………… … escapade to heaven

July 3, 2008

Cincin Emas

Filed under: REALITAS

LAKI - LAKI BERCINCIN EMAS 

 
Beberapa hari yang lalu seorang teman di kantor mendekati saya. Ia pun tanpa sungkan menyampaikan pertanyaan, "Mas, hukumnya memakai perhiasan emas bagi laki-laki itu gimana sih?". Secepat kilat saya pun menjawab, "Ya haram dong. Masa gitu aja nanya, bukannya sudah jelas mas Udin?" Dengan sedikit tersipu ia pun membenarkan keterangan saya. Terlihat ia mengangguk menunjukkan bahwa dirinya pun sudah tahu. Namun hanya sekedar tahu tanpa paham penjelasan dasarnya apalagi dalil syar’inya, demikian menurut pengakuannya.

Rupanya selidik punya selidik, akhirnya ia menceritakan latar belakang pertanyaannya. Bahwa di dekat rumah tinggalnya ia mendapati salah seorang tetangganya rajin sholat berjamaah lima waktu di masjid. Tetangga tersebut ia kenal sebagai orang yang cukup dipandang, baik dari interaksinya dengan lingkungan maupun kata-katanya yang terkadang dapat menjadi ‘referensi’ kegiatan di masyarakat tersebut. Akan tetapi, satu hal yang mencuri perhatian teman saya adalah bahwa lelaki tetangganya itu gemar memakai perhiasan yang terbuat dari emas.

Pada saat kebetulan bertemu saat berangkat menuju masjid untuk sholat berjamaah, teman saya tergerak untuk mengomentari beberapa perhiasan emas yang gemar dipakai tetangganya tersebut. Baik cincin, jam tangan, maupun benda lainnya.  "Bukannya laki-laki pakai emas itu di larang, Pak?", tanya teman saya kepada tetangganya. "Siapa bilang. Emas itu kan sama statusnya dengan mobil, motor, HP, atau perhiasan lain yang sudah barang tentu tujuan keberadaannya itu untuk dipakai dan dimanfaatkan manusia. Gimana ceritanya jadi barang yang dilarang, memang ada dalilnya?" sangkal tetangganya. Karena pemahaman agamanya masih terbatas dan kurang memahami lebih dalam, maka teman saya pun terdiam meski dirinya yakin bahwa emas memang dilarang bagi laki-laki untuk memakainya.

Tetangga tersebut pun merasa persepsinya itu benar lantaran teman saya itu tidak mampu memberikan penjelasan. Namun terpikir untuk mencari cara lain agar bisa menasehati tetangganya tersebut. Ia bilang, "Aku memang nggak bisa menjelaskan, tapi nanti saya coba tanyakan ke seorang teman saya di kantor. InsyaAllah nanti bisa memberikan penjelasan."

Ternyata demikian latar belakangnya kenapa teman saya itu menanyakan pertanyaan diatas. Saya terhenyak dan mencoba merenung lebih jauh. Sampai persoalan yang sudah sangat jelas dan populer, seperti hukum memakai emas bagi laki-laki ini, masih banyak orang yang belum memahaminya. Baik dalam arti sama sekali belum mengetahui ataupun tahu sekedar tahu tanpa pernah mengerti dasar hukumnya. Dan akhirnya saya harus menyadari bahwa inilah realitas masyarakat kita yang masih banyak awam terhadap agamanya sendiri. Dalam arti lain, masyarakat ini masih sangat haus untuk mendapatkan siraman pengetahuan termasuk dalam hal-hal yang ‘remeh’ seperti ini. Kewajiban para da’i untuk menyampaikan kepada mereka Al-Islam ini secara utuh dan perlahan-lahan namun kontinyu dan intensif.

Dari realitas diatas, maka ada baiknya kita sejenak mereview kembali pengetahuan kita tentang bagaimana sesungguhnya Allah SWT mendudukkan perhiasan emas ini bagi kaum laki-laki. Suatu ketika Rasulullah saw mengambil sutera dan dipegangnya dengan tangan kanan. Lalu, beliau mengambil emas dan dipegangnya dengan tangan kiri. Kemudian beliau bersabda, “Dua macam perhiasan ini haram bagi kalangan laki-laki umatku.” (HR Ahmad, Abu Daud, an-Nasa`I, Ibn Hibban, dan Ibnu Majah)

Syaikh bin Baz, menjelaskan bahwa emas adalah perhiasan yang tidak diperbolehkan bagi kaum laki-laki mukmin dan memakainya termasuk perbuatan munkar bagi mereka, baik emas yang dipakai itu berupa cincin, jam tangan atau kalung. Keterangannya ini dimuat pada Majalah Ad-Dakwah, edisi no. 1044. Pendapatnya ini disandarkan kepada sabda Rasulullah saw., "Emas dan sutera dihalalkan bagi kaum wanita dari kalangan umat kami, dan diharamkan bagi kaum laki-lakinya". (An-Nasa’i, bab Perhiasan 5148, Ahmad 19008-19013)

Pada hadits yang lain disebutkan, diriwayatkan dari Ali radiallahuanhu bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Diharamkan memakai sutra dan emas bagi kalangan laki-laki umatku dan dibolehkan bagi kalangan wanitanya“. (HR Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Bahkan secara tegas Rasulullah saw. telah melarang kaum laki-laki memakai cincin emas. Dari Al-Bara’ bin Azib Radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah saw. melihat seorang laki-laki memakai cincin emas di tangannya, maka beliau memintanya supaya mencopot cincinnya, kemudian melemparkannya ke tanah, seraya bersabda. "Salah seorang dari kalian sengaja mengambil bara api neraka dan meletakkannya di tangannya". (Hadits Riwayat Muslim dalam kitab Shahihnya, bab Pakaian 2090).

Rasulullah pada awalnya memang pernah membuat cincin yang terbuat dari emas. Menyaksikan hal ini, para sahabat pun berlomba mengikuti Rasulullah. Mereka membuat cincin yang serupa dengan apa yang dibuat oleh Rasulullah. Akan tetapi, rntang peristiwa ini tidaklah berlangsung lama. Hingga pada sebuah kesempatan di dalam majelis masjid Rasulullah menyampaikan pelarangan perhiasan emas bagi kamu laki-laki.

Diriwayatkan dari Umar, dia berkata, “Rasulullah saw. pernah membuat cincin emas, dan ketika memakainya meletakkan matanya dibagian dalam telapak tangannya, maka orang-orang juga membuat cincin emas. Kemudian Rasulullah duduk diatas mimbar dan menanggalkan cincinnya sambil bersabda, ‘Sungguh aku telah memakai cincin ini dan aku letakkan matanya di perut telapak tangan‘ Lalau beliau membuang cincin itu sambil berkata, ‘Demi Allah aku tidak akan memakainya lagi selama-lamanya‘ maka orang-orang pun membuang cincin mereka”. (HR Bukhari dan Muslim) [Shahih Muslim no. 3898].

Atas pelarangan tersebut para sahabat pun segera menanggalkan cincin-cincin emas yang telah dilarang Rasulullah. Kuatnya ketaatan para sahabat terhadap perintah Rasulullah saw. ditunjukkan dengan sifat bara’ mereka yang sangat tegas. Dimana sahabat yang awalnya memakai cincin emas tak lagi mau memungut cincinnya yang terlanjur dibuang oleh Rasulullah saw. dari jemari tangannya, bahkan untuk sekedar dimanfaatkan selain untuk dipakainya. Suatu ketika Rasulullah saw. melihat sebuah cincin emas ditangan seorang lelaki, beliau pun melepaskan cincin itu dan membuangnya, seraya bersabda, “Salah seorang dari kalian sengaja mengambil bara api neraka dan meletakkannya ditangannya“, Setelah itu Rasulullah pun pergi. Para sahabat berkata kepada lelaki itu “Ambillah cincinmu itu dan manfaatkanlah“. Lelaki itu menjawab “Tidak demi Allah, aku tidak akan mengambilnya setelah Rasulullah membuangnya“. (HR Muslim)

Demikian pula dengan hadis riwayat Barra’ bin Azib ra., semakin menguatkan haramnya hukum memakai emas bagi kaum Adam. Ia berkata: Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk melaksanakan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara. Beliau memerintahkan kami menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang bersin (mengucap yarhamukallah), melaksanakan sumpah dengan benar, menolong orang yang teraniaya, memenuhi undangan dan menyebarkan salam. Beliau melarang kami dari cincin atau bercincin emas, minum dengan wadah dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qas (terbuat dari sutera) serta mengenakan pakaian sutera baik yang tebal dan tipis. (Shahih Muslim No.3848)

Oleh karena itu, berdasarkan teks-teks diatas dapat dipahami bahwa hukum mengenakan cincin emas bagi laki-laki adalah jelas-jelas haram. Baik memakai cincin emas, jam tangan emas, ataupun dalam bentuk yang lain.Semoga siapapun yang dalam dadanya ada iman dan Islam segera mematuhi dan tunduk kepada hukum-hukum Allah. Dan tak ada lagi tawar-menawar dalam urusan ini sebagaimana firman Allah SWT.:

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka” (Al-Ahzab : 36)

June 26, 2008

Daya Juang Turki

Filed under: NASEHAT

BELAJAR DARI ‘FIGHTING SPIRIT’ TURKI


Tim besutan Fatih Terim mampu menampilkan icon baru di Uero 2008 ini. Mereka dikenal sebagai Tim yang memiliki semangat dan daya juang tinggi meski akhirnya harus kandas di semifinal menghadapi Jerman (26/06/08). Sebab, dimanapun pertandingan memang yang terpenting adalah menang, bukan sedikit atau banyak selisih gol yang diciptakan. Namun seringkali sikap mental positif yang menonjol dalam sebuah pertempuran jauh lebih berarti ketimbang kemenangan itu sendiri. Seperti ajang Motor GP beberapa pekan lalu, dimana Stonner jauh melaju sampai finish meninggalkan pembalap-pembalap lainnya, termasuk Rossi yang masuk finish diurutan kedua dibalakang Stoner. Namun, sepanjang beberapa lap terakhir kamera lebih sering menyorot upaya Rossi yang sedikit-demi sedikit menyalip lawan-lawannya dari posisi awal yang hanya start di posisi ke-7. Sementara sejak start Stoner memang sudah diposisi pertama. Stoner memang memenangi kejuaraan, namun Rossi memenangi pertempuran. Stoner win the game, but Rossi win the war. Sama halnya dengan Timnas Turki di Uero 2008 ini.

Dunia akhirnya harus mengakui meski Jerman win the game, but Turki win the war. Mengapa? sebab debut Turki sejak pertarungannya di kualifikasi group telah menunjukkan semangat pantang menyerahnya yang sungguh sangat luar biasa, bahkan mampu menumbangkan mimpi klub-klub besar Eropa sekelas Swiss, Ceko, dan Kroasia. Mereka disebut sebagai The Comeback King sekaligus Penghancur Mimpi yang memiliki fighting spirit atau daya juang yang tinggi.

Dari Underdog menjadi ‘King’

Turki datang ke Uero 2008 sebagai sebuah tim underdog yang sama sekali tak diperhitungkan. Penggila sepak bola bisa jadi menanggap keberadaan Turki di group A sebagai tim ‘bonus’ untuk asah kaki para pemain klub besar Eropa lainnya merumput di Swiss & Austria ini. Namun sejarah baru telah membuktikan bahwa Turki mampu lolos sampai ke semifinal menumbangkan tim-tim besar di Group A dan perempat final. Gol-gol yang dilesakkan ke gawang lawan di detik-detik terakhir menjelang pertandingan usai membuat gelar tim dengan semangat juang tinggi disandangkan kepadanya.

Ya, podium semifinal yang mereka pijaki menjadi bukti bagaimana semangat juang mereka yang tak kenal lelah. Meski pada pertandingan pertamanya kalah ditekuk Portugal 0-2, namun pada putaran berikutnya Turki mampu mempecundangi tuan rumah Swiss dengan skor 2-1. Padahal saat itu Turki tertinggal lebih dulu dan akhirnya membalik keadaan pada menit terakhir.

Demikian pula pada putaran ketiganya melawan Ceko. Keunggulan Ceko 2-0 sampai menit ke-75 secepat kilat di-putarbalik-kan Semith Senturk cs menjadi 2-3. Hanya dalam 15 menit gol demi gol di sarangkan Turki ke gawang Ceko. Tak pelak pertandingan tragis ini membuat syok Petr Cech dan kawan-kawan.

Pertarungan paling tragis adalah saat Turki berhadapan dengan Kroasia di perempatfinal. Laga rumput hijau yang berlangsung alot harus berjalan tanpa gol hingga menit ke 90. Perpanjangan waktu 30 menit pun pada akhirnya menjadi sejarah pilu bagi tim unggulan Kroasia. Bagaimana tidak, gol ‘emas’ yang dilesakkan Ivan Klasnic di menit 119 dilumerkan secara mengejutkan oleh tendangan ‘maut’ Semith Senturk tepat di menit 120. Adu pinalti atas kedudukan 1 sama menjadikan Kroasia tersungkur di kaki Turki dengan skor 1-3. Benar-benar tragis bagi Croasia.

Pertandingan di Stadion St. Jakob-Park, Basel, semalam, bisa dikatakan pertandingan yang sangat menegangkan. Setidaknya hal itu terlukis dari pernyataan Kanselir Jerman, Angela Merkel, yang dengan setia mengikuti pertandingan Jerman melawan Turki sejak awal hingga akhir pertandingan. "Saya harus bilang kalau saya sering menahan nafas", ujarnya.

Laga Kamis dini hari ini juga sekaligus mengukuhkan Timnas Turki sebagai kuda hitam yang lahir di Uero 2008. Meski merumput di semifinal dengan hanya 15 pemain siap tanding. Minus beberapa pemain utama yang terpaksa duduk di kursi penonton lantaran cidera dan akumulasi kartu kuning, namun Turki mampu melayani dengan sangat ajaib tim raksasa Jerman yang turun dengan kekuatan penuh. Bahkan Jerman dibuat tercengan karena jala gawangnya lebih dulu bergetar akibat sepakan Ugur Boral di menit ke-22.

Menghadapi gempuran The Comeback King (julukan yang diberikan kepada Turki karena gol-golnya dimenit terakhir) membuat Ballack cs mati kutu hampir sepanjang pertandingan melawan kegigihan tim asuhan Terim ini. Hal ini diakui oleh penentu kemenangan Jerman, Philipp Lahm. Ia mengatakan "Kami bermain tidak begitu baik, dan Turki menguasai hampir di seluruh bagian pertandingan dan itu membuat kami sangat kesulitan."

Meski akhirnya Turki harus kalah, namun pelatih yang pernah ‘mengecat’ Galatasarray, Ac-Milan dan Fiorentina ini, merasa sangat bangga dengan kesuksesan tim asuhannya. Ia mengatakan "Bertahun-tahun ke depan, ketika publik bicara soal Uero 2008, maka mereka akan mengingat Turki. Mengingat kesuksesan kami".

Daya Juang yang Tinggi

Laga Turki di Uero 2008 ini patut diajungi dua jempol. Tak hanya karena mampu menembus babak semifinal melibas klub-klub unggulan Eropa, namun kebanggaan itu lebih disebabkan nilai performance yang berhasil mereka bekaskan kepada miliaran pasang mata diseluruh penjuru dunia bagaimana seharusnya setiap kita memiliki daya juang atau Fighting Spirit. Setidaknya ada 3 macam daya juang Turki yang bisa kita ambil hikmahnya, yaitu:

Pertama, daya juang di tengah banyak kelemahan. Ketika sebagian besar pemain utama mereka harus absen, namun sedikitpun mereka tak gentar mengadapi klub besar Jerman yang turun dengan kekuatan pemain utama 100%. "Jerman memang tim hebat, tapi kami tidak takut. Dan kami akan menang", demikian tukas salah seorang fan Timnas Turki.

Pernyataan seorang fan tersebut memang bukan isapan jempol belaka. Hal ini dibuktikan ‘Ay-Yildizhar’ sejak menit pertama peluit dibunyikan. Tim Turki terus merangsek dan mampu mengimbangi permainan Jerman yang full-team utama. Bahkan mampu mengawali penjebolan gawang Jerman yang dikenal disiplin dan ketat penjagaannya. Jaring Jens Lehmann pun bergetar.

Kedua adalah daya juang dari pressure atau tekanan. Bisa dibayangkan, selama pertandingan sejak di kelas Group, Turki harus melewati pertandingan selalu dengan ketertinggalan skor terlebih dahulu. Ketika melawan Swiss, Turki tertinggal 0-1. Namun pada detik-detik terakhir mereka bisa merubah angka tersebut dengan angka 2-1. Melawan Ceko lebih fantastik lagi, hanya dalam tempo di 15 menit terakhir, Turki mampu melesakkan 3 gol sekaligus dari sebelumnya tertinggal 2-0 sampai menit ke-75. Kedudukan pun berubah menjadi 2-3 untuk kemenangan Turki. Sama halnya saat melawan Kroasia, Turki mampu menyamakan kedudukan di menit 120 perpanjangan waktu yang mengantarkan tim tersebut menang 1-3 lewat adu pinalti. Tak heran jika mereka mendapat gelar "The Comeback King".

Nilai lebih lain yang ditunjukkan Ay-Yildizhar ini adalah konsistennya berlaku fair meski bermain under-pressure. Karenanya wajar jika Colin Kazim-Richards, gelandang Turki, menyampaikan kritikan keras atas gol kemenangan Jerman. Ia mengatakan, "beberapa kali kami membuang bola (karena ada pemain yang jatuh cedera) sepanjang turnamen ini, dan akan sangat baik jika mereka (Jerman) juga melakukan hal yang sama. Itu sedikit mengecewakan karena saya sedang terjatuh. Saya bukan tipe pemain yang terjatuh jika bukan benar-benar cedera. Buktinya saya kemudian langsung diganti", tegasnya.

Ketiga, daya juang dari stigma Inferioritas. Tidak bisa dipungkiri bahwa tim asuhan Fatih Terim ini adalah satu-satunya perwakilan ‘timnas muslim’ yang berlaga di pertandingan bergengsi Piala Eropa ini. Trackrecord dan pamornya yang bisa dibilang kalah jauh dari Timnas negara-negara besar Eropa lainnya seperti Italia, Spanyol, Portugal, Perancis, Jerman, Swiss, Croasia, maupun Ceko, tak membuat tim asal negara Erdogan ini sekedar sebagai penggembira saja.

Meski awal kehadirannya dipandang sebelah mata sebagai underdog, Turki mampu bangkit dari persepsi sebelah mata kebanyakan penikmat dan pengamat bola dunia. Kekalahannya bertarung pada pertandingan perdana melawan Portugal terbukti sekedar menjadi pelajaran untuk terus melaju ditengah-tengah arus opini yang menjagokan timnas negara-negara Eropa umumnya. Dengan prestasinya kini, maka Eropa harus mengakui negeri muslim Turki (khususnya) telah sejajar dengan negara-negara besar di Eropa.

Mengapa mereka bisa melalui berbagai kesulitan dan tekanan luar biasa yang dihadapi? Baik dari mulai sinisme, minimnya ketersediaan SDM, maupun ketertinggalan serta peluang kekalahan. Jawabannya adalah karena dalam setiap perjuangan selalu ada peluang untuk meraih kemenangan. Harapan Itu masih ada, dan selalu ada. Lantas, bisakah kita bangsa Indonesia yang seringkali merasa telah terjerembab dalam berbagai kesulitan, kesusahan, kemiskinan, kebodohan, dan kelemahan, mau mengambil pelajaran dari perjuangan Turki?

Sebab sesulit apapun jalan yang harus ditempuh, harapan itu akan selalu ada. Yang pasti itu semua harus dilakukan dengan langkah nyata. Bukan hanya sekedar bicara. Bangkitlah Negeriku, Harapan itu Masih Ada.

 

June 23, 2008

Orang Bilang PKS Cari Aman

Filed under: SIYASAH

SOAL MONAS: ORANG BILANG PKS CARI AMAN (???)

 
Umat Islam saat ini memang diuji psikologi aqidahnya. Mencuatnya puncak gunung es soal Ahmadiyah yang ditandai dengan kisruh Monas 1 Juni 2008 lalu sangat menyedot perhatian seluruh umat Islam di Indonesia. Media massa berebut posisi untuk menjadi yang terdepan dalam menyingkap sisi-sisi lain secara ekslusif. Luar biasa memang, hampir seperti paduan suara berbagai media nasional memburu berita dengan angle yang hampir serupa. Yaitu dengan memposisikan jaringan Ahmadiyah dan AKKBB-nya bertengger di atas angin. Sementara Habib Rizieq dan FPI-nya menjadi bulan-bulanan gebukan media massa.

Berita yang santer dan mengalihkan substansi persoalan penistaan agama yang dilakukan Ahmadiyah terhadap Islam ini tentu membuat seluruh umat Islam Indonesia sangat prihatin. Pemerintah SBY-JK yang peragu dan takut terhadap jaringan kekuatan di balik Ahmadiyah ini cuma berani mengeluarkan SKB 3 Menteri yang masih sangat jauh dari harapan. SKB yang sarat dengan kelemahan dan ketidakjelasan itu pun keluar setelah melewati masa berlarut-larut dan memakan korban. Bahkan kelambanan sikap resmi pemerintah itu bukannya menguntungkan umat Islam, justru umat Islam yang menginginkan kemurnian ajaran agamanya malah terinjak-injak oleh tipuan sesat kalangan liberal yang semakin menjadi-jadi membela ajaran Mirza Ghulam Ahmad secara membabi-buta.

Media nasional pun gencar menampilkan sosok-sosok corong liberal untuk mengaduk-aduk cara berfikir umat Islam. Orang-orang yang dikenal sangat dekat dengan asing dan Yahudi mendapatkan porsi luar biasa untuk tampil di media dalam rangka menghembuskan pembelaannya terhadap ajaran sesat ini atas nama kebebasan beragama dan berkeyakinan. Apalagi salah satu tokoh sentralnya, Gus Dur, yang ucapannya dianggap sebagai titah kebenaran oleh sebagian kalangan masyarakat menjadi garda terdepan yang membela Ahmadiyah. Hal ini ditegaskannya dalam sebuah jumpa pers di Markas PBNU Jakarta Pusat 9 Juni 2008 lalu. "Selama saya masih hidup, saya akan pertahankan gerakan Ahmadiyah, ngerti nggak ngerti terserah," ujar Gus Dur. Tak urung masyarakat awam dan kebanyakan yang kualitas agama dan agidahnya belum cukup memadai, mereka dibuat kebingungan. Yang benar disalahkan yang salah dibela. Kasihan benar umat ini.

Masih dalam suasana panas pertarungan ideologi kalangan Islam Liberal dan Ahmadiyahnya melawan umat Islam, media televisi nasional berinisiatif menggelar dialog ataupun debat Ahmadiyah vs Islam. Meski tak kurang dari 10 kali acara seperti ini telah digelar oleh media, namun secara jujur dampaknya kurang begitu terasa signifikan. Pengikut Ahmadiyah tetap dengan kecongkakannya ‘menantang’ umat Islam dengan kepala tegak tengadah. Seolah gejolak penolakan umat Islam selama ini terhadap Ahmadiyah dianggapnya angin lalu. Bahkan Juru Bicara Ahmadiyah Indonesia, Syamsiar Ali, di sebuah dialog pagi TV nasional satu hari pasca keluarnya SKB 3 Menteri, menampilkan gaya meremehkan terhadap ulama MUI yang juga dihadirkan. Terlihat sekali bahwa hingga detik ini mereka tak mau ambil pusing penentangan masyarakat terhadapan kesesatannya, dan masih saja ‘pede’ untuk berhadap-hadapan dengan umat Islam Indonesia.

Ditengah-tengah kemelut Ahmadiyah vs Islam yang terus berkelanjutan ini, pihak-pihak tertentu yang merasa sudah sedikit berbuat untuk membela Islam mencoba meng-kait-kait kan issu yang berkembang ini dengan sikap diamnya PKS terkait persoalan Ahmadiyah dan FPI. Seperti biasa kelompok tertentu ini mengobral tuduhan bahwa PKS sama sekali tak berbuat apapun sebagai sebuah partai yang berasas Islam. Dengan nada yang cukup ’santun’ kelompok ini membanggakan diri karena sudah turut berdebat melawan Ahmadiyah di media televisi. Dan disisi lain mencibir PKS yang menurutnya diam saja tak berbuat apa-apa. Kelompok ini bilang, PKS cari aman untuk kepentingan 2009. Benarkah tuduhan kelompok (yang sudah berlangganan menyudutkan PKS) ini???

Kita bisa buktikan bahwa tuduhan ini keliru besar. Tuduhan kerdil semacam ini memang menipu namun demikian mudah untuk dipatahkan. Sebab faktanya tidaklah seperti yang mereka tuduhkan bahwa PKS diam saja menyikapi arogansi Ahmadiyah dan jaringan pendukungnya dari orang-orang liberal. Beberapa cuplikan dari pemberitaan media massa berikut ini sudah pasti menghancurkan cibiran mereka yang kurang melek informasi dan asal dengki saja.
 
Jangan Bubarkan FPI ! 

Pada tanggal 03/06/2008, detik.com menampilkan berita berjudul "Anggota FPKS: Daripada Dibubarkan, Lebih Baik Bina FPI". Ditengah-tengah desakan kalangan liberal dan kelompok-kelompok masyarakat yang berhasil teracuni media televisi nasional terhadap pembubaran FPI terkait kasus Monas 2 hari sebelumnya, anggota DPR RI asal FPKS angkat bicara untuk mengkounter arus opini yang liar tak berimbang. DH. Al-Yusni dalam surat elektroniknya terhadap detik.com menyatakan bahwa kisrun Monas adalah buah dari kegagalan pemerintah dalam memberikan pembinaan terhadap ormas-ormas, termasuk FPI salah satunya.

Ia meluruskan bahwa isu pembubaran FPi adalah sebuah kekeliruan besar yang hanya akan merunyamkan suasana. Karenanya ia menyarankan agar pemerintah dapat melakukan pembinaan dengan semestinya. Sebab pembubaran FPI malah akan semakin memanaskan suasana. Disisi lain, Bimas Depag baginya adalah sebagai akar persoalan karena selama ini meninggalkan peran melakukan bimbingan agama terhadap masyarakat. Padahal anggaran yang diberika terhadapnya cukup fantastik, yaitu sebesar 145 Miliar. Intinya, jangan sampai opini pembubaran FPI menjadi bola liar yang akan merugikan kalangan Islam yang membela kemurnian agamanya meski cara kekerasan fisik bukanlah pilihan cara yang dipilih PKS. Tetapi, pembenahan dan fasilitasi bimbingan adalah pilihan terbaik.

Usut Tuntas AKKBB

Masih di hari yang sama, Ketua Fraksi PKS juga mengelurkan pernyataannya yang dilansir oleh inilah.com. Ia menyatakan bahwa “Kepolisian jangan hanya fokus pada penyelidikan dan penangkapan Laskar Pembela Islam dan FPI tapi juga memeriksa pihak AKKBB terkait dugaan aksi tanpa izin, penggunaan senjata api dan pernyataan penghinaan terhadap pihak lain.” Demikian kata Ketua DPP PKS sekaligus Ketua FPKS DPR RI Mahfudz Siddiq saat dihubungi INILAH.COM, Rabu (4/6).

