara sepihak oleh Budiman Ivino per 12 Juni 2006. Dalam keterangannya Ismail tidak bisa berdusta lagi, karena pihak redaksi SINDO sudah menerima dokumen dan kronologis dari mahasiswa yang dibagikan untuk kalangan pers dan umum sehari sebelumnya. Ismail mengatakan bahwa 2 mahasiswa tersebut (Indar & Untung) di DO karena point-point tuduhan yang tercantum dalam SK DO direktur Politeknik Gajah Tunggal. Hanya saja SINDO tidak mengkritisi kebijakan Budiman Ivino yang otoriter.

Koran Tempo, memuat berita yang cukup baik. Disamping bersifat objektif, pesan yang terkandung didalamnya adalah menyayangkan sikap Direktur Politeknik Gajah Tunggal yang sewenang-wenang.

Fraksi PKS mem-follow-up pengaduan mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal, dan membawanya ke Komisi B DPRD Kota Tangerang, yang membidangi masalah pendidikan. Hari itu perwakilan mahasiswa melakukan hearing dengan komisi B. Hasilnya, komisi B berjanji akan memanggil Direktur Politeknik Gajah Tunggal, Budiman Ivino, pada hari Senin 17 Juli 2006, untuk melakukan klarifikasi dan langkah penyelesaian masalah.

Mahasiswa juga mengirim perwakilannya untuk menemui HRD Gajah Tunggal Grup Pusat, di Wisma Hayam Wuruk Jakarta. Dari perbincangan dengan Pimpinan HRD Pusat, Ope Mustofa, ditarik kesimpulan bahwa SK bermasalah yang dikeluarkan oleh Budiman Ivino sangatlah sulit dianulir, akar masalahnya adalah terbentur soal prestise corporasi Gajah Tunggal Group yang tidak mau gentle mengakui kesalahannya kepada mahasiswa dan publik. Sehingga bukan lagi masalah siapa yang benar akan dibela, atau yang salah akan dihukum, tetapi lebih kepada ketidakamuan menelan resiko rasa malu yang harus ditanggung Gajah Tunggal Grup jika ‘ditaklukkan’ oleh mahasiswa yang dibiayainya.

17 Juni 2006 : Pihak PT. Gajah Tunggal melakukan upaya intimidasi kepada para mahasiswa untuk menghentikan aksi dengan cara memberikan ancaman-ancaman tertentu kepada beberapa karyawannya yang memiliki hubungan kekerabatan dengan mahasiswa di Politeknik Gajah Tunggal.

19 Juni 2006 : Budiman Ivino datang menghadiri panggilan Komisi B DPRD Kota Tangerang, sementara mahasiswa sudah dicekal pihak Gajah Tunggal melalui security. Mereka tidak boleh memasuki wilayah kampus, kecuali menandatangani formulir pernyataan penghentian aksi. Akhirnya mahasiswa terkonsentrasi di asrama, yang berlokasi sekitar 2 km dari kampus. Siang harinya mereka mendatangi gedung DPRD Kota Tangerang bersamaan dengan waktu pemanggilan Budiman Ivino oleh Komisi B.

Puluhan mahasiswa yang mewakili Komunitas BEM Tangerang (KOMBET), sudah lebih awal melakukan aksi diteras gedung DPRD untuk memberikan dukungan moral kepada para mahasiswa Poltek Gajah Tunggal, sekaligus pressure kepada Komisi B agar tidak segan2 melakukan tindakan tegas kepada Direktur Politeknik Gajah Tunggal yang telah bertindak sewenang-wenang.

Kedatangan Budiman Ivino ke gedung DPRD Kota Tangerang dikawal puluhan ‘alumni sukses’ yang memang sudah cukup akrab dengan Budiman lewat rutinitas acara kebhaktian di perusahaan. Sekali lagi, membuktikan bahwa dirinya sangat pengecut: dia yang membakar lumbung, orang lain yang ngga tahu-menahu diajak memadamkannya.

Budiman dipanggil secara tertutup untuk melakukan klarifikasi berkenaan dengan pengaduan mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal, sementara diluar gedung aksi mahasiswa berlangsung dari jam 12.30 dsampai dengan jam 15.00 WIB. Setelah sekitar 1,5 jam pertemuan tertutup, PO Abas Sunarya selaku ketua Komisi DPRD Kota Tangerang bersama anggota legislatif lainnya, dan pihak rombongan Budiman Ivino keluar menemui mahasiswa untuk menyampaikan hasil pertemuan.

Hasil pemanggilan Komisi B terhadap Direktur Politeknik Gajah Tunggal memang jauh dari harapan mahasiswa. Abas hanya mengungkapkan bahwa dewan hanya berfungsi sebagai mediator, dan kedua belah pihak mesti bersikap mencari solusi. Disampaikannya bahwa Budiman Ivino meminta waktu tangguh selama 1 pekan untuk mengeluarkan putusan lebih lanjut. Sedangkan mahasiswa dinyatakan diliburkan untuk sementara waktu selama satu pekan.

26 Juni 2006 : Jeda waktu satu pekan yang dijanjikan Budiman Ivino tiba. Tetapi niat baik dari pihak Direktur Politeknik Gajah Tunggal itu tidak tampak terlihat. Hal ini ditunjukkan dengan sikapnya yang menutup komunikasi dengan pihak DPRD dan mahasiswa. Bahkan dirinya menebar opini dikalangan management PT. Gajah Tunggal tbk. bahwa kasus DO 2 mahasiswa sudah ditunggangi kepentingan politik, sehingga dirinya berlepas tangan dan menyerahkan kasus ini kepada pemilik pusat Politeknik Gajah Tunggal, Icih Nursalim (adalah istri Syamsul Nursalim, terdakwa kasus BLBI yang lari ke Singapura).

Masalah menjadi berkembang, karena pusat memutuskan pembekuan aktivitas perkuliahan secara total. Mahasiswa statusnya dibuat mengambang, diliburkan sampai batas waktu yang ditentukan kemudian. Sementara dosen tetap dan para staff kampus dipaksa mengajukan surat pengunduran diri. Kontan, kampus Politeknik tidak mungkin lagi mengadakan aktivitas perkuliahan lagi, minimal dalam waktu dekat. Bahkan kabar yang berkembang, Politeknik akan di tutup minimal untuk jangka waktu 3 tahun.

Gelap matanya pimpinan pusat gajah tunggal, yang diawali kecerobohan dan arogansi direktur politeknik gajah tunggal mengancam dan sangat merugikan masa depan para mahasiswa. Untuk itu, mulai 2 Juli 2006 perjuangan mahasiswa didampingi kuasa hukum Muhammad Luthfi, SH. dari LBH Bela Bangsa. Langkah2 perlawanan terlihat semakin membaik dengan penyebaran opini yang cukup intensif dimedia massa baik lokal maupun nasional. Termasuk langkah pengaduan ke DPR RI komisi X yang menangani masalah pendidikan.

Semoga langkah perjuangan dari rekan2 mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal menemukan titik terang. Kemudian Allah SWT. memenangkan kebenaran, dan menghinakan kedzoliman. Amiin.

Nafas saudara2 kita mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal sangat terbatas, maka kesigapan dan kecepatan kita membantunya adalah cara terbaik untuk mengadvokasi mereka. Semoga Allah memuliakan antum yang meringankan beban saudaranya. Amiin.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer