Tragedi Pembuat Robot
Mungkin ini adalah peristiwa pilu yang sangat-sangat mencabik sejarah dunia pendidikan. Jika mahasiswa dikampus lain dengan prestasi dan karyanya pulang mendapatkan medali, hadiah dan penghargaan yang sepantasnya, atau minimal ucapan selamat dan kebanggaan, lain halnya dengan 2 mahasiswa Politeknik Gajah Tunggal, Indar Dwi Basuki dan Untung Kasirin. Keduanya justru diganjar dengan Drop Out oleh Budiman Ivino, direktur Polyteknik Gajah Tunggal dengan alasan yang sungguh sangat mengherankan.
Mereka dituduh menggelapkan uang hadiah yang diberikan panitia penyelenggara kepada team robotnya, mereka juga dituduh memberikan keterangan palsu, dituduh menyalahgunakan wewenang institusi, dan dituduh merugikan Politeknik Gajah Tunggal secara material maupun immaterial. Sungguh mengherankan tuduhan-tuduhan itu jika dilihat akar masalahnya adalah uang kecil senilai 4 juta rupiah, yang memang disiapkan Panitia Penyelenggara Kontes Robot Indonesia bagi setiap peserta yang lolos uji visitasi, bukan untuk institusi kampus.
Sekali lagi, uang 4 juta itu bukan untuk institusi kampus melainkan untuk operasional team Robot menjelang tahap Grand Final tanggal 3-4 Juni 2006 di Balairung Universitas Indonesia. Hal ini dibuktikan ketika Direktur Politeknik Gajah Tunggal mengutus Kholidun Pane (salah seorang dosen), untuk meminta uang 4 juta tersebut ditolak mentah-mentah oleh Panitia Penyelenggara. Dan pihak panitia menegaskan bahwa uang itu adalah untuk operasional setiap Team Robbot menuju Grand Final.
Dan kenyataanya memang 1,15 juta dari uang yang 4 juta itu dipakai untuk mengganti beberapa onderdil robot yang rusak. Selebihnya digunakan oleh mahasiswa team robot untuk mengembalikan uang pinjaman dari mantan dosen pembimbingnya, karena dari awalnya memang mereka tidak mendapatkan sepeser rupiah pun dari pihak institusi Politeknik. Meraka berangkat ikut kompetisi hanya bermodalkan izin dari pimpinan Politeknik, tidak beserta dana pendukungnya. Hingga uang dikantong-kantong mereka juga ludes untuk mewujudkan robot karyanya.
Ibarat ‘air susu dibalas dengan air tuba’. Mereka mewakili Politeknik Gajah Tunggal, bahkan versi Panitia mereka dianggap mewakili Kota Tangerang, sebagaimana team-team lain mewakili daerah asalnya, tetapi prestasinya yang mengharumkan dan membawa nama baik kampus dan daerahnya dibalas dengan fitnah dan tuduhan keji.
Mengherankan memang, maka pantaslah kemudian muncul pertanyaan; ‘Sebenarnya dibangun diatas landasan apakan institusi Politeknik Gajah Tunggal ini? Dibangun diatas itikad baik, empati sosial, dan dedikasi yang tinggi.. ataukah dibangun diatas arogansi, otorianisme, kebencian,dan kesewenang-wenangan?’ Ini PR besar bagi siapa saja yang merasa punya tanggung jawab moral terhadap kampus kedinasan yang ada di Kota Tangerang ini. Yang jelas di era perbaikan ini (reformasi), tidak ada lagi tempat bagi arogansi, otorianisme dan kesewenang-wenangan, di dunia pendidikan khususnya dan negeri tercinta ini pada umumnya.
Itulah yang kemudian mendorong ratusan mahasiswanya melakukan negosiasi dan aksi solidaritas untuk membela rekannya demi mendapatkan keadilan. Akan tetapi, upaya-upaya yang mereka tempuh justru berbuntut kepada ‘pembekuan’ institusi Politeknik Gajah Tunggal. Dimana saat ini dosen-dosen tetap sudah hampir seratus persen dipaksa mengundurkan diri dan diberhentikan. Sementara mahasiswa dibiarkan begitu saja, diliburkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Ini bukanlah logika dan cara bertindak pihak-pihak yang memiliki dedikasi tinggi, tetapi sebaliknya, kembali ke jaman penjajahan yang setiap orang merdeka sangat membencinya. Sungguh sangat disayangkan.
Sungguh mahal harga kebenaran dan keadilan. Lalu, dimana hati nurani kita???