Mahfudz melanjutkan bahwa jika penyelesaian hukum insiden Monas dilakukan secara sepihak sebagaimana yang saat itu menjadi mainframe media, maka akan memunculkan kemarahan umat Islam yang lebih serius. Karenanya harus dilakukan secara adil dan objektif terhadap kedua belah pihak secara adil dan objektif. Jangan sampai kekerasan yang dilakukan massa LKI menjadi alat legitimasi bagi Ahmadiyah untuk terus melakukan penistaan terhadap Islam.

Pemberitaan media televisi nasional yang menjadikan tindak kekerasan FPI sebagai perspektif yang ditonjolkan menimbulkan gejolak yang luar biasa. FPI Cirebon sudah mendapatkan perlakuan kekerasan oleh sekelompok orang. FPI Jember juga didatangi massa Garda bangsa yang menuntut pembubaran. Sayangnya, meski pihak kepolisian telah berupaya menyampaikan keterangan untuk penyeimbang bahwa tragedi Monas adalah sebuah kejadian yang in design, namun media masih tetap saja tak bisa adil dan objektif mendudukkan persoalan ini. Bahkan unjuk gigi beberapa kelompok massa yang menghembuskan ‘perang sipil’ dengan latihan ala militer dan kekebalan dipertontonkan tv-tv nasional kita. Tak ayal hal ini semakin membuat emosi masyarakat berkecamuk secara liar.

Karenanya, sebagai representasi FPKS yang mengedepankan cara elegan dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa dan agama, maka lewat peran sesuai porsinya, Mahfudz Siddiq mendorong agar proses keadilan terhadap 2 kelompok ini benar-benar harus ditegakkan. Bukan kah adil itu lebih dekat kepada taqwa? Jika hal ini belum saja dipahami oleh kelompok-kelompok yang suka mendengki, patut disampaikan kepadanya sebuah pertanyaan mendasar, "Apakah cara kekerasan dalam konteks ini dibenarkan dalam syari’at Islam?" Bisa disimak tentang kisah Abu Bakar Ash-Shidiq dan Ali bin Abi Thalib dalam menghadapi cacian orang-orang yang munafik bahkan kafir. Dan keberanian para pelaku kekerasan dari anggota FPI untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya adalah satu sikap yang patut dipuji.

Persoalannya, jika FPI telah berani bertanggung jawab akan tindak kekerasannya melalui jalur hukum. Maka sudah seharusnya pihak kepolisian juga menindak tegas komplotan AKKBB yang telah nyata-nyata melecehkan Islam, melakukan kekerasan verbal, dan memprovokasi serta membawa senjata api. Terus kejar dan jangan sampi membuat mereka merasa nyaman atas kejahatan yang telah mereka lakukan! Penegasan ini (agar kedua belah pihak di usut secara hukum) dilansir ulang satu hari kemudian oleh detik.com.

Dalam rilis yang dikirimkanya ke redaksi inilah.com hari itu, ia juga menyerukan agar pimpinan parpol, terutama yang kadernya terlibat langsung, beserta ormas-ormas Islam untuk kembali dengan kepala dingin menginisiasi suasana damai dan mengedepankan persatuan guna menyelesaikan persoalan ini. Sebab, akibat kompleksnya pikan-pihak yang terlibat dalam masalah ini mengakibatkan panasnya suasana tidak hanya di Jakarta dan Jawa saja, namun mulai meluas dari Sumatar Utara hingga wilayah Indonesia bagian timur.

Hati-Hati, Ada Asing Ikut Main 

Anggota DPR RI FPKS, Soeripto juga mengingatkan adanya penyusupan agen asing di kisruh Monas 1 Juni kemarin. Sinyalemen ini dilontarkan Soeripto di hari kedua pasca rusuh. Meski hingga beberapa hari banyak kalangan yang belum yakin atas kecurigaan kader PKS ini, namun bukan berarti insting mantan pejabat Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) ini keliru. Demikian pula Habib Rizieq meragukan analisa Soeripto, “Saya belum dengar, nanti akan saya cross check dulu ke Pak Soeripto. Kalau tudingan itu benar, tunjukkan buktinya,” kata Ketua FPI Habib Rizieq dalam jumpa pers di kediamannya, Jalan Petamburan III, Jakarta Pusat, Senin (3/6/2008).

Tanda-tanda petunjuk kebenaran analisa tersebut akhirnya muncul di kemudian hari setelah kedutaan besar AS mengeluarkan pernyataan kecaman terhadap kasus Monas itu. Baru setelah itu beberapa pihak panas dan kebakaran jenggot lantas marah dan menuding pihak AS telah mencampuri urusan dalam negeri Indonesia.

Rabu, 4 Juni 2008, anggota DPR RI FPKS Ma’mur Hasanudin juga turut angkat bicara. Sebagaimana dilansir oleh situs resmi PKS, Makmur menyebut bahwa “Banyak kepentingan terhadap kejadian monas. AKK-BB berkepentingan untuk mengaburkan tuntutan ummat Islam terhadap pembubaran Ahmadiyah dengan menuntut pembubaran FPI lebih dulu, sementara pada saat yang sama pemerintah mungkin menunggangi kejadian ini untuk mengalihkan isu BBM”, demikian ungkapnya.

Keprihatinannya juga terkait dengan suasana konflik yang semakin meluas dan salah arah, “Adanya niatan sebagian warga NU untuk menyerang FPI merupakan contoh keberhasilan AKK-BB dalam memecah ummat Islam”. Karenanya, ia menyoroti penangkapan aktivis FPI oleh aparat kepolisian yang dinilainya sudah over-acting. Sebagaimana diketahui bahwa Mabes Polri mengerahkan 1500 pasukannya untuk menangkap tersangka kekerasan Monas di markas FPI. Ma’mur juga meminta dengan tegas agar polisi juga memeriksa tokoh-tokoh AKK-BB yang nama-namanya terpampang dengan jelas sebanyak 289 nama di selebaran provokatif yang tersebar dibeberapa media massa nasional.

Pemerintah Harusnya Tegas

Turut menyeimbangkan bandul opini yang gencar menguntungkan pihak Ahmadiyah, politisi PKS Fachri Hamzah juga angkat bicara di media. Ia menyoroti kelemahan pemerintah yang mengakibatkan masyarakat terdpicu untuk main hakim sendiri. “Akar keributan sosial dan pelanggaran hukum selama ini terjadi karena aura pemerintah yang lemah. Sehingga kalau harus memilih, lebih baik pemerintah yang tegas meski salah. Daripada benar, tapi ragu-ragu. Sementara pemerintah saat ini, salah dan ragu-ragu,” kata Fahri di Jakarta, Kamis (5/6).

Masih menurut Fahri sebagaimana dilansir inilah.com (05/06/08), kesalahan dapat dilanjutkan dengan permintaan maaf. Meskipun begitu pemerintah tidak boleh sering-sering salah. Sementara ‘kalau salah dan ragu’, maka dampaknya sungguh luar biasa. “Bayangkan efek pembangkangan sipilnya sungguh luar biasa, sehingga polisi menjadi sasaran kecaman dan serangan fisik,” tegasnya. Padahal pengambil keputusan dalam kasus Ahmadiyah ini seharusnya ada di tangan SBY-JK.

Bersikaplah Secara Arif

Memasuki hari ke-5 pasca kisruh, dimana potensi konflik semakin meluas ke seluruh wilayah Indonesia, anggota Komisi VIII DPR RI Yoyoh Yusroh juga turut bicara. Ia meminta para tokoh agama dan masyarakat untuk bertindak arif dalam mengarahkan emosi massanya yang merespon Insiden Monas. “Ini sangat penting untuk mencegah berbagai tindak kontraproduktif dan anarkis,” kata Yoyoh di Depok, Jumat (6/6).

Dengan sangat tegas ia menyatakan bahwa Ahmadiyah merupakan agama tersendiri diluar Islam. Karenanya sedikitpun mereka tak memiliki hak untuk memakai simbol-simbol dan mengaku sebagai bagian dari Islam. Sebab jika hal ini dilakukannya, aka mereka memasuki wilayah penistaan terhadap Islam. “Karena itu ketegasan Presiden untuk menyikapi keberadaan Ahmadiyah di Indonesia sudah sangat mendesak demi rasa keadilan dan martabat bangsa,” ujarnya. Namun, demikian ia juga menolak cara-cara kekerasan untuk menghadapi persoalan aqidah ini. Sebab “Tindakan anarkis tidak akan dapat menyelesaikan masalah secara mendasar,” tegasnya.

Beberapa hal di atas disampaikannya menyambut inisiatif pemerintah Depok yang dipimpin kader PKS, Dr. Ir. Nurmahmudi Ismail, yang menggalang komitmen stake holder strategis untuk menolak eskalasi konflik di tingkat lokal. Bersama Kapolres Depok kader PKS ini menghimpun berbagai kalangan ulama untuk menangkal konflik Monas agar tak meluas masuk ke wilayah Depok.

Segera Terbitkan SKB 3 Menteri !

Di hari yang sama, melalui presidennya PKS terus mendesak segera diterbitkannya SKB 3 Menteri. “Pemerintah (Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama dan Kejaksaan Agung) secepatnya harus menerbitkan SKB itu. Penyelesaian secara hukum terhadap masalah Ahmadiyah akan menghilangkan pro dan kontra di kalangan masyarakat,” kata Presiden PKS Ir H Tifatul Sembiring.

Ia juga menegaskan bahwa bentrok Monas memang sengaja dirancang oleh kalangan yang menghendaki keuntungan-keuntungan dibalik kerusuhan itu. Presiden PKS mengatakan, "Seharusnya bentrokan tidak terjadi kalau tidak ada pihak yang melanggar izin demo. Polisi harus bersikap adil,” uangkapnya. Artinya, pihak AKKBB memang sengaja memprovokasi dan melanggar izin pemerintah yang kemudian menyebabkan terjadinya tindak kekerasan.

Menangapi situasi yang terjadi akibat bentrokkan tersebut, sebagaimana dimuat oleh situs resmi PKS, Tifatul menyerukan agar seluruh elemen bangsa dan tokoh masyarakat agar mendamaikan dan tidak memprovokasi keadaan. Tifatul minta semua pihak agar menyelesasikan masalah dengan kepala dingin. Sementara menanggapi penangkapan terhadap Ketua Umum FPI Habib Rizieq Shihab dan pengikutnya, PKS meminta agar polisi berlaku adil dengan menganut asas praduga tak bersalah. PKS meminta semaksimal mungkin dalam mengambil keputusan tidak dipengaruhi tekanan politik manapun termasuk pihak asing. “Jangan sampai penegak hukum dipengaruhi tekanan politik manapun bahkan pihak asing sekalipun,” pungkasnya.

SKB Masih Lemah, Awasi Implementasinya !


Anggota DPR RI FPKS yang lainnya, H. Mutammimul ‘Ula, SH. turut merbicara menyikapi muatan SKB 3 Menteri. Meski menyambut baik dan menilai positif keluarnya keputusan tersebut, namun ia mengatakan bahwa pembubaran Ahmadiyah merupakan langkah yang lebih baik daripada hanya pelarangan semua kegiatan seperti yang tercantum dalam SKB tersebut. Hal ini ini diungkapkannya pada Rabu 11 Juni di gedung DPR RI sebagaimana diberitakan www.pk-sejahtera.org.

Keesokan harinya, senada dengan apa yang telah disampaikan Tamim, panggilan akrab Mutamimul ‘Ula, DH. Al-Yusni anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi PKS juga mempublikasikan sikapnya melalui detik.com. Ia dan beberapa politisi parpol-parpol Islam lainnya memandang bahwa SKB Mendagri, Menag dan Jaksa Agung soal Ahmadiyah tak memadai. Karenanya FPKS mengajukan dikeluarkannya Keputusan Presiden (Keppres) untuk menguatkan SKB yang sebelumnya telah keluar.



“Karena SKB hanya berisi peringatan, saya meminta pemerintah untuk melakukan pengawasan dan pembinaan. Jika pengawasan dan pembinaan tidak berjalan, saya akan mendorong untuk diterbitkannya Keppres,” cetus , DH Al Yusni, dalam rapat kerja dengan Menag, Mendagri dan Jaksa Agung, seperti diuraikannya secara tertulis ke redaksi detikcom, Kamis (12/6/2008).

Menurut aleg PKS ini, penerbitan SKB 3 Menteri adalah bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap masyarakat. “Namun demikian, terdapat beberapa kekurangan dan kelemahan antara lain, SKB tidak memuat definisi penodaan dan penistaan agama dan keyakinan, batasan kebebasan dalam beragama, seperti yang disuarakan oleh banyak pihak,” jelas Yusni. Lebih lanjut, Koordinator Kelompok Komisi VIII FPKS ini mengkritik, “SKB tidak mempunyai implementasi yang jelas, multitafsir, bersifat parsial dan insidental. Mestinya dibuat ketentuan yang kuat, mengikat dan permanen.” (www.detik.com, 12/06/08)).

Dilansir okezone.com (12/06/08), Ma’mur Nasution anggota legislatif DPR RI FPKS, juga ikut mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap implementasi SKB ini. Anggota Komisi III ini juga berharap seluruh produk yang berkaitan dengan Jemaah Ahmadiyah Indonesia segera ditarik dari masyarakat.“Berdasarkan SKB tersebut secara otomotatis produk yang berkaitan dengan ajaran Ahmadiyah harus segera ditarik peredarannya dari masyarakat,” tegasnya.

Jangan Peti-es-kan AKKBB

Melalui situs resmi FPKS, ia juga menyorot ketuntasan pengusutan kasus Monas terhadap kedua belah pihak. Terhadap proses hukum yang ditangani kepolisian, ia menuntut agar pengadilan terhadap para provokator AKKBB juga segera diperiksa secara tegas dan adil. Ia menghimbau agar polisi tidak mem-peti-es-kan kasus tersebut hanya dengan menetapkan tersangka dari kalangan aktifis FPI saja.

“Langkah sigap kepolisian dalam menangkap aktifis FPI patut diapresiasi, namun tugas polisi belumn selesai. Polisi masih harus mengusut tuntas bentrokan Monas dengan memeriksa aktor-aktor AKK-BB,” kata Anggota Komisi Hukum DPR RI Ma’mur Hasanuddin usai bertemu para aktifis Pemuda Penegak Moral dan Etika di ruang kerjanya di DPR RI, Rabu (11/6).

Ma’mun mendesak agar institusi kepolisian menunjukkan independensinya sebagai lembaga penegak hukum dalam menuntaskan kasus Monas ini. Polisi harus bebas dari tekanan dan lobi siapa pun. Karenanya sangat tidak patut jika hanya aktifis FPI saja yang dijadikan tersangka padahal kuat indikasi bahwa kelompok AKK-BB sengaja melakukan provokasi dengan acungan senjata dan kata-kata kotor.

Presiden PKS Tuntut Keppres Bubarkan Ahmadiyah

Dan Jum’at (20/6) lalu sebagaimana dimuat Harian Republika, kembali Presiden PKS menegaskan bahwa Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), harus segera mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Pembubaran Ahmadiyah. Menurutnya, SKB 3 Menteri belumlah cukup, termasuk pembekuan Ahmadiyah juga belumlah cukup sebab keberadaan Ahmadiyah tidak bisa dipungkiri merupakan wujud penistaan terhadap Islam. Satu-satunya pilihan adalah, Ahmadiyah harus dibubarkan.


Apalagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) yang telah mendapatkan mandat khusus dari pemerintah untuk menilai dan menginvestigasi penganut Ahmadiyah, sudah menyatakan Ahmadiyah sesat dan menyesatkan. ‘’Bahkan, Ahlussunnah Waljama’ah sedunia pun telah menyatakan Ahmadiyah sesat,'’ ungkap Tifatul.

Dengan tegas Tifatul juga mengatakan, hendaknya para penganut agama lain tidak perlu imencampuri masalah ini atas nama kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ia juga mengecam pihak negara asing non-Muslim yang telah ikut campur secara provokatif. Karena, ini masalah internal umat Islam Indonesia. Partai Keadilan Sejahtera, lanjutnya, dengan tegas menyatakan Ahmadiyah sesat.

Selain itu, ia pun mendukung upaya umat Islam di Indonesia yang melakukan desakan kepada SBY. ‘’Namun, tidak secara anarkis,'’ ujarnya. Lalu, ia menambahkan, Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam. Sehingga, tidak ada alasan SBY menolak mengeluarkan Keppres itu. (republika)

Itulah Fakta PKS Soal Monas

Selain banyak fakta di atas, sejatinya sejak jauh-jauh hari PKS telah secara resmi mengeluarkan sikap partainya terkait keberadaan Ahmadiyah. Tanggal 9 Mei 2008, Dewan Syuro’ Partai PKS ini sudah mengeluarkan bayanat No.17/B/K/DSP-PKS/1429, bahwa Ahmadiyah adalah sesat dan tidak layak diperlakukan sebagaimana seorang muslim. Pasca rusuh Monas, 4 Juni 2008, Fraksi PKS juga mengeluarkan pernyataan tegas menyikapi bentrok Monas secara seimbang.

Beberapa kutipan media diatas sangat jelas membuktikan bahwa kader-kader PKS di tataran pimpinan partai maupun melalui kader-kadernya di parlemen melakukan advokasi aktif untuk menyeimbangan opini media sekaligus melakukan pembelaan terhadap kalangan Islam yang menjadi korban rekayasa kekuatan-kekuatan asing yang menunggangi issu Ahmadiyah ini. Kader-kadernya pun dalam wadah yang lain turut melakukan pembelaan semenjak hari pertama pasca kejadian. Keberadaan mantan anggota DPR RI dari PKS periode 1999-2004 disamping Habib Rizieq ketika FPI menyelenggarakan konferensi pers, adalah bukti lain yang meruntuhkan tudingan kacau kelompok yang gemar menyudutkan PKS ini, ujub dan keder.

Semoga sekelumit informasi ini menjadi jawaban yang faktual bahwa dalam tataran apapun kader-kader PKS sedikitpun tak pernah tinggal diam membela al-haq dan melawan al-bathil. Lantas apa yang sudah kalian lakukan wahai pihak-pihak yang senang mencibir PKS???

Diolah dari berbagai sumber.







June 12, 2008

Kampus Wisata

Filed under: THULABI

MEMBANGUN KAMPUS BERWAWASAN WISATA NASIONAL

 
Biaya pendidikan saat ini semakin gila dengan model kebijakan BHMN yang sekarang ini diterapkan di 4 kampus besar ternama. Instutut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Gajah Mada (UGM). Atas dasar kebijakan pemerintah tentang status BHMN ini, ke-empet kampus diatas pun berlomba-lomba memasang tarif mahal untuk jalur khusus yang mereka tawarkan. Jalur khusus ini di’jual’ kepada calon mahasiswa kaya meski secara akademik tidak masuk kualifikasi. Tak tanggung-tanggung, angkanya dapat mencapai ratusan juta rupiah. Akibatnya masyarakat yang kebanyakan sebagai masyarakat menengah kebawah harus gigit jari lantaran tak mampu membayar mahal.

Saya menilai bahwa implementasi kebijakan ini sangat premature diterapakan oleh pihak institusi kampus. Implikasi yang terjadi terpersepsi hanya bagaimana caranya mengeruk uang dari masyarakat lantaran kampus diberi wewenang kebijakan untuk mencari biaya operasional ini. Alasan mereka karena pemerintah sudah tak lagi mengucurkan subsidi pendidikan.

Jalan pikiran seperti ini memang mirip kebijakan Pemerintah ketika harga minyak dunia melambung tinggi. Alih-alih menyiapkan berbagai ’senjata’ untuk menangkalnya, pemerintah malah cuma siap menaikkan harga BBM yang notabene berimbas kuat bagi 61 juta warga miskin di Indonesia (data World Bank).

Soal minyak ini Indonesia jauh kalah dengan sistem pemerintahan di Norwegia. Meski beberapa puluh tahun lalu mereka kalah jauh dengan Indonesia dalam eksplorasi hasil bumi (minyak dan gas), namun kini mereka sudah jauh melampaui Indonesia. Justru saat ini mereka termasuk negara yang menikmati keuntungan imbas kenaikan harga minyak dunia.

Berbeda jauh dengan Indonesia. Sejak dulu hingga kini Indonesia cuma bisa menghasilkan minyak mentahnya saja tanpa memiliki teknologi yang dapat ‘menyulapnya’ menjadi BBM. Alhasil, negara yang katanya kaya kandungan minyak ini malah buntung ketika harga inyak dunia melonjak naik.

Kenapa Norwegia bisa melesat melampaui Indonesia? Karena Norwegia memiliki kebijakan yang tegas tentang alih teknologi. Termasuk dalam perminyakan. Saat ini kilang-kilang minyak di Norwegia sangat sepi dari tenaga-tenaga asing. jauh berbda 20 atau 30 tahun lalu yang masih didominasi orang Barat sebagai main engineer dan pengambil kebijakan oparasonal. Norwegia memang cerdas, sehingga mereka tak hanya mau menanam teknologi yang sekedar mengeksplorasi saja, namun mereka juga berupaya keras membangun industri yang mampu mengolah minyak mentah menjadi BBM. Meski biaya yang harus digelontorkan mahal pada tahap awalnya.

Kini masyarakat Norwegia dapat tersenyum dan menikmati ketika harga minyak dunia melambung tinggi. Sedangkan Indonesia.. rakyatnya semakin tercekik dan menjerit. Sebuah langkah ekonomi yang kurang cerdas untuk Indonesia.

Kembali ke soal BHMN, kebijakan pendidikan tinggi kita ini menurut saya memang salah kaprah. Persepsi yang dibangun memang lebih kepada basis materialis. Para pengelola pendidikan tinggi sepertinya memang sadar atau tak sadar telah membangun menara gading bahwa pendidikan yang berkualitas harus dibayar dengan biaya yang tinggi dan mahal. Tidak ada jalan lain.

Makanya, dengan persepsi seperti ini, banyak masyarakat yang tak mampu mengenyam pendidikan yang layak.. Padahal potensi mereka jika dibina dengan benar tak kan kalah bersaing dengan dunia luar. Sebut saja Profesor termuda yang baru-baru ini di nobatkan AS adalah berasal dan berwarga negara Indonesia (WNI).

Prof. Nelson Tansu, lahir di di Medan , 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang (sumber: milist).

Sayang sekali orang-orang yang berkesempatan seperti Prof. Tansu ini sangat sedikit. Jika dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang 220 juta jiwa tentu sangat miris. Persepsi pendidikan ini pula yang telah menjadikan fakta bahwa dunia pendidikan kita jauh terlampaui oleh negeri tetangga Malaysia. Padahal dahulu Malaysia ‘mengemis’ ke Indonesia dalam masalah ini. Banyak guru-guru dari Indonesia yang di’impor’ negeri Jiran itu untuk mengajari mereka ‘membaca dan menulis’. Tapi sekarang??? Banyak orang pintar Indonesia yang mengais makanan di negeri tetangga itu.

Beberapa tahun lalu saya pernah membaca sebuah artikel Industri di Eropa. Saya lupa dimajalah apa. Salah satu negara yang diulas adalah Jerman. Dalam tulisan itu disebutkan tentang Dunia Baru Pembangunan Industri di negaranya Klinsman. Dimana dalam tataran tertentu, Jerman sedang mengembangkan pembangunan pabrik-pabrik yang berwawasan wisata. Maksudnya, model industri yang selama ini terkesan full-dangerous dan not friendly bagi masyarakat umum akan di rubah menjadi tempat yang justru menarik untuk dikunjungi. Karenanya, mereka (termasuk beberapa negara eropa lainnya) berlomba untuk mendesign pabrik dengan bentuk yang se-estetik mungkin, ramah lingkungan, dan friendly bagi masyarakat luar. Tentu tanpa harus membahayakan rahasia produk mereka sendiri.

Nah, ide ini sangat realistis diadopsi untuk dibangun oleh kampus-kampus berstatus BHMN di Indonesia yang namanya sudah beken dan go internasional. Dengan konsep seperti ini, tentu dapat menghasilkan celah untuk mengalirkan income bagi Kampus itu sendiri. Tinggal kerjasama dengan dinas Pariwisata setempat untuk mengelolanya. Apalagi diketahui bahwa 4 kampus yang berstatus BHMN ini memang memiliki area dan lahan yang sangat luas yang sangat mungkin untuk mengimplementasikan konsep ini.

Selain itu, dengan semakin padatnya pembangunan di kota-kota besar dan semakin meningkatnya awareness masyarakat akan dunia pendidikan, belakangan ini banyak kampus yang melakukan ekspansi ke daerah pinggiran atau pedesaan dengan ‘mencaplok’ lahan yang sangat luas. Maka penerapan konsep ini akan lebih mudah dan realistis. Jika Petronas sudah memiliki 2 menara kembarnya yang mencakar langit Malaysia, bagaimana dengan kampus-kampus bonafit di Indonesia????

Ayo.. kampus mana yang berani menjadi pionir sebagai kampus berwawasan wisata nasional. Kita tunggu aksinya!

June 10, 2008

Kisruh Monas, SBY Untung

Filed under: SIYASAH

MONAS KISRUH, SBY-JK MENDAPAT DURIAN RUNTUH

 
Kejadian di Monas hari Ahad, 1 Juni 2008 lalu langsung menjadi berita utama seantero negeri ini. Bahkan tak hanya televisi nasional yang menyiarkannya. Jaringan televisi internasional CNN juga beberapa hari terakhir secara rutin menayangkan loss control anggota FPI yang melakukan tindak kekerasan terhadap masa pendukung Ahmadiyah yang menamakan dirinya Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Jika CNN setiap harinya menayangkan kejadian rusuh di Monas itu tak kurang dari dua kali sehari, maka media TV nasional benar-benar didomonasi pemberitaan kejadian tersebut.

Tak ketinggalan media catak pun melakukan hal yang sama, menampilkan pemberitaan seragam. Yaitu mengecam FPI dan menggiring opini agar FPI dibubarkan. Hanya satu media cetak nasional yang menyikapi peristiwa Monas ini dengan seimbang dan profesional, yaitu Harian Umum Republika. Sedangkan Kompas,  Sindo, Rakyat Merdeka, The Jakarta Post, dan lain-lain, setali tiga uang. Mereka kompak mendiskreditkan FPI secara tidak adil sementara perbuatan anarkisme verbal yang dipertontonkan kelompok AKKBB tak tersentuh tangan media. Sekedar mengejar oplah dan mengikuti arus utama saja atau memang mereka semua banci. Entahlah, yang jelas mereka telah turut mencptakan iklim perpecahan bagi seluruh umat Islam di Indonesia.

Kekerasan balasan dari masa pendukung Gusdur yang notabene simbol utama gerakan kelompok AKKBB ini dipertontonkan di Markas FPI Cirebon. Papan nama ormas tersebut penyok di tebas masa yang mengatasnamakan balas dendam terhadap aksi di Jakarta. Di Surabaya juga terjadi hal serupa, masa yang di gerakkan Garda Bangsa menggeruduk sekretariat FPI Surabaya. Setelah terjadi pemaksaan, pimpinan FPI Surabaya, Habib Ali membubarkan FPI pimpinannya sendiri. Demikian pula dengan FPI Yogyakarta. Mengalami nasib yang sama.

Tokoh-tokoh politik pun sebagian turut mengamini rel pemberitaan media yang cenderung diskriminatif menampilkan kisruh Monas. Menyudutkan FPI dan menyembunyikan akar persoalan untuk menuntut pembubaran aliran sesat Ahmadiyah. Alhasil, FPI ramai-ramai dihujat dan dituntut untuk dibubarkan. Sesuatu yang sangat ironi. Isu yang tadinya ramai "Bubarkan Ahmadiyah!", kini berpaling ke isu untuk membubarkan pihak yang konsisten hendak membubarkan Ahmadiyah alias "Bubarkan FPI".

Otak-otak di Balik AKKBB

Bola salju permusuhan terhadap upaya pemurnian aqidah Islam yang disambut gegap gempita oleh media dan bahkan pihak Amerika Serikat ini tentu menjadi tanda-tanya banyak pihak. Siapa sebenarnya otak-otak dibalik AKKBB ini.

Dalam selebaran resmi AKKBB yang sebelum rusuh monas dipublikasikan media masa sebagai undangan ajakan melakukan demonstrasi ilegal itu tercantum nama-nama beken. Tak tanggung-tanggung, beberapa diantaranya tercatut nama-nama tokoh nasional yang tertulis dengan huruf tebal. Beberapa nama tersebut adalah sebagai berikut:

Abdurrahman Wahid dan keluarganya (Sinta Nuriah dan Yenni Wahid), Amien Rais, Azyumardi Azra, A. Syafii Maarif, dan Dawam Rahardjo. Orang-orang ini diperkuat barisan penentang kemurnian Islam dan Jaringan Islam Liberal (JIL) seperti Ulil Abshor Abdala, Goenawan Muhammad, Musdah Mulia. Serta beberapa pembela kesalahan seperti Adnan Buyung Nasution dan Todung Mulya Lubis. Orang-orang yang membiarkan Ahmadiyah menistakan Islam ini didukung penuh oleh tokoh-tokoh non-Islam seperti Asmara Nababan, Indra J. Piliang, Christanto Wibisono, Marsilam Simanjuntak, Mochtar Pabotinggi, Ratna Sarumpaet, dan lain-lainnya.

Dukungan Gusdur ini bukanlah dukungan hanya diatas kertas, bahkan secara terang-terangan mantan presiden RI ini, menyatakan dengan tegas dukungannya terhadap Ahmadiyah. Padahal Ahmadiyah jelas-jelas menistakan Islam, Al-Qur’an dan Muhammad saw. Sebagaimana dilansir oleh detik.com (9/6/08), "Selama saya masih hidup, saya akan pertahankan Gerakan Ahmadiyah, ngerti nggak ngerti terserah!". Demikian diucapkan satu-satunya orang Indonesia yang kerap mendapatkan penghargaan dari tokoh-tokoh Yahudi internasional atas keberaniannya membela kepentingan Yahudi di negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia ini. Menyedihkan.

Keberadaan nama Amien Rais dalam selebaran tersebut juga menyayat hati umat Islam Indonesia yang setitik pun tak rela agamanya dinistakan orang-orang yang sesat dan keras kepala. Kita tentu berharap bahwa tercantumnya nama mantan ketua MPR ini karena asal catut saja. Belakangan sejak kejadian tersebut, politisi PAN ini memang cari aman-aman saja. 

Sayang sekali sebuah kelompok Islam yang beberapa waktu sebelumnya seringkali menggelontorkan opini untuk memojokkan partai Islam yang bekerjasa dengan non-muslim kini diam tak berani berkoar. Jika partai Islam tersebut bekerja sama dengan fakta-fakta maslahatnya, gencar di pojokkan. Namun mereka (kelompok yang gemar hasad) ini ‘aa uu’ tak bersuara menyaksikan kolaborasi jahat menistakan Islam. Mana kutipan-kutipan ayat Al-Qur’an yang biasa digunakan untuk memojokkan Partai Dakwah? Ternyata tumpul untuk ‘memuji’ Amien Rais, Gus Dur, Syafii Maarif, Azyumardi Azra, atau yang lainnya.

Konspirasi Mengalihkan Isu BBM 

Berubahnya wacana yang berkembang dari tuntutan pembubaran Ahmadiyah kepada Pembubaran FPI tentu bukan tanpa skenario. Semuanya terkait satu dengan lainnya. Kekuatan-kekuatan yang selama ini dengki terhadap kalangan Islam bermain api untuk mendiskreditkan umat Islam serta mengadu dombanya.

Kondisi konflik ini semakin dipicu dengan pernyataan SBY yang mengecam FPI terkait rusuh monas beberapa jam usai kerusuhan. Kalangan liberalis semakin di atas angin sementara penganut Ahmadiyah kipas-kipas menuai keuntungan dari bergesernya isu dan opini. Apalagi diketahui banyak diantara masa AKKBB yang berasal dari penganut Ahmadiyah. FPI dan kalangan Islam yang menghendaki pembubaran aliras sesat Mirza Ghulam Ahmad ini justru jadi bulan-bulanan kekerasan media dan tokoh-tokoh pendukung Ahmadiyah.

Sebagaimana diprediksikan oleh banyak pihak, selang sehari pasca kerusuhan diberbagai daerah khususnya di Jawa Timur muncul kelompok-kelompok masyarakat yang unjuk gigi untuk perang melawan FPI. Media detil memberitakan hal ini. Berbagai ritual kekebalan ditayangkan televisi untuk semakin memperkeruh suasana.

Dari mulai Banser, Garda Bangsa, PMII, sampai pasukan berani mati Gusdur bereaksi. Rame-rame menuntut pembubaran FPI yang mereka anggap merusak citra Islam. Bahkan Pasukan Berani Mati nya Gus Dur siap berangkat ke Jakarta untuk menyingkirkan FPI. Kegusaran masyarakat pun meluas sampai ke luar Jawa dan mengalamai kondisi serupa. 

Bahkan campur tangan asing melalui Kedutaan Besar AS menampilkan fakta lain adanya pesanan internasional terkait kasus Monas. Tak heran jika politisi PKS, Soeripto, sebagaimana dilansir www.detik.com (03/06/08) mensinyalir kemungkinan adanya agen asing yang turut bermain dalam kisruh 1 Juni tersebut.

Sebagaimana diketahui bahwa Kedubes AS turut melontarkan kecaman terhadap kejadian monas dengan mengeluarkan keterangan pers beberapa waktu setelah massa AKKBB kocar-kacir disentil Komando Laskar Islam. Islam dinistakan Ahmadiyah, namun justru mereka yang berjuang membela aqidahnya yang dihujat habis-habisan.

Yang jelas, semuanya begitu nyata bahwa tragedi Monas 1 Juni 2008 lalu by design kekuatan-kekuatan tertentu yang berkolaborasi saling menguntungkan. Entah siapa mereka, semoga Allah akan mendatangkan keputusannya. Yang jelas beberapa kata kunci yang berpotensi adalah: Ahmadiyah, Kelompok Liberalis, Kelompok Sekuler pemilik Media, Agen Asing, dan Pemerintah SBY-JK.

SBY-JK Meraup Untung 

Pemberitaan aksi kekerasan fisik yang dilakukan FPI (atau KLI) terhadap masa AKKBB yang menggelar aksi secara ilegal itu sungguh-sungguh memberedel issu utama yang sedang merundung rakyat Indonesia, yaitu issu Kenaikan BBM yang tepat sejak 24 Mei lalu diresmikan pemerintahan SBY-JK. Secara sekejap mata jeritan tangis dan lapar keluarga melarat yang tersebar diseluruh nusantara ini lenyap tersapu angin.

Aksi-aksi moral mahasiswa dan masyarakat menentang kebijakan SBY-JK menaikkan BBM ini menjadi berita yang sudah tak menarik lagi untuk diperbincangkan. Bahkan media massa nampak sudah enggan meliput aksi-aksi tersebut kecuali sedikit sekali sekedar untuk lip service belaka. Akibatnya masyarakat terbawa mainframe pemberitaan media. Kelangkaan gas seolah tak lagi patut untuk diungkap secara publik. Padahal di depot-depot distributor dan pengecer, gas kerap kali langka dan hanya tumpukan-tumpukan tabung gas saja teronggok tak tahu kapan akan datangnya suplai gas dari Pertamina.

Lonjakan harga berbagai bahan pokok seolah menjadi hal tabu untuk menjadi tangis pilu keluarga-keluarga miskin. Sebab terkesan sudah basi untuk diperbincangkan. Sementara kesulitan hidup yang semakin menjerat tak satu nada pun terdengar sampai ke telinga SBY-JK. 

Saat ini sudah tak terdengar lagi raungan masyarakat miskin yang terliput media. Tak ada lagi aksi menentang kenaikan BBM oleh mahasiswa yang menyambangi program-program berita di televisi. Saat ini makin sedikit para politisi yang berkoar kuat mempersoalkan kebijakan presiden. Dan sekarang sudah tak terdengar lagi aktivitas para pengamat ekonomi dan para pakar yang sekedar menyatakan benar bahwa SBY-JK keliru menaikkan harga BBM.

Semuanya bicara tentang AKKBB yang tak pernah mau insyaf dan mencoba unjuk gigi. Semuanya memperbincangkan FPI yang oleh sebagian kalangan liberalis untuk di bubarkan. Semuanya ngomongin Ahmadiyah yang dalam penampilan-penampilannya di televisi tetap kekeh dan justru hendak melecehkan martabat ulama-ulama di MUI. Semuanya memberitakan SKB 3 Menteri yang tak tegas membubarkan Ahmadiyah. Dan agaknya semuanya memang hanya akan terus berkutat dalam persoalan itu. Apalagi SKB 3 Menteri ‘didesign’ menimbulkan multi-interprestasi yang sudah barang tentu tak akan menyudahi persoalan ini. Apa efek utamanya?? Masyarakat tak akan sempat lagi untuk memunculkan lagi issu BBM.

Lalu semuanya pura-pura lupa bahwa SBY-JK telah membuat rakyat miskin semakin tercekik, semuanya lupa bahwa kenaikan BBM sejak sepekan sebelum kejadian Monas membuat rakyat melarat bertambah sekarat. Semuanya pura-pura pikun kalau kenaikan semua bahan-bahan kebutuhan hidup masyarakat telah menghasilkan penderitaan yang menjadi-jadi.

Tak ada lagi yang demo, tak ada lagi yang miris dengan kelangkaan gas, tak ada lagi yang menuntut pertanggung jawaban SBY-JK. Rakyat terus dirugikan. Cuma satu yang untung, pemerintah SBY-JK yang tak lagi dihujat lantaran kebijakannya menaikkan BBM. Kisruh Monas benar-benar menjadi durian runtuh bagi SBY-JK.

May 28, 2008

Pemerintah yang Ndablek

Filed under: SIYASAH

PEMERINTAH NDABLEK, RAKYAT JADI KORBAN 

 
Agaknya persoalan BBM di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini memang menjadi persoalan sentral. BBM ibarat batu ujian bagi siapa saja yang merasa diri layak menjadi pemimpin negara. Sebab tak bisa dielakkan bahwa dampak kenaikan BBM menimbulkan implikasi yang super dahsyat. Puas atau tidak puasnya masyarakat terhadap kepemimpinan nasional betul-betul terbenturkan dengan persoalan bahan bakar ini.

Keputusan pemerintah SBY-JK untuk yang ke sekian kalinya ini benar-benar membuat masyarakat menengah ke bawah semakin tercekik dan sesak nafas. Sungguh tak berlebihan bahwa BBM menjadi issu yang sangat kritis mengguncang kesabaran rakyat. Mengingat efek domino kenaikan BBM ini demikian liar dan ‘membabi buta’. Baru beberapa jam penetapan kenaikan harga BBM, pagi harinya harga-harga kebutuhan baik yang primer maupun sekunder langsung melonjak di pasaran. Bahkan tak jarang tiba-tiba beberapa jenis diantaranya lenyap bak ditelan bumi. Meningkatnya harga cabe, telur, tomat, bawang, sayur sayuran, tak pelak langsung melesat. Secara logika masyarakat umum memahami keputusan para pedagang menaikkan harga dagangannya.

Bagaimana tidak, biaya sewa alat angkut yang membawa barang-barang di atas meningkat hampir 100%. Belum biaya operasional premium yang tak kalah gila-gilaan, naik 30% dari Rp.4.500,-/liter menjadi Rp. 6.000,- tiap liternya. Biaya jasa kuli panggul juga tak bisa ditawar-tawar lagi lataran periuk mereka juga terancam dengan lonjakan harga kebutuhan pokok. Praktis dalam sekejap nilai ekonomi barang-barang di pasaran berubah drastis. Nilai nominal uang semakin tak berdaya berhadapan dengan bahan-bahan kebutuhan pokok. Untuk mendapatkan jenis barang dengan kualitas yang sama sebelum kenaikan BBM, masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam. Kondisi ini tak heran membuat pasar-pasar tampak sepi, bahkan beberapa pasar di Jakarta penurunan jumlah pengunung mencapai 50%.

Namun kondisi ini tak bakal berlangsung lama. Karena masyarakat butuh makan dan tak mungkin berlama-lama menahan diri untuk tak berbelanja. Hidup harus terus berjalan meski kondisi ekonomi semakin mengenaskan. Dengan lonjakan harga ini masyarakat bawah terancam mengikatkan perut lebih kencang lagi. Padahal ibarat kelapa, parutan yang diperas sudah tak lagi menghasilkan santan. Namun, gara-gara keputusan pemerintah ‘mengganti’ harga BBM ini memaksa warga miskin terus memeras parutan kelapa itu sampai yang keluar darah. Bukan dari kelapanya, tapi dari telapak tangannya yang semakin tercabik.

Belum lagi menghilangnya gas di beberapa wilayah seperti Banten dan Jawa Barat baru-baru ini, menimbulkan antrean panjang warga masyarakat yang membutuhkan gas elpiji. Mulai dari yang berukuran 3 kg sampai tabung besar 12kg juga langka. Ratusan bahkan ribuan orang harus antri berjam-jam hanya untuk mendapatkan gas yang sesuai janji pemerintah bakal mencukupi sejak kebijakan pengalihan bahan bakar rumah tangga dari minyak tanah ke gas diterapkan. Nyatanya janji tersebut hanya janji kosong yang membodohi rakyat.

Menyikapi kondisi ini, sayangnya jawaban pemerintah terkesan enteng dan tak substansial. Seolah meremehkan hak masyarakat untuk secara memadai terlayani dalam mendapatkan komoditi yang di monopoli pemerintah itu. Direktur Pertamina secara ringan menenangkan masyarakat dengan mengatakan kelangkaan gas cuma disebabkan kerusakan kecil di salah satu Unit Pertamina Balongan dan beberapa agen yang berspekulasi menahan stok gas elpiji miliknya. Dijanjikannya bahwa sejak 26 Mei lalu pasokan gas akan kembali normal. Nyatanya hingga detik ini masyarakat masih kesulitan mendapatkan gas tersebut. Tak luput pula daerah Jakarta yang sudah sejak hari pertama BBM naik, gas elpiji lenyap di pasaran.

Belum lagi minimnya pasokan premium dan solar menyebabkan antrian puluhan ribu kendaraan di ribuan SPBU diseluruh Indonesia. Apalagi saat detik-detik menjelang pengumuman kenaikan BBM 23 Mei lalu. Tak sedikit masyarakat yang harus gigit jari karena tak kebagian premium yang sebetulnya hanya sebatas tangki motornya. Ditambah lagi ribuan nelayan yang lebih memilih tinggal di rumah ketimbang melaut akibat biaya operasional yang sangat mencekik leher. Demikian pula para petani yang mengandalkan solar untuk menggarap lahannya. Mereka benar benar semakin terhimpit meski hanya untuk sekedar bertahan hidup. Mungkin seandainya bisa dilakukan mereka ingin sekali berteriak sejadi-jadinya sampai SBY-JK tumbang dari kursi empuknya.

Jika pasar, petani, nelayan, pengguna minyak tanah dan gas sudah tergencet habis-habisan, para pemilik jasa transportasi umum juga berteriak-teriak. Dalam posisi mereka, tentu sangat wajar jika mereka meminta segera dikeluarkannya harga baru yang sesuai dengan proporsi kenikan harga BBM. Jika tidak, dipastikan banyak sekali ‘buruh’ sopir yang merugi dan terancam kehilangan mata pencahariannya. Sementara beberapa perut tanggungan di keluarganya tak bisa dipaksa berlama-lama sabar. Lambannya Dinas Perhubungan menetapkan tarif standar ini menuai banyak keprihatinan. Dimana-mana terjadi aksi mogok operasi para sopir angkutan umum yang notabene adalah masyarakat kecil. Imbasnya puluhan ribu calon penumpang pun akhirnya harus rela berjalan puluhan kilometer menuju tempat tujuannya.

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga 

Melihat potret penderitaan masyarakat akibat dampak kenaikan BBM ini memang membuat hati menjadi kesal dan geram. Mayoritas rakyat Indonesia yang masih tenggelam dalam kubangan kemiskinan ini bukannya ditolong untuk lebih mandiri maupun sejahtera. Oleh pemerintah SBY-JK justru ditindih lagi dengan beban hidup yang semakin berat. Jika 5 tahun terakhir ini banyak kasus bunuh diri akibat himpitan ekonomi yang sudah sulit, mudah-mudahan peristiwa-peristiwa tragis yang disebabkan faktor ekonomi ini tak akan terulang lagi. Jika sampai ada kejadian seperti ini, kita tentu sepakat siapa yang menjadi biang bencananya. Siapa lagi kalau bukan SBY-JK.

Fakta ini mau tak mau memang menggambarkan sistem manajemen pemerintahan yang amburadul dan tak sistematis. Model managerial yang dianut oleh pemerintah agaknya memang tak berpihak kepada rakyat.. Sudut pandang yang dibangun terkesan asal-asalan dan tak mau ambil pusing menanggulangi dampak kebijakan yang digulirkan kepada publik. Seperti anak kecil yang melempar mangga milik orang lain, asal mangganya dapat ia tak peduli apakah batunya juga memecahkan genteng ataupun kaca rumah pemilik mangga.

Dari sisi ini, perbandingan BLT yang dikucurkan kepada sebagian kecil warga miskin tentu masih sangat jauh dari kebutuhan sekedar cukup. Kalkulasinya demikian jelas. Karena dampak akibat kenaikan BBM ini seperti bola salju yang membuat nilai transaksi pasar menurun dan berfluktuasi diangka yang ketat. Serta sulit untuk kembali pulih karena efek yang ditimbulkannya luas seperti bom cluster. Di satu sisi daya beli masyarakat menurun sementara disisi yang lain pedagang kehilangan konsumennya. Kenyataan ini akan mendorong masyarakat miskin dan lapar semakin banyak dan menjamur lantaran masyarakat tak kuasa menahan laju lonjakan harga. Uang senilai 100 ribu rupiah dari BLT tak mungkin seimbang dengan hantaman tingginya harga barang.

Harga satu porsi makan sederhana di Warteg yang tadinya masih bisa terbeli dengan harga Rp. 3.500,-, sekarang sudah mencapai angka Rp. 5000,-. Ini untuk hitungan porsi yang sangat sederhana dengan menu nasi putih, 1 potong tempe, 1 buah kerupuk dan lauk sayur. Ini hanya untuk 1 perut dan 1 kali makan. Selisih Rp. 1.500,- ini jika dikalikan rata-rata satu keluarga adalah 5 orang, dan sehari makan untuk keluarga miskin adalah 2 kali, maka dalam sebulan selisih uang yang harus mereka keluarkan adalah 5 x 2 x 30 x Rp. 1.500,- atau sejumlah Rp. 450.000,-. Belum lagi jika mereka harus menggunakan transportasi umum yang kenaikan rata-ratanya antara Rp. 1.000,- sampai dengan Rp. 3.000,-. Apabila 25hari dalam 1 bulan mereka terpaksa menggunakan kendaraan umum menuju tempat kerjanya, maka hitungan selisih akibat kenaikan BBM minimal tiap orangnya adalah 2 x 25 x Rp. 1.000,- = Rp. 50.000,-. Bertambahnya anggota keluarga miskin yang terpaksa memanfaatkan kendaraan umum maka akan semakin menambah beban biaya yang wajib mereka keluarkan.

Dari hitungan dua pengeluaran saja sudah sangat jauh dari sebanding jika dipadankan dengan BLT yang cuma Rp.100.000,- per keluarga miskin. Pembandingan timpang ini tentu hanya berlaku bagi warga miskin yang memiliki SIM (Surat Izin Mengambil) BLT. Sementara keluarga misin yang tidak memiliki SIM BLT tak berlaku perbandingan ini. Praktis lebih menderita daripada yang menerima BLT. Padahal keluarga miskin penerima BLT hanya sebesar 18 juta orang dari sekitar 62 rakyat miskin (versi Bank Dunia). Jadi tak kurang sekitar 44 juta penduduk miskin betul-betul babak belur menghadapi guncangan kenaikan BBM ini.

Dengan hebatnya kenaikan semua harga barang, dipastikan akan semakin banyak masyarakat yang sudah tak mampu lagi mengikuti lonjakan harga-harga. Artinya yang tadinya masuk kategori hampir miskin akan terjerembab menjadi keluarga benar-benar miskin. Kemiskinan ini dipastikan akan semakin membengkak. Dan harga sosial yang dipertaruhkan akan semakin mahal. Seharusnya SBY-JK memahami soal ini. 

Demikian pula dengan kondisi para nelayan yang sudah mulai mengkandangkan jalanya karena tak sanggup merogoh kocek membeli bensin untuk operasional perahunya. Jumlah penduduk nelayan Indonesia sangat besar mengingat negara Indonesia adalah negara bahari yang hampir sebagian besar wilayahnya adalah lautan. Situasi sulit yang membelit ini dipastikan akan menurunkan pasokan hasil laut seperti ikan. Tak sekedar bicara kelangkaan ikan, namun kondisi ini menggambarkan transaksi ekonomi yang tak bisa berjalan dengan normal. Untuk keluarga nelayan tak ada pemasukan penghasilan, sementara bagi konsumen akhir harus mengeluarkan biaya lebih tinggi untuk mendapatkan menu seperti ikan tersebut. Sebab sesuai hukum ekonomi, semakin sedikit persediaan barang (primer), maka harga barang tersebut di pasaran akan semakin tinggi.

Amburadulnya managerial pemerintah juga ditunjukkan dengan fenomena antrian panjang masyarakat untuk mendapatkan minyak tanah ataupun gas elpiji. Secara matematis bisa dihitung berapa biaya yang lost akibat ribuan masyarakat mengantri. Jika satu orang mengantri paling tidak 2 jam untuk 1 kali antrian, maka berapa jam waktu terbuang sia-sia dari warga RW demi mengantri minyak atau gas. Padahal selama ini pemerintah tidak signifikan dalam memberikan lapangan pekerjaan bagi rakyat Indonesia. Lha, gara-gara minyak ini jam produktif mereka terbuang percuma. Sama halnya dengan antrian premium atau solar. Di beberapa daerah di luar Jawa bahkan para pemilik kendaraan untuk usaha seperti truk dan mobil los-bak harus mengantri hingga 2 atau 3 hari di SPBU dengan antrian yang cukup panjang.

Demikian pula tersendatnya proses ekonomi dan jasa yang sangat bergantung kepada transportasi umum. Gara-gara aksi moral menuntuk penyesuaian tarif jasa angkot. Ribuan sopir tak mendapatkan uang, dan puluhan ribu calon penumpang terhambat menuju ke tempat bekerjanya. Tak habis pikir memang, sudah puluhan kali pemerintah menaikkan BBM, namun setiapkali itu pula kebijakan penyesuaian tarif angkot tak ikut turun bersamaan. Benar-benar menunjukkan ketidak cakapan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan. Seolah-olah menaikkan BBM adalah tugas terbaik yang menjadi prestasi, sementara mereka tidak menyiapkan penanggulangan efek mayor yang sudap pasti sangat terkait dengan hal ini.

Aneh dan Ndablek! 

Anehnya pemerintah baru akan mengeluarkan kebijakan penyesuaian tarif ini jika sudah di goyang aksi protes dimana-mana, seolah para buruh sopir ini bukan rakyat yang haknya harus diperhatikan. Lagi-lagi pemerintah menjadi penyebab rakyatnya membuang waktu produktif mereka untuk cuma sekedar menggalang aksi moral menuntut hak dasar mereka. Padahal mestinya pemerintah SBY-JK juga sudah memperhitungkan kalangan ini. Karena imbasnya cukup terasa mengingat sebagian besar masyarakat menengah ke bawah menggunakan jasa angkutan umum. Benar-benar pemimpin yang tak tau diri.

Lebih mengherankan lagi, tanggal 23 Mei kamarin, beberapa jam menjelang pengumuman kenaikan BBM Yusuf Kalla malah woro-woro meminta kepada rakyat Indonesia untuk tidak melewatkan alias menonton detik-detik kenaikan BBM di televisi. Aneh memang orang yang satu ini. Bukannya pemimpin mau mendengarkan aduan dan keluhan rakyatnya, eee.. ini rakyat yang sudah menderita babak belur malah diminta menonton ‘penampilan’ pemimpinnya yang mau menyatakan ‘perang’ melawan rakyat.

Terus terang kondisi ini sangat membuat geram semua pihak. Betapa bebalnya pemerintah ini dengan jerit tangis rakyat yang semakin lapar. Kenapa hal mudah seperti menyiapkan sistem menanggulangi kelangkaan sembako dan mengeluarkan kebijakan penyesuaian tarif ini tak disiapkan jauh-jauh hari bersamaan mereka merancang menaikkan BBM untuk mendulang dollar. Pemerintah yang sudah mati peduli dan jeritan rakyat. Tepat sekali jika Mahfudz Sidik mengatakan kalau pemerintah ini ndablek, "Saya nggak tahu pemerintah kok jadi ndablek (keras kepala) gini. Begitu banyak opsi yang ditawarkan dan itu logis dilakukan, ini kok tetap ndablek. Kelihatannya mereka sudah panik, jadi tidak bisa berpikir panjang," ujar Ketua FPKS DPR Mahfudz Siddiq.

Ndablek memang sebuah kata yang sangat pas dan komprehensif untuk menggambarkan ketidakberpihakannya terhadap rakyat dan kepentingan nasional. Pas untuk menggambarkan ketidakpeduliannya terhadap puluhan juta rakyat yang sudah miskin sengsara. Tepat untuk menggambarkan betapa pemerintah SBY-JK ini tak mau mendengarkan masukan konkrit dari para ekonom dan profesional yang telah mengajukan langkah-langkah kongkrit. Kata yang tepat untuk menggambarkan bahwa pemerintah ini pemalas dan mau enaknya sendiri saja, tak mau bekerja keras, dan tega mengorbankan rakyatnya sendiri. Dasar pemimpin yang ndablek!

Sebetulnya dimana akar persoalannya? Pertanyaan mendasar selain pertanyaan Kenapa pemerintah tega menaikkan harga BBM ditengah kesulitan hidup rakyat ini adalah, kenapa pemerintah tidak serta merta menyiapkan sistem terintegrasi untuk menyongsong kebijakan menaikkan harga BBM-nya?

Tentu hal ini satu paket juga dengan bercokolnya Menteri ESDM Poernomo Yuosgiantoro yang sudah beberapa kali menjabat menteri ini yang sama ini. Selama beberapa masa kepemimpinannya di kementrian ESDM yang salah satunya mengurusi BBM ini, perjalanan kebijakan BBM bisa dibilang tak pernah becus. Hanya senantiasa berpihak kepada asing dan pihak-pihak dibalik layar yang tentu mengambil keuntungan dari chaos ekonomi BBM ini. Tak tahu kepada siapa sesungguhnya Purnomo ini bekerja, untuk rakyat Indonesia atau pihak-pihak yang mendapat laba dari krisis BBM ini? Berangkat dari kebijakan energi yang diterapkan pemerintah dan selalu merugikan rakyat Indonesia ini, pantas rasanya jika tangan kanan SBY-JK ini segera di ‘adili’.

Jawaban-jawaban yang dikemukakan mengenai alasan mendasar dan dampak kenaikan BBM di sebuah TV nasional beberapa hari lalu memang sedikit menyibak misteri dibalik kebijakan politik bisnis BBM ini. Jawabannya yang gelagapan dan terkesan mengada-ada memperlihatkan bahwa ada something wrong yang berupaya ditutup-tutupi. Padahal materi dialog dari lawan dialognya, ekonom Kwik Kian Gie, hanya berdasarkan logika-logika sederhana yang mudah dipahami masyarakat luas. Ibarat menyimpan bangkai, lambat-laun pasti akan tercium.

Sayang sekali evaluasi internal tak kunjung dilakukan presiden SBY dan JK-nya untuk membenahi bawahannya. Padahal jauh-jauh hari Dr. Hidayat Nurwahid sudah mengingatkan SBY dan DPR, ’’DPR bisa memanggil Purnomo untuk mempertanyakan kebijakannya yang tidak pro-rakyat, justru menyengsarakan rakyat dan pemerintah. Beliau kan sudah bertahun-tahun di kementerian itu. Tapi, mengapa sampai hari ini kok tidak ada kebijakan yang membuat Indonesia bahagia dari hasil minyaknya,’’ katanya di Gedung DPR Jakarta, Senin (19/5).

Sementara alasan wabres Jusuf Kalla yang menyatakan bahwa selama ini subsidi BBM salah sasaran dan pemakaian BBM di Indonesia sangat boros dibantah oleh Kwik Kian Gie. Dengan tegas Kwik mengemukakan bahwa sesungguhnya negara tidak pernah memberikan subsidi BBM bagi rakyat. Dan konsumsi BBM Indonesia menduduki rangking cukup rendah di nomor 116 dibawah konsumsi BBM negara miskin Afrika seperti Bostwana dan Namibia.

Hingga kini rakyat memang selalu menjadi korban dari pemerintahan dan pemimpin yang tak cakap mengemban amanah dan memahami derita rakyatnya. Kebijakan ekonomi klasik yang tak pernah berpihak kepada rakyat. Kebijakan ekonomi yang memukul hebat sendi-sendi kesabaran rakyat. Dan kebijakan ekonomi yang hanya memunculkan kelompok-kelompok tertentu mengeruk keuntungan diatas tangisan darah rakyat banyak. 

Entahlah, kenyataan ini bentuk kebodohan pemerintah atau justru sebaliknya. Pemerintah SBY-JK adalah pemerintah yang cerdas namun licik, cerdas untuk menipu dan terus membodohi rakyatnya dengan cara pandang yang palsu. Namun yang jelas, pemerintahan SBY-JK ini memang ndablek.

May 13, 2008

Tanda Mata Untuk PKS

Filed under: PEMIKIRAN

‘ CINDERAMATA ‘ DARI HTI UNTUK PKS


Mencermati sikap dakwah HTI terhadap PKS memang cukup menarik. Bukan karena adanya musyarokah diantara keduanya, namun menjadi menarik karena opini yang keluar dari DPP HTI hampir selalu bernada negatif terhadap PKS, sementara DPP PKS justru sebaliknya memperlakukan HTI benar-benar sebagai seorang saudara seiman dalam perjuangan. Setidaknya hal ini terekam dari kunjungan silaturrahim beberapa pejabat tinggi PKS ke kantor DPP HTI pada tanggal 30 Juli tahun lalu.

Dimana dalam pertemuan ini Presiden PKS, Ir. Tifatul Sembiring, sebagai orang nomor 1 yang dibelakangnya berhimpun tak kurang dari 8 juta suara masyarakat Indonesia, dengan merendahkan hati berkunjung ke DPP HTI yang menurut Metro Realitas Metro-TV beberapa waktu lalu HTI hanyalah sebuah kelompok kecil saja di Indonesia.

Sikap lapang dada dan tidak ‘memusuhi’ siapa saja demi ukhuwah dan kemaslahatan umat Islam ini dikuatkan oleh pernyataan Mahfudz Shiddiq yang saat ini berposisi sebagai Ketua Fraksi PKS DPR RI. "PKS sejak kelahirannya tidak pernah meniatkan diri untuk menjadi ancaman siapapun, oleh karena itu kami tidak pernah mempersepsi siapapun sebagai ancaman," tegas Mahfudz (15/08/2007).

Sementara berbeda dengan sikap ‘istiqomah’ yang ditunjukkan DPP HTI terhadap PKS hingga detik ini. PKS justru sebaliknya berupaya merajut persaudaraan dan merendahkan diri. Meski sebaliknya HTI terbaca terus berupaya mendongkel citra Islam dari tubuh PKS. Buletin HTI Al-Islam edisi 400 yang mengusung judul ‘Berharap Kepada Partai Islam?’ Jika di telaah secara mendalam arahnya demikian jelas dan terang benderang, kemana maksud dan tujuannya. Demikian pula dengan Al-Islam edisi 356-nya yang memfitnah PKS menerima dana DKP. Walaupun sampai detik ini, setelah hampir setahun lamanya, mereka masih merasa nyaman dan ‘ogah’ meminta maaf. Alih-alih menyampaikan permohonan maaf, mereka malah bilang tuduhan atau fitnah yang berdalilkan qola ICW itu, mesti diposisikan sebagai ‘nasehat’ bagi PKS.

Membaca Sikap Kader HTI di Akar-Rumput

Setali tiga uang dengan pemimpinnya, sikap dan opini kader-kader HTI ditataran akar rumput juga tak jauh dari induknya. Seperti saudara ‘Bejo’ yang hingga hampir satu tahun ini tak punya nyali memunculkan jati dirinya. Orang umum mungkin bilang ia ‘berhasil’ menjadi sosok misterius, tapi bagi penulis si Bejo ini hanyalah kader HTI pengecut dan pecundang. Entah tulisan sendiri entah mencatut dari sumber resmi lain di HTI, tulisan-tulisan berjudul ‘Parpol Islam’ dan ‘Sulitnya Istiqomah’ yang muncul ketika isu PKS menjadi Partai Terbuka usai Mukernas 1-3 Februari 2008 silam, begitu gencar disebarluaskan via email-email yang berhasil ia bajak.

Demikian pula dengan kader HTI yang bernama Hanif Al-Falimbani. Beberapa hari setelah Mukernas PKS di Bali awal Februari lalu, di blognya ia mengetengahkan sebuah tulisan berjudul ‘Partai Keadilan Sejahtera Riwayatmu Kini … ‘. tak tanggung-tanggung di salah satu bagiannya ia menuliskan sebagai berikut “Tetapi ada satu hal yang semakin terang benderang dari sikap PKS ini, yang membuat pendapat sementara kalangan lebih meyakinkan untuk dibenarkan, yakni bahwa PKS memang tidak sungguh-sungguh memperjuangkan Syariat Islam dan Khilafah. Ada benarnya juga pendapat Jefrie Geofannie, PKS saat ini justru tidak ada bedanya dengan partai-partai nasionalis-sekuler lainnya.”

Seperti ‘qola ICW’ diatas, Sdr. Hanif ini juga merujuk kepada pernyataan Jefri Geofannie yang dalam dialog di MetroTV pada 5 Februari 2008 lalu jelas-jelas analisanya terhadap PKS sangat dangkal. Penulis menyaksikan sendiri acara tersebut. Sayangnya dalam tulisan yang cukup panjang lebar menciderai PKS dengan persangkaan kosong itu di balutnya dengan kedok atas nama ‘kasih sayang’.

Padahal saat masuk ke webblog penulis ini (http://rhisy.blogsome.com) apa kata-kata yang pertama kali muncul dari Sdr. Hanif ini “Wah.. ternyata di sini tho pembuat sampah-sampah busuk itu..”(09/01/08). Kelihatan gagah dan ‘pemberani’. Ia mengaku dirinya bukan orang HTI (agar terlihat orang netral), sayang sekali kebohongannya terbongkar dan di komentari beberapa orang (bahwa ia sungguh-sungguh HTI tulen luar dalam). Pada komentar berikutnya (terakhir) tertulis sebagai berikut, “Maaf Mas Aris.. saya bukan siapa-siapa, lebih baik antum menasehati saya secara pribadi saja ya.. Maaf..” Kasihan sekali pelaku kebohongan ini.

Disamping itu, kader-kader HTI juga rajin mengkoleksi berita-berita yang terkemas miring tentang PKS dari media-media umum dan nasional untuk dijadikan bahan perdebatan menyudutkan terhadap PKS. Seperti biasa, mereka beralasan sebagai nasehat dan masukan untuk PKS. Niatnya sih kelihatannya baik, namun apakah demikian kenyataanya?

Tak Semanis Bahasa ‘Mulut’

Ternyata tidak demikian faktanya. Fakta dilapangan tak ’semanis’ bualannya. Bersamaan ketika tulisan yang menanggapi buletin resmi HTI Al-Islam edisi 361 ramai dinikmati berbagai kalangan pada sekitar pertengahan tahun lalu, salah seorang kader PKS yang menjadi khotib Jum’at diberhentikan ‘tanpa hormat’ oleh kader-kader HTI yang merasa ‘berkuasa’ atas kebijakan DKM di sebuah masjid perusahaan di Kota Tangerang. Bukan karena ceramahnya menyimpang dari Islam, namun hanya lantaran isi ceramah kader PKS tersebut mementahkan opini tindakan fitnah yang dilakukan oleh ’sebuah gerakan Islam’ terhadap pejuang HAMAS di Palestina.

Khotib yang juga salah seorang ustadz PKS Kota Tangerang itu menjungkirkan tuduhan yang sebelumnya dikupas oleh khatib kader HTI yang mengisi khutbah pada Jum’at satu pekan sebelumnya dengan melontarkan fitnah kepada HAMAS sesuai dengan ‘rekomendasi’ dari DPP HTI lewat Al-Islam edisi 361-nya. Al-hasil sejak Jum’at itu ia tak lagi mendapat jadwal mengisi khutbah di masjid perusahaan tersebut.

Jika dicermati gayanya mirip perilaku Soeharto yang gemar memberangus siapa saja yang dianggap mengancam dan menelanjangi ‘kekuasaan’nya. Usai sholat Jum’at tersebut, khatib yang dikenal sebagai kader PKS itu langsung ‘dikeroyok’ dan dikerubungi kader-kader HTI yang bercokol di DKM. Intimidasi gaya lama.

Bukan hanya itu, ditahun 2002 sampai 2005-an juga ada fakta lain yang tak bisa ditutup-tutupi bagaimana sejatinya sikap hati mereka terhadap kader-kader PKS. Ketika sebuah LDK di sebuah kampus di Kota Tangerang tersusupi HTI dan dengan kelicikannya setelah beberapa waktu akhirnya LDK tersebut dikuasai oleh kader-kader HTI, maka apa yang terjadi? Kegiatan kajian lain selain yang ber-’merk’ HTI atas nama kebijakan organisasi ‘100%’ dihalang-halangi dan dipersulit alias dilarang. Bahkan uang yang merupakan hasil penggalangan dana oleh ‘kader-kader PKS’ dari kegiatan mahasiswa diluar kajian ber-merk HTI, dirampas untuk kepentingan kegiatan-kegiatan beraroma HT tanpa pertanggungjawaban. Penulis menjadi saksi langsung dan bahkan masih mengantongi nama kader HTI tersebut.

Namun, alhamdulillah perjalanan waktu menjadi jawaban yang sangat adil. kuartal pertama tahun 2005 kepengurusan HTI itu terjungkal dan hengkang lantaran kedzalimannya. Dan mohon maaf harus penulis sampaikan disini, otak utama dibalik penjungkalan dominasi kader HTI yang dzalim itu adalah penulis sendiri. Tak butuh waktu lama, hanya selama kurang-lebih 6 bulan penulis mendampingi para mahasiswa berdakwah ‘dibawah tanah’, LDK tersebut telah berhasil diselamatkan kembali dari orang yang dzalim. Kini, kondisinya telah berubah membaik. Saat amanah LDK dipegang kader-kader PKS, aktivis dakwah lain pun masih leluasa melakukan kegiatannya di kampus. Tanpa dihalang-halangi apalagi di kebiri.

Melihat fakta-fakta diatas memang menjadi miris. Belum menjadi ‘khalifah’ saja sudah dzalim, apalagi kalau betul-betul jadi khalifah versi mereka, bukan tidak mungkin akan jauuuuh lebih dzalim terhadap aktivis dakwah dari gerakan dakwah lain. Boleh saja mereka berbangga dan menyombongkan diri karena ‘mampu’ berkoar soal khilafah. Namun, jika khilafah yang dimaksud adalah khalifah yang dzalim seperti gambaran kader HTI yang bercokol di DKM dan LDK tersebut, umat Islam jelas tidak butuh.

Kenyataan ini memang tidak mengherankan jika merujuk pada sejarah HT mengenai sikap pendirinya, Syeikh Taqqiyudin An-Nabhani yang meminta ‘kekuasaan’ atas Ikhwan Yordania kepada As-Syahid Sayid Qutub rahimahullah (tahun 50-an). Padahal ketika itu Ikhwan mengajak Syaikh Taqiyudin An-Nabhani untuk memadukan perjuangan, namun justru yang terfikir olehnya adalah ingin mengambil alih kekuasaan atas Ikhwan di Yordania yang harus terpisah koordinasi dengan ikhwan di Mesir sebagai pusat gerakannya.

Barang kali beberapa nukilan fakta diatas cukup mewakili gambaran ‘tanda mata’ HTI untuk PKS. Sebuah tanda mata yang hingga hari ini terus mengalir laksana air dari hulu menuju hilir. Meski terus saja PKS didzalimi, nampaknya ia terus melaju dengan kerendah hati-annya. Terus berjuang wahai kafilah dakwah! Mudah-mudahan ulasan ini bermanfaat bagi umat yang rindu kepada kebenaran dan kebaikan.

May 5, 2008

Bangkit Negriku Peduli Palestina

Filed under: SUDUT PALESTINA

MENGUNDANG DAN MENGGUGAH DUNIA

UNTUK PEDULI PALESTINA 

 
Penderitaan bangsa Palestina hingga detik ini belum pula usai. Bahkan entah sampai kapan mereka harus melewati hari-hari mereka dengan ketakutan dan kelaparan. Entah kapan akan berlalu gelap malam mereka yang tak lagi dihiasi suara jangkrik dan binatang malam melainkan dentuman suara rudal dan peluru.

Mungkin selama kebanyakan kaum muslimin di seluruh dunia tak peduli dengan nasib saudaranya di tanah para syuhada itu. Mungkin selama pemimpin-pemimpin dunia Islam terbutakan dengan panggung kekuasaan yang menyilaukan. Dan mungkin selama bergelintir gerakan Islam yang menjadikan kepiluan bangsa Palestina hanya sebagai komoditas untuk menjerat simpati umat Islam di dunia sementara brangkas-brangkas mereka begitu rapat untuk membatu saudaranya barang sesuap nasi.

Oleh karena itu, tak perlu menunggu kebanyakan kaum muslimin peduli dengan Palestina, tak perlu menunggu pemimpin-pemimpin negeri Islam membela Palestina, dan tak perlu menunggu gerakan-gerakan Islam yang takut menemukan keberaniannya, mari setiap kita sebagai seorang saudara bagi bangsa Palestina untuk senantiasa membuat langkah nyata!!! 

Hadiri, Aksi Solidaritas Untuk Rakyat Palestina yang diselenggarakan kerjasama IKADI Kota Tangerang dan Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) dalam momentum 100th Kebangkitan Nasional "Bangkit Negriku - Peduli Palestina". InsyaAllah acara akbar ini akan diselenggarakan pada:

Hari, Tanggal : Ahad, 25 Mei 2008

Tempat : GOR Kota Tangerang

Waktu : 08.00 - 15.00 WIB

Bersama dengan ribuan masyarakat Kota Tangerang, insyaAllah akan hadir dalam acara ini beberapa tokoh Nasional seperti: Dr. Hidayat Nurwahid (Ketua MPR RI), Adhiyaksa Dault (Menegpora), Suripto (Ketua KNRP), Sabam Sirait (FPDIP DPR RI), Hj. Tuty Alawiyah, Habib Rizieq Sihab (Ketua Umum FPI), Gubernur Banten, Walikota Tangerang, Ulama MUI Kota Tangerang, dan lain-lain.

Menyemarakkan aksi galang kepedulian untuk bangsa Palestina ini insya Allah akan dimeriahkan oleh tim-tim nasyid ternama seperti Izzatul Islam, Shoutul Harokah, Ar-Ruhul Jadid, Asasi, Tufail Al-Ghifari dan juga bintang tamu ‘OPICK’. Di samping itu juga akan menampilkan operet Palestina dari Teater Jayakatwang yang pernah tampil di acara nasional di Istora Senayan Jakarta.

Kehadiran kita adalah doa dan pelipur lara kesedihan mereka. Infaq atau sedekah kita adalah amunisi untuk mereka mempertahankan diri dan kehormatan mereka. Dan kepedulian kita akan menjadi semangat dan bara api yang akan membuat mereka mampu melalui ujian dari Allah ini, demi membela dan mempertahankan Islam yang mulia.

Siapkan infaq terbaik Anda untuk saudara kita di Palestina!

One Man One Dollar To Save Palestina or MORE!

 

May 2, 2008

Untukmu Guru

Filed under: THULABI, DARI HATI
SEBAIT DOA UNTUKMU GURU
 
 
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Setiap waktu teringat lagu tentangmu membuat hati ini bergolak rindu. Ingin meraih jemarimu dan menciumnya dengan segenap penghormatan dan rasa terima kasih. Karena tanpa ketulusannya, mungkin hari ini kita semua tak kan menjadi seperti ini. Tanpa kesabarannya mungkin banyak diantara kita yang tersesat kehilangan jalan. Ya.. karena dulu berpuluh tahun lalu aku, kami dan kita hanyalah bocah-bocah desa lugu yang tak tahu tentang dunia.

Berhentilah sejenak untuk mengenang para guru tercinta yang telah mengabdikan sebagaian usianya demi mencetak generasi bangsa ini. Orang tua ‘kedua’ yang kadang lebih peduli terhadap masa depan kita dibandingkan para orang tua kandung di kampung halaman saat itu. Mereka sabar dengan ketidaktahuan kita, mereka sabar dengan kenakalan kita, dan mereka pun sabar dengan gejolak masa remaja kita yang kadang kala meledak-ledak. Termasuk barangkalali kita yang saat ini telah sampai di salah satu titik pemberhentian dari titik-titik pemberhentian yang lain menuju cita-cita meraih mimpi dan asa.

Kawan-kawan, sekali lagi sejenak kita kenang mereka, betapa mereka semua telah mengalirkan ilmu berharga dalam sanubari kita, sehingga saat ini kita mampu tegak mandiri. Mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain tanpa rasa malu dan rendah diri. Sampai-sampai hari ini puluhan bahkan ratusan ribu di antara kita telah berdiam di berbagai negara lain di seluruh dunia.

Kita pun bagai anak-anak ayam yang kini terlatih mengais rezeki sendiri lantaran kesabaran sang induk mengajarkan anak-anaknya mencari makan. Bukan mereka memang yang memberi nasib bagi kita, namun sebab merekalah kini kita mampu bertahan hidup dengan bekal ilmu dan keahlian yang pernah mereka ajarkan kepada kita. Bahkan bisa jadi saat ini sebagian di antara kita telah melesat jauh meraih kesuksesan, mencapai keberhasilan, dan menikmati limpahan materi maupun popularitas. Lebih jauh dari apa yang mereka ‘para guru kita’ mampu nikmati pada hari ini.

Namun, semoga kita tak melupakan mereka yang detik ini tak lagi muda. Yang kulit-kulit mereka tak sekokoh dulu. Rambut-rambut mereka tak selegam saat itu. Dan wajah-wajah mereka pun tak secerah waktu itu. Kini tanpa kita sadari, kulit mereka telah mulai berkerut di sana-sini, rambut mereka juga telah dihiasi helai-helai putih yang semakin menyeruak. Dan wajah mereka terlihat sayu menatap hidup ini yang tak semakin bersahabat.

Bisa jadi periuk mereka hari-ini tak se-mengepul kepulan periuk di dapur kita. Bisa jadi sisa gaji mereka hari ini sudah sekarat untuk sampai lagi ditanggal 1 bulan depan. Dan bisa jadi putra-putri mereka meregang nafas untuk tetap bertahan menikmati pendidikan-pendidikan mereka. Tak sedikit diantara mereka yang hari ini masih setia menaiki sepeda ontel tuanya dikala ratusan bahkan ribuan ‘mantan’ anak didiknya menaiki mobil-mobil mewah yang nyaman.

Sahabat, mari basahi bibir kita untuk mendoakan mereka agar tetap ikhlas menjalani tugas muliannya menjadi guru peradaban. Agar dengan keikhlasan itu pahala dari-Nya mengalir deras sampai akhir masa. Agar rizki mereka berkah dan berkecukupan. Hingga di masa tuanya mereka bangga dan bersyukur telah mencetak puluhan juta tunas-tunas baru yang memakmurkan dan mengharumkan negeri ini.

Do’a ini kami persembahkan untukmu, wahai Ibu - Bapak Guru.

April 14, 2008

Harapan Itu Masih Ada

Filed under: KOLOM KHUSUS

HARAPAN ITU MASIH ADA *

Kepercayaan rakyat terhadap partai menurun? Ya, jika dilihat secara umum. Tapi alhamdulillah jumlah suara PKS bertambah terus dari tahun ke tahun. Menurut jajak pendapat yang dilakukan menjelang pemilu 2004 (LP3ES): masyarakat tidak puas dengan hasil pemilu 1999? Tapi atas ijin Allah SWT ketika pemilu 2004 pemilih PKS bengkak dari 1jutaan ke 7jutaan.

Kecewa dengan partai Islam, tak dipungkiri adanya! Tapi alhamdulillah atas pertolongan Allah, lagi-lagi jumlah pendukung PKS bertambah seperti di DKI Jakarta pasca pilgub Adang – Dani. Terakhir, diluar dugaan semua pihak HADE menang insya Allah di JABAR. Begitulah ketetapan Allah berlaku, mementahkan beragam kalkulasi ‘matematika’. Sebaik-baik makar adalah Allah SWT. Oh ya, selamat untuk mujahid Islam ust. Ahmad Heriawan, Lc atas kemenangan dakwahnya di JABAR. Semoga beliau tetap istiqomah dijalan dakwah. Mudah-mudahan Dede Yusuf bisa difardiyahkan jadi kader, amiin….

Banyak partai haus kekuasaan, uang, tujuannya hanya ingin jadi dewan, tidak ada keberpihakan kepada rakyat, partai sebagai kendaraan mencari kekayaan para kadernya sehingga gampang menyerah saat menetapkan UU yang pro rakyat.Untuk itulah PKS hadir…

Alhamdulillah fakta tak terbantahkan telah disematkan masyarakat, bangsa dan bahkan dunia. Fakta yang membalikkan semua anggapan buruk tentang partai bahwa PKS adalah Partai Dakwah Berazas Islam Yang Reformis, Bersih, Peduli Dan Profesional. Ia semangat baru yang telah lama dinanti dan dirindukan.

Fakta itu dapat diukur secara sederhana setidaknya lewat partisipasinya dalam PILKADA. Dari sekitar 130-an PILKADA PKS menang 80-an. Sementara, meskipun kalah suara di daerah lain, tetap terjadi kapitalisasi pendukung dan suara PKS, seperti pilgub Banten dan DKI. Yah…lumayan buat modal Pemilu 2009.

Karakter Partai Berideologi Islam?

Alhamdulillah, 6 poin karakter itu ada di PKS. Untuk poin no 4 Anda bisa baca Platform PKS yang sebentar lagi akan disosialisaikan kepada masyarakat. Bukunya tebal dan lengkap banget oii… Bahkan sebagian tokoh mengatakan; ‘dari dahulu sampai sekarang belum pernah ada platform partai yang selengkap ini’. Itu menunjukan PKS siap memimpin bangsa ini atas ijin Allah dan pertolongan-Nya.

Alhamdulilah PKS ga’ perlu teriak teriak ke partai lain agar mereka harus memiliki konsepsi yang jelas tentang politik, ekonomi, sosial, hukum dan lainnya tapi PKS sendiri yang maju bergerak, siap menjadi solusi bangsa ini dengan konsepsi yang jelas. Kalo belum baca, cobalah ke DPP PKS minta bukunya.

Untuk poin no 6 Insya Allah kita akan membina umat ini dengan Islam. Samalah dengan anda, beda cara aja. Bahkan tujuan kita tidak hanya berhenti sampai di khilafah tapi ustadziatul ‘alamiyah setelah tegaknya khilafah islamiyah.

Ko ga ada suaranya? Santai aja… Lagi lagi ini soal cara yang harus dihargai oleh masing-masing. Yang penting kita mampu bekerja sama. Anda yang teriak soal Syariah & Khilafah sefulgar-fulgarnya, biarkan PKS yang bekerja mengisi pos-posnya, melalui semua tahapan-tahapan dan akhirnya atas ijin Allah: menguasainya. Deal?

KARENANYA:

Jika Anda percaya dengan PKS, bergabunglah bersama PKS membangun bangsa ini. Jika Anda masih ragu, pelajari PKS dengan detail, dengan hati yang jernih sampai Anda yakin dengan PKS. Jika Anda belum percaya PKS, jangan takut PKS tetap akan perjuangkan hak-hak Anda secara bersih, peduli dan profesional. Tentu, bersihnya bersih manusia loh bukan malaikat. Jadi jangan berharap kesempurnaan dari kader-kader PKS yang memang tak sempurna ini.

Akan tetapi, jika masih ada jika yang lain, maka saran saya bikin aja Partai Politik Islam dengan segala karakter dan peta yang Anda maksud itu.

 

* Ditulis oleh Tengku Iwan J. , menanggapi Al-Islam edisi 400 (buletin resmi Hizbut Tahrir Indonesia)